Kembalinya Kearifan Timur
November 24th, 2006 | PersonalThomas Friedman berujar bahwa dunia bagaikan golden straitjacket yang terhubung satu sama lain. Dunia menjadi borderless. Batas-batas geografis dan regional menjadi tidak relevan. Akibatnya, aliran informasi, modal, kepentingan, menjadi sangat mudah dilakukan dengan cepat, tepat, dan efektif.
Jaman sekarang, badai globalisasi maupun kapitalisme memang menjadi sesuatu yang mustahil untuk ditampik. Sayangnya, yang datang ke kita justru lebih banyak pengaruh negatifnya. Sebut saja sikap konsumtif, hedonisme, pola hidup serba instan, anti aktualisasi diri, dan sebagainya. Friedman menggambarkan Lexus untuk mewakili negara yang sukses menyiasatinya dan Olive Tree sebagai negara-negara gagal seperti kita.
Memang lebih mudah menempatkan orang (bangsa) lain di balik kegagalan tersebut. Sebutlah tekanan kepentingan negara adidaya terhadap negara berkembang seperti kita. Inisiatif buruk korporasi-korporasi asing yang memiliki kekuatan modal penuh. Kekuatan-kekuatan terselubung yang tidak ingin Islam di negeri ini berkembang. Dan seribu satu alasan lainnya.
Saya lebih suka berkaca pada diri kita sendiri.
Lagi: Sindrom Inferioritas
Harus diakui bahwa kegagalan pendidikan formal dan miskinnya pendidikan lingkungan mengakibatkan gagalnya pembentukan karakter yang baik. Tontonan televisi juga mendukung ke arah sikap mental yang destruktif. Sadar atau tidak, secara berjamaah media, public figure, tokoh terkemuka, dan pemuka masyarakat ikut menggerakkan ke arah yang sama: aliran pesimistis terhadap bangsa dan negaranya sendiri. Kelakuan birokrat yang membuat malu dan memiskinkan negara ikut memperburuk suasana. Padahal, yang kita butuhkan adalah optimisme dengan wajar, apa adanya, namun tetap kritis.
Coba kita lihat sekitar kita. Kita jadi merasa inferior, bahwa apa yang melekat dalam diri kita adalah senantiasa buruk. Sebaliknya, kita jadi terdorong untuk berucap bahwa apa yang melekat di dunia barat –sebagai pemenang dalam globalisasi– adalah selalu bagus.
- Indonesia dianggap selalu kalah bersaing dari Amerika.
- Orang-orang asing dibilang lebih bagus daripada orang-orang lokal.
- Produk dalam negeri diasumsikan selalu inferior dibanding produk luar negeri.
- Budaya Jawa dianggap kurang progresif dibanding budaya luar negeri.
- Ayam goreng Suharti kalah gengsi daripada McDonald’s.
Faktanya, dalam beberapa hal kita bisa lebih unggul dari bangsa lain.
- Keanekaragaman hayati dan sumberdaya alam kita membuat iri bangsa lain.
- Pelajar-pelajar Indonesia terbukti telah memenangkan olimpiade internasional.
- Profesor termuda di Amerika adalah orang asli Indonesia.
- Orang-orang luar negeri ternyata banyak juga yang malah mempelajari budaya-budaya daerah kita.
- Kandungan lemak dan kolesterol McDonald’s lebih tinggi dari makanan kita.
Kembali ke Timur
Dalam dunia bisnis sendiri, kita juga terlalu sering berkiblat ke barat. Jepang, India, China mungkin sedang sangat berkembang saat sekarang. Namun, tetap saja dunia barat menyilaukan mata kita.
Dosen saya dulu pernah memutarkan film tahun 1987 berjudul Wall Street yang menggambarkan pasar saham Amerika lengkap dengan intrik dan polemik di dalamnya. Gordon Gekko, tokoh fiktif dalam film tersebut dengan bangga mengutip The Art of War dari Sun Tzu. Gekko juga terkenal dengan quotenya, “greed is good.” Konsep tersebut, boleh dibilang adalah konsep yang dianut mayoritas entitas bisnis di era 1980-an hingga 1990-an.
Saat sekarang, sekolah-sekolah bisnis di Amerika banyak merekrut pengajar berkebangsaan India. Sebut saja Vijay Govindarajan (Tuck School of Business/Dartmouth College), Dipak Jain (Kellogg School of Business), Rakesh Khurana (Harvard Business School), C.K. Prahalad (University of Michigan), Ram Charan (mantan dosen Harvard), dan masih banyak lagi.
Walau tidak dilakukan secara serentak, baru-baru ini mereka mencetuskan konsep baru dalam dunia bisnis yang berkaca dari budaya timur. Mereka memaparkan konsep seperti memosisikan individu (karyawan dan konsumen) sebagai pusat, mendahulukan tujuan bersama sebelum diri sendiri, menempatkan kepentingan sosial (stakeholder) sebagai prioritas, penguasaan diri untuk meningkatkan kapasitas diri dan menemukan kedamaian spiritual, pentingnya kecerdasan emosional dan service leadership, dan seterusnya. Konsep-konsep tersebut sangat terinspirasi oleh Bhagavad Gita, naskah Hindu kuno yang memuat kebijaksanaan Krishna.
Walaupun sedang ngetren di sekolah-sekolah bisnis barat, konsep semacam itu sesungguhnya tidaklah benar-benar baru “bagi” kita. Nenek moyang kita terkenal dengan falsafah hidup yang mengutamakan kepentingan bersama atas individu. Orang-orang Jawa mengajarkan kita dengan falsafah yang senantiasa legawa, jumawa, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha. Saya yakin, konsep-konsep serupa juga ada dalam suku/golongan lain di negeri ini.
Dalam Qur’an, kita juga selalu diajarkan untuk bersikap rendah hati. Kita diajarkan tentang ketenangan hati, kecerdasan emosional, sikap mental positif, serta perilaku yang senantiasa arif dan bijaksana. Pun dalam berbisnis, kita selalu ditekankan untuk menjalankan bisnis kita dengan lurus, tanpa mengambil hak orang lain. Kepedulian terhadap sesama dan arti kepentingan sosial juga selalu ditekankan. Doing the things right dan doing the right things adalah sesuatu yang mutlak.
Fenomena Angkringan
Anyway, baru-baru ini, saya sedang mengamati angkringan di dekat rumah. Angkringan –yang menurut saya merupakan unit bisnis khas Jawa– sebenarnya memuat banyak konsep bisnis yang tak kalah hebat dengan yang termuat dalam studi-studi kasus di sekolah-sekolah bisnis terkemuka di barat. Berikut beberapa contohnya.
Kepercayaan (trust). Coba kita lihat restoran-restoran waralaba asal barat. Sebagai konsumen, kita sering “dilecehkan” integritasnya. Kita harus bayar di muka sebelum kita bisa menyentuh apa yang kita pesan. Warung-warung makan asli Indonesia tidak mengenal konsep semacam itu. Kalau kita makan di angkringan, kita selalu bayar di belakang. Bahkan bisa ngutang. Penjual juga tidak pernah “mem-bill” dengan teliti. Jadi, tergantung kita ngaku udah nyomot berapa biji saja.
Perhatian pada pelanggan (customer intimacy). Saya belum pernah melihat ada kedekatan yang begitu bagus selain di angkringan. Penjual angkringan biasanya selalu menyapa dengan ramah, menanyakan kabar kita, dan berbicara dengan ramah tentang ini-itu. Kalau kita nongkrong terlalu lama tapi nggak beli apa-apa, penjual juga nggak akan marah. Seneng malah.
Murah meriah (cost leadership). Berdasar pengalaman saya, angkringan adalah salah satu penyedia makanan yang sangat murah. Saya malah sering menghitung bahwa tak jarang mereka “jual rugi.” Padahal, restoran-restoran barat yang sering kita banggakan malah menjual dengan harga cukup tinggi –belum lagi tambahan PPn yang dibebankan. Walau begitu, angkringan termasuk unit bisnis yang sustainable –bahkan di era ekonomi yang begitu sulit. Penjual angkringan dekat rumah malah bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.
Tukul Arwana, alias Reynaldi, bisa dibilang adalah salah satu figur yang cukup percaya diri dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Di tengah karir yang menanjak, dia juga tidak terjebak pada pro-hedonisme instan. Dulu dia merintis karir dari nol, mendaki dengan cukup terjal, tapi setelah cukup sukses pun juga masih gitu-gitu aja. Dia juga sangat bangga dengan budaya bangsa dan negaranya.
Mas Tukul saja bisa. Kenapa kita nggak?



August 2nd, 2007 at 1:47 pm
Comments
November 25th, 2006 at 8:09 am
iyah, kita harus mencontoh mas tukul yah..
November 25th, 2006 at 8:15 pm
Ya, ini memang seperti sebuah anekdot “iblis sekarang hanya duduk-duduk sambil tertawa, karena pekerjaan mereka sudah diambil alih manusia.”
Saya pernah dengar orang bijak bilang, matahari selalu terbit dari timur, jadi percayalah bahwa pada saatnya nanti timur akan semaju daerah barat, entah kapan :D
November 25th, 2006 at 8:16 pm
aku malah pernah punya rencana bikin ‘the ceret telu international franchise’-e mas :mrgreen:
November 27th, 2006 at 7:55 pm
Kembali ke LAPTOP! :lol:
so? ya kembali ke jatidiri kita sendiri, bangga menjadi bangsa dan warga indonesia, menggali potensi yang sudah dimiliki oleh bangsa sendiri, gali, fokus dan pertajam potensi yang sudah ada.
jadi, ya kembali ke LAPTOP! hidup mas tukul! hidup Indonesiaku!
December 2nd, 2006 at 12:18 am
:razz::razz::razz:
Saya termasuk orang yang ragu mengenai apa yang disebut sebagai budaya “kearifan timur”. Dalam pikiran saya yang pendek ini, saya merujuk artikel Anda agar kita kembali kepada semangat sosialisme (sosialisme timur tepatnya).
Sesuatu yang harus ditekankan : falsafah budaya itu satu hal, sedangkan konsep kompetisi adalah hal yang lain.
Setiap tempat di dunia memiliki falsafah yang relatif universal. Mungkin, hanya konteks waktu saja yang berbeda-beda. Dulu barat mulai dari ke-primitifan yang sama dengan kita, lalu beranjak pada struktur yang lebih feodal, lalu kepada sosialisme, hingga sekarang bersandar pada sistem kompetitif-individualis namun tetap menghargai hal hal sosial.
Sedangkan kita? Kita malah lebih senang berkelakar mengenai sosialisme- dan hanya budaya gotong royong. Bukan budaya efisiensi. Padahal, faktanya apa yang terjadi di Indonesia, adalah masih tertanam di jiwa kita yaitu semangat sosialisme-feodal. Sebuah bentuk kerakyatan yang hanya menguntungkan elit-elit saja.
Tidak ada efisiensi. Tidak ada efektifitas. Dua hal syarat mutlak bagi kemajuan.
Melihat kosongnya harapan, kita mulai putus asa. Menjadi xenophobi. Bukannya merasa inferior (seperti kata anda), malah kita menjadi merasa superior-kandang (tentang hal hal yang berkaitan dengan falsafah-budaya yang jelas jelas sifatnya amat relatif).
Jadi, menurut saya: kelemahan mental bangsa ini adalah karena kita tidak punya keberanian untuk mengakui bahwa bangsa di seberang lautan sana memang lebih baik. Kita takut persaingan, itulah mengapa kita tidak pernah efisien. Salam.
http://reflectionoftime.blogs.friendster.com/termegah/
December 14th, 2006 at 1:45 pm
wah senang banget baca artikel ini….saya kadang punya pemikiran kalo orang - orang yang picik pemikirannya sampai beranggapan bahwa yang bikin hamil istrinya ato bunting kambing piaraannya atau apalah masalah remeh temeh lainnya adalah rekayasa dari bangsa lain….nyatanya yang saya temui ….sekolah mahal….buntutnya wawasan mampet…cari kerja susah….Masalah inferioritas juga…coba lihat artis film mandarin dari Gong Li sampai Zang Zi Yi…atau yang lebih dulu seperti Lin Cing Shia…bandingkan dengan Tamara Blezinsky, Julie Estelle, Darius, dan nama nama bule tanggung lainnya….yang paling parah sih Nadine Candrawinata…..saya tidak suka film Mandarin tapi saya iri dengan film - film mereka yang benar - benar ‘mandarin’, prestasinyapun bagus, selain itu kecantikan 2 artis Mandarin di atas bahkan dipakai Loreal, merk internasional….Orang Afro Amerika pun telah berhasil menjadi ras yang banyak berprestasi di Amerika, bahkan mereka ikut mengendalikan trend hidup dan membuktikan keunggulan mereka.
Ngomongin McD juga ada pengalaman…saya lebih suka makan di franchise2 seperti McD karena punya banyak pengalaman dikemplang harga di beberapa rumah makan, kalaupun tidak saya mendapat pelayanan yang lebih buruk dibanding makan di McD. Benar-benar tidak pernah berpikir untuk maju.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang memiliki jati diri. Menuding pengaruh barat yang merusak bangsa ini bagaikan berharap Britney Spears pake kebaya..dan jangan pernah berpikir Britney melakukan segalanya untuk memberi pengaruh buruk pada anak muda di Indonesia…dia bahkan tidak pernah peduli pada hal itu….So…mana jati diri kita
December 14th, 2006 at 6:47 pm
Kok, pake pertanyaan did you pass math? Are you making fun of your readers?
January 4th, 2007 at 10:21 am
aku jg bangga menjadi anak Indonesia ^^ hehe soalnya g kan lg skul di Cina neh skr.. uuuhhhhh penjual2nya ga ramah!!! g dimarah2in trs! pkknya klo mo nawar barang pst penjualnya teriak2 bknnya ngomong yg sopan gt!! Udahnya ngasihin bajunya ke kita langsung aja ditarik dr gantungannya! gileee kasar bener..! trs kalo naek bis kan rame bngt tuh byk orang, bilang kek permisi atau apa gt… ini mah di Cina langsung aja dorong2 orang!! Dasar pny mulut ga seh! susah bngt tinggal bilang permisi doank! trs udah gt kalo belanja ke supermarket, kantong plastik disini tuh kan gampang robek g mau minta kantong lagi ehhh ga boleh coba! pelit bngt kan! udanya kalo beli makanan di bungkus masa bungkusannya bayar lagi! pelit bngt!
klo di Indo g nawar barang ga perlu tuh pake teriak2 and penjualnya jg ga teriak2! trs kalo di bis rame banyak orang susah jalan masih bilang permisi tuh orang2nya ga langsung dorong aja..
trs misalkan ke supermarket minta kantong lg pst dikasih tanpa komentar apa2 penjualnya.. trs beli makanan di bungkus ga diitung lagi tuh bungkusnya..
jadi intinya g bangga menjadi Anak Indonesia hehe soalnya dr g msh SD jg belajarnya orang Indo itu terkenal dengan keramahannya dan sopan santunnya.. hmm tp skr kok g liatnya jadi rada brutal seh.. mahasiswanya lg yg brutal.. coba kalo kita ramah orang asing jg pada seneng dateng ke Indo trs nambah devisa negara dhe hehe
January 28th, 2007 at 11:31 pm
hidup mas tukul…
kembali ke laptooooooooooop *winks*
March 24th, 2007 at 10:10 am
learning the local culture is very important for indonesian, because there lots of local assets of indonesia has a valuable contribution for human life, and thingking. sometimes, indonesian people pattern the werters as a measure of successness, they didnot realize that many westeners learnt about their culture, such medicine, ecinomic, philoshophy etc….
November 7th, 2007 at 12:14 am
Kamu sendiri nggak sadar menyalahkan orang timur.
Mending jaman Suharto yang ada penghargaan ke masyarakat bukan saling merasa bener sendiri kayak kamu juga.
bener kata orang jawa “mendem jero mikul nduwur”
Manusia itu alami seperti tanaman nggak usah kawatir deh…
Kamu sendiri percaya siklus ekonomi global kan..?
Siapa yang bisa mengendalikan ?
Hanya tuhan yang tahu.
Tuhan sudah tahu sebelum manusia ada, bahwa masyarakat indonesia akan seperti ini kok.
tapi dia tetap juga menciptakan orang indonesia seperti sekarang
Berarti tuhan ada maksud lain kan?
Percaya deh orang indonesia hebat-hebat