Mari Bermain, Pertamina!

April 23rd, 2005 | Economics

Tahun 2001 lalu pasar hilir pelumas telah dibuka. Menyusul kemudian tahun 2006 nanti pasar hilir untuk semua produk migas juga akan segera dibuka. Berdasar UU Migas No. 22, tidak hanya SPBU, tetapi mulai dari terminalling, transportasi, hingga retail dan bulk trade akan sepenuhnya dibuka dan berlangsung di Indonesia. BP Migas (Badan Pengatur) hilir konon juga sudah menyiapkan aturan main untuk ini.

Apapun itu, Pertamina kini mempunyai teman untuk bersaing. Bersaing secara sehat tentunya. Bagi pengusaha yang jeli menangkap peluang, tentunya hal ini menjadi prospek bisnis yang bisa dimanfaatkan. Sementara bagi konsumen, produk yang bagus dan harga yang kompetitif akan segera mereka dapatkan. Indonesia, apalagi Jawa-Bali, adalah ceruk pasar yang sangat menarik. Bukan tidak mungkin major oil company seperti ExxonMobil, Shell, BP, Totalfina Elf, atau malah Petronas akan memasuki Indonesia.

Konsekuensinya, harga BBM menjadi sangat fluktuatif akibat volatilitas harga crude. Subsidi, seperti yang sekarang terjadi, akan dikurangi secara bertahap dan dicabut. Nasionalisme versus liberalisasi akan menjadi isu penting yang cukup sensitif, apalagi menyangkut sumber daya energi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Tapi kalau sudah mempertarungkan nasionalisme dengan liberalisasi, jawaban yang muncul mungkin akan seperti telur versus ayam.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Tarif Telkom Naik Lagi (Monopoli? Hari Gini?) » Nofie Iman
  2. Comments

  3. randi

    ini tentang Suply Chain Management product ? , hehehe saya gak tau banyak sih. btw, nof kerja dimana, jkt bukan? *persiapan nyari tempat KP, 1 semester lagi* .

  4. Nofie

    Saya? Wah, kalo yang dimaksud kerja kantoran, saya lagi nggak punya kantor nih. :D

  5. tian arief

    ah, soal beli bensin dari pertamina atau asing (shell/petronas), bukan soal nasionalisme vs liberalisasi, melainkan ekonomi (efisiensi) semata.

    kalau saya bisa mendapatkan bahan bakar dengan takaran (lebih) tepat dan kemunian (lebih) baik, kenapa tidak? (sebagai ilustrasi kualitas bensin dan solar pertamina yang (mungkin) oplosan, serta takaran yang dicurangi. memang, tak semua spbu pertamina melakukannya. tapi bagaimana kita bisa membedakannya?)

Looking forward to hear your thoughts.