Tantangan untuk Helmi Yahya
January 19th, 2006 | PoliticsTerkadang, saya sering ingin menitikkan air mata melihat ibu pertiwi ini “diperkosa” melalui penggarongan bertajuk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan secara berjamaah. Di satu sisi, melihat para aktor di balik tindakan tersebut, saya sepenuhnya sadar bahwa mereka adalah manusia yang perlu “dimanusiakan” juga. Tapi melihat betapa banyak dana yang dicuri –yang sedianya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat- lagi-lagi membuat saya semakin pengen menangis.
Akhirnya, di tengah perasaan hopeless ini, saya mencoba menaruh harapan kepada para jurnalis, editor, atau apapun itu, untuk mengangkat fenomena ini ke permukaan. Harapan saya banyak ditujukan pada presdir PT Triwarsana, Helmi Yahya, seorang raja kuis dan raja reality show yang juga sering disebut sebagai Mark Burnett-nya Indonesia. Idenya tentu saja mengangkat fenomena tersebut dan mengemasnya sebagai komoditi yang layak jual di televisi. Apalagi, setelah tren ajang pencarian bakat (idol), game show, ataupun dunia gaib mulai mereda, reality show masih bisa menjadi primadona di banyak stasiun televisi, di samping light entertainment.
Ide ini memang relatif baru di Indonesia. Jujur saja, memang belum banyak media (terutama televisi) yang berani mengangkatnya ke publik. Saya mengamati, konsep yang agak mirip mungkin baru dimiliki “Republik BBM” yang ditayangkan di Indosiar. Kendati demikian, ide ini juga tidak benar-benar baru. Di India, misalnya, dua stasiun televisi swasta bernama Aaj Tak dan Star News menggelar reality show yang membongkar tindak korupsi tersebut melalui operasi penyamaran yang sederhana.
Aaj News misalnya, mengirim anggotanya untuk menyamar sebagai seorang eksekutif dan mendekati anggota parlemen yang kredibilitasnya diragukan. Dengan mengaku sebagai wakil dari asosiasi perusahaan, mereka titip pertanyaan ke ruang sidang dengan biaya paling murah sebesar US$ 200. Tentu saja aksi ini, termasuk detil transaksi, direkam oleh kamera tersembunyi. Gatra menulis, melalui aksi yang disebut sebagai Operation Duryodhana tersebut, Aaj News berhasil menjebak 11 anggota parlemen, yang kemudian langsung diberhentikan dari jabatannya.
Sementara itu, Star News melakukan cara yang relatif serupa dengan menjebak anggota parlemen yang meminta imbalan US$ 445.000 per tahun untuk mendapatkan kucuran dana bagi daerah perwakilan mereka. Dari operasi berkode Operation Chakravyuv ini, Star News berhasuk menjebak 7 orang anggota parlemen. Ketujuh anggota tersebut langsung diproses untuk diperiksa kasusnya oleh parlemen.
Tentu saja reality show tersebut cukup memberi “hiburan” bagi para pemirsanya. Selain membongkar keburukan mereka kepada publik, respon para anggota parlemen yang terciduk juga memberikan kelucuan tersendiri. Misalnya, ada yang semula menolak dan berkata, “ini tidak perlu,” tetapi kemudian menerima juga sogokan yang diberikan. Ada pula yang curiga langsung memeriksa tas para jurnalis dan lega setelah tidak menemukan perekam (perekam tersebut berupa pulpen yang disematkan di pakaian yang dikenakan, red). Terakhir, ada yang tersenyum lebar menyambut sogokan dan berujar, “semoga ini tidak direkam.”
Bicara soal peluang bisnis, tentu saja ide sangat prospektif. Stasiun televisi akan banyak berebut untuk menayangkannya. Sementara para pemasang iklan pastinya rela mengantri untuk mendapatkan jatah slot. Jadi soal hitung-hitungan bisnis, BEP, ROI, dan seterusnya, dijamin profitable dan feasible. Dan sepanjang yang saya tahu, mungkin tidak ada kode etik jurnalisme yang dilanggar dari konsep semacam ini.
Sementara dari sisi politis, setidaknya acara ini bisa sedikit memberikan shock therapy yang cukup lumayan. Bayangkan, betapa malunya seorang pejabat yang perilaku buruknya ditelanjangi di depan publik. Jangankan di depan publik, di depan anak dan istri pun malunya sudah luar biasa. Dengan demikian, efek shock therapynya bisa terasa.
Jadi, beranikah Helmi Yahya? ;)



Comments
January 22nd, 2006 at 11:21 am
berani :))
January 23rd, 2006 at 8:38 pm
saya juga adalah penggemar koleksi buku kuno, ket lbh lanjut bs hub saya
February 3rd, 2006 at 5:06 pm
ayo mas helmi..
panen panen..
March 7th, 2006 at 3:00 pm
ide yang bagus. untuk menekan tindak pindana korupsi. rakyat lapar…
March 14th, 2006 at 7:39 pm
Cari backing dulu buat mas Helmi. Cari FPI aja. Polisi kan takut sama FPI :mrgreen:
March 15th, 2006 at 2:28 pm
saya sangat salut dengan helmi karena dia bisa mengnyembunyikan masalah tanpa diketahuioleh orang lain
March 22nd, 2006 at 8:04 pm
saya juga adalah penggemar koleksi buku kuno:mrgreen::mrgreen:
March 24th, 2006 at 11:58 am
“Jangankan di depan publik, di depan anak dan istri pun malunya sudah luar biasa. Dengan demikian, efek shock therapynya bisa terasa.”
hmm… di depan anak dan istri..? bukannya kadang kadang mereka yg menyebabkan seseorang berkorupsi..?
yaa semoga media televisi di Indonesia bisa melakukan hal serupa, bukan hanya sinetron yg tidak berkualitas dan tidak memberi pendidikan sama sekali…semoga.
June 4th, 2006 at 1:34 pm
ayo mas helmi…saya dukung . saya juga penggemar berat mas helmi.kalao saya boleh berkomentar, mas helmi adalah orang yang langka yang dimiliki indonesia yang saya rasa dalam membuat sebuah ide acara, bukan materi yang menjadi tujuan utama, tapi sense of humanity yang menjadi pegangan utamanya. dan kita bisa lihat sendiri acara yang dimotori oleh dia semua sukses habis…saya sangat bangga dengan mas helmy, kalo mas helmy rasa ini bisa berhasil jalankan saja..jangan lupa sensenya ya…itu sentuhannya mas helmy lho…ciayau…tetap bersemangat…
March 11th, 2008 at 11:29 am
Aku Ngga mau bilang berani / tidak, tapi setidaknya kita bisa berbuat sesuatu / action (walaupun sedikit/kecil) untuk bangsa ini, dilihat dari visi dan misinya mungkin juga bisa memberikan shock therapy untuk para kera putih / para tikus kantor, jadi klo memang niatnya baik tentu aku dukung & kutunggu mas untuk perbaikan mental para oknum Pejabat di negeri ini
March 26th, 2008 at 8:21 am
ayo bang helmy…sambut tantangan ini..jgn cuma cari profit dan cari aman saja….
ato memang tdk berani karena bagaimanapun helmy bekas seorang birokrat (dosen di STAN)…..