Singapura dan Kita
December 20th, 2005 | BusinessSingapore Airlines (SIA) adalah BUMN besar pertama yang didirikan oleh pemerintah Singapura. Waktu itu, banyak ahli dunia merasa heran karena negara pulau yang hanya tampak sebagai titik di peta dunia itu berani membuat airlines berskala internasional. Pemimpin Singapura kala itu, Harry Lee (Lee Kuan Yew) sendiri yang menyetujui business plan tersebut. Plus, ia juga memperingatkan agar SIA dikelola secara bisnis dan harus menguntungkan. Karena jika tidak, Lee tidak akan ragu-ragu untuk menutupnya.
Pemimpin negara sekelas Harry Lee memang visioner. Singapura dulu sempat kelimpungan ketika mereka baru saja meraih kemerdekaannya. Tentara Inggris yang jumlahnya mencapai 50 ribu orang dipulangkan dan pangkalan perang yang ada segera ditutup. Praktis industri dan lapangan kerja anjlok karena pemberi kerja utama mereka (baca: Inggris) hengkang secara tiba-tiba. Tapi tak berlangsung lama, Lee segera memutuskan untuk mendirikan perusahaan-perusahaan milik pemerintah. Pegawai negeri dan pejabat yang dinilai cakap disekolahkan bisnis dan diminta untuk membuat rencana kerja. Salah satu produknya adalah Singapore Airlines seperti ditulis di atas.
Produk lain yang tidak kalah excellent adalah Port Singapore Authority (PSA), pelabuhan terbesar yang dimiliki dunia. PSA dimiliki 100% oleh pemerintah Singapura. Selain dikelola secara serba computerized, dengan operasional yang sangat efisien, PSA menguasai tidak kurang dari 1/3 bisnis angkatan laut dunia. Di buku-buku anak sekolah, Indonesia ditulis sebagai negara nusantara, dengan seribu pulau dan kepulauan, serta memiliki letak strategis di antara dua benua dan dua samudera. Seharusnya, Indonesia bisa memiliki pelabuhan kelas internasional yang tidak kalah hebatnya dibandingkan PSA.
Sampai saat ini, sekitar 60% bisnis di Singapura masih dimiliki pemerintah. Kendati demikian -berbeda dengan di Indonesia dimana BUMN adalah sapi perah dan ladang korupsi- BUMN-BUMN milik Singapura dikelola benar-benar sebagai bisnis yang profesional dan berorientasi profit. Sementara di Indonesia, kinerja BUMNnya benar-benar payah. Menurut data yang saya punya, tingkat ROI agregat seluruh BUMN tidak lebih dari 4%. Dengan asumsi tingkat inflasi rata-rata sebesar 8%, BUMN adalah wealth-destroying institutions. BUMN di Indonesia tidak bisa melipatgandakan kekayaan (wealth multiplying), melainkan justru menghambur-hamburkan kekayaan negara.
Soal sistem dan mismanajemen pemerintah memang perlu dipertanyakan. Tetapi saya lebih suka mengkritisi diri kita sendiri. Jujur saja, kita masih terbiasa hidup dengan iklim feodal seperti (maaf) kurang berani dalam mengambil risiko, hanya bisa diperintah tanpa mau berinisiatif memimpin, sangat menyukai kemapanan dan status quo, kurang mampu bersikap profesional, cenderung mencari shortcuts untuk keuntungan jangka pendek, serta jarang berfikir dan bertindak secara strategis yang berorientasi jangka panjang.
Perbaikan memang harus dilakukan secara bottom-up. Dan itu semua harus dimulai dari diri kita sendiri. Iya kan?



July 12th, 2007 at 12:04 pm
October 21st, 2007 at 6:12 pm
November 23rd, 2007 at 8:52 am
Comments
July 15th, 2006 at 1:19 pm
negara perlu diatur oleh seorang tekhnokrat yg amat sangat perhatian pada tekhnologi… Sebab keunggulan tekhnologi berarti juga keunggulan dibidang output produksi massal yg artinya kita mampu menciptakan, mengkreasikan dan membuat berbagai cara membikin mesin buat pabrik produksi… kalau kalah dalam hal cara berproduksi, maka akan kalah segalanya walau alam memberi kita segala bentuk anugerah bahan mentah..
yg kedua adalah ciptakan generasi pencipta dan penemu, bukan generasi duduk nongkrong depan meja belajar sambil terkantuk-kantuk mendengarkan ceramah gurunya yg membosankan… Ini kunci pembuka lainnya… sebuah bangsa ditentukan oleh ahli cipta, bukan ahli ilmu pengetahuan yg penuh otaknya oleh angka-angka, data dan hafalan-hafalan …. jadi yg menentukan bukanlah seberapa banyaknya informasi yg ada dikepala, tetapi seberapa kreatif inovatifnya bangsa itu terhadap berbagai bahan materi alam…
Yg berikutnya adalah negara perlu melakukan kontrol atas pasar, atau sebaliknya pasar dgn para kapitalis yg akan mengontrol negara berikut orang-orangnya…
Dan yg perlu diperhatikan adalah gimana caranya agar negara dgn aparatur terutama departemen pendidikan, kementrian riset dll menggalakkan secara besar-besaran dan kontinue berbagai sayembara, kompetisi, perlombaan, kejuaraan yg ada hubungannya dgn penciptaan kreatif inovatif, bukan lagi perlombaan cerdas cermat yg cuman bisa menciptakan manusia tukang-tukang kertas dan tukang-tukang hafal huruf-huruf tok…
May 21st, 2007 at 8:54 pm
Kita perlu pemimpin yang …tidak hanya bermodal massaa tapi juga punya otak
July 27th, 2007 at 4:27 pm
gw dipastikan akan menjadi pegawai BUMN abis lulus kul, bukannya senang tapi grogi..
sereeeemmmmmm
July 27th, 2007 at 4:28 pm
plis deh