Buruknya Soekarno-Hatta (dan Pariwisata Kita)
May 19th, 2006 | NewsSebelumnya, maaf kalau tulisan ini agak tidak seperti tulisan-tulisan saya lainnya. Dan, pembahasan ini juga mungkin bisa agak panjang dan lama. Jadi, silakan nikmati posisi duduk Anda. Ambil camilan atau minuman ringan. Bila perlu, merokok juga tidak dilarang. Lalu, bacalah posting berikut dengan seksama. :)
Selain TKI atau TKW yang pulang dari luar negeri, pelajar atau mahasiswa yang telah lama belajar di luar negeri dan kembali ke Indonesia juga tak luput dari “penjarahan” di bandara. Di beberapa mailing list, ramai dibicarakan kisah Monica yang mendapatkan perlakuan tidak sedap dari oknum aparat Bea Cukai di Bandara Soekarno-Hatta.
Terlepas dari oknum aparat yang cenderung oportunis, secara prosedural sebenarnya sudah diatur bahwa mereka yang telah lama berada di luar negeri dan hendak kembali ke Indonesia harus meminta formulir dari Konsulat Jenderal atau Kedutaan Indonesia di negara dimana mereka tinggal sebelumnya. Dalam formulir tersebut, kita harus menyebutkan semua barang yang hendak kita bawa –bekas ataupun baru- agar urusan dengan bea cukai lancar dan mudah. Resminya, tidak ada pungutan untuk formulir ini, tetapi mungkin tergantung juga dari lokasi kantor tersebut berada.
Subject: Penjarah di bandara Soekarno Hatta
Temen2 tolong di forward ya…SAYA pulang dari luar negeri melalaui Bandara Soekarno-Hatta, setelah menyelesaikan pendidikan di sana. Tidak terpikir bahwa hari itu saya akan mendapat musibah disebabkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab.
Saya membawa uang dan sejumlah barang yang memang milik saya sewaktu berada di luar negeri selama beberapa tahun. Barang-barang tersebut adalah parfum dan kosmetik. Saya benar-benar tidak mengira barang yang saya bawa diincar oleh orang Bea Cukai Indonesia, dengan cara diberikan tanda warna biru pada bagasi saya.
Sesampainya di bagian scanning saya tidak menyangka bahwa saya harus berhadapan dengan orang-orang yang mau mencari keuntungan dari orang-orang yang baru pulang dari luar negeri. Keadaan saya waktu itu sangat letih dan lelah oleh karena panjangnya perjalanan.
Setelah barang-barang saya dibuka dan diperiksa, saya dibawa mereka ke dalam satu ruangan dekat scanning security. Ruangan itu ternyata tempat Bea Cukai. Disitu saya harus menunjukkan barang saya kepada mereka yang jumlahnya 10 orang. Saya yakin mereka itu bekerja sama untuk mencari untung dari orang yang baru pulang dari luar negeri.
Sewaktu saya berbicara, ada beberapa dari mereka yang secara sengaja mengobrak-abrik barang dalam koper saya tanpa seizin saya. Di ruangan itu saya dimintai uang senilai Rp 9 juta, saya telah menginformasikan bahwa barang-barang tersebut bukanlah barang yang baru saya beli, melainkan sudah dipakai selama bertahun-tahun dan saya sudah menjelaskan bahwa saya pulang untuk tinggal selamanya di Indonesia. Kejam sekali mereka memperlakukan saya, dengan meminta uang dan mereka pun meminta barang saya. Mereka berkata pada saya bahwa mereka meminta uang tersebut karena saya membawa barang lewat dari ketetapan, barang yang dibawa dari luar yaitu melaui dari 250 dolar AS. Tapi saya katakan barang bawaan tersebut bukan barang baru lagi.
Saat itu saya tidak membawa rupiah, dan mereka mengatakan mau bayar atau barang-barang saya ditahan.Lalu saya memberikan 50 dolar dan petugas yang bertanggung jawab di sana bernama DR mengatakan tidak. Saya menambah lagi 50 dolar sehingga menjadi 100 dolar. Dia kemudian meminta beberapa barang saya berupa parfum. Saya menunjukkan supaya dia bisa memilihnya, tidak disangka beberapa dari mereka berdatangan dari belakang saya. Penjarahan di depan mata saya tidak akan pernah saya lupakan. Mereka berkata “Buat saya mana” bersahutan dan mengambilnya.Saya benar-benar marah saat itu dan saya berkata “Tolong jangan diambil itu barang saya”. Walaupun Bapak DR salah satu dari mereka, tapi dia masih berusaha baik kepada saya dengan mengingatkan mereka agar barang yang tidak saya beri, mereka tidak boleh mengambil seenaknya. Setelah parfum dan uang saya diambilnya, saya diperbolehkan pergi. Di situ saya merasa, buat setiap orang yang baru saja datang ke Indonesia dari luar negeri, mereka sama sekali tidak diberikan sambutan yang welcome dari orang Indonesia. Saya orang Indonesia sendiri merasa tidak nyaman pulang ke negara sendiri. Hal ini membuat saya marah, sedih, dan trauma.
Boleh dikatakan saya tidak menyukai berada disini, tidak heran banyak dari mereka merasa nyaman berada di negeri orang. Karena ternyata di sini mereka merasa ditekan dengan banyak hal. Saya berharap pengalaman saya ini bisa menjadikan contoh buat kita semua, apa yang terjadi itu patut kita perbaiki bersama.
Monica
Jakarta
Oke. Mari kita bergerak pada sudut pandang yang lebih luas.
Problem kita sesungguhnya bukan semata-mata terletak pada Bandara Soekarno-Hatta atau pelayanan aparat-aparatnya. Problem yang harus kita atasi bersama adalah soal pariwisata.
Pariwisata adalah bisnis yang luar biasa besar dan melibatkan perputaran uang dalam skala yang masif. Sayangnya, bisnis ini relatif sulit untuk dimainkan. Maklum, pariwisata membutuhkan maintenance cost yang konstan. Begitu racun menggerogoti, belangnya akan tampak di muka. Kualitasnya pun akan langsung deteriorate.
Akibatnya, jelas: tidak banyak “pejabat” yang tertarik menanganinya. Padahal, selain menghasilkan banyak devisa, pariwisata juga memiliki multiplier effect yang luar biasa besarnya.
Sayangnya, seperti biasa, kita masih suka mengurusi dan merecoki hal-hal “remeh” seperti RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, kasus mantan Presiden Soeharto, Revisi UU Ketenagakerjaan, dan hal-hal sepele lainnya.
Beberapa Fakta Menarik
Mari kita tengok sejenak beberapa fakta berikut:
Anomali wisatawan manca negara. Kita punya Borobudur, yang merupakan salah satu keajaiban besar dunia. Lucunya, wisatawan lebih memilih plesir ke Wat Po, Wat Phra Kaew, Wat Arun, dan seterusnya. Padahal, selain harus bayar mahal, mereka masih disuruh (baca: dipaksa) nyeker ketika masuk ke ruangan tertentu. Dan percayalah, Thailand tidak ada apa-apanya dibandingkan Borobudur atau Prambanan.
Filipina jauh lebih kisruh daripada kita, tetapi jumlah wisatawannya terus bertumbuh. Selain suhu politik dan etnis yang cukup meresahkan, keamanan di Manila sesungguhnya cukup memprihatinkan. Kalau Anda jalan-jalan siang bolong di Makati City, atau Anda seorang businessman yang sedang berkunjung, bisa-bisa kena culik dan subject ke ransom tinggi yang dituntut penculik. Tapi wisatawan di Filipina juga tetap banyak.
Hampir setiap penjuru negeri ini bisa dijual. Selain Bali, sebutlah Jogja, Makassar, Lombok, Sumbawa, Pangandaran, Flores, dan seterusnya. Sayangnya, sebagian kelompok agama yang fanatis mengusung isu sweeping dan pembersihan massal untuk mengusir para turis yang sedianya akan singgah dan spending money di wilayah-wilayah tersebut.
Berapa banyak pejabat kita yang melakukan kunjungan ke luar negeri? Cukup banyak. Sayangnya, tidak banyak usaha mempromosikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata maupun investasi usaha di sektor riil. Sudah begitu banyak janji manis ditiupkan, tetapi tanpa perimbangan pada reformasi hukum dan birokrasi.
Untuk ukuran kota metropolitan, jumlah orang asing yang beredar di Jakarta sedikit. Jauh lebih sedikit daripada jumlah orang asing yang lalu-lalang di Singapore, Kuala Lumpur, Tokyo, atau kota besar di Asia lainnya. Bali hanya bisa menandingi pada waktu dan tempat tertentu.
Bandara adalah “wajah” negara. Banyak negara yang sadar bahwa bandara adalah “wajah” negara itu yang pertama kali menyapa para travellers. Sayangnya, “wajah” yang menyapa para travellers itu tidaklah secantik Dian Sastro atau setampan Tora Sudiro.
Lebih dari 20 tahun berdiri, Bandara Soekarno-Hatta masih gini-gini aja. Kalau Anda sering berlalu-lalang ke manca negara dan menapakkan kaki di bandara mereka, akan terasa “wow effect” yang luar biasa. Efek semacam itu nyaris tidak ada pengaruhnya di Bandara Soekarno-Hatta.
Cengkareng adalah bandara yang “hebat”. Selain minim tempat duduk dan fasilitas lainnya, begitu kita dapat tempat duduk, tetangga sebelah segera beringsut menawarkan parfum atau bolpen Montblanc. Di airport lain, mana boleh passenger dihampiri orang asing dan ditawari barang-barang jualan?
Bandara internasional harus buka 24 jam. Bandingkan dengan Changi, Don Muang, atau Sepang. Bandara yang bisa dikatakan benar-benar “internasional” baru Bandara Ngurah Rai. Coba Anda main-main ke Cengkareng jam 1 malam atau menjelang subuh.
Changi adalah bandara ternyaman di dunia, tapi minim kriminalitas. If someone gets lost in Changi, then the guy must be retarded. Singapura juga sangat bebas dan friendly, tetapi nyatanya sangat minim kejahatan. Singapura mungkin memiliki kasus penyalahgunaan visa (terutama soal pelacuran), tetapi mampu menanganinya secara bijaksana.
Amati appearance petugas/aparat kita. It was like entering a war zone, a military camp. We looked like criminals in their staring eyes, as if we have done something wrong. Terutama terhadap TKW (or someone wearing jilbab, for that matter), bisa jauh lebih mengancam. Plus, bahasa inggrisnya pun masih (maaf) kelas preman.
Ulah oknum taksi-taksi yang begajulan. Enough said. Cukup banyak cerita buruk tentang tindak pemerasan dan buruknya layanan transportasi satu ini. Disinyalir, aparat sekuriti di bandara juga terlibat dalam urusan satu ini.
Ini mungkin agak sedikit bergeser: Perampokan berjamaah di terminal TKI/TKW. Seperti sudah ditulis sebelumnya, terminal kedatangan seharusnya menyambut TKI/TKW layaknya pahlawan karena mendatangkan begitu banyak devisa. Sayanganya, yang terjadi justru pemerasan dari petugas imigrasi, handling bagasi yang kacau, serta oknum taksi gelap.
Tapi kan sudah ada VoA (Visa on Arrival)?
VoA itu adalah salah satu langkah awal yang maju. Sayangnya, VoA kini juga masih sering mengundang komplain. Selain antrian yang panjang, birokrasi kita terlalu kaku sehingga sering sulit membedakan antara wisatawan yang prospektif dengan oknum ekspatriat yang mencari kerja tanpa menyetor pajak.
Thailand, yang cukup rese terhadap imigrasi, sudah berbenah diri sejak beberapa tahun lalu. Mereka menerapkan visa kunjungan, VoA, lengkap dengan penambahan petugas, sistem antrian yang baik, dan bebas calo.
Di Indonesia, VoA seolah dipompa habis-habisan tetapi tidak ada usaha untuk menetralisir dampak negatif dari VoA tersebut. Kenyamanan (welcome feeling) nyaris tidak ada. Begitu turis tiba, mereka dihadapkan dengan kesulitan antri dan pembayaran VoA. Belum lagi soal calo dan mafia taksi yang luar biasa hebatnya.
Mau dikemanakan negeri ini?
Saran Saya
Lalu, bagaimana solusinya? Berikut beberapa suggestions yang saya ajukan. Semoga ada pihak berwenang yang sempat membacanya. :)
Bandara: Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Bayangkan diri Anda seorang Eropa yang hidup beberapa abad lalu. Kapal Anda bersandar di Onruust “internasional”. Anda tiba di Batavia, Queen of the Dutch-Indie, The Jewel of the East. Bisa Anda bayangkan sensasi apa yang Anda rasakan? “Wow effect” semacam itulah yang seharusnya kini bisa diciptakan untuk menarik para wisatawan.
Redesain airport agar optimal terhadap offerings pariwisata kita. Apa sih yang sebetulnya kita jual? Hutan tropis? Keindahan dasar laut? Wisata Budaya? Sudah seharusnya alam pikiran para wisatawan itu kita sergap dan kita hipnotis sedemikian rupa. Bayangkan sebuah arrival hall yang didesain ala botanical garden yang hijau dan sejuk. Bayangkan ruang boarding dengan layar lebar menayangkan video Bunaken atau Lombok secara real-time dan real-live.
Adanya pemisahan fungsi yang jelas. Aparat imigrasi, petugas keamanan, atau pelayanan bandara harus dipisahkan secara jelas. Fungsi law-enforcement harus dijalankan secara formal sesuai prosedur. Sementara fungsi pelayanan bisa lebih less-formal, tetapi lebih berorientasi pada customer. Fungsi law-enforcement tetap ditangani oleh pemerintah sebagai regulator, sementara sisi pelayanan bisa diswastakan dengan prioritas dijual pada swasta nasional.
Bila perlu, pekerjakan professional di Bandara Soekarno-Hatta. Akan tetapi, ketika profit mulai muncul, lindungi mereka supaya tidak direcoki pemerintah daerah (Tangerang) atau pemerintah pusat yang meminta jatah. Pun dari oknum-oknum yang mengusung slogan “putra daerah” dan sejenisnya.
Perhatikan kesejahteraan pegawai-pegawai kecil kita. Asumsinya, ketika mereka tidak lagi terlalu terbebani oleh tanggungan anak-istri, potongan di sana-sini, utang yang harus dilunasi, ongkos hidup yang membengkak, dan seterusnya; mereka bisa lebih fokus pada hal-hal yang strategis (misal: kepuasan pelanggan).
Pemerintah harus melakukan revisi Undang-undang dan kebijakan lain untuk memecat PNS. Sudah saatnya dilakukan screening terhadap PNS yang tidak berprestasi atau masuk lewat pintu belakang. Prosedur dalam rekrutmen CPNS juga harus diterapkan secara ketat dan berlapis. Percayalah, ada banyak sarjana yang jujur, capable, dan mau bekerja keras untuk itu.
Kita bukan negara junta militer. Jadi, selain aparat keamanan dan imigrasi, sudah selayaknya kita meninggalkan seragam yang tebal, berat, dan menyerap panas itu. Ganti saja dengan batik (yang mencerminkan culture nasional), kemeja berdasi yang rapi, atau pakaian berbahan sejuk lainnya.
Rekrut orang-orang muda berbakat. Nirina atau Indra Bekti, maybe? Kita perlu petugas/aparat yang menarik, ramah, helpful, tetapi tetap responsible. Di Malaysia, Singapore, atau Thailand, petugas/aparatnya berusia (relatif) lebih muda, berpakaian casual -hanya ada badge/bantal rank di pakaian mereka.
Tourism harus ada di hati setiap umat. Jika tidak, keep on dreaming, dan silakan berpuas diri sebagai penonton. Jadi, lakukan sesuatu sebatas dalam kapasitas kita. Kalau kita punya relasi di luar negeri, kenapa tidak diundang untuk datang? Kalau kita punya blog, kenapa tidak sekali-kali menulis tentang sesuatu yang menarik di negeri ini? Tunjukkan pada dunia bahwa negeri kita tidak seburuk yang mereka kira.
Harus ada konsultan yang bisa merumuskan integrated strategy. Kalau di antara Anda para pembaca, ada yang kelak “terpeleset” menjadi pejabat atau pengambil keputusan, jangan lupa untuk hire saya sebagai strategic consultant. Eh, saya serius lo. :D
There goes my 2 cents. :P
May 19th, 2006 at 11:41 pm
August 22nd, 2007 at 12:20 pm
Comments
May 19th, 2006 at 4:33 pm
Sebenernya yang jadi masalah adalah mental bangsa yang merusak negara dari segala sektor.
Coba, mau betulin Indonesia dari sebelah mana? Mulai dari diri sendiri? Ada 200 juta orang di Indonesia, berapa banyak yang mau membenarkan diri mulai dari diri sendiri?
Pariwisata hanyalah korban dari rusaknya bangsa Indonesia. Sama halnya seperti pahlawan bulutangkis olimpiade yang masih harus menyediakan bukti kewarganegaraan Indonesia. Sama halnya seperti menyogok petugas kelurahan waktu mau mengurus dokumen2. Sama halnya seperti menyogok polisi waktu saya disuruh berhenti dan dicari2 kesalahannya.
Mau betulin bangsa ini dari mana?
Ga ada yang punya jawabannya.
May 19th, 2006 at 5:36 pm
Sepertinya, artikel sebagus ini perlu dikirim ke Kompas.:wink:
Bali adalah contoh terbaik di mana semua lapisan masyarakatnya sudah menyadari potensi wisata. Dari penjual warung pinggir jalan sampai petugas perbatasan care soal pariwisata.
Petugas perbatasan tak mau disuap ketika sopir travel yang saya ikuti mencoba membayari duit agar kami bisa bebas melenggang masuk. Tapi petugas juga tak bersikap kasar waktu tahu KTP saya sudah mati.
Penjual warung pinggir jalan sempat-sempatnya bertanya tentang gimana perjalanan saya dan apakah puas mengunjungi kawasan wisata tersebut.
Di belahan lain dari negara ini? Boro-boro ketemu orang baik, dicopet iya. :razz:
May 19th, 2006 at 7:04 pm
udah ga aneh ah… :D
May 19th, 2006 at 9:29 pm
Ehm, maaf mas, kalau menyamakan airport CGK dengan SIN, KUL atau BKK, ya susah lah. Lha wong memang mereka itu memang airport internasional, international hub beneran kok. Ya kita juga susah kalau mau menyamakan diri dengan mereka. Penerbangan kita juga gak banyak yang ke luar negeri. Kita cuma jadi extension nya maskapai penerbangan asing, bukan jadi bandara transit. Ya jadinya wajar kalau CGK gak buka 24 jam. Kalau mau tidur di CGK, ya tidur di lounge aja biar nyaman ;)
Kalau point yg lainnya sih saya setuju. Bawaannya gak tentram aja sih kalo liat petugas bandara nya orang Indonesia. Mukanya gak seger gitu lho, gak banyak senyum. Mungkin banyak masalah di rumah kali, dibawa ke tempat kerja ;)
May 19th, 2006 at 11:14 pm
Pas kejakarta kemarin, ternyata cengkareng sangat jauh dari imajinasiku selama ini. SUCKS!!!
May 20th, 2006 at 9:40 am
@Budi Pambudi:
Kayaknya saya ada jawabannya. Ntar deh ditulis kapan-kapan. :D
@ephi
Yah, cuman segini doang. Mana mau Kompas nerima saya?
@Affan
Secara apple-to-apple, memang sulit dibandingkan. Tapi, kalau tidak dibandingkan dengan SIN/KUL, kapan kita bisa berkembang?
@v n u z
Sudah berapa kali ke Jakarta? :)
May 20th, 2006 at 8:03 pm
wah, soal pariwisata memang penting, tapi hati2 jangan sampai menganggap remeh persoalan lain. nanti masalah yang kita anggap remeh sekarang akan jadi besar di masa yang akan datang.
May 20th, 2006 at 8:30 pm
@Priyadi
Trims atas komentarnya, pak. Saya bukan bermaksud menggampangkan suatu masalah. Next time, akan saya coba tulis tentang masalah-masalah lain.
May 23rd, 2006 at 10:55 am
Indonesia yaa? bukan berita baru kalau kayak gini :D
Bukannya Indonesia 100% Jelek, tapi ah sudahlah…..
Mau sedih tapi kepada siapa? Percuma kata Ari Lasso :(
May 23rd, 2006 at 3:09 pm
Jadi keinget alasan orang Indonesia nggak mau bayar tiket KA:
Jaman penjajahan:
“KA ini khan punyanya penjajah. Ngapain kita bayar?”
Jaman merdeka:
“KA ini khan punyanya bangsa kita sendiri. Ngapain kita bayar?”
Ah, Indonesia memang gila! :sad:
May 25th, 2006 at 2:21 pm
gue setuju kalo emang mental dan kesadaran orang-orang yg terlibat didalamnya (dan bangsa) yang bertanggung jawab…
di changi emang memuaskan, servis bagus. dan masyarakat sana juga sadar bahwa mereka juga hidup dari pariwisata, jadi mereka emang ramah, baik, dll. mungkin ini sama halnya dengan masyarakat bali :)
Gak usah ngomongin lebih jauh sih, bandingin ajah toilet airport soekarno hatta dengan changi.. jauh banget. hehehe
maksudnya jauh banget adalah masalah kebersihan dan petugas cleaning servicenya. kalo masalah kebagusan perlengkapan toilet-nya emang udah kalah, tapi yaa minimal bersih dan resik gitu lah :).
Gue sendiri pernah nunggu temen di changi selama 6 jam sebelom ke hotel. Gue berasa nyaman. Fasilitas lengkap, bersih… trus luggage bisa kita titipkan secara aman dan gak waswas bakalan ada yg “nyongkel”.
Kalo di soekarno-hatta atau bandara laennya di indonesia gue gak berani nitipin luggage gue… duh dari tempat kita check in ke bagasi pesawat ajah udah waswas karena banyak yg dicongkel, apalagi dititipin selama sekian jam hehehe…
jadi yaa dari mental emang sih
June 8th, 2006 at 5:02 pm
:shock:
Kalau di Bandara Polonia Medan agak beda…
Baru-baru ini semua trolly yang seharusnya adalah fasilitas umum dan gratis, sudah ditek / dimiliki oleh pekerja-pekerja berseragam.
Pilihannya Pikul sendiri atau BAYAR !
Sekali penggunaan hingga ke parkiran yang tak lebih dari 300m dari tempat pengambilan bagasi dikenakan charge minimal Rp 10.000 atau Rp 2000 / potong.
:shock:
October 11th, 2006 at 6:33 pm
Hallo Monica,
saya telah baca beritamu dan oleh karena “itu” saya lebih senang dan bahagia tinggal seterusnya diluar negeri(Germany) sejak 1973. Sejak tahun 1973 saya baru pertama kali ke Indonesia pada tahun 1983 lalu 1986 dan 2005. Ditahun tahun tsb. saya masih merasakan bahwa mentalitas orang2 yang berpakaian uniform masih seperti dahulu, untung waktu itu saya sudah punja warganegara Jerman dan mereka tidak terlalu berani untuk menggoda saya. Banyak juga teman2 saya yang sudah selesai dengan studie mereka tidak akan mau kembali ke Indonesia oleh karena keadaan social diIndonesia. Sekian dulu dan salam untuk semua warganegara Indonesia yang tidak berkorupsi.
December 18th, 2006 at 9:30 pm
Saya mahasiswi di Malaysia, kebetulan saya mengambil jurusan pariwisata. Dan memang sangat sedih sekali apabila melihat negara kita harus terus menerus “mengalah” dari negara tetangga yang apabila mau ditelusuri tidak mempunyai kekayaan seperti Indonesia. Dari segi budaya, luas negara, ragam tempat tujuan, kekayaan alam, keramah tamahan..(dlm konteks artikel ini bisa dijadikan alasan menjadi “rajin menjamah”), dst (bahkan ada beberapa yg cenderung “menjiplak” dr Indonesia).
Dari sisi statistik, Indonesia telah ketinggalan jauh dalam menerima kunjungan wisatawan asing. Saya sangat mengharapkan keaktifan para pelaku pariwisata di Indonesia untuk tetap semangat dalam melancarkan kegiatan2 promosi dan investasi baru dalam dunia pariwisata Indonesia yang masih sangat kurang dibandingkan Thailand, Malaysia dan tentu saja Singapore.
Dan saya pun setuju agar dunia pariwisata kita bisa merekrut tenaga2 ahli muda berbakat yang memiliki semangat tinggi dan mental giat bekerja.
Semoga mas Nofie bisa terus menulis ttg isu2 spt ini (kalo bisa usul untuk dikirim ke Kompas/media lainnya dipikirkan :lol:) agar siapapun yang membaca bisa bertambah aware dgn kondisi negara.
June 26th, 2007 at 12:47 pm
soekarno hatta adalah presidan kita yang pertama yang sebenernya w ga tau pasti sich……but w dgr n bljr about sejarahnya aj……………bagi w dy itu TOP….he>>>>>
July 28th, 2007 at 11:29 am
Kasian ya SDM kita ini….bingung juga…mau dari mana dulu kita membenahi negara kita ini…SDM-nya aja susah disiplin.
May 23rd, 2008 at 10:26 pm
hmm.. pernah tuh waktu saya ke jakarta ma keluarga saya, begitu disambut ama keluarga, diterminal mobil bandara masih disambut polisi, biasa… minta duit.. heran.. polisi kan melayani masyarakat, koq sekarang merampok masyarakat ya..
July 8th, 2008 at 9:29 am
Tulisan yang informatif, bijak dan bernilai. Hanya orang bodoh yang ‘tersentil’ dengan tulisan positif macam ini…
August 16th, 2008 at 5:47 am
itulah “aparat-aparat” kita yang HAUS… yang hanya punya slogan melindungi masyarakat, tapi kenyataannya melindungi teman sendiri…
ngomong-ngomong nggak ada “aparat” yang baca berita kaya gini kali ya…???
kok nggak ada komennya?
atau jangan-jangan mereka nggak tau internet lagi…
October 30th, 2008 at 9:41 pm
duh abis baca ini aq jd inget pas pulang dari jkt ke sby..
walaupun dah pernah menjelajah ke beberapa bandara di Indonesia tapi ga ada yang semenohok soekarno-hatta..
jadi gini ceritanya..
bandara soekarno-hatta is international airport either juanda..
qta smua tau peraturan di bandara adalah dilarang bawa benda tajam..
tapi gunting?? apalah arti sebuah gunting meskipun termasuk benda tajam tapi klo guntingnya itu gunting kertas, dengan bentuk fisik yang ujungnya tumpul, enggak tajam, terus guntingnya berpola lagi (zig-zag) apakah masih bisa disebut benda tajam?? terus apa bisa membahayakan manusia dengan benda tersebut?? i don’t think so…
pas brgkt dr sby ke jkt, dibandara juanda dilolosin tuh yang namanya gunting kertas gak pake’ acara penyitaan dan segala embel2nya.. lha ini malah dijkt udah disita pake acara nyeramahin, aparatnya sok kebeneran en kecakepan lagi, trs yang paling bete-in lagi pake ngehina-hina bandara juanda… padahal as we know juanda n soekarno-hatta sama2 bandara international dimana peraturan atau norma-norma yang digunakan pasti memiliki standart yang sama…
Dasar para aparat di soekarno-hatta buat kecewa dan menambah bbrp alasanq untuk semakin tidak menyukai negara ini..
November 5th, 2008 at 8:21 pm
Anda menjadi korban preman atau kapak merah? Jika iya, Anda bisa
langsung mengontak kapolda dan kapolres setempat.
Ajakan ini dilontarkan Kabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Susno Duaji
dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa
(4/11/2008).
Jika menjadi korban preman, Anda bisa mengontak:
Kapolda Jawa Timur 0812.1030.086.
Kapolda DIY 0812.3876.159.
Kapolwiltabes Semarang 0812.710.7771.
Kapolwiltabes Surabaya 0811.611.980.
Kapoltabes Yogyakarta 0815.7741415
Kapoltabes Medan 0812.64920007.
Kapolres Jakarta Pusat 0811.902355
Kapolres Jakarta Selatan 0812.111.8686
Kapolres Jakarta Timur 081.222.12212
Kapolres Jakarta Barat 0813.111.97777
Kapolres Jakarta Utara 0811.844321
Kapolres Bekasi 0817.0868686
Petugas KP3 Bandara Soekarno-Hatta 0811.854.170
Kapolres Depok 0812.303.9065.
Kapolres Bekasi Kabupaten 0812.123.8989
Kapolres Tangerang Kabupaten 021.93. 778989.
Kapolres Tangerang 0815.1111.8778
Kapolres KP3 Tanjung Priok 0811.891213.
Kapolres Kepulauan Seribu 0818.617171
Menurut Susno, operasi pemberantasan kejahatan jalanan ini digelar sejak 2
November 2008 hingga masyarakat aman. Sasaran mulai dari preman, kampak
merah, parkir liar, hingga debt collector.
“Kalau masyarakat merasa aman, operasi tetap tidak akan berhenti sampai
preman tidak ada,” cetus Susno.
Bagaimana jika aparat tidak merespon? “Silakan hubungi Direktorat I Keamanan
Transnasional Bareskrim Mabes Polri nomor 021.721.8941 dan bisa langsung ke
Kabareskrim 0815.977.1977,” kata Susno.
Dikatakan dia, pejabat di wilayah akan diminta pertanggungjawaban.
“Apabila ada kapolres yang tidak merespon, tolong ditulis besar-besar.
Apabila kapolres marah laporkan karena berarti dia bekerjasama dengan
preman,” papar dia.Susno menambahkan setiap penangkapan preman ada eksesnya.
Salah satunya penjara akan penuh.”Yang penting kita tangkap-tangkap dulu.
Setiap tindakan pasti ada eksesnya. Kalau kita memikirkan ekses maka kita
tidak bertindak-tindak. Bareskrim hanya yang kecil-kecil saja. Masalah
penjara urusan Depkum HAM,” kata Susno.
http://www.detiknews.com/read/2008/11/04/141928/1031041/10/jadi-korban-preman-yuk!-call-kapolda
January 12th, 2009 at 10:45 am
benar. kalau punya NPWP tak perlu bayar fiskal. kalau tak punya NPWP padahal individunya seharusnya punya, kena 2.5 juta rupiah. kita yang bekerja dan tinggal di luar negeri otomatis bebas fiskal kalau sudah lapor diri (di halaman belakang paspor kita ada bukti lapor diri di KBRI lokal). lihat di sini http://pelayanan-pajak.blogspot.com/2008/09/pokok-pokok-perubahan-uu-pajak.html
soal NPWP: kita tidak perlu bayar pajak kalau kita bekerja di luar negeri DAN menerima penghasilan di luar negeri DAN bayar pajak di luar negeri DAN tinggal di indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam setahun. kita tidak juga wajib punya NPWP. kalau punya NPWP harus bikin SPT setiap tahun dan diisi “nil”. kita HARUS bayar pajak kalau kita menerima penghasilan dari dalam negeri (misalnya punya kos-kosan, warteg, dll). yang kena pajak adalah penghasilan yang didapat dari indonesia. lihat di sini http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/wajib-pajak.html
January 12th, 2009 at 9:49 pm
Saat yg sama saya juga k lombok. Makanannya ayam taliwang, pelecing kangkung, tahu lombok. Yang suka pedas, pasti makan sambil nangis. Tambah terus tuh sambal. Rest. Ibu diah di cakranegara. Suranadi buat yg hobby golf. makan sate khas lombok beserta bulayak (lontong) dekat pemandian. Menginap di holiday inn. Cuma 550rb peak season. Cari Hotel murah saat di airport. Saat k kuta, tertarik menginap di novotel kuta tapi sdh penuh semua kamar.
January 29th, 2009 at 4:59 am
coba ke alam kotok deh … asik. Tempat buat org yg suka snorkling & diving. Dulu sih lautnya lebih bagus krn orgnya masih rajin jaga karang & isinya, belakangan kalo snorkling / diving sudah gak liat bintang laut & karangnya byk yg mati. Kita bisa juga berenang di dermaga sekalian kasih makan ikan2nya di dermaga. Kalo suka mancing, coba cari di cottage pribadi, ada yg bapak nungguin… biasa dia mau nemenin & harganya jauh lebih murah …. bisa 100rb seharian kalo itungan resmi perjam. Trs dia mau bawa kita ke pulau kecil tanpa penghuni cuman buat berenang.
Oyah makanannya sih lumayan enak … di kamar ada aqua galon.
Kalo pulau umang semacam resort mirip nginap di putri duyung tp makanannya super duper gak enak & aqua buat di kamar aja mesti beli.
oya nawar aja sama marketingnya, kalo gak salah tahun kemarin dia mulai renovasi jadi harganya pasti dah naek. Dan isi lautnya mungkin dah bagus lagi
February 1st, 2009 at 8:43 am
Dulu, pertama kali ngerasain masuk dari Changi ke Soekarno-Hatta, kesan yang ketangkep adalah (maaf) seperti masuk negara komunis… Walaupun referensinya cuma film, tapi dari sisi checklist memenuhi stereotype yang dimaksud… Jadinya semua keceriaan kehebatan kekaguman sama suasana (dan pelayanan) bandara Changi yang megah itu, mendadak sontak tergantikan dengan suasana gloomy, kaku, menacing dari gerbang imigrasinya Soeta…
Untungnya waktu itu jalan bareng anak petinggi militer, jadi pas di bagian imigrasinya malah di”bye”. Hehehehehe
March 30th, 2009 at 7:00 am
Saya juga pernah mengalami kejadian seperti Monica kira kira 6 tahun yang lalu.Bedanya kejadian tersebut terjadi di Bandara Polonia.Ketika saya pulang dari Singapura dengan Silk Air,koper-koper milik saya semua diberi tanda X menggunakan kapur putih.Ketika saya dan porter hendak melewati bea cukai,mendadak lebih dari 5 petugas memberhentikan kami dan segera memberi aba-aba untuk menyuruh kami ke ruangan inspeksi.
Di dalam ruangan tersebut,saya dibentak dan dipaksa untuk membuka koper-koper saya yang hanya berisi baju kotor yang belum sempat dicuci selama liburan saya disana plus sedikit t-shirt untuk souvenir.Mereka mengatakan bahwa saya membawa terlalu banyak baju dan harus dikenai tax.’WAH,BANYAK YA OLEH-OLEHNYA!”cetus seorang ibu pegawai.Yang lain menimpali dengan “MANA HADIAH UNTUK SAYA?”Singkat cerita akhirnya saya harus membayar Rp.60,000
March 30th, 2009 at 7:08 am
untuk baju-baju tersebut!Setelah melewati perangkap bea cukai,Saya harus berhadapan dengan petugas dari Karantina yang coba membuka koper saya tanpa izin.”Apakah bapak yakin,bapak tidak membawa makanan?”Saya bilang tidak.”Bagaimana kalau kami buka dan menemukan ada makanan”tanyanya lagi.Saya jawab silakan saja!Memang saya tidak ada membawa makanan!Akhirnya saya lolos dari jerat maut “Setan-Setan di Bandara Polonia”tersebut.Peristiwa berulang -ulang terjadi sehingga setiap kali saya pulang ke Medan harus menggunakan jasa orang dalam dan membayar Rp.200-300 ribu agar barang-barang saya dipermudah keluarnya.Saya selalu merasa ketakutan begitu pesawat yang membawa saya mendarat di bandara Polonia karena perlakuan “Setan-Setan”tersebut.Saya tidak pernah merasa seperti benar-benar pulang ke negeri sendiri,berbeda benar dengan Changi dimana Immigration Line khusus warga Singapura yang balik ke negerinya tertulis di Auto Display Boardnya”WELCOME HOME”,”SELAMAT PULANG”.Kapan Indonesia bisa maju ya?
June 11th, 2009 at 2:16 pm
saya orang singapura… setelah saya membaca petikan artikel ini saya berasa takut untuk berkunjung ke indonesia.. bukan ini saja berdasarkan dari bicara teman-teman yang pernah berkunjung ke sana, menceritakan betapa buruknya korupsi di indonesia sehingga mereka berasa tidak selamat berada disana..
pada saya ini betul-betul satu masalah yang merugikan negara anda.. kerana anda mempunyai tempat-tempat yang menarik dan sesuai untuk pelancongan.. tetapi dengan masalah yang disebutkan tadi, mengundang rasa tidak selesa dan aman berada di negara anda. saya setuju bahawa international airport adalah tanggapan pertama para pelancong asing mengenai sesebuah negara. dan apabila tanggapan pertama begitu menakutkan apalagi yang bakal menyusul di kemudiannya..
saya harap pemerintah anda serius menangani masalah ini..sekian terima kasih…
June 29th, 2009 at 1:51 am
jual uang soekarno thn. 1964 pecahan Rp.1000,- warna merah, gambar 8 penari serimpi, dan gambar penari serimpi gendong 4 anak. Keduanya bisa menggulung ditelapak tangan. Dijual 5 juta saja. Lokasi di Yogyakarta
Jika berminat bisa menghubungi 081328196176 (zuliant)
August 19th, 2009 at 10:10 am
Saya masih beruntung sedikit. Dulu waktu saya pulang ke indonesia setelah 5 tahun di LN , tiba di bandara, masuk ke toilet untuk cuci muka, eh di”todong” sama mbak pembersih WC untuk ngasih dia uang. Caranya minta menghiba gitu. Saya kasih recehan pound, trus saya buru2 pergi. Dongkol, waktu itu saya pikir indonesia sudah mulai berubah. Saya juga agak kecewa liat bandara yang baru pertama kali saya lihat, kok tidak user-friendly environment: layout, desain, etc. Kesan saya, semacam stasiun kereta cuma lebih besar. Ga seperti bandara intertnasionl.
September 1st, 2009 at 2:06 pm
hay.. saya udah sering denger sih masalah pembongkaran bagasi.. rencananya hr kamis saya berangkat ke china. kemungkinan saya akan bw satu koper penuh pakaian utk dijual lg.. melihat pengalaman teman2 disini saya kuatir dipermainkan di bandara. yang mau saya tanya kalo ada yg tau : memangnya pakaian itu termasuk barang kena pajak ya? bukannya benda2 elektronik, tembakau dan barang2 mewah lainnya aja? kalau ada yg tau bisa share ga? thx before :)
November 1st, 2009 at 4:27 pm
Ini lah Negara Indonesia, faktor keamanan selalu menjadi anak panah yang telah menusuk kediri bangsa ini, tapi terkadang sudah banyak hal yang dilakukan pemerintah lakukan untuk memperbaiki, tapi mungkin karena tuntutan sosial jugalah yang membuat keamanan menjadi faktor X dari pariwisata.
November 18th, 2009 at 3:16 pm
namaku pervi,akupun juga tak luput dari kelakuan orang2 yg berada di bandara soekarno hatta,akupun sangat trauma,dan sangat membenci indonesia,walau ini tanah airku tapi,,tak pernah ada rasa rindu pada tanah air karna trauma,,,,trauma dengan harimau bandara soekarno hatta,,bilakah kami mudik mending kami lewat bali..ilove bali so much!!!!!!!!!!!mereka yg di bandara soekarno hatta,,orang2 yg kelaparan,merampok,menjarah ,dan mengemis,,,,gk salah indonesia selalu kene musibah karna ulah2 orang2 yg biadab ….menyakitkan,,hatiku sakit,,, aku dah nikah di luar negri selama 10 thn,pulang2 di bilangin lonthe,pelacur,,karna gk tak kasih uang,,indonesia memalukan ,,,,,terkenal bullshitnya,,,,,,,,,,
November 18th, 2009 at 3:21 pm
KEPADA BUNG RAHMAN,,BENER BUNG,,,DI KAMPUNG KU JUGA SEGER2 DAN INDAH,,AKAN TETAPI YG MERUSAK KEINDAHAN ADALAH HARIMAU HARIMAU SOEKARNO HATTA,,,,,BANYAK RELASI SUAMIKU MENANYAKAN INGIN KUNJUNG KE INDONESIA,,,,TP MEREKA JUGA TAKUT AKAN KEADAAN INDO YG SANGAT MENGERIKAN,,,,,PENIPUAN DI BANDARA SOEKARNO HATTA SANGAT BIKIN ORANG TRAUMA,TRAUMA SEKALI BUNG ….SALAM HANGAT DARI SAYA BUNG RAHMAN
November 18th, 2009 at 3:25 pm
BILAKAH DI BANDARA SOEKARNO HATTA DI SAMBUT DENGAN HATI TULUS WELCOM HOME,,AHHH PASTI AIR MATA INI JATUH TAK HENTI2,,,TAPI NYATANYA INI CUMA MIMPI,,,,,INDONESIA,,KIAN TERPURUK,
November 18th, 2009 at 3:25 pm
BILAKAH DI BANDARA SOEKARNO HATTA DI SAMBUT DENGAN HATI TULUS WELCOM HOME,,AHHH PASTI AIR MATA INI JATUH TAK HENTI2,,,TAPI NYATANYA INI CUMA MIMPI,,,,,INDONESIA,,KIAN TERPURUK,
February 24th, 2010 at 7:08 pm
Calon suamiku bilang “Babe lain kali kalo kita ke Indo lagi ,kalau kamu udah pegang British passport aja ya!! ” Aku bener2 nggk nyaman pulang ke Indo lewat satu bandara ini,saya memang TKI dan tunanganku seorang British.Waktu itu aku mau jenguk ortu di jateng,masak pihak petugas bandara ngecek passport ku dan bilang “numpang cowok ya mbak biar bisa keluar ke terminal 2?” Betapa menyakitkan dan insulting kata2 itu.
Waktu mau balik lagi ke negara di tempat aku bekerja aku dapat masalah di bandara,karna aku TKI maka aku harus ngurus bebas viskal ku.Di counter bebas viskal mereka nanya “ada surat bla bla bla mbak (sambil lihatin tunanganku yg ada di belakangku) aku jawab “surat apaan itu?”..sebelum aku balik,aku dah telpon konsulat dan konsulat people bilang kalo surat apapun nggk di butuhkan asal bawa kontrak kerja dan KTP negara di mana anda bekerja.Tahu nggk orang di counter itu minta uang sebesar 2,5 juta karna dia bilang aku tidak mempunyai surat itu.Aku langsung kaget,karna kepulangan ku yg hampir tiap tahun selalu baik2 aja dan nggk usah urus surat yg non sense.Terus aku nanya di counter yg lain (layanan bebas viskal)aku lihatin kontrak dan KTP ku ke pria berseragam imigrasi dan langsung bilang “mbak silahkan langsung check in aja”
For God Sake,aku bener2 nggk suka budaya Indonesia yg suka mempersulit.