Tarif Telkom Naik Lagi (Monopoli? Hari Gini?)

April 26th, 2007 | Business

Apa yang bisa kita petik dari ajang kontes bakat dan idola yang marak belakangan ini? Adanya kompetisi semacam itu memang membuat siapapun yang mampu untuk unjuk diri di depan publik. Sebagai penonton, tanpa adanya kompetisi mustahil kita bisa tahu siapa yang bisa menyanyi paling merdu. Nggak lucu kalau ada juara yang terpilih sebelum setiap peserta dijajal kemampuannya bernyanyi.

Kalau kompetisi serupa diadakan secara periodik, maka akan ada insentif bagi peserta untuk menjadi juara pada setiap kesempatan. Sementara yang suaranya (maaf) kurang merdu, akan termotivasi untuk mengasah kemampuan supaya selanjutnya bisa jadi juara. Sementara yang (maaf) berkali-kali terbukti tak berbakat menyanyi bisa berganti profesi — misal jadi petani, penulis, tukang bunga, atau lainnya — ketimbang memaksakan diri untuk menyanyi.

Itulah mengapa kompetisi penting bagi kemaslahatan umat — dengan asumsi kompetisi dijalankan dengan rules yang jelas. Dan kompetisi itu nggak cuma menyanyi, melainkan bisa kita ganti dengan kontes menyediakan produk yang reliabel kepada masyarakat supaya semua bisa menikmati kualitas terbaik pada masing-masing harga yang ditawarkan.

Pasar by its nature selalu segmented. Ada yang suka pop, tapi ada yang suka rock atau dangdut. Yang piawai ngejazz belum tentu jagoan blues. Yang bisa menyediakan bensin oktan tinggi belum tentu bisa kasih bensin oktan rendah yang murah. Yang bisa menyediakan telpon rumah murah belum tentu bisa menyediakan akses internet murah. Begitu juga sebaliknya. Biar masyarakat memilih sendiri berdasar kebutuhan dan harga.

Repotnya, BUMN-BUMN di Indonesia selalu menunjukkan sikap anti-kompetisi yang absurd. Kita tak pernah tahu apakah Pertamina, PLN, atau Telkom, benar-benar bisa menyanyi — atau sebenarnya mereka lebih cocok jadi tukang kebun.

Ada beberapa fakta yang kita tidak bisa bantah:

  1. Perusahaan tidak akan memperbaiki diri bila tidak ada stimulus (persaingan), dan
  2. Korupsi, inkompetensi dan pemborosan tingkat tinggi masih menggelayuti BUMN-BUMN kita.

Tinjau sampel Pertamina. Harga premium di Indonesia Rp 4.500/liter. Dengan asumsi $1 = Rp 9.000, maka harga premium adalah Rp 4.500 x 158/bbl : Rp 9.000/$ = $79/bbl. Di Timur Tengah, harga minyak cuma sekitar $56/bbl. Di Texas, 1 gallon cuma dibanderol $1,79 atau sekitar $75,18/bbl. Mereka cukup puas menjual dengan profit $19. Sementara Pertamina agak “maruk” dengan mengambil untung $23/bbl. Padahal kilang-kilang Pertamina rata-rata berusia 30 tahun lebih yang nilai bukunya seharusnya nol. Lalu, kemana larinya profit yang begitu besar itu?

Untung ada Shell. Untung ada Petronas. Pertamina sekarang mulai “adjust down” harganya — yang selama sejarah Pertamina belum pernah ada turun harga. Pertamina juga mulai benah-benah SPBUnya. Perusahaan beraset Rp 140 triliun ini bahkan sampai “repot-repot” ngiklan di televisi. Kompetisi sehat mulai terjadi.

Saudara sepupu Pertamina, PT Telkom Tbk, malah lebih gila-gilaan mengambil untung. Kekeuhnya Telkom meneruskan rencana perhitungan telepon lokal yang sebelumnya berbasis pulsa menjadi menit dikuatirkan bakal merugikan publik. Sementara Telkom makin untung karena 60% pendapatan telepon tetapnya berasal dari komunikasi lokal. Dalam rencana penghitungan baru, percakapan tiga menit yang hanya Rp 250 per pulsa berubah menjadi Rp 375, dengan penghitungan Rp 250 untuk dua menit pertama dan Rp 125 untuk tiap menit berikutnya, tanpa membedakan lokasi dan waktu menelepon.

Runyamnya pengelolaan telekomunikasi Indonesia memang sudah terjadi sejak dulu. Dulu Telkom pernah punya KSO untuk pengelolaan jaringannya yang kemudian berantakan karena krisis moneter. Persoalan itu menyisakan perkara antara Aria West International di Divre 3 dan Global Telekom di Divre 4. Negara dirugikan karena keuntungan Telkom sebagian harus dipotong untuk mengakuisisi aset KSO tadi. Pemerintah memang serba repot. Kalau pengelolaan PSTN dibuka, Telkom mau tak mau musti dilucuti. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya pemerintah memilih opsi yang sekarang. Pelayanan kian menurun sementara tarif terus membumbung tinggi.

Sementara bicara soal teknologi, PSTN sebenarnya adalah teknologi jaman batu yang relatif mahal. Indosat yang sedianya pernah ditawari duopoli menolak membangun wireline buat PSTN. Indosat akhirnya prefer membuat fixed wireless, yang dari segi investasi dan operasional lebih cost effective dibanding wireline (PSTN). Menurut Tempo News Room, biaya untuk membangun wireline US$ 1.000 per SST, sedangkan selular hanya US$ 300-400 saja.

Selain Telkom, sekarang memang sudah ada Indosat dan Esia yang bermain di fixed wireless. Tapi lagi-lagi mereka cuma bermain di kota besar — bukannya membangun daerah seperti niatan pemerintah untuk meningkatkan teledensitas. Benturan dengan operator GSM dan mobile CDMA terjadi juga, dan terpaksa dibuat Flexi Combo dan Esia Go Go Go supaya fixed wireless bisa bersaing. Padahal konon harga lisensi mobile wireless jauh lebih mahal daripada fixed. Belum lagi Mobile-8 yang masih dilingkupi perkara lisensi. Lagi-lagi pemerintah dikadalin.

Bukannya bermaksud su’udzon, tapi tipikal BUMN seperti Telkom secara tidak langsung berpotensi memundurkan perekonomian Indonesia. Di negara-negara maju, infrastruktur komunikasi dibuat semurah mungkin agar masyarakat bisa berkomunikasi dengan mudah dan murah. Ada pertukaran informasi. Ada alih teknologi dan ilmu pengetahuan. Ada transaksi dan jual beli yang terjadi. Semua difasilitasi dengan infrastruktur murah yang bisa dipakai sepuasnya (lokal) dengan tarif flat, contoh: Amerika, Kanada, Australia, dan Hongkong.

Nah, gimana kalau kita “candain” Telkom, Pertamina, dan BUMN lainnya dengan tidak menggunakan fasilitas mereka selama satu hari saja? Dan sebarkan juga gerakan ini ke teman, relasi, saudara, dan lainnya. Ini mungkin bisa jadi shock therapy buat mereka agar lebih concern terhadap rakyat jelata seperti kita.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. dendi

    kalau pertamina mungkin bisa satu hari nggak beli..
    tapi PLN dan TElkom?
    walah.. bagaikan balik ke jaman batu tuh.
    kecuali kalau lagi liburan camping gitu..
    hehehe

  2. martin chandra

    Jaringan telepon sendiri (setahu saya) terbagi secara sektoral, misal sektor Pasar Minggu, Sudirman, Thamrin, dan seterusnya. Kalau kita menelepon pihak lain yang masih dalam sektor yang sama, seharusnya gratis karena masih dalam satu jaringan. Biaya baru ditarik bila kita menelepon keluar sektor. Inilah mengapa internet di luar negeri bisa sangat murah.

    Anyway, andaikata internet broadband nantinya benar-benar wide accessible di Indonesia, semua pakai ADSL, WiMAX, atau cable unlimited dengan tarif flat $30 per bulan, mungkin nggak akan lagi ada yang berlangganan telepon. Orang-orang lebih prefer instant messaging atau Skype. Mau telepon ke Bandung, Makassar, Papua, atau ke Hongkong, Paris, London, tarifnya segitu-gitu aja.

  3. Jauhari

    Ketika sesuatu itu hanya SATU tidak lain dan TIDAK ADA cara lain lagi selain MONOPOLI dan MONOPOLI… dan sekali lagi KORBAN adalah RAKYAT…. entah itu mulai dari PLN, TELKOM, PERTAMINA ataupun badan badan berjenis MONOPOLI lainnya….

    Saya curiga juga apa PRESIDEN juga sudah di MONOPOLI yaa….??????

  4. Warrior

    Waduh mas iman.
    Kalau membicarakan brengseknya BUMN yang satu ini nggak ada habisnya.

    Ini juga jadi momentum SDM informatika mencari inovasi komunikasi. Orang luar saja terus berinovasi meski mereka menikmati komunikasi murah. Iya, kan. Harusnya ada orang Indonesia yang membuat banyak terobosan untuk dapat digunakan rakyat jelata seperti saya. :D

  5. Franxbudi

    Kapan negara bisa maju kalu kita sebagai warga menderita terus menerus padahal semakin hari biaya komunikasi bukan makin murah malahan makin mahal…Nasib

  6. anhminh

    Dear sir !
    I want to know about: Ricmark international ltd.Address: Akara building,24 de castro street,Wickhams Cay 1,Road Town,Tortola,British,Virgin Islands.
    Could you help me?Please.
    Could you tell me that?
    Thank you so much.
    BestRegard.

  7. r32

    klo perusahaan yg monopoli pasar gak concern sm pelanggan….. ngga customer oriented gitu…. contoh PLN …. CMIIW

  8. Raditya

    Salam Kenal Mas Nofie Iman ^_^

    Blognya bagus, Mas. Pedas dan nyelekit untuk para pejabat, dan para pemegang kekuasaan yang membuat bangsa ini menjadi sekarat dan sengsara.

    Keep Bloging ….. sumangadh…. :-)

  9. rexa

    Mungkin ada benarnya juga apa yang anda sampaikan. Tapi perlu diketahui juga bahwa ‘cost’ yang harus dikeluarkan oleh BUMN bukan sekedar yang tertera dalam laporan keuangan. BUMN sampai saat ini tetap dijadikan ’sapi perah’ oleh parpol, DPR, bahkan pejabat pemerintah. Setorannya itu cukup besar.

    Dan jangan salahkan juga jika BUMN sulit untuk beroperasi secara efisien. Ini adalah warisan jaman dulu. Dulu BUMN ibarat dinas sosial untuk menampung tenaga kerja lokal yang kebanyakan berpendidikan rendah. Jumlah karyawannya banyak tapi secara kualitas kurang. Belum juga masyarakat Indonesia sendiri yang kelakuannya membuat cost BUMN makin besar seperti pencurian aset perusahaan.

  10. anwar

    Apa yang telah dilakukan BUMN2 tersebut juga adalah kebijakan pemerintah, jadi kita semua bisa menilai bagaimana kepedulian pemerintah terhadap rakyatnya…hal tersebut apakah pemerintah memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, kita bisa menilainya sendiri…berat kemana kebijakan2 tersebut.
    Thanks

  11. Harry

    “Nah, gimana kalau kita “candain” Telkom, Pertamina, dan BUMN lainnya dengan tidak menggunakan fasilitas mereka selama satu hari saja? Dan sebarkan juga gerakan ini ke teman, relasi, saudara, dan lainnya. Ini mungkin bisa jadi shock therapy buat mereka agar lebih concern terhadap rakyat jelata seperti kita.”

    Saya setuju. Saya sudah coba kurangi penggunaan produk BUMN-BUMN tsb. PTSN sudah saya cabut. GSM sudah tidak pakai punya Telkom. Oli, sudah tidak pernah pake punya pertamina lagi. Sayangnya bensin dan listrik belum ada ‘pandangan lain’. Flexi tetap saya pakai, karena banyak mitra kerja yang gunakan.
    Emangnya, gerakan saya ini ada efeknya buat BUMN yg disebut di atas ga ya ? Seperti menyiram 1 hektar tanah dengan 1 sendok air ya ? :))

  12. Dhan

    Telkom oh… telkom…
    Indonesia oh… indonesia
    BUMN oh… BUMN

    *menghela napas

  13. fandis ramashinta

    Anda yang menarik diri dari penggunaan produk dalam negeri, sungguh anda sombong. Sudah tidak paham akan kondisi BUMN, ngarang lagi…. terus yang lebih bodohnya lagi nyebar virus… jangan jangan anda sudah menjadi alat dan termakan virus…..
    Tahukah anda bahwa bila anda mengkonsumsi produk luar yang nota bene murah, itu hanya sementara. Suatu saat nanti anda akan tersadar sendiri. Jadi cepatlah bertobat, dan lebih baik membagi informasi yang berguna bagi rakyat Indonesia bukan sebaliknya membodoh2i bangsa sendiri… Ok

    “pengagum produk DN”

  14. fandis ramashinta

    Anda yang menarik diri dari penggunaan produk dalam negeri, sungguh anda sombong. Sudah tidak paham akan kondisi BUMN, ngarang lagi…. terus yang lebih bodohnya lagi nyebar virus… jangan jangan anda sudah menjadi alat percobaan dan termakan virus…..
    Tahukah anda bahwa bila anda mengkonsumsi produk luar yang nota bene murah, itu hanya sementara. Suatu saat nanti anda akan tersadar sendiri. Jadi cepatlah bertobat, dan lebih baik membagi informasi yang berguna bagi rakyat Indonesia bukan sebaliknya membodoh2i bangsa sendiri… Ok

    “pengagum produk DN”

  15. Rahmat Miftahul Habib

    Saya pikir ada ditampilkan tarif telepon rumah…
    Soalnya saya lagi nyari2 tarif telp rmh (PSTN) nih…
    Lam kenal yah…
    Namaku Rahmat sekarang tinggal di Jogja

  16. lawrance

    Tulisan yang sangat menarik mas. :) Saya mencoba meresponnya di blog saya ya.

    http://wikinomic.blogspot.com/

  17. very

    Telkom satu2 nya memberikan jasa pelayanan karena di indonesia ini tidak ada saingan perusahaan yang sama, jadi monopoli untuk standar layanan semau telkom….

Looking forward to hear your thoughts.