Dugaan Korupsi Yayasan Soeharto

January 29th, 2007 | Politics

Soeharto

Terlepas dari unsur right or wrong, Soeharto adalah seorang komandan militer yang berdarah dingin, ahli strategi yang handal, lihai membungkus ambisi dengan imejnya yang low profile, menguasai pencitraan wibawa, paham betul cara memarketingkan dirinya, serta pemain sandiwara yang mampu berimprovisasi dalam skenario yang ketat tanpa sutradara.

Yang sedang “in” saat ini, akhir Januari Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh akan segera melimpahkan berkas gugatan terhadap yayasan-yayasan milik Soeharto kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Nilai gugatannya sekitar Rp 1,3 triliun dan US$ 419 juta. Tak hanya itu, kekayaan Tommy pun ikut dicecar. Kronologi kasus selengkapnya bisa dilihat di sini.

Meski Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh menerbitkan Surat Keputusan Penghentian Penuntutan (SKPP) pada 12 Mei lalu dengan alasan kesehatan, Kejaksaan yakin kini mereka akan berhasil menggugat yayasan-yayasan milik Soeharto. Tapi, apa sebenarnya yang ada di balik yayasan-yayasan tersebut?

Tentang Yayasan Nirlaba

Yayasan adalah lembaga nonprofit yang memang dibuat untuk mendukung atau melayani kepentingan publik tanpa memikirkan keuntungan komersial. Biasanya dapat bergerak di bidang seni, pendidikan, politik, agama/rohani, riset ilmiah, olahraga, kesehatan, dan sebagainya.

Yayasan nirlaba umumnya didirikan melalui donasi (biasanya bebas pajak) dari sektor publik atau swasta, semisal dari pengusaha, pejabat teras, peneliti, olahragawan, atau bisa juga didirikan oleh instansi tertentu. Namun yang pasti, yayasan umumnya memiliki ciri-ciri antara lain:

Tidak terlalu beda dengan organisasi profit, yayasan juga memikirkan aspek investasi, marketing, dan bahkan etika dalam menjalankan operasionalnya.

Di seantero dunia, kita mengenal cukup banyak yayasan seperti Ford Foundation (mengusung isu demokrasi, anti kemiskinan, keadilan, kerjasama internasional, serta pemberdayaan manusia), Bill & Melinda Gates Foundation (bergerak di bidang kesehatan dan pendidikan dengan dana sekitar US$ 60 milyar), Rockefeller Foundation (merupakan cikal bakal berdirinya PBB), Open Society Institute and Soros Foundation Network (didirikan George Soros untuk mempromosikan pengembangan masyarakat terbuka), Carnegie Corporation of New York, dan masih banyak lagi.

Mereka umumnya mendirikan yayasan untuk tujuan:

  • membantu memajukan komunitas sebagai bentuk imbal balik pada lingkungan,
  • pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,
  • menyalurkan dan menyebarkan pemikiran serta idealisme pendirinya,
  • kegiatan untuk menyalurkan hobi atau kesenangan,
  • menghindari pajak, melalui pengecualian (tax evasion) dan pengurangan (tax deduction), juga
  • wahana untuk mengakumulasi kekayaan.

Kendati terlihat bagus, yayasan sebenarnya memiliki kelemahan yang biasa disebut founder’s syndrome. Sindrom ini biasanya menyebabkan kegiatan yayasan menjadi sangat terpengaruh pada keinginan dan intervensi dari pendirinya –alih-alih beroperasi menurut visi dan misi yayasan tersebut.

Awal Mula Yayasan Milik Soeharto

Sebagai seorang komandan militer, Soeharto menyadari pentingnya logistik berdasar pengalamannya memimpin Teritorium IV di Semarang. Memang ia kemudian ditarik ke Jakarta oleh Jenderal Nasution karena diduga terlibat penyelundupan. Namun, Soeharto kemudian malah terinspirasi untuk mendirikan Badan Urusan Logistik (Bulog) guna mengurus kebutuhan pokok dan juga mendirikan yayasan sosial untuk menyalurkan bantuan. Kedua lembaga ini kemudian dihubungkan oleh para pedagang yang kemudian dikenal sebagai konglomerat.

Berkat monopoli Bulog, kelompok pengusaha keturunan dan keluarga Cendana menebarkan jaringan bisnisnya ke seantero Nusantara. Sebagai imbalannya, pengusaha keturunan tentu “tak keberatan” menyetor sejumlah keuntungan mereka untuk mendanai yayasan-yayasan bentukan Soeharto.

Pabrik penggilingan gandum bentukan Liem Sioe Liong dan Sudwikatmono misalnya. Pabrik yang dikenal dengan nama Bogasari itu “didesain” untuk menangkap bantuan pangan dari Amerika berupa gandum lewat Public Law 480 yang diputuskan Kongres Amerika guna menyubsidi petani gandum Amerika. Di Indonesia, bantuan tersebut dibelokkan sehingga berakibat petani padi Indonesia menderita rugi nilai tukar perdagangannya.

Pada tahap awal berdirinya Bogasari di Tanjung Priok dan Tanjung Perak, akte notaris perusahaan menentukan bahwa 26% laba perusahaan harus disalurkan ke Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dharma Putera Kostrad. Setelah berubah menjadi PT Bogasari Flour Mills pada tahun 1977, Yayasan Dharma Putera Kostrad dihapus dan hanya disebutkan bahwa 20% laba harus dialokasikan untuk kepentingan sosial. Namun ada pemegang saham baru yang masuk, yakni Christine Arifin (isteri Bustanil Arifin) yang mendapat 12% saham Bogasari (info via Prospek, 22 Des 1990: 41). Sebagai catatan, waktu itu Bustanil Arifin menduduki wakil ketua Yayasan Dharmais.

Di masanya, Bogasari manunggal dengan PT Indofood Sukses Makmur yang menguasai 90% pasar mi instan di Indonesia. Dari afiliasi ini, Bogasari mengutip ongkos giling gandum dari Bulog sebesar US$ 116 per ton atau $40 lebih mahal dari kilang-kilang gandum lain di dunia. Dan seperti lazimnya struktur usaha konglomerasi, menurut Indonesian Capital Market Directory 1997, 50,94% saham Indofood dikuasai oleh PT Indocement Tunggal Perkasa. Dan seperti kita tahu, Indocement juga ada di bawah yayasan Soeharto yang lain. Menurut majalah Far Eastern Economic Review edisi 4 Oktober 1990, Yayasan Dakab, Dharmais, dan Supersemar masing-masing berhak mendapat 6,93% dari keuntungan Indocement.

Selain Indofood, Bogasari, atau Indocement, yayasan-yayasan Soeharto masih menguasai perusahaan-perusahaan lain seperti Bank Duta, Bank Umum Nasional (BUN), Bank Bukopin, Bank Muamalat Indonesia (BMI), PT Multi Nitroma Kimia, PT Werkudara Sakti, PT Wahana Wirawan, Wisma Wirawan, Sempati Air, PT Timor Putra Nasional, PT Fendi Indah, PT Kabelindo Murni, PT Kalhold Utama, PT Kertas Kraft Aceh, PT Kiani Lestari, PT Kiani Murni, PT Sagatrade Murni, PT Nusantara Ampera Bakti (Nusamba), PT Citra Marga Nusaphala, PT Barito Pacific, PT Bank Windu Kencana, PT Kalhold Utama, PT Fatex Tory, PT Gula Putih Mataram, PT Gunung Madu Plantation, PT Hanurata, PT Harapan Insani, PT Kartika Chandra, PT Kartika Tama, PT Marga Bima Sakti, PT Rimba Segara Lines, PT Santi Murni Plywood, dan masih banyak lagi (dalam perkembangannya, perusahaan tersebut ada yang mengalami perubahan kepemilikan, merjer, divestasi, pendirian unit usaha baru, atau bahkan default-red).

Tentu saja, dalam wawancaranya, Soeharto menampik penggunaan yayasan tersebut untuk tujuan memperkaya diri. Meski kepemimpinan yayasan kerap berganti-ganti orang, namun kapasitas dan otoritas Soeharto di yayasan-yayasan itu sangat besar.

Aset Yayasan Milik Soeharto

Sebenarnya ada berapa banyak yayasan yang dimiliki Soeharto? Menurut situs resminya, Soeharto menguasai institusi-institusi berikut ini:

Namun setelah melakukan searching lebih lanjut di internet, ditemukan juga beberapa instansi dan afiliasi berikut ini:

Setiap situs saling terkait antara satu dengan yang lain. Diduga masih terdapat puluhan atau ratusan instansi lain yang masih terafiliasi dengan yayasan milik Soeharto.

Sementara menurut Surat Dakwaan Soeharto (2006) sebagaimana dikutip Batam Pos, ada tujuh yayasan yang disorot tajam, antara lain:

Yayasan Supersemar

Untuk menutupi rugi valas Bank Duta US$ 419 juta dan menyelamatkan bisnis Tommy, Sigit, dan Bob Hasan senilai Rp 1,026 triliun. Juga digunakan untuk membeli tanah di Citeureup, saham Indocement, hibah Bank Duta, dan saham Citra Marga Nusaphala (Tutut). Padahal, yayasan beraset Rp 1,2 triliun itu dihimpun dari sumbangan 2,5% laba bersih 8 bank negara, termasuk BI, dengan tujuan memajukan bidang pendidikan.
Yayasan diduga merugikan negara Rp 191,8 miliar plus US$ 419,6 juta.

Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (YDSM)

Melalui Keppres No 90/1995 dan No 92/1996 wajib pajak berpenghasilan Rp 100 juta ke atas harus menyetor 2% ke YDSM. Belakangan Soeharto memerintahkan YDSM membuka rekening atas nama Bambang Trihatmodjo di Bank Andromeda Rp 112,7 miliar dan Bank Alfa Rp 330 miliar. Padahal, yayasan yang dibentuk untuk membantu keluarga miskin itu hanya mengeluarkan 18,5% dari Rp 768 miliar dananya untuk tujuan tersebut.

Yayasan Trikora

Pada 19 Mei 1995 dan 22 Maret 1996 dana yayasan sebesar Rp 7,065 miliar disetor kepada Yayasan Purna Bhakti Pertiwi (YPBP) untuk pembangunan dan pengelolaan museum di TMII. YPBP yang dibangun dengan Rp 27 miliar uang Yayasan Trikora itu menyimpan koleksi hadiah Prajogo Pangestu, Sudwikatmono, dan Probosutedjo serta kapal perang Harimau yang dulu dikomandani Soeharto dan Soedomo. Padahal, Yayasan itu dibentuk untuk menyantuni anak tentara korban pembebasan Irian Barat.

Yayasan Dharmais

Dana yayasan Rp 1,1 triliun “dipinjam” PT Kiani Kertas (Rp 150 miliar via Bob Hasan), PT Barito Pacific (Rp 30 miliar via Prajogo Pangestu), dan Bank IFI (Rp 3 miliar, dalam bentuk promes). Juga, penyertaan modal di Bank Duta, Bank Muamalat, PT Sempati, Indocement, PT Citra Marga Nusaphala, dan Nusamba (Rp 199 miliar). Selama 16 tahun penyertaan modalnya di Bank Duta, yayasan tak menerima dividen. Begitu pula dengan penyertaan modal di Nusamba. Padahal, yayasan dibentuk untuk bergerak di bidang kesehatan.

Yayasan Dana Abadi Karya Bakti (Dakab)

Soeharto memerintahkan 8 BUMN sektor perbankan menyetor pungutan wajib untuk kepentingan operasional Golkar melalui yayasan ini.

Yayasan Amalbhakti Muslim Pancasila (YAMP)

Mengumpulkan hasil potongan gaji PNS dan ABRI yang bertujuan untuk membantu umat Islam Rp 147 miliar dari total Rp 211 miliar. Diduga ada penyimpangan dalam pembangunan masjid.

Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK)

Alokasi dana yayasan oleh Soeharto diduga disalahgunakan tidak sesuai dengan misi yayasan. Padahal, yayasan ini dibentuk membantu musibah banjir, kebakaran dan sebagainya, yang memerlukan bantuan segera.

Tak heran jika Jaksa Agung –dan sebagian besar rakyat Indonesia– optimis dan berharap banyak kasus ini bisa terselesaikan dengan tuntas. Meskipun M. Assegaf, pengacara Soeharto, menilai bahwa gugatan kejaksaan tersebut masih prematur. Kata rekan saya, wajar. That’s what lawyers are paid for.

Berapa Kekayaan Soeharto Sebenarnya?

Majalah Forbes pernah memeriksa bahwa kekayaan Soeharto sekitar US$ 16 milyar. Namun, diduga taksiran tersebut sangat konservatif karena baru merupakan akumulasi kekayaan konglomerasi Soeharto dan keluarganya. Belum termasuk kekayaan yang diperoleh dari yayasan-yayasan yang dimilikinya –yang sebenarnya justru menyimpan dana jauh lebih besar.

Menurut penelitian koresponden Far Eastern Economic Review (4 Oktober 1990, hal 63), Michael Vatikiotis, total kekayaan, bunga bank, dan sumbangan kekayaan di tiga yayasan terbesar Soeharto adalah:

  • Yayasan Supersemar: Rp 222 milyar, dan menerima bunga bank setiap tahun Rp 24 milyar.
  • Yayasan Dharmais: Rp 60,8 milyar, menerima bunga bank setiap tahun Rp 9 milyar.
  • Yayasan Dakab: Rp 43 milyar.

Selain sudah kadaluarsa, data tersebut diperoleh dari sumber yang kurang obyektif, seperti otobiografi Soeharto sendiri. Selain itu hanya disebutkan kekayaan yang bersumber dari deposito, surat berharga, dan giro (pendapatan dari bank). Bukan pendapatan dari saham-sahamnya di banyak perusahaan raksasa seperti tersebut di atas.

Sementara menurut Jeffrey Winters, ekonom ahli Indonesia dari Northwestern Chicago, menyebutkan bahwa pada tahun 1991, kekayaan Soeharto sebesar US$ 15 milyar. Temuan tersebut ditulis dalam disertasinya di Universitas Yale dan dikutip majalah Asia, Inc. (Maret 1995). Dengan perhitungan anuitas dan asumsi bunga 10% per tahun, maka kekayaan sebesar US$ 15 milyar pada tahun 1991 akan berbiak menjadi sekitar US$ 68,92 milyar atau Rp 627,2 triliun pada tahun 2007 ini.

Ditambah lagi, kekayaan Soeharto juga sering diatasnamakan keluarga pengusaha seperti Liem Sioe Liong atau Muhammad Bob Hasan. Mereka disinyalir menjadi pusat konsentrasi saham milik yayasan. Dengan demikian, maka: (1) kekayaan Soeharto bisa jauh lebih besar dari angka tersebut, dan (2) bisa jadi orang-orang seperti Liem Sioe Liong, Eka Tjipta Widjaya, dan pengusaha keturunan lainnya bukanlah orang-orang terkaya Indonesia –mengingat sebagian kekayaan mereka adalah “titipan” Soeharto juga.

Sekedar informasi, berdasar laporan keuangan auditan tahun 2005, aset Bank Mandiri –which is terbesar di Indonesia– adalah sebesar Rp 263,4 triliun. Artinya, kekayaan Soeharto cukup untuk membeli Bank Mandiri 3 (tiga) biji.

Hipotesis terbukti. Struktur konglomerasi sukses menjadi alat penghimpun kekayaan di negeri ini. Ditambah dengan koalisi dengan pengusaha keturunan dan penggunaan yayasan untuk mengkamuflase kekayaan, lengkaplah sudah. Rumit, kompleks, njlimet. Namun tepat sasaran.

Closing Remarks

Demi kepentingan sejarah, memang seharusnya perlu diperjelas apakah status pemberhentian Soeharto sebagai presiden beberapa waktu lalu adalah dengan hormat atau tidak dengan hormat. Mengingat kendati sudah menjadi warga negara biasa, Soeharto masih diperlakukan secara luar biasa.

Hukum ternyata juga belum mampu menjamah bekas orang nomor satu Indonesia tersebut. Meski banyak kasus yang sebenarnya bisa didakwakan kepada sang jendral. Sebut saja percobaan kudeta G30S/PKI, pengambilalihan kekuasaan sejak 11 Maret 1966, penghapusan peran Sri Sultan HB IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, pembunuhan karakter terhadap SOekarno, sampai soal penyembunyian naskah asli Supersemar yang kini belum diserahkan kepada Kantor Arsip Negara. Baginya, Supersemar mungkin jauh lebih berharga daripada ijazah yang memang tidak dipunyainya.

Kita tentu berharap Kejaksaan Agung bisa sukses menjalankan misinya. Termasuk untuk menguak kasus-kasus pidana maupun perdata yang lainnya. Walaupun sejujurnya, satu-satunya yang dapat mengadili Soeharto barangkali hanyalah pengadilan sejarah.

Korupsi di negeri ini mungkin memang sudah sangat fatal. Namun saya pribadi tidak mau terlalu ngoyo untuk membongkar pembusukan-pembusukan semacam itu. Buat saya, hal itu justru mendorong kita untuk selalu menyalahkan orang lain dan bukannya memotivasi diri kita sendiri untuk berbenah.

Alangkah lebih baiknya jika kita serahkan kepada aparat berwenang. Walau ada sebagian oknum aparat yang ngawur, saya percaya masih banyak pejabat yang cukup kompeten seperti Pak Arman (Abdul Rahman Saleh) ini. Toh Tuhan tidak buta dan Tuhan juga tidak tidur. Biarlah mereka bekerja dengan tangan-tangan Tuhan yang senantiasa terjaga.

Sekarang saatnya kita memperbaiki dan mempersiapkan diri kita sendiri supaya selalu baik dan benar dalam menjalani hidup. Mulai sekarang mari kita bentuk komunitas yang memang benar-benar bersih dan berjalan di jalan yang lurus. Komunitas yang kecil, dimulai dari diri kita sendiri, keluarga kita, orang-orang terdekat di sekitar kita.

Lambat laun, komunitas kecil ini pasti bisa bertumbuh menggantikan komunitas lama yang mulai membusuk.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Priatna · Kekayaan Soeharto
  2. PERAWAN PANTAI SAMPUR « Arif Kurniawan as Bangaiptop
  3. Comments

  4. cahyo

    wah lengkap !

  5. anima

    holy crap, a long read! im bookmarking this page :)

  6. oon

    moga² diusut tuntas…..dan yayasan² sableng lainnya dibersihin juga. abisnya yayasan kok buat nyari untung segede² dengan bebas pajak

  7. petrusaja

    asli..ini sejarah bangsa kita

  8. iman brotoseno

    masih panjang perjalanan…apa bisa disingkap ?

  9. Paman Tyo

    Waduh ini paket komplet namanya. Kayak Wiki aja. :)
    Buat saya, yang paling baik adalah: adili dia, dikasih hukuman, kekayaannya disita, kalau dia minta maaf berilah pengampunan dan biarkan menikmati sisa hidupnya dengan tenang dan berpulang dengan kemuliaan.

    http://blogombal.org/2006/12/12/pinochet-dan-tempik-sorak-rakyat/

  10. ichsanmufti

    Btw, gimana kabar beliau sekarang yak?

  11. dian

    Salut buat mas Nofie…lengkap…:-)
    Salut juga buat pak Harto ..hebat….:-)

    Sudah menjadi rahasia umum…
    Berjalan dengan ” yayasan ” lebih nyaman…dan ” kelihatan baik “.

    Saya berusaha realistis saja…
    Agak sulit memang …tapi bukannya ” imposible ”

    Buat Mas novie…Co0000000lllllllll :-)

  12. Eka

    Wow.
    Benar-benar lengkap. Salut.
    Terima kasih sudah mau berbagi.

  13. cyn

    master of strategy ;-)

  14. Hedi

    Soal kekayaan Soeharto, saya percaya pada Forbes (cuma lupa edisi kapan). Forbes pernah nulis Soeharto richest man in the world #4, saya percaya banget, mungkin beliau harusnya #1 atau #2. Forbes ga mungkin bohong karena itu majalahnya orang gede/kaya/pejabat dunia, kalau bikin berita bohong bisa lari daftar pengiklannya.

  15. martin chandra

    ayo diaudit! :D

  16. Omchip

    kakek harto bisa ngebutiin ke dunia kalo orang indonesia juga “pinter” bisnis
    iya toh….. ?

  17. APH

    I just get into your blog Man. It’s very stunning, only take 15 minutes to stuck with your blogs…keep on blogging man!!!

  18. yudisasongko., SE., Ak

    Begini pak, ANDA MENDIDIK GENERASI KITA INI MALAS, NEGARA YANG LAIN SIBUK MEMBANGUN NEGARA MEMPERINDAH SUNGAI DAN TAMAN KOTA ANDA NGURUSI PAK HARTO TERUS, COBA SAYA TANYA NGURUSI HARTA BUPATI AJA ANDA NDAK BISA, MENURUT SAYA MEMANG SUDAH SIFAT NEGARA INDONESIA KALAU JADI PEJABAT KORUPSI.JADI KITA JANGAN NGRUSI LAGI, MENDING NGAJARI RAKYAT KERJA KERAS,JANGAN DIAJARI BERGANTUNG PADA HARTA PAK HARTO…SAYA MASIH HORMAT BELIAU DAN PAK KARNO..DUA ORANG ITU IDOLA SAYA KARENA PERNAH PERANG BELA NEGARA…LHA KITA?

  19. gogo

    yudisasongko., SE., Ak gebleg.
    baca tuh 3-4 paragraf terakhir. nggak bisa baca ya? main asal tuduh aja lo

  20. yudisasongko., SE., Ak

    PERIHAL PAK HARTO, HOBI POLITIK , HOBI HUKUM VS KITA…

    Tuh khan masalah hukum lagi, …itu memang hobi gue tuh..untuk menghambat pembangunan manusia - manusia miskin di Indonesia, makanya di negara negara terbelakang tidak maju - maju di Dunia seperti kita Hobinya sama Politik, Hukum, HAM, isu KKN, Kejar mengejar….mantan Pejabat….tidak sibuk memperbaiki negara ini, menyerahkan kepercayaan pada NEgara…semua rakyat dengan kemiskinan dan kemampuan pas - pasnya ikut rame - rame mengurusi negara tidak terima berbagai keputusan negara lalu ngambek berpolitik praktis..bikin parpol, turun kejalan, demontrasi akhirnya pasar mereaksi…para investor enggan masuk, nilai tukar rupiah anjlok, Bank enggan kasih pinjaman rakyat miskin, Pemerintah malas kerja…Dsb…kok kita tidak sibuk persiapkan tuan rumah sepak bola dunia, bikin raksasa Industri produk kelas dunia…ya Itulah kemauan nasional kita…rakyat, Pemerintah, Pers, LSM…dengan budayanya merasuk keputaran lingkaran setan garis kemiskinan………

    He he itu hasutan gue berhasil…kegemaran berat gue di tiru seantero jagat indonesia ini…selamat menikmati…

    Eh ada yang nanya gue perihal Pak harto….gue pusing mengganggu konsentrasi gue dalam menghitung suara Pilkada DKI, jadi kacau deh…tapi jawaban gue moga - moga pas..padahal gue pernah singgung Soal Hukum negaralah yang mengurusi, bukan manusia - manusia miskin rendah budaya yang perlu belajar seperti kita…menurut gue :

    Pak harto : dulu beliau seorang pejuang, banyak photo bukti kongkret bahwa beliau ikut perang,berjasa pada negara ini…beliau memimpin negara ini 32 tahun….gue gak yakin itu kemauan beliau, itu produk proses IQ & EQ kita….beliau sudah mengisyaratkan mandeg Pandhita (berhenti) sebelum 32 tahun…tapi coba mana..sistem perpolitikan dan aturan pada waktu itu , yang terdiri dari manusia manusia lulusan kebanggaan Universitas , sekolah2 dasar di negeri ini tidak sadar sepakat lho beliau memimpin, keberanian kita menyuruh beliau berhenti tidak tidak timbul tahun ke 5, ke 10, ke 15 namun ke 32 tahun men….tapi menurut gue manusia sekelas beliau sudah jarang di Negeri Ini, pejuang 45 men..perlu perlakuan khusus di bidang HUkum..toh belum terbukti secara hukum beliau melakukan korupsi…beliau jangan di Adili..kok tega sih…

    Lain hal nya dengan kita…manusia biasa..liat tetangga miskin sakit belum tentu perduli, para pejabat gubenur, bupati , kepala dinas waktu berangkat kantor lihat kanan kiri melihat kebersihan, melihat kemiskinan, melihat tata keindahan, melihat sungai kotor belum tentu setelah sampai kantor segera menulis nota perintah untuk hari itu juga di atasi masalah tersebut…mereka disibukkan kegiatan seremonial dan setumpuk tanda tangan formalitas yang tidak perlu di Baca….kita dan mereka layak dipenjara bila macam - macam korupsi dan melanggar hukum….

    jadi ndak usah jadi tuan rumah sepak bola dunia, bikin tembok seperti cina…?

    energi kita habis untuk kemelut mulai perang kerajaan, pemberontakan pasca kemerdekaan, peristiwa - peristiwa…..(penggemar berat politik praktis)

  21. rony

    emm….pernahkah terpikir bahwa kebebasan yang bukan bisa dibilang kebebasan seperti sekarang ni harus dibayar mahal dengan antrian panjang hanya sekedar untuk beli minyak tanah||?????????????????beras muahal ampun ampun……Dolar ga ketulungan………jama’ah islamiyah southeast unjuk gigi,korupsi tidak hilang sepenuhnya-seutuhnya.SOEHARTO itu realistis-mau bicara korupsi|?semua bisa di politisir……..adakah dolar menyentuh palingengga Rp.8.000,- selama beliau menjabat?Lepaskah salah satu pulau kita?begitukah nasib”indon” di malay-malingsia???
    semua itu hanya persepsi dan apreori…jangan suka terdoktrin dari apa yang sebenarnya tidak kita ketahui,namun rasakan yang tlah kau alami-Beliau juga manusia….
    politik itu tak seperti segamblang yang kita baca di koran eceran”forbes”……semoga menambah wacana sebelum memvonis seseorang….terimakasih

  22. nopah

    rony,
    kalo ngomong jgn masukin otak di dengkul ya?
    1. turun naeknye dollar gak ada hubungannya dgn pak harto yg gak ketauan lulus sma aja apa gak.
    2. pulau lepas? alhamdulilah, kita bukan bangsa penjajah !!!! kita tidak senang dijajah, sama aja orang juga gak senang di jajah.
    3. emang ada yg namanya Indonesia sebelum di cetuskan taon 45? apa iya mereka semua mau menyatu dengan pemerintahan jawa?

    jgn suka ad hominem, if you dont jack about politics. ane bisa ngerti kalo ente salah satu antek2 Soeharto or kanker dari pesakitan problematika di indo

  23. Blue Eyes

    Soeharto is a master of strategies

  24. n'chus

    Semua orang punya kebaikan, kelemahan, keberuntungan, ketidakberuntungan…

    Setidaknya kalau sekarang banyak orang mengantri minyak tanah/ harga beras naik/ apapun itu, kita harus bersyukur karena hal itu tidak terjadi sejak dulu….

    Apa jadinya kita semua saat ini kalau hal itu terjadi sejak dulu??

    Don’t say anything if you don’t know…..

  25. yana wardiana

    Wah,… Lengkap Banget, yah,..salut deh.
    So bangsa yang besar, tentu harus mengenal sedikit sejarah, walau sedikit, toh tidak mesti segala sesuatu ditentukan dengan logika, ada perasaan/hati yg lebih mulia dari logika.

    Apa jadinya, negeri kita, ketika terjadi G/30/S/PKI, nggak ada yang nanganin, martabat, budaya, agam islam mayoritas, akan tumbuh sampai sekarang. Nah,.. apa jadinya kita, apakah saudara2 semua akan tumbuh seperti sekarang,..mampu buat blog bebas, jabatan bebas, harta kita juga bebas kita gunakan, dan kita pakai, coba sekali lagi, runtut ke belakang, buka mata hati bukan dengan dzahir. Apakah itu bisa anda bayar dengan sejumlah materi.
    Kita, membangun idiologi pancasila merupakan asli indonesi, yang mencintai itu akan tercermin kebangsaannya. Coba bayangkan jika idiologi kita dianut orang lain, artinya kita mengekspor idiologi kita bangsa Indonesia ke luar , yang penuh keramahtamahan dan adat ketimuran yg penuh dengan etika. apakah kita hanya mampu mengimpor idiologi bangsa lain, yang belum teruji, pada masyarakat. Apa yg kita rasakan 9 tahun setelah reformasi, agenda apa selama lima tahun, itu, garis-garis besar apa yang telah direncanakan, buka sejarah, 9 tahun pasca kemerdekaan RI, prosentasekan keberhasilannya,..Nah. Siapa yang keukeuh memperjuangan RI dengan mencintai negeri sendiri, so juga bersyukur pada tuhan, atas kemerdekaan sampai 32 tahun, bagaimana jika angka kelahiran tidak ditekan dengan program KB, Bank Syari’ah, Muamalat, Posyandu, Mencintai Produk Dalam Negeri, Nasib Irian Barat, tekanan di Yogyakarta dari Belanda dan banyak yang laiinya. bagaimana jika beliau gugur waktu menumpah G/30/S/PKI, apakah kita akan senang sekarang, bisa mempunyai jabatan, pekerjaaan, dll…oooh sungguh enak, dulu orang tua kita, berjuang mati-matian, nah, kita gimana,..jangan teman,…. berbaiklah,..selesaikan semuanya dg tenang, so Inget ” Habis Manis Sepah di Buang” buanglah rasa itu walau tidak kita rasakan. oh,… aku bisa seperti sekarang bersyukur,.. takut dimarahin Allah SWT,… perjuangan dulu beliau sama kakek2 kita, eyang kita. bisa hancur seketika,.. kalau saya sih malu,..nggak tahu yang lain, toh aku pernah hidup di Indonesia masa beliau presiden, yah,..selamat jalan pahlawan pembangunan, jasanya tak ternilai dengan uang,.. biarlah perkara yang berbau keuangan ada yang mengurusinya, tapi Engkau pribadi adalah intan yang berkilau, diantara hirukpikuk RI saat ini, senyumu menyembunyikan kemenangan,… damailah, dilapangkan kuburnya,… aku berdo’a pada para semua nasional, pahlawan revolusi, dan pahlawan pembangunan yang mau membangun RI dengan kerja nyata,..mohon maaf, jika ada kesalahan kata,..sukses semuanya….

  26. yana wardiana

    Salam, bagi semua dari wong cilik, maju-maju-maju bangsa Indonesia.

  27. brian

    A report issued by the “Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative”, a joint program of the United Nations Office of Drugs and Crime (UNODC) and the World Bank, claims that former president Suharto stole between 15 and 35 billion dollars of state funds between 1967 and 198998.

    Suharto in 1965, attending the funeral of an assassinated general.

    Not relying on Time magazine reports but using 2004 data from the anti-corruption watchdog Transparency International the list reads:

    1. Suharto, 1967-98, Indonesia, $15-35 billion stolen, or 0.6%-1.3% of GDP.
    2. Ferdinand Marcos, 1972-86, Philippines, $5-10 billion stolen, or 1.5%-4.5% of GDP.
    3. Mobutu Sese Seko, 1965–97, Zaire, $5 billion stolen, or 1.8% of GDP.
    4. Sani Abacha, 1993–98, Nigeria, $2-5 billion stolen, or 1.5%-3.7% of GDP.
    5. Slobodan Milosevic, 1989–2000, Serbia/Yugoslavia, $1 billion stolen, or 0.7% of GDP.
    6. Jean-Claude Duvalier, 1971–86, Haiti, $0.3-0.8 billion or 1.7%-4.5% of GDP.
    7. Alberto Fujimori, 1990–2000, Peru, $0.6 billion, or 0.1% of GDP.
    8. Pavlo Lazarenko, 1996–97, Ukraine, $0.1-0.2 billion, or 0.2%-0.4% of GDP.
    9. Arnoldo Alemán, 1997–2002, Nicaragua, $0.1 billion, or 0.6% of GDP.
    10. Joseph Estrada, 1998–2001, Philippines, $0.07-0.08 billion, or 0.04% of GDP.

  28. noey

    woooow gak habis 7 turunan dong???????
    pertanyaan sekarang :- kenapa kita pilih dia berulang ulang??????( who is stupid)
    - kemana orang 2 pintar saat itu????( ops raib begitu aja yah)

    - dlllllllll
    Adili yang tidak jujur tsb tp yang mengadili harus jujur
    So now: tanya pada diri kita : ” Jujurkah kita”
    Negara akan maju dan akan bebas dari keterpurukan ” jika kita semua jujur”

  29. MMARLISS

    DENGAN URAIAN YANG LENGKAP INI MARILAH KITA MENYADARI BAHWA DUNIA INI TIDAK AKAN MENJADI SEMANGKIN BAIK. KEJAHATAN SEMANGKIN MODERN, TERATUR RAPIH, TERORGANISIR DENGAN BAIK DAN PELAKONNYA KALAU DULU, ORANG BERBUAT KEJAHATAN KARENA KURANG PENGETAHUAN, KURANG KEROHANIAN, KURANG UANG. TAPI SEMANGKIN HARI, SUASANA JADI TERBALIK, JUSTRU YANG SUDAH KAYA, PENDIDIKAN CUKUP BAHKAN PEMUKA-PEMUKA KEROHANIAN DI MATA MASYARAKAT JUSTRU YANG MELAKUKAN KEJAHATAN-KEJAHATAN YANG SEPERTI INI. KONGKLUSINYA: RAKUS, CINTA DIRI,

    KALAU PEJABAT YANG MENGGANTIKAN MASIH PUNYA DUA HAL INI DALAM MOTIVASINYA, KEADAAN TIDAK AKAN MEMBAIK, SIAP-SIAP AJA UNTUK JUAL NEGARA KITA UNTUK BAYAR HUTANG.

    OH TUHAN, CEPATLAH DATANG DUNIA INI SUDAH TAMBAH BOBROK.

Looking forward to hear your thoughts.