Brain Drain Warning
June 12th, 2005 | EducationIndia dan Cina mulai mengadakan kerjasama yang lebih kuat dengan Jerman, terutama dalam hal pemberdayaan SDM. Sebagai contoh, Cina memberikan proyek-proyek di negaranya ke Jerman, tetapi mereka meminta imbalan antara lain supaya Jerman membuka pintu lebar-lebar bagi mahasiswa Cina yang ingin melanjutkan studi di sana.
Sekedar informasi, kuliah di Jerman sampai saat ini masih bebas biaya untuk Diplom, dan untuk program master hanya memakan biaya sekitar Rp 7 juta per semesternya. Berbeda dengan Amerika, Inggris, atau Belanda yang bukan main mahalnya. Walhasil, jumlah mahasiswa Cina di Jerman semakin bertambah dan di beberapa universitas, mereka menempati urutan pertama untuk jumlah mahasiswa asing non-Jerman.
India juga mengadakan kerjasama G2G dengan Jerman sehingga banyak dilakukan S2 Sandwich Program. Kuliahnya bisa di India, tapi tesisnya dikerjakan di Jerman. Konon, jumlah pelamar S2 (dengan pengantar Bahasa Inggris) di salah satu universitas di Jerman, tak kurang dari separonya berasal dari India.
Memang warning besar buat negeri kita. Kita sering melempar proyek kepada Jepang, tapi ketika kita minta Jepang untuk memperbanyak slot mahasiswa kita di sana, sulit terwujud jadinya. Kuliah di Jepang menuntut biaya, dan besarnya juga bisa dibilang mahal. Akhirnya, tidak banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil studi di Jepang.
Warning kedua, Kompas pernah memuat bahwa gaji seorang peneliti lulusan S3 cuma Rp 1,5 juta saja. Angka itu masih di bawah standar gaji sopir busway yang bisa mencapai Rp 2 juta per bulannya. Wajar kalau banyak terjadi brain drain di sini. Lulusan Diplom Jerman saja bisa mendapat gaji sekitar €1,900 per bulan net, sudah dipotong pajak dan asuransi ini-itu.



Comments
June 13th, 2005 at 2:37 pm
dikit amat 1900?? gaji programmer junior di amrik aja $50,000.. kasian dong peneliti disana. Living costnya bukannya mahal juga ya di jerman??
September 15th, 2007 at 7:46 pm
Gak bisa dibedain USA sama Jerman, dijerman gak ada orang miskin. Gaji orang dipotong buat subsidi orang nganggur, kesehatan, sekolah, infrastruktur, biaya hidup menurut gua sih paling murah senegara maju di eropa.
Kesian banget orang amrik abis badai katrina, mati di pinggiran jalan, mana ada dijerman kyk gitu. Orang disini penghasilannya merata, hampir gak ada jurang antara kaya dan miskin.
Indo harus belajar banyak tuh dari jerman, bukan dari amrik, yang kerjanya buat onar disana ama disini.
Tschuess…
March 27th, 2008 at 2:12 pm
Honestly, I get confused when I have to answer about my own title. Maybe you can help me. Did the government make curriculum education without any recommendations from the professional? All of the students as our young generations have serious implications. They’re smart in their academic, but the problem is most of them can’t do the practical of the knowledge they have.
Maybe in that case, the children is forced with many of knowledges in a short time. Why does the curriculum education force them to understand all of the knowledge as fast as possible? It’s like they want to make our next generation as instant robots, without any skills of course. In that condition, our children couldn’t develop their own mind. They always have to be told. They become pasive and they couldn’t make their own decisions. Because what? Because they don’t have a chance for it. Their time is lost by learning the things that is not real for them. They know about the animals or plants, but they never see them. Children is still children. They need a time to play. And in their playing, they will learn about the things that is not given at school. They can find the animals or plants they see at school books, and so on.
So that, if the professional take care about the curriculum education, they will find that there’s many things wrong. The professional here means psychologist for example, especially development and education psychologist. They have qualifications to give recommendations to develop our kids, because thay have the psychology as their mayor.
Well, I don’t know with whom I should talk to. But I’m just gonna say that it’s important to let the professionals working. Because if one case is handled by a wrong person, the case will not be finished. And it will make many of new problems.