Sindrom Inferiority

November 13th, 2005 | Personal

Harus diakui bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang pernah berada di bawah kekuasaan penjajah. Masa penjajahan yang begitu lama tersebut telah memberi banyak pengaruh ke dalam struktur masyarakat di dalamnya. Salah satunya adalah sebuah penyakit yang cukup kronis dan mampu memberi efek turunan yang sangat signifikan pada penderitanya. Namanya: sindrom inferiortiy.

Kita pasti tahu bahwa masyarakat kita begitu mengagungkan bangsa asing. Kita lebih suka berbicara menggunakan jargon-jargon asing yang terdengar keren kendati padanan kata dalam bahasa Indonesianya pun sebenarnya sudah ada, termasuk saya. Teman-teman artis juga agaknya lebih suka menikah dengan orang bule ketimbang dengan pejantan lokal. Perusahaan-perusahaan swasta atau BUMN pun juga lebih cenderung mempekerjakan ekspatriat asing ketimbang mengangkat jagoan lokal.

Padahal, saya sendiri percaya bahwa setiap manusia yang ada di permukaan bumi ini berasal dari basic yang sama. Artinya, tidak ada kepastian yang menjamin bahwa golongan tertentu lebih baik (atau lebih buruk) dari golongan yang lain. Kalau demikian, Tuhan jadi tidak maha adil dong? Memang ada segelintir stereotip dalam masyarakat yang menganggap premis-premis tertentu merupakan kebenaran dan diperlakukan sebagai fakta, kendati belum pernah dibuktikan secara empiris keberadaannya.

Beberapa waktu lalu, misalnya, pihak Konjen RI di Melbourne menggelar Indonesia Festival untuk menjaring investor dan kontak bisnis. Para anggota Kadin daerah juga diundang untuk berpartisipasi dengan biaya yang separuhnya ditanggung pemerintah. Tapi lucunya, ketika banyak calon investor dan pebisnis bule ingin bertemu, mereka justru sibuk melancong dan memilih jadi turis.

Pada masa jaya IPTN dahulu, pernah perwakilan dari Seattle mengikuti pameran dirgantara di Amerika dan Kanada. Namun, lagi-lagi para petinggi-petinggi IPTN tersebut justru bersembunyi. Sementara staf lokal yang harusnya menangani administrasi, dilempar sebagai bumper untuk menghadapi para bule-bule hanya karena bahasa Inggrisnya bagus. Wajar, kalau pesawat IPTN jarang ada yang mau membeli.

Pernah juga Indonesia mengirim para rektor untuk melakukan pertemuan dengan presiden universitas-universitas di Amerika atas prakarsa kedutaan. Tujuannya agar mereka bisa melakukan kerjasama di bidang pendidikan antara universitas-universitas Amerika dengan universitas-universitas di Indonesia. Tapi yang terjadi justru mereka saling ngobrol dan berkerumun sesama orang Indonesia sehingga para bule-bule itu kesulitan untuk melakukan komunikasi yang lebih serius.

Anggota DPR pernah juga datang keliling Amerika dengan tujuan memperbaiki citra Indonesia di mata Amerika. Lagi-lagi yang terjadi justru mereka jalan-jalan dan kumpul-kumpul dengan anggota Permias sembari menyuruh mereka untuk mempromosikan Indonesia langsung ke bule-bule. Mereka cuma berani bertemu dengan orang-orang Indonesia di Amerika, bukan bertemu langsung dengan orang-orang Amerika di sana.

Jadi, sebenarnya kesempatan untuk maju memang selalu ada dan tersedia, sayangnya kita sendiri sering enggan menggunakan kesempatan itu karena perasaan rendah diri ketika berhadapan dengan bule: sindrom inferiority.

Anyway, mungkin bagus juga kalau anggota DPR disaring lewat lowongan, atau kalau perlu, menggunakan jasa headhunter sekalian. Requirement-nya? Minimal sarjana S1 dengan TOEFL score setidaknya 500. Cukup kan? ;)

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Mental Inlander Complex » Nofie Iman
  2. Apa itu hidup?
  3. Kembalinya Kearifan Timur » Nofie Iman
  4. Pendidikan Indonesia Terbaik di Dunia? » Nofie Iman
  5. Pendidikan Indonesia terbaik!!!!!!!!! « Gojekkere’s Weblog
  6. PENDIDIKAN di INDONESIA????????????? « Remoet’s Weblog
  7. Indonesia Tak Pernah Dijajah Belanda 350 Tahun « The Home of Sutanto Santoso
  8. Comments

  9. randi

    wahaahah, saya bisa dong jadi anggota DPR dan menerima gaji yg besar huahahahahahaha. (baru koleksi skor TOEFL doang, izajah S1 masih blum dapat).

    mo ngucapin mohon maap lahir batin pak.

  10. snydez

    mesti ikutan test TOEFL nih kaya’nya gue … “P

  11. achmadi

    hahaha….
    kalo gitu skornya lumayan tuh .. bisa apply jadi anggota DPR..

    tapi emang bener kok nof.. banyakan orang indonesia tuh ngerasa kalo “ras” indo lebih inferior dibanding “bule” dkk. Kalo udah bule mindset-nya pasti langsung “wahh !!”. Pa mereka gak tau kalo banyak juga bule yang jadi kriminal ? :D

  12. emol

    wah.. jangankan kena sindrom, kenal diri kita siapa dan ada dimana pun masih enggak beres.

    sebetulnya kita berada ditengah-tengah, dibilang asia enggak, oceania ato pasifik juga enggak. jadi mudah banget untuk ‘digoyang’. kecuali ampe kita nemu originalitas indonesia sendiri. tapi bakalan susah… soalnya buanyak banget suku, ras, dsb. yg ga mungkin jadi satu tapi ‘dipersamakan’.

    herannya nih, putri indonesia kok blasteran? actually i’m ora trimo yen putri indonesia iku is londo… so how panjenengan think about it? buhahah.. we lost our identity

  13. Valentino

    Kita butuh beberapa dekade lagi untuk mengubah total mentalitas inlander kompleks. Mungkin dua generasi lagi

Looking forward to hear your thoughts.