IPK, Pengangguran, dan Kesempatan Kerja

May 21st, 2006 | Education

Kata rekan saya, seorang self-made entrepreneur, ”Jaman sekarang, susah sekali nyari karyawan yang jujur, capable, berdedikasi tinggi, dan bisa diandalkan untuk kemajuan perusahaan.”

Kata teman saya, lulus sarjana beberapa tahun lalu tetapi belum mendapatkan pekerjaan yang settle, ”Perusahaan sekarang suka rewel, buka lowongan ’semau gue’ dengan spesifikasi yang aneh-aneh dan sulit dipenuhi. Pekerjaan jadi susah dicari.”

Ketika mewisuda lulusannya, salah seorang dekan business school terkemuka di Amerika selalu berpidato, “Kita harus memberikan respek kepada mereka yang mempunyai nilai A, karena mereka akan kembali ke almamater menjadi dosen dan melupakan duniawi. Namun kita harus lebih membungkukkan kepala kepada mereka yang mendapat nilai B dan C, karena mereka akan kembali lagi ke kampus dengan menyumbang laboratorium, auditorium, serta menjadi penyandang dana.”

Menurut Suara Merdeka, ”Sampai akhir 2005, tingkat pengangguran merangkak naik mencapai tidak kurang dari 9,9%, Pada awal 2006, tingkat pengangguran tersebut diperkirakan masih akan meningkat menjadi lebih dari 11%.”

Sementara Kompas edisi Sabtu, 20 Mei 2006 menulis, ”Per Februari 2005, dari 155,5 juta angkatan kerja, 10,85 juta adalah pengangguran terbuka. Padahal, per Agustus 2000, dari 95,70 angkatan kerja, “hanya” 5,87 juta yang merupakan pengangguran terbuka.”

Dari ilustrasi, data, dan fakta di atas, kita bisa lihat betapa ”besarnya” kontribusi pendidikan terhadap terbukanya lapangan pekerjaan. Negeri ini mungkin punya ribuan sarjana multi-jurusan yang diyakini bisa berpikir analitis, mampu menciptakan perubahan dalam masyarakat, tetapi toh ternyata mereka belum mampu membantu diri mereka sendiri. Ini belum termasuk opportunity cost yang keluar ketika melanjutkan kuliah setamat SMU. Mengapa tidak menggunakan waktu dan biaya untuk berwiraswasta saja?

Seharusnya..

Idealnya, kampus seharusnya bisa membangun linkage yang ideal antara lulusan sekolah menengah dengan lapangan pekerjaan di dunia nyata. Bagi top-tier business school di dunia, ini bukan masalah. Mayoritas lulusan kerja mereka sukses dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji 2-3 kali dari jumlah yang mereka investasikan untuk kuliah di business school tersebut.

Bagaimana di Indonesia?

Sayangnya, di Indonesia, gap tersebut terasa begitu kentara. Ijazah sarjana tidak lagi sakral saat ini. Hal ini juga didukung fakta bahwa banyak perguruan tinggi negeri yang membuka kelas diploma, program ekstensi/swadaya, kelas malam, fast-track program, dan seterusnya. Perguruan tinggi swasta juga bermunculan tak kalah banyaknya. Akibatnya, ijazah sarjana semakin mudah (walau belum tentu murah) diperoleh. Kondisi ini masih diperparah dengan perguruan tinggi “biasa-biasa saja” yang mengobral nilai, sementara perguruan tinggi top justru dipenuhi dosen killer yang sulit memberi nilai A.

Selain dituntut menjadi linkage yang kokoh, kampus juga selayaknya bisa menjadi inkubator bisnis yang kuat. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Sun Microsystems adalah kepanjangan dari Stanford University Network, karena memang perusahaan ini memulai bisnisnya dari lingkungan kampus. Dan satu lagi, Google dan Yahoo!, juga sama-sama lahir dari kegiatan intelektual di universitas. Malah, Google adalah hasil dari proyek disertasi kedua pendirinya. Baik Google, Yahoo!, atau Sun Microsystems, masing-masing telah bertumbuh menjadi perusahaan besar dengan tingkat profitabilitas yang luar biasa.

Inilah salah satu bukti bahwa kampus, selain menjadi linkage bagi lapangan pekerjaan di dunia nyata, juga bisa menjadi inkubator yang hebat. Tanpa membunuh spirit dan mengekang kebebasan berpikir siswa didiknya. Sayangnya, lagi-lagi di Indonesia belum memiliki perguruan tinggi yang cukup mumpuni untuk menjadi inkubator bisnis yang handal.

Menurut Saya..

Dari situlah saya coba menyusun beberapa intisari berikut. Tujuannya jelas. Agar kita mencapai kesuksesan sesuai dengan kapasitas kita. Baik itu sebagai seorang pengusaha, businessman, karyawan, atau seorang siswa/mahasiswa. Antara lain sebagai berikut.

Sekolah itu (tetap) penting. Coba Anda lihat di sekeliling kita. Ada berapa banyak macam pekerjaan? Ratusan. Ribuan bahkan. Seharusnya, secara logika harus terdapat puluhan ribu macam sekolah/kampus/jurusan. Tentu saja ini tidak mungkin dilakukan. Jadi, sekolah memang tidak bisa menjadikan lulusannya benar-benar 100% siap kerja –kecuali sekolah/kursus setir mobil.

Saya bukan bermaksud menyatakan bahwa sekolah tidak penting. Sekolah dan ijazah, bagaimanapun juga, membuat entry barrier untuk mencari kerja lebih baik dibanding jika kita tidak sekolah dan tidak berijazah. Sekolah juga merupakan tempat terbaik untuk akses pengetahuan terkini, plus akses bagi orang-orang top di lingkungan akademis.

Belajar, lifelong education, juga penting. Menyambung poin di atas, sekolah memang hanya bisa mengajarkan prinsip-prinsip umum dan rerangka berpikir yang logis, analitis, dan sistematis. Jangan berharap sekolah akan menjamin pekerjaan kita kelak. Sebaliknya, sebagai siswa kita dituntut untuk bisa berpikir dan mengembangkan terus cara berpikir kita. Biarlah sekolah berkonsentrasi pada penciptaan perangkat berpikir.

Jadi, jadilah proaktif. Hidup adalah belajar. Jangan menyalahkan sekolah karena keterbatasan sekolah dalam mengajarkan materi teknis atau memberi jaminan bagi pekerjaan pasca kelulusan. Jangan pula terpaku bahwa konsep belajar hanya bisa dilakukan di sekolah. Sabda nabi, ”Tuntutlah ilmu sejak di tiang ayunan hinga di liang lahat.” Dalam statement yang lain, nabi juga bersabda,”Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina.”

Tapi memberi kontribusi adalah yang terpenting. Lifelong education will make live easy. Belajar dan berpikir adalah mulia, tetapi akan menjadi sia-sia bila tidak diaplikasikan dalam dunia nyata. Ilmu dan pengetahuan juga akan menjadi useless ketika pemiliknya tidak bisa menularkan wisdom tersebut kepada orang lain. Jika sebagian dari kita ada yang sukses di bidangnya, kemudian menularkannya pada orang lain, multiplier effect yang muncul untuk penciptaan dunia yang lebih baik adalah luar biasa besarnya. Dan semakin tinggi pengaruh seseorang, semakin tinggi pula eksistensi yang dimilikinya, karena pengaruh tersebut bisa melintasi ruang, waktu, dan bahkan, melampaui ajal.

Sungguh. Begitu banyak orang-orang pintar memenuhi penjuru dunia, tetapi sering lamban dalam mengambil keputusan-keputusan bisnis karena harus menyesuaikan dengan text-book. Kalau saya tanyakan bagaimana mengubah Rp 50 juta menjadi Rp 1 milyar dalam 12 bulan, mungkin bisa dijawab dalam sekian menit. Tapi melakukannya dalam tindakan yang konkrit? I doubt it.

Sekolah nyambi kerja/organisasi itu perlu. IPK tinggi memang penting. Akan tetapi, perusahaan kini juga memperhatikan aktivitas ekstrakurikuler seseorang ketika akan melakukan rekrutmen. Tujuannya jelas. Mereka ingin meng-hire a ”well-rounded” person, bukan semata-mata nerd.

Sekolah mengajarkan kita tentang kepemimpinan -tapi hanya dengan pengalaman berorganisasilah kita benar-benar bisa menguasai manajemen konflik dan kepentingan. Kuliah memaparkan kita tentang prinsip-prinsip budgeting –namun hanya dengan magang di sektor ritel kita bisa benar-benar memahami tentang stock opname dan expense budget.

Berinvestasilah pada human capital dan social network. Pengusaha sukses jelas tidak melakukan segalanya seorang diri. Ia menyewa orang untuk membantu dirinya dalam berbisnis. Kalau orang tersebut menghasilkan output lebih besar dari input, berarti ia memberi kemakmuran bagi perusahaan. Orang-orang tersebut mungkin telah menghabiskan waktu untuk bersekolah dan menimba pengalaman. Tanpa mereka, mustahil seorang pengusaha meraih kesuksesan.

Bisnis hanya bisa dicapai melalui jejaring sosial yang kuat dan luas. Untuk membangunnya, jelas diperlukan pengorbanan waktu dan tenaga yang luar biasa. Inilah satu-satunya aset yang paling berharga sehingga menimbulkan barrier to entry yang tinggi dan menjadikannya sulit direplikasi dengan mudah. Dengan demikian, Anda akan berada pada bisnis dengan tingkat kompetisi yang rendah; dan keuntungan jauh di atas normal memang mudah untuk diperoleh.

Going Global. Kompas edisi Sabtu, 20 Mei 2006 juga menulis, ”Bangsa ini juga menagalami brain drain untuk sumber daya manusianya. Tenaga terdidik dan profesional yang seharusnya bisa ikut membangun negara ini dibajak atau memilih hengkang ke negara lain.” Going global ataupun knowledge transfer adalah perlu –tapi jangan lupakan nasionalisme.

Baik Anda sebagai seorang pengusaha, atau seorang pekerja, sudah selayaknya Anda memiliki persepsi dan paradigma untuk bersaing dalam tataran bisnis di dunia global. Ada teknologi. Ada internet. Kalau Anda butuh pekerjaan di dunia global, bisa coba Jobs/Monster, Rent-a-Coder, atau eLance. Kalau Anda ingin merintis bisnis perdagangan internasional, bisa dimulai dari eBay Stores, atau Alibaba. Yang jelas, siapkan diri Anda untuk bersaing dengan mereka-mereka di luar sana. Dan jangan abaikan nasionalisme.

Jangan mudah terpikat pada “Cara Cepat Jadi Kaya”. Setelah era Kiyosaki, kian banyak pakar/pembicara/motivator yang kemudian menggampangkan cara menjadi kaya, apalagi dengan penekanan pada aspek non teoretis. Kalau sebuah bisnis bisa berjalan tanpa perlu teori, logikanya entry barrier bisnis tersebut sangat rendah dan orang yang tidak tahu teori (plus semua yang tahu teori) bisa terjun dalam bisnis itu. Dalam lingkungan yang overcrowded tersebut, profitabilitas pada tingkat yang normal saja menjadi sulit karena dipenuhi banyak pesaing. Inilah konsekuensi dari Red Ocean.

Andaikata buku/training/seminar tersebut memaparkan tentang entry barrier, jualan mereka menjadi kurang laku. Sejujurnya, yang mereka jual adalah ”mimpi indah”. Semakin sesuatu kelihatan gampang dikerjakan (tanpa perlu sekolah, tanpa perlu teori, dan seterusnya), semakin ”mimpi” itu terasa gampang dicapai, dan semakin laku pula para penjual mimpi tersebut. Best seller!

Jadilah unik. Silakan Anda membantah, tapi Tuhan sudah menentukan tiap manusia dengan bakat, talenta, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beethoven, adalah jenius dalam bermusik walau menderita bisu dan tuli –tapi jangan suruh dia menghitung kalkulus. Goethe adalah piawai dalam sastra dan bahasa –tapi jangan paksa ia menulis simfoni. Newton adalah pakar dalam fisika dan mekanika –tapi jangan bayangkan ia menyair atau menulis puisi. Beckham mungkin piawai dalam mengumpan bola dan melakukan tendangan bebas -tapi jangan suruh ia memprogram komputer.

Jadi, temukan keunikan dalam diri Anda. Kembangkan keunikan tersebut agar menjadi keunggulan kompetitif yang sulit disaingi orang lain. Keunggulan tersebut akan membedakan Anda dari orang lain dan pada akhirnya menaikkan nilai jual Anda.

Work hard, play hard. Dalam Qur’an 13:11 tertulis, ”Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Jadi jelas, kalau kita menginginkan kesuksesan, maka berencanalah dengan matang, berodalah secara khusyuk, berusahalah dengan sekuat tenaga, dan serahkan hasilnya pada Tuhan. Percayalah, rejeki bukan di tangan Tuhan –tapi ada di tangan (usaha) kita sendiri.

Oh iya, self-made entrepreneur yang saya sebut di paragraf awal tadi tidak pernah membaca buku-buku ”Get Rich Quick” atau mengikuti seminar ”Cara Cepat Jadi Kaya”. Beliau menikmati pekerjaannya sembari menikmati hasil dari apa yang beliau usahakan. Sementara orang lain sibuk memikirkan (memimpikan) passive income, beliau malah menikmati real income yang menumpuk di tangannya.

Respect the others. Last but by no means least, IPK tinggi atau rendah, sarjana atau bukan, valid atau tidak valid –itu urusan masing-masing. Menjadi pengusaha, businessman, atau pekerja (karyawan) yang biasa-biasa saja –itu adalah soal pilihan hidup. Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan mengandung risiko masing-masing.

Manusia memang tercipta dengan berbagai perbedaan yang tak mungkin disatukan. Jadi, jangan memaksakan orang lain untuk berpikir dan bertindak sesuai cara kita. Begitu pula, jangan merendahkan dan menghina mereka yang ada di bawah level kita ataupun iri dan berburuk sangka terhadap mereka yang berada di atas kita.

Penutup

Anyway, sudah pernah dengar anekdotnya Larry Ellison, founder of Oracle? Kata beliau kuliah itu cuma dapat BS (bull shit), kemudian MS (more shit), dan setelah itu PhD (pile high and deep).

Kata dia mendingan drop out dan mulai jadi wiraswasta.

Kalau Anda?

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Mahasiswa: Pahlawan Tanpa Jasa » Nofie Iman
  2. Comments

  3. snydez

    BS = bisa sarjana
    MS = mungkin sarjana
    PhD = phusing deh ;)

    heheh *pengen usaha gak blom berani

  4. nino

    hmm. It is inspired me.. a lot. thanxs cep

  5. gani

    negara ini emang nggak bisa nyediain cukup banyak lapangan kerja so tanpa IPK yang tinggi, kegiatan ekstrakurikuler, dan faktor luck, mestinya wisudawan/wati jangan terlalu berharap bisa langsung dapet kerjaan.
    jadi wiraswasta? butuh persiapan dan juga mungkin keberanian. apalagi mungkin sistem pendidikan sekolah yang sejak awal tidak pernah mempersiapkan anak didiknya menjadi seorang wiraswasta. juga sebagian ortu yang menganggap bekerja adalah pagi berangkat ke kantor dan sore pulang ke rumah.
    beberapa orang akhirnya memilih menjadi wiraswasta setelah merasa gagal dan putus asa karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, seakan wiraswasta selalu mrpk pilihan di urutan terakhir, bukan sesuatu yang patut dijadikan cita-cita.
    jadi sekarang bagaimana :roll:

  6. Majolelo

    Ada yang perlu ditambahin. Di Indonesia tampaknya lulusan luar negeri punya bargaining lebih tinggi untuk posisi tinggi. Jadi, mendingan kita cari beasiswa untuk belajar ke luar negeri, atau cari duit di luar negeri sekalian… :)

  7. ario dipoyono

    :razz: :razz: ha…ha…. mungkin kita juga harus angat topi untuk yang mendapat nilai D dan E, mungkin setelah lulus mereka menjadi Kyai mau bertobat

  8. randi

    Dalam Qur’an 13:11 tertulis, ”Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

    – setuju.

    btw, IPK gede mungkin bisa dimanfaatkan untuk cari beasiswa S2 **ngincer AusAid Foundation**.

  9. Oskar Syahbana

    Kalo yang IPKnya gede dan aktif di kegiatan kampus juga gimana donk mas :D

  10. ayubcharter

    Betul sekali apa yang dikatakan Mas Kita dalam artikelnya,
    Karena Kita harus lebih menundukkan Kepala kepada mereka yang mendapat nilai B atau C,karena mereka akan Kembali kekampus untuk menyumbangkan Laboratorium serta penyandang dana,
    Kita Tidak merendahkan kawan-kawan yang Mendapat Nilai A.
    Maksudnya begini, walaupun kita dikampus selalu Specialis B atau C,jangan berkecil hati dan jangan berputus asa dulu, Belajarlah lebih giat.
    Karena tujuan utama kita kuliah untuk mendapat ilmu dan mengubah pola pemikiran dengan wawasan yang luas.
    Jangan seperti katak dalam tempurung.
    Masalah Kerja tidak kerja itu urusan ke sekian,
    Kenapa begitu?
    Misalnya perusahaan X mebutuhkan tenaga Kerja Lulusan S1, dan ditempatkan di bagian tertentu. kalau kita tidak sanggup(tidak mempunyai keahlian) walaupun IPK kita 4 tetap saja kita tidak dipakai.karena disitu yang dibutuhkan skill,bukan IPK.
    IPK hanya Syarat saja.
    Jadi Kuliah Kita Bukan Buat Mencari kerja….Tetapi, Menciptakan Lapangan kerja buat Mereka yang tidak mempunyai kesempatan buat kuliah.

    Negeri kita Akan Maju,
    kalau kita mau membangun,
    Untuk membangun,kita harus terjaga lebih dahulu.
    Jangan salahkan mereka yang belum bangun,
    Tapi kerjakan apa yang bisa kita lakukan,
    Mulai dari diri kita masing-masing.

  11. ayubcharter

    Jangan Caci mereka yang berbuat salah,
    Tapi Ingatkanlah mereka.
    Kalau mereka tidak sadar dan tetap seperti itu,
    Maka serahkanlah pada Allah.
    Karena walau bagaimanapun dia tetap saudara kita,
    Jangan Jelek-jelekkan dia pada orang lain.
    Tapi, Marilah sama-sama mengingatkan.

    Bangsa Kita Akan Maju. Kalau KIta Mau Maju.

  12. Galih

    Mungkin, dikotomi, bisa ditambahkan. Antara produk pendidikan, yang memang menciptakan fasilitas, atau produk pendidikan yang melakukan optimasi fasilitas. Saat ini, kita belum banyak memiliki produk yang menciptakan fasilitas, menggantungkan diri dari investor asing.

    Lalu, pendidikan, sebaiknya, menciptakan kemandirian, bukan ketergantungan

    Tabik

  13. Murat

    just change the mindset.. coz it change everythin’s

    thx

  14. rudi chatab

    IPK rendah dapat disebabkan pelajar/mahasiswa tidak fokus. Hal yang berbeda pada saat berusaha, menjadi profesional maupun wirausaha. Sayangnya iklim wirausaha tidak diletakkan pada tempat yang utama, namun menjadi pilihan terakhir setelah tidak diterima dimana-mana.
    Untuk warga pribumi, bekerja sebagai PNS dengan harapan menjabat posisi basah dan pensiun (katanya) dan kemungkinan mendapat posisi politik menjadi impian utama. berikutnya adalah karyawan swasta. Pilihan utama sebagai wiraswasta hanya pada warga keturunan.. sehingga mereka menjadi fokus pada area tersebut.
    Untuk membangun ekonomi, bukan dengan memperbanyak karyawan, tetapi meningkatkan jumlah wiraswasta. sayangnya infrastruktur tersebut tidak pernah disiapkan oleh pemerintah… akibatnya hampir semua orang tidak percaya proses.. dan mau cepat kaya ….

  15. Nicholaz heksa

    Ip tinggi sangat penting…….klo negalamar kerja ip rendah sudah dibuang di tempat sampah

  16. pej

    untuk mengaktualisasikan diri Saya memilih wiraswasta
    meskipun demikian Sekolah tetep penting dunk, karena penting harus serius menjalaninya untuk mendapatkan IPK yang memadai karena IPK menjadi salah satu pertimbangan dalam bekerja. Mengapa bekerja ???? karena pengalaman akan menjadi pondasi dalam memulai usaha yang akan digeluti meskipun itu bukan satu-satunya cara ;)

  17. Anto

    Setelah membaca blog diatas, dengan ini saya akan berkomentar sebagai berikut :
    - Perusahaan saya waktu itu membuka lowongan untuk posisi executive n kebetulan dari ribuan pelamar (sekitar 9000an) maka yang diterima ada 2 orang salah satu (A) dari PTS tak terkenal dgn IPK 2,54 n satunya (B) Master degree dari Universitas ternama (beneran dech ternama banget di Indonesia) dgn IPK yg tinggi. Setelah satu bulan ditraining di kantor maka dua org ini dikirim ke luar negeri(Inggris) untuk training lebih lanjut selama 3 bulan. Setelah 3 bulan datanglah informasi dari pihak pentraining di London bahwa si B ternyata tak punya kompetensi apapun dan tak mampu mengikuti training dan dengan menyesal akhirnya dipulangkan sebelum waktunya n di PHK, sdg si A yg notabene di tanah air mungkin diremehkan ternyata menjadi peserta training dengan nilai tertinggi untuk seluruh kantor cabg di Asia.

    Dari hal tersebut diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa IPK tak ada berpengaruh apapun, yg penting adalah usaha n berdoa, oke thanks.

    Saya juga mempunyai pengalaman buruk yg berhubungan dgn IPK n gelar yg berjibun.

  18. winda

    Aq jd bingung ni mas mw ambil kul jur ap? kira2 yg skrg bid krj yg byk di butuhin itu ap y? ad yg bs jwb ga? Mw wiraswasta ga ad modal? so, gmn dong?

  19. Antox

    For Winda

    Sebenernya kuliah apa aja sama saja kok yg penting diri kita aja, pandai membawa diri nggak, gengsian nggak n terbuka pd perubahan nggak, kalo semua terpenuhi saya jamin u nggak akan nganggur dech

  20. haikal

    PhD: permanent head damage :P
    (dari sebuah link di internet)

  21. gustry

    for antox
    kalo kamu bilang kuliah apa saja itu sama saja… menurut aku, kuliah itu gak sama! klo pandangan kita bahwa kuliah itu semua sama, maka itdak pernah ada fokus yang akan dicapai. dalam artian bahwa setiap orang mempunyai potensi dan bakat yang berlainan, untuk membantu kita dalam mencapai tujuan yang diinginkan maka kita harus tahu siapa diri kita, kita harus mengenal diri pribadi sebelum menentukan langkah yang lebih lanjut. apalagi jenjang kuliah adalah jenjang “terakhir” yang besar kemungkinan akan turut menentukan karir anda. so… to everybody there, pelajari dan kenali dulu siapa diri anda, dalam hal apa kelebihan2 yang ada pada dirimu, dan kekuranganmu. tentukan langkah2 yang akan diambil dan fokuslah serta konsistenlah terhadap apa yang telah anda putuskan!! ingat… jangan memandang semua adalah “sama”, dan jangan anda berjalan tanpa ada arah tujuan yang jelas. thank’s…

  22. YAYAT S.

    Kesalahan terbesar generasi terdahulu adalah tidak / kurang bisa menyiapkan “next generation” yang bisa menghadapi “any problem” kehidupan.
    Apakah kita akan mengulangi somethink wrong tersebut ?

    Lakukan upaya penyiapan next generation yang lebih baik melalui : “mendidik, melatih dan mengajar” - nya yang lebih serius dan lebih baik.

    Lembaga pendidikan (sekolah) jangan hanya melakukan pembodohan dan pengkerdilan anak-anak dan hanya merupakan kegiatan pemborosan waktu bagi anak-anak.

    Pernah dengar geng ” No School” adalah geng yang tidak percaya pada pola dan sistem pendidikan yang dilakukan di Indonesia, kompetensi anak lulusan SMA kita tidak sesuai dengan kompetensi selayaknya anak usia SMA (17 -19 th), banyak waktu yang terbuang karena dipaksa mengikuti sekolah yang diyakini merupakan cara terbaik untuk mendewasakannya. padahal dia berada di dalam sistem yang tidak lebih dari upaya pemborosan waktu, biaya, otak dan tenaga.

    Lakukan Revolusi Pendidikan …..demi next generation yang lebih baik…

    Salam hormat

    YS…..

  23. MatBego

    Hidup kursus nyetir mobil !!!

    Anda-anda memang seorang pengajar/instruktur terbaik di negri ini.
    Hasil kerja keras anda 99 % bisa langsung dinikmati dan diterapkan oleh siswa-2 Anda.

  24. Endi

    Kalau menurut saya, kuliah adalah proses pola pikir menuju ke tahap yang kritis dan inovatif. Namun kebanyakan sekarang kuliah menjadi pelarian bagi sebagian anak muda untuk menghindar atau menunda terjun ke dunia nyata !

    __________________________________________
    Easy money easy job
    http://www.newinvestasi.com
    Penghasilan sangat menjajikan via kerja di internet.
    http://www.go-kerja.com

  25. goeh

    ip tinggi n organisasi luar biasa, serta kemampuan komunikasi bagus. insya Allah bakal langsung diterima.hehe, tapi untuk yang ip kurang dapat dibanggakan, jangn pernah berkecil hati yang penting kita terus berusaha mengamalkan apa yang telah diajarkan di bangku kuliah. untuk apa kuliah jika hanya ingin mendapat nilai A, kan bisa dibeli (bener kan). sekarang ijazah kan bisa beli. yang penting yang dipelajari senantiasa dipraktekan
    Dimana ada kemauan disitu ada jalan.
    smangat
    hidup penjual baso!!!!!

  26. Edward Moshaddeq

    Ini artikel Okay Banget, bikin saya terinspirasi, Thanks Boss

  27. Hik hik hik...

    Saya setuju dengan isi tulisan di atas. Hal ini adalah fenomena yang menggejala di antara kita. Lantas, bagaimana caranya seseorang bisa ’survive’ kalau lingkungan sekitar masih berkutat perihal ‘menilai seseorang dari gelar dan harta’?

    Saya belum pernah melihat ada orang Indonesia yang begitu menghargai kreatifitas kecil yang dimiliki oleh seorang anak kecil. Kita terbiasa berpikir ‘we need the best’ dengan ‘doing the best’. Bagaimana kalau apa yang sudah lakukan menurut kita adalah ‘the best’ tapi ternyata yg kita terima adalah badai cercaan ‘you’re not the best. Then, what do you have to be the best?’ Belum ada yang saya lihat, ‘be the best just fully from a single thing that you have’.

  28. Johan

    Mari bersama memerangi penggangguran dan kemiskinan !
    Mari bergabung bersama kami untuk raih keBEBASan Finansial dan Waktu, melalui program FREEDOM EXPRESS!
    Untuk mengetahui lebih detail mengenai FREEDOM EXPRESS, silahkan kunjungi website kami : http://www.GoGetFreedom.com isikan data pribadi dan alasan Anda untuk mengikuti program FREEDOM EXPRESS di menu KONTAK KAMI, maka kami akan kirimkan program FREEDOM EXPRESS pada Anda via E-mail untuk dipelajari dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, sehingga bisa tercapai IMPIAN kami untuk membantu pemerintah RI untuk PENGENTASAN KEMISKINAN di negeri kita yang tercinta ini.
    Bangkitlah Indonesia-ku - Jayalah Indonesia-ku !

  29. hanif

    pertama, hadits bahwa mencari ilmu samoai liang lahat itu dha’if (lemah).
    kedua, empat hal yang telah ditentukan oleh Allah rabbul’izzah, rezki, ajal, amal, sengsara atau bahagia. jadi pemikiran kalo rezki bukan di Tangan Allah itu salah.
    memang kita yang berusaha dan berdo’a, ini poin kepasrahan.

  30. choks

    dari jaman nabi sampai skrang, orang yg berpendidikan tinggi dan rendah, lebih banyak yg berpendidikan rendah. tapi toh mreka msih bisa hidup. malah kalau dilihat dari segi pemasukan, banyak orang2 kaya malah yg berpendidikan rendah. ini contoh bahwa dunia pendidikan bukan satu2 nya jalan untuk memperbaiki nasib.
    perspektif kita harus dirubah, bahwa tidak selamanya orang yang berpendidikan tinggi dapat mendapatkan hasil yang optimal.

  31. junods

    hanya kesempatan yang tidak dibukakan sepenuhnya, baik oleh pemerintah dan pelaku bisnis itu sendiri, terlihat koq dari pola yang terlihat, IPK > 3,00 ( dari perguruan tinggi ternama ), pengalaman ( 1 - ~ ), umur minimal ( < 29 ), yang menjadi patokan inti yang ga bisa ditawar. Padahal itu baru syarat tuk bisa masuk, belum di test dan wawancara. Jadi bagi yang kurang dari komposisi diatas, ya jangan harap bisa. Dan pada umumnya, posisi yang ditawarkan banyak ditujukan untuk level general , ex ( staff admin, marketing, customer servis, call center, dll ) yang nurut saya yah, ini pekerjaan yang sangat umum. Tetapi tetap diberikan standard yang cukup berat oleh institusi yang bersangkutan.

    Jadi jika dikaitkan dengan kondisinya, apa itu sudah final kalo salah satu atau semua kriteria yang diminta tidak bisa dipenuhi, sudah dicap tidak mampu ? Lalu bagaimana mereka ? apa mereka sudah ditakdirkan menjadi useless persons ? Saya termasuk katagori mereka. And honestly i was disappointed. Saya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan jenjang saya ( S-1 Manajemen ). Mungkin dari forum ini ada yang bisa membantu saya ? Memberikan kesempatan dan pembuktian ? Saya sangat berterima kasih atas diberikannya kesempatan tuk menulis pandangann saya, dan ada baiknya ini dijadikan renungan, Karena tiap individu tercipta sebagai mahluk dinamis, dan dinamis itu aneka ragam, dan selalu berubah ubah. Dan tidak fair juga kalo keadaan ini, dicap hanya oleh selembar kertas, atas apa yang telah diperoleh.

    Terima Kasih.

    Nb: ini adalah alamat e mail saya; junods@yahoo.com

  32. Toga

    Weleh weleh … jaman sekarang sih harus nya sudah harus “be a smart guy” … Nyari gawean udah zuzahhh. Kreatif lah dengan keadaan sekarang ini … mmm kalau perlu jadi tukang sayur pun gak apa … toh setiap orang perlu makan sayur … n yang penting halal kan ??? Masalah gengsi … gak perlu gengsi karena gengsi itu gak bikin kenyang.
    Kreatif dan Realistik lah … oke

  33. dplt

    masalahnya, di tempat sana itu banyak yang IPKnya diatas 3.75 plus aktif organisasi lagi. gimana tuh mang? kayaknya orang kayak gitu jumlahnya udah mulai makin banyak deh.

Looking forward to hear your thoughts.