IPDN: Kekerasan atau Disiplin?
April 8th, 2007 | ManagementDalam suatu organisasi, disiplin memang diadakan guna mencapai superior performance. Superior performance akan tercapai bila organizational expectations selaras dengan member’s personal responsibility. Ketika keselarasan itu gagal tercapai, maka actual performance tidak akan sama dengan desired performance.
Masalah-masalah personel dalam suatu organisasi yang menyebabkan gagalnya superior performance biasanya terkait antara lain:
- attendance
- performance
- behavior/conduct
Menurut ilmu transaksi disiplin konvensional, kita bisa merespon “kegagalan” ini dengan pendekatan informal seperti coaching dan counselling; atau pendekatan formal seperti oral warning, written warning, suspension/probation, dan termination.
Dalam transaksi yang lebih “halus,” kita bisa menggunakan pendekatan informal seperti positive contact atau performance improvement discussions; dan pendekatan formal seperti reminder 1, reminder 2, decision making leave, dan baru termination. Dalam proses ini ada negosiasi sehingga organizational expectations bisa padu dengan member’s personal responsibility.
Tentu saja, dalam hal ini kekerasan jelas bukan merupakan cara cerdas untuk menanamkan kedisiplinan. Secara prosedural seharusnya pendekatan informal digunakan terlebih dahulu untuk menanamkan kedisiplinan. Ketika pendekatan informal gagal, barulah pendekatan formal dilakukan. Kekerasan adalah jalan terakhir yang boleh digunakan; dengan catatan organisasi memang membolehkan penggunaan kekerasan.
Dari sudut pandang psikologi, jika seseorang melakukan sesuatu dan mendapat hasil/konsekuensi positif, orang tersebut cenderung akan melakukan tindakan serupa lagi (positive reinforcement). Sebaliknya, bila konsekuensi yang diterima negatif, seseorang akan langsung menjauhi tindakan itu lagi (negative reinforcement). Dan penelitian membuktikan bahwa pendekatan positivisme jauh lebih manjur untuk mendorong seseorang bertindak.
Dick Grote pernah menulis bahwa punishment, dalam jangka pendek memang mendorong improvement — namun dampak jangka panjangnya sangat disastrous. Menurutnya, “The use of punishment produces side effects and long-term consequences (anger, apathy, resentment, frustration) that end up being far more costly than whatever the original misbehavior might have been.”
Orang tua kami mengajarkan disiplin dengan sederhana: menyuruh kami untuk selalu melangkahkan kaki dengan kaki kanan (kecuali ke kamar kecil), mengerjakan hal-hal baik dengan tangan kanan, masuk/keluar rumah dengan berpamitan dan mengucap salam, menyuruh kami untuk selalu sholat tepat waktu; dan semua itu diajarkan sejak kami kecil. Memang sepele; namun manjur, berkesan, dan tentu saja beradab.
Dan ngomong-ngomong soal disiplin, Allah sudah memperingatkan dalam QS. 3:159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
Sungguh, masih ada 1001 cara untuk menanamkan disiplin dan membentuk superior performance tanpa menggunakan kekerasan.



June 8th, 2007 at 8:27 pm
Comments
April 9th, 2007 at 1:14 am
Apa sebenarnya yg diharap dari model pendidikan seperti itu?. Kekerasan di sana sudah mengakar, mending di bubarin aja biar gak nambah korban, rektornya aja angkat tangan. Lagipula corak pemerintahan militer represif ala suharto gak jamannya lagi. Pemerintahan sipil yg mengedepankan intelektualitas yg perlu di subsidi, bukan malah di korporasikan (dikomersilkan).
April 9th, 2007 at 6:07 am
Mungkin yang harus dirubah adalah sistem pendidikan yang ada di IPDN, karena IPDN adalah sekolah untuk mencetak pegawai sipil bukan militer sudah sepantasnya tidak menerapkan cara-cara militer dalam pendidikannya, baik itu resmi seperti berpakaian seragam layaknya militer, baris berbaris dsb, maupun secara tidak resmi seperti perploncoan yang dilakukan oleh para senior. Tapi kalau mmereka tidak bisa merubah itu semua mungkin sebaiknya IPDN di bubarkan saja, dahulu memang sulit untuk mencari pegawai yang mengerti ilmu pemerintahan sehingga dibentuk lah STPDN (sekarang IPDN) tapi kalau sekarang kayaknya nggak lagi deh, sudah banyak universitas yang membuka jurusan pendidikan dalam bidang pemerintahan.
April 9th, 2007 at 6:45 am
Saya rasa yang terjadi di sana lebih banyak karena kekerasan yang telah mendarah daging. Jadi latah. Kemudian terus diterapkan oleh senior kepada junior dengan berkedok disiplin. Entah apa solusinya. Rektorat IPDN harus bisa mengambil sikap tegas terhadap hal ini.
April 9th, 2007 at 12:55 pm
Saya setuju, kekerasan kadang diperlukan untuk membangun kedisiplinan. Tapi itu juga berlaku dengan sejumlah syarat. Siapkah pelakunya, bagaimana sistemnya, dan diterapkan di mana?
Tapi menerapkan kekerasan dalam pendidikan adalah omong kosong. Saya jadi ingat teman SMA saya yang melempar balik penghapus papan tulis ke arah guru, setelah sempat dilempar lebih dulu. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan kembali kalau tidak pada tempatnya.
April 9th, 2007 at 6:21 pm
Kekerasan dalam batas tertentu diperlukan untuk menegakkan disiplin.
Aku masih ingat saat bapak “memberi pelajaran” karena aku mencuri uang.
Tapi kekerasan seperti di IPDN itu SALAH!!!
Esensinya apa setiap orang dipukulin satu-satu?
Apa salah mereka?
Nggak ada kan?
Itu hanyalah balas dendam, dan memang nggak sepantasnya dilakukan.
Dan budaya seperti itu harus dihentikan.
April 10th, 2007 at 12:14 am
ah itu jelas2 kekerasan.. kemaren liat video yg dicaptured dari metro TV.. aduh.. :( masak sih penerapan disiplin harus seperti itu? :-S
April 10th, 2007 at 2:40 am
kekerasan dan balas dendam tidak menyelesaikan masalah, semua paham..
prakteknya? ada yang paham ada yang lupa atau ada yang keasikan pura-pura lupa
:-)
“I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent.” -Mahatma Gandhi-
April 10th, 2007 at 8:11 am
Kekerasan sebagai punishment memang dapat menjadi pembentuk perilaku disiplin, biasanya digunakan untuk menjinakkan hewan buas. Namun demikian seiring dengan perkembangan teori belajar behaviorism (Thorndike, Skinner), penggunaan rewards ternyata jauh lebih efektif untuk membentuk suatu perilaku. Punishment hanya efektif untuk mengurangi suatu perilaku bukan untuk membentuk maupun menghilangkan perilaku.
Sayangnya orang-orang jaman dulu (primitif) memang sudah mengenal metode pendidikan punishment dengan kekerasan, karena terbiasa melatih hewan-hewan buas untuk dijadikan hewan peliharaan ;)) Punishment berupa kekerasan juga lebih mudah dilakukan dan menjadi suatu penyaluran emosi yang membawa kepuasan tertentu bagi pelakunya.
Saya percaya bahwa sebagian besar kita (orang yang berpendidikan) tentu paham bahwa kekerasan tidak efektif untuk membentuk kedisiplinan. Mungkin rektor dan pengajar IPDN juga tahu tentang itu. Masalah pelembagaan kekerasan di IPDN lebih karena sesuatu yang kompleks dari sekedar kekerasan untuk kedisiplinan, yaitu lingkaran setan waham-waham kebesaran yang pada akhirnya ditunjukkan dengan perilaku kekerasan.
Sindrom Kekerasan IPDN (IPDN Violence Syndrome)
April 11th, 2007 at 8:11 am
.
April 13th, 2007 at 11:00 am
TERUSKAN SAJA PAK REKTOR SISTEM PENDIDIKAN DI IPDN,
pasti sip dan ok,
Dengan diajari pukulan, tendangan dlllll, susah untuk diteruskan.
akan tercipta aparat yang katanya melayani rakyat.
Itu uang rakyat,
apakah dengan seperti itu bukan berarti telah mengkhianati rakyat.
IPDN oh IPDN,
Betapa sulitnya untuk berkata jujur,
katakan salah, kalau memang itu salah, terus minta ma’af kemudian
perbaiki diri….. susahkah?
bukannya berusaha mencari cara berkelit.
Kalau mau meneruskan sistem ala preman, centheng,
boleh saja, tapi ya itu, jangan di sini, cari tempat lain yang cocok.
jadi nggak ada yang ngrecoki.
April 13th, 2007 at 11:32 am
Yang saya herankan adalah: hanya pendidikan untuk mencetak pamong pradja saja kok sampai memukul/dipukuli dan ada yang sampai mati.
Memang nanti kalau sudah jadi camat, lurah, sekretaris kecamatam, sekretaris desa atau jabatan2 rendah dipemerintahan kotamadya dan kabupaten nantinya biar sudah terlatih memukuli orang ?
Atau dilatih untuk nantinya memukuli penduduk wilayah kerjanya kalau dan menjabat jadi pamongpraja ?
Kalau sekolah tentara sih emang perlu dilatih menendang dan menggebukin orang, karena nantinya kalau sudah lulus dibayar untuk menggebukin musuh negara.
Kalau lulusan IPDN, nanti kenyatannya terbalik: Penduduk yang mukuli mereka ( pak Camat/lurah ) .
Jadi nggak usah lah sekolah IPDN diajari mukul orang, nggak ada appliednya nanti kalau sudah terjun dimasarakat.. Mending diajari bagaimana menghindar dari keroyokan massa.
Just my two cents.
April 13th, 2007 at 1:39 pm
mungkin maksudnya emang akan menerapkan kedisiplinan tetapi apakah sebuah kedisplinan itu harus melupakan nurani kita sebagai manusia.sehingga sudah tak ada rasa saling menghargai.bukankah mereka punya hak yang sama untuk menuntut ilmu.apakah menjadi senior untuk menghakimi junior .lalu apa yang ingin dicapai lembaga itu?manusia tak bermoralkah?bukankah negara kita membutuhkan pemimpin bukan penindas.mungkin kita harus kembali pada nurani kita dan kembali merenungi semua yang terjadi .kedisplinan bukan untuk membuat jera tapi untuk menuntun kita menjadi manusia yang bisa menghargai diri sendiri dan tak merugikan orang lain.
April 15th, 2007 at 12:07 pm
Disiplin dan kekerasan adalah suatu hal yang berjauhan. Kekerasan dan kemiliteran tidak selamanya sejalan. Yang terjadi di IPDN adalah bentuk hukum rimba yang penuh dengan kepengecutan (yang dicontohkan oleh Rektor sampai dengan praja-nya). Tidak ada hubungan dengan penegakan disiplin dan pendidikan kemiliteran.
April 17th, 2007 at 4:33 pm
IPDN sangat layak untuk diubah wajahnya, jika tidak mau dibubarkan. Dalam proses perubahan tsb, sangat penting bagi kita utk terus mengawasinya, krn jika tidak kejadian spt ini bisa terus berulang.
Para penganiaya Wahyu Hidayat (praja yg meninggal sebelum Cliff) misalnya. Jika tidak ada publikasi media yang mengabarkan bahwa mereka masih bebas berkeliaran (bahkan ada yg menjadi ajudan sekda) kendati sudah divonis bersalah oleh Pengadilan, maka proses hukum thd mereka menjadi mandek.
Mata rantai kekerasan itu harus diputus, jika tidak bangsa kita akan makin mengandalkan otot untuk bersaing dan bukan otak.
April 20th, 2007 at 6:52 pm
well, saya ndak gitu setuju IPDN dibubarkan..
April 21st, 2007 at 10:52 pm
Saya cenderung setuju dgn pembubaran IPDN…
Seperti ulasan dlm Metro, mau seribu kalipun diganti nama, kalau orang di dalamnya masih sama, ‘pembunuhan masal’ masih akan menghantui…
Pasalnya kekerasan sepertinya sudah terlanjur mengakar budaya…
Anggaran pengelolaan IPDN yang berasal dari uang negara (yang sekarang tergolong negara miskin) lebih baik dialihkan untuk korban lumpur, yang jelas2 akan jauh lebih bermanfaat…
April 23rd, 2007 at 10:09 am
kekerasan adalah metode paling murah dengan hasil yang cepat,…
buat beberapa orang, walaupun itu bukan sebuah cara yang cerdas, tapi sangat efektif, dan efisien …..
tapi tetep ajah sebuah cara bodoh……
May 21st, 2007 at 6:51 pm
IPDN belajarin apa sih…???? gimana ngebunuh yg ampuh…?? toh ga ada yg jd elit politik….. IPDN dosennya terminator y..?? robot monotalented…
Wahai IPDN….., takutlah akan Tuhan……….
April 22nd, 2008 at 9:43 am
kalau kekerasan untuk mendidik agar menjadi lebih disiplin sih saya setuju.tetapi kalau diluar itu saya tidak setuju.