Garuda GA 200 dan Adisutjipto

March 9th, 2007 | News

Garuda Indonesia GA 200 PK-GZC

Rabu pagi (7/3) Garuda Indonesia GA 200 PK-GZC terbakar dan meledak sesaat setelah melakukan fast-hard landing dan overrun hingga break up fire di Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Setidaknya 23 orang meninggal atas kejadian tersebut, termasuk beberapa jurnalis Australia yang sedianya akan meliput pertemuan Alexander Downer dan Din Syamsudin di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu siang.

Agak kaget juga mengingat insiden ini menimpa Garuda. Andaikata insiden ini menimpa Adam Air atau Lion Air, barangkali sebagian dari kita “cuma” shrug our shoulders, dan bilang “nggak lagi, deh.” Namun selama ini Garuda dikenal dengan reputasinya yang cukup bagus dan relatif aman. Ternyata memang Tuhan tidak pilih-pilih.

Tentang Garuda Indonesia

Ada yang bilang Garuda itu Great And Reliable Until Delay Anounced. Banyak yang bilang bahwa maskapai ini harganya sebanding dengan pelayanannya. Jadi, kendati banyak maskapai lain menawarkan harga bantingan, mereka cenderung kembali ke Garuda lagi. Garuda punya aviator-aviator jempolan, walaupun terkadang standar yang diterapkan tidak selalu sama — mirip-mirip dengan airlines di UK.

Dari data yang ada, Garuda Indonesia sudah kehilangan 595 penumpang plus satu ground fatality dalam 15 kecelakaan fatal dan 3 insiden non-fatal sejak tahun 1950. Dan sejak 2002, Garuda “hanya” mengalami satu kali kecelakaan fatal. Lima tahun tanpa kecelakaan adalah rekor yang “cukup bagus” untuk ukuran standar orang Indonesia.

Tanpa bermaksud membela Garuda, saya cukup salut karena pada saat yang hampir bersamaan Garuda menyediakan 2 flight untuk membawa keluarga korban ke Jogja. Walaupun terjadi kecelakaan, Garuda tetap berusaha untuk “comforting“. PR (public relations) Garuda juga tidak buru-buru membawa kertas putih untuk membuktikan bahwa pesawatnya well-maintained. Emirsyah Satar dan Direktur Operasionalnya juga langsung terbang ke Jogja dan tidak mengelak dari kejaran wartawan. Saya dengar di CGK juga counter Garuda tidak diberi “penjagaan khusus” yang overacting untuk mengusir wartawan dan keluarga korban.

Dari tayangan televisi setempat, terlihat FA cukup tenang dan tidak terlalu panik sembari menolong penumpang yang terluka. Salah satu FA yang menjadi korban konon katanya meninggal karena mencoba menolong penumpang di barisan depan. Menurut saya, ini personal adalah tragedi, the worst record in the region buat Garuda. Kalau boleh berandai-andai, semisal airline yang terlibat bukan Garuda, besar kemungkinan korban yang jatuh akan lebih besar lagi.

Detik-detik Kejadian

Seharusnya, prosedur pendaratan yang benar adalah stable approach, checklist semua sudah dipenuhi, touchdown pada kecepatan yang tepat dan menyentuh zona yang tepat, dan mendarat dengan selamat. Sayangnya, tidak demikian dengan Garuda GA 200 PK-GZC.

Menurut keterangan saksi dan media setempat, approach pesawat agak tinggi dan cepat. Saat final approach, terlihat miring seperti melakukan koreksi heading dan altitude. Penuturan Capt. Marwoto menyebutkan pesawat terdorong cepat dari arah belakang — padahal ATC JOG mengatakan wind calm). Penumpang juga menuturkan pesawat seperti bumpy landing dan kemudian touchdown baru landing roll dengan keras. Pesawat sendiri touchdown agak jauh dari touchdown zone (sekitar 600 m). Praktis, pilot cuma punya +/- 1.500 meter area efektif untuk downspeed.

Pada saat touchdown, nosewheel hancur, hidraulics hilang, dan terjadi gesekan langsung antara velg dengan apron. Inilah mengapa ada saksi mata yang menyebutkan muncul percikan api dari depan pesawat. Terminal dilewati dengan kecepatan tinggi, kemudian terjadi impact (benturan). Akhirnya PK-GZC resting place 200 meter di sebelah timur runway 27 di daerah persawahan deretan approach light, melompati pagar pembatas dan jalan menuju AAU. Barangkali inilah yang menyebabkan engine terpisah dan nose hancur, menyisakan tail (fin) dan stabilizer horizontal yang masih utuh.

Melihat fakta bahwa pesawat well-maintained, Capt. Marwoto juga dikenal landing-nya cukup smooth, plus cuaca di luar yang sangat baik, nampaknya memang ada sesuatu yang besar di luar faktor-faktor tersebut yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Landasan Pacu (Runway) Adisutjipto

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bandara ini, kecuali jarak landasan pacunya yang relatif pendek. Panjang landasan pacu bandara ini cuma sekitar 2.200 meter kali 45 meter (atau sekitar 7.200 feet x 150 feet). Karenanya, buat saya, landing maupun take-off dari bandara ini cukup bikin deg-degan. Landasannya lebih pendek dari Solo atau Makassar. Pilot dituntut untuk tepat touchdown di runway 09 dan sudah taxy speed di C. Kejadian brake-melting di JOG barangkali sudah tak terhitung lagi. Dengan ketiadaan open space yang memadai di ujung landasan, maka andaikata pesawat tergelincir, risiko kecelakaan menjadi lebih besar.

Dengan kondisi landasan sekarang ini, Adisutjipto seharusnya hanya dapat didarati dengan baik oleh Boeing 737 seri 300 atau 500. Jarak ini kurang ideal untuk Boeing 737-400 atau MD-82 yang membutuhkan landasan pacu 2.460 meter untuk bisa landing normal. Excuse bisa diberikan bila cuaca sangat baik (tidak contaminated), pesawat tidak membawa extra fuel, atau pesawat tidak fully loaded — meski faktanya, rata-rata pesawat selalu full penumpang dan full cargo. Apalagi, dibandingkan Solo atau Semarang, Adisutjipto per harinya dilewati sekitar 3.000 penumpang.

Kemudian, kalau diperhatikan secara lebih seksama, di ujung timur landasan (bisa masuk lewat Jalan Solo, kemudian belok ke selatan arah ke AAU) atau di ujung barat (bisa lewat jalan masuk bandara ambil ke kanan atau via pintu masuk Museum Dirgantara ambil lajur ke timur), runway terlihat bopeng sehingga pesawat yang landing maupun take off terlihat bumpy. Kalau cuaca agak kurang bersahabat atau ada crosswind, goyang dangdut pesawat kentara sekali dengan mata awam sekalipun. Walaupun tahun lalu bandara barusan di-overlay untuk menutup rubber deposive dan memperhalus runway, tetap saja bopeng itu ada.

Walaupun menyandang gelar “bandara internasional,” faktanya tidak demikian. Kondisi landasan pacu yang pendek menyebabkan jarak paling jauh yang mungkin ditempuh baru sebatas ke negara-negara Asean. Jadi belum dimungkinkan ada penerbangan langsung dari Jepang, China, Taiwan, Korea, ataupun Australia. Hal ini juga yang menyebabkan konsep Jogja sebagai kota pariwisata menjadi agak tersendat.

Pengembangan Bandara Adisutjipto

Secara teknis, agak tidak mungkin pengembangan bandara dilakukan di Adisutjipto. Untuk melakukan perpanjangan runway jelas susah dilakukan. Perpanjangan ke barat (runway 09) terbentur pada lembah dan sungai yang agak dalam dan lebar dengan terrain yang tidak merata. Sementara untuk ditarik ke timur (runway 27) juga sangat tidak feasibel. Selain terdapat permukiman, perpanjangan ke timur akan “membentur” bukit Boko.

Karakter wilayah seputaran bandara juga unik. Sebelum mendarat, kita akan melewati perkotaan, dengan gedung-gedung dan permukiman yang berbeda ketinggiannya, melewati jalan raya, jalan layang (fly-over) Janti, perkebunan, lembah bersungai, baru touchdown di runway. Perbedaan ground convention dari terrain sepanjang approach path ini sering menyebabkan pesawat terguncang ketika approaching.

Selain itu, Adisutjipto sejatinya adalah bandara “pinjaman” dari TNI-AU. Pada tahun 2020 Adisutjipto harus dikembalikan lagi ke pemiliknya. Pemda DIY dan PT Angkasa Pura harus memikirkan rencana untuk relokasi bandara baru.

Sebenarnya pernah digagas wacana untuk memindahkan bandara ke wilayah lain. Setahu saya, ada beberapa nominasi seperti Gading (dekat Wonosari), daerah Congot (Kulon Progo), dan seputaran daerah Parang Tritis (Bantul). Repotnya, “makelar” mulai bermain di sini. Misalnya, sebelum ada proyek, tanah di daerah Gading hanya dihargai Rp 20 ribu per meter persegi. Saat ini, kalau nggak Rp 110 ribu nggak akan dilepas. Akibatnya biaya membengkak banyak.

Menurut Pak Bambang SP (Sekda DIY), sebenarnya juga sudah dianggarkan di APBN walau masih dalam tanda (*). PT Angkasa Pura masih ragu-ragu karena melalui bantuan APBN harus ada penyertaan modal pemerintah (PMP) sementara break-even point atas modal yang disetorkan butuh waktu lama. Pemerintah Republik Ceska juga sudah pernah menawaran bantuan dengan lahan sekitar 500 ha. Calon lokasi yang menarik berdasar studi JICA (Jepang) adalah Bantul dan Kulon Progo. Selain dikembangkan untuk bandara, konon juga akan dikembangkan kawasan export processing zone atau zona industri untuk ekspor.

Kalau memang hal ini terealisasikan, artinya bandara bisa dikembangkan agar benar-benar berorientasi internasional. Selain itu daerah selatan juga akan ikut berkembang — daerah yang selama ini kurang menjadi konsentrasi pembangunan Pemda DIY. Mungkin akan seperti Padang yang memindahkan bandara Tabing ke Minangkabau (Padang Pariaman) yang ada di tepian pantai.

Musibah Lagi, Musibah Lagi

Per 2007, sudah tak terhitung musibah dan kecelakaan transportasi yang terjadi. Dimulai dari Adam Air PK-KKW, KM Senopati Nusantara yang tenggelam, Kapal Levina I terbakar dan kemudian tenggelam saat investigasi, Adam Air di Surabaya yang mengalami body wreckage, banjir di Jakarta, tanah longsor di Manggarai, gempa bumi di Solok, sampai Garuda terbakar di Yogyakarta. Praktis hampir tiap bulan terjadi kecelakaan pesawat.

Pada akhirnya memang musibah tidak pilih-pilih. Pesawat murah atau pesawat mahal, siapa pun punya risiko yang sama. Every 30 seconds, somewhere around the world someone dies on the roads, that is a plane load every 2 hours. What’s wrong with dying? There are 6 billion people in the world (including me and you) and in 100 years all are dead and buried. None of them has ever taken their money with them.

Jadi, kenapa kita tidak berusaha buat mendekatkan diri dengan Allah ta’ala dan mengisi hidup dengan hal-hal yang lebih bermanfaat buat sesama?

  • Tulisan di atas hanyalah analisa awam yang cuma spekulasi. As with any accident, only time will tell. My sincerest condolences to all involved, to those who lost loved ones, all family, and friends of those affected. To those souls that perished, may God have mercy on you.
  • Foto diambil dari sini.
  • Video bisa didownload di: sini, sini, sini, dan sini.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Jalan yang paling berbahaya di dunia. at cashper.com
  2. Comments

  3. yahya

    sepertinya memang kita juga tidak perlu mencari kambing hitam. negeri ini memang sepertinya juga perlu “Dipaksa” untuk segera bertobat dari segala bentuk kemaksiatan. hhh, dalam tataran yang lebih luas saya rasa bagaimanapun ini juga merupakan keadilan Allah. Meski terasa sangat menyakitkan. wallahua’lam.

    btw, i just want to say that i apreciate your writings. would you mind if i link your blog to mine? i just a beginner. thanks.

  4. Nofie Iman

    yahya
    Thanks for visiting. Feel free to link it wherever you want.

  5. dian

    Saya jadi speechless…
    Semoga perih terbang tinggi ke awan…

  6. Anita Putri Ayu

    hah..ya begitulah kenyataannya kan??? Ini adalah titik klimaks dari kelengahan semua pihak..Selama ini kita bisa dibilang “mati suri” dengan semua kegiatan yang ternyata berdampak buruk dimasa akan datang..
    Contohnya ya banjir, tanah longsor dan kecelakaan transportasi itu..Kita tidak akan pernah tahu, cobaan apalagi yang akan datang berikutnya bukan?

    Mungkin, memang Allah SWT sudah menggariskan ini semua agar kita disadarkan dan disuruh untuk memperbaikinnya.

  7. galih

    Pak Nofie pilot juga kah? Tulisan Anda soal penerbangan (mulai pesawat Adam Air) hingga artikel ini adalah artikel yang sangat dalam soal dunia perpesawatan.

  8. trisno

    BTW, poto diatas diambil dari bagian mananya adi sucipto? Lagi photo session ya pak?
    Nice article !

  9. Agus

    Great And Reliable Until Delay Anounced….. ‘moga-moga tidak jadi Great And Reliable Until the Deadly Accident……..(?)

  10. Agus Trilaksono

    Tanpa bermaksud menakuti maupun merusak selera makan teman-teman, tapi e-mail ini menarik untuk dibaca ulang (saya dapatnya cukup lama, mid of 2006 ?). demikian juga tidak bermaksud untuk men-downgrade perusahaan lain.
    Tapi e-mail ini (dulunya) cukup untuk segera merubah posisi duduk saat baca, cukup menjadinya “gak jadi menghabiskan hanya secangkir kopi”. Bagaimana tidak, karena ingatan tiba-tiba menuju saat “hanya” sebentar menuju tempat lain dinegeri ini menggunakan pesawat, saat kepala menoleh ke jendela untk melihat wing, ada satu fastener lepas menyisahkan lubang bekas drill (untung struktur tsb didisain fail-safe). Fail-safe artinya satu penguat lepas, beban masih dapat ditanggung oleh yang lain.
    Juga bersyukur saat mengalami turbulance diatas teluk bengal, pas menggunakan pesawat yang relatif baru, juga pas e-mail tsb belum dibaca.

    saya sangat berkepentingan dengan dunia ini, tapi bergairahnya dunia penerbangan indonesia menyisahkan duka dengan tidak diimbanginya dengan kemampuan teknis dan level kedisiplinan pada bidang dunia ini.

    Sekali lagi, bukan bermaksud untuk mengajak debat atau merusak selera teman-teman. Hanya sebagai bahan renungan, seraya berharap, semoga human-safety menjadi prioritas pertama, supaya duka tidak semakin dalam.
    Catatan : regristation aircraft tidak dicrosscheck

    ——————–
    Mr. X-File. (seorang expatriate)

    Fear Factor : Flying in Indonesia _ D A N G E R !
    Recently on the way back from my holidays in Bali I took a flight from Denpasar to
    Jakarta with Adam Air. I’ve heard about these relatively new airlines from several friends who all mentioned that they have a brand new aircrafts and are authorized to fly to Singapore. It sounded extremely good especially considering the one way tickets price of Rp. 295.000,- which was just a bit higher than offer from the cheapest “metro-mini” style none-budget carrier Lion Air. The offer seem to be so good that base on my experience of living in Indonesia for several years, I immediately started thinking that this is just too good and there must be something wrong. Anyway, I decided to try my luck and fly with Adam Air and apparently many other passengers thought the same, as the flight was totally booked? Comparable to Garuda flight which had almost no passengers.
    When boarding Adam Air, I immediately noticed that the Boeing 737-400 aircraft had engine cover scratched everywhere, wings were all dirty and had broken paint in several places, door also looked very old and far from my expectations of the brand new airplane. Nevertheless, I decided to test the level of my fear of flying and get on the plane. Just for the record I noted the airplane registration code PK-KKI (see Table of Adam Air as follows next page).
    When arrived in Jakarta I looked up the airplane code in the database and the “brand new” aircraft that I was flying apparently had its first flight on 10th December 1988, thus being 17 years old age aircraft, which if compared humans, the airplane would be in its late forties. In its long life the mentioned airplane also traveled a lot as it was previously used by Sahara India Airlines, Sierra National Airlines and Air Belgium (first owner), thus having pretty much interesting life as an aircraft. Now a question arises if I had a bad lack to fly with the only old airplane in Adam Air’s fleet or actually the fleet is not as new as I’ve expected.
    Following my curiosity I prepared a Table of Adam Air owned aircrafts providing the age of each aircraft :

    Registration Aircraft First flight date Aircraft Age
    (Danger !)
    PK-KKF 737-200 12-02-1980 26 years
    PK-KKN 737-200 21-03-1980 25
    PK-KKQ 737-200 16-01-1981 25
    PK-KKJ 737-200 03-02-1982 24
    PK-KKL 737-200 12-04-1984 21
    PK-KKE 737-300 31-08-1987 18
    PK-KKP 737-200 31-05-1988 17
    PK-KKH 737-400 11-07-1988 17
    PK-KKU 737-300 04-08-1988 17
    PK-KKI 737-400 10-12-1988 17
    PK-KKD 737-400 22-12-1988 17
    PK-KKR 737-300 09-01-1989 17
    PK-KKS 737-400 28-01-1989 17
    PK-KKT 737-400 05-09-1989 16
    PK-KKG 737-400 07-01-1991 15
    PK-KKC 737-400 09-01-1992 14
    PK-KKA 737-500 10-06-1997 08 [only 1 (one) aircraft rather safe ?]
    the other aircraft above “safety” are questioned ?

    Looking at that I feel I was actually lucky as the 17 years old aircraft I had a pleasure to fly with is actually very new if compared to another Aircraft used by Adam Air registered as PK-KKN (KKN is actually one of the most popular acronyms in Indonesia originated from Korupsi-Kolusi-Nepotisme) which at a current date is 25 years old.

    Comparable to human age this aircraft would be in its late seventies and probably
    already having one spot booked at the graveyard.
    Base on the table above we can also calculate an average age of the Adam Air’s fleet, which is 18 years. Actually, there was only one airplane that was less than 10 years old and if I’m not mistaken that must be the Adam Air aircraft authorized to land in Singapore.

    Clearly, many passengers chose Adam Air airlines thinking about the new
    airplanes, when actually the fleet is full of refurbished aircrafts with only one
    relatively new aircraft which is used by Adam Air marketing team to create an image or rather mirage (khayalan belaka), of having fleet of new aircrafts.
    Maybe Adam’s Air definition of “new” is somehow only for local Indonesian
    definition, thus I might have wrong perspective. To verify that I compared age of major Indonesian airlines and came up with the following statistics of Indonesian aircraft carriers average age of the fleet :
    Garuda Indonesia – Age 10.0 years
    Lion Air – Age 17.3 years
    Adam Air – Age 18.1 years
    Awair – Age 18.8 years
    Merpati – Age 21.6 years
    Batavia – Age 23.4 years
    Sriwijaya Air – Age 23.5 years
    Mandala Airlines – Age 23.9 years
    Bouraq Indonesia Airlines – Age 25.1 years

    Shocking ! With 18 years old fleet of elderly aircrafts Adam Air comes on the third
    position of the newest aircraft fleet in Indonesia. Garuda Indonesia leads with 10
    years old fleet.

    Another great surprise is that none-budget carried Lion Air comes second with just
    a little over 17 years old fleet ? that is almost half older fleet than Garuda Indonesia.
    The list is closed by Bouraq Indonesian Airlines which with 25 years old fleet gives
    me an idea of a Fear Factor stunt-man “Flight with Bouraq” for trial & error-test of flying phobia (penyakit ketakutan / gamang).
    Mandala Airlines comes second from the end.
    Having Mandala Airlines so low in the list reminds me about the Mandala’s Boeing 737- 200 crash on 05th September 2005 which resulted in total body count almost 150. At the date of incident the PK-RIM aircraft was almost 24 years in service.

    For comparison the Lion Air’s McDonnell-Douglas MD-82 airplane that crashed in
    Solo Airport on 30th November 2004 at the date of incident that resulted in 25 fatalities was 20 years in service. At last report, it had accumulated 56,674 flight hours and 43,940 landings !
    I somehow think that it’s not just a coincidence that the aircraft that crashed were at least 20 years old.
    To compare that to the foreign airlines, I checked the average age of fleet of pervious owners of the Adam Air’s PK-KKI aircraft I was flying with.

    Blue Panorama Airlines : Age of the fleet – 11.6 years
    Sahara India Airlines : Age of the fleet – 10.5 years
    Interesting, 11.6 years and 10.5 years which I think proves that both airlines found this plane too old to operate, while Adam Air management thinks operating 17 years old aircraft is perfectly fine ?. _ SNOBBISH ! But FOOLISH ?
    Browsing through recent newspapers I’ve found several articles that will be a good conclusion for this post.
    The first one comes from The Jakarta Post (dated 11th February 2006) :
    An Adam Air Boeing 737-300 plane serving the Jakarta-Makassar route was forced to make an emergency landing Saturday at the small Tambulaka Airport in Sumba, East Nusa Tenggara, a spokesperson for Adam Air said.
    The plane took off from Jakarta’s Soekarno-Hatta International Airport at 6:20 a.m. with 145 passengers on board. It was scheduled to land at Hasanuddin Airport in Makassar at 9:25 a.m. local time, Suwandi, Adam Air supervisor for Makassar, said. There is a one hour time difference between Jakarta and Makassar.
    However, navigational problems caused pilot Tri Tuniogo to lose contact with the
    destination airport, he said. The plane was later found to have landed at Tambolaka at 9:45 a.m. local time.
    “No one was hurt in the incident,” Didik, Adam Air’s public relations officer for Jakarta, said, adding that the emergency landing was made due to bad weather. “As to whether it was a storm or heavy rain that forced the pilot to land – we remain uninformed,” he said.

    Ok, so there was a bad weather and airplane had to land. Nothing unusual, right ? Until you read the follow-up published on the Valentine’s day.
    The Ministry of Transportation considers that Adam Air committed a serious violation when operating a plane still required for “evidence” following a serious incident affecting the navigation system of the plane. “That is a serious violation and the first ever committed by an airline in Indonesia. The Adam Air management needs to be examined in connection with it,” the Ministry’s Director General of Air Transportation, Iksan Tatang, said replying a reporter’s question here on Monday.

    Adam Air’s Boeing 737-300 aircraft with flight number DHI728 had made an
    emergency landing at Tambolaka airstrip in West Sumba, East Nusa Tenggara, after wandering for three hours due to a navigation system failure on its way from Jakarta to East Nusa Tenggara with The Director General said the plane should not have been flown pending an examination by the National Committee of Transportation Safety (KNKT) and the Directorate of Airworthiness Certification.
    That’s interesting. Previously it was a bad weather and now it is a navigation system failure. Huh ?
    I think the real story came up only because of the serious violation committed by
    Adam Air. FYI two of my friends flight with Lion Air from Manado and airplane had serious alfunction to the extent that stewardess ordered everyone to wear a life vest. Fortunately flight finished without fatalities and nothing appeared in news _ Probably thanks to the KKN acronym I’ve mentioned before.
    You probably wonder how old was that Boeing 737-300 which got navigation system failure acka landed because of bad weather ? Looking at the age of Adam Air’s 737- 300 fleet, the plane must be at least 17 years in service.
    That is probably 3 years too short to have this small incident resulting in fatalities and adding another Indonesian airplane crash to the list.
    Looking at the whole picture, I predict there will be at least one Indonesian aircraft
    crash before the end of this year 2006.

    Thus, have a nice flight everyone !

  11. sandy

    stupid garuda management and all the goverment peopel who in charge of the national airline , stupid ! kalo org kita bilang goblok . thats the indonesian mentality very famous in the world , dont you guys relized.
    nama indonesia sudah terpuruk sampai ke lubang tinja , apa kamu org masih belum sadar !. kalo sudah terjadi heboh, tapi tidak ada penyelesaian yg benar , sesuatu yg bodoh sekali .saya rasa dengan mentality garuda management garuda will finish soon, shame to the indonesian goverment .
    ga pernah mau belajar dari org lain , menganggap diri paling hebat! hebat apanya hebat dalam membuat org sulit. dasar kebodohan mentality dan tidak pernah selesai , coba deh pada sadar , malu di liat org , nyawa hanya yadi permainan ,indonesia tuh udah kaya negeri afrika , ga sadar apa pada pemimpin negara dan segala jajaran nya , selamat menghancurkan republik anda mungkin republik mimpi lebih realistis ,,,,
    lebih cocok bener , tunggu aja tanggal main indo jadi gembel bener. stupid !

  12. sarman tansi

    Hai ……
    I’am Sarman Tansi.
    I’am student of STIKOM FAJAR MAKASSAR- INDONESIA my subject is PUBLIC RELATIONS. I have an assignment from my lecturer. My assignments are:
    1.to find out what is the activity of PUBLIC RELATION in airlines company.
    2.to find out what is the function of PUBLIC RELATION in airlines company.

    So my question is would you please give me an explanation to those of my assignments above.

    I really apprecite for your kindness to answer of my assignment above.

    SINCERLLY TANSI

  13. Danang

    By reading this writtings, i become very intrigue about you. Actually I have a special interest to aviation as well. Memang berita ini sudah cukup lama, tetapi saya tetap tertarik untuk menyelusuri lebih dalam pemberitaan media mengenai kecelakaan ini. Mendengar berita kejadian ini, kebetulan saat itu saya sedang berada di Jogja, sungguh mengejutkan. Saya tetap mengklaim bahwa Garuda tetap menjadi airlines terbaik di Indonesia, bukan saja karena service dan mutu pelayanan yang patut diacungi jempol, tetapi dalam menghandle musibah seperti ini cukup sangat cepat dan cekatan. Dalam mengamati dunia penerbangan Indonesia saya memang sangat cukup subyektif tetapi juga obyektif dalam menilai setiap airlines yang muncul, dan melalui pengamatan saya pun, melihat akan kebenaran bahwa Garuda memang salah satu frill airlines yang patut dibanggakan oleh Indonesia. Sangat bertanggung jawab dan sophisticated. Saya cukup kecewa dengan respond masyarakat Indonesia yang langsung menjudge “Ternyata Airlines mahal pun tak menjamin keselamatan” itu memang-lah benar, tetapi setidaknya kita harus obyektif terhadap upaya pencegahan yang telah dilakukan melalui perawatan dan maintenance pesawat yang dilakukan Garuda Indonesia sendiri, dan nasib manusia pun berada di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kejadian ini pun, saya sendiri tidak punya perasaan takut untuk menggunakan jasa transportasi udara terlebih saya masih mempercayai Garuda sendiri sebagai maskapai andalan saya, and most importantly, i believe that Garuda’s customer will always loyal to Garuda as the trustworthy they have got from publics has been there for a long time.

  14. sang bidadari

    semoga garuda selalu jaya diudara…. memberikan semangat buat indonesia….

  15. nun

    aduuh…kok orang2 pada menjelekkan yah..namanya cuga musibah gak bisa di hindarkan toh mas…!!! ^_^

  16. nun

    aduuh…kok orang2 pada menjelekkan yah..namanya cuga musibah gak bisa di hindarkan toh mas…!!! ^_^

  17. chev

    ah…., emangnya kita tau suatu saat bakal di tarik agent……………….
    Sekolah di mana tempo dulu……..,
    ngGa perNaH belaJar PMP sich………yang jelek-jelekin
    KompoNen Bangsa Ini…………..
    Kasian…………

  18. Ivan IsrAeL 73

    khan malu sama negara tetangga…..

  19. julius maruf

    I love still fly with Garuda Indonesia caused of I trust them.
    I wish Garuda Management will make an continue efforts to be an number one.

  20. hamdan_hehan

    itu cobaan intuk garuda.tabahkan hatimu garuda…kamu tetap jaya di udara

Looking forward to hear your thoughts.