General Motors dan Mobil Nasional
June 19th, 2005 | AutomotiveMerosotnya dinasti otomotif Amerika, yang ditandai dengan jatuhnya General Motors sedikit banyak telah mengusik perhatian saya. Seperti telah banyak diberitakan di media massa, perusahaan sebesar GM yang menjadi barometer industri otomotif Amerika, telah melakukan manuver yang kurang tepat dalam bisnisnya. Ironisnya, GM mengalami penurunan penjualan yang signifikan terutama justru yang terjadi di dalam negerinya sendiri, Amerika.
GM merupakan perusahaan raksasa dengan segudang prestasi. Tidak ada yang meragukan hal itu, tentu saja. Namun, terlalu banyaknya anak perusahaan menjadikan sistem birokrasi mereka sangat kompleks sehingga biaya organisasi, birokrasi, administrasi dan lain-lainnya menjadi sangat terlalu besar.
Selain itu, GM juga terlalu tinggi membayar karyawan-karyawannya. Mereka juga terlalu banyak memperkerjakan karyawan yang tidak efisien. Karena sistem yang relatif tertinggal dibanding pesaingnya, menyebabkan biaya personal tersebut terlalu tinggi dan ikut menyumbang keruntuhan GM. Kondisi ini masih diperparah dengan sistem jaminan sosial yang mereka miliki. Sebagai perusahaan senior, GM mempunyai sistem yang terlalu bagus dan justru menyulitkan mereka dalam membayar kewajiban pensiun para pekerjanya.
Bicara tentang portofolio produk, nyaris tidak ada produk GM yang menjadi leader di pasar Amerika. Untuk mid-family class, urutan 1 hingga 3 masih dipegang Toyota Camry, Nissan Altima, dan Honda Accord. Sedangkan produk GM seperti Buick Le Sabre terpuruk di urutan 8. Padahal total penjualan untuk Toyota Camry, Nissan Altima, dan Honda Accord sendiri hampir mencapai 1 juta unit pertahunnya!
Untuk kelas pick-up atau SUV juga masih dipegang oleh Ford F150 yang penjualan per tahunnya mencapai hampir 1 juta unit. GM dengan Silverado dan Tahoe masih jauh di bawah itu. Sedangkan untuk sedan compact, GM mengandalkan Saturn dan Pontiac yang juga tidak dapat bersaing dengan Honda atau Toyota.
Di kelas premium luxury, sedan Cadillac juga tidak mampu bersaing dengan BMW atau Mercedes Benz. Sementara merk-merk yang dipegang GM seperti SAAB masih kalah bersaing dengan Volvo dan Jaguar yang merupakan merk yang dipegang oleh Ford, juga dengan Lexus, Infinity, dan Acura. Kondisi ini masih juga diperburuk dengan rongrongan masalah kualitas dengan sering terjadinya recall di produk pick-up GM Tahoe.
Dengan anak perusahaan yang terlalu banyak plus macam-macam merk seperti Opel, Chevrolet, dan sebagainya membuat mereka tidak efisien dalam kesatuan produk inti mereka. Konsumen sering mempertanyakan hilangnya imej GM sebagai produsen mobil. GM juga tertidur dalam inovasi untuk produksi kendaraan mereka dengan alasan untuk menekan pengeluaran. Akibatnya pesaing mereka jauh lebih unggul dalam inovasi dan teknik. GM sulit dalam memasarkan produk mereka yang teknologinya uzur namun harganya relatif mahal. Padahal, harga bahan bakar yang terus menaik mengakibatkan pesaing menekan harga sehingga persaingan menjadi semakin ketat.
Yang jadi pertanyaan kembali adalah apakah Indonesia juga mau ikut kembali terjun ke industri otomotif yang sekarang ini terlalu ketat persaingannya? Nilai tambah apa yang bisa mengunggulkan produk mobil nasional Indonesia dibanding produk sejenisnya yang telah ada sekarang ini di pasaran? Semoga saja pemerintah kita nantinya akan lebih berhati-hati dalam berinvestasi dalam jangka panjang.



Comments
June 22nd, 2005 at 2:35 am
wah pindah nih :D
June 26th, 2005 at 9:36 am
Nilai tambah apa yang bisa mengunggulkan produk mobil nasional Indonesia dibanding produk sejenisnya yang telah ada sekarang ini di pasaran?
- Murah (dibanding CBU ).
- Gampang Rusak.
- Blum diakui Internasional.
- wah udah lama ga koment di sini :) .