Mainan Baru Dhani: Dewi-Dewi
June 22nd, 2007 | EntertainmentPernah lihat orang bule yang bengong nonton performance Trisum Balwan-Budjana-Tohpati? Atau, pernahkah Anda perdengarkan ke orang-orang bule Dewa 19, Slank, Padi, KLa, dan lihat reaksi mereka? Tahukah Anda bahwa Dave Koz pernah bilang bahwa Tompi sudah seharusnya main di luar negeri? Musik Indonesia, untuk regional Asean, boleh dibilang udah megang banget. Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Dewa 19, Sheila on 7, Padi, dsb bisa dibilang sulit ditandingi — walau untuk pasaran Amerika atau Eropa mungkin masih jauh.
Lupakan sejenak Anggun yang (katanya) sekarang berkewarganegaraan Perancis. Kita punya Sherina yang dulu pernah duet dengan Westlife. Agnes Monica juga pernah sepanggung dengan Boyz II Men. Ruth Sahanaya sudah berkali-kali nyanyi bareng musisi kenamaan luar negeri. Dewa 19, Gigi, dan Slank pernah konser di Amerika dan negara lainnya. Lagu-lagu Mocca dan Ten2Five juga sudah sering diputar di radio-radio Australia dan Swedia. Shaggy Dog atau Anne Marie juga sudah sampai ke Belanda.
Saat sekarang, penikmat musik dan musisinya sendiri bertambah banyak. Supply dan demand sama-sama tinggi — namun anehnya penjualan lesu. Praktis musisi cuma berharap dari pendapatan lain-lain seperti honor konser, iklan, ringback tone, dan sebagainya. Berkembangnya teknologi memang punya konsekuensi negatif dimana pembajakan jadi lebih mudah dan gampang.
Kalau label terus-terusan bertahan dengan paradigma lama dengan hanya mengedepankan jualan kopi album, memang industri bisa mati. Kalau tak punya ciri khas yang kuat serta basis penggemar yang besar, jangan harap bisa bertahan.
Selain pembajakan, perubahan kebiasaan cara mendengarkan musik juga menjadi faktor yang sama-sama mendorong pada lesunya industri musik. Harusnya, industri mulai beradaptasi dengan perubahan media. Di Eropa, penjualan musik secara digital diramalkan akan jauh melampaui penjualan konvensional via kaset dan CD. Jadi, solusinya memang harus berani berinovasi. Satu-satunya jalan untuk tetap bertahan dan sekaligus mengalahkan pembajak.
Tapi pebisnis harusnya melihat bahwa ini berarti potensi untuk membuka pasar luar negeri yang lebih potensial. Asumsinya, pasar internasional punya market base yang sangat luas, memiliki daya beli tinggi, dan pasar mereka lebih menghargai karya seni serta intellectual property.
Bicara soal musik, kita memang harus bangga. Indonesia punya latar belakang etnik yang begitu beragam dan mewarnai musiknya. Djaduk Ferianto pernah menggelar konser di Jogja yang memadukan gamelan dengan musik rap dan trance dan berkolaborasi dengan musisi-musisi asing. Hasilnya? Two thumbs up. Sejak dekade 1970-an musik kita sudah berkualitas. Ada Koes Plus, Iwan Fals, Vina Panduwinata, Chrisye, KLa, dkk. Dan itu terus berkembang sampai sekarang. Dalam bermusik, kita tidak inferior dibanding dunia luar.
Gita Gutawa punya suara dalam yang khas dan tinggi, dan itu bikin dia punya nilai lebih di dunia musik Indo. Astrid, yang sering dicap Bjork-nya Indonesia, juga punya karakter vokal yang khas. Di genre jazz, Krakatau, Idang Rasidi, Bubi Chen, dkk punya kualitas yang mumpuni dan tak perlu diragukan. The Adams, The Upstairs, Goodnight Electric, punya sound yang boleh dibilang (hampir) sempurna. Kreatifitas mereka hampir tak terbatas dan memang komunitas indie sedang di atas angin.
Maliq & d’Essentials, Nidji, dan Superman is Dead punya potensi untuk bisa sukses di pasaran luar. Saint Loco juga punya accent dan musik yang tak beda dengan orang-orang bule. Judika juga bisa dibilang sebagai jebolan popularity contest yang punya kualitas jempolan. Dan sebagai gudangnya musik dangdut, Indonesia punya banyak potensi yang bisa dijual di pasaran internasional sebagai sparring partner India yang selama ini menguasai dangdut. Sayang belum ada manajemen dan label yang berani melirik ke arah sana.
Memang membahagiakan kalau mata orang luar tahu bahwa orang Indonesia juga jago bermain musik. Namun banyak PR yang tentu musti dikerjakan. Pertama, sebelum bisa menguasai pasar internasional, menguasai pasar domestik is a must. Kedua, band-band Indonesia sangat rentan terhadap konflik antar personilnya yang berujung pada bubar. Lihat Queen atau Motley Crue, biar mereka berantem, personilnya saling respect dan menjaga ketuhan band. Dan yang jadi rahasia umum adalah sering musisi meremehkan/menghina musisi lain — bukannya berkolaborasi untuk kemajuan.
Dan yang terpenting adalah bahwa musisi tak boleh terlalu strict pada idealisme mereka. Karya musik adalah produk yang seharusnya excellent, orisinil, jujur, lugas, dan berani. Namun juga harus pro-pasar dan komersial. Menurut saya, selain sebagai musisi, Linkin Park, Korn, atau Shakira adalah pebisnis. Dhani Ahmad (seperti disebut pada judul di atas) juga pebisnis. Terlepas dari kontroversinya, Dhani bisa membawa Dewa 19 sampai sejauh ini dan mengorbitkan Reza, Pinkan, Maia (Ratu) yang dulunya cuma backing vokal. Dhani juga mengatur Dewi-Dewi, Andra & The Backbone, dan Mulan Kwok.
Kembali lagi ke industri, salah satu elemen yang krusial adalah marketing dan advertising. Musisi-musisi Indonesia sudah banyak yang memiliki kriteria untuk bisa diterima dan sukses di pasar internasional. Kematangan skill, kepiawaian meramu lirik dan musik, penampilan dan performance, orisinalitas, sampai soal penguasaan bahasa. Agaknya perlu dicoba untuk misalkan memasukkan musisi kita sebagai pengisi soundtrack film-film Hollywood. Modali saja mereka. Sekali berhasil, masyarakat internasional akan susah berpaling. Mungkin sulit (baca: mahal), namun potensial untuk jadi bisnis entertainment yang sangat menguntungkan.
Ada yang berani memulai?



Comments
June 22nd, 2007 at 11:20 pm
Wah, kirain bicaraain ahmad dhani. Rupanya lagi bicarain music toh. Wah, kalau ada Perusahaan Rekaman yang bikin situs penjualan MP3 online, pengen juga neih jadi referalnya hehehe
June 22nd, 2007 at 11:35 pm
penjualan lesu bukannya label ga mengantisipasi….
beberapa cthnya: skrg royalti dari RBT lebih diincer dibanding ama royalti tradisional dari penjualan kaset dan cd..ky si tel**** yg dl perang lawan KCI masalah hak royalti dari sistem RBT.
trus sekarang polanya udh mulai ke ngeluarin single lebih dulu..walaupun kl yg ini msh jarang banget. Jadi kl single laku baru keluarin album…
Kalo masalah penjualan digital kayanya di Indonesia msh jauh kali yah…penghargaannya terhadap karya seni masih kurang, buat apa beli susah2 toh di emper toko ada yang jual cuma 6rb (equinox DMD 1 lagu = 9rb—import 1 lagu = 5rb—-digital beat store 1 lagu = 5 ribu) kalo orang Indonesia kayanya masih lebih milih bajakannya deh :D
Go internasional??jelas bisa…cuma sepertinya celahnya belum ada kali yah?manajemen band Indo harus lebih canggih ngeliat pasar ama kesempatan. Aku yakin bisa kok…lha Rivermaya aj bisa..apalagi band2 Indonesia lain…PASTI BISA :D
June 22nd, 2007 at 11:37 pm
penjualan lesu bukannya label ga mengantisipasi….
beberapa cthnya: skrg royalti dari RBT lebih diincer dibanding ama royalti tradisional dari penjualan kaset dan cd..ky si tel**** yg dl perang lawan KCI masalah hak royalti dari sistem RBT.
trus sekarang polanya udh mulai ke ngeluarin single lebih dulu..walaupun kl yg ini msh jarang banget. Jadi kl single laku baru keluarin album..
Kalo masalah penjualan digital kayanya di Indonesia msh jauh kali yah…penghargaannya terhadap karya seni masih kurang, buat apa beli susah2 toh di emper toko ada yang jual cuma 6rb (equinox DMD 1 lagu = 9rb—import 1 lagu = 5rb—-digital beat store 1 lagu = 5 ribu) kalo orang Indonesia kayanya masih lebih milih bajakannya deh :D
Go internasional??jelas bisa…cuma sepertinya celahnya belum ada kali yah?manajemen band Indo harus lebih canggih ngeliat pasar ama kesempatan. Aku yakin bisa kok…lha Rivermaya aj bisa..apalagi band2 Indonesia lain…PASTI BISA :D
June 23rd, 2007 at 5:33 am
Ahmad dani udah bisa dibilang legend belum ya, dikancah musik lokal?
June 23rd, 2007 at 11:15 am
Jangan lupa.. Indonesia juga macan festival, sebut saja Harvey Malaiholo, Edo Kondologit dan Elfa Secioria Choir yg kerap mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional :)
June 23rd, 2007 at 3:16 pm
Tambahan informasi. Dewa & Nidji sudah go International. Mereka punya 2 album, yg versi Indonesia dan yang versi English. Sebut saja HEROES, album soundtracknya ada lagu Nidji, Heaven.
tautan di nidjiholic
June 23rd, 2007 at 5:29 pm
abe
Yup, saya tahu dan sudah disinggung sedikit di atas. Mudah-mudahan tak hanya album ini saja, tapi juga menyusul album-album selanjutnya.
June 24th, 2007 at 8:58 am
maju terus mucik indonesia,,tak tunggu kabarnya go international
June 24th, 2007 at 10:08 am
Satu hal, mas… hasil rekaman kita umumnya tipis. Dibandingkan dengan hasil rekaman di Malaysia pun kalah jauh. Ini yang menjadi salah satu handycap untuk go internasional.
Saya jadi inget Eet Syachranie dengan Edane mengajukan master album ke Amrik, di sana malah disuruh bikin master dulu. Lha, itu yang diajukan udah master kok :D
Salah persepsi, master Indonesia punya sound tipis, jadi dikira demo tape hehehe
June 24th, 2007 at 3:55 pm
Karya musik memang harus pro-pasar. Tapi saya kira boleh saja musisi strict pada idealisme mereka. Manajernya yang mesti jeli menemukan konsumen yg cocok di sudut-sudut dunia yg beragam ini. Saya percaya di masa sekarang teknologi informasi memungkinkannya.
…ngomong-ngomong, musisi kita mau percaya sama manajer profesional, nggak, ya? Atau lebih senang menunjuk ibu, saudara, atau suami sebagai manajer?
June 24th, 2007 at 11:10 pm
Masalahnya artis kita kalau menciptakan lagu berbahasa Inggris sepertinya agak agak maksa liriknya..sehingga lagunya rasanya kedengarannya agak nggak seenak jika memakai bahasa Ibu, bahasa Indonesia. Jadi repot kalau mau Go International…Ngomong ngomong Dani memang tidak pintar mengorbitkan Dewi Dewi, tapi sekalian men TTM kan personilnya..he he ..kabuurrr
June 25th, 2007 at 5:34 pm
Nidji dan PAdi sudah memulai dengan mengisi soundtrack.
Padi di Worldcup 2002 lalu, sedang Nidji di OST serial Heroes.
June 26th, 2007 at 8:27 am
kaya’nya penjualan musik lewat internet udah ada di indonesia, cuma gak tau laku apa enggaknya, karena setereotip (eh apa sterotip?) orang ’sini’ bahwa nge download harus gratis :)
June 27th, 2007 at 6:14 am
sebenernya mas nofie, musisi dan artis itu lebih banyak dapat pemasukan income dari pertunjukan panggung mereka, bukan dari album mereka. hanya artis2 dan musisi tertentu, yang notabene penjualannya sampe sejuta kopi, yang bisa menikmati royalti yang besar, atau level rendahnya lagi, lumayan..
kalo saya pikir-pikir, tanpa pembajakan, nama mereka gak bakalan segedhe dan seluas itu dikenal orang..
June 27th, 2007 at 5:33 pm
Kreatip… itulah kata dari saya yang TEPAT untuk Ahmad Dhani, salute…..
Mari majukan MUSIK Indonesia…. Ayoo Eross buktikan JAGOSTU mu ;)
June 29th, 2007 at 12:13 am
“Dan yang jadi rahasia umum adalah sering musisi meremehkan/menghina musisi lain — bukannya berkolaborasi untuk kemajuan.”
Itu soal Ka***n Band, yang bikin saya penasaran, sampe liat di youtube. Ini komentar temen2 saya:
- ini band buat nakut2in orang yak?
- bagusan rekaman karaoke anak2 (maksudnya temen2 sesama rantauan yg suka karaoke rame2)
- itu suara vokalisnya… ampun deh… mana nada2 falsnya banyak banget.
Entah apa pendapat Mas Nofie. Kalau saya sih ogah liat/denger band ini lagi, kecuali kalo pengen nyari marah.
Menurut saya, umumnya musik Indonesia lemah di mixing (?) Maaf saya ngga tau istilahnya apa. Tapi coba bandingkan lagu2 hits-nya Indonesia dg lagu2 hits pemusik barat atau jepang (soalnya ini sering saya denger juga, yg laen saya kurang tau). Kekayaan nuansa, musik latar, aransemen, harmonisasi, instrumen2 yang dipakai, dsb… beda banget. Mungkin ini yg dimaksud oleh sdr Hedi dg “sound tipis”? cmiiw.
Saya sering membandingkan… dan memang musik kita umumnya “sepi dan sederhana”. Tidak semua tentunya, ada juga yg bagus. Cukup banyak musik Indonesia yg saya suka, tapi kok ya cepet bosen.. mungkin krn kurang “rich”?
June 30th, 2007 at 5:10 pm
@ ade :
hehe.. kebetulan punya temen yang tukang mixing lagu orang..
banyak operator recording dan operator mixing handal.
tapi sekali lagi, kepentok sama yang namanya “industri”..
July 1st, 2007 at 2:11 am
Tanpa bermaksud mengecilkan musisi lain.Menurut saya ada 2 pencipta lagu yg jenius di indo yaitu dhani dan melly.Kalau gitaris yaitu andra,eross dan lukman plus anto hud ( Tapi menurut saya memang andra yg terbukti sampai sekarang lebih menonjol karena pengisian suara gitarnya punya nuansa dan imajinasi yg mendekati tema lagu ) Yang mungkin yang membuat dhani berpikir panjang apabila memecat andra.
Kalau tentang pembajakan …lha inikan salah satu sarana promosi juga.Memang setahu saya untungnya musisi dapat diambil dari banyaknya konser.
Kalau tentang kwalitas recording yg ada tergantung dari 2 faktor.Pertama musik equipmentnya kalau yg bagus emang mahal banget dan SDMnya atau sound engineernya atau operator( Yg saya tahu yg bagus baru indra q dan orang 2 di belakang management kerajaan cinta ).
Generally….Kita bisa bangga sama musisi dan musik di Indonesia tidak kalah dengan luar negeri….
Tapi buat kita yg awam ini paling paling hanya bisa buat home recording saja…dan buat kesenangan pribadi saja.
Seperti kata ( tidak ) bijak bicara :
Semua orang PASTI bisa bernyanyi
Tapi TIDAK semua orang mau mendengarkan :-)
July 1st, 2007 at 8:15 am
wah kebetulan sekali, podcast kami membahas tentang anne marie + interview.. bisa didownload di http://www.deadmediafm.org thanks
July 3rd, 2007 at 1:49 pm
music yang paling indah adalah lantunan Al-Quran
July 8th, 2007 at 11:01 am
Lia Avriani
Al-Ouran adalah tuntunan hidup manusia agar kita selalu berada di jalan yang benar.
July 21st, 2007 at 4:51 pm
he he aku pikir lagi ngomongin maenan ahmad dani, judulnye ora nyambung toh mas
July 27th, 2007 at 2:05 pm
Dewa-Dewinya cuma secuil… lagi nyoba SEO buat jadi #1 di google untuk kata kunci Dewa-Dewi ya mas nofie…
August 3rd, 2007 at 9:22 am
Kira’in bicara’in Dewi2, eh ternyata bicara’in musik indonesia…. Kasih judul yang bener donk!!! tapi q jadi pingin kasih komentar buat Dhani, jadi orang kok otoriter bgt……!!!!!!!!!
August 11th, 2007 at 4:03 am
Ahmad Dhani pinter juga ya..
August 11th, 2007 at 9:00 am
Kita punya promotor musik yang spertinya sudah sangat dipercaya musisi2 luar.
Terbukti dia udah sering berhasil ngedatengin musisi luar ke Indonesia.
Maksud saya, Adrie Subono dengan Java Musikindo-nya.
Kenapa ya dia g coba promosiin band2 Indonesia di luar??
Atau mungkin sudah tapi saya gak tau ya?
Menurut saya yang miskin pengetahuan tentang industri musik ini,
mungkin mas adrie adalah salah satu orang yang mampu
ngangkat musik kita di luar negeri.
August 20th, 2007 at 9:21 pm
gw juga kurang suka ama band2 yang mengejek band lain. kayak dia aja yang paling hebat.
-IT-
August 24th, 2007 at 4:44 pm
mau dunkz lagu2x dewi-dewi,,,
September 28th, 2007 at 8:02 am
sekedar informasi…
banyak musisi indo yg bagus dan memasarkan produknya lewat internet, mungkin teman2 disini blm pada denger krn band2 ini jarang sekali ada di tv tapi mrk banyak yg sudah bisa tur di luar negri (dalam arti tur sebenarnya dan ditonton oleh bule2 disana bukan tur bermain di kedutaan indonesia yg ditontonnya oleh org2 indo lg lho ya )
bbrp ada yg free download jg, coba aja masuk
http://www.deathrockstar.info
thanx…
October 10th, 2007 at 3:34 pm
Yo..
Sherina itu ngga duet sama Westlife.
Lebih tepatnya, nimbrung nyanyi setelah rekaman jadi, dengan videoklip yang diselip-selipin potongan sana-sini ‘yang ada sherina dan westlifenya’
Itu penghinaan! Sherine deserves much better than that!!!!!!
Lagi, sayangnya itu ngga berarti recognizition terhadap kualitas musik lokal. Lebih, ke potensi pasar, karena cuma orang Asia aja kali yang masih doyan boyband-boybandan.
Kita liat yang setali tiga uang, lebih baru dikit, Same-Same.
Mereka pake musisi lokal buat diajakin duet, termasuk di Indo, dan itu memang tiap negara target ditunjuk satu.
Yang lain, sontrek Spiderman, /rif - Dunia, sebenarnya hanya nongol di sontrek versi lokal…
Ato lagunya Fariz Rm yang jadi sontrek FF The Spirit Within versi Indonesia (doang)
Ato Kris Dayanti yang ngisi sontrek di animasi Disney.. er.. opo yo.. aku lali… Pokoke iku wis.
Musik kita emang keren, tapi bukan yang di jalur utama yang pantas dibanggakan…
Mana bisa Matta band or Kangen Band diekspor keluar..
Peterpan tampil di Korea aja banyak yang bilang itu aib…
Mocca, Naif , The Sova, etc memang bukan top seller, tapi mereka harusnya diorbitkan ke luar…
Ahmad Dhani udah diem aja di situ, ngomong aja masih belepotan.
Your attitude will kill you sometime!!
Merdeka!
October 27th, 2007 at 4:24 pm
coba pikir knapa music indonesia ga bisa nimbrung ke amrika?
menurut saya itu semua karena,musik indonesia makin hari makin ga berkualitas,pikir coba masa KANGEN,MATTA,VAGETOZ,RADJA,ST12 dan masih banyak lagi…music ancur kayak gitu malah banyak yang beli, masak mereka cowo malahan musicnya DESO dan cemen…apa skrang warga indo udah ga bisa ngebedain mana musik yg bagus…makin hari musik yang berkualitas udah ga dibutuhin ato disenengin lagi..alias selera music indonesia semakin anjlok!!!!…baru bisa bikin musik kayak gitu j dah bangga…harusnya mereka tuh belajar yg giat dulu baru ngejual lagu…musik luar negeri itu bisa mendunia,karena setiap pemusik disana punya kecerdasan,potensi,dan kreativitas…mereka sampai skrng masih mencari refrensi untuk pengembangan musik mereka…MAKANYA !!!!untuk band-band KACANGAN yg disebutkan diatas…belajarlah dulu baru ngejual…jangan kepedean…apa kalian ga malu klo musik kalian itu bisa membuat nama indonesia jadi ancur…saya benar-benar malu sama band kalian,mendengarkan lagu kalian bikin saya malu abees…teman-teman bule saya juga bilang musik kalian itu musik yang KACANGAN…1 meter jalan kaki saja udah banyak anak band yg lebih bagus dari kalian…harusnya kalian malu sama mereka….
November 22nd, 2007 at 2:56 pm
kok judulnya gak sama dengan isinya bos? tapi gpp toh isinya asik juga.
buat saputra jangan emosional yach, kalo kacangan yang kayak ente bilang aja laku kenapa mesti bikin yang dagingan hahahahh… kau pikirlah…
budayakan suka ya lihat gak suka buang aja, hahahahhaahh ups.
freedom for all
-salome-
March 5th, 2008 at 2:14 pm
Ga bisa kita tampik bahwa penjualan lagu secara konvensional; baik dari kaset ataupun CD sudah ga laku lagi di Indonesia, bahkan gw berani prediksi kalo sekitar tahun 2010 Indonesia Sehat (apa sih… ga nyambung bgt). bahkan gw berani prediksi sekitar tahun 2010 Indonesia Sehat, ehh… salah lagi. maksud gw tahun 2010, industri musik hanya akan mengandalkan benefit only from RBT atawa konser adja Bro…
skr Lu bisa liat adja, dengan uang Rp.10.000 lu bisa punya MP3 dengan +- album artis lokal atawa import.