Belajar dari Jatuhnya Adam Air di Sulawesi
January 3rd, 2007 | News
Pesawat Adam Air Boeing 737-400 PK-KKW KI 574 jurusan Surabaya-Manado dikabarkan hilang tak terpantau radar — yang seharusnya tiba di Bandara Sam Ratulangi pukul 15.07 WITA. Pesawat ini berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya, pukul 12.59 WIB. Menurut sumber dari Bandara Juanda, terakhir kontak dengan pesawat Adam Air ketika pesawat berada di atas perairan Masalembu pukul 14.07. Sebelumnya pilot sempat menanyakan cuaca setempat. Namun, setelah itu hubungan terputus dan posisi pesawat hilang dari radar.
Pesawat jenis Boeing 737 400 ini memiliki persediaan bahan bakar untuk terbang selama empat jam. Pesawat ini membawa 85 penumpang dewasa, 7 anak-anak dan 4 bayi serta 6 awak. Pesawat berangkat dari Surabaya pukul 13.00 WIB. Kabarnya, sebelum insiden tersebut, lanud setempat sempat menangkap sinyal emergensi sebanyak dua kali. Sayangnya, sampai tulisan ini dibuat ternyata pesawat belum ditemukan dan kondisi penumpang belum bisa dipastikan.
Tapi bukan itu yang ingin saya sorot kali ini.
Profil Adam Air
Adam Air memiliki nama lengkap Adam SkyConnection Airlines, PT. dengan kode IATA/ICAO yakni KI/DHI. Adam Air berdiri pada 21 November 2002 yang berbasis di Soekarno-Hatta Jakarta dan Medan serta Surabaya sebagai secondary hubs-nya. Adalah Agung Laksono dan Sandra Ang yang menjadi foundernya. Sementara Gunawan Suherman menjabat CEO dan Adam Adhitya Suherman duduk sebagai president director.
Adam Air hadir sebagai low-cost carrier, tetapi juga memberikan layanan on-board yang cukup baik dengan harga tiket kompetitif — serupa dengan model bisnis Valuair. Mereka mulai beroperasi pada 19 Desember 2003 dengan 2 pesawat Boeing 737 yang disewa (leasing) dari GE Capital Aviation Services. Menurut orang dalam, maskapai ini diberikan kepada Adam as a present from his mother for his twenty something birthday. Yes, at the beginning he was wery proud to have only modern 737-400 and 737-500 aircraft.
Saat ini Adam Air memiliki 24 pesawat dan melayani 30 rute domestik ke berbagai kota di Indonesia dan dua rute internasional Medan-Penang dan Jakarta-Singapura. Rata-rata Adam Air mampu mengangkut 15.000 penumpang per hari dalam 73 kali penerbangan dengan tingkat book rate 90%. Karena prestasi tersebut, Adam Air menerima penghargaan Award of Merit untuk kategori Low Cost Airline of the Year 2006.
Kecelakaan Pesawat di Indonesia
Dalam 10 tahun terakhir, sebenarnya sudah lebih dari 600 orang tewas. Berikut adalah beberapa diantaranya (info via Reuters):
- 26 September 1997, pesawat Garuda Airbus A-300B4 jatuh di kawasan pegunungan utara Sumatera di sekitar kota Medan. Sejumlah 222 penumpang dan 12 kru tewas dalam kecelakaan terbesar tersebut.
- 104 penumpang Singapore SilkAir Boeing 737-300 tewas pada 19 Desember 1997 di dekat kota Palembang.
- Helikopter militer Indonesia jatuh pada 12 Oktober 2004 di kawasan utara Aceh. Sebanyak 8 orang tewas di tempat dan cuaca buruk diduga sebagai penyebab utama.
- Lion Air MD-82 tergelincir di Bandara Adisumarmo Solo pada 30 November 2004, membawa 146 penumpang dan menewaskan 31 di antaranya.
- 23 Desember 2004 sebuah helikopter militer kembali jatuh di kawasan Jawa Tengah dan menewaskan 14 prajurit TNI AU. Cuaca buruk diduga menjadi penyebab utama.
- Helikopter Sea King jatuh di Kepulauan Nias pada 2 April 2005 menewaskan 9 orang.
- Pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines gagal take off dan jatuh di sekitar kawasan Bandara Polonia Medan yang padat penduduk. 102 penumpang dan 47 penduduk setempat tewas pada 5 September 2005 itu.
- PT Trigana Air Service jatuh di Desa Bioga, Kabupaten Puncak Jaya, Papua beberapa waktu lalu. 12 korban jatuh dalam peristiwa tersebut.
- Pada 1 Januari 2007 pesawat Boeing 737-400 Adam Air dengan 96 penumpang dan 6 kru dikabarkan hilang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Manado. Jumlah korban masih belum dapat dipastikan.
- Sehari kemudian, pesawat MD-90 Lion Air tergelincir di Bandara Pattimura Ambon. Tidak ada korban dalam insiden tersebut. Sepanjang 2006, tercatat lima kali insiden menimpa Lion Air, termasuk 24 Desember silam, saat Boeing 737 tergelincir di Bandara Hasanuddin, Makasar. Sebelumnya 18 Januari 2006, Lion Air mengalami kecelakaan serupa di bandara yang sama juga.
Pesawat Boeing 737-4Q8 PK KKW yang Naas
Berikut adalah armada yang dimiliki oleh Adam Air (Info via AirFleet)

Pesawat Boeing 737-4Q8 PK-KKW dengan nomor serial 24070 LN:1665 pertama kali terbang pada tahun 1989 (18 tahun). Sebelum dibeli Adam Air, pesawat ini dimiliki JAT (11/12/2002 - 1/12/2005). Sebelumnya, pesawat ini pernah digunakan juga oleh British Airways (7/11/1992 19/03/1995). Terakhir pesawat diinspeksi pada 25 Desember lalu dan telah terbang sebanyak 45.371 jam.
Meski baru menggunakan pesawat tersebut selama sekitar 1 tahun, Adam Air sebenarnya memelihara pesawat yang sudah cukup uzur. Bandingkan juga dengan Lion Air yang tergelincir di Solo (20 tahun) dan Mandala Air yang gagal take off di Medan (24 tahun).
Usia dan Risiko Pesawat
Rekan Marek Bialoglowy pernah menulis soal keamanan berpesawat di Indonesia. Rata-rata umur pesawat yang beroperasi di Indonesia sudah di atas 17 tahun — kecuali Garuda Indonesia yang rata-rata umur armadanya hanya 10 tahun. Pesawat Adam Air sendiri rata-rata berumur 18,1 tahun, kecuali sebuah pesawat berusia kurang dari 10 tahun khusus untuk melayani rute Singapura.
Dalam suatu penerbangan, risiko sebenarnya terkait dengan person, behavior, dan environment. Celakanya, behavior sering menjadi aspek yang justru diabaikan. Kalau disiplin demikian diabaikan, akan menimbulkan minor injury — yang sama artinya dengan membuka pintu kecelakaan.
Memang, faktor usia menyumbang salah-satu risiko kecelakaan. Namun, maintenance juga berperan penting. Mayoritas aircraft di Indonesia memang cukup tua — yang berarti lower ownership cost, but higher maintenance cost. Kalau operator tidak patuh pada regulatory requirement, maka aircraft age + bad behavior menjadi penyebab kecelakaan terbesar.
Memang benar bahwa Delta, SAS, dan American Airlines bahkan menggunakan DC-9 yang berusia lebih dari 20 tahun — sampai Eropa melarang pesawat dengan noise stage-2. Namun, pesawat-pesawat tersebut diperlakukan dengan sangat baik. Northwest Airlines pernah membawa kembali DC-9 yang melebihi 100.000 landing dan sudah dipensiunkan, padahal design life DC-9 hanya sekitar 60.000 landing. Namun pesawat-pesawat tersebut tetap dioperasikan. Nasa bahkan punya pesawat yang berusia 25 tahun namun tetap beroperasi. Dan White House juga punya DC-9 yang dipergunakan first lady dengan usia sekitar 30 tahun namun kondisinya sangat bagus dan hanya memiliki sekitar 30.000 landing.
Di dunia penerbangan, Singapore Airlines dikenal memakai aircraft age sebagai senjata promosinya. Namun, pesawat baru tersebut memang ditunjang dengan operasional yang excellent. Tapi coba kita lihat Adam Air. Dalam kampanye pemasarannya, Adam Air bilang, “Fly with us with our new Boeing 737-400“. Faktanya, pesawat-pesawat tersebut bukan “baru” dalam artian keluar dari pabrik. Kadang kita malah diberangkatkan bukan dengan 737-400, melainkan 737-200 yang lebih tua. Apa namanya kalau bukan misleading dan pembohongan publik?
Kebanyakan pesawat yang akan dijual atau disewakan (leasing) memiliki data-data seperti aircraft general, maintenance data, engine data, propeller data, landing gear data, hydrolic data, pilot tube, dan sebagainya yang mengacu pada regulasi yang diterbitkan DGAC/DSKU. Tetapi di Indonesia, data-data tersebut tidak ada atau tidak update. Alasannya, jika terjadi audit dikuatirkan biayanya akan sangat mahal. Untuk mengkalibrasi pitot tube juga sangat mahal. Belum lagi dokumen resmi pendukung yang tidak ada (atau ditiadakan) — bahkan untuk ground run/run up saja jarang dilakukan.
Di Indonesia, pesawat diperoleh dalam keadaan lease atau buy second hand. Paper work mungkin mengatakan bahwa pesawat airworthy sesuai standar. Namun, di Amerika, pesawat yang baru dibeli biasanya diberlakukan aditional maintenance/inspection selama 30 hari. Di Boeing, mereka men-charge US$ 325/jam untuk engineering help kalau pesawat tidak dibeli langsung dari mereka. Padahal, dalam satu kali inspeksi setidaknya bisa mencapai 200 maintenance/repair items yang jelas butuh banyak biaya.
Kalau kita lihat pada sambungan badan (fuselage joint) pada pesawat-pesawat tersebut, memang sebenarnya sudah waktunya untuk mereka diistirahatkan. Lihat juga pada bagian sayap yang kotor dan banyak sekali keretakan, engine cover yang mengelupas, dan pintu kabin yang sudah saatnya dipensiunkan. Di dalam kabin, sering kita jumpai headlight yang tidak menyala, air conditioner yang tidak bisa diatur, back rest kotor dan berdebu, serta panel kabin yang usang. Lupakan juga cabin fire properties dan fire containment requirement yang kurang memadai. Ada lho penumpang yang cukup bego untuk merokok di dalam lavatory.
Di sistem navigasi/avionics juga terdapat LRU yang seharusnya diganti setelah sekian ribu jam terbang. Jaman sekarang, tidak ada alasan untuk terbang “buta” tanpanya. Korban Mandala dulu pernah menuntut soal ini. Dan di Qantas, mereka menyebutnya “poltergeist manuever.”
Nah, pertanyaannya apakah mungkin operator pesawat di Indonesia sanggup membayar harga tersebut? Kemudian, apakah aditional maintenance/inspection tersebut juga dijalankan? Dulu penumpang Adam Air mogok naik pesawat karena pesawat masih putih polos dalam keadaan belum dicat namun dipaksa beroperasi.
Authority dan Regulatory Body
Pihak authority sebenarnya selalu melakukan pengecekan berkala dan mengeluarkan segala aturan modifikasi yang mungkin diperlukan untuk setiap tipe pesawat. Standarnya berlaku internasional mengacu pada FAA. Namun, untuk komponen, pihak authority masih memberikan keleluasaan. Mereka membagi dalam GO/NOGO items.
Kategori NOGO berarti peralatan tersebut harus beroperasi dengan baik ketika pesawat akan diterbangkan. Sedangkan GO berarti peralatan tersebut boleh tidak beroperasi dengan catatan: (1) ada peralatan lain yang berfungsi sama atau fungsinya bisa di-backup peralatan lain, (2) peralatan tersebut tidak bersifat safety, dan (3) ketidakoperasiannya tidak mengganggu peralatan lainnya.
Dan sejatinya, menurut Peraturan Menteri Perhubungan KM 5 Th. 2006 tanggal 17 Januari 2006 tentang Peremajaan Armada Pesawat Udara kategori Transport untuk Angkutan Udara Penumpang, berbunyi:
- PASAL 2: jika ada pesawat baru yang masuk untuk operasi ke Indonesia dari Luar negeri dikenakan umur pesawat maksimal 20 th atau 50.000 cycle.
- PASAL 4: jika pesawat sudah masuk dan sudah beroperasi/lama di Indonesia dikenakan umur pesawat 35 th atau 70.000 cycle.
Beberapa bulan lalu para pakar dan ahli akademi penerbangan mengadakan evaluasi seluruh pesawat yang beroperasi di Eropa. Hasilnya kemudian ada 90 pesawat yang masuk daftar hitam dan 14 maskapai dicurigai melanggar prosedur. Itu di Eropa, di mana bisnis dijalankan dengan fair dan disiplin serta keselamatan merupakan prioritas.
Bagaimana dengan di Indonesia? Sejauh yang saya tahu, kalau hal serupa dilakukan di Indonesia tentu jumlahnya bisa sangat mengejutkan. Jatayu, Bouraq, Pelita (dalam proses) sudah ditutup. Mandala sedang direstrukturisasi. Kartika dan Star saya belum tahu kabarnya. Dan mungkin Adam Air juga tinggal menunggu waktu.
Dan kalau melihat banyaknya pelanggaran dan kecelakaan yang terjadi, mungkin sudah saatnya juga Peraturan Menteri Perhubungan tersebut direvisi. Sebelum korban jatuh lebih banyak.
Masalah-Masalah di Darat
Ambil contoh penerbangan 2 jam. Mengacu pada batas landing maksimum (maximum landing weight/MZFW), pesawat boleh membawa kargo sampai 2,8 ton — yang memberikan keuntungan sekitar US$ 9.000. Asumsikan jumlah penumpang maksimum 150 orang dengan harga tiket US$ 30, maka pendapatan dari tiket hanya separuh dari pendapatan kargo. Dengan hitung-hitungan semacam itu, nyawa seorang penumpang hanya “dihargai” sekitar US$ 60.
Itulah mengapa banyak maskapai penerbangan (termasuk Adam Air) yang sangat memprioritaskan kargo sehingga “agak” mengorbankan keselamatan penumpang. Dalam hal ini, tugas Chief Pilot hanya: (1) maximise cargo revenue to the limit, dan (2) cutting cost to the absolute minimum. Bahkan, Sandra Ang bahkan terkenal dengan quote-nya, “Forget the pax complaints, fill the hold with cargo at all cost.”
Selain kasus keluarnya belasan pilot Adam Air yang kemudian dituntut balik oleh manajemen, Adam Air sebenarnya juga pernah punya masalah dengan Flight Operation Officer (FOO) mereka yang melakukan pemogokan 11 Agustus lalu. FOO menganggap lingkungan kerja yang sudah tidak kondusif serta konflik yang sering terjadi dengan manajemen. Masalah ini membuat operasional mereka sangat terganggu. Kemudian, dari 46 FOO yang melakukan pemogokan, 33 di antaranya langsung dipecat hari itu juga.
Kekosongan ini kemudian membuat Adam Air “mengimpor” FOO dari luar — bahkan FOO yang sebenarnya tidak memiliki lisensi. Mereka tidak memiliki pengetahuan soal Aturan Keselamatan Penerbangan Sipil (Civil Aviation Safety Regulation/CASR), kebutuhan bahan bakar, limit bobot maksimum, dan sebagainya.
Adam Air juga melakukan walk-in interview dan langsung mempekerjakan mereka, termasuk applicant yang pernah ditolak sebelumnya. Bahkan mantan district manager Bouraq dan station manager Jatayu dimasukkan juga ke dalamnya.
FOO tersebut disupervisi oleh seorang ramp manager yang juga tidak memiliki lisensi. Akibatnya, baik FOO maupun ramp manager sering tidak bisa mengatasi masalah/konflik yang muncul sebelum penerbangan dilakukan. Tugas FOO sendiri sebenarnya untuk mengukur payload agar sesuai dengan performance limit. Tentu saja, tanpa lisensi dan pengetahuan yang memadai, FOO cuma berpikiran selama di pesawat ada space, kenapa tidak diisi saja penuh. Lupakan sejenak soal safety, engine climb, performance, dan sebagainya.
Belum lagi soal korupsi BBM. Ketika captain pilot meminta agar fuel diisi 10.000 kgs, tak jarang ramp hanya memberikan 9.500 kgs. Seperti diketahui, pembelian avtur harus dibayar cash, dan sudah jadi rahasia umum kalau operator sering sekali ngemplang. Tentu saja selain mengundang protes dari pilot itu sendiri, supplier juga komplain kepada senior management karena harus me-retur sebanyak 500 kgs. Kalau sudah “ketahuan” begini, biasanya kesalahan akan ditimpakan ke FOO yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
Etika Bisnis Penerbangan
Sebutlah beberapa maskapai penerbangan di Indonesia: Adam Air, Lion Air, Wings, Batavia, Jatayu, Mandala, dan seterusnya. Mayoritas maskapai tersebut didirikan (atau dibeli) dan oleh taipan-taipan bisnis di Indonesia — yang sebenarnya menikmati backup dari komunitas bisnis maupun dari para elit politik Indonesia.
Kalau boleh jujur, alasan pendirian/pembelian maskapai tersebut lebih didasarkan oleh ego dari masing-masing kelompok bisnis (pet projects). Apalagi uang yang diinvestasikan dalam bisnis tersebut diduga diperoleh melalui illegal means seperti korupsi yang begitu tinggi. Jadi, mereka sebenarnya berbisnis tanpa menanggung risiko apapun karena toh yang mereka pertaruhkan memang bukan duit mereka. Nothing to lose.
Kalau kelompok bisnis A membuat maskapai baru, tentu saya juga tak mau kalah. Kalau keluarga B membuka destinasi internasional, saya juga gak boleh ketinggalan. Pokoknya harus terus berinovasi supaya harga diri tidak diinjak-injak. Urusan analisis pasar, perhitungan bisnis, proyeksi keuangan, dan sebagainya “terpaksa” dipinggirkan terlebih dulu.
Tentunya, bisnis yang dijalankan tanpa perencanaan dan strategi yang bagus akan banyak menuai masalah. Apalagi di jaman sekarang. Perusahaan bagus dengan visi misi yang jempolan saja banyak yang berguguran. Lalu, bagaimana dengan bisnis penerbangan tersebut? Apalagi pemiliknya bukan orang yang mempunyai pengetahuan/pengalaman di dunia airlines.
Tak masalah. Di Indonesia, literally money will buy you anything. Kalau ada kasus tertentu, masalah ijin/perpajakan, tuntutan hukum, atau kegagalan sistem yang mengakibatkan risiko kecelakaan, bisa diatasi dengan negosiasi dan amplop. Dan itu sungguh sangat lumrah. Apalagi ketika terjadi kecelakaan, kerugian penumpang ditanggung oleh pihak asuransi. Maskapai hanya memberi sedikit “kompensasi” tambahan.
Dan amplop tersebut tak hanya ditujukan bagi pemerintah/aparat terkait. Amplop memang juga bisa dikirim kepada korban/keluarga korban (bila terjadi kecelakaan) atau media untuk membeli silence. Kalaupun ketahuan dan/atau harus diproses, tinggal lemparkan saja kepada person yang (dipaksa) menandatangani sheets. Bisa jadi, masalah-masalah semacam ini yang kemudian menimbulkan benturan-benturan antara manajemen dengan karyawan. Itulah juga mengapa banyak pelanggaran/masalah serius terjadi but nothing appeared in news.
Saya tidak bermaksud menakut-nakuti Anda, but little bit education will help. And it is clear that we should be more aware of the situation.
Operator yang Sembrono
Seorang rekan yang kebetulan menggunakan sebuah maskapai besar di Indonesia pernah iseng melihat ke luar jendela sembari menunggu take off. Di atas engine kanan beliau melihat semacam lubang menganga — barangkali untuk akses atau service.
Beberapa saat kemudian datang seorang teknisi yang kemudian menutup lubang tersebut dengan beberapa lembar isolasi. Tentu saja, selepas take off semua isolasi tersebut lepas. Karena tidak tahu persis, beliau menanyakan kepada pihak Boeing (pembuat pesawat tersebut, red).
From: xxxxxxxx
To: chrisbrady@b737.org.uk
Sent: Wednesday, August 23, 2006 11:07 AM
Subject: B737-400 - Do you know what this hole/section made for?Dear Sir,
I flew with one of Indonesian airline. And when i saw to right engine through a window, I saw a strange hole on the top of the engine. Do you know what this hole/section made for? I don’t understand, why they didn’t close the hole/hatch but only used some bloody tapes and all the tapes lost during take off? Is it safe?
Thanks for your future reply
Regards,
xxxxxxxx
Akhirnya ketemu juga jawabannya. Dan ternyata cukup membahayakan juga.
From: Chris Brady [mailto:chris@b737.org.uk]
Sent: Wednesday, August 23, 2006 6:17 PM
To: xxxxxxxx
Subject: Re: B737-400 - Do you know what this hole/section made for?Hello,
The hatch is an inspection panel for part of the engine and should be secured with 4 catches, to use tape is very poor practice. There is actually no problem to the aircraft to fly without the panel, it is just streamlining and reduces drag. The danger would be when it came off, it could fly back and hit the tail doing some further damage.
If this aircraft was operated by Adam Air there are already some serious concerns about their safety practices. You should pass these photographs onto the Indonesian DGAC for them to investigate.
Best regards
Chris Brady
The Boeing 737 Technical Guide
Author www.b737.org.uk
Captain B737-3/4/5/700
LPL, UK
Pernah juga seorang teman yang lain komplain ke pramugari karena melihat cairan kuning keluar dari celah engine cover setelah pesawat take off. Setelah itu, ia dipertemukan dengan teknisi yang kebetulan ikut terbang. Menurut teknisi, cairan tersebut “cuma” oli yang merembes keluar. Oli tersebut memang harus dibuang setelah diproses dalam mesin. Hanya saja saluran aslinya memang sedang macet.
Terbang dengan selotip dan selang oli “buatan”? Oh, come on.
Keselamatan Penerbangan
Pernah ada penelitian yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% kecelakaan disebabkan oleh human factor (pilot error) dan 90% dari jumlah tersebut terjadi saat take off dan landing dalam keadaan cuaca buruk (hujan badai, windshear, downburst, dst) — karena pada saat take off dan landing tersebut terjadi pembebanan yang lebih besar dibanding saat cruise flight.
Operator yang memotong harga terlalu banyak, terutama cutting engineering and maintaining cost agar harga semakin murah dan kompetitif adalah sumber dari segala sumber masalah. Apalagi operator juga sering bandel. Lebih parah lagi, regulatory body juga terkesan kurang tegas dan independen.
Namun, kondisi airport yang kurang memadai dan kekurangan sistem navigasi serta komunikasi juga sebenarnya menjadi persoalan besar. Apalagi airport juga dituding cukup rawan korupsi dan penyalahgunaan, sehingga banyak safety procedure yang tidak dijalankan dengan benar.
Kondisi landasan juga perlu ditinjau lagi. Banyak airport yang memiliki desain runway kurang baik. Ketika terjadi hujan, alih-alih membuang air, runway justru menjadi pusat genangan air. Akibatnya, terjadi aquaplanning yang sangat membahayakan. Karenanya, runway juga perlu dikalibrasi ulang. Bukan hanya kekuatan atau kepadatan material, tetapi juga drainase dalam membuang air dan mencegah banjir.
Belum lagi soal behavior kita. Ketika cuaca buruk terjadi, pilot lebih memaksakan potong kompas dan jalan terus, bukannya divert ke airport alternatif atau return to base (RTB). Sama juga dengan kita sebagai penumpang. Kadang kita ngotot membawa terlalu banyak bawaan di kabin supaya tidak kena bagasi. Belum lagi kita sering tergesa-gesa menyalakan ponsel ketika pesawat masih berada di runway. Repotnya kalau sudah bicara soal manusia, mentalitas individu dan reputasi seseorang susah dipegang.
Kalau sudah begini, jangan harap airlines Indonesia bisa maju. Meski maskapai memborong pesawat-pesawat yang (benar-benar) baru, atau regulatory body melakukan reformasi, apa boleh buat, reputasi mereka sudah jatuh terlalu jauh.
Apa yang Bisa Kita Perbuat?
Belakangan memang cuaca sedang kurang bersahabat. Kalau memang memungkinkan, sebaiknya hindari bepergian terlalu jauh. Kalaupun harus, saran saya, pilihlah maskapai yang bagus atau maskapai yang Anda memiliki pengalaman baik selama ini. Jangan pertaruhkan nyawa demi selembar tiket murah. Kalau bisa, pilih pesawat yang relatif baru, karena biaya maintenance lebih kecil dari pesawat lama dan kondisinya juga lebih baik. Ada maskapai yang dengan jujur membeberkan kondisi/umur pesawat yang akan Anda tumpangi.
Juga, tak ada salahnya untuk mempelajari dan menghitung tiket/rute perjalanan yang akan Anda ambil. Misal, JKT-MDN dan SBY-MDC mungkin sama jauhnya, tetapi sangat berbeda karakteristiknya. JKT-MDN mudah dilalui dengan terbang lurus menyusuri garis pantai. Sementara SBY-MDC tidak bisa diambil langsung, melainkan harus sedikit berbelok ke kawasan Makassar, baru kemudian membelah Sulawesi sehingga perjalanan yang ditempuh lebih panjang.
Dan terakhir, hidup dan mati kita tetap kuasa Tuhan di atas. Jadi, kenapa kita tidak mencoba untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya?
Daftar Korban Pesawat Adam Air
Air Crew:
- PIC: Cpt. Refri Agustian Widodo
- FO: Yoga
- FA1: Verawati Chatarina
- FA2: Dina Oktarina
- FA3: Nining Iriyani
- FA4: Ratih Sekar Sari
Passengers:
- Abdulah/ Mr
- Agus/ Mr
- Ali/ Mr
- Allowisius/ Mr
- Annie/Aa Mrs
- Arif/Budianto Mr
- Ariston/Setyowidodom
- Bambang/Mardianto Mr
- Bambang/Supriyanto Mr
- Bambang/Utoyo Mr
- Benny/Lendo Mr
- Benny/ Mr
- Bobi/ Mr
- Boy/ Mr
- Bram/Tangahu Mr
- Christina/Agatha Ms
- Cici/Turangan Mrs
- Cindy/W Ms
- Daniel/H Mr
- Darianto/Fa Mr
- Dasilva/ Mrs
- David/ Mr
- Delon/ Mstr.In
- Dessy/Katarinapaulus
- Ellen/ Mrs
- Elnny/W Ms
- Eob Susetija Budi/ Mr
- Ester/Maramis Mrs
- Fajar/Jonah Mr
- Fathurrohman/ Mr
- Feri/Trihandayani Mrs
- Ferry/Kuingo Mr
- Fittorio/ Mr
- Flonia/Assa Ms
- Gabriel/ Mr
- Gary/ Mr
- Glenn/ Mr
- Halid/ Mr
- Halim/Dedianto Mr
- Hans/Rumengan Mr
- Herry/Sudaryono Mr
- Ibrahim/ Mr
- Ignatia/Gatuwati Ms
- Inggrid/ Mrs
- Jenny/Panda Ms
- Jolly/Willemmomongan
- Joppy/W Mr
- Jufri/M Mr
- Juneke/ Mrs
- Komang/Pradina Ms
- Kristina/ Ms
- Lale/Daniel Mr
- Leonardo/Pramatyaa Ms
- Limana/Saridewi Mrs
- Lindsey/ Ms
- Lisa/Kairupan Ms
- Made/Dwi Ms
- Maria/Jtolin Mrs
- Marice/S Mrs
- Marry/K Mrs
- Mathew/ Mstr.In
- Maya/Ismawati Mrs
- Meilan/Ms - from Jakarta
- Melva/W Ms
- Milka/ Miss.In
- Mirechele/ Mstr.In
- Nico/R Mr
- Novi/Hendrayanto Mr
- Novi/Kawengian Mrs
- Pasaribu/Letda Mr
- Petraselsrumpia/ Mr
- Pilih/ Mr
- Politton/Fnicodr Mr
- Pungky/ Mr
- Rendy/H Mr
- Riane/ Mrs
- Ririn/Mrs
- Roisatul/Muslimah Ms
- Ronald/ Mr
- Samsuri/ Mr
- Scott/Jakson Mr
- Sintje/Kalalo Mrs
- Sri/Hartini Mrs
- Stephanie/ Mrs
- Stephanus/Gatuwati Mr
- Syamsul/Arifin Mr
- Teofilus/Rikesaa Mstr
- Tumbelaka/Nontje Ms
- Tuminem/ Mrs
- Vira/Kms.Ch
- Warti/ Ms
- Wiesye/ Mrs
- Yahya/Kustedjo Mr
- Yono/ Mr
- Yosbe/Kawengian Mr
- Youla/Iroth Mrs
My sympathy goes out to the loved ones of those on the missing Adam Air. What a bad day to start the year.
January 14th, 2007 at 5:04 pm
March 9th, 2007 at 11:25 am
March 9th, 2007 at 4:34 pm
March 10th, 2007 at 12:19 am
March 18th, 2008 at 10:20 am
September 4th, 2008 at 9:48 pm
September 14th, 2008 at 8:55 pm
Comments
January 3rd, 2007 at 5:49 pm
sebagian dari tulisan ini dikutip dari pprune.org. atau jangan2 malahan nofieiman adalah PK-KAR? :)
January 4th, 2007 at 12:52 am
Bagus dan sangat komprehensif sekali. Thanks for sharing. Mudah-mudahan membantu dan bermanfaat juga buat yang lain. Terutama kalo perlu bepergian via pesawat udara.
Dan turut simpati juga buat para korban.
January 4th, 2007 at 1:57 am
wadoh panjang banget, ruar biasa nof
January 4th, 2007 at 3:39 am
MAnteb banget infonya bos….
January 4th, 2007 at 9:36 am
nice thread !
January 4th, 2007 at 10:03 am
Thx. Kapan kita bisa ngobrol soal pesawat?
January 4th, 2007 at 11:12 am
Iya si dari dulu saya juga sangat mengkhawatirkan keselamatan jiwa bagi penumpang pesawat udara di Indonesia. Bukti dimana faktor safety dikorbankan demi mencapai keuntungan sebesar-besarnya.
Saya pernah menulis tentang daftar umur pesawat dari maskapai lokal Indonesia dari daftar ini sebagian besar pesawat berusia di atas 17 tahun, seusia anak SMA? waduh kalau mobil sudah berusia 17 tahun sudah seperti apa tuh bentuknya?? :(
January 4th, 2007 at 11:19 am
it’s a low-cost airline, and so are our lives..
Bravo Metro TV, Bravo bung Saur, Agus Pambagio. Kami sependapat dg anda-anda dlm acara ’save our nation’ (3/01/2007) tentang ketidakberesan kondisi sarana transportasi negri ini terutama dari segi keamanan penumpang yang dimurahkan nyawanya semurah harga tiket pesawat mereka. Seolah karena tiket yg murah maka kompensasinya adalah nyawa penumpang yg juga murah.
Ungkapan klasik yg biasanya muncul ketika terjadi kecelakaan yg merenggut nyawa manusia ialah bahwa kematian adalah takdir dan bisa datang kapan saja dan dimana saja. Bahkan ungkapan ini cenderung digunakan sebagai apologi oleh pihak-pihak yg semestinya bertanggungjawab atas keselamatan penumpang. Masyarakat pun banyak juga yg akhirnya mengamini ungkapan tersebut secara ‘taken for granted’.
Musibah, kematian, memang takdir dan tentunya atas ijin Tuhan. Dan tentunya pemahaman tentang takdir tersebut seyogianya tidak secara konyol sehingga atas nama takdir kita boleh menerabas aturan dan menggampangkan standar keselamatan serta nyawa manusia.
Tentu saja konyol namanya jika atas nama takdir lalu standar keselamatan penumpang boleh digampangkan dengan alasan bahwa kalau memang para penumpang itu belum sampai takdirnya maka mereka akan tetap selamat, meski mereka naik kapal yg kelebihan muatan lalu tenggelam, atau naik pesawat yg pilotnya karbitan, atau naik pesawat rongsokan dan meledak di udara.
Kita ini manusia lemah dan ringkih. Nyawa kita cuma satu. Kita bukan superman. Tentu saja tolol dan konyol jika kita sengaja berdiri di tengah rel kereta untuk menghadang kereta yg lewat dan berpikir kita akan tetap selamat jika memang belum ditakdirkan untuk mati.
————-
January 4th, 2007 at 11:36 am
wah….makin yakin untuk nggak naik Adam Air, gimana dengan Lion Mas?
January 4th, 2007 at 4:51 pm
terima kasih banyak sangat berguna sekali.
January 4th, 2007 at 7:37 pm
info yang membuka pengetahuan saya..
jadi lebih tau nih sekarang.. berguna sekali
January 5th, 2007 at 8:13 am
kalo hape on pas lagi terbang memang bener bisa bikin navigasi pesawat kaco ya om?
*saalh pokus :D
January 5th, 2007 at 8:47 am
Mas Nof, artikelnya informatif sekali. Thanks ya Mas.
Doa untuk korban dan keluarga musibah ini.
January 6th, 2007 at 11:48 am
Saya akan coba membantu dengan 6th vision, cobalah pencarian difokuskan ke wilayah sekitar Pulau Toamoto (wilayah Sulawesi Selatan), dimana terdapat “gate of the pralel world” sebab di pulau itu ada satu tempat yang mempunyai G = O, ada satu cekungan pasir mirip lubang rumah undur-undur (tembukur: Jawa) disebelahnya ada pohon besar, keanehan tempat itu adalah betapapun banyak dedaunan dari pohon dimaksud berjatuhan, tidak akan pernah memasuki cekungan pasir tersebut, dedaunan akan berserakan mengelilingi cekungan dimaksud, silahkan hitung dengan alat GPS atau apapun, kalau dari cekungan tersebut ditarik garis lurus menembus bumi, maka garis itu akan muncul di Ka’bah.
Menurut vision yang kami terima itu kedua tempat tersebut adalah kutub utara dan kutub selatan bumi, sebelum terjadinya banjir Nabi Nuh, justru banjir nabi nuh adalah akibat bergesernya kutub bumi tersebut karena suatu hal yang belum diketahui hingga sekarang.
Ini bukan paranormal tapi benar-benar ilmiah, kemungkinan saat Adam Air melintas, saat itu berbarengan dengan jatuh tanggal wukuf di Arafah, dimana gerbang ke arah dunia paralel sedang terbuka
kebetulan Adam Air melintas dicelah gerbang dimaksud.
Terima kasih mudah-mudahan dapat membantu.
January 6th, 2007 at 8:48 pm
Wah, bagus banget nech mas ulasannya… Ngebantu banget orang awam kaya saya…
htpp://rievees.blogspot.com
http://bitsofrievees.blogspot.com
January 7th, 2007 at 10:50 am
Wah, artikel yang SANGAT menarik!! :)
Kayanya satu2nya maskapai nasional yang paling bisa dipercaya reputasinya cuma Garuda Indonesia ya??
January 7th, 2007 at 12:24 pm
Sangat membantu infonya,..namun pada akhirnya kembali pada orang pengguna jasa udara ini. Orang Indonesia khan terbiasa nyerempet bahaya, dan tak pernah pedulu dengan resiko, seperti bergelantungan di metro mini, duduk diatas gerbong kereta, naik kapal laut umppel umpelan sampai penuh..begitu pula asal dapat harga murah naik pesawat ya berani mati. Sepertinya informasi berharga ini akan lewat begitu saja ..
salam
January 7th, 2007 at 1:19 pm
Very comprehensive. But according to his name card Adam is not CEO but President Director. His brother, whose name I cannot remember, is the CEO. (Maaf ya because I’m bad with written Indonesian. Bisa faham, tapi tulisan saya cacat).
January 7th, 2007 at 4:16 pm
RUMUSAN PASTI KECELAKAAN PENEBANGAN
1. Aparat Institusi ( pemerintah )berkaitan yang menyimpang + Operator yang
menyimpang = Kecelakaan pesawat udara
Sebeb alasannya PENERBANGAN = PESAWAT UDARA + CUACA, dimana Pesawat memang harus melewati/mengalami cuaca yaitu kondisi udara yang melingkupinya untuk bisa TERBANG….
Sementara yang memutuskan Pesawt Udara ” LAIK “untuk terbang melalui CUACA pertama-tama PESAWAT harus punya C of A ( Certificate of Airworthines ) yang dikeluarkan oleh Dirjen Perhubungan Udara, dan C of A ini seterusnya dipercayakan kepada Operator untuk mempertahankan “kelaikan”, tentunya melalui program perawatan yang benar..
Jadi persyaratan pertama pesawat BOLEH terbang adalah “KELAIKAN” nya. Kita asumsikan bahwa semua pesawat operator kita yang terbang adalah “LAIK ” Udara, Maka sekarang adalah apakah segala persyaratan terbangnya sudah dipenuhi antara lain :
!. Beban lepas landas TIDAK melebihi MTOW ( Maximum Take Off Weight )
2.Barang-barang yang dibawa penumpang maupun Kargo TIDAK termasuk
Dangerous Goods
3. Muatan bahan bakarnya ” CUKUP ”
4. Seluruh personil yang bertugas ( Pilot, Teknisi, FOO , Load Master, Awak Kabin dll )
menangani pesawat tersebut harus MEMILIKI LICENCE / Certificate of Competency 5. Bla didalam penebangan terjadi suatu kerusakan serius yang dapat
menyebabkan “kecelakaan ” , atau ” cuaca ” di tempat pendaratan tidak
memungkinkan untuk didarati ( landing ) maka Pilot harus memutuskan pesawat
segera Divert ( turun di pelabuhan udara yang terdekat ) atau RTB ( kembali
kepelabuhan udara asal pemberangkatannya )
6. Komunikasi yang tersedia serta bahasa yang dapat dipahami dengan benar
antara Pilot dengan personil Petugas Pengatur Lalu Lintas udara ( ATC ) .
Hal ini sangat penting sebab salah satu contoh kecelakaan pesawat Airbus Garuda
Indonesia di Medan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat
konon hanya akibat “kesalahan Instruksi” yang dilkukan oleh petugas
lintas Udara (ATC). Silahkan bisa kita simak dari hasil Transkrip Cockpit Voice
Recorder ( CVR ) ( http://WWW.airsafe.com )
January 7th, 2007 at 4:27 pm
So never..never..ngambing HITamin..”CUACA”…untuk sekedar nyari selamet dari pertanggung jawaban di dunia ini…
January 7th, 2007 at 4:32 pm
So never..never..ngambing HITamin..”CUACA”…untuk sekedar nyari selamet dari pertanggung jawaban di dunia ini…percaya deh yang terbukti bersalah pasti bakalan di vonis telak di akhirat nanti…setuju kan semua ?
January 7th, 2007 at 4:42 pm
Jadi ???…semoga tidak ada lagi manusia-manusia normal yang menyalahkan “faktor cuaca” dalam setiap kecelakaan penerbangan ..Semoga…
January 8th, 2007 at 2:38 am
untung saya masih diberi umur yang panjang setelah menaiki adam air setahun yg lalu.. benar2 pembohongan publik “terbang dengan pesawat baru”
January 8th, 2007 at 3:25 am
Unspun
Thanks. I think I’ve made a bit mistake here. Adam is the President Director, while the CEO is his brother, Gunawan Suherman.
January 8th, 2007 at 5:42 am
mas.. ulasan yg bagus.
saya hanya mau bertanya ni.. apakah foto2 diatas ini anda sendiri yg mengambil.? bila bukan.. mohon dong copyrightnya di cantumkan.. or kalo nda mau dicantumkan, anda sudah minta ijin dulu blum nie..? thx.
mudah mudahan tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini (kecelakaan pesawat dan transportasi lainnya) ayo bangun budaya “safety first”
January 9th, 2007 at 2:24 pm
tukang gambar,
gak papalah bro, ini bukan buat tujuan komersil jadi gak usah pake copyright2an…..
kalo tiap gambar harus pake copyright bisa berabe nih
January 9th, 2007 at 2:50 pm
It is a very interesting article that provided a good evident.
January 10th, 2007 at 2:34 pm
wuihhhhhhh lubang pesawat ditutup pake solasi ???? buset… apa karena saking murahnya jadi cuma cukup buat beli solatip…. makkkkk.
thx atas infonya, karena saya ering juga pake adam air dari jakarta ke makassar.
thx banget fuihhhhh pantesan yg dicari puing2nya aja tuh adam air yg jatuh, jgn2 pas lagi terbang terbelah karena semua solasinya terkelupas
?????
January 11th, 2007 at 7:37 am
Om Dude.. berabe gimana nie..? tinggal minta ijin aja kok.. dan saya rasa si pemilik pun akan dgn senang hati memberikannya, karena bukan untuk komersil. (Supaya referensinya itu jelas)
Untuk info.. pesawat yg pake selotip itu bukan adam.. ini saya ambilkan linknya.. dari si pemotret dan penulisnya langsung (agustus 2006). (itulah… supaya sumber beritanya nda simpang siur mas).
Untuk Chris Brady, The Boeing 737 Technical Guide, Author http://www.b737.org.uk.
web ini bukanlah milik Boeing, as a manufacture, pesawat Boeing itu sendiri.
http://www.indoflyer.net/indoforum/tm.asp?m=807543&mpage=1&key=selotip
Bung Nofie.. keep on writing OK..
January 11th, 2007 at 10:10 am
Yth Nofie Iman,
Saya mengelola Majalah Umum Bulanan non komersial dan nirlaba, artinya majalah ini tidak dijual tapi dibagi gratis kepada pembaca.
Mengingat infromasi yang sangat baik dalam artikel ini, saya mohon ijin kalau boleh kami mau memuat artikel ini dalam terbitan majalah tersebut.
Karena Free Magazine, mohon anda jangan minta honor atau imbalam ya……….he…….he………he
Jawaban segera kami tunggu, rencana terbit tanggal 25 Januari 2007, kalau space gak cukup akan saya buat dalam dua atau tiga edisi.
Nama Majalah, “Lotus majalah umum bulanan” dan “Prevensi” , khusus prevensi dikelola bersama dengan Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia yang diketuai oleh Bpk. Da’i Bachtiar.
Terima kacih
Andri Subandrio
January 11th, 2007 at 2:13 pm
Intriguing and interesting information, thanks for sharing!
A little bit disagreement was about that 600 death toll you mentioned earlier as Indonesia’s latest 10 years cummulative airline fatal accidents. Have you realised, that every year we (Indonesia) have as high as 36,000 road related fatal accidents, and it never made into mainstream media or much talked about in the blogging world?
Just my two cents.
January 11th, 2007 at 2:30 pm
Ada cara aman terbaru menerbangkan pesawat, dengan remote control. Serius, lihat dan saksikan filmnya di: http://www.loosechange911.com
January 11th, 2007 at 3:33 pm
emangnya sdh ketemu ya? koq dibilang “korban” sih mas?
January 12th, 2007 at 12:25 am
Analisa dan Metodologi penulisan yang sangat bagus Boss.
Benar-benar membuat kita-kita yg awam jadi lebih paham.
Tapi sangat disayangkan sekali, tulisan yg luar biasa ini terasa timpang.
Foto-foto tersebut di atas alangkah baiknya jika anda pasang dengan se izin pemiliknya.
Bukan apa-apa sih. Tapi kan masalahnya foto itu kan udah copyrighted.
Atau paling tidak, biarkanlah foto tsb seperti aslinya tanpa memotong bagian bawah foto itu. Yang berisi sumber & nama Fotografer nya.
Selamat Berkarya !
January 12th, 2007 at 1:00 am
tukang gambar, Landing Gear
Huge thanks for your comments. Well, actually I’ve got the pics from a friend of mine. I don’t do any crop/modification on it, but resized it to make it fit with my site layout. I apologize. I didn’t meant to hurt anyone at all. And credit goes to the original photographer.
January 12th, 2007 at 9:20 am
Bung Nofie,
Analisis yang pagus, tapi kok sepertinya menghakimi ya….. alangkah baiknya kalo netral. Kan anda sebagai pengamat harus bisa di tengah2 jangan ikut2an pengamat lain yang akhirnya ikut golongan, oceh….
Tapi perlu diketahui, selain FOO ada juga namanya Loadmaster. Dialah yang menghitung berat pesawat yang sudah disusun FOO (termasuk fuel, cargo, pax weight dan empty weight).
Satu lagi, pakaian seragam putih biru bukan bertujuan agar bisa meng(k)adali penumpang, karena sebagai orang penerbangan, kami juga masih punya nurani. Kl bukan pilot tidak akan kami mau disuruh terbangin pesawat. Apalagi OB disuruh ttd kelaikan pesawat. Pakaian seragam putih biru ini adalah seragam international, kl anda perhatikan hampir mayoritas airline di dunia memakai putih biiru untuk seragam operational mereka (pilot, teknisi, ramp, pasasi, FOO, dsb). Hal lain lagi adalah untuk mempermudah kami pada saat berada di luar negeri dengan identitas “AIRCREW”.
Sekali lagi, plesae keep neutral…. Jangan menghakimi dalam setiap analisis anda.
January 12th, 2007 at 10:03 am
AIRLINER
Terima kasih. Bagian tersebut saya perbaiki supaya tetap netral dan obyektif.
January 12th, 2007 at 2:20 pm
Bicara mengenai sayap pesawat yg diselotip, saya ada fotonya. Dan kalau dilihat fotonya, yg pertama pesawat itu parkir di Terminal Bandara Soekarno-Hatta, kedua pesawat itu dilihat dari bentuk enginenya adalah B737-300/400/500, ketiga cover engine pesawat tsb berwarna orange. Kalau bukan Adam Air kira2 maskapai apa?
January 12th, 2007 at 2:41 pm
menurut gw, masyarakat kita juga membiarkan hal-hal ini terjadi soalnya pada akhirnya kita lah yang menentukan apakah airline itu akan sukses atau tidak, karena kita juga yang pada akhirnya harus membayar setiap tiket yang kita beli di airline itu.
ada satu hal yang menarik saya baca dari situs airliners.net yang mengatakan bahwa 50% dari total penumpang pesawat di indonesia adalah firstime flier yang artinya mereka sebelumnya belum pernah naik pesawat sehingga hal-hal yang disebutkan diatas tidak akan masuk kedalam kepala mereka.
January 13th, 2007 at 1:00 am
Wah… Ngrangkum.
Data dari PPRUNE dan IndoFlyer.net digabung semua disini.
Kalo masalah foto, minimal minta ijin la boss… jangan maen tikam aja. :)
January 13th, 2007 at 2:31 am
wah..keren…
January 13th, 2007 at 11:44 am
I’m sure U’ve referenced some of my posts to put in this article, but somehow I see there’s some “subjectivity” in your article.
As to age of aircraft, thank you for proving that a 30 year old DC9 can still be safe provided maintenance is well looked after… and I’ve been on old but excellent planes in better condition than newer aircraft due for the workshop (with one of the “leading airlines” you mentioned).
As you mentioned the costs of maintenance and your question as to whether Indonesian operators can afford the required safety level, perhaps the question should be more towards “is our regulator ready” or “was the 737-200 ban a WISE thing to impose?” Because clearly, there are more things to tweak and retune on a 737-300/400/500 than on a -200, and those are not cheap either.
Pax’s life are worth US$60? I wonder where you got that number from?
As to the email to/from Chris Brady, perhaps it would be better if you stated that the aircraft mention was NOT an Adam Air aircraft… and yes, B737.org is NOT Boeing nor is it a website related to Boeing. It is a site run by 737 users/operators/pilots/crews/engineers/etc. And Chris Brady would be converting to an Airbus soon or moving airlines, if my guess is correct.
I would like to make a correction… Jakarta-Medan is 2h15, Surabaya-Ujung Pandang/Makassar IS NOT a similar stage length! Maybe it was Surabaya-Manado instead?
And yes, blaming the weather is too simple, so is blaming the pilot… One must always look at other contributory factors.
PK-KAR
January 14th, 2007 at 3:54 pm
Nice writings. Memang menyedihkan melihat kondisi penerbangan di Indonesia. Penumpang cuma dianggap kecil nilainya. Dan memang, kalo udah bicara soal mentalitas, baiknya Indonesia dikesampingkan dulu deh…
January 15th, 2007 at 10:28 am
Hello Nofie,
Nice article. Seems that you wrote it based on comprehensive research, but, since your background is dubious, It would make the text is neither trustworthy. SOme parts of your articles could bring the audience to misleading perception.
You may analyze the main causal of Indonesian domestic industry condition.
soon after deregulation made by gov in late 1998, the industry expands itself with an amazing number. passenger flown growth reached 22% p.a.
but, the lack of labour supply who equiped with certain training and certification (not only for the aircrew and engineer but also for ground staff) brings the condition worse.The authorities would also face the same situation.
Your article tends to use new aircraft instead of aging aircraft.
Nothing wrong with aging aircraft. the manufacturer (also regulator) tried to improve maintenance practices, design with regard of aging aircraft.
http://www.techbriefs.com/content/view/299/32/
http://aar400.tc.faa.gov/Programs/AgingAircraft/agingsystems/index.htm
The “seloptip” aircraft mentioned above is Not Adam Air. You may see the discussion in another forum. your articles would make confused the reader instead.
and Yes, we, (all of the stakeholder) should keep pushing hard to operator, authority and also the passenger itself for better future.
~flying doctor~
January 15th, 2007 at 4:42 pm
Terima kasih Pak atas analisanya. Terlepas dari masalah obyektifitas atau tidak, ada pameo di masyarakat terkait dengan transportasi “ongkos boleh murah tapi gak pake rem”.
Simple aja, apakah dengan harga tiket yang murah apakah bisa menutupi running cost secara wajar ? Pasti ada yang dikorbankan, apapun itu, sebaiknya menjadi bahan pemikiran para konsumen.
January 16th, 2007 at 8:20 am
Bagus, tapi mohon informasi ada perbedaan yg menyolok yaitu pada paragraf pertama disebutkan pesawat sampai di bandara Sam Ratulangi 15.07 WITA, sementara di paragraf kedua disebutkan sampai di bandara Sam Ratulangi 17.23 WIT.
terima kasih
Ken Heraztho
January 16th, 2007 at 5:02 pm
flying doctor
Thank you for your response. Having no degree/certificate in aerospace engineering or aviation management, as well as working experience in airlines industry, probably makes my article less trustworthy — although I wrote it based on comprehensive research.
However, my uncle was a former employee of IPTN/PTDI. My lecturer in college is a commissioner of a big airline in Indonesia. I also have a close friend that work at GMF.
Not to mention that my ex-girlfriend is also a flight attendant.It gives me a lot of knowledge and understanding on airlines and aviation area.Back to few years ago, soon after deregulation, we’ve even planned to start our own airlines business. Until we realized that we can’t only buy old planes and then ignore a lot of maintenance and engineering cost just like other LCC do — for the sake of security, ethic, and moral reason. Even though we determine to do that, our advisors said that we will not get our investment back before struggling 5 years or so in this bloody competition.
It makes me wonder why LCCs such as Adam Air can survive in this uncontested market. Did they have a lot of excessive cash to hedge against oil price fluctuation? Do they have good marketing plan and PR programs? Do they employ a lot of talented and highly-skilled personnel? Or by having a huge backup from their business communities and high-profile politicians? Let’s see how Lorena take a play here.
Regarding the “selotip,” I never told anyone that those “selotip aircraft” was Adam Air. I only said “other major airlines in Indonesia.” I didn’t intend to either confuse readers or drive them to misleading perception anyway.
And after all, I do agree with you that we should keep pushing hard to operator, authority, and ourselves as a consumer/passenger. And I was very wondering if you don’t try to judge a book only by it’s cover. :)
January 16th, 2007 at 5:04 pm
Ken Heraztho
Terima kasih atas koreksinya.
January 16th, 2007 at 9:47 pm
Buat tambahan info saja, ini saya kopi kan dari forward dari teman
January 17th, 2007 at 2:12 pm
Hello from Tokyo.
I found your blog when I googled - Sop Buntut Borobudur Hotel ; P
I just shared a complaint from my Japanese friend who flew with Adam Air from Jakarta to Bali today. The stewardesses were terrible, she said. Bad manner and unprofessional. She was happy she flew back with Garuda (international flight) on the way back. This kind of soft side (services) reveals the true quality of Adam Air.
But the most embarassing is… the false report. And the prediction by the Fortune Teller is a funny joke… Bener2 deh, I wish they will double-check before make an official announcement.
That’s it. I’ll stop by again! Keep writing!
January 17th, 2007 at 11:35 pm
hm.. akhirnya sy menemukan tmpt utk menumpahkan isi hati saya. sy cm org biasa gada hubungan apa2 dgn keluarga tp sy punya teman yg jg punya vision spt itu.. tp beda versi memang. tp mengetahui akan byk org yg selamat atau plg tdk dpt menemukan pesawat itu mbuat sy ingin sekali membantu. agak sulit krn tdk tahu hrs kemana utk menceritakan visi itu.. setelah mencari dibandara dan ke posko adam air (saat itu sedang tutup hr sabtu minggu) sy hanya mendapat beberapa no telepon. sy mencoba menelepon keluarga korban tp mendapat respon yg krg baik. dan ternyata byk keluarga korban yg jg menggunakan paranormal2 tp tdk menemukan pesawat itu sampai sekarang. mengingat kejadian sekitar 20 thn silam ada pesawat yg jg hilang tetapi tidak ketemu akhirnya kasus pun ditutup. Itulah Indonesia.. Sy org Indonesia dan saya tidak ingin Indonesia seperti itu lg.. jd saya berusaha untuk membantu untuk menunjukkan tempat pesawat itu.. tapi sangat sulit untuk menjangkaunya dan memerlukan helikopter beserta pilot yg sangat2 handal, serta tim SAR yang berpengalaman. krn terlalu sering paranormal datang tetapi tidak kunjung ketemu maka orang2 jd tidak percaya. Jadi apa boleh buat saya menyerah beberapa hari yg lalu dan memutuskan hanya membantu lewat doa. Tetapi baru siang ini juga di metro tv menyiarkan ada keluarga korban yang masih mencari dengan tim Sar sendiri. Sy kembali terbangun dan ingin lg membantu. Jika anda mengetahui siapa nama keluarga korban itu dan no teleponnya tolong juga dicantumkan. terima kasih!
January 18th, 2007 at 2:19 pm
Looking at so many transportation disasters happened in Indonesia lately, I wonder if people should demand Hatta Rajasa, the Minister of Transportation to step down. Obviously, he’s no use in his current position! The longer he stays the more problems we will face in the transportation management!
Before too late, I encourage President SBY to replace him with someone who understands and has the competency in managing mass transportation. Enough is enough! How many more people should die before we realize that the Ministry of Transportation and Indonesian Transportation Management need major revamps? President SBY should’ve not installed him as Minister of Transportation in the first place, anyway!
Mr. President, while you still have enough time before the next presidential election in 2009, please improve your government’s performance. Get rid of those cabinet members who don’t have the capability and competency to deal with whatever issues in their respective departments. Transportation is just one example of a ministry with poor leadership. Ministries of Agriculture and Religious Affairs are two more examples of how political ‘horse tradings’ have led to major problems in this country.
We, the people of Indonesia, deserve to live a better life!
January 19th, 2007 at 2:12 pm
Jgn terlalu percaya dgn tulisan ini, karena mungkin penulisnya adalah perusaahaan pesaing Adam Air. Hal ini bisa kita lihat dari email yang dicuplik dalam tulisan ini.
1). Dalam e-mail pertama berupa pertanyaan tentang adanya lubang di sisi pesawat tanpa penulis menyebutkan nama airline-nya, tetapi pada e-mail kedua yang berupa jawaban atas pertanyaan e-mail pertama penjawab menyebutkan nama Adam Air. Pertanyaan saya adalah, dari mana penjawab mendapatkan nama itu.
2) e-mail tersebut ditujukan kepada chrisbrady@b737.org.uk tetapi yang menjawab adalah chris@b737.org.uk
Patut diduga bahwa email ini sebenarnya hanya rekayasa (?) sehingga secara keseluruhan tulisan ini sulit untuk dipercaya.
January 20th, 2007 at 5:02 pm
buat mas chairul,
sebenarnya justru komentar anda yang tendensius dan sulit dipercaya. saya dan teman-teman disini nggak melihat adanya rekayasa. kami malah percaya bahwa tulisan ini cukup worthy. bagus lho pak iman ini mau nulis begini sehingga yang awam kayak kami ini jadi paham.
mengenai lubang pesawat tersebut kayaknya memang disebutkan bahwa bukan adam. di komentar2 di atas malah penulisnya sudah bilang bahwa selotip itu BUKAN adam air, tapi maskapai penerbangan lain. ini juga udah ditanggapi sama komentar pembaca yg lainnya. jadi anda sendiri yg salah persepsi.
di kantor saya sendiri, saya pake (dikasih) beberapa username buat email yang beda satu sama lain. ada artika_haps ada yg cuma artika aja. sama saja kan? cuma biasanya email satu saya pakai buat client2 khusus yg memang butuh perhatian lebih. sementara username email lain dibuat untuk komunikasi yg umum2 aja.
nah, kalau mas chairul punya pendapat beda dan lebih bagus dari tulisan ini, kenapa nggak buat blog/artikel/tulisan sendiri? biar nanti pembaca tulisan mas menilai trustworthiness tulisan mas? hehe :D
oiya. setau saya pak iman ini kantornya bukan pesaing adam air. nggak ada hubungan sama sekali malah dengan adam air, baik itu hubungan kompetisi atau pun hubungan searah.
peace!
January 21st, 2007 at 12:50 pm
wis mbolah. lek ngene satu gak percaya sing satu ya perang dunia III ae lagek nunggu2.
January 22nd, 2007 at 1:50 pm
Quite a comprehensive article. Thank you for the valuable information.
I just want to highlight an error.
Your article mentions that the cargo of max of 2,8tons (2800kgs) which give a profit around US$9000.00 (average US$ 3.21/kg). I think this figures is incorrect. The freight rate from Surabaya to Manado will be around US#1.30/kg maximum, may even lower than that.
I am working in an international freight forwarder, so I know rightaway that the figure is wrong.
Best regards
chandra
January 23rd, 2007 at 1:28 am
Since my name has been mentioned several times in this thread, I shall give you my side of the story.
In the post entitled “Operator yang Sembrono” email correspondence between myself and somebody who wrote to me via my website has been posted. This was done without my knowledge or approval. It was a private email exchange and was never intended for public viewing. That said, I stand by what I say, although I should point out that I did not know if the aircraft in the photograph was Adam Air or not.
Re the post by tukang gambar of Jan 11th. I do not speak Indonesian so I am unable to comment about this.
Re the post by PK-KAR of Jan 13th. He makes the valid point that the aircraft to which I was referring may not (probably was not) Adam Air. For info I will be staying at my present airline and remaining on the 737 for many years to come.
Re the post by chairul of Jan 19th. Please have the decency to remove my email address from this blog. If you have anything to post about me, at least do so in English so that I may respond.
I would remind readers/contributors that I am just a pilot and I have no inside knowledge of the accident. My website and book are simply for educational purposes, I have no agenda, other than to pass on any lessons learnt to the 737 community.
Finally, may I express my sincere condolences to anybody reading this thread who may have lost family, friends or colleagues in this tragic accident. Let us hope that lessons can be learnt which may prevent similar from happening again.
Chris Brady
http://www.b737.org.uk
Author: The Boeing 737 Technical Guide
January 26th, 2007 at 3:26 pm
makasih atas infonya…. Jadi semakin tau tentang dunia penerbangan di indonesia. Kalo gitu kalau mau terbang mending naik GatotKaca Airlines aja…. Indonesia banget tuh……
January 27th, 2007 at 9:32 am
Guys, my name is Adam. But I am not the CEO of crappy Adam Air.
Do you think Indonesian’s government can handle this?
What about we give ADAM Air time to “repair” their management or close it down?
January 27th, 2007 at 9:42 am
Dang.. I forgot to mention one thing!!
Its useless, if Adam Air closed.. its easy to make another one.
Maybe Dave Air or Laksono Air or maybe Sandra Air.
Lol
January 29th, 2007 at 10:31 pm
Agung Air :d
January 29th, 2007 at 11:13 pm
Well I’d say this article is pretty decent even most of it’s content were plagiarised? Learn more referencing, quoting or even understood what IPR stands for…
January 31st, 2007 at 3:48 am
Saya pernah dengar dari ” seseorang ”
Bahwa penerbangan adalah transportasi yang paing aman di dunia…
Oh no…
Sekarang naik pesawat …takut jatuh
Naik kapal laut …takut tenggelam
Naik KA …takut anjlok…
Dunia transportasi di negara kita memang memprihatinkan…
Kenyataannya Low Cost Carrier di negara asalnya …persentasi kecelakaannya kecil.
Semoga arwah semua korban diterima di sisiNya
Amin
February 9th, 2007 at 10:28 pm
Adam Air tidaklah seburuk yang saudara2 kira.
- Foto pesawat di selotip:
Kalau kita perhatikan backround dari foto tsb, jelas pesawat tsb parkir diterminal 1A, karena terlihat jelas disitu ada pagar untuk penahan jet blast. Sedangkan Adam Air parkir di terminal 1C.
Hanya ada dua airlines yang mesinnya di cet merah parkir di terminal 1A.
- Capten Sutan S
Ke-profesionalan anda sangat diragukan, karena anda menerbangkan pesawat yang rusak. Bukankah keputusan terakhir ada di tangan Capten ??????. Seberapa kuat pun paksaan dari owner kalau anda benar2 mengerti peraturan saya yakin anda tidak akan menerbanginya.
Saya yakin anda tidak mengerti peraturan penerbangan, anda bulan Oktober 2006 di GROUNDED 2bulan oleh DSKU karena mendarat di Jambi dalam kondisi cuaca dibawah landing minima,
- Terimakasih
February 13th, 2007 at 11:25 am
Lona ki sopo to? wakakak..adam air..please deh…
February 14th, 2007 at 11:03 am
I just want to add more information and some thought. I’m not going to judge anyone but please open your mind. I found some shocking facts related with The Adam Air incident. At first as a PR, I have a great salute for Adam Air concerning the crisis but in the end I kinda dissapoint with how they run the bussiness.
I admire how they treat the passengers family but Why while The Rescue Team busy to search the plane location, Adam Air busy to build their image not in apropriate way.
Part of my work is to maintain relationship with journalist. From them, I found out that Adam Air willing to give Rp. 1.000.000,-/person. Unfotunately that offer was rejected, the media doesn’t want the insentive will affect the objectivity. Not to mention the Liputan 6 case, Do you still remember when the Adam Air management came to SCTV and asked them to give good compliment about Adam Air. The two cases I mentioned came from big media companies where objectivity is a high priority because they are wealthy enough to support their crew but what about small media?. Considering there are plenty of journalists cover up the story and perhaps some of them accepted the money, Imagine how much does it cost..
Actually if Adam Air have a lot of money to bribe the media why dont they use it to give safety flight. Correct me if i’m wrong..Good quality first then Good Image will follow…Right?. Its not just for Adam its for everyone
-peace-
February 21st, 2007 at 9:08 pm
Dalam kasus Adam Air ini, saya menganalogikan situasinya bahwa ada laporan pembunuhan, bahkan ada bukti berupa kenyataan bahwa korban sudah hilang dan dilaporkan hilang oleh keluarganya selama beberapa minggu. Sepatu milik korban yg diketahui dipakai korban saat terakhir korban dilihat masih hidup dan dilihat saksi, telah ditemukan ditempat sampah. Beberapa saksi megatakan melihat korban beradu mulut dengan beberapa orang sebelum dia hilang. Lebih dari itu ada saksi yg mengatakan mendengar suara jeritan digang dekat dimana sepatu korban ditemukan. Polisi juga punya bukti bahwa korban suka berjudi dan punya hutang banyak pada rumah judi yg dikenal punya tukang2 pukul yg sangar utk menagih hutang2 perjudian etc.
Tetapi tubuh korban belum ditemukan, dan tentu saja tidak diketahui apakah benar korban dibunuh orang atau hilang dibawa jin begitu saja. Kalau dibunuhpun tidak diketahui alat apa yg dipakai membunuh, dan tidak ada satu saksipun yg melihat kejadian dimana korban dibunuh.
Nah satuan polisi yg menangani kasus ini adalah tim KNKT kasus Adam Air yg masih belum ditemukan dan jelas belum diketahui penyebab kecelakaan tsb. Ada beberapa puing pesawat yg menunjukkan bahwa pesawat naas itu memang mengalami kecelakaan, tapi tak jelas dimana dan bagaimana. Tim KNKT, seperti halnya polisi yg profesional, tidak akan secara gegabah langsung mengambil kesimpulan sebelum semua barang2 bukti ditemukan, dikumpulkan, direkonstruksi kembali dan dianalisa. Hanya para jurnalis dan masyarakat pembual saja yg langsung menjadi “ahli” ttg kecelakaan pesawat saja yg langsung angkat bicara dan membuat pernyataan2 tanpa disertai bukti kuat. Inilah situasi yg ada saat ini.
Sering di sebut2 bahwa ada ahli penerbangan ini dan itu mengatakan begini dan begitu. Ingin saya tekankan bahwa ahli aerodinamika, bahkan ahli CFD dan matematika yg jagoan seperti apapun, bukanlah ahli forensik peneliti penyebab kecelakaan pesawat. Ahli struktur, bahkan super ahli bidang damage tolerance ataupun aging aircraft, atau ahli system pesawat etc, bahkan profesor aerospace yg punya gelar PhD dari 3 universitas dan telah mengajar 40 tahun dan pernah diberi penghargaan dari NTSB, FAA ataupun NASA pun bukanlah ahli yg dapat secara teoritis mengulas mengapa suatu kecelakaan pesawat terjadi. Saya bahkan yakin bahwa tidak mungkin 1 orang bisa menjadi ahli yang sanggup secara tuntas sendirian memberi penjelasan yg meyakinkan ttg penyebab kecelakaan udara. Yang ada adalah banyak “ahli” ber spekulasi mengapa pesawat mengalami kecelakaan.
Yang benar2 ahli adalah satu tim beranggotakan banyak disiplin ilmu yg berkaitan dengan aerospace dan kecelakaan pesawat. Orang2 ini adalah anggota2 tim KNKT yg saat ini sedang bekerja. Kalau di Amerika yg ahli adalah tim NTSB (National Transportation Safety Board). Di Australia adalah Australian Transportation Safety Board (ATSB), di Kanada adalah Transportation Safety Board of Canada (TSBC). Di Indonesia Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau dalam bahasa Inggrisnya National Transportation Safety Committee disingkat NTSC dstnya.
Tim profesional tsb bekerja berdasarkan juklak2 baku yg dibuat oleh badan internasional seperti ICAO dlsbnya. Tujuan tim pada akhirnya adalah mencari penyebab2 terjadinya kecelakaan dan lewat FAA kemudian memerintahkan paksa pada semua airlines dan pabrik pembuat pesawat utk memperbaiki metoda perancangan pesawat baru dan memperbaiki peralatan yg ada di pesawat2 yg beroperasi utk meyakinkan agar kecelakaan yg sama oleh penyebab2 yg sama tidak terulang lagi. Mereka bukanlah individu2 yg berceloteh seenaknya sendiri membuat sembarang asumsi. yg omongannya ditulis dikoran tapi tak punya kredibilitas secuil pun.
Kalau anda ingin tahu lebih banyak ttg cara bekerja tim seperti ini silahkan baca laporan2 kecelakaan pesawat yg ada banyak diinternet, atau paling tidaknya baca satu contoh yg alamatnya diberikan dibawah ini, menceritakan ttg kecelakaan pesawat Swissair di Nova Scotia Canada dan belum lama lalu ditayangkan di Discovery Channel. Mereka bekerja selama 4 tahun menghabiskan biaya $3milyar dan mengumpulkan sebanyak mungkin kepingan2 pesawat yg tenggelam dilaut yg berjumlah ratusan ribu keping dan dicoba dipasang kembali menyerupai pesawat asalnya. Itupun belum cukup menyenangkan bagi keluarga para korban, yg hidupnya berubah menyakitkan karena ditinggal mati anak, bapak, ibu atau anggota keluarga lainnya, yg disebabkan oleh kelalaian maskapai penerbangan.
Ini mungkin lain dari di Indonesia dimana setiap korban hanya diberi santunan sebesar $5ribu sampai $10ribu, dibandingkkan dengan di Amrik yg besarannya adalah ratusan ribu dolar! Disamping itu maskapai seperti Adam Air, walaupun seandainya terbukti bersalah dan lalai dalam meyakinkan agar cara operasinya benar2 mengutamakan keselamatan penumpang, toh tetap diperbolehkan beroperasi tanpa memperbaiki secara signifikan cara2 beroperasinya, dan dapat diperkirakan bahwa kecelakaan yg mirip dan disebabkan oleh penyebab2 yg mirip akan terjadi lagi tak lama lagi. Inilah sebabnya maka muncul banyak “ahli” yg mampu menganalisis penyebak kecelakaan tanpa secuil bukti nyata pun. Tokh pada akhirnya apakah investigasi dilakukan secara profesional ataupun tidak, tetap saja tidak ada perbaikan2 yg akan dilakukan oleh pebisnis2 yg tak peduli nyawa orang asal saja keuntungan yg bisa dikeruk bisa semakin besar. Kalau perlu para ahli, para politisi, polisi, kejaksaan, anggota DPR, kepala2 pemerintahan dllnya semuanya tokh bisa disogok dengan mudah, seperti disinyalir oleh banyak teman2 lainnya.
Namun demikian marilah kita tetap bersikap profesional dan membiarkan para ahli yg sebenarnya, yaitu tim KNKT kita, utk bekerja dengan se baik2nya, dan marilah kita perbaiki sistem kemasyarakatan, sosial, politik, peradilan etc supaya seperti bangsa2 maju lainnya kita tidak bisa begitu saja menerima kematian barang 1 nyawa manusiapun, hanya karena kebodohan dan ketamakan orang2 kita yg kebetulan menduduki jabatan sebagai pemimpin2 baik pemerintahan maupun bisnis. Walaupun semua hal memang sudah nasib yg ditentukan Allah SWT, tetapi Tuhan juga memerintahkan agar manusia selalu berupaya sekuat tenaga. Tuhan tidak akan menolong bangsa yg tidak berusaha menolong dirinya sendiri. Kita tidak boleh membiarkan kebodohan dan ketamakan menentukan nasib kita.
April 28th, 2007 at 11:47 pm
boleh saya pakai data yg ada di web ini buat tugas kuliah?
temanya tentang permasalahan praktek regulasi di indonesia, topik yg saya ambil adalah tentang industri penerbangan.
June 28th, 2007 at 11:47 am
Maaf sepertinya saya harus mengkoreksi tulisan ini.
” Kebanyakan pesawat yang akan dijual atau disewakan (leasing) memiliki data-data seperti aircraft general, maintenance data, engine data, propeller data, landing gear data, hydrolic data, pilot tube, dan sebagainya yang mengacu pada regulasi yang diterbitkan DGAC/DSKU. Tetapi di Indonesia, data-data tersebut tidak ada atau tidak update. Alasannya, jika terjadi audit dikuatirkan biayanya akan sangat mahal. Untuk mengkalibrasi pitot tube juga sangat mahal. Belum lagi dokumen resmi pendukung yang tidak ada (atau ditiadakan) — bahkan untuk ground run/run up saja jarang dilakukan”
Jangan menyamaratakan semua operator di INDONESIA, saya bekerja di Maintenance utk pesawat di INDONESIA, dan semua pesawat saya memiliki semua dokumen maintenance dan semuanya UPDATE!
June 29th, 2007 at 12:40 am
Kardus
Trims kritiknya. Bisa dishare infonya disini?
July 1st, 2007 at 9:06 pm
Gimana caranya yang penting nyampe lah…
November 29th, 2007 at 12:52 pm
It’s wonderfull story …and it can help us to be selected the aircraft…
Pls info the other aircraft for safe our live.
Thanks.
December 15th, 2007 at 4:16 pm
Dalam kasus Adam Air ini….perlu ditegaskan kl memang tidak terbang jgn dijual brensek!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!….kgk profesional sekali anjing bkn sekali 2kali kejadian ini sebagai DM tlg ya diflowup kerjaan baik dilapangan mau pun dikantor……..seenak aj mang lu aj yg pny maskapai,,,,entar saya expose di media2 umum bila prlu RCTI se x an…gerah gw lma..ADAM AIR THE BOUTIQE AIRLINE…TAK TAHU DIRI
December 22nd, 2007 at 7:24 pm
trims …..infonya sangat detail sekali , bos . thanks…thanks
March 20th, 2008 at 8:08 pm
Ketika saya melakukan perjalanan dengan penerbangan dari Surabaya ke Jakarta dengan pesawat PK-KKW, kebetulan disamping saya seorang teknisi AdamAir. Saya seorang instruktur pilot di sebuah perusahaan penerbangan swasta. Saya iseng bertanya pada teknisi AdamAir tersebut, seberapa kemampuan dan kapasitas dia menangani hal teknis yang dia lakukan sehingga terjadi delay hampir 1,5 jam ketika itu.
Dia bercerita kalau pesawat ini ada masalah di suatu modul yang bernama HSI (sirkuit berfungsi mengatur kecepatan perputaran turbin mesin dan mengontrol arah) di mana alat tersebut yang bekerja memberi informasi pada modul Auto Pilot.
Dia bercerita bahwa pilot mengatakan Auto Pilot rusak. Tetapi setelah di cek modul Auto Pilotnya ternyata tidak ada masalah. Tetapi dikatakan ada modul yang berfungsi hubungan langsung dengan Auto Pilot tidak bekerja normal/rusak. Teknisi Adam Air tersebut mengatakan, “Ya karena spare part tidak ada dan itu untuk auto pilot maka manajemen meminta dilakukan secara manual dan layak terbang sambil menunggu nanti bila spare part sudah tersedia, karena akan rugi bila penumpang tidak diberangkatkan”.
Saya tidak habis pikir masalah ini. Maaf teknisi tidak berdaya dihadapan manajemen. Apa artinya mementingkan keselamatan disini. Bila hal demikian terjadi, saya menduga (mungkin bisa di cross chek pada manifest perbaikan PK-KKW paling tidak 7 hari sebelum kecelakaan terjadi) pada saat itu cuaca sering tidak menguntungkan. Pilot PK-KKW mungkin berganti bukan pada pesawat yang terdeteksi rusak adalah pilot yang sama.
Pilot menggunakan mode Auto Pilot dikarenakan cuaca dan jarak pandang yang terbatas hingga mendekati kawasan Majene. Pada saat Auto Pilot bekerja berdasar dari informasi modul HSI yang salah, dimana mesin berputar uncontrolled lebih cepat salah satu, pesawat takkan berasa akan miring dan menukik ke bawah.
Pilot hanya mengandalkan AUTO PILOT tidak melihat panel GYRO dan altimeter. INI FATAL !!! Karena pilot pikir mode Auto Pilot aman-aman saja dan tidak menunjukkan indikasi gangguan maka si pilot tidak mengkuatirkan panel-panel di depan, hanya melihat mode auto pilot “ON”. Bila penerbangan tersebut tidak dalam cuaca buruk dan jarak pandang normal, maka jelas akan nampak ada disfungsi pada mode AUTO PILOT-nya. Saya menduga pesawat PK-KKW menukik dan menghujam ke laut. Bisa dibayangkan bila pada kecepatan tinggi menabrak air uji coba di National Geographics, peluru yang ditembakkan ke air materialnya mengecil dan tidak menyebar. Semoga ini bisa menjadi renungan bersama kenapa kecelakaan itu bisa terjadi. Susahnya lagi ada satu teknisi AdamAir yang masuk manifest sebagai penumpang pada PK-KKW yang hilang tersebut. Ini semestinya tidak boleh demikian. Atau maaf teknisi tersebut yang meloloskan pesawat tersebut berangkat sehingga dia “lenyapkan” setelah diketahui pesawat tersebut “tidak pernah mendarat di bandara tujuan”. Semoga Tuhan memberi petunjuk kebenaran.
Pengirim:
Berdy
Jl Karbela Selatan No 38A Setiabudi, Jakarta
Telp 08179103080
http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/03/20/230/93323/sebelum-adamair-hilang-di-majene
July 31st, 2008 at 8:01 pm
Baru dapat kiriman rekaman Black Box Adam Air dari milis
wuuiih… ngeri juga, terutama saat-saat terakhir
SEREM…!!
Jadi penasaran n nyari2 lagi info soal kecelakaan Adam Air
August 1st, 2008 at 3:48 pm
artikel yg menarik, sedikit banyak we jadi ngeti nih.. tadi pagi we dapet kiriman dari teman yang kerja di travel.. dia ngirim rekanam klo mau bisa di check disini
cuma sekedar sharing dan buat bahan pembelajaran betapa mengerikannya kalau kita yang mengalaminya..
August 1st, 2008 at 8:19 pm
aku baru dapt kiriman dari teman rekaman black box Adam Air. Kesimpulan ku sebagai awam, bahwa alat navigasi adam air rusak, sehingga pesawat meraba tak tau posisi. Pilot yang mengandalkan auto pilot tidak sadar bahwa auto pilot telah off dan pesawat dalam kondisi miring karena pilot dan copilot terlalu sibuk dan agak panik. Kalu mo lihat pembahasannya lihat disini
August 3rd, 2008 at 9:34 am
macam apa copilotnya tu
August 3rd, 2008 at 1:53 pm
menurut Q pilotny gk payah2 banget.
liat gk kmrn di Berita???
videonya…..
gmna usha awakny pd berusaha gitu
tp tetep aja peswtnya jtuh….
ywd ikhlasin j…
nTar juga da gantiny
he………..
August 3rd, 2008 at 1:56 pm
i love u bibeh
Q adalah Arwah
korban pesawat adam air
sekarang AKU jadi putri duyung
kelamaan di laut ci
gk ada yang nolongin…
gmn c tim SARny
gk da p gmn???
August 4th, 2008 at 4:23 pm
-tekanan dari pihak adam pada pilot dan crew atau karyawan itu ada ?
atau mungkin mereka takut di PHK seharusnya itu tidakboleh terjadi karena pilot yang bertanggung jawab pada penerbangan itu, banyak pilot yang pindah ke adam air dengan iming2 gaji besar tapi semua harus tunduk pada perusahaan termasuk jadwal penerbangan yang harus di percepat padahal pesawat baru tiba atau sedang rusak.
-coba periksa semua logboook pesawat adam pasti banyak yang disepelekan seperti banyaknya item pesawat yang rusak tapi tetap di terbangkan juga ? semua ini keputusan harusnya di tangan pilot tapi kembali lagi tekanan dari pihak perusahaan yang tidak tahu soal pesawat ya….. gitu deh dipikirnya pesawat sama dengan metromini.
saya pernah lihat bagai mana dan biasanya para pilot bernegosiasi dengan teknik soal
item pesawat yang rusak, kalo pilotnya prosedural ngga takut sama yang punya airline dia tetep tidak akan terbang tapi kalo takut ya terbang dengan terpaksa dech.
adam air itu lebih mementingkan bisnis dari pada nyawa.
adam air itu lebih tega dari raja tega seenaknya PHK karyawan
adam air itu lebih ngga manusiawi saat menelantarkan penumpang delay
adam air itu ngga ada beban saat orang tewas akibat keserakahan bisnisnya
adam air itu sok penguasa dia pikir harga diri dan nyawa orang bisa di ganti uang
adam air itu persis juragan metromi
saya dengar meski dia tutup dia bisa bangkit kembali dengan nama apa saja seperti EAGLE AIR jadi hati2 kalo ada airline baru lunching dengan tiket murah lihat siapa orang dibelakangnya karena pasti dia2 orang……….
yang pasti pasti aja kalo naik pesawat memang harga ngga bisa di bohongin dari pada nyawa taruhannya.
September 26th, 2008 at 12:46 pm
adam air ,,maju terus pantang mundur,,,kalau bisa ganti nama ADAM SANUSI ,jangan adam air
September 26th, 2008 at 12:49 pm
kalau saya mending naik onta dari pada naik adam air=))
October 19th, 2008 at 8:11 pm
oi bwt temen2 gw yg mau ngerjain etika bisnis ni uda gw ambil bwt tugas jgn sama yak!!!!
March 11th, 2009 at 10:17 am
Adam Air Is Gone And It’s Look like that they just changed name from adam to eagle
you can see in indonesia language http://www.antara.co.id/arc/2007/12/17/maskapai-baru-eagle-air-beroperasi-pertengahan-2008/
April 8th, 2009 at 6:31 am
artikel yang bagus
April 10th, 2009 at 7:42 am
Kejadian ini sudah direkonstruksi dan ditayangkan di National Geographic dalam program Air Crash Investigation - The Plane That Vanished.
April 10th, 2009 at 7:44 am
Rekonstruksi kecelakaan Adamair versi National Geographic.