Roy Suryo vs. Herman Saksono, Akhirnya
December 16th, 2005 | NewsBerani bertaruh, lebih dari 60% blog di Indonesia saat ini sedang dipenuhi dengan pembahasan tentang Roy Suryo, terutama setelah kasus yang menjerat Herman Saksono. Sebenarnya saya malas betul menulis dan mengangkat topik “remeh” seperti ini. Tapi, kali ini saya buat pengecualian dengan harapan bisa memberikan perspektif yang berbeda (walau belum tentu berarti lebih benar) tanpa bermaksud mengarahkan pendapat, menyalahkan dan menuding pihak tertentu, atau malah menjerumuskan.
Sepanjang yang saya tahu, baik Herman Saksono dan Roy Suryo adalah alumni SMA 3 Padmanaba Yogyakarta, salah satu SMU favorit di kota Jogja yang juga menjadi almamater saya. Dan mengingat masa-masa sekolah dulu, saya teringat ketika mengobrol ringan dengan salah satu guru di sela-sela pelajaran. Namanya Bapak Tumingan, guru Bahasa Indonesia, yang waktu itu bercerita bahwa Roy Suryo adalah salah satu anak didiknya. Bapak Tumingan sendiri bercerita bahwa Roy Suryo termasuk anak yang aktif dan selalu duduk di barisan belakang (baca: ramai). Dalam obrolan itu, ia juga sempat menyebut salah seorang model/artis sinetron yang juga alumni sekolah yang sama tetapi kini beralih terjun di dunia bisnis.
Secara pribadi, saya tidak kenal dekat dengan Roy Suryo. Sementara Herman, yang saya tahu, adalah tipikal anak muda yang sebetulnya biasa-biasa saja. Kadang usil, suka banyol, dan sedikit iseng khas anak muda. Jadi ketika Herman membuat manipulasi foto tersebut, sebetulnya ia juga tidak bisa disalahkan banget. Saya tahu pasti bahwa pastinya tidak ada motif politis apalagi dengan tujuan menjelekkan presiden ketika ia melakukan keisengan itu.
Kembali ke Roy Suryo, dilihat dari silsilah keluarga, Roy Suryo (kalau tidak salah) adalah putra dari Suryokusumo. Jadi, Roy Suryo ini sebetulnya mempunyai darah ningrat dari keluarga Pakualaman, walaupun dalam pemerintahan, Kasultanan Ngayogyokarto Hadinignrat lebih diakui (lebih tinggi) daripada Pakualaman. Di kalangan praktisi di Yogyakarta, nama Roy Suryo sebetulnya tidaklah terlalu hebat. Seorang pengusaha yang bergerak di bidang IT yang saya kenal betul pernah bercerita tentang personality dan kapasitas seorang Roy Suryo yang sebenarnya. Di kalangan UGM, nama Roy Suryo juga segendang sepenarian. Dan dari sumber lain, saya juga mendengar bahwa Roy Suryo ini “ngetop kendati tidak benar-benar top”.
Perihal kemunculan Roy Suryo dalam skala nasional, sepanjang pengetahuan saya, dimulai ketika beliau mengklaim dan membenarkan tentang rekaman suara pembicaraan antara BJ Habibie dan Andi M Galib lengkap dengan analisis dan argumentasinya. Disusul kemudian ketika kasus Sukma Ayu (alm) dan B’jah merebak. Kemudian juga kritiknya terhadap sistem IT Pemilu yang menurut beliau bisa dipenuhi hanya dengan Excel saja. Namun sebelumnya, Roy Suryo juga sudah cukup aktif menulis di harian lokal, Kedaulatan Rakyat. Topik yang diangkat memang isu-isu yang populer, tetapi analisisnya kalau boleh saya bilang (maaf) agak dangkal.
Saat sekarang, kemunculan beliau di Kedaulatan Rakyat agak jarang (apakah karena kini beliau sudah masuk lingkaran politik?). Kolom di harian tersebut lebih banyak diisi oleh orang-orang seperti Bakdi Soemanto (Guru Besar FIB UGM), Edy Suandi Hamid (Guru Besar FE UII), H Supardi (FE UII), Fahmi Radhy dan Mudrajad Kuncoro (FE UGM), M Suyanto (Amikom), Heriadi Willy (pakar hukum dan LSM), Sri Sultan Hamengku Buwono X (Gubernur DI Yogyakarta), Herry Zudianto (Walikota Kota Yogyakarta), Prof T. Jacob, Darmanto Jatman, dan Abdullah Gymnastiar (tiga yang saya sebut terakhir biasanya menulis dan mengisi niche yang berbeda). Terakhir kali saya melihat tulisan beliau, ada di kolom pikiran pembaca yang memberitakan tentang laptopnya yang hilang. Namun beberapa waktu kemudian beliau menulis lagi bahwa dengan “teknologinya” laptop tersebut akhirnya kembali.
Kemudian, mengenai status kepakaran beliau, yang oleh banyak pihak dipertanyakan, sebetulnya tidak bisa terlalu disalahkan juga. Walau memang terdengar agak aneh ketika seorang pakar multimedia berasal dari latar belakang pendidikan Fisipol, bukannya Engineering atau Computer Science yang lebih dekat korelasinya.
Di dunia akademis, status kepakaran seseorang mempunyai tolok ukur yang jelas. Misalnya, berapa banyak jurnal ilmiah yang pernah ditulis, berapa kali berpartisipasi dalam seminar atau conference internasional, berapa riset yang pernah dilakukan, berapa banyak jam mengajar (kalau berstatus dosen), berapa buku yang pernah ditulis atau publikasi dalam bentuk lainnya, dan seterusnya. Dan semua itu biasanya dipaparkan (disclose) secara terbuka. Jadi, ketika kita mendengar bahwa si Fulan disebut sebagai pakar dalam bidang tertentu, kita bisa tahu bahwa status kepakaran si Fulan tersebut diperoleh karena ia telah berprestasi dalam bidang tertentu, menulis beberapa publikasi ilmiah dalam topik terkait, aktif dalam seminar internasional selama beberapa kali, menulis dan menerbitkan beberapa judul buku, dan seterusnya.
Jadi, kembali ke status kepakaran seorang Roy Suryo, saya memilih untuk tidak berkomentar. Mengingat saya sudah mencoba melakukan search dan seterusnya tetapi tidak menemukan informasi yang cukup valid mengenai prestasi beliau, apa yang pernah beliau lakukan, dan seterusnya yang bisa membuat beliau disebut sebagai seorang pakar. Atau barangkali di bidang multimedia status kepakaran seseorang dinilai oleh kriteria yang lain?
Lalu mengenai komentar atau pernyataan Roy Suryo yang dinilai sering ngaco dan hanya mengundang sensasi, jujur saja saya juga tidak bisa banyak berkomentar mengingat saya tidak punya latar belakang di bidang tersebut secara mendalam. Akan tetapi, dilihat secara sepintas, terkadang memang saya merasakan bahwa statement beliau terdengar (maaf) agak tendensius dan argumentatif. Barangkali atas dasar itulah kemudian banyak pihak menyebut bahwa Roy Suryo hanya mencari sensasi.
Akan tetapi, terhadap statement beliau yang demikian itu, saya rasa kita tidak perlu menanggapinya secara berlebihan. Memang benar ketika kita melihat ketidakbenaran, seharusnya kita tergerak untuk meluruskan. Tapi jujur saja, akuilah bahwa di dalam diri kita ini sebetulnya juga tersimpan ego (dan mungkin ” envy”) karena orang yang kapasitasnya mungkin tak seberapa tetapi mendapatkan pengakuan yang berlebih.
Saya pikir tidak ada yang perlu ditakutkan. Jangan menganggap bahwa masyarakat awam itu bodoh. Saya percaya akan wisdom of crowds. Cepat atau lambat, masyarakat sendiri yang akan menilai kapasitas beliau yang sebenarnya. Jika memang beliau orang yang mempunyai kapasitas, pastinya pengakuan dari masyarakat akan datang menghampiri. Tetapi jika tidak, toh sensasi yang beliau ciptakan pastinya akan menguap dan dilupakan begitu saja.
Kalau boleh saya menghimbau, terutama buat rekan-rekan yang sering menulis tentang Roy Suryo, lebih baik sejak sekarang kita hentikan saja membahas atau mengkritisi seorang Roy Suryo. Saya merasa bahwa tindakan tersebut lebih banyak ketidakmanfaatannya dan mungkin akan berujung pada kebencian yang membabi buta. Selain hanya akan menaikkan popularitas beliau, kita semua secara tidak sadar akan masuk ke dalam permainan yang beliau ciptakan.
Maaf, sekali lagi saya tidak bermaksud membela atau menyalahkan siapapun. Tapi percayalah bahwa sesungguhnya masih banyak permasalahan besar lainnya yang perlu kita hadapi dan atasi bersama. Negeri ini tidak membutuhkan orang-orang yang hanya bisa mengkritik, berkoar-koar, tanpa memberikan sesuatu yang konkrit dan berarti bagi pembangunan negeri ini. Nggak usah lah kita mengacu terlalu jauh ke Linus Torvalds, Richard Stallman, atau Andrew Tanenbaum. Kenapa kita tidak coba meniru Onno W Purbo misalnya, yang menggagaskan VOIP Merdeka agar internet bisa lebih terjangkau? Atau upaya lain yang lebih bisa dirasakan manfaatnya daripada sekedar mempermasalahkan seorang Roy Suryo?
Last but not least, mungkin kutipan di bawah ini bisa menjadi penutup dari posting ini:
Jadilah Engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
- Q.S. Al A’raf 199
Mudah-mudahan ini terakhir kalinya saya menulis tentang Roy Suryo. Mohon maaf bila ada tutur tulis yang salah atau kurang menyenangkan. Enough said.



July 1st, 2006 at 8:20 pm
Comments
December 17th, 2005 at 2:48 pm
Ah! Saya dibilang remeh :P
Tau nih, kalau besok reuni akbar SMA 3 ketemu sama si dia, apa kami nggak catfight di kolam kodok.
December 18th, 2005 at 3:35 pm
Ditunggu deh catfight-nya :mrgreen:
December 18th, 2005 at 7:42 pm
hehe reuni deh :p
December 18th, 2005 at 10:26 pm
Akhirnya! Ngebaca juga blog yang mengangkat tema ini bukan dari sisi yang penuh kemarahan yang kalo dibaca, isinya bego banget. Kudos to you ;)
December 19th, 2005 at 12:57 pm
tul!
*ngomen paragrap ke 4 dari bawah baris terakhir
January 1st, 2006 at 9:47 am
Ehm……
Topik ” halus ” dan netral…
Sebagai masyarakat “awam” tentang teknology…
Tentu sudah bisa ” merasakan ” ( TIDAK PERLU DIPIKIR :roll:)beliau ini pantas atau tidak sebagai ” pakar “….
Orang pintar akan ” terkenal ” atau ingin terkenal atau ingin mengkomersilkan diri…
Tapi orang yang sangat pintar belum tentu terkenal malah memilih untuk tidak terkenal….
Toh …kenyataaanya…
Banyak kok pakar dan praktisi internet yang sangat hebat di Indonesia…
Entah datang dengan background IT atau bukan…
Btw…
Roy suryo itu siapa sih ? :mrgreen:
Nama bintang film yah ? :grin:
Seperti yang sering suka muncul di infotaiment…:grin:
January 2nd, 2006 at 5:20 pm
:neutral::mrgreen::oops::roll::wink::cry::eek::lol::mad::grin::???::smile::shock::neutral::mrgreen:
January 2nd, 2006 at 5:22 pm
hm…. mungkin saya perlu belajar banyak, saya memilih diam
:neutral::mrgreen::oops::roll::wink::cry::eek::lol::mad::grin::???::smile::shock::neutral::mrgreen:
January 2nd, 2006 at 5:23 pm
apa mungkin saya kebanyakan minum tolak angin ya sehingga dianggap orang pintar?? :oops:
January 5th, 2006 at 10:17 am
Hmm… Setahu saya yang betul itu KRMT (Kanjeng Raden Mas Tumenggung) bukan KRTM. Dan email beliau tidak seperti email yang Anda masukkan. :D
January 7th, 2006 at 11:05 am
Eniwei, Heriadi Willy SH itu ada yg. tau gak no.HP-nya ato alamat kantornya. Aku temen lamanya.
January 14th, 2006 at 12:58 pm
Apa sih yang diomongin sekarang ?
September 22nd, 2006 at 8:29 pm
roy who ?????????????????:mrgreen::mrgreen::mrgreen:
October 26th, 2006 at 11:14 am
Roy Suryo, seangkatan dengan saya di SMA 3 YK, pernah jadi ketua Osis.
November 14th, 2006 at 9:50 pm
wah, thanks ya mas KRTM Roy Suryo atas komentarnya (KRTM sejenis ATM ya mas :) ), saya terpingkal2 ketawa-ketiwi sendirian di depan compie :D
February 13th, 2007 at 3:24 pm
well, latar belakang roy suryo memang bukan dari IT.. dan IT mungkin hanya sebagai hobi saja (mungkin blm banyak yg tahu kalo roy dr muda dulu memang hobinya ngutak-ngatik barang2 elektronika, dan biasanya orang yang banyak bermain di elektronika tentu saja paham teorinya, meski dia bukan orang elektro). Dan tentu saja setelah itu roy mungkin mengembangkan hobinya dr eletronika ke softwarenya. Kalaupun kemudian roy memutuskan kuliah di Fisipol sepertinya bukan menjadi masalah, seperti halnya saya yang background accounting tetapi belajar juga System database, sistem informasi.. dll, dan sekarang sialnya malah terjebur di IT..meski masih bersinggungan dengan accounting. Jadi sepertinya sangat wajar kalau roy sekarang banyak bicara IT karena IT tidak murni hanya tentang teknik, tetapi ada informasi-nya.. dan roy secara kebetulan berada di area tersebut. Seharusnya kita mempunyai pandangan yang sama dengan pak Onno yang murni dr teknik, sah sah saja karena banyak praktek di IT kemudian dikenal sebagai pakar IT, tetapi belum tentu menguasai informasinya..tetapi hanya media yang digunakan untuk kepentingan informasi tersebut. Dan roy suryo kebalikannya bukan?… same thing…, tidak usah diributkan mana yang pakar dan mana yang bukan atau cuma omongan doang.
kalau kemudian roy suryo lebih terkenal ya jangan su’udzon…, lha wong dia orang informasi je…:D..tentu pandai bermain di “informasi”.
March 24th, 2007 at 8:05 pm
banyak kelebihan yg diberikan oleh Yg Maha Kuasa kepada saudara kita yg satu ini… mudah2an membuat beliau semakin bijak dan pintar bersyukur… kalau sekarang belum berarti beliau sedang belajar secara serius untuk mencapainya…
April 19th, 2007 at 5:20 pm
KRMT palsu…. D:
April 24th, 2007 at 2:27 pm
hehe…baru nemu diskusi ini pas searching tentang batik…
setuju ma yudi…masalah background pendidikan formal bukan otomatis membuat orang itu pakar dibidang itu…tnpa jalur formalpun banyak yang bisa jadi pakar…let’s say mbah agus salim sebagai seorang diplomat dan negosiator hebat. ato banyak temenku ngerti teknis dan fundamental ke IT-an yang bahkan jebolan FH. bahkan seorang yang gak tamat SD pun yang aku kenal juga telah dipercaya sebagai ahli dibidang elektronika dan IT/comunication.so…???gak maksud membela cuma untuk semakin mengguatkan argument tulisan di atas..
setuju juga dan sangat percaya klo wisdom of crowd akan memberikan bukti…hehehe…
May 7th, 2007 at 6:26 pm
Roy Suryo?
PAKAR ndeso….kartrock!
Stop mbahas wong edan ini….
September 23rd, 2007 at 3:27 pm
Roy suryo dengan kumisnya yang asoy bisa mengundang milyaran rupiah di acara gosip & infotainment… jadi memang ’somebody’, sorry ya kejelian orang menemukan peluang memang beda-beda.. :)
October 26th, 2007 at 1:09 pm
TuH oRaNG eMaNG TeBeL KuMiS DaRiPaDa iLMu
December 4th, 2007 at 8:48 am
lagi googling ‘boediono’, eh nyambung kesini. ada kata ‘roy suryo’, baca krn pengen tau ada komen apa [ada yang barukah?] soalnya kemaren malem depan kantor liat roy suryo. yang keinget liat beliau [betul gak sih?], komen2 di blog enda :p
March 30th, 2008 at 5:14 am
Raden Panjenengan Roy Suryo Tutwurihandayani seng dodone putih. Wkwkwkwkwkwkwkwkkkk…
Kowe iki mesti lengser dari singasana pakar telekmatika. Pakar opo??? Pakar UNTUMU pakar. Indonesia punya pakar tekematika macem gini yang akan menimbulkan GLOBAL WARMING dunia ber bloggan. Goblok. GLOBAL WARMING IS COOL. That studpid doing f@#%ing $h!t.
April 5th, 2008 at 2:42 pm
heran d liad mas roy ini ??
pak Onno W. Purbo aj yang dah ilmu se tinggi langit ndak banyak omong..
nah ini orang, baru bisa sotosop dikid gaya nya dah ketinggian!
hahahahahaha~
April 16th, 2008 at 11:09 pm
yah itulah orang kita nih kebanyakan suka ngikut2 or nimbrung tea. kalo kta sendiri blm tau kemampuan yang dimiliki bung Roy ya gak usah ikut komentar. kecuali kita sudah tau persis kemampuannya boleh lah kita kasih komentar. Tapi seandainya dia memang pakar. apa harus background pendidikannya dari bidang IT ? blm tentu juga kan yang lulusan IT bisa ahli dibidang IT. bisa saja tukang becak tapi dia ahli dibidang IT. Jadi jangan pada latah ikutan komentar deh kl gak tau.