Bencana Alam dan Musibah Lainnya
February 14th, 2007 | PersonalDalam obrolan santai dengan seorang teman, ia mengeluhkan banyaknya bencana dan musibah yang belakangan datang ke kita. Mulai dari badai, gempa bumi, banjir, kekeringan, kecelakaan, flu burung, demam berdarah, dan masih banyak lagi. Jelas, semua memakan korban jiwa yang tak sedikit. Nyawa jadi terkesan “murah” harganya.
Beliau juga bilang bahwa sebenarnya setiap musibah sudah dituliskan Tuhan. Menurut beliau, setiap detil kejadian sudah terencana dengan rapi. Tuhan punya buku yang mencatat bahwa akan terjadi bencana alam pada tanggal sekian di tempat sekian dengan korban sekian dan seterusnya. Statemen ini diperkuat oleh firman:
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
~Al Hadiid 22
Well, apa yang dikatakan teman saya itu memang benar — walau tidak sepenuhnya tepat. Kenapa?
Pertama. Yang sebenarnya tercatat dalam Lauhul Mahfuzh sebenarnya hanyalah sebuah sistem atau prosedur standar, bukan skenario detil seperti yang teman saya utarakan. Lauhul Mahfuzh hanya menuliskan kalau X berbuat kebaikan, akan mendapatkan reward. Sementara kalau berbuat banyak kemunkaran maka akan diperingatkan dengan musibah. Kalau perbuatannya ini, imbalannya berbentuk ini. Kalau perbuatannya itu, peringatannya berbentuk itu.
Sama halnya kalau suatu bangsa (negara) masyarakatnya baik dan rukun, tentu akan banyak rahmat yang tercurah. Tapi sebaliknya, kalau anggota bangsanya mulai ngawur, akan banyak kiriman bencana. Kalau kebaikannya berupa ini, maka rahmatnya berbentuk ini. Kalau kesalahannya itu, maka bencananya berbentuk itu. Hal ini dinyatakan jelas dalam firman berikut ini.
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
~Asy Syuura 30
Kedua. Adalah tidak mungkin Tuhan merencanakan setiap aktivitas kehidupan makhluknya (manusia) secara detil. Misal saya tanggal sekian akan menikah dengan A. Kemudian tanggal sekian saya akan ketiban rejeki. Saya jatuh sakit pada tanggal sekian. Tapi pada tanggal sekian dikaruniai anak, sekian perempuan sekian laki-laki. Tuhan kok kurang kerjaan amat.
Kalau semuanya memang sudah diskenariokan (termasuk bencana alam dan musibah lainnya), buat apa kitab suci (Al Qur’an) diturunkan? Orang yang dimuliakan seperti nabi/rasul memang jalan hidupnya sudah diskenariokan. Kapan harus syiar, kapan harus berperang, termasuk kapan harus menikah.
Tapi orang-orang penuh dosa seperti kita ini selalu diberi pilihan yang tentatif. Mau berbuat baik atau mau berbuat dosa. Masing-masing dengan konsekuensinya tersendiri. Ini sudah jelas dinyatakan dalam:
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
~Ar Ra’d 11
Sederhananya, kalau kita berusaha, ya kita bakal dapat reward yang memuaskan. Tapi sebaliknya, kalau kita banyak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, jelas bakal mendapat punishment. Seberapa cepat reward dan punishment itu diberikan tergantung pada bagaimana effort kita.
Dan satu lagi. Ada baiknya buat kita supaya jangan merasa bahwa setiap bencana, musibah, atau ketidaknikmatan lain yang jatuh ke kita adalah pengurang atau penghapus dosa. Ini pernyataan yang tidak valid.
Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
~An Nisaa’ 111
Jangan berasumsi bahwa kita sudah beriman dan bertakwa di hadapan-Nya. Bencana alam dan musibah yang bertubi-tubi ini seharusnya cukup menjadi peringatan buat kita supaya kita banyak-banyak memperbaiki dosa dan kesalahan kita.
Mulai sekarang saatnya kita menjalani hidup dengan lebih baik dan benar. Nggak perlu lagi pakai gontok-gontokan, emosi yang meledak tinggi, egoisme pada kepentingan sendiri, dan rasa kebencian terhadap sesama. Sudah saatnya kita sama-sama hidup dalam keserasian yang harmonis dan tanggung jawab yang proporsional.
Mudah-mudahan banyaknya peringatan yang begitu berat dan tidak menyenangkan ini bisa segera berakhir dan digantikan dengan limpahan rahmat yang maha luas. Amin.
Sekian renungan buat hari ini.



November 15th, 2007 at 5:02 pm
February 22nd, 2008 at 3:46 pm
Comments
February 14th, 2007 at 12:43 pm
byk intros- u/ semua warga indonesia. sanyangi sesama & lingkungan mulai dari diri sendiri, keluarga dan mulai dari SEKARANG…yuk..ya…yuuuu
February 14th, 2007 at 1:50 pm
sebagian besar aku setuju dengan apa yg diungkapkan di atas, tapi aku mempertanyakan kata “tidak mungkin” bahwa Tuhan telah merencanakan setiap detil kejadian dan peristiwa yang akan dialami setiap umatnya. Yakin mas “ngga mungkin”? we never know about it coz He works in a mysterious way..
February 14th, 2007 at 3:13 pm
god indeed works in a mysterious way :)
February 14th, 2007 at 8:43 pm
wah lagunya U2 banget….memang god works in a mysterious way…
February 14th, 2007 at 11:57 pm
“….Whoever the ‘ earl grey ‘ fellow is, i’d like to have a words with him..” ( Jean Luc Picard, Star Trek - The Next Generation )..intinya sisi kemanusiaan kita yang sudah hilang, terus terang saya agak apatis dengan dunia kita ini.
March 1st, 2007 at 10:35 am
- Bencana pada dasarnya ada 2, 1. bencana yg disebabkan oleh ulah manusia, seperti contohnya: tanah longsor/banjir akibat penggundulah hutan, AIDS (kalo mau dikatakan bencana kesehatan) akibat seks bebas. Dan 2. Bencana yg mengandung dimensi spiritual yang memang di timpakan kepada manusia sbg hukuman atau peringatan atau ujian bagi manusia.
- Menyikapi bencana manusia haruslah introspeksi akan tindak-tanduknya selama ini, perlakuannya terhadap alam yg merusak keseimbangan alam, dosa-dosa yg diperbuat, tidak diterapkannya syariat Islam dsb. untuk diperbaiki dimasa depan. Setelah itu manusia di tuntut sabar menghadapi cobaan dan tetap pada keimanannya. Krn hanya manusia yg “tangguh” dan “sabar” sajalah yg layak mendapatkan credit berupa surgaNya.
- Saya ingin menambahkan pandangan saya ttg takdir karena mas Nofie menyinggungnya…tapi lumayan panjang..hehe..sampe sini aja dulu.
Wassalamu’alaikum
March 15th, 2007 at 8:20 pm
hmm…klo aku pikir seh emg bener yg mas nofie bilang.. Tuhan ga ngatur setiap detail tanggal kapan sakit makan beli baju sepatu dll.. krn kita ini manusia di kasih kebebasan untuk memilih dan berkehendak..
Seperti kalo orang Budha ada cerita ada semut di telapak tangan Buddha dy bisa bebas jalan kiri kanan maju dll.. tp tetap aja adanya di tangan sang Budha.. yaa seperti itu lah setiap hidup manusia klo g rasa… (bener ga seh ceritanya gt? klo slah maap yah) yaa intinya gt..
Trus klo di Alkitab ada di tulis “Apa yg mau orang lain perbuat kekamu perbuatlah demikian dahulu” hmm jd yahhh mirip2 kali yaah :P klo ga mau ke banjiran yaa jgn di gundulin hutan tebangin pohon mpe botak.. trs klo ga mau kena AIDS yah jgn maen seks bebas lah..
Kalo gempa seh yaa emg mau gmn lagi..Klo kecelakaan pesawat itu jg salah manusia.. tidak mengikuti prosedur yg seharusnya..
April 4th, 2007 at 5:09 pm
Asalamu’alaikum,
Tentang Lauh al Mahfuzh, agar lebih jelas dan tidak keliru mohon dibaca QS 6/59, agar lebih jelas dan lengkap saya petikan dari Quran dan Terjemahannya terbitan Departemen Agama :
wa ‘indahuu mafaatihul ghoiibi laa ya’lamuhaa illaa huwa waya’lamu maa fiilbari wal bahri wamaa tasquthu min qoroqotin illaa ya’lamuhaa walaa habbatin fi zhulumaatil ardhi walaa yaabisi illaa fii kitaabim mudiin
Artinya: Dan pada sisi Allah lah keunci kunci senmua yang ghoib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebiji butirpun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh al Mahfuzh)
Jadi tidak benar bahwa apa yang tertulis dalam Lauh al Mahafuzh itu hanya garis besarnya saja, melainkan detail.
Perkara apakah dengan demikian Allah “kurang kerjaan” itu urusan Allah, namun anggapan seperti itu adalah pendapat yang terlalu naif, karena membayangkan atau menganalogikan pekerjaan Allah seperti pekerjaan kita ” Maha Suci Allah dari hal-hal yang demikian”
Semoga dengan koreksi ini semua pembaca blog ini (terutama yang muslim) mengetahui dasar hukum mengenai “Lauh al Mahfuzh” dimana QS Al An’am 59 tersebut diatas adalah sangat jelas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut.
Semoga bermanfaat
Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh
Terima kasih
Andri Subandrio
September 13th, 2007 at 3:48 pm
saya rasa segala bencana yang ada di negri ini 55% ulah manusia bangsa kita sendiri, 20% bangsa-bangsa yang bekerja sama dengan orang kita secara ilegal, 25% lagi Allahuallam bissawaf, jadi segala bencana melanda negeri ini ya itu..!! ulah manusia-manusia yang tak bertanggung jawab atas kejadian bencana di negeri ini.
October 24th, 2007 at 2:04 pm
Setuju dgn pernyataan di atas.
Kalo semuanya sudah ditentukan 100%, ngapain kita capek2 berusaha. Usaha atau nggak jadi nggak ngaruh doong…..
“Berusaha jd orang baik, klo takdirnya jadi maling ya jadi maling. Belajar keras, kalo takdirnya jadi org bodo ya tetep aja bodo”. Kalo pd mikir itu ntar jadi pd nunggu doang, tanpa usaha ^_^
Jadi….. mari kita selalu berusaha untuk yg terbaik buat semuanya.
SEMANGAT!!!
January 4th, 2008 at 12:42 pm
manusia itu penjahat kita enak saja merusak alam kalo uda rusak bingung dah mau ngapain…….makanya selagi bisa ni yach,,,,,ayo donk kita lestarikan alam jangan malah mrusaknya….kita dgn alam sma2 ciptaan God,,,,,so kita harus sling punya jiwa untuk saling menjaga,,,, i love nature,,,,do you will love nature.? i hope so………………kebersihan hati kebersihan alam……….hahahahaha……………….. n_n
January 25th, 2008 at 5:12 pm
saya kurang sreg dengan standard ganda gitu mas.
“Orang yang dimuliakan seperti nabi/rasul memang jalan hidupnya sudah diskenariokan. Kapan harus syiar, kapan harus berperang, termasuk kapan harus menikah.
Tapi orang-orang penuh dosa seperti kita ini selalu diberi pilihan yang tentatif. Mau berbuat baik atau mau berbuat dosa”
walaupun nabi/ rosul, mereka juga manusia sama dengan orang dosa bejat kaya apa juga tetap manusia, yang menerima aturan main “takdir” seharusnya sama.
January 29th, 2008 at 8:04 pm
ega sangat setuju dengan mereka semua
March 4th, 2008 at 2:09 pm
memang tidak banyak orang yang tau apa itu lauh mahfuz. . . .termasuk saya tapi menurut saya pendapat yang paling benar adalah pendapat ustat Andri subandrio,