16 Maret, Opini, dan Strategem

March 26th, 2005 | Politics

Anda tentu masih ingat insiden yang terjadi pada sidang para dewan yang terhormat. Saya sendiri kebetulan tidak menyaksikan langsung, hanya membaca beritanya saja beberapa hari setelah insiden tersebut. Mumpung momentumnya (barangkali) masih tepat, saya ingin mengulas sedikit tentang reasoning dan strategem. Nampaknya memang asing, tapi sesungguhnya ada keterkaitan yang cukup erat dengan peristiwa tersebut.

Reasoning, pada dasarnya adalah mengungkapkan suatu pendapat disertai dengan argumen yang kuat dan dapat dibuktikan. Sementara strategem adalah memaksakan pendapat yang tidak disertai dengan argumen yang valid. Seringkali strategem disebut sebagai akal bulus. Strategem ini banyak sekali variasinya. Salah satu contohnya adalah appeal to number, yakni “mengacaukan” pendapat dengan bilangan cacah. Anda mungkin sering mendengar iklan berbunyi “9 dari 10 wanita menggunakan pembalut X”. Tentu saja pembalut X, yang digunakan 9 dari 10 wanita, tidak selalu lebih baik daripada pembalut Y, misalnya.

Contoh lain dari strategem yang lazim digunakan adalah taktik menyampingkan masalah, taktik “menembak orangnya”, dan taktik appeal to pitty. Contoh dari taktik menyampingkan masalah umpamanya, “Kalau anggaran militer diturunkan, akan membahayakan negara.” Terlihat bahwa seolah-olah masalah hanya diarahkan antara menurunkan anggaran dan membahayakan negara atau menaikkan anggaran dan mengamankan negara.

Ungkapan seperti, “A tidak mungkin jadi presiden, karena dia orang kebanyakan, tidak seperti B,” adalah salah satu contoh trik “menembak orangnya” dalam strategem. Ini adalah salah satu trik yang lazim kita dengar di berbagai diskusi atau pertemuan, mulai dari yang ringan-ringan hingga diskusi yang serius. Tidak kalah menariknya adalah trik appeal to pitty (imbauan belas kasih) yang memainkan rasa belas kasihan seseorang. Misalnya, “Saya mengerti bahwa ini adalah kesalahan saya. Tapi, kalau saya dipecat, anak istri saya nanti begini begitu. Mohon kasihanilah saya.”

Tentu saja trik-trik diatas saya ungkapkan bukan agar Anda menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik. Sengaja saya paparkan tipuan-tipuan diatas agar kita semua bisa lebih mawas diri dan lebih siap dalam menghadapi hal-hal semacam itu.

Kalau Anda sudah faham mengenai reasoning, yang menggunakan dasar argumen (sound theory), dan strategem, yang memanfaatkan taktik cerdik (shrewd tact), berarti Anda juga mudah memahami antara opinion dan belief.

Opinion adalah pendapat yang tidak mengarah kepada kebenaran. Opini dapat dibantahkan karena pembuktian secara empirisnya bisa saja tidak mencapai kesepakatan. Misalnya, saya beropini bahwa es krim coklat lebih enak daripada es krim vanila. Tentu saja opini ini tidak dapat dicari kesepakatan yang sama antara orang yang satu dengan yang lain.

Sementara belief (keyakinan) justru lebih mengarah kepada kebenaran. Belief tidak dapat dibantahkan, karena apabila dibuktikan secara empiris oleh banyak orang akan mencapai suatu kesimpulan atau kesepakatan yang sama. Misalnya, saya berkeyakinan bahwa Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia. Tentu saja keyakinan saya ini akan mencapai kesimpulan yang sama bila dibuktikan oleh banyak orang.

Membedakan antara belief dan opinion, atau reasoning dan strategem, jelas sangat penting. Apalagi bila kita berbicara atau mengeluarkan pernyataan di depan publik. Misalnya, menjadi pengurus kampung, menjadi manajer dalam suatu perusahaan, atau bahkan bila Anda menjadi wakil rakyat di DPR/MPR.

Saking pentingnya, di Amerika, seorang (calon) senator bahkan terlebih dahulu dididik tentang formal logic dan art of negotiation. Contoh dari formal logic misalnya “jika A lebih besar dari B, B lebih besar dari C, maka A lebih besar dari C”. Umumnya formal logic memainkan logika dengan hubungan if-then-else, atau mengaitkan antara premis mayor, premis minor, lalu diambil konklusi. Simpel memang. Tetapi justru memberikan landasan berpikir yang kuat dan logis.

Satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah art of negotiation. Negosiasi, sejatinya adalah proses mencari win-win solution. Negosiasi berbeda dengan pedestrian street agreement (debat kusir) yang hanya bertujuan untuk memenangkan pendapat. Debat kusir justru akan menghasilkan dispute atau perselisihan. Persoalan tidak akan selesai karena semua pihak ingin menang sendiri.

Ilmu tentang negosiasi relatif cukup menarik untuk dipelajari. Ada beberapa teknik seperti flinch, splitting the difference, set-aside, reluctant buyer/seller, dan masih banyak lagi. Salah satu yang saya suka adalah taktik “your price, but my terms“. Misalnya, “Kami menghargai tindakan Anda untuk mencabut subsidi, tetapi kami meminta beberapa syarat seperti …”

Masalahnya, sulit bagi kita (juga para wakil rakyat) untuk mendapatkan ilmu-ilmu empiris semacam ini. Lebih parah lagi, lulusan SMU saja sudah diperkenankan untuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Kalau sudah begini, siapa yang berani menjamin bahwa proses persidangan dan keputusan yang diambil bisa sepenuhnya akurat dan bermanfaat bagi kepentingan rakyat banyak?

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. P&D

    Well, that’s very good post you made. I wonder more example of negotiation practices you could post.

Looking forward to hear your thoughts.