Reshuffle Kabinet: Apakah Berhasil?

December 9th, 2005 | Politics

Tuntutan Mendesak Reshuffle Kabinet

Barangkali, beberapa waktu belakangan ini presiden Yudhoyono sering mengalami migren akibat beratnya persoalan yang diemban beliau. Tentu saja termasuk soal reshuffle kabinet yang padat dengan tekanan-tekanan politis–walaupun beliau sendiri mengelaknya. Akhirnya memang nama-nama baru sudah dipublikasikan pada pidato di Gedung Agung Jogja –yang sempat membuat misuh-misuh rekan saya yang berkantor di bilangan Ngampilan karena kemacetan yang cukup memusingkan– namun tetap saja suara pesimis dan nada miring muncul dari para analis dan pakar yang mewarnai media beberapa hari ini.

Persoalan mendasar yang perlu dibenahi adalah soal kinerja perekonomian yang masih carut marut. Masuknya Aburizal –notabene orang yang hafal lika-liku pasar– ternyata justru menjadikannya sebagai public enemy mengingat kinerjanya yang kurang maksimal dan catatan masa lalunya yang dinilai masih kotor. Pasca reshuffle, posisi-posisi kementrian di bidang ekonomi mengalami perombakan yang cukup signifikan. Bagus memang, hanya saja menyiratkan kesan bahwa kinerja menteri non-ekonomi seolah lebih baik dan memuaskan daripada kinerja menteri-menteri ekonomi.

Satu hal yang cukup menggelitik adalah bergesernya posisi menteri non-ekonomi mengingat reshuffle kali ini sesungguhnya adalah reshuffle terbatas dalam bidang ekonomi saja. Inilah kelemahan SBY sebagai seorang presiden yang lahir dari partai minoritas. Ketergantungan pada partai lain yang lebih dominan (baca: Golkar) sangat besar. Dan ketergantungan yang maha berat itu harus ditanggung oleh rakyat dalam bentuk inefisiensi pemerintahan ini. Selama Golkar masih ada, kabinet pelangi semacam ini akan terus terpelihara.

Di satu sisi, presiden ”tidak boleh” mengeluarkan Fahmi Idris dan tentu saja Aburizal Bakrie. Namun di sisi lain, pemerintah membutuhkan orang-orang baru yang lebih kompeten dan mempunyai kapabilitas yang mumpuni. Sudah sejak lama presiden mengincar Boediono yang memang terkenal karena kemampuan, kredibilitas, catatan prestasi, serta sikap dan attitudenya. Boediono memang relatif bebas interest, mempunyai kapabilitas yang teruji, serta bisa mengkoordinasikan menteri lain yang berada di bidang terkait. Ini memang timming yang tepat bagi masuknya kembali Boediono dalam pemerintahan.

Jika dilihat dari formula yang diajukan Boediono, arah kebijakan perbaikan ekonomi sudah on the track. Tidak banyak yang akan berubah secara drastis. Saya rasa visinya juga sudah cukup mewakili kondisi ekonopolitik negeri ini dimana poin pentingnya tetap pada keseimbangan dan kestabilan ekonomi, tidak melulu mengejar pertumbuhan atau menutup budget shortage. Reputasi Boediono inilah yang diharapkan bisa banyak menolong. Beliau juga dinilai segendang sepenarian dengan Mafia Berkeley yang masterplan jeniusnya dulu sempat dibelokkan oleh keluarga Cendana dan Habibie. Bagaimanapun juga Boediono merupakan public darling. Dan dukungan pasar inilah yang dibutuhkan oleh para arsitek ekonomi negeri ini untuk melakukan perbaikan.

Sayangnya, masuknya Boediono (dengan tetap mempertahankan Aburizal Bakrie) ini harus dibayar mahal dengan mengeluarkan public darling yang lain (baca: Alwi Shihab). Keluarnya Alwi Shihab demi memberikan tempat bagi Aburizal Bakrie sesungguhnya bukan karena inkompetensi melainkan karena posisi menko kesra relatif lebih ”kurang” kepentingannya. Akibatnya, Alwi –-yang sebenarnya menerima banyak penghargaan semasa jabatannya — harus dipinggirkan untuk menangani lahan lain, yakni kerjasama dengan negara-negara Islam dan Timur Tengah, termasuk Islamic Development Bank. Begitu juga dengan Jusuf Anwar yang ditempatkan sebagai duta besar. Sayang tidak disebutkan kemana Andung Nitimihardja akan dipindahkan. Mudah-mudahan bukan karena sakit hati presiden di India sebelumnya. ;)

Saya sudah menulis beberapa kali bahwa politik sesungguhnya adalah permainan. Ketika kita berbicara politik, soal hati nurani, moral, etika, dan bahkan agama, mungkin harus terpaksa mengalah demi kepentingan-kepentingan yang harus dimediasi secara baik dan tepat. Anggaplah reshuffle kali ini sebagai semacam simulasi. Andaikata simulasi ini berhasil, maka presiden dan Golkar akan mendapatkan banyak keuntungan, yang bisa memberikan bargaining power pada pemilihan mendatang. Tapi andaikata simulasi ini gagal, maka PDIP dan PKB harus menerima limpahan getahnya, plus rusaknya reputasi Boediono.

Well, sampai sejauh ini memang IHSG terus merangkak naik. Senada juga dengan rupiah yang perlahan namun pasti mulai bangkit. Di banyak media memang banyak analis (dan yang mengaku analis) mengomentari reshuffle ini secara sangat negatif. Saran saya, nggak usah deh terpancing dengan semua itu. Kita tunggu perkembangannya dengan penuh harapan, antusias, dan optimisme penuh gairah.

Pernah mendengar hadist qudsi yang berbunyi, ”Aku adalah sebagaimana sangkaan umatku”? Kalau kita selalu negative thinking dan menyambut hari dengan penuh skeptis (atau bahkan apatis) tentunya keterpurukan ini akan terus menjerumuskan kita. Tapi sebaliknya, kalau kita bisa senantiasa positive thinking dan menyambut hari dengan optimisme serta rasa percaya diri, masa depan negeri ini pastinya akan jauh lebih baik dari hari ini.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. oNe

    mas …kmrn2 aku nggak bisa buka blogmu..eehh..ternyata skrg jadi wajah baru, berubah!! senangnya… :smile: mana ada lucu2annya gini..hehe..nggak nyambung ya ama tulisan di atas? yo ben lah..

    amin2..aku slalu optimis kok akan keadaan ekonomi bangsa kita walopun banyak org2 LN selalu pesimis ttg kita, terutama stlh asian crisis.. but i’m still proud of my own country.. :cool:

  2. Nofie

    Kemarin memang server sedang down. Ada maintenance di data center. Maapkan. :oops:

Looking forward to hear your thoughts.