Mari Berbisnis Airline
April 27th, 2005 | InvestmentKalau Anda punya duit beberapa milyar (atau mungkin beberapa trilyun), bisnis airline tetap menjadi bisnis yang prospektif dan menguntungkan. Tengok saja saat sekarang, dimana makin banyak bermunculan airline-airline baru yang menawarkan tarif murah bagi pelanggannya. Tengok juga bahwa bandara-bandara yang semula hanya diisi oleh segelintir businessman atau wisatawan, kini mulai penuh sesak layaknya stasiun atau terminal bis.
Semua berawal dari tahun 2000 dimana pemerintah melakukan deregulasi dalam dunia penerbangan. Deregulasi itu, tentu saja, hanya berkutat pada sisi bisnis. Sementara urusan safety jelas tetap harus diutamakan. Tapi yang jelas, berkat deregulasi tersebut, saat ini, pihak swasta bisa mendirikan sebuah perusahaan penerbangan sendiri dengan hanya bermodalkan 2 (dua) pesawat yang bisa dibeli atau disewa dari pihak lain.
Selain itu, dari sisi administrasi, perusahaan tersebut jelas harus berbentuk PT (Perseroan Terbatas) dari Menteri Kehakiman dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Perusahaan juga harus mengajukan AOC (Aircraft Operating Certificate) No. 121 untuk pesawat bermesin jet atau No. 135 untuk pesawat propeller. Syarat untuk itu adalah melengkapi manual untuk operasi pesawat, seperti company manual, maintenance manual, dan beberapa hal lain terkait dengan unsur safety baik dari segi operasional (pilot) maupun dari segi teknis (maintenance).
Oke, lalu sekarang gimana dengan pesawat, spare part, dan urusan teknis lainnya? Gampang! Pesawat sekarang bisa diperoleh dengan harga relatif lebih murah. Penyebab utamanya tentu insiden 9/11 yang mendorong perusahaan penerbangan di Amerika untuk melakukan efisiensi, dimana salah satunya dengan menjual pesawat yang dimilikinya dan mengganti dengan pesawat sewaan yang lebih fleksibel secara finansial. Harga pesawat bekas itu sendiri antara US$ 500 ribu hingga US$ 2 juta, tergantung pada umur pesawat, umur engine, dan peralatan dalam pesawat. Tapi umumnya, pabrik mendesain pesawat dengan memperkirakan kemajuan teknologi setidaknya hingga 20 tahun ke depan. Artinya, menggunakan pesawat-pesawat tahun 80an akhir masih bisa dibilang “feasible“.
Anda bisa saja membeli pesawat baru. Perkembangan teknologi penerbangan komersial saat ini biasanya diukur berdasar jumlah penumpang yang mampu diangkut dalam satu kali penerbangan. Sebagai tambahan, pabrikan pesawat komersial biasanya dibagi dalam dua kelas: kelas 150 pax ke bawah (umumnya propeller) dan kelas 150 pax ke atas. Pabrikan yang bermain di kelas bawah cukup banyak. Salah satu cukup yang terkenal adalah Embraer (Brazil). Akan tetapi, untuk kelas 150 pax ke atas praktis tinggal dikuasai oleh Boeing dan Airbus. Sebelumnya memang banyak pemain di kelas tersebut, tetapi untuk mengejar efisiensi dan operasional yang lebih baik, akhirnya mereka melakukan merger dan akuisisi. Boeing saat ini adalah gabungan dari McDonnel Douglas, Lockheed, General Dynamics, De Haaviland, dan sebagainya. Sementara Airbus adalah aliansi antara Aerospatiale, Cassa, MBB, British Aerospace, dan masih banyak lagi.
Urusan spare part juga bukan masalah yang berarti. Sejatinya, pabrikan pesawat hanya menjadi semacam tempat assembling bagi struktur badan pesawat. Komponen-komponen yang ada di dalamnya adalah suplai dari beberapa vendor. Boeing misalnya, menggunakan landing gear yang dibuat Honeywell atau pabrikan lainnya. Begitu pula dengan komponen lain hingga lavatory sekalipun. Semua tinggal pasang. Pabrikan biasanya meminta vendor untuk merancang sesuai dengan desain pesawat. Beberapa hal yang berhubungan dengan pabrik mungkin hanyalah masalah perbaikan atau modifikasi struktur. Itupun materialnya masih dapat dibeli di luaran sepanjang sesuai dengan spesifikasi.
Dari sisi maintenance, perusahaan airline umumnya melakukan sub-kontrak kepada pihak lain. Siapapun dapat ditunjuk sepanjang menjadi anggota AMO (Aircraft Maintenance Organization) yang diatur dalam CASR (Civil Aviation Safety Regulation) part 145. Selama perusahaan tersebut memperoleh sertifikasi sesuai CASR part 145, dia berhak menangani pesawat apapun. Tentu saja mereka juga harus memiliki personel yang kompeten dan ditraingin secara khusus untuk pesawat-pesawat yang spesifik. GMF (Garuda Manufacturing Facility) misalnya, mengerjakan maintenance Lion Air yang kebanyakan menggunakan MD-80 atau MD-82. Lion Air, secara teknis tidak perlu mempunyai sertifikat tersebut karena sudah dicover oleh GMF yang menangani perawatan pesawat.
Walau demikian, khusus untuk beberapa komponen tertentu, tetap membutuhkan perawatan khusus dari repair shop yang disertifikasi oleh authority dan pabrik engine. Sebagai contoh, engine dalam perawatan atau piranti elektronik pesawat, harus dikirim ke repair shop yang tersertifikasi. Tidak semua bengkel bisa mengerjakan perawatan tersebut karena selain memerlukan kemampuan teknis yang baik, selepas keluar dari repair shop pun komponen tersebut harus disertifikasi laik terbang dan sudah menjadi tanggung jawab repair shop tersebut untuk menjadi penjaminnya. Sangat ketat memang.
Urusan dengan hanggar dan airport juga sesungguhnya tidak terlalu merepotkan. Jika perusahaan Anda masih menggunakan 2-3 pesawat, sub-kontrakkan saja kepada maintenance facility lain. Spare part, lagi-lagi, tidak menjadi masalah. Beberapa lessor pesawat memberikan sistem wet lease dimana mereka bersedia menanggung seluruhnya, kecuali urusan operasional seperti pilot, pramugari, dan catering. Yang menjadi persoalan adalah tinggal bagaimana Anda mengatur traffic dan schedule. Bagaimanapun juga pesawat grounded biayanya jauh lebih mahal daripada pesawat beroperasi.
Jam terbang pesawat, secara teori, memang tidak dibatasi secara khusus. Namun perlu dipertimbangkan juga waktu inspeksi saat pesawat transit. Belum lagi daily check yang bisa memakan waktu hingga 4 (empat) jam. Waktu transit pun dihitung juga loading, unload, penumpang, bagasi, fuel, dan catering. Beberapa low-cost carrier menghilangkan makanan (catering) dan menggantinya dengan snack atau air mineral. Hal ini berpengaruh pada cabin cleaning (meliputi carpet, seat, dan table). Kalau Anda menyajikan makanan “penuh”, waktu cleaning jelas lebih lama dibandingkan dengan sekedar snack dan air mineral.
Pemilihan pesawat juga menjadi penting. Makin besar volume pesawat, waktu yang diperlukan juga semakin lama. Sebagai ilustrasi, pesawat 737-400 memerlukan waktu 1 jam untuk penumpang, 45 menit untuk cleaning, dan 30 menit untuk makanan. Sementara 737-200 membutuhkan 30 menit untuk penumpang, 15 menit untuk makanan, serta 20 menit untuk cleaning.
Selain pemilihan pesawat, pemilihan rute juga penting. Anda memang tinggal mencari slot rute domestik yang kosong dengan waktu yang tersedia. Biasanya Anda juga perlu menangani pengurusan fasilitas seperti counter check-in, ticketing, hingga boarding pass atau gate. Agak rumit memang kalau Anda ingin membuka rute penerbangan luar negeri. Selain berhubungan dengan airport untuk mencari slot yang tepat, Anda juga perlu behubungan dengan Dinas Kelayakan Penerbangan. Kalau sudah begini, pemilihan schedule menjadi sangat penting. Jika schedule dan rute Anda tepat, sudah pasti airline Anda laku keras. Tapi kalau pemilihan schedule dan rute keliru, bisa fatal sekali akibatnya.
Beberapa tips dan trik lain yang mungkin perlu dimainkan untuk memenangkan perang adalah membangun kerjasama dan jaringan yang kuat dengan travel agent. Seringkali permainan harga dan ticketing terjadi di level ini. Modal kuat juga satu hal yang perlu Anda miliki untuk menutup operasi yang tinggi. Indonesian Airlines saja, dengan dana Rp 25 M saja bisa kalah, apalagi jika dana Anda cuma pas-pasan. Bagaimanapun, terlepas dari prospek bisnisnya yang cukup cerah, bisnis airline tetap merupakan bisnis yang berdarah. Bolehlah Anda menyebut kesuksesan Southwest, Ryanair, EasyJet, Delta Air, Jet Blue, Virgin Air, Lion Air, Adam Air, dan sebagainya. Tapi pengusaha besar sekelas Paul Anchustz, Richard Branson, dan bahkan Warren Buffett sekalipun pernah dibuat “kejedut” olehnya.
Oh iya, ngomong-ngomong, CEO maskapai penerbangan Adam Air ini ternyata masih berusia sekitar 25 tahun. Dia adalah putra Agung Laksono, Ketua DPR dan Menpora semasa pemerintahan Pak Harto.



January 4th, 2007 at 1:07 am
March 12th, 2007 at 9:30 am
Comments
April 28th, 2005 at 5:56 am
ini beneran, sumpah gua gak baca artikel panjang ini yang gue baca cmn bagian depan plus bagian :
“Ternyata ada untungnya juga kencan dengan pramugari..”
bwahahahah..
maapkan :P
April 29th, 2005 at 3:16 am
di bagian awal dibilang klo punya duit milyaran…….mau dong……
May 1st, 2005 at 5:29 am
gue punya temen yang ex salah satu pegawai penerbangan nasional.
dia udah dari dulu bilang, “bakalan bangkrut deh gak lama lagi”..
toh bertahun kemudian, mana koq gak kolaps kolaps juga..
dia bilang gitu, karena kepemilikan perusahaan tsb adalah usaha keluarga, jadi si pemilik ngambil uang dari kas perusahaan sampe ber milyar milyar tiap bulan..
tapi sampe sakrang belom kolapse jugak, aneh :P
May 2nd, 2005 at 7:12 am
kalo Sekali terbang bolak-balik ex Jakarta-Batam-Jakarta biayanya berapa ya nof !!!! Ya untuk pesawat 100-150 orang lah !!!
Ada yang mau invest bareng-bareng rute Jabodetabek? Past laku dah! Bebas Macet !
May 2nd, 2005 at 6:01 pm
Udah ditutup sama pemerintah, izin baru usaha penerbangan. Sementara katanya sih, untuk menata ulang agar tidak merugikan semua pihak. Katanya sudah cenderung tidak sehat.
Gue baca di koran Republika. Sorry dah lupa tanggalnya.
January 12th, 2007 at 10:39 am
Bagus mas. Namun, kalau melihat kasus Adam Air baru-baru ini, mungkin memang perlu ditinjau kembali. :)
February 14th, 2007 at 7:59 am
Kira2 kalo dibandingkan air-asia bagaimana ya? Promonya heboh, harganya murah. Tapi bagaimana dengan kondisi maskapainya? Barangkali ada yang bisa share?
March 19th, 2007 at 4:12 pm
ada yang mau invest??regulaer atau charter??saya sudah ada sdm nya,tinggal dananya bl m ada…silahkan hub saya via email..thx
August 6th, 2007 at 6:35 am
Yes….saya agree dengan mas Nofie.
Bahwa kalau punya duit gampang bikin Airlines!
So…..pak lurah, pejabat negara, atau milyarder pabrik ember pun bisa bikin Airlines, the key is money…money…money for every thing!
Nah celakanya seprofessional apapun management yang join dengan kumpeni itu bakal menjadi menjadi gurem, karena kayanya visi para share holder itu memahami business Airlines itu.
Hanya dengan nembak dengan peluru UANG beres semua and take off.
Tinggal kita tunggu saja who are the looser…..?
Saya setuju EU, Arab nge Ban Seluruh Airlines Indonesia, kalau perlu Singapore, Malaysia ikutan itu lebih baik! Pak SBY tidak perlu berang kalau itu terjadi, karena kita harus belajar kembali apa arti Regulasi, Kontrol, Wawasan Nasional dll
Dan saya yakin semua Airlines kita gak akan mati hanya dengan terbang domestik saja, karena tetangga kita itu sebenarnya ngiler dengan market kita.
Kita sedang menggali kuburan sendiri, jangan ajak bangsa lain, sebaliknya kalau kita bisa recover jangan juga untuk bangsa lain.
YLKI sebagai pelindung para penumpang seharus mampu membuat peringkat dari kacamata konsumen, sayang nya YLKI tidak tertarik bahkan terkesan pongah….dalam kancah permasalahan ini.
So bagi para penumpang pandai-pandai lah menghitung uang anda dalam membeli ticket….banyak koq yang murah….ada juga yang mahal….ada juga yg jual mahal padahal murahan.
Goodluck…… and kalau you you….naik pesawat belilah double asuransi.