Buruknya Soekarno-Hatta (dan Pariwisata Kita)

May 19th, 2006 | News

Sebelumnya, maaf kalau tulisan ini agak tidak seperti tulisan-tulisan saya lainnya. Dan, pembahasan ini juga mungkin bisa agak panjang dan lama. Jadi, silakan nikmati posisi duduk Anda. Ambil camilan atau minuman ringan. Bila perlu, merokok juga tidak dilarang. Lalu, bacalah posting berikut dengan seksama. :)

Selain TKI atau TKW yang pulang dari luar negeri, pelajar atau mahasiswa yang telah lama belajar di luar negeri dan kembali ke Indonesia juga tak luput dari “penjarahan” di bandara. Di beberapa mailing list, ramai dibicarakan kisah Monica yang mendapatkan perlakuan tidak sedap dari oknum aparat Bea Cukai di Bandara Soekarno-Hatta.

Terlepas dari oknum aparat yang cenderung oportunis, secara prosedural sebenarnya sudah diatur bahwa mereka yang telah lama berada di luar negeri dan hendak kembali ke Indonesia harus meminta formulir dari Konsulat Jenderal atau Kedutaan Indonesia di negara dimana mereka tinggal sebelumnya. Dalam formulir tersebut, kita harus menyebutkan semua barang yang hendak kita bawa –bekas ataupun baru- agar urusan dengan bea cukai lancar dan mudah. Resminya, tidak ada pungutan untuk formulir ini, tetapi mungkin tergantung juga dari lokasi kantor tersebut berada.

Subject: Penjarah di bandara Soekarno Hatta
Temen2 tolong di forward ya…

SAYA pulang dari luar negeri melalaui Bandara Soekarno-Hatta, setelah menyelesaikan pendidikan di sana. Tidak terpikir bahwa hari itu saya akan mendapat musibah disebabkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab.

Saya membawa uang dan sejumlah barang yang memang milik saya sewaktu berada di luar negeri selama beberapa tahun. Barang-barang tersebut adalah parfum dan kosmetik. Saya benar-benar tidak mengira barang yang saya bawa diincar oleh orang Bea Cukai Indonesia, dengan cara diberikan tanda warna biru pada bagasi saya.

Sesampainya di bagian scanning saya tidak menyangka bahwa saya harus berhadapan dengan orang-orang yang mau mencari keuntungan dari orang-orang yang baru pulang dari luar negeri. Keadaan saya waktu itu sangat letih dan lelah oleh karena panjangnya perjalanan.

Setelah barang-barang saya dibuka dan diperiksa, saya dibawa mereka ke dalam satu ruangan dekat scanning security. Ruangan itu ternyata tempat Bea Cukai. Disitu saya harus menunjukkan barang saya kepada mereka yang jumlahnya 10 orang. Saya yakin mereka itu bekerja sama untuk mencari untung dari orang yang baru pulang dari luar negeri.

Sewaktu saya berbicara, ada beberapa dari mereka yang secara sengaja mengobrak-abrik barang dalam koper saya tanpa seizin saya. Di ruangan itu saya dimintai uang senilai Rp 9 juta, saya telah menginformasikan bahwa barang-barang tersebut bukanlah barang yang baru saya beli, melainkan sudah dipakai selama bertahun-tahun dan saya sudah menjelaskan bahwa saya pulang untuk tinggal selamanya di Indonesia. Kejam sekali mereka memperlakukan saya, dengan meminta uang dan mereka pun meminta barang saya. Mereka berkata pada saya bahwa mereka meminta uang tersebut karena saya membawa barang lewat dari ketetapan, barang yang dibawa dari luar yaitu melaui dari 250 dolar AS. Tapi saya katakan barang bawaan tersebut bukan barang baru lagi.

Saat itu saya tidak membawa rupiah, dan mereka mengatakan mau bayar atau barang-barang saya ditahan.Lalu saya memberikan 50 dolar dan petugas yang bertanggung jawab di sana bernama DR mengatakan tidak. Saya menambah lagi 50 dolar sehingga menjadi 100 dolar. Dia kemudian meminta beberapa barang saya berupa parfum. Saya menunjukkan supaya dia bisa memilihnya, tidak disangka beberapa dari mereka berdatangan dari belakang saya. Penjarahan di depan mata saya tidak akan pernah saya lupakan. Mereka berkata “Buat saya mana” bersahutan dan mengambilnya.Saya benar-benar marah saat itu dan saya berkata “Tolong jangan diambil itu barang saya”. Walaupun Bapak DR salah satu dari mereka, tapi dia masih berusaha baik kepada saya dengan mengingatkan mereka agar barang yang tidak saya beri, mereka tidak boleh mengambil seenaknya. Setelah parfum dan uang saya diambilnya, saya diperbolehkan pergi. Di situ saya merasa, buat setiap orang yang baru saja datang ke Indonesia dari luar negeri, mereka sama sekali tidak diberikan sambutan yang welcome dari orang Indonesia. Saya orang Indonesia sendiri merasa tidak nyaman pulang ke negara sendiri. Hal ini membuat saya marah, sedih, dan trauma.

Boleh dikatakan saya tidak menyukai berada disini, tidak heran banyak dari mereka merasa nyaman berada di negeri orang. Karena ternyata di sini mereka merasa ditekan dengan banyak hal. Saya berharap pengalaman saya ini bisa menjadikan contoh buat kita semua, apa yang terjadi itu patut kita perbaiki bersama.

Monica
Jakarta

Oke. Mari kita bergerak pada sudut pandang yang lebih luas.

Problem kita sesungguhnya bukan semata-mata terletak pada Bandara Soekarno-Hatta atau pelayanan aparat-aparatnya. Problem yang harus kita atasi bersama adalah soal pariwisata.

Pariwisata adalah bisnis yang luar biasa besar dan melibatkan perputaran uang dalam skala yang masif. Sayangnya, bisnis ini relatif sulit untuk dimainkan. Maklum, pariwisata membutuhkan maintenance cost yang konstan. Begitu racun menggerogoti, belangnya akan tampak di muka. Kualitasnya pun akan langsung deteriorate.

Akibatnya, jelas: tidak banyak “pejabat” yang tertarik menanganinya. Padahal, selain menghasilkan banyak devisa, pariwisata juga memiliki multiplier effect yang luar biasa besarnya.

Sayangnya, seperti biasa, kita masih suka mengurusi dan merecoki hal-hal “remeh” seperti RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, kasus mantan Presiden Soeharto, Revisi UU Ketenagakerjaan, dan hal-hal sepele lainnya.

Beberapa Fakta Menarik

Mari kita tengok sejenak beberapa fakta berikut:

Anomali wisatawan manca negara. Kita punya Borobudur, yang merupakan salah satu keajaiban besar dunia. Lucunya, wisatawan lebih memilih plesir ke Wat Po, Wat Phra Kaew, Wat Arun, dan seterusnya. Padahal, selain harus bayar mahal, mereka masih disuruh (baca: dipaksa) nyeker ketika masuk ke ruangan tertentu. Dan percayalah, Thailand tidak ada apa-apanya dibandingkan Borobudur atau Prambanan.

Filipina jauh lebih kisruh daripada kita, tetapi jumlah wisatawannya terus bertumbuh. Selain suhu politik dan etnis yang cukup meresahkan, keamanan di Manila sesungguhnya cukup memprihatinkan. Kalau Anda jalan-jalan siang bolong di Makati City, atau Anda seorang businessman yang sedang berkunjung, bisa-bisa kena culik dan subject ke ransom tinggi yang dituntut penculik. Tapi wisatawan di Filipina juga tetap banyak.

Hampir setiap penjuru negeri ini bisa dijual. Selain Bali, sebutlah Jogja, Makassar, Lombok, Sumbawa, Pangandaran, Flores, dan seterusnya. Sayangnya, sebagian kelompok agama yang fanatis mengusung isu sweeping dan pembersihan massal untuk mengusir para turis yang sedianya akan singgah dan spending money di wilayah-wilayah tersebut.

Berapa banyak pejabat kita yang melakukan kunjungan ke luar negeri? Cukup banyak. Sayangnya, tidak banyak usaha mempromosikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata maupun investasi usaha di sektor riil. Sudah begitu banyak janji manis ditiupkan, tetapi tanpa perimbangan pada reformasi hukum dan birokrasi.

Untuk ukuran kota metropolitan, jumlah orang asing yang beredar di Jakarta sedikit. Jauh lebih sedikit daripada jumlah orang asing yang lalu-lalang di Singapore, Kuala Lumpur, Tokyo, atau kota besar di Asia lainnya. Bali hanya bisa menandingi pada waktu dan tempat tertentu.

Bandara adalah “wajah” negara. Banyak negara yang sadar bahwa bandara adalah “wajah” negara itu yang pertama kali menyapa para travellers. Sayangnya, “wajah” yang menyapa para travellers itu tidaklah secantik Dian Sastro atau setampan Tora Sudiro.

Lebih dari 20 tahun berdiri, Bandara Soekarno-Hatta masih gini-gini aja. Kalau Anda sering berlalu-lalang ke manca negara dan menapakkan kaki di bandara mereka, akan terasa “wow effect” yang luar biasa. Efek semacam itu nyaris tidak ada pengaruhnya di Bandara Soekarno-Hatta.

Cengkareng adalah bandara yang “hebat”. Selain minim tempat duduk dan fasilitas lainnya, begitu kita dapat tempat duduk, tetangga sebelah segera beringsut menawarkan parfum atau bolpen Montblanc. Di airport lain, mana boleh passenger dihampiri orang asing dan ditawari barang-barang jualan?

Bandara internasional harus buka 24 jam. Bandingkan dengan Changi, Don Muang, atau Sepang. Bandara yang bisa dikatakan benar-benar “internasional” baru Bandara Ngurah Rai. Coba Anda main-main ke Cengkareng jam 1 malam atau menjelang subuh.

Changi adalah bandara ternyaman di dunia, tapi minim kriminalitas. If someone gets lost in Changi, then the guy must be retarded. Singapura juga sangat bebas dan friendly, tetapi nyatanya sangat minim kejahatan. Singapura mungkin memiliki kasus penyalahgunaan visa (terutama soal pelacuran), tetapi mampu menanganinya secara bijaksana.

Amati appearance petugas/aparat kita. It was like entering a war zone, a military camp. We looked like criminals in their staring eyes, as if we have done something wrong. Terutama terhadap TKW (or someone wearing jilbab, for that matter), bisa jauh lebih mengancam. Plus, bahasa inggrisnya pun masih (maaf) kelas preman.

Ulah oknum taksi-taksi yang begajulan. Enough said. Cukup banyak cerita buruk tentang tindak pemerasan dan buruknya layanan transportasi satu ini. Disinyalir, aparat sekuriti di bandara juga terlibat dalam urusan satu ini.

Ini mungkin agak sedikit bergeser: Perampokan berjamaah di terminal TKI/TKW. Seperti sudah ditulis sebelumnya, terminal kedatangan seharusnya menyambut TKI/TKW layaknya pahlawan karena mendatangkan begitu banyak devisa. Sayanganya, yang terjadi justru pemerasan dari petugas imigrasi, handling bagasi yang kacau, serta oknum taksi gelap.

Tapi kan sudah ada VoA (Visa on Arrival)?

VoA itu adalah salah satu langkah awal yang maju. Sayangnya, VoA kini juga masih sering mengundang komplain. Selain antrian yang panjang, birokrasi kita terlalu kaku sehingga sering sulit membedakan antara wisatawan yang prospektif dengan oknum ekspatriat yang mencari kerja tanpa menyetor pajak.

Thailand, yang cukup rese terhadap imigrasi, sudah berbenah diri sejak beberapa tahun lalu. Mereka menerapkan visa kunjungan, VoA, lengkap dengan penambahan petugas, sistem antrian yang baik, dan bebas calo.

Di Indonesia, VoA seolah dipompa habis-habisan tetapi tidak ada usaha untuk menetralisir dampak negatif dari VoA tersebut. Kenyamanan (welcome feeling) nyaris tidak ada. Begitu turis tiba, mereka dihadapkan dengan kesulitan antri dan pembayaran VoA. Belum lagi soal calo dan mafia taksi yang luar biasa hebatnya.

Mau dikemanakan negeri ini?

Saran Saya

Lalu, bagaimana solusinya? Berikut beberapa suggestions yang saya ajukan. Semoga ada pihak berwenang yang sempat membacanya. :)

Bandara: Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Bayangkan diri Anda seorang Eropa yang hidup beberapa abad lalu. Kapal Anda bersandar di Onruust “internasional”. Anda tiba di Batavia, Queen of the Dutch-Indie, The Jewel of the East. Bisa Anda bayangkan sensasi apa yang Anda rasakan? “Wow effect” semacam itulah yang seharusnya kini bisa diciptakan untuk menarik para wisatawan.

Redesain airport agar optimal terhadap offerings pariwisata kita. Apa sih yang sebetulnya kita jual? Hutan tropis? Keindahan dasar laut? Wisata Budaya? Sudah seharusnya alam pikiran para wisatawan itu kita sergap dan kita hipnotis sedemikian rupa. Bayangkan sebuah arrival hall yang didesain ala botanical garden yang hijau dan sejuk. Bayangkan ruang boarding dengan layar lebar menayangkan video Bunaken atau Lombok secara real-time dan real-live.

Adanya pemisahan fungsi yang jelas. Aparat imigrasi, petugas keamanan, atau pelayanan bandara harus dipisahkan secara jelas. Fungsi law-enforcement harus dijalankan secara formal sesuai prosedur. Sementara fungsi pelayanan bisa lebih less-formal, tetapi lebih berorientasi pada customer. Fungsi law-enforcement tetap ditangani oleh pemerintah sebagai regulator, sementara sisi pelayanan bisa diswastakan dengan prioritas dijual pada swasta nasional.

Bila perlu, pekerjakan professional di Bandara Soekarno-Hatta. Akan tetapi, ketika profit mulai muncul, lindungi mereka supaya tidak direcoki pemerintah daerah (Tangerang) atau pemerintah pusat yang meminta jatah. Pun dari oknum-oknum yang mengusung slogan “putra daerah” dan sejenisnya.

Perhatikan kesejahteraan pegawai-pegawai kecil kita. Asumsinya, ketika mereka tidak lagi terlalu terbebani oleh tanggungan anak-istri, potongan di sana-sini, utang yang harus dilunasi, ongkos hidup yang membengkak, dan seterusnya; mereka bisa lebih fokus pada hal-hal yang strategis (misal: kepuasan pelanggan).

Pemerintah harus melakukan revisi Undang-undang dan kebijakan lain untuk memecat PNS. Sudah saatnya dilakukan screening terhadap PNS yang tidak berprestasi atau masuk lewat pintu belakang. Prosedur dalam rekrutmen CPNS juga harus diterapkan secara ketat dan berlapis. Percayalah, ada banyak sarjana yang jujur, capable, dan mau bekerja keras untuk itu.

Kita bukan negara junta militer. Jadi, selain aparat keamanan dan imigrasi, sudah selayaknya kita meninggalkan seragam yang tebal, berat, dan menyerap panas itu. Ganti saja dengan batik (yang mencerminkan culture nasional), kemeja berdasi yang rapi, atau pakaian berbahan sejuk lainnya.

Rekrut orang-orang muda berbakat. Nirina atau Indra Bekti, maybe? Kita perlu petugas/aparat yang menarik, ramah, helpful, tetapi tetap responsible. Di Malaysia, Singapore, atau Thailand, petugas/aparatnya berusia (relatif) lebih muda, berpakaian casual -hanya ada badge/bantal rank di pakaian mereka.

Tourism harus ada di hati setiap umat. Jika tidak, keep on dreaming, dan silakan berpuas diri sebagai penonton. Jadi, lakukan sesuatu sebatas dalam kapasitas kita. Kalau kita punya relasi di luar negeri, kenapa tidak diundang untuk datang? Kalau kita punya blog, kenapa tidak sekali-kali menulis tentang sesuatu yang menarik di negeri ini? Tunjukkan pada dunia bahwa negeri kita tidak seburuk yang mereka kira.

Harus ada konsultan yang bisa merumuskan integrated strategy. Kalau di antara Anda para pembaca, ada yang kelak “terpeleset” menjadi pejabat atau pengambil keputusan, jangan lupa untuk hire saya sebagai strategic consultant. Eh, saya serius lo. :D

There goes my 2 cents. :P

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Fortress Of Solitude
  2. Saatnya Beralih ke Aerotropolis » Nofie Iman
  3. Comments

  4. Budi Pambudi

    Sebenernya yang jadi masalah adalah mental bangsa yang merusak negara dari segala sektor.
    Coba, mau betulin Indonesia dari sebelah mana? Mulai dari diri sendiri? Ada 200 juta orang di Indonesia, berapa banyak yang mau membenarkan diri mulai dari diri sendiri?

    Pariwisata hanyalah korban dari rusaknya bangsa Indonesia. Sama halnya seperti pahlawan bulutangkis olimpiade yang masih harus menyediakan bukti kewarganegaraan Indonesia. Sama halnya seperti menyogok petugas kelurahan waktu mau mengurus dokumen2. Sama halnya seperti menyogok polisi waktu saya disuruh berhenti dan dicari2 kesalahannya.

    Mau betulin bangsa ini dari mana?

    Ga ada yang punya jawabannya.

  5. ephi

    Sepertinya, artikel sebagus ini perlu dikirim ke Kompas.:wink:

    Bali adalah contoh terbaik di mana semua lapisan masyarakatnya sudah menyadari potensi wisata. Dari penjual warung pinggir jalan sampai petugas perbatasan care soal pariwisata.

    Petugas perbatasan tak mau disuap ketika sopir travel yang saya ikuti mencoba membayari duit agar kami bisa bebas melenggang masuk. Tapi petugas juga tak bersikap kasar waktu tahu KTP saya sudah mati.

    Penjual warung pinggir jalan sempat-sempatnya bertanya tentang gimana perjalanan saya dan apakah puas mengunjungi kawasan wisata tersebut.

    Di belahan lain dari negara ini? Boro-boro ketemu orang baik, dicopet iya. :razz:

  6. rendy

    udah ga aneh ah… :D

  7. Affan

    Ehm, maaf mas, kalau menyamakan airport CGK dengan SIN, KUL atau BKK, ya susah lah. Lha wong memang mereka itu memang airport internasional, international hub beneran kok. Ya kita juga susah kalau mau menyamakan diri dengan mereka. Penerbangan kita juga gak banyak yang ke luar negeri. Kita cuma jadi extension nya maskapai penerbangan asing, bukan jadi bandara transit. Ya jadinya wajar kalau CGK gak buka 24 jam. Kalau mau tidur di CGK, ya tidur di lounge aja biar nyaman ;)

    Kalau point yg lainnya sih saya setuju. Bawaannya gak tentram aja sih kalo liat petugas bandara nya orang Indonesia. Mukanya gak seger gitu lho, gak banyak senyum. Mungkin banyak masalah di rumah kali, dibawa ke tempat kerja ;)

  8. v n u z

    Pas kejakarta kemarin, ternyata cengkareng sangat jauh dari imajinasiku selama ini. SUCKS!!!

  9. Nofie

    @Budi Pambudi:
    Kayaknya saya ada jawabannya. Ntar deh ditulis kapan-kapan. :D

    @ephi
    Yah, cuman segini doang. Mana mau Kompas nerima saya?

    @Affan
    Secara apple-to-apple, memang sulit dibandingkan. Tapi, kalau tidak dibandingkan dengan SIN/KUL, kapan kita bisa berkembang?

    @v n u z
    Sudah berapa kali ke Jakarta? :)

  10. Priyadi

    wah, soal pariwisata memang penting, tapi hati2 jangan sampai menganggap remeh persoalan lain. nanti masalah yang kita anggap remeh sekarang akan jadi besar di masa yang akan datang.

  11. Nofie

    @Priyadi
    Trims atas komentarnya, pak. Saya bukan bermaksud menggampangkan suatu masalah. Next time, akan saya coba tulis tentang masalah-masalah lain.

  12. Jauhari

    Indonesia yaa? bukan berita baru kalau kayak gini :D

    Bukannya Indonesia 100% Jelek, tapi ah sudahlah…..
    Mau sedih tapi kepada siapa? Percuma kata Ari Lasso :(

  13. last resort

    Jadi keinget alasan orang Indonesia nggak mau bayar tiket KA:
    Jaman penjajahan:
    “KA ini khan punyanya penjajah. Ngapain kita bayar?”
    Jaman merdeka:
    “KA ini khan punyanya bangsa kita sendiri. Ngapain kita bayar?”

    Ah, Indonesia memang gila! :sad:

  14. udhien

    gue setuju kalo emang mental dan kesadaran orang-orang yg terlibat didalamnya (dan bangsa) yang bertanggung jawab…

    di changi emang memuaskan, servis bagus. dan masyarakat sana juga sadar bahwa mereka juga hidup dari pariwisata, jadi mereka emang ramah, baik, dll. mungkin ini sama halnya dengan masyarakat bali :)

    Gak usah ngomongin lebih jauh sih, bandingin ajah toilet airport soekarno hatta dengan changi.. jauh banget. hehehe

    maksudnya jauh banget adalah masalah kebersihan dan petugas cleaning servicenya. kalo masalah kebagusan perlengkapan toilet-nya emang udah kalah, tapi yaa minimal bersih dan resik gitu lah :).

    Gue sendiri pernah nunggu temen di changi selama 6 jam sebelom ke hotel. Gue berasa nyaman. Fasilitas lengkap, bersih… trus luggage bisa kita titipkan secara aman dan gak waswas bakalan ada yg “nyongkel”.

    Kalo di soekarno-hatta atau bandara laennya di indonesia gue gak berani nitipin luggage gue… duh dari tempat kita check in ke bagasi pesawat ajah udah waswas karena banyak yg dicongkel, apalagi dititipin selama sekian jam hehehe…

    jadi yaa dari mental emang sih

  15. Silaban Brotherhood

    :shock:
    Kalau di Bandara Polonia Medan agak beda…
    Baru-baru ini semua trolly yang seharusnya adalah fasilitas umum dan gratis, sudah ditek / dimiliki oleh pekerja-pekerja berseragam.
    Pilihannya Pikul sendiri atau BAYAR !
    Sekali penggunaan hingga ke parkiran yang tak lebih dari 300m dari tempat pengambilan bagasi dikenakan charge minimal Rp 10.000 atau Rp 2000 / potong.
    :shock:

  16. Nico

    Hallo Monica,
    saya telah baca beritamu dan oleh karena “itu” saya lebih senang dan bahagia tinggal seterusnya diluar negeri(Germany) sejak 1973. Sejak tahun 1973 saya baru pertama kali ke Indonesia pada tahun 1983 lalu 1986 dan 2005. Ditahun tahun tsb. saya masih merasakan bahwa mentalitas orang2 yang berpakaian uniform masih seperti dahulu, untung waktu itu saya sudah punja warganegara Jerman dan mereka tidak terlalu berani untuk menggoda saya. Banyak juga teman2 saya yang sudah selesai dengan studie mereka tidak akan mau kembali ke Indonesia oleh karena keadaan social diIndonesia. Sekian dulu dan salam untuk semua warganegara Indonesia yang tidak berkorupsi.

  17. Tania

    Saya mahasiswi di Malaysia, kebetulan saya mengambil jurusan pariwisata. Dan memang sangat sedih sekali apabila melihat negara kita harus terus menerus “mengalah” dari negara tetangga yang apabila mau ditelusuri tidak mempunyai kekayaan seperti Indonesia. Dari segi budaya, luas negara, ragam tempat tujuan, kekayaan alam, keramah tamahan..(dlm konteks artikel ini bisa dijadikan alasan menjadi “rajin menjamah”), dst (bahkan ada beberapa yg cenderung “menjiplak” dr Indonesia).

    Dari sisi statistik, Indonesia telah ketinggalan jauh dalam menerima kunjungan wisatawan asing. Saya sangat mengharapkan keaktifan para pelaku pariwisata di Indonesia untuk tetap semangat dalam melancarkan kegiatan2 promosi dan investasi baru dalam dunia pariwisata Indonesia yang masih sangat kurang dibandingkan Thailand, Malaysia dan tentu saja Singapore.

    Dan saya pun setuju agar dunia pariwisata kita bisa merekrut tenaga2 ahli muda berbakat yang memiliki semangat tinggi dan mental giat bekerja.

    Semoga mas Nofie bisa terus menulis ttg isu2 spt ini (kalo bisa usul untuk dikirim ke Kompas/media lainnya dipikirkan :lol:) agar siapapun yang membaca bisa bertambah aware dgn kondisi negara.

  18. ImelDa

    soekarno hatta adalah presidan kita yang pertama yang sebenernya w ga tau pasti sich……but w dgr n bljr about sejarahnya aj……………bagi w dy itu TOP….he>>>>>

  19. vani

    Kasian ya SDM kita ini….bingung juga…mau dari mana dulu kita membenahi negara kita ini…SDM-nya aja susah disiplin.

  20. andi

    hmm.. pernah tuh waktu saya ke jakarta ma keluarga saya, begitu disambut ama keluarga, diterminal mobil bandara masih disambut polisi, biasa… minta duit.. heran.. polisi kan melayani masyarakat, koq sekarang merampok masyarakat ya..

  21. aceng!

    Tulisan yang informatif, bijak dan bernilai. Hanya orang bodoh yang ‘tersentil’ dengan tulisan positif macam ini…

Looking forward to hear your thoughts.