Indonesia Negeri Agraris?

June 11th, 2005 | Politics

Barangkali kurang tepat menyebut Indonesia sebagai negara agraris sebagaimana tertulis di buku-buku anak Sekolah Dasar. Saya lebih suka menyebut Indonesia sebagai mantan negara agraris yang sekarat. Secara struktural, mismanagement yang terlalu parah adalah penyebab utamanya. Tapi mari kita lihat lebih dekat duduk persoalannya.

Masalah mendasar pertama adalah scale of economics. Kebanyakan petani adalah hasil warisan. Setelah sekian generasi, ukuran lahan makin sempit. Pengolahan usaha agraris menghasilkan skala ekonomi yang tidak seimbang. Terlalu banyak orang tapi terlalu sedikit lahan. Padahal kalau dikelola dengan skala yang pas, produktivitas jelas bisa meningkat banyak.

Kemudian juga menyangkut faktor infrastruktur. Ini lebih pada fasilitas transportasi. Makin lancar transportasi, bargaining power petani makin kuat terhadap para pedagang. Mereka juga bisa mendapatkan harga yang lebih pantas untuk produk-produk mereka. Apalagi komoditi pertanian sangat sensitif terhadap waktu. Transportasi yang baik jelas bisa memudahkan para petani. Komponen biaya menuju pasar akan berkurang dan distorsi yang diakibatkan jelas menurun. Sulit rasanya bagi rentenir untuk masuk dan melakukan monopoli.

Sementara yang ketiga adalah resiko. Bertani adalah satu-satunya pekerjaan. Sama halnya menangkap harimau dengan hanya mengunakan sebilah belati. Sangat beresiko. Waktu paceklik, harga naik tapi pasokan kurang. Saat panen, persis sebaliknya. Hasilnya, petani tidak mampu untuk investasi lagi pada periode tanam berikutnya. Pendek kata, petani membatasi skala ekonomi mereka sendiri yang sama juga menutup kesempatan untuk berkembang lebih. Resiko yang mereka tanggung juga jadi makin besar.

Resiko itu sendiri pada dasarnya bisa diatasi dengan produk asuransi atau hedging untuk melindungi. Pasar futures komoditi pertanian bisa mengendalikan resiko. Petani bisa memutuskan untuk menanam atau tidak jauh hari sebelum panen. Mereka bisa mengalokasikan sumber daya mereka untuk komoditi lain. Petani juga bisa mematok harga jual mereka bahkan jauh hari sebelum panen tiba.

Yang jelas perlu overhaul besar-besaran tentang konsep agraris yang ada sekarang. Seleksi untuk menentukan layak tidaknya seseorang menjadi petani mutlak diperlukan agar output yang dihasilkan bisa betul-betul petani yang punya spirit entrepreneur.

Jangan cuma “dilindungi” tapi dibonsai. Buntutnya cuma jadi alat politik. Dibantu saja sedikit, besok pagi keluar di headline surat kabar.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. achmadi

    Buntutnya cuma jadi alat politik. Dibantu saja sedikit, besok pagi keluar di headline surat kabar.

    yo jelas… Indonesia Gitcu loh!!!!

    kapan seh, para pemimpin di Indonesia ini (terutama di daerah, sekarang kan lagi musim pilkadal, inget, pilkadal, bukan pilkada) yang sekelas gubernur n bupati, yang bener2 inget ma wong2 cilik n ngurusin sektor riil terutama agraris ?? kasi namanya… ntar tak highlight!

    mindset businessman perlu banget buat di tanamkan ke semua orang di level civil services.. jadi mereka gak cuman ikut2an sama konsepsi ABS, asal babe senang aja.. tapi diganti ma sistem rewards and punishment.. so, fair khan

    mo bukti… liat tipi. kalo emang para gubernur n bupati tuh pada mikirin rakyatnya, gak mungkin lah ada namanya wabah busung lapar, polio, flu bururng, de es be..

    mereka lebih suka ngeluarin duit buat beli kaos kampanya, pamer spanduk n baliho serta poster dengan bujet ratusan juta , daripada make buat hal begituan..

    Mungkin ada dikit nie.. (sori ya bang nov.. agak panjang, soalnya gw lagi naek darah ma yang namanya KEPARAT BERWAJIB) kalo bisa, para pemimpin tuh gak usah dikasi mobil dinas, biar mereka naek bisa or angkot aja tiap hari, jadi sarana angkutan tu pasti dibikin enak, soalnya pada make juga khan!.. trus lagi, /me paling sebel kalo udah ngeliat iring-iringan para pejahat berwenang yang lagi lewat (entah itu acara makan siang, brangkat kantor or else). Suenepe polll !!! emang jalan punya mreka pa… asal aja nyetopin orang mo pake jalan… mreka gak pernah denger ya kalo khalifah umar tuh kagak punya istana kekhalifahan.. kalo tidur ga pake kasur, rela manggul beras sendiri dari baitul mal buat dikasi ke janda kelaparan…

    gw paling setuju kalo ada tsunami lokal yang melanda rumah2 para pejahat berwenang yang suka maen2 ma jabatan mereka… kalo perlu pembunuhan massal macem petrus buat orang2 macem itu… gantinya ya anak2 muda yang masih punya rasa merakyat, jangan diganti anak2 muda yang pada pinter ngebullshit aja, tapi niatnya cuman jadi politikus ngegantiin posisi bosnya yang dulu, but tindakannya sama aja or lebih parah..

    I’m truly sorry for saying s’thing rude like that, btw, ini negeri udah radikal banget mlencengnya.. jadi buat benerin, perlu tindakan yang radikal pula lah… inga’ inga’ !!!!

  2. Grahat

    :mrgreen: Great article..

    G juga setuju banget om achmadi yang berapi-api ini. Senang juga masih banyak orang yang idealis. Terus terang bahkan dalam lingkup akademispun sudah jarang makhluk makhluk yang idealis.
    Anyway…

    Secara struktural missmanagement yang terlalu parah.

    Ini bener banget, tapi yang jadi masalah kan kenapa makin kesini kok kelihatannya tidak ada perubahan malah keadaan bertambah parah?

    Baiklah secara struktural indonesia memang sangat buruk, kita punya dasar finansial makro yang keliatan kuat tapi isinya bolong2 banyak rayap, finansial mikro yang nyata2 memiliki margin tinggi malah dianak tirikan. Hukum yang tambal sulam. Tapi, bukankah kita harus bisa bangkit asal orang2nya bagus?

    Kalo minjem kata Prof Mochtar,

    Lebih baik hukum yang buruk dengan orang yang baik, daripada hukum yang baik dengan orang yang buruk.

    Menurut g sih ini bukan karena statusquo politic atau kekuasaan. Cuman ini statusquo kebodohan.
    Ada orang yang pinter, dipake buat minterin orang.. Ada orang yang idealis kurang berilmu akhirnya gampang digoyang..

    Jadi, ya mari kita terus belajar, sampai saatnya buat kita tiba untuk muncul dan berbuat sesuatu untuk bangsa, kita bisa melakukan yang terbaik untuk bangsa Indonesia tercinta ini..

    Salam

  3. ika

    dulu waktu saya sd-sma, saya percaya kalau indonesia itu pernah jadi negara swasembada beras. nah, setelah kuliah saya nggga percaya lagi
    bisa jadi itu pembohongan publik oleh pemerintah waktu itu dan sampai sekarang

  4. lekopr

    Pak Iman Yth,

    Tulisan Bapak lebih bernada pesimistis dan boleh dibilang sudah mulai lupa pada upaya-upaya dan kerja-kerja besar yang barangkali tak tercatat di media yang dilakukan banyak lembaga swadaya masyarakat, individu-individu yang melihat agraris di Indonesia masih bisa dikembangkan.

    contohnya pak, untuk mengantisipasi futures trading, bukannya Indonesia sudah punya UU Resi Gudang yang sedang dikerjakan oleh Bapepti untuk petunjuk pelaksanaannya. Saya juga dengar ada salah satu lembaga keuangan asing sekarang sedang riset mendalam tentang adanya produk asuransi cuaca (weather index insurance) yang sudah berjalan di India dan Thailand.

    untuk akses permodalan, sudah banyak skema kredit yang dibuka, masalahnya bankir-bankir kita pada malas berurusan dengan petani yang kreditnya kecil2, lebih baik dan lebih senang mereka berurusan dengan Anda, dengan saya yang pasti pengembaliannya, yang lebih “melek huruf dan aturan”.

    saya yang tinggal di desa di Indonesia timur sini, punya pengalaman panjang soal membantu petani kecil/gurem dapat kredit lunak, jadi saya rasa tulisan-tulisan anda sebaiknya juga ditambahkan program solusi konkret dan jangan melulu kritik/sinisme…

    salam
    lekopr

Looking forward to hear your thoughts.