Israel, Lebanon, Palestina, dan Krisis Arab
August 7th, 2006 | NewsMungkin Anda sudah jemu dengan topik ini. Apalagi, topik tersebut banyak diulas secara intensif dan repetitif pada berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Blog maupun situs internet yang mengulas tentang topik tersebut juga menjamur bak musim hujan. Masing-masing menawarkan sudut pandang, analisis, dan teori yang berbeda satu sama lain.
Saya juga tergelitik untuk menulis soal ini, meskipun bidang ini bukan merupakan bidang keahlian saya. Jujur saja, kadang saya sering gemas dengan perilaku Israel dan Amerika. Kadang saya juga merasa prihatin dan kasihan dengan saudara-saudara kita di Lebanon dan Palestina.
Tapi, apa sih sebenarnya duduk permasalahannya? Apa benar kita perlu mengirimkan laskar jihad ke sana? Bagaimana sih seharusnya kita bersikap dalam menghadapi masalah tersebut?
Mari Berpikir dengan Kepala Dingin
Saya, juga Anda semua, tentu sering berdoa dengan khusyuk. Tetapi ternyata belum dikabulkan. Padahal, kita merasa bahwa kita sudah sholat dengan baik, mengaji dengan rutin, melakukan puasa, membayar zakat, dan seterusnya. Padahal kita merasa bahwa agama selalu kita pegang dalam keseharian kita.
Sama halnya dengan saudara-saudara kita di Lebanon, Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya. Mereka pasti rutin menjalankan ibadah dengan khusyu. Mereka juga pasti setiap saat selalu berdoa memohonkan keselamatan, ketenangan, dan perdamaian.
Tapi kok sampai saat ini, wilayah-wilayah tersebut masih saja kisruh?
Padahal, setiap umat Islam (hampir) pasti memahami kalimat ini: Ud ‘unii astajib lakum; Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS 40:60).
Tidak hanya itu, di QS Al Baqarah 186 disebutkan juga, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”
Lantas, mengapa doa kita (dan doa saudara-saudara kita di sana) belum juga dikabulkan?
Doa yang Diijabahi Allah
Dalam QS Al A’raf 55 disebutkan, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Hal tersebut ditegaskan lagi pada ayat selanjutnya yang berbunyi, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Jadi, supaya doa kita bisa dikabulkan, kita haruslah:
- berdoa dengan rendah diri dan suara yang lembut,
- berdoa dengan rasa takut (tidak dikabulkan) dan penuh harapan, dan
- berbuat kebaikan agar rahmat Allah dekat kepada kita.
Pertanyaannya, mengapa pada kalimat terakhir disebutkan “rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik“? Mengapa bukan “rahmat Allah dekat pada orang yang sholat“? Mengapa bukan “rahmat Allah dekat pada orang yang berpuasa dan berzakat“? Atau “rahmat Allah dekat pada orang yang rajin pergi ke masjid“?
Sederhana saja.
Karena berbuat baik itu sulit. Berbuat baik itu kompleks. Berbuat baik itu aplikatif dan kontinu. Berbuat baik itu juga penuh tantangan dan jelas tidak mudah untuk dilakukan.
Dalam lingkungan kita terkecil (baca: keluarga), apakah kita yakin bahwa kita sudah berbuat baik? Apa kita yakin bahwa kita sudah mendidik istri kita dengan baik tanpa merendahkan martabatnya? Apa kita juga yakin bahwa kita sudah memberi pelajaran kepada anak-anak kita tanpa menggunakan emosi dan kekerasan?
Dalam lingkungan pekerjaan, apa kita sudah yakin kalau kita mencari duit tanpa memotong hak orang lain? Bagaimana kita bersikap kalau rekan kerja kita sikut-sikutan dengan kita? Apa kita yakin bahwa sebagian rizki kita sudah disisihkan buat fakir miskin dan anak yatim?
Dalam lingkungan sosial dan bertetangga, apa kita yakin kalau kita nggak pernah menggunjingkan tetangga kita? Apakah kita yakin kalau masalah-masalah yang muncul kita selesaikan dengan solusi yang tuntas namun tetap islami?
Kalau kita belum yakin bahwa kita benar-benar telah berbuat baik, maka sudah sewajarnya kalau Allah SWT mem-pending doa-doa kita.
Balas Dendam dalam Islam
Lalu, bagaimana kita menyikapi tindakan agresif Israel terhadap Lebanon dan Palestina? Perlukah kita melakukan tindakan-tindakan balasan? Perlukah laskar-laskar jihad dikirimkan ke sana?
Dalam Qur’an, selalu disebutkan betapa Allah SWT memiliki sifat Maha Pengampun (ghafur). Di sisi lain, kita juga tahu bahwa Rasulullah juga dikenal dengan sifat lembut dan pemaafnya. Jadi, bicara soal balas dendam, tangan dibalas tangan, nyawa dibalas dengan nyawa, sesungguhnya tidaklah relevan.
Pernah diceritakan bahwa ketika Rasul pergi ke masjid, dalam perjalanannya selalu dilempar kotoran unta. Sampai suatu hari tidak ada lagi yang melempari beliau dengan kotoran unta. Rasul menanyakan kemana absennya si pecanda tersebut. Ternyata orang yang selama ini melempari Rasul sedang jatuh sakit. Akhirnya, sepulang dari masjid, Rasul menjenguk dan mendoakan si pecanda tersebut hingga sembuh. Cerita selesai.
Kalau kita baca di QS An Nahl 126, disebutkan bahwa, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu[*]. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” Footnote pada ayat tersebut maksudnya “pembalasan yang dijatuhkan atas mereka janganlah melebihi dari siksaan yang ditimpakan atas kita.”
Memang sih, boleh-boleh saja kita membalas siksaan yang ditimpakan kepada kita, tetapi harus sesuai dengan apa yang mereka timpakan kepada kita. Tetapi, kalau kita ingin mendapat rahmat Allah SWT, maka sudah tentu selayaknya kita tidak melakukannya. Inilah alasan mengapa Rasul tidak membalas lemparan kotoran unta dari si pecanda tersebut.
Pada QS Ali Imran 159, Allah berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[*].” Dalam footnote tersebut, dijelaskan bahwa “urusan itu” mencakup urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.
Jadi, sudah sangat jelas sekali bukan? Kalau Rasul saja bisa begitu sabar dan sangat pemaaf, kenapa kita nggak?
Amerika dan Israel vs Lebanon dan Palestina
Memang sudah sejak lama Amerika menerapkan double standard dalam menjalankan kebijakan politik luar negerinya. Sebagian dari Anda mungkin juga tahu bahwa disinyalir perusahaan-perusahaan Amerika banyak yang “menyumbangkan” dananya ke Israel. Amerika juga sering memanfaatkan hak veto yang dimilikinya untuk membela kepentingan Israel.
Anda mungkin juga tahu bahwa George Bush adalah tamatan MBA dari Harvard Business School, tetapi reputasinya sangat “luar biasa”. Sebagian dari Anda mungkin juga tahu bahwa Condoleezza Rice adalah seorang PhD yang ahli dalam bidang perang dan agresi militer. Jadi, sikap agresif Amerika kali ini merupakan sesuatu yang sesungguhnya mungkin bisa sedikit “dimaklumi”.
Maka, kalau kita mengacu pada QS An Nahl 126, seharusnya kita menyikapi sikap Amerika dan Israel tersebut dengan cara:
- Membalas balik tindakan mereka, tetapi melalui kebijakan ekonomi dan intervensi politik sebagaimana apa yang mereka lakukan terhadap bangsa-bangsa Arab; dengan tanpa melebihi batas. Atau,
- Bersikap sabar dan memaafkan tindakan mereka.
Kalau kita ambil opsi #1, hukumnya “boleh”, tetapi jelas rahmat Allah tidak akan diturunkan kepada kita. Sementara jika kita memilih opsi #2, insya Allah rahmat dan maghfirah Allah SWT akan selalu menyertai kita.
Masalahnya, saudara-saudara kita bukannya memilih salah satu diantara opsi tersebut di atas.
Embargo ekonomi Amerika (dan Israel) dibalas dengan menculik dan membunuh tentara Israel. Intervensi politik Amerika (dan Israel) dibalas dengan melakukan aksi bom bunuh diri. Ketika Amerika dan Israel mengisolir wilayah mereka, malah mereka balas dengan mengebom WTC dan Pentagon.
Kalau sudah begini, wajar kan Amerika dan Israel mencak-mencak dan marah bukan kepalang?
Ibaratnya, kalau saya ini anak seorang kyai, lalu saya menantang berkelahi preman di kampung saya, bisa-bisa saya sekeluarga mati konyol. Apalagi, orang yang saya ajak berantem adalah orang yang benar-benar troublemaker. Jadi, lengkaplah sudah.
Penutup
Dari sepenggal uraian di atas, rasanya sudah bisa kita simpulkan sendiri sikap dan tindakan yang harus diambil dalam menghadapi persoalan ini. Membenci Amerika jelas bukan merupakan tindakan yang arif. Menghancurkan Israel juga tentu tidak bisa serta merta dibenarkan.
Perlu dicatat bahwa setiap peristiwa yang terjadi di muka bumi ini selalu atas ijin Allah SWT. Jadi, nggak perlu lah kita menghujat apa yang sudah (dan sedang) terjadi.
Last but not least, yuk kita sama-sama berbuat kebaikan di muka bumi ini. Bersujud dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah SWT. Supaya rahmat Allah selalu menyertai kita. Supaya kita dijauhkan dari musibah dan masalah. Supaya doa-doa kita bisa selalu dikabulkan.
Karena sesungguhnya, doa kita bisa saja menjadi “bom” bagi mereka.



Comments
August 7th, 2006 at 5:41 pm
uraian yang menarik mas Iman, jika saja masalahnya ’sesederhana’ itu…:)
terkait masalah balas dendam, kira2 dorongan situasi yang bagaimanakah muslim diperbolehkan melakukan perlawanan? jika dilihat sejarahnya, apa sih yang mendorong rosulullah Muhammad waktu itu menempuh jalan perang pada sebuah titik dalam fase kerasulannya?
hhmm…untuk pernyataan diatas, agaknya ndak sesederhana itu deh mas. diskusi mengenai berdirinya israel sendiri, kita bisa menghabiskan waktu 7 hari 7 malam nih dan belum tentu mencapai titik sepakat, apalagi kalo dinyatakan ‘cuma’ embargo ekonomi oleh mereka :)
August 8th, 2006 at 12:20 pm
ada benernya juga sih, orang2 yahudi israel lebih hebat berpolitik. kalau punya duit mereka beli negara, beli senator amerika, beli media massa. orang muslim arab kalau punya duit lebih suka foya2 :(.
August 10th, 2006 at 12:40 pm
I think its OK to send jihad to Lebanon. In a way, kita dumping a load gitu loo Mas. Stupid load that is. FPI di Indonesia kerjanya apa sih mas? bikin kerusuhan, hancurin bisnis orang dan itu semua demi sesuap nasi. bukan karena agama dan bukan karena prinsip tapi karena masalah perut. jadi mereka telan aja semua yang di omongin kiai2 gak jelas itu. dengan mengirim mereka ke sana, mereka so pasti mati tooo. jadi orang di indonesia makin dikit yang bikin kerusuhan. bener gak?
You want peaceful country? send all FPI (Fraksi Preman Indonesia) to Lebanon.
August 10th, 2006 at 3:50 pm
memang amerika dan israel harus mendapatkan lawan yang sebanding, sya juga bingung kenapa rusia selaku penyeimbang kekuatan dari amerika malah tidak berbuat apa-apa
August 11th, 2006 at 7:25 pm
Membenci Amerika jelas bukan merupakan tindakan yang arif. Menghancurkan Israel juga tentu tidak bisa serta merta dibenarkan.. Oke deh… Jadi kita nonton di TV dan baca koran soal perang itu ya. Asiik.
August 11th, 2006 at 11:03 pm
saya setuju pendapat anda. sabar, ikhlas. TAPI jika saatnya perang, ya perang, jangan lari. Rasulullah orangnya sabar, tapi jika PANGGILAN perang itu datang, maka tidak ada alasan untuk melarikan diri.
August 15th, 2006 at 8:55 am
Yahudi - Amal Syiah (cikal bakal Hizbullah) pernah menjalin “persahabatan”, tapi berakhir dengan penghianatan oleh Hizbullah: what a poor innocent israel, betrayed by their old friend…hik hik..hik…
Jika Israel pernah bersahabat dgn Hizbullah, artinya Israel “mengenal” dan memiliki acces - walaupun hanya sedikit - ke Hizbullah. Lalu kenapa Israel menyelesaikan insiden penculikan 2 tantara nya dengan kalap dan serangan bom? Bukankah israel dapat secara “manis” membujuk kawan lama nya. Atau mengirim Mosad utk melakukan misi killing them softly - penculik dan bos ya tentu sangat mudah di identifikasi Israel… maklum kawan lama… Apakah Mosad telah kehilangan inteligensi nya sehingga misi sederhana ini bisa menjadi mission impossible ?
Hal lain, apa untung nya bagi Israel membalas kesalahan kawan lamanya dengan menyerang penduduk sipil dan fasilitas publik Lebanon ? Bukankah ini semakin menunjukkan pada dunia kebodohan dan kekejaman Israel ? Hipotesa lain yg agak basi—>> penculikan 2 tentara tsb hanya merupakan “casus belli” agar Israel+Amerika dapat “membebaskan” Lebanon dari kekejaman Hizbullah seperti Amerika telah “membebaskan” dan “membawa damai” bagi Iraq ? Tapi kebebasan apa yg bisa dicapai dengan membom anak2 yg tidak tahu menahu soal politik, menghancurkan rumah, jembatan, rumah sakit, kebun2, dan infrastruktur lain ?
Atau Israel+Amerika sedang menyusun konvensi baru pengganti konvensi lama Geneva: di peperangan sekarang halal dan boleh2 aja kok membunuh anak2, wanita, menghancurkan fasilitas publik demi tujuan tertentu. Naudzubillah min zalik. Dunia sedang menyaksikan Israel menghancurkan aturan2 universal, sementara rakyat Amerika, suatu masyarakat yang paling “demokratis” di muka bumi ini juga sedang mendukungnya. Apa mereka lupa bahwa yg diatas sedang menyaksikan nya ?
August 15th, 2006 at 9:01 pm
Hakikat Syiah di Libanon
(Melihat Lebih Dalam Sejarah Gerakan Hizbullah Syiah Dan Sikapnya Terhadap Palestina)
Saat ini hampir seluruh mata tertuju kepada sebuah negeri bernama Libanon yang negeri tersebut saat ini sedang porak poranda dihantam oleh rudal-rudal yahudi. Sebuah perang diawali penculikan yang dilakukan oleh Hizbullah (milisi penganut agama syiah rafidhoh) yang menimbulkan tanda tanya besar pada dunia Islam. Adakah ini benar sebuah perjuangan Islam dan pembelaan terhadap kaum muslimin palestina oleh milisi amal hizbullah, dan perjuangan jihad Islam untuk membebaskan palestina.
Kenyataannya adalah sebagian besar kita terlalu mudah menyimpulkan bahwa inilah perjuangan Islam sebelum melihat dan benar-benar mengetahui sejarah sebenarnya Milisi amal hizbullah yang menganut agama syiah itu berdiri dan sejarah tentang mereka di libanon.
Tulisan ini memang terasa berat saya turunkan ditengah-tengah euphoria kaum muslimin, yang seakan-akan mendapat pahlawan baru, ditengah-tengah kesedihan kaum muslimin melihat banyaknya korban dan kerusakan yang terjadi oleh yahudi laknatullah. Tulisan ini sama sekali bukan untuk menggembosi perlawanan kepada yahudi dan menggembosi perjuangan membela kemerdekaan palestina, tulisan ini didasari atas kecintaan terhadap kaum muslimin, peringatan kepada mereka agar mereka lebih jeli dalam menilai sesuatu, mengetahui mana musuh mana kawan, dan mana perjuangan Islam sesungguhnya yang menetapi Manhaj Al Qur’an dan Sunnah yang shahihah, seperti manhajnya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, jalannya Al Faruq Radiyallahu anhu, pedangnya Salahuddin Al Ayyubi yang telah jelas membebaskan Al Quds dari cengkraman kaum kuffar.
Sejarah Hizbullah Syiah di Libanon tidak bisa kita lepaskan dari peristiwa sejarah terjadinya perang saudara di Libanon, yang melibatkan lebih dari satu kelompok diantaranya Rezim Syiah Syiria An Nashiriyah, Syiah Imamiyah dalam milisi-milisi amal dan pasukan Libanon.
Perang Saudara di libanon bermula dari peristiwa otobis di Ain Ar Ramanah pada tanggal 13/4/1975. orang-orang palestina yang mendiami tenda-tenda pengungsian mendapati mereka menjadi bagian dari perang ini. Kekuatan militer Syiria melakukan intervensi dengan mengerahkan pasukan yang berjumlah tiga puluh ribu orang tentara dan mereka terlibat dalam peperangan sengit. Dan militer syiah Syiria ini dibantu oleh gerakan amal syiah melawan Pasukan Libanon. Dimulai dari memboikot Tal Za’tar, pemboikotan yang memaksa para pengungsi palestina kelaparan karena adanya larangan bantuan roti dan obat-obatan disertai pengeboman yang terus menerus diarahkan para tenda-tenda pengungsian palestina kemudian hal yang sama dilakukan pula di perkemahan Ain Al Hulwah sehingga hancurlah seluruh perkemahan secara keseluruhan..
Orang-orang Syiah Syiria ini bersama milisi amal menyembelih anak-anak dan orang-orang tua serta merobek isi perut dan menodai kehormatan para wanita. Sedangkan berita yang mereka siarkan keluar adalah hal ini mereka lakukan untuk menghentikan perang saudara. (Wa ja’a Daur Al majus 2/42-44)
Kemudian kita beralih ke tahun 1982 dimana terjadi invasi ke libanon oleh Yahudi dengan jumlah sekita dua puluh ribu tentara. Yahudi menginvasi wilayah selatan lebanon dalam waktu yang sangat singkat karena disana mereka tidak mendapatkan perlawanan malah mereka mendapatkan kalungan bunga oleh orang-orang syiah libanon. Yang kemudian mereka lanjutkan perjalanannya ke beirut yang disana mereka mendapat penyambutan oleh penduduk Al Maruniyah dan memberikan mereka bantuan. Kekuatan militer yahudi inilah yang membombardir Beirut bagian barat wilayah yang didiami ahlussunnah. Kemudian semua jalur obat-obatan dan makanan baik dari darat, laut dan udara ditutup oleh yahudi dan dibombardir secara terus menerus, salah satunya adalah yang terjadi pada hari Ahad 1/8/1982 selama kurang lebih empat belas jam rudal-rudal yahudi membombardir beirut barat yang menghabiskan lebih 180.000 proyektil, yakni rata-rata lebih 214 proyektil per menit. Pemboman seperti ini berlansung lebih dari dua belas hari pada bulan yang sama. Kemudian setelah itu orang-orang syiah rafidhah dan syiah druz serta orang-orang sekuler menuntut organisasi pembebasan palestina (PLO) untuk keluar dari beirut bahkan seluruh lebanon dan terjadi (wa ja’a daur al majus 2/49).
Dan yang lebih parahnya lagi sikap Syiah rafidhoh di libanon mereka merestui kemenangan ini, karena israel telah mewujudkan impian mereka dengan mengusir orang-orang palestina dari wilayah selatan libanon. Siaran-siaran beita musuh zionis memuat penjelasan para pejabat mereka dalam mendukung israel.(Wa Ja’a Daur Al-majus 2/50)
Koran Al Anba’ Al Kuwaitiyah pada tanggal 30/4/1985 memberitakan dengan judul ” Orang-orang israel menyita persenjataan kelompok-kelompok sunni saja” orang-orang israel hanya membatasi penyitaan senjata ini pertama-tama kepada orang-orang palestina, kemudian kepada orang-orang Sunni Libanon adapaun gerakan amal serta milisi druz tidak ada penyitaan apapun kepada mereka.
berawal dari kelompok perlawanan Syiah, AMAL (batalyon Perlawanan Lebanon) Al Islamiyah — Hizbullah yang berdiri resmi pada 1984. gerakan amal adalah gerakan bersenjata yang tumbuh di libanon. Ia sangat membenci sebenarnya bukan kepada musuh zionis tetapi kepada para penduduk perkemahan palestina dan Beirut barat, itu karena mereka para umumnya adalah orang-orang Sunni. Gerakan Amal mendapat dukungan dana dari Rezim Syiah An Nashiriyah di Syiria dan dari rezim Imamiyah di Iran.
Gerakan Amal telah melakukan dan bahkan sudah sering melakukan pembantaian terhadap ahlussunnah yang bahkan mungkin zionis yahudi sendiri belum melakukan hal demikian. Pada malam senin 20/5/1985 M, milisi Amal menyerbu perkemahan Shabra dan Syatila. Mereka menahan semua pegawai rumah sakit Gazza. Pengeboman mulai dikendalikan dengan menggunakan mortir dan kontak senjata langsung dan serangan terus melebar hingga mencapai perkemahan palestina Burj Al Barajinah. Peperangan yang dilakukan gerakan Amal semakin membabi buta membunuh laki-laki, para wanita dan anak-anak. Sementara itu para pejuang palestina hanya mempertahankan diri saja tidak dapat mundur dari tempat mereka, walaupun demikian para pejuang palestina akhirnya berhasil bangkit namun kemudian seorang panglima brigade enam pasukan Libanon memerintahkan anak buahnya untuk membantu gerakan Amal dalam membunuhi orang-orang palestina yang ahlussunnah tersebut. Perlu diketahui anggota brigade enam semuanya adalah orang-orang syiah yang dipimpin oleh panglima Nabih Beri seorang Syiah.
Memang terdapat beberapa kali usaha untuk menghentikan perang, namun hal ini sama sekali tidak berhasil karena para pemimpin Gerakan Amal Syiah adalah orang-orang yang suka ingkar janji dan berbohong (taqiyyah). Yang akhirnya perang terus berlanjut ditambah lagi dengan brigade delapan pasukan libanon yang juga bergabung memerangi orang-orang palestina bersama Pasukan dari rezim An nashiriyah Syiah Syiria mereka mengepung perkemahan palestina Al Khalil di daerah Biqa’ kelompok ini semua mendapatkan keuntungan dari pengeboman yang dilakukan oleh pesawat-pesawat tempur zionis di perkemahan.(Wa Ja’a Daur Al Majus 2/81-84) dan semua berita-berita ini pembantaian ini berusaha ditutup rapat-rapat oleh Gerakan Amal dan semua antek-anteknya di Libanon.
Koresponden surat kabar Sunday Times tanggal 3/6/1985 mengatakan “Sungguh mustahil meliput berita-berita pembantaian secara teliti, karena Gerakan Amal melarang para photographer masuk ke dalam perkemahan. Sebagian dari mereka mengancam dengan kematian. Telah terjadi penarikan beberapa orang koresponden, karena khawatir atas mereka dari penculikan dan pembunuhan, mereka yang masih tersisa di Libanon mendapatkan kesulitan dalam bertugas..” dan mereka juga menyebutkan, bahwa beberapa orang palestina dibunuh di rumah sakit-rumah sakit di Beirut, dan sejumlah jenazah orang-orang Palestina ditemukan dengan kondisi leher-leher mereka telah disembelih.
Kantor berita Prancis di hari yang sama menyebutkan ” Sesudah jatuhnya perkemahan Shabra, kelompok-kelompok syiah dan Gerakan Amal menyebar dengan penuh semangat di setiap sepuluh dan dua puluh meter untuk menghalangi para jurnalis dan photographer untuk mengambil gambar apa pun.
Kemudian Surat kabar Al Wathan Kuwait menyebutkan” gerakan amal dan brigade enam melarang para koresponden surat kabar untuk masuk, bahkan sesudah tumbahnya perkemahan Sabra. Mereka merusak semua kamera dan film yang telah berhasil diambil oleh sebagian jurnalis tentang bekas-beaks darah saja.(Wa Ja’a daur Al Majus 2/90-92).
Sebuah sumber menyebutkan bahwa adanya kesaksian dua orang tentang Gerakan Amal mengumpulkan puluhan korban luka-luka dan rakyat sipil selama delapan hari peperangan di ketiga perkemahan, kemudian membunuh mereka. Di antara mereka terdapat empat puluh lima orang korban luka-luka di rumah sakit Gazza. Surat Kabar republika Italia di hari yang sama menyebutkan bahwa di Syatila seorang palestina yang mengalami cacat, tidak dapat berjalan sejak beberapa tahun mengangkat kedua tangannya memohon pertolongan dan belas kasihan dihadapan komponen-komponen gerakan Amal. Jawaban yang didapatnya adalah dia ditembak hingga tewas. “Ini benar-benar sebuah kebiadaban” tulis surat kabar tersebut (Wa Ja’a Daur Al Majus 2/90-92).
Jhon Kevins dalam surat kabar New York Times melaporkan “dikatakan disana sejumlah jurnalis masuk kedalam perkemahan Burj Al barajinah. Dari dekat perkemahan tampak keadaan sangat hancur bahkan sebagian orang-orang Palestina menyebutkan bahwa Israel tidak berbuat sesuatu pada mereka seperti yang telah diperbuat Gerakan Amal. Di dalam perkemahan itu terdapat kebencian, bukan hanya kepada milisi-milisi Amal, bahkan kepada Syiria yang dianggap dalam skup luas telah merencanakan mengepung perkemahan dan mendukung untuk menghancurkan pengarus Yasir Arafat pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan untuk mengkonsolidasi kekuasaannya atas Libanon melalui perwakilannya.(Wa Ja’a Daur Al majus 2/105-106)
Hubungan Dengan Yahudi
Kantor berita Reuter mengatakan dalam penjelasannya di An Nabathiyah pada tanggal 1/7/1982, “Kekuatan militer zionis yang telah menduduki Palestina, mengizinkan organisasi Amal untuk melindungi milisi-milisi tertentu yang ikut dengannya dan membawa semua persenjataan miliknya. Salah seorang pemimpin milisi organisasi Amal yang bernama Hasan Musthafa menjelaskan bahwa senjata-senjata ini akan dipergunakan untuk membela diri kami dari orang-orang Palestina. Setelah Israel mengumumkan keinginanya untuk menarik mundur pasukannya dari Libanon. Organisasi amal meningkatkan pengejarannya terhadap Organisasi Pembebasan Palestina di Beirut barat.
Surat kabar Yerusalem Post dalam salah satu terbitannya tanggal 23/5/1985, memberikan pernyataan “Tidak semestinya mengabaikan bersatunya kepentingan Amal dan Israel, yang dibangun atas dasar keinginan bersama untuk menjaga wilayah selatan Libanon” kemudian Ehud barak kepala intelejen militer Yahudi juga menyatakan” Saya sangat percaya bahwa Gerakan Amal akan menjadi satu-satunya front yang menguasai wilayah selatan Libanon”
Sementara itu Menteri Luar Negeri Swedia, Beir Obeirt juga memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, yang dinyatakannya di Jenewa pada tanggal 24/6/1985. Dia membawakan surat dari pemimpin Gerakan Amal Syiah, Nabih Bari kepada pimpinan Israel tetapi dia menolak memberikan penjelasan tentang surat tersebut.(Wa Ja’a Daur Al-Majus 2/160-162)
Majalah Al Arabi tanggal 24/10/1983 memberitakan tentang pertemuan majalah tersebut dengan Haidar Dayekh salah seorang pimpinan Amal di wilayah selatan.
Haidar Dayekh mengatakan” semua orang mengetahui dan pemerintah pun juga, bahwa kami membawa senjata sejak permulaan terjadinya berbagai peristiwa. Kami terlibat dalam peperangan melawan terorisme palestina dan menghentikan aksi kekerasan yang terjadi di wilayah selatan” Kemudian dia mengatakan lagi “Kami sudah membawa senjata sebelum Israel masuk ke wilayah selatan, walaupun demikian mereka membuka kedua tangannya pada kamu dan senang bisa membantu kami, mereka membasmi terorisme Palestina dari wilayah selatan dan lainnya. Kami tidak akan dapat membalas kebaikan mereka dan kami tidak akan meminta apapun dari mereka agar kami tidak mengacaukan mereka”(Wa Ja’a Daur Al Majus 2/163-165).
Kemudian sebagian gerakan AMAL ini berpecah. Penjajahan Zionis Yahudi ke atas Lubnan dan juga operasi “Peace in Galilee” yang dilancarkan oleh Sharon pada ketika itu Zionis yahudi yang telah menerima kekalahan besar pada awalnya melawan orang-orang Palestina. Ini dapat dilihat pada angka kematian 500 tentara mereka akibat operasi tersebut, sepertimana yang telah disebutkan oleh Robert Fisk di dalam bukunya Pity the poor nation. (Fisk (1992), Pity, London: Oxford Univ. Press, hal. 270). Kerugian yang amat besar di pihak Zionis ini telah memaksa partai Likud yang memerintah pada waktu itu untuk menerima usul Amerika untuk menyelesaikan isu penjajahan tersebut. Likud terpaksa akur dengan keputusan tersebut karena bimbang kehilangan dukungan rakyat Israel terhadap mereka.
Ronald reagen, Presiden AS pada waktu tersebut telah menghantar Philip Habib sebagai wakil mereka untuk menyelesaikan peperangan tersebut. Philip telah menjadi orang tengah di antara rejim Zionis dengan milisi-milisi di Lubnan. Presiden Lubnan pada waktu itu, Ilyas Sikis telah membentuk Dewan Penyelamat Nasional yang terdiri daripada lima orang wakil kelompok-kelompok di Lubnan. Berri merupakan salah seorang daripada mereka. Melalui perbincangan dengan Philip, beberapa keputusan telah dicapai. Antaranya, Kedua-dua belah pihak bersetuju untuk gencatan senjata dan juga mengahalau para pejuang PLO yang berpusat di Lubnan keluar daripada negara tersebut
Dan berdasarkan keputusan perundingan Philip Habib, para pejuang PLO terpaksa meninggalkan Lubnan secara beransur-ansur, maka berhasillah gerakan Amal Syiah yang akhirnya menjadi Hizbullah menguasai seluruhnya Libanon Selatan diatas kekuasaan mereka sebagai kelompok Syiah Rafidhoh dukungan Iran.
Maka hari ini seharusnya kita harus lebih teliti dalam menilai setiap peristiwa yang terjadi, bercermin dari sejarah kelam yang pernah terjadi di Libanon. Yang kita sama sekali tidak mengetahui ada apakah dibalik semua ini, tujuan apakah yang sebenarnya tersembunyi…Tapi suatu hal telah jelas kita ketahui kemerdekaan Palestina dan bebasnya Al Quds bukanlah termasuk tujuan perang ini.
Maka kita tak perlu terpukau ketika Hasan Nasrallah mengatakan “(Sebenarnya) saya tak ingin menyatakan bahwa Hizbullah bukan berperang mewakili Hizbullah, tapi mewakili umat (Islam). Namun kemana umat itu kini dalam perang ini?” banyak kaum muslimin yang terkagum-kagum dan tertipu dengan pernyataan ini. Padahal justru seakan-akan Hasan Nasrallah ingin mengatakan bahwa hanya dirinya dan Hizbullah saja yang memerangi Israel dan menghilangkan dan menihilkan perjuangan kaum muslimin yang lain yang berjuang di Palestina, gaya seperti ini mirip yang dilakukan tokoh idola Hasan Nasrallah sendiri Khomaini yang dahulu menyatakan revolusi Iran adalah revolusi Islam namun kemudian mengantung Syeikh Ahmad Mufti Zadah pada tahun 1993 (tokoh ahlussunnah Iran salah seorang yang termasuk pendukung revolusinya).
Dan mengirimkan tentara-tentara untuk membunuh gurunya sendiri yaitu Ayatollah Syariat Madari yang menentangnya dalam konsep wilayatul faqih ((Dr.Musa Al Musawi-At Tsauratuu Al Baaisah hal.51).
Dibalik semua Fitnah yang terjadi ini, marilah sama-sama kita berdoa kepada Allah Ta’ala. Karena dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
August 15th, 2006 at 9:07 pm
Bangsa Israel telah ada, walaupun tidak dalam bentuk negara, dan hidup berdampingan dengan bangsa Arab: di Jordan, Yaman, Mesir, Maroko dan negara Arab lain, Turki dan juga Palestina. Tapi kekacauan terjadi setelah pembentukan “negara” Israel oleh imperialist/kolonialist dimana pembentukan negara tersebut lebih dilandaskan faktor emotional faham keagamaan Judea-Christian, dan bukan oleh faktor rational.
Suka atau tidak suka, ini nampak dari dukungan Kristiani, termasuk yg berada atas Israel. B ahkan dengan mengibar2kan jargon “Promised Land”. Padahal Promised Land adalah suatu konsep yg sudah Expired -kelewat masa dan zaman nya-, Karena bila di eksekusi di zaman modern ini, konsep tsb memberikan hak Isarel utk membunuh org Budha/Hindu/Suku pedalaman yg pagan:memiliki banyak dewa/tuhan dan menyembah patung2. Bahkan jika kita bertanya pada rabbi yahudi, kristen pun masuk dalam kategori paganisme. Sedangkan orang2 Palestina sekarang adalah penyembah Satu Tuhan, tidak menyembah patung2/dewa2.
Intinya, negara Israel menurut pandangan saya adalah proyeksi dan usaha “membangunkan” kembali kisah2 di Injil dan Taurat di dunia modern sekarang. Akibat nya sangat fatal seperti yg terjadi dan kita lihat:pembunuhan dan pertumpahan darah yang tak berkesudahan. Ini seperti membangunkan kembali firaun, namruz, kaisar2 romawi, cina dan pemimpin2 baheula lainnya di dunia modern ini. Akibatnya—>> Chaos Civilization…
Of Israel, Harvard and David Duke
Sunday, March 26, 2006; B05
International relations scholars John J. Mearsheimer of the University of Chicago and Stephen M. Walt of Harvard University ignited a furious debate last week with their lengthy essay “The Israel Lobby,” appearing in the London Review of Books. Their argument — that the influence of a powerful pro-Israel lobby in the United States threatens U.S. national security — has reverberated through academic and policy circles, the media and the blogosphere. A sampling of their article and the ongoing controversy:
THE ESSAY
“Since the October War in 1973, Washington has provided Israel with a level of support dwarfing that given to any other state. It has been the largest annual recipient of direct economic and military assistance since 1976, and is the largest recipient in total since World War II, to the tune of well over $140 billion (in 2004 dollars). Israel receives about $3 billion in direct assistance each year, roughly one-fifth of the foreign aid budget, and worth about $500 a year for every Israeli. . . .
Other recipients get their money in quarterly installments, but Israel receives its entire appropriation at the beginning of each fiscal year and can thus earn interest on it. Most recipients of aid given for military purposes are required to spend all of it in the U.S., but Israel is allowed to use roughly 25 percent of its allocation to subsidize its own defense industry. It is the only recipient that does not have to account for how the aid is spent, which makes it virtually impossible to prevent the money from being used for purposes the U.S. opposes, such as building settlements on the West Bank. Moreover, the U.S. has provided Israel with nearly $3 billion to develop weapons systems, and given it access to such top-drawer weaponry as Blackhawk helicopters and F-16 jets. Finally, the U.S. gives Israel access to intelligence it denies to its NATO allies and has turned a blind eye to Israel’s acquisition of nuclear weapons. . . .
Since 1982, the U.S. has vetoed 32 Security Council resolutions critical of Israel, more than the total number of vetoes cast by all the other Security Council members. . . .
[S]aying that Israel and the U.S. are united by a shared terrorist threat has the causal relationship backwards: The U.S. has a terrorism problem in good part because it is so closely allied with Israel, not the other way around. . . .
[T]he Lobby’s campaign for regime change in Iran and Syria could lead the U.S. to attack those countries, with potentially disastrous effects. We don’t need another Iraq. . . .”
THE CONTROVERSY
Harvard Law professor Alan M. Dershowitz: “These are two serious scholars and you need to expose what they have done as ignorant propaganda.” (Jerusalem Post)
Juancole.com: “Political scientists John Mearsheimer (University of Chicago) and Stephen Walt (Harvard) bravely take on the issue of the pro-Israel lobby in Washington and the way it distorts U.S. foreign policy in the Middle East. Most American Jews deeply disagree with the policies advocated by the American Enterprise Institute, the Jewish Institute for National Security Affairs, etc., but a sliver of the political spectrum, falsely insisting that it represents all American Jews, manages to skew U.S. politics and reporting on the issue of Palestine.”
Dennis Ross, President Clinton’s Middle East envoy: “It is basically a series of assertions. They quote only those people who basically have this point of view and don’t take a serious look at anything in a more profound way. It is masquerading as scholarship.” (New York Sun)
Rosner’s Blog: “The new study . . . presents an interesting dilemma to the writer: Do you ignore it — having concluded it is biased, one-sided, foolish, repetitive, and most of all, has nothing new to offer — or do you write about it, knowing that the ‘Harvard,’ ‘Chicago,’ ‘professors,’ ‘Kennedy School’ labels will make it acceptable anyway, even newsworthy, in the eyes of many. In short: Does one need cooperate with the advancement of the cause of academic garbage?” (Haaretz.com)
David Duke: “It is quite satisfying to see a body in the premier American university essentially come out and validate every major point I have been making since even before the war even started.” (New York Sun)
Danieldrezner.com : “Walt and Mearsheimer should not be criticized as anti-Semites, because that’s patently false. They should be criticized for doing piss-poor, monocausal social science.”
Ruth R. Wisse: “[I]t would be a mistake to treat this article on the ‘Israel Lobby’ as an attack on Israel alone, or on its Jewish defenders, or on the organizations and individuals it singles out for condemnation. Its true target is the American public, which now supports Israel with higher levels of confidence than ever before.” (Wall Street Journal)
Committee for Accuracy in Middle East Reporting in America: “Even a cursory examination of ‘The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy’ reveals that it is riddled with errors of fact, logic and omission, has inaccurate citations, displays extremely poor judgment regarding sources, and, contrary to basic scholarly standards, ignores previous serious work on the subject.”
THE FALLOUT
Mearsheimer and Walt’s study appeared earlier this month as an 83-page “Faculty Research Working Paper” on the Web site of Harvard’s John F. Kennedy School of Government, where Walt serves as academic dean. Following the uproar, the Kennedy School discreetly removed its logo from the paper, and the document now features a more detailed and prominent disclaimer: “The two authors of this Working Paper are solely responsible for the views expressed in it. As academic institutions, Harvard University and the University of Chicago do not take positions on the scholarship of individual faculty, and this article should not be interpreted or portrayed as reflecting the official position of either institution
AN EYE FOR AN EYE MAKES THE WHOLE WORLD BLIND.
IF YOU’RE NOT OUTRAGED, YOU’RE NOT PAYING ATTENTION!
BRING THEM HOME
IMPEACH BUSH!
The following is a response by the authors of the controversial paper “The Israel Lobby” to their critics. AlterNet staff writer Joshua Holland covered the issues surrounding the paper, and AlterNet columnist Molly Ivins also weighed in. Originally appearing in British style, this letter has been adapted to fit American spelling and punctuation.
We wrote “The Israel Lobby” in order to begin a discussion of a subject that had become difficult to address openly in the United States. We knew it was likely to generate a strong reaction, and we are not surprised that some of our critics have chosen to attack our characters or misrepresent our arguments. We have also been gratified by the many positive responses we have received, and by the thoughtful commentary that has begun to emerge in the media and the blogosphere. It is clear that many people — including Jews and Israelis — believe that it is time to have a candid discussion of the U.S. relationship with Israel. It is in that spirit that we engage with the letters responding to our article. We confine ourselves here to the most salient points of dispute.
One of the most prominent charges against us is that we see the lobby as a well-organized Jewish conspiracy. Jeffrey Herf and Andrei Markovits, for example, begin by noting that “accusations of powerful Jews behind the scenes are part of the most dangerous traditions of modern anti-Semitism.” It is a tradition we deplore and that we explicitly rejected in our article. Instead, we described the lobby as a loose coalition of individuals and organizations without a central headquarters. It includes gentiles as well as Jews, and many Jewish-Americans do not endorse its positions on some or all issues. Most important, the Israel lobby is not a secret, clandestine cabal; on the contrary, it is openly engaged in interest-group politics, and there is nothing conspiratorial or illicit about its behavior. Thus, we can easily believe that Daniel Pipes has never “taken orders” from the lobby, because the Leninist caricature of the lobby depicted in his letter is one that we clearly dismissed. Readers will also note that Pipes does not deny that his organization, Campus Watch, was created in order to monitor what academics say, write and teach, so as to discourage them from engaging in open discourse about the Middle East.
Several writers chide us for making mono-causal arguments, accusing us of saying that Israel alone is responsible for anti-Americanism in the Arab and Islamic world (as one letter puts it, anti-Americanism “would exist if Israel was not there”) or suggesting that the lobby bears sole responsibility for the Bush administration’s decision to invade Iraq. But that is not what we said. We emphasized that U.S. support for Israeli policy in the Occupied Territories is a powerful source of anti-Americanism; the conclusion reached in several scholarly studies and U.S. government commissions (including the 9/11 Commission). But we also pointed out that support for Israel is hardly the only reason America’s standing in the Middle East is so low. Similarly, we clearly stated that Osama bin Laden had other grievances against the United States besides the Palestinian issue, but as the 9/11 Commission documents, this matter was a major concern for him. We also explicitly stated that the lobby, by itself, could not convince either the Clinton or the Bush administration to invade Iraq. Nevertheless, there is abundant evidence that the neoconservatives and other groups within the lobby played a central role in making the case for war.
At least two of the letters complain that we “catalogue Israel’s moral flaws,” while paying little attention to the shortcomings of other states. We focused on Israeli behavior, not because we have any animus towards Israel, but because the United States gives it such high levels of material and diplomatic support. Our aim was to determine whether Israel merits this special treatment either because it is a unique strategic asset or because it behaves better than other countries do. We argued that neither argument is convincing: Israel’s strategic value has declined since the end of the Cold War, and Israel does not behave significantly better than most other states.
Herf and Markovits interpret us to be saying that Israel’s “continued survival” should be of little concern to the United States. We made no such argument. In fact, we emphasized that there is a powerful moral case for Israel’s existence, and we firmly believe that the United States should take action to ensure its survival if it were in danger. Our criticism was directed at Israeli policy and America’s special relationship with Israel, not Israel’s existence.
Another recurring theme in the letters is that the lobby ultimately matters little because Israel’s “values command genuine support among the American public.” Thus, Herf and Markovits maintain that there is substantial support for Israel in military and diplomatic circles within the United States. We agree that there is strong public support for Israel in America, in part because it is seen as compatible with America’s Judeo-Christian culture. But we believe this popularity is substantially due to the lobby’s success at portraying Israel in a favorable light and effectively limiting public awareness and discussion of Israel’s less savory actions. Diplomats and military officers are also affected by this distorted public discourse, but many of them can see through the rhetoric. They keep silent, however, because they fear that groups like AIPAC will damage their careers if they speak out. The fact is that if there were no AIPAC, Americans would have a more critical view of Israel and U.S. policy in the Middle East would look different.
On a related point, Michael Szanto contrasts the U.S.-Israeli relationship with the American military commitments to Western Europe, Japan and South Korea, to show that the United States has given substantial support to other states besides Israel. He does not mention, however, that these other relationships did not depend on strong domestic lobbies. The reason is simple: These countries did not need a lobby because close ties with each of them were in America’s strategic interest. By contrast, as Israel has become a strategic burden for the United States, its American backers have had to work even harder to preserve the “special relationship.”
Other critics contend that we overstate the lobby’s power because we overlook countervailing forces, such as “paleo-conservatives, Arab and Islamic advocacy groups . and the diplomatic establishment.” Such countervailing forces do exist, but they are no match — either alone or in combination — for the lobby. There are Arab-American political groups, for example, but they are weak and divided, and wield far less influence than AIPAC and other organizations that present a strong, consistent message from the lobby.
Probably the most popular argument made about a countervailing force is Herf and Markovits’ claim that the centerpiece of U.S. Middle East policy is oil, not Israel. There is no question that access to that region’s oil is a vital U.S. strategic interest. Washington is also deeply committed to supporting Israel. Thus, the relevant question is, how does each of those interests affect U.S. policy? We maintain that U.S. policy in the Middle East is driven primarily by the commitment to Israel, not oil interests. If the oil companies or the oil-producing countries were driving policy, Washington would be tempted to favor the Palestinians instead of Israel. Moreover, the United States would almost certainly not have gone to war against Iraq in March 2003, and the Bush administration would not be threatening to use military force against Iran. Although many claim that the Iraq war was all about oil, there is hardly any evidence to support that supposition and much evidence of the lobby’s influence. Oil is clearly an important concern for U.S. policymakers, but with the exception of episodes like the 1973 OPEC oil embargo, the U.S. commitment to Israel has yet to threaten access to oil. It does, however, contribute to America’s terrorism problem, complicates its efforts to halt nuclear proliferation, and helped get the United States involved in wars like Iraq.
Regrettably, some of our critics have tried to smear us by linking us with overt racists, thereby suggesting that we are racists or anti-Semites ourselves. Michael Taylor, for example, notes that our article has been “hailed” by Ku Klux Klan leader David Duke. Alan Dershowitz implies that some of our material was taken from neo-Nazi websites and other hate literature. We have no control over who likes or dislikes our article, but we regret that Duke used it to promote his racist agenda, which we utterly reject. Furthermore, nothing in our piece is drawn from racist sources of any kind, and Dershowitz offers no evidence to support this false claim. We provided a fully documented version of the paper so that readers could see for themselves that we used reputable sources.
Finally, a few critics claim that some of our facts, references or quotations are mistaken. For example, Dershowitz challenges our claim that Israel was “explicitly founded as a Jewish state, and citizenship is based on the principle of blood kinship.” Israel was founded as a Jewish state (a fact Dershowitz does not challenge), and our reference to citizenship was obviously to Israel’s Jewish citizens, whose identity is ordinarily based on ancestry. We stated that Israel has a sizeable number of non-Jewish citizens (primarily Arabs), and our main point was that many of them are relegated to a second-class status in a predominantly Jewish society.
We also referred to Golda Meir’s famous statement that “there is no such thing as a Palestinian,” and Jeremy Schreiber reads us as saying that Meir was denying the existence of those people rather than simply denying Palestinian nationhood. There is no disagreement here; we agree with Schreiber’s interpretation, and we quoted Meir in a discussion of Israel’s prolonged effort “to deny the Palestinians’ national ambitions.”
Dershowitz challenges our claim that the Israelis did not offer the Palestinians a contiguous state at Camp David in July 2000. As support, he cites a statement by former Israeli prime minister Ehud Barak and the memoirs of former US negotiator Dennis Ross. There are a number of competing accounts of what happened at Camp David, however, and many of them agree with our claim. Moreover, Barak himself acknowledges that “the Palestinians were promised a continuous piece of sovereign territory, except for a razor-thin Israeli wedge running from Jerusalem . to the Jordan River.” This wedge, which would bisect the West Bank, was essential to Israel’s plan to retain control of the Jordan River Valley for another six to 20 years. Finally, and contrary to Dershowitz’s claim, there was no “second map” or map of a “final proposal at Camp David.” Indeed, it is explicitly stated in a note beside the map published in Ross’s memoirs that “no map was presented during the final rounds at Camp David.” Given all this, it is not surprising that Barak’s foreign minister, Shlomo Ben-Ami, who was a key participant at Camp David, later admitted: “If I were a Palestinian, I would have rejected Camp David as well.”
Dershowitz also claims that we quote David Ben-Gurion “out of context” and thus misrepresented his views on the need to use force to build a Jewish state in all of Palestine. Dershowitz is wrong. As a number of Israeli historians have shown, Ben-Gurion made numerous statements about the need to use force (or the threat of overwhelming force) to create a Jewish state in all of Palestine. In October 1937, for example, he wrote to his son Amos that the future Jewish state would have an “outstanding army . so I am certain that we won’t be constrained from settling in the rest of the country, either by mutual agreement and understanding with our Arab neighbors, or by some other way” (emphasis added). Furthermore, common sense says that there was no other way to achieve that goal, because the Palestinians were hardly likely to give up their homeland voluntarily. Ben-Gurion was a consummate strategist, and he understood that it would be unwise for the Zionists to talk openly about the need for “brutal compulsion.” We quote a memorandum Ben-Gurion wrote prior to the Extraordinary Zionist Conference at the Biltmore Hotel in New York in May 1942. He wrote that “it is impossible to imagine general evacuation” of the Arab population of Palestine “without compulsion, and brutal compulsion.” Dershowitz claims that Ben-Gurion’s subsequent statement — “we should in no way make it part of our program” — shows that he opposed the transfer of the Arab population and the “brutal compulsion” it would entail. But Ben-Gurion was not rejecting this policy: He was simply noting that the Zionists should not openly proclaim it. Indeed, he said that they should not “discourage other people, British or American, who favor transfer from advocating this course, but we should in no way make it part of our program.”
We close with a final comment about the controversy surrounding our article. Although we are not surprised by the hostility directed at us, we are still disappointed that more attention has not been paid to the substance of the piece. The fact remains that the United States is in deep trouble in the Middle East, and it will not be able to develop effective policies if it is impossible to have a civilized discussion about the role of Israel in American foreign policy.
John Mearsheimer is the Wendell Harrison Professor of Political Science at Chicago. Stephen Walt is the Robert and Renee Belfer Professor of International Affairs at the Kennedy School of Government at Harvard.
August 24th, 2006 at 6:24 pm
so where we heading? i guess it will never end… padahal langit yang harus di tadabburi masih belum terjamah, dan kita sepertinya stack di muka bumi karena kesulitan menyatukan visi cinta..
August 30th, 2006 at 7:14 pm
duh Rabbi
kemana gerangan Hamzah pergi
dimana tersimpan pedang bermata dua Ali
dan zirah Salahuddin al Ayyubi
kemana kami mesti cari.
wahai yang Maha Pengampun
Ampuni kami yang tak bisa menjaga saudara
ampuni kami yang tak mampu menjaga al-Aqsa
Ampuni kami yang tak mampu menerima semua warisan berharga
ampuni kami
ampuni generasi kami
September 23rd, 2006 at 10:32 am
:evil::twisted::evil:WOY AMERIKA
TAI BANGET SIH LOE:twisted:
ISRAEL JUGA LOE:twisted:
BELUM TAU YAH KALO INDONESIA TURUN TANGAN MAMPUS LOE
INDONESIA BANYAK DUKUN NYA:mad::mad::mad:
October 7th, 2006 at 2:26 pm
:mrgreen:
Wahahahaha… banyak komentar nya yah.. kata-kata mas nofie ini benar, bangsa muslim mulai merupakan kerendahan hatinya.. hehehe..
Tapi mas juga hati-hati loh.. apakah mas tahu benar siapa yang ‘ngebom atau nabrakin kapal’ ke bangunan segede WTC ampe rubuh luluk lantak?? apakah memang benar umat islam yang melakukan itu??
anu bukannya nakut-nakutin..
tapi… kalau kita tidak yakin benar sebaiknya tidak diutarakan, apalagi masalah sensitif seperti ini. lalu..
kalau masalah datang ke Lebanon atau tidak…
saya pikir itu tergantung kepentingan masing-masing… gini deh mas.. maaf ya.. misalnya saja ada keluarga mas disiksa ama orang terus orangnya kabur (nau’dzubillah).. apakah mas lantas bersujud dan berdoa semoga do’a orang itu diampuni oleh 4JJI… atau mas, mencari orang itu dulu, terus ‘membuat’ itu orang bersujud minta ampun sama 4JJI??
mas, kalau kesulitan itu tidak menimpa kita, kita akan dengan mudah bilang sabar.. tapi kalao itu menimpa kita….
terus terang kalau misal saya jadi warga palestina, saya tidak tahu apa saya sanggup baca tulisan mas ini…
tiap orang memiliki batas kesabarannya masing-masing.. memiliki kepentingannya masing-masing.. apabila batas kepentingan dan haknya itu dilanggar, bukanlah hak kita yang haknya tidak dilanggar untuk berkomentar… sebaiknya kita tidak perlu berkomentar apakah mereka perlu perang kesana atau tidak, mungkin saja diantara orang yang dikirim ke sana itu memiliki sodara yang sedang kesulitan.. mungkin saja keluarga mereka lah yang dianiaya..
maaf ya mas… saya tidak bermaksud menyinggung artikelnya loh.. cuman sebaiknya kita melihat dari sisi orang lain juga.. barulah kita berkomentar..
kalau mas sudah pernah melihat ke palestina, baru lah mas berkomentar tentang itu.. maaf ya..
saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung..
October 7th, 2006 at 2:31 pm
:neutral:
Eh mas, maaf yaa.. beneran tidak bermaksud menyinggung lho.. :sad:
saya jadi merasa nggak enak.. anu kalau mas mau hapus aja komennya ya..
maaf banget..
maaf yah..
October 8th, 2006 at 10:04 am
Grahat
Santai saja. Saya terbuka buat komentar apapun. Sekaligus biar pembacanya bisa semakin dewasa dan lebih smart. :wink:
October 20th, 2006 at 1:23 pm
Sudah saatnya hegemoni AS di hentikan. Bagi ummat Islam harapan itu ada pada negara Khilafah Islamiyah, negara yg telah di bentuk sendiri oleh Rasulullah dan diteruskan oleh para sahabat.
Tanpa Khilafah, ummat Islam akan seperti ayam tanpa induk. Tak ada yg membela, tak ada yg mempersatukan dan melindungi dan tak ada yg menjaga kelangsungan agama dan syariatnya.
April 18th, 2007 at 4:54 pm
Tapi mas juga hati-hati loh.. apakah mas tahu benar siapa yang ‘ngebom atau nabrakin kapal’ ke bangunan segede WTC ampe rubuh luluk lantak?? apakah memang benar umat islam yang melakukan itu??
August 30th, 2007 at 10:07 pm
saudara kita di palestina sana berperang melawan israel… bahkan anak kecil sekalipun… mereka melempar tank israel dg batu runtuhan rumah mereka.. sementara kita?.. apa yg kita lakukan?… mereka adalah saudara kita… orang islam..seharusnya kita membantu mereka… jangan sampai israel mengambil alih mesjid Al-aQ sa…
klo anda tidak percaya lihat aja videonya di youtube.com.. keyword:palestina…
perangilah yahudi itu… bantulah mereka ……Allahu akbar
February 12th, 2008 at 4:49 pm
pendapat anda benar menurut anda, tp klw saya berpendapat semua kezaliman didunia ini harus dimusnahkan melalui perang melawan para kafir, ALLAH AKBAR