Bali Bombing, Ramadhan, and Other Things

October 15th, 2005 | News

Ada banyak peristiwa menarik yang terjadi belakangan ini. Sebut saja kenaikan harga BBM, tragedi bom bali 2, gempa dan bencana alam di berbagai belahan dunia, datangnya bulan Ramadhan, flu burung yang masih saja terus memakan korban, hingga soal mafia peradilan di Mahkamah Agung. Semuanya tentu bisa diangkat menjadi tulisan-tulisan yang (mungkin) menarik. Sayangnya, keterbatasan waktu dan tenaga membuat blog ini lagi-lagi harus terbengkalai. Maaf.

Banyaknya peristiwa yang datang silih berganti, dimana kebanyakan adalah musibah atau berita buruk, membuat saya merasa cemas dan was was. Belum pernah saya merasakan kengerian semacam ini. Manusia, betapa tidak, begitu gampangnya dimatikan dan dibuat begitu tidak berdaya. Dan, ketika diberikan musibah-musibah semacam itu, bukannya istighfar atau kata-kata baik yang keluar, tetapi justru umpatan, cacian, keluhan, dan bahkan saling menghujat satu sama lain. Yah, itulah manusia, dengan segala sifat bawaan dan nafsu alamiahnya.

Tapi mari kita lihat sisi positifnya. Paling tidak manusia Indonesia kini jauh lebih tahan banting dari sebelumnya. Shock therapy yang dilakukan pemerintah lewat pencabutan subsidi membuat kita sedikit aware. Change management tersebut setidaknya sudah membuka mata kita bahwa energi adalah barang yang mahal dan kita harus banyak berhemat untuk itu. Di sisi lain, makin banyak bermunculan greenish people yang lebih aware terhadap isu-isu lingkungan, pencemaran udara, polusi timbal, penanganan limbah yang buruk, hingga pemanasan global.

Begitu juga dengan isu jual beli perkara yang melibatkan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dan Probosutedjo. Sadar atau tidak, belakangan ini mulai banyak kasus-kasus yang berhasil diungkap. Sedikit demi sedikit ketidakberesan dalam birokrasi di negeri ini mulai dibenahi satu demi satu. Upaya-upaya untuk menuju arah yang lebih baik, walau agak tersendat, perlahan tapi pasti mulai menemukan ritme yang lebih harmonis.

Dan bicara tentang musibah yang begitu banyak mendera kita, cukup membukakan mata, hati, dan telinga kita bahwa kita ini hanya manusia biasa yang sungguh tidak berdaya di hadapanNya. Kita tidak bisa berkutik dengan ancaman virus flu burung. Kita juga melihat bahwa manusia akhirnya menyerah ketika dihadapkan pada bencana alam yang luar biasa dahsyatnya, seperti Tsunami di Aceh, badai Rita dan Katrina, hingga gempa di Pakistan, India, dan Guatemala.

Beberapa di antara kita begitu skeptis dan memandang penuh pesimisme tentang masa depan negeri ini. Sebagian yang lain menyalahkan aparat yang kurang sigap, lemah pengawasan, hingga oknum-oknum oportunis yang mencuri kesempatan dalam kesempitan. Beberapa lainnya menuding segolongan tertentu sebagai kambing hitam sebagai curahan kekesalan atas apa yang telah kita alami selama ini.

The sun is still shining. Saya sih positive thinking saja bahwa pastinya ada sesuatu yang baik di belakang setiap kesulitan dan musibah. Dan bahkan Gatotkaca pun harus dilebur di kawah Candradimuka sebelum diangkat sebagai seorang ksatria. Saya yakin kita semua mampu kok mengatasi persoalan ini. Somehow, we will survive, we are together in this, and we will survive.

Jadi, tetap semangat!

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. snydez

    takutnya orang Indonesia jadi imune akhirnya malah gak peduli dengan hal hal itu :P

  2. Ozzie

    Coba deh baca Fortune yang isinya tentang risk management. Bener - bener bagus dan tampaknya memang satu - satunya pihak yang dapat melakukan risk assesment dengan benar (engga cuma financial risk, tapi juga physical risk) cuma badan usaha deh…

Looking forward to hear your thoughts.