Konfrontasi Indonesia-Australia

March 29th, 2006 | Politics

Demonstrasi di Australia untuk mendukung Kemerdekaan Indonesia pada Tahun 1945

They call Australia “the lucky country“. Never have I travelled somewhere where the people are so generous, easygoing, and happy. “No worries, mate” is the clichГ© expression all over Australia but it carries real meaning.

Some quick first impressions. Australia is more like the US than any place I’ve travelled, including Canada. Only more American than the US; less crowded, bigger city sprawls, more informality. It’s a very prosperous place, beautiful and comfortable. And it’s not all flat and hot; I never saw desert, just lots of rainforests.

Melbourne was my favourite city, comfortable and cosmopolitan with a European street cafe culture. Sydney is beautiful but so much like San Francisco we felt like we hadn’t left home! Tasmania is amazingly wild and wonderful and the countryside in Victoria is charming with lots of great 19th century history apparent.

Berkaca sedikit ke belakang, dimana Australia mendukung perjuangan kita sejak 1945, hingga sekarang membantu kita melalui restrukturisasi Aceh pasca Tsunami, pemberian bantuan beasiswa, hubungan perdagangan, dan seterusnya, masa sih, kita bener-bener mau putus hubungan dengan Aussie?

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. alex

    kalo aku coba untuk objektif ajalah. australia memang sering keterlaluan baik dari segi omongan, sikap maupun tindakan yang diambil. seperti memberikan suaka, memang itu hak mereka. tapi kok alu menilai ada usaha mancing-mancing di air keruh.
    artinya gini; dapat kakap syukur, ndak dapat juga udah kehibur dengan dagelannya.

    tapi aku juga liat, benar kata australian people, bahwa Indonesian government terlalu emosionil. emosi lebih sering diletakkan di atas penalaran. logikanya kan simpel aja, kalo memang ada yang minta suaka dan merasa ndak aman di nusantara ini, berarti mereka unah nentukan sikap bahwa mereka nggak betah tinggal di sini. ya ngapain di ributin? masalah harga diri? halahhh… harga diri yang mana lagi yang cukup banyak tersisa utk dipertaruhkan?

    note: bantuan mereka, australia, bukan berarti menjadikan mereka boleh untuk melanggar batas2 etika bernegara loh :)

  2. Luigi

    Hm..kalau urusan yang satu ini memang pelik… semuanya tergantung dari niat.itikad baik sang pemimpin negara tetangga tsb dan agenda poltiknya..

    Indonesia , sebagai tetangga, negara berdaulat dan bangsa yang mempunyai harga diri, seyogyanya juga bisa menangkal perlakuan bermuka dua dari Australia [dan negara "sahabat"lainya], dan pemberdayaan masyrakat Indonesia secara menyeluruh dapat membantu nation’s dignity building - jadi kita nggak merasa [terus] menjadi bangsa yang kerdil dan bisa dikerdilkan… termasuk itu urusan aceh, papua dan lainya..

    Inget, kita udah kelhilangan Timor Timur, dimana [Kita semua tau] nggak disangkal adalah “peranan’mereka juga ada dalam lepasnya Timtim, dan salah-urusnya pemri (pemerintah Indonesia)..

    Ibarat skala kecil rumah tangga aja - kalau keluarga yang kuat dan bersatu, nggak mungkin tetangga jadi kurang ajar dan ikut campur masuk nyelonong sampai ke dapur segala.. :)

    Salam kenal dan salam hangat dari afrika barat… senengudah bisa mampir kesini dan mbaca tulisannya, it’s good to know that many young indonesians are now aware on the global arena and it’s risk/challenges :)

  3. miftah

    ini cuma test case aussie… tunggu aja nanti 2007 :twisted:
    2006…agak sepi.. karena ada piala dunia..

    waspada…waspadalah….:roll::shock:

  4. Tazlucu

    Mungkin “kebencian” ini lebih disebabkan oleh agenda australia sendiri. Mereka selalu berkata mendukung keutuhan RI tetapi memberikan angin kepada kelompok separatis. Sama ketika Aussie bilang begitu juga, tapi praktiknya mereka mendukung Timor-Timur merdeka.
    Dan mungkin sisi psikologis orang indonesia yang masih trauma atas kehilangan timor-timur.

  5. indonesia bangkit

    hayoo maju indonesiaku….
    jgnlah kau lemah terhadap bandit2 australia bermuka dua….
    sudah cukup tidurmu dewi pertiwi….
    bangun indonesia jaya…..

    nb: seandainya smagat nasionalis pejoang 45 tumbuh dikalangan rakyat indonesia, pasti bandit2 australia, singapur,malaysia, dll akan segan terhadap kita….

  6. Didiet

    kita jangan pernah melihat dari satu sisi saja, dalam artian bahwa kita hanya melihat segala sesuatu yang bangsa kita hadapi yang notabene bernuansa permusuhan, tetapi kebaikan2 apa yang dilakukan bangsa lain terhadap kita. saya pikir pandangan, sikap, dan tindakan negara lain yang bersifat negatif itu merupakan suatu cermin bagi negara kita untuk melihat kembali di mana letak kesalahan kita dan selanjutnya apa yang semestinya kita lakukan agar hubungan diplomatik dengan negara lainnya dapat berjalan lancar.

Looking forward to hear your thoughts.