Rogue Trader

May 9th, 2005 | Investment

Pernah menyimak film ini? Menurut saya, film ini adalah salah satu tontonan wajib bagi Anda yang tertarik dengan dunia finance dan trading. Film ini sendiri diangkat dari kisah nyata tentang seorang trader bernama Nick Leeson. Sebelumnya kisah ini sudah dibukukan, tetapi beberapa tahun kemudian diangkat dalam sebuah film yang dibuat tahun 2001 lalu.

Sedikit cerita tentang Nick Leeson. Lahir 1967 dari keluarga biasa-biasa saja di UK dengan pendidikan yang cukup hingga SMA, kemudian self educated lewat posisi junior operations clerk di bagian futures dan options settlements pada tahun 1987. Nick terkenal karena pembawaannya yang sangat percaya diri dan bersyaraf baja — sangat cocok untuk bidang kerjaannya saat itu.

Rogue Trader

Karir Nick meningkat tajam sejak ditempatkan di Jakarta sebagai troubleshooter dan setelah itu dipindahkan ke Hongkong dan Jepang. Nick juga mempunyai sifat sangat confident (baca: menekan) dalam menghadapi atasannya. Dengan cepat Nick dipindahkan ke London, tidak lagi ditempatkan di back room melainkan sudah di trading floors. Dari sinilah mulai terlihat bahwa Nick sebenarnya bukan orang yang bisa dipercaya, meski sudah telanjur menjadi orang kepercayaan Baring. Nick melakukan kecurangan pertamanya dengan menyembunyikan fakta-fakta sewaktu apply licence dari Britain’s Securities and Futures Authority. Kecurangan kedua Nick adalah melakukan manipulasi juga berbuat curang untuk tes futures di Singapura. Sialnya, kecurangan-kecurangan itu bisa dia sembunyikan dengan sangat rapi.

Problem seharusnya sudah mulai bisa dideteksi sewaktu James Bax, regional manager divisi South Asian, menulis memo ke London bahwa penempatan Nick di Baring’s Singapore Futures Operations bisa menyebabkan ketumpangtindihan karena Nick menjalankan back office dan trading floor sekaligus di SIMEX. Sekali lagi apa lacur, senior management pun tidak tertarik sama sekali dengan memo itu.

Nick sekali lagi mencoba peruntungannya dengan mengambil tes di Singapore’s Insitute of Banking and Finance Futures Trading supaya dia bisa leluasa memakai lencana di floor. Sekali lagi Nick berbuat curang dengan sama sekali tidak mendisclose judgement kecurangan yang dulu pernah dia lakukan di questionari test. Kali ini Nick lolos lagi dengan sukses sembari membawa lisensinya. Saat itu juga Nick dipromosikan menjadi Assitant Director dan General Manager for Barings Futures di Singapore. Tanggung jawab Nick mencakup trading, accounting, dan settelement activity - suatu fungsi yang sebenarnya sama sekali tidak boleh dipegang satu orang. Masalahnya, orang-orang hanya mengetahui bahwa tugas itu memang datang langsung dari London dan Tokyo tanpa ada seorang pun yang berani membantahnya.

Berbicara tentang 88888, bagi Chinese dimanapun, nomor 8 adalah angka hoki. Barangkali Nick juga termakan kepercayaan ini dengan membuka error account 88888 pada bulan July 1992 di Barings Futures Singapore (BFS). Usianya saat itu masih 25 tahun. Seminggu setelah itu Nick memberi instruksi untuk mengganti semua software program yang menjadikan account 88888 terlepas sama sekali dari market activity report. Account ini juga tidak terlihat di London bagian office accounting dan settlement.

Kesalahan pertama terjadi tahun 1993 ketika staff Nick yang seharusnya membeli justru menjual 20 contracts yang menjadikannya rugi 20 ribu poundsterling. Nick secepatnya membeli 40 contracts dengan kenyakinan bisa recover 20 ribu pound yang mulai menetap permanen di account 88888. Tiga hari kemudian kerugian 20 ribu pound itu berlipat menjadi 60 ribu pound. Lebih parah lagi salah satu senior trader melakukan hal sebaliknya dengan membeli 100 contracts, bukannya menjual. Akibatnya, 150 ribu pound terkumpul sebagai loss di account 88888.

Cerita berlanjut hingga Desember 1992 ketika Nick mendapat bounus tahunan sampai sekitar 35 ribu pound dengan kekalahan di account 88888 yang sudah mencapai S$4.9 juta loss. Pada tahun 1993 kontribusi keuntungan Baring Futures mencapai sebesar 20% dari keseluruhan keuntungan Bank Barings. Nick muncul sebagai wonder boy dan bisa report langsung ke London tanpa perlu susah payah ke atasannya di divisi Asia.

Tahun 1993 itu Barings memperoleh keuntungan 54.3 juta poundsterling dan Nick mendapat bounus sampai 130 ribu pound, sementara account 88888 masih membawa kerugian S$57.7 juta loss. Sifat Nick tambah sableng dengan dugem habis-habisan. Sudah lazim terdengar cerita kalau istrinya sering berdiri pagi-pagi di depan gedung futures exchange membawa baju dan dasi buat Nick yang baru pulang dugem dan minum-minum nggak karuan. Pada bulan Mei 1994 kerugian di error account 88888 mencapai S$217 juta. Dengan kerugian sebesar itu, Nick justru makin royal dengan memberi bonus ke staf-stafnya hingga 13 bulan gaji.

Auditor internal dan eksternal (Coopers dan Lybrand) sama-sama mempunyai pendapat bahwa Nick terlalu kuat dan powernya harus dicut demi balancing power. Sayangnya, keduanya tidak berhasil. Akhir tahun 1994 divisi Nick menghasilkan pendapatan 28.5 juta pound yang berarti 75% dari keseluruhan keuntungan grup Barings dan account 88888 mencapai loss sampai 208 juta loss. Betul-betul menggelikan karena sampai saat itu pun kecurangan Nick masih belum terdeteksi. Pada saat itu total profit before tax dan bonus group Barings mencapai 205 juta pound. Sesuai kebiasaan, setengah keuntungan dibagi dan Nick mendapat sekitar 450 ribu poundsterling.

Pada bulan Januari 1995, Nick menghadapi tutup buku loss 170 juta pound dan London tanpa sadar tetap saja mengirim 10 juta pound setiap hari untuk menutupi biaya trading yang diminta Nick. External auditor baru mulai mendeteksi sesuatu yang tidak direkonsiliasi dengan benar dan mulai menanyakan dokumen ini-itu ke Nick yang dengan senang hati memberikan semua dokumen, termasuk transaksi bank yang sudah dipalsukan sampai angka 7.78 milyar yen.

Pada bulan Februari 1995, setelah gempa bumi di Kobe, Nick mati-matian trading yang dalam seharinya bisa menghasilkan profit 15 juta pound tetapi kerugiaan setiap harinya justru mencapai 50 juta pound. Pada Februari 1997 kerugian di error account 88888 sudah mencapai 927 juta poundsterling dan Nick kabur. Barings Bangkrut. Nick akhirnya tertangkap di Jerman.

Dalam case seperti ini, muncul accounting issues yang menarik, seperti:

  1. Terlihat jelas tidak adanya authorization procedure untuk account-account seperti error account, limit batas maksimum error account itu sendiri, dan recording, plus tidak adanya rekonsiliasi menyeluruh yang justru sangat mendasar.
  2. Nick sangat lihat dalam bermain-main dengan accounting. Dia sudah terbiasa melakukan window-dressing untuk menghindari pembayaran margin dari SIMEX. Account dibooked dan direversed sebelum penutupan bisnis hari bersangkutan, kemudian dikembalikan kembali esoknya untuk menghindari margin calls. Cara yang sangat hebat untuk ukuran tahun bersangkutan. Lucunya, supervisor Nick (regional manager Asia division) malah tidak mengerti cara operasi futures, apalagi trik-trik yang dilakukan Nick.
  3. Terlihat sekali kekurangan dalam hal internal checking antara Singapore dan London.
  4. Tidak adanya pemisahan fungsi accounting antara pengesahan dan recording yang semuanya berada di tangan Nick seorang. Kolapsnya Barings sebenarnya adalah masalah pengawasan. Ketika back office dan front office dipegang oleh orang yang sama, maka terbuka peluang untuk terjadi tindakan manipulatif yang bisa menghancurkan seluruh struktur organisasi.

Note: Error account adalah semacam account yang dibuat khusus untuk menampung semua errors dalam trading. Kesalahan-kesalahan (mistakes) bisa berarti membeli daripada menjual suatu security, atau malahan membeli wrong amount. Oleh karena itu traders diharapkan (bukan diharuskan) untuk meralat kesalahan-kesalahan itu. Jika kesalahan itu sudah tidak bisa dibetulkan lagi, semua loss atau gain yang dihasilkan di hari penutupan harus di transfer ke profit account via error account itu dalam hal ini error account 88888. Account 88888 milik Nick tersebut kemudian menjadi trading account paling terkenal di seluruh dunia.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. PT Wahana Bersama Globalindo » Nofie Iman
  2. Kelemahan Seorang Pria » Nofie Iman
  3. Comments

  4. Nofie

    Sekedar informasi tambahan (quoted from mailing list):

    1. Nick Leeson, seorang trader Barings PLC, yang sebelumnya ditempatkan di Jakarta — ternyata cukup piawai dalam pasar derivatif. Karirnya naik tergolong cepat untuk orang seusia dia. Atas promosi itu ia diserahkan tugas untuk trading di Singapore.

    2. Tugas yang diserahkan kepada Nick Leeson sebenarnya cuma sebagai arbitrager, yaitu mengawasi perbedaan / selisih instrumen derivatif index futures dan option atas Nikkei 225, Bond Pemerintah Jepang (JGB), serta option rate Euroyen, yang diperdagangkan di Tokyo dan di Singapore.

    Seorang arbitrager akan melakukan dua posisi sekaligus (beli dan jual) bila terdapat selisih harga di dua pasar berbeda atas satu underlying asset yang sama. Bila dilakukan dengan konsisten dan disiplin — arbitrager tergolong kecil resikonya.

    3. Entah karena apa, Nick Leeson yang ditempatkan di front office — ternyata juga punya akses otoritas untuk ngutak-ngatik di back office. Mungkin karena orang segan pada dia yang memang punya karir cukup stellar (Nick Leeson kelahiran tahun 1967, jadi saat ditempatkan di Singapore usianya baru 25 tahun. Di Barings ia punya julukan “turbo-arbitrageur”). Inilah kunci kesalahan management Barings — membiarkan orang yang ada di front office — memiliki akses ke back office.

    4. Dari sekedar posisi sebagai arbitrager — ternyata Nick Leeson tidak puas. Ia “mengembangkan” sayapnya dengan melakukan trading derivatif secara “naked position” yang lebih risky tetapi bisa memberi hasil lebih (kalau sukses).

    Sukses…? Nggak juga. Tradingnya jeblok. Tapi karena ia punya akses ke back office — maka catatan trading yang jeblok ini bisa ditutupi. Dalam laporan account No. 88888 yang dikelola Neeson — posisi tradingnya selalu dilaporkan untung. Membaca laporan ini kepercayaan manajemen Barings semakin meningkat (juga semakin ceroboh). Account No. 88888 diberi akses dana unlimited. Ini kesalahan berikutnya dari manajemen Barings.

    5. Untuk menutupi posisi jebloknya — Nick Leeson malah semakin “gila” trading di posisi “naked”. Ia tahu persis bahwa posisi jebloknya nggak akan bisa ditutupi hanya dengan posisi trading sebagai arbitrager. Hanya posisi naked yang bisa menutupi loss-nya. Ini adalah kesalahan klasik para trader besar ataupun kecil. Mentalitas “double-or-nothing” lebih sering menjerumuskan.

    6. Akumulasi posisi “naked” Nick Leeson di kontrak futures N-225, JGB, dan Euroyen sedemikian besar (ia sempat menjadi pemain tunggal terbesar di kontrak futures Nikkei di Asia). Leeson berasumsi bahwa kalau ekonomi Jepang membaik - index Nikkei akan naik hingga mencapai titik tertentu — maka keuntungan yang diperolehnya dari kontrak futures trading akan sedemikian besar - sehingga bisa menghapus posisi loss yang selama ini disembunyikannya.

    7. Gempa di Kobe terjadi tanggal 17 Januari 1995.

    8. Index Nikkei 225 terjun bebas. Bersama dengan itu ikut menyeret nilai kontrak futures N-225 berikut ribuan option put yang dipegang Nick Leeson. Perusahaan-perusahaan asuransi mencairkan posisi long bond mereka di pasar bond untuk membayar klaim asuransi atas korban di Kobe. Rontoknya pasar Bond — merembet ke pasar equity. Neeson berusaha melakukan trading “strangle” atas option-optionnya. Tetapi itu belum cukup. Posisi loss-nya sedemikian besar dan bersifat akmulatif.

    9. Otoritas SIMEX Singapore yang memperdagangkan kontrak futures dan option Nikkei 225 & JGB - mengontak Manajemen Barings karena kolateral jaminan perusahaan itu turun melebihi batas minimal. Total nilai kontrak yang dipegang Barings mencapai sekitar USD 27 Milyar — sementara modal Barings cuma USD 615 Juta.

    10. Para petinggi Barings kaget - karena mereka selama ini mereka mengira mereka dalam posisi untung USD 46 Juta. Setelah data dari Back Office dibongkar - ternyata ketahuan bahwa Barings mengalami RUGI USD 296 Juta cuma untuk tahun 1994 saja.

    11. Neeson ditangkap setelah berusaha lari dari Singapore. Selanjutnya ia disidang dan dijatuhi hukuman penjara 6 tahun. Neeson dibebaskan lebih awal karena terdiagnosa mengidap kanker. Ia juga dijatuhi sanksi larangan trading atas instrumen investasi apapun. Setelah dibebaskan — ia menulis buku tentang dirinya yang berjudul “Rogue Trader” - yang kemudian diangkat ke layar lebar menjadi film dengan judul yang sama.

    12. Barings harus melakukan settlement atas seluruh trading Neeson. Total kerugian yang diderita Barings mencapai USD 1,4 Milyar. Karena tidak sanggup untuk membayar seluruh kerugian itu — Barings kolaps. Perusahaan ING Groep dari Belanda membeli Bank Barings. Harga pembelian….? Satu Poundsterling.

    Dari bukunya Nick Leeson bukanlah seorang yang bisa dibilang piawai dalam trading, karirnya dimulai dari backoffice, bayangkan orang backoffice bisa pindah jadi trader?

    Arbitrase yang dilakukan juga secara teori dan praktek hampir mustahil dilakukan, trading yang dia lakukan bukanlah untuk mencari profit tetapi untuk menutupi trading error salah satu anak buahnya, tetapi trading error ini makin lama makin besar, bahkan sampai satu saat Nick Lesson mencoba mengangkat Index Nikkei & melawan pasar dengan menggunakan uang Baring!

  5. randi

    wah, panjang banget. top banget postingannya :D

  6. mumtazrais

    bsok siang langsung dech aku ke wahana/istana… :-)

  7. Oskar Syahbana

    Wah gila banget berani ngangkat indeks sambil ngelawan pasar… ck ck ck. Kena illusion of grandeur kayaknya ini orang. Anyway, hunting bukunya di palasari ah :-)

  8. ida

    thanx bgt dengan adanya ulasan di blog ini. bantu gw buat ngerjain tugas kasus nick leeson dan barings bank, mata kuliah etika bisnis. thnx bgt yaa. gw jadi ngerti duduk persoalannya.honestly, gw nggak ngerti tadinya maksud kasus itu. alhamdulillah,thnx..thnx…

  9. ryad

    wah baru baca… seru juga…
    masih ada yg jual filmnya n bukunya ga ya… mau cari ah…

  10. ninja trader

    edun, nikkei 225 ko dilawan. lagian trader pake duit sebanyak itu ga cepet2 cut loss.hiiii …ngeri bleh…

    ane sendiri modal cekak pake duit sendiri, trading intraday E-mini S&P 500 future CME, trading dua tiga jam pertama loss mendingan close. dah tutup aja ah… tidur, besok aja trading lagi, diplanning dulu seharian baru berani balik lagi. itu juga pake margin ga pernah lebih 10% modal. kalo loss malah ane kurangin lot besoknya, bukan malah didobel.
    Lah..ga bisa ngebayangin apa yang dirasakan ama nick leeson ngorbanin duit orang banyak sampe loss bertahun tahun menggunung gitu, gunungnya didobel dobel lagi, weleh weleh, itu duit ape pasir, bisa nekat gitu..

    bener bener urat baja tuh nick leeson.

  11. mason

    kalo buku favorit saya:

    Rigged: The True Story of an Ivy League Kid Who Changed the World of Oil, from Wall Street to Dubai
    Official GMAT Guide
    Bank: A Novel
    Blue Blood and Mutiny: The Fight for the Soul of Morgan Stanley
    How I Became a Quant: Insights from 25 of Wall Street’s Elite
    Hedgehogging
    Starting Your Career as a Wall Street Quant: A Practical, No-BS Guide to Getting a Job in Quantitative Finance and Launching a Lucrative Career
    A Demon of Our Own Design: Markets, Hedge Funds, and the Perils of Financial Innovation
    The Accidental Investment Banker: Inside the Decade That Transformed Wall Street
    Hedge Hunters: Hedge Fund Masters on the Rewards, the Risk, and the Reckoning
    Brokerage Fraud
    The House of Morgan: An American Banking Dynasty and the Rise of Modern Finance
    Merrill Lynch: The Cost Could Be Fatal: My War Against Wall Street’s Giant
    Executive Intelligence: What All Great Leaders Have

    Pocket Oxford English Dictionary
    New Oxford American Dictionary
    American Heritage Dictionary
    Merriam-Webster Collegiate Dictionary

Looking forward to hear your thoughts.