Jurnalisme Orang Biasa

February 21st, 2007 | Technology

Ini adalah terjemahan bebas dari citizen journalism — sesuatu yang sudah didengungkan sejak lama. Saya menganggap istilah “jurnalisme orang biasa” untuk menggambarkan betapa pemberitaan yang selama ini dikuasai oleh media besar mainstream sudah bergeser ke tangan individu. Saya, Anda, kita semua bisa menjadi jurnalis. Tiap orang bisa menjadi penerbit. Tiap orang menjadi pembaca yang tidak hanya menerima, tapi ikut serta berinteraksi. Dunia pemberitaan baru memungkinkan pertukaran informasi yang lebih luas, spontan, dan berasal dari berbagai perspektif yang beragam.

Di Indonesia, persentase penduduk yang berpendidikan cukup baik dan memiliki wawasan yang luas jumlahnya mulai meningkat secara signifikan. Mereka mulai bosan dengan berita “itu-itu aja” yang ditampilkan di koran, televisi, tabloid, radio, atau media lainnya yang dikuasai oleh kepentingan tertentu. Ada kebosanan yang memicu hasrat untuk menemukan sumber informasi baru yang lahir dari rahim perspektif yang beda. Salah satunya: blog.

Memang benar tidak semua blog baik, jujur, dan obyektif. Beberapa memang jempolan. Namun sebagian besar lainnya lebih pas disebut sampah (misal: blog ini). Tapi untungnya, di sinilah pendewasaan diri dan demokrasi yang sejati benar-benar diajarkan. Orang jadi bisa memilih sendiri mana yang mereka sukai. Tidak perlu kuatir dengan berita-berita yang muncul di blog. Toh, bagaimanapun juga dengan adanya demokrasi orang akan menjadi lebih jujur, walaupun memerlukan waktu untuk proses pendewasaan.

Selain itu, blog juga bisa menjadi media yang tepat untuk menyalurkan pemikiran sembari membuka jejaring. Potensi kita bisa dieksploitasi dengan baik salah satunya lewat blog. Seorang rekan, misalnya, berulang kali mengirimkan artikelnya ke berbagai surat kabar terkemuka dengan tanggapan seragam: ditolak. Padahal secara kualitas, tulisannya benar-benar jempolan. Meski dengan satu kekurangan: ia belum punya “nama.” Segera setelah tulisannya dipublikasikan di blog, ia mendapat banyak tanggapan positif dari pembaca.

Blog teman saya itu barangkali cuma satu dari begitu banyak blog-blog Indonesia yang bertumbuh dengan sangat masif. Tak cuma konten yang kian bagus dan inspiratif. Desain dan fitur juga kian berkembang. Jadi tidak sekadar asal menulis saja. Makin banyak blog juga makin baik, karena kian bertambah orang yang bersedia membagi ilmu dan pengalamannya secara cuma-cuma bagi orang lain.

Memang harus diakui bahwa komunitas blogger Indonesia belum ada apa-apanya dibanding komunitas di luar karena untuk mencapai jurnalisme orang biasa yang mutlak mungkin diperlukan waktu panajng. Tapi aspek waktu bisa dipotong jika saya, Anda, dan kita semua mulai membiasakan diri menulis, membuat blog sendiri, dan menyatakan pemikiran kita dengan cara-cara yang etis dan terhormat.

Baca Juga

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. yudhi

    Memang benar tidak semua blog baik, jujur, dan obyektif. Beberapa memang jempolan. Namun sebagian besar lainnya lebih pas disebut sampah (misal: blog ini).

    waduh kalo blog kayak gini disebut sampah…..yg bagusnya kayak gimana? wah nggak usah merendah mas nofie…saya ngelmu banyak dari blog mas nofie,tolong ajari saya cara ngeblog dong…

  2. Budi Putra

    Setuju dengan mas Nofie Iman. Saya rasa, blog sangat berpotensi “head-to-head” dengan media mainstream, terutama karena jangkauannya yang luas dan karena spontanitas suara para blogger. Mereka tak punya kepentingan bisnis, politik atau ideologi.

    Pada tingkat tertentu, blog mampu menciptakan opportunity.

    Kita bisa lihat blog bisa menjadi sekadar diari personal, “blog sampah” (seperti istilah mas Nofie), tetapi juga bisa menjadi jurnal yang profesional — yang bisa bikin “gugup” media mainstream..

    Bagaimana dengan Indonesia? Saya kira trendnya sudah baik. Banyak kita lihat blog yang bagus-bagus, ada yang mengusung topik yang umum, maupun yang khusus (niche).

    Apapun, yang harus diingat, blog hanyalah sebuah “media” yang baru, jadi kriteria tulisan yang diposting kurang lebih sama dengan kriteria yang senantiasa dipakai media massa: harus akurat dan berimbang. Sementara soal gaya penulisan, terserah masing-masing blogger.

    Mengapa menulis sedemikian pentingnya? Ya, karena masa depan blog ada di content, content dan content.

    Bravo blogger Indonesia!

  3. Paman Tyo

    Blog membuka mata konsumen media cetak bahwa stok penulis di Indonesia bukan cuma para “pengamat”, “pemerhati”, dan sejenisnya. Blog juga telah mendorong banyak orang untuk menyatakan pendapat. Bagi saya itu berkah.

  4. Ook Nugroho

    Mau nambah dikit nih. Soal pamor blog di ’sini’ saya rasa juga bergantung pada mental para bloggernya. Kelihatannya banyak blogger kita yang masih minder. Saya pengin cerita.

    Blog saya kontennya didominasi muatan sastra (puisi). Belum lama ini beberapa puisi itu muncul di sebuah koran besar Jakarta. Ternyata lalu muncul tanggapan meriah di shoutbox, padahal puisi2 itu sudah pernah dimuat di blog, dan waktu itu tidak ada komen apa-apa. Kenapa kalo udah muncul di koran baru pada histeris begitu? Seolah bagus tidaknya konten blog saya musti menunggu dulu rekomendasi media cetak.

    Jawabnnya mungkin ada pada soal mental blogger kita yang masih suka pada ‘minder’ itu. Baiklah, ini juga barangkali soal waktu. Blog kan masih barang baru — saya aja baru 6 bulan ngeblog.

  5. zaki

    lebih pas disebut sampah (misal: blog ini)

    sampah bagi seseorang, bisa jadi sangat berharga bagi orang lain :-)

    Semoga Jurnalisme Orang Biasa (JOB) bisa segera hadir di Republog Indonesia. Apalagi, kalau JOB jg bisa benar2 menjadi job bagi orang biasa. :-)

    Salam.

  6. Bhayu

    Saya dulu jurnalis, memang merasa jadi orang luar biasa. Karena kini sudah memecat diri, jadilah saya orang biasa. Tapi masih pengen nulis, karena susah banget dapat penerbit (buku saya masih antri tuh…). Jadi, demi memenuhi hasrat sebagai jurnalis yg orang biasa, sy establish blog baru di: http://www.bhayu.wordpress.com.
    Blog ini didedikasikan bagi dunia komunikasi, termasuk jurnalisme. Awalnya sih saya mencoba membantu mahasiswa utk bahan2 kuliah. Tapi krn waktu yg sempit, ya masih sedikit. Bila ada saran, sangat diharapkan. Terutama dari para praktisi komunikasi. Salam utk bung Nofie Iman. Bila Anda punya link, saya di link back ya. Sukses!

Looking forward to hear your thoughts.