Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?
December 5th, 2005 | EducationSebelum tahun 1800an, bahasa kaum intelektual Eropa masih merupakan bahasa Latin yang tidak dikuasai oleh mayoritas orang. Selain kaum terdidik dan pendeta, sulit menemukan orang yang sanggup berbahasa Latin. Kalau kita mundur beberapa jaman, bahasa iptek adalah bahasa Arab. Karya ilmiah dari para filsuf dan ilmuwan Yunani kuno pada masa itu, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Semasa Renaissance, orang mempelajari diskursus Aristoteles, geometri Euclid, dan sejenisnya melalui bahasa Arab karena naskah asli dalam bahasa Yunani kuno sudah punah. Tentu saja, kaum intelektual Arab menambahkan buah pemikirannya yang kemudian dikembangkan lagi oleh orang Eropa Barat dalam bahasa Latin.
Sampai perang dunia pertama, bahasa kaum bangsawan dan kaum terdidik di Eropa adalah bahasa Perancis. Setelah berakhir perang dunia kedua dengan Amerika (dan sekutunya) sebagai pemenang tunggal, praktis kemudian Amerika menguasai politik dan ekonomi dunia. Dibandingkan negara-negara lain di Eropa, hanya Amerika yang institusi dan industrinya tetap eksis tidak hancur lebur dilumat bom. Bahasa Inggris kemudian muncul sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan, lalu bergeser pula menjadi bahasa kraton dan bahasa kaum intelek di abad modern.
Jika kita ingin maju dan berkembang, bagaimanapun juga kita harus mampu mencerap ilmu pengetahuan, pengalaman, kearifan, dan bentuk knowledge lainnya secara baik. Kita bisa ”mengalah” dengan mempelajari bahasa lain di mana knowledge tersebut disajikan, atau kita terjemahkan knowledge tersebut ke dalam bahasa yang bisa kita pahami dengan baik.
Bangsa ini sebenarnya bangsa yang beruntung karena memiliki satu bahasa nasional. Agak mengherankan memang, karena mayoritas orang Indonesia adalah suku Jawa yang memiliki bahasa sendiri –bahkan aksara sendiri. Toh, orang Jawa rela menggunakan bahasa Indonesia tanpa memaksakan etnis lain untuk berbahasa Jawa.
Keuntungannya, suku-suku lain tidak merasa terjajah atau terintimidasi oleh suku Jawa. Selain itu, bangsa Indonesia tidak menggunakan aksara Jawa melainkan menggunakan huruf latin yang lazim diajarkan oleh bangsa Eropa. Dengan demikian, kaum terpelajar di Indonesia masa itu –bahkan hingga kini—relatif lebih mudah menyerap informasi. Bandingkan dengan bangsa Jepang, Cina, Korea, Thailand, Arab, Rusia, dan seterusnya. Secara teoritis, kita lebih mudah untuk mempelajari bahasa asing karena tidak perlu mempelajari alfabet baru –di samping bahasa baru.
Jadi, poin pentingnya adalah bahwa kita harus bersedia –-secara sukarela maupun terpaksa–untuk mempelajari bahasa lain, seperti bahasa Inggris, Perancis, Mandarin, dan sebagainya. Bagaimanapun juga, ilmu pengetahuan terkini banyak disajikan dalam bahasa-bahasa asing tersebut, mengingat kontribusi orang Indonesia dalam memajukan ilmu pengetahuan di dunia masih terlalu sedikit -– untuk tidak menulis tidak ada.
Dan kalau kita telah diberi kemampuan dalam menguasai bahasa asing –entah itu bahasa Inggris, Pernacis, Mandarin, Jepang, Rusia, Arab, atau lainnya—maka alangkah baiknya jika kita ikut membantu menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia agar bisa lebih dinikmati dan diserap oleh orang Indonesia. Jadi andaikata kita menemukan informasi menarik yang disajikan dalam bahasa asing –-entah itu buku, jurnal, film, majalah, web, atau media lainnya–dan dirasa cukup menarik, maka sebarkan saja kepada yang lain. Dan salah satu media yang paling mudah dan murah untuk penyampaian informasi tersebut adalah blog seperti ini.
Harus diakui bahwa bangsa ini belum memiliki usaha terarah untuk menyediakan informasi terkini dalam bahasa Indonesia agar setiap orang Indonesia dapat menikmatinya. Jadi, kalau bukan dimulai dari kita, lalu siapa lagi?



Comments
December 6th, 2005 at 11:03 pm
Umm..aku kok merasa tertohok ya? Hehehe.. ^_^
btw mas, nulis lagi donk, kali ini ttg resuffle kabinet..