Orang-orang Terkaya Indonesia dan Masa Depan Kita

July 12th, 2007 | Investment

Siapa saja sih orang-orang terkaya di negeri ini? Dari angkatan lama ada Sukanto Tanoto, Putera Sampoerna, Eka Tjipta Widjaja, Rachman Halim, Robert Budi Hartono, dan Liem Sioe Liong yang selalu jadi langganan Forbes. Ada juga pengusaha lokal seperti Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro dan yang baru seperti Eddie William Katuari, Trihatma Haliman, atau Chairul Tanjung.

Ada juga beberapa junior seperti Sandiaga Salahuddin Uno dan Patrick S Walujo yang kelak berpotensi menjadi yang terkaya di Indonesia. Sandi adalah Ketua HIPMI dan mantan credit officer Bank Summa. Tahun 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya mendirikan Saratoga Capital. Mereka mengantongi US$ 1 miliar dan investasinya masuk kemana-mana. Sandi kini juga mengejar proyek Tol Cikampek-Palimanan dan tambang emas Newmont di NTB.

Sedangkan Patrick adalah mantan bankir Goldman Sachs yang kini nahkoda Northstar Pacific. Walau baru 3 tahun, ia sudah mengantongi Alfa Retailindo dan Alfa Mart yang dulu di bawah Sampoerna. Northstar juga memiliki perusahaan LNG dan ladang migas di Sumatera Selatan. Dana yang dikelolanya sekitar US$ 100 juta dan sebagian dari Texas Pacific Group. Mereka juga sedang memburu Garuda Indonesia dan Blok Cepu.

Ada pula Rosan P Roeslani, yang bersama Sandi membangun Recapital Advisors; dan Tom Lembong, yang mengakuisisi BCA lewat Farindo. Recapital mengantongi Bank BTPN dan memenangi tender Dipasena, tambak udang terbesar Asia Tenggara. Sedangkan Tom adalah jebolan Morgan Stanley dan mantan Kadiv Asset Management Investment BPPN yang kini mendirikan Principia (Quvat). Quvat punya US$ 150 juta dan memegang Adaro serta Blitz Megaplex Cinema. Dalam pembelian Adaro; Sandi, Patrick, dan Tom tergabung dalam konsorsium dibantu Edwin dan Teddy; plus Erick Tohir, pemilik Grup Mahaka.

Mahaka sendiri pemegang sahamnya adalah M Lutfi, bekas ketua HIPMI yang jadi Kepala BKPM. Lutfi adalah putra Gunadarma yang sebelumnya adalah menantu Hartarto (Menperin Orde Baru). Bekas istrinya punya sekolah desain, ESMOD, dan istri Lutfi kini adalah Bianca Adinegoro. Ada juga Erick Tohir dan Boy Garibaldi Tohir. Erick sedang menggenjot JakTV bersama Artha Graha Group, sambil memosisikan Republika di 3 besar. Sedang Boy Garibaldi adalah salah satu direktur Adaro. Erick pernah mengatakan bahwa Lutfi dan Wisnu Wardhana tak aktif di Mahaka. Barangkali Wisnu sekarang sibuk mengurus perusahan sekuritas dan pembangunan apartemen di depan BEJ.

Nama lain yang cukup berkibar adalah Hary Tanoesoedibjo dari Bhakti Asset Management dan Global Mediacom. Bhakti pernah sukses membeli Salim Oleochemical dari BPPN. Hary Tanoe pernah mendirikan Indonesia Recovery Company Limited bersama Asia Debt Management. Ia juga dikenal dekat dengan George Soros dan sering dititipi dana investasi para konglomerat papan atas, termasuk Salim. Belakangan Harry dikenal sebagai raja media dengan bendera MNC.

Ada juga rising star grup Axton yang baru memulai bisnis. Pemiliknya konon anak muda berusia 25 tahun yang merangkak dari nol. Mereka mengelola dana investor dengan menerapkan value investing ala Warren Buffett. Sayang saya kurang informasi mengenai mereka. Ada yang bisa menambahkan? Yang jelas, mereka semua adalah anak-anak muda brilian, berlimpah harta, lulusan luar negeri, punya pengalaman segudang, dan closely-related each other.

Bagaimana Mereka Membangun Kekayaan

Keberadaan orang-orang terkaya di sebuah negara penting untuk menggerakkan ekonomi secara agregat dan memberi efek multiplier. Mereka juga bisa menghitamputihkan bangsa, dan bahkan, sampai jadi bahan gosip tak berkesudahan. Mereka jualah yang sebenarnya menggambar cerita masa depan bangsa.

Di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi besar. Tengok Google. Mereka punya kapitalisasi di atas Coca Cola (US$ 137 milyar) dan hanya sedikit di bawah Intel. Jaringan ritel Wal-Mart yang dimulai Sam Walton dari nol, kini kapitalisasi pasarnya hampir US$ 200 milyar. Dan yang fenomenal tentu Microsoft dengan kapitalisasi hampir US$ 300 milyar. Kalau tahun 1991 lalu saham MSFT dihargai cuma US$ 5, kini sudah lebih dari US$ 80 per lembar. Angka ini cuma bisa dilampaui Exxon Mobil yang memang sudah mapan lebih dari seabad dengan kapitalisasi US$ 473 milyar.

Iklim investasi di Amerika memang sudah terbangun sedemikian rupa dan tersedia berbagai insentif bagi (calon) wirausahawan yang bermaksud membangun bisnis baru. Berbagai peraturan dan rule of the game juga jelas ditegakkan dan menjamin kelangsungan usaha mereka. Dan memang bisa dikatakan bahwa cukup banyak orang-orang terkaya di Amerika yang memulai usahanya dari nol karena memang dikondisikan demikian. Berbeda 180 derajat dengan di Indonesia.

Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf) masih rent seeking dan kurang kreatif. Calon orang-orang terkaya masa depan itu berangkat bukan dari bawah. Mereka jago finance, punya linkage dengan funding body di luar negeri — namun tak punya fondasi industri yang kokoh. Mereka “cuma” pinjam uang ke luar, membeli perusahaan yang dihajar krisis moneter 1997, lalu tinggal menuai panen. Mereka membentuk semacam private equity atau hedge fund untuk memenuhi kebutuhan pendanaan. BPPN atau PPA-lah yang jadi mak comblang tender jual-beli ini.

Namun naluri su’udzon saya bilang bahwa mereka juga berinvestasi di politik. Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender biasa dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita juga tahu bahwa petinggi BPPN kebanyakan merupakan keluarga BI. Lucunya, ada salah satu parpol yang juga dekat dengan BPPN dan sering mengadakan hajatan di Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan mengancam siapapun yang mengungkit dana DKP dengan alasan character assasination. Kalau tidak salah, partai tersebut juga yang meloloskan Anwar Nasution sebagai ketua BPK. Anwar adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK adalah lembaga superior satu-satunya yang bisa “mengaudit” kinerja BPPN dan BI.

Nah, pertanyaan su’udzon saya, apakah perusahaan-perusahaan murah tersebut memang dijual kepada bidder terbaik dengan harga tertinggi; atau orang-orang terkaya masa depan Indonesia tersebut mendapatkannya lewat cara lain? Silakan simpulkan sendiri.

Tentang Temasek dan Singapura

Yuk beralih sebentar ke Singapura. Temasek, bagi saya, adalah model bisnis yang sangat bagus. Temasek adalah ramuan antara talenta bisnis, visi strategik, dan kekuatan politik yang rancak. Mereka mengumpulkan aset yang nilai intrinsiknya di bawah nilai pasar, lalu dibeli dan dipoles, sampai harganya membumbung tinggi.

Kendati mengendalikan portofolio senilai lebih dari $80 milyar, sejak ditangani Ho Ching tahun 2002, organisasi Temasek bisa dibilang plain dan simpel. Sangat efisien. Temasek cuma punya tiga senior managing director dan delapan managing director. Mereka inilah yang berburu aset-aset strategis untuk dibeli — terutama di luar negeri. Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang “nampak” kurang sehat dan mengambil dengan proporsi yang sangat besar sehingga memegang kontrol pengambilan keputusan.

Direksi Temasek juga merupakan tokoh terkemuka dari kalangan pemerintahan dan politik, seperti S Dhanabalan, Kua Hong Pak, Koh Boon Hwee dan Kwa Chong Seng, Lim Siong Guan, Sim Kee Boon, yang sangat berpengaruh dan dipercaya oleh pemerintah. Mereka juga menjadi direktur di perusahaan pemerintah lainnya. Di Temasek, seorang direktur diangkat dan diturunkan atas persetujuan Presiden Singapura. Jelas, operasional Temasek sangat terbantu oleh kekuatan politis ini.

Talenta bisnis orang-orang Temasek juga jempolan. Sebutlah Kua Hong Pak, direktur PSA sekaligus orang dekat Lee Hsien Loong; Goh Yew Lim, direktur Direktur CIMB-GK Pte Ltd; dan tak kalah penting, Ho Ching, mantan dirut SingTel, executive director Temasek, dan istri Lee Hsien Loong. Temasek juga punya eksekutif dengan latar belakang mumpuni, misalnya Simon Israel (Sara Lee Corporation/Danone), Manish Kejriwal (McKinsey), Frank Tang (Goldman Sachs), Francis Rozario (Citibank). Wajar kalau Temasek selalu dapat yang terbaik: BII, Danamon, Telkomsel, Indosat, atau Astra.

Sayangnya Temasek tak melakukan assessment terhadap risiko politik yang mungkin dihadapi. Temasek terlalu naif berinvestasi hanya dengan melihat aspek finansial — apalagi masuk di negara berkembang yang sarat dengan gonjang-ganjing politik. Mereka mungkin lupa bahwa jaminan hukum dan iklim bisnis yang kondusif tak selalu ada dan terjaga. Ho Ching juga punya reputasi tukang bikin bangkrut saat membeli produsen harddisk Micropolis sampai nyaris dipecat dari SingTel. Beliau juga membuat blunder terkait dengan pembelian Shin Corp di Thailand baru-baru ini. Ho juga orang yang tertutup, tak bersahabat, dan sulit dimengerti.

Manuver Temasek dan Singapura Sekarang

Temasek kini juga mencengkeram Astra. BusinessWeek menyebut Astra perusahaan terbaik 94 di Asia dan terbaik kedua di Indonesia (setelah Telkom). Lini bisnis Astra juga berkibar di berbagai sektor, sebutlah Astra Agro Lestari, Astra Graphia, Astra CMG Life, Asuransi Astra Buana, Federal International Finance, Astra Credit Company, sampai Bank Permata.

Proses akuisisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak krisis. Tapi puncaknya mungkin tahun 2003 ketika 39,5% saham Astra dijual BPPN ke konsorsium Cycle & Carriage Mauritius yang dimodali DBS. Mereka kemudian terus menambah kepemilikannya di Astra. Sekarang, 50,11% saham Astra dikuasai Temasek lewat Jardine Cycle & Carriage (JCC) — perusahaan yang sebenarnya dulu pernah akan dibeli Astra Otoparts. Dengan pendapatan Rp 55 triliun, Astra jadi mesin uang buat Temasek.

Competitive Countries

Yang paling saya “suka” dari Temasek, ia bisa memasuki bisnis agro, otomotif, alat berat, infrastruktur, telekomunikasi, keuangan dan menguasai pangsa pasar yang disentuhnya. Tapi hebatnya, manuver Temasek begitu rapi, bertahap, dan low-profile. Nyaris tak terdengar. Ironisnya, pelaku pasar kebanyakan kurang “ngeh” dengan manuver Temasek. Repotnya lagi, kita lantas terbuai bahwa kalau perusahaan dikuasai imperium Temasek, dijamin pasti bawa untung.

Sejak 2004 Temasek memang banyak berburu di luar Singapura, dan hampir seluruhnya di sektor jasa keuangan dan telekomunikasi. Investasi terbesarnya antara lain BII, Danamon, Bank of China, Stanchart, dan Shin Corp. Silent expansion ini menyiratkan ambisi Singapura untuk menjadi financial hub di kawasan Asia: menguasai perbankan, mengendalikan telekomunikasi. Ke depannya, sektor apa sih yang bisa lebih “hot” dari dua industri itu?

Dan yang tak boleh diabaikan, ingat kasus transaksi derivatif Indosat? Temasek sampai mendatangkan mantan wakil Menteri Pertahanan Amerika untuk melobi pejabat-pejabat Indonesia. Tangan-tangan Temasek juga menggerayangi wartawan untuk mempengaruhi pemberitaan di media. Beberapa kasus yang membuat nama Temasek negatif seperti ini membuat mereka memasang Myrna Thomas sebagai managing director for corporate affairs untuk menetralisir persepsi orang. Belakangan fungsi kehumasan ini dianggap lebih strategis karena mereka memang banyak berekspansi ke luar negeri.

Nama “temasek” sebenarnya mengacu pada “sea town” atau nama purba Singapura. Lucunya, gara-gara sumpah Mahapatih Gajah Mada, Singapura (Tumasik) dulu pernah berada di bawah kekuasaan Nusantara. Sekarang, terlalu naif membandingkan negeri ini dengan Singapura. Walau cuma sebesar Jakarta, Singapura merupakan negara ke-17 terkaya di dunia. Repotnya, kendati mengeruk duit di Indonesia, Singapura terkenal kurang ramah terhadap negara kita.

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat (Singapura)

Teorinya, membangun negara harus bertumpu pada infrastruktur untuk kemaslahatan umat. Di Amerika, mereka justru pertama-tama membangun rel kereta agar mobilitas rakyat (terutama menengah ke bawah) lancar dan menggerakkan kegiatan perekonomian serta pertumbuhan. Walau dicap kapitalis, mereka sebetulnya sangat berorientasi pada rakyat kecil. Jepang dan Eropa juga demikian. Di Indonesia justru terbalik keadaannya. Kita malah memprogram jalan tol 1000 km dan mengabaikan kereta api. Yang diuntungkan jelas para penggede, bukan rakyat kecil.

Saat sekarang, makroekonomi sudah beranjak pulih. Namun perusahaan-perusahaan bagus milik bangsa ini sudah kadung diambil (mayoritas) oleh Singapura. Sementara pembangunan, seperti tersebut di atas, tak berorientasi ke rakyat kecil. Jadi, lengkaplah sudah kesialan kita. Sementara kita tak sadar malah ber-haha-hihi mengikuti Tukul mengolok-olok diri sendiri.

Lihat ilustrasi berikut.

Di Bawah Ketiak Singapura

Kembali ke orang-orang terkaya tersebut di atas, hubungan Sandi dengan keluarga Soeryadjaya memang sudah sejak lama. Sandi pernah menangani perusahaan Edward (kakak Edwin) di Canada. Sandi dan Edwin pernah membangun situs e-marketing rumah123.com. Boleh jadi Sandi ada di bawah bayang-bayang Edwin. Sedangkan Patrick adalah menantu Teddy Rachmat, mantan petinggi Astra. Rosan P Roeslani adalah teman dekat Sandi. Mereka sangat dekat dengan Astra dan keluarga Soeryadjaya, anak pendiri Astra.

Sementara Astra, kita tahu, sudah dikuasai Temasek. Keluarga orang-orang terkaya lainnya — baik angkatan lama atau angkatan muda — juga dekat dengan lingkaran ini. Pendek kata, pemilik aset-aset strategis negeri ini kalau bukan Singapura ya orang-orang Indonesia yang dekat dengan Singapura.

Jadi, salahkah saya kalau berteori bahwa masa depan negeri ini sebenarnya ada di tangan Singapura?

Mudah-mudahan sedikit coretan ini bisa memotivasi pembaca sekalian — agar tak cuma berpacu mengejar kekayaan, tetapi juga memperjuangkan nation pride. Saya, Anda, siapa pun juga pasti pengen jadi kaya. Masalahnya siapa yang ingin memulai dan siapa yang cuma ingin mengamati, atau ngrasani saja? Jujur saja, saya lebih senang bertransaksi dengan orang kita sendiri; yang jelas-jelas mengembalikan sebagian keuntungannya buat fakir miskin dan anak yatim. Tapi mau gimana lagi?

Ada komentar?

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Bisnis ala Temasek dan Singapura « DTEL NGALAM
  2. Seperti Al Pacino » Nofie Iman
  3. Comments

  4. Anang

    bgmn dengan soeharto..

  5. brian

    Soeharto mungkin sengaja “diabaikan” karena beliau bukan pengusaha, melainkan politisi/birokrat, atau penguasa, lebih tepatnya.

  6. Nanang

    Good Observation and Analysis. The problem with Indonesia, The nation pride is becoming less and less. The current national leader is only good in blaming each other. We need to have someone who can talk and motivate the people of Indonesia to get the nation pride back. If we have that, we could treathen the Singapore back - the only little dot - near Indonesia. Any body dare to ???

  7. trian

    sepakat, bahwa kita butuh nation pride .

    kita butuh banyak dan banyak anak muda yang mampu berpikir masa depan bangsa lebih dari sekedar hidup nyaman, bergaji besar dan punya banyak harta. dan para lulusan sarjana terbaik saat ini pun lebih merasa nyaman untuk bekerja di perusahaan2 asing. *duh, perusahaan ‘bangsa sendiri’ pun sangat sedikit yang kinclong!

    lalu, apakah kita sekarang hanya tinggal diam?? just ngrasani? entahlah, setidaknya semua bisa dimulai dengan apa yang mas nofie sampaikan:
    lebih senang bertransaksi dengan orang kita sendiri

  8. Hedi

    Rasanya, nation pride itu memang dasar masalahnya. Urusan berhubungan/bertransaksi dengan pihak asing justru karena ada kompor dari orang kita sendiri. Orang yang bermental makelar berdasi.

  9. Agam

    Kebanyakan orang2 kaya berasal dari keluarga yang sudah cukup kaya (memiliki pabrik).
    Tapi kalo di Indonesia kenapa ya koq gak ada yang kaya karena tulisannya seperti pengarang harry potter? Andai saja ada, aku ingin jadi orang itu :)
    hehehe..

  10. rd Limosin

    mudah2an jadi salah satuny….

    uhhh kerja lebih keras.

  11. hilman

    Permisi mas…Mau tanya ..Kok nama saya enggak disebut - sebut sih ? he..he…he…Mungkin memang nama saya enggak bakalan masuk forbes sih…

    Seandainya Kalau paradigma perang dunia bergeser dari senjata ke ekonomi
    Apakah berarti negara kita memang sudah hancur ? :-(

    Disisi lain kok tentang NEWBRIDGE enggak disinggung diatas yah ? Apalagi kaitannya sama Astra.

    Btw : Ini posting yang bagus…Setidaknya buat saya yang sangat awam ini…Terimakasih Mas Nofie

  12. martin

    The complete list of the forty richest men in Indonesia is so:

    * Sukanto Tanoto & family
    * Putera Sampoerna & family
    * Eka Tjipta Widjaja & family
    * Rachman Halim & family
    * R. Budi Hartono & family
    * Aburizal Bakrie & family
    * Eddy William Katuari & family
    * Trihatma Haliman
    * Arifin Panigoro
    * Liem Sioe Liong & family
    * Mochtar Riady & family
    * Peter Sondakh
    * Prajogo Pangestu
    * Martua Sitorus
    * Paulus Tumewu
    * Murdaya Poo and Siti Hartati Cakra
    * Husein Djojonegoro & family
    * Chairul Tanjung
    * Hadi Surya
    * Tan Kian
    * Sjamsul Nursalim
    * George and Sjakon Tahija
    * Edwin Soeryadjaya
    * Kartini Muljadi and Dian Paramita Tamzil
    * Harjo Sutanto & family
    * Soegiharto Sosrodjojo
    * Tan Siong Kie
    * Aksa Mahmud
    * Soetjipto Nagaria
    * Ciputra & family
    * Kris Wiluan
    * Sutanto Djuhar & family
    * Husein Sutjiadi
    * Boenjamin Setiawan & family
    * Tomy Winata
    * Jusuf Kalla
    * Soedarpo Sastrosatomo & family
    * Alim Markus & family
    * Jakob Oetama
    * Tjandra Kusuma
    * Nofie Iman ;)

    ada yg namanya disebut diatas?

  13. Agus

    @ Martin
    Saya pengen kalimatnya di ganti jadi “the forty trillions”, & berharap nama saya ada di situ. :-)

  14. Aria Rajasa

    Post yang bagus sekali, membangun bisnis di Indonesia kalau dari 0 itu susahnya bukan main. Mengurus surat-surat yang bisa berbulan2 dan memakan biaya yang banyak tentu akan cukup memberatkan. Belum lagi pasar Indonesia yang cenderung monopoli dan “diatur”

    Sungguh susah sekali bagi pengusaha kecil untuk menjadi besar, kecuali dibeli perusahaan besar lainnya…

  15. Paman Tyo

    Inilah impian saya: jadi kaya tanpa terkenal.
    Kalau kaya, saya bisa berlagak miskin. Kalau miskin, duh susah untuk berlagak kaya sepanjang masa. Lha gimana caranya beli 20 saham PT Nofie Iman Tbk tanpa ketahuan? :D

    Saya setuju, merekalah yang “menggambar Indonesia”. Lantas Indonesia Inc spt yang dicita-citakan Christianto Wibisono dulu bagaimana?

  16. triadi

    hanya menegaskan kalimat terakhir, masa depan Indonesia bukan terletak pada orang terkaya di Indonesia sekarang ato siapa tahu (kita) nanti (karena masa depan kaya gini hanyalah image, citra yang mungkin ga nyentuh kenyataan), dan lagi bahkan warga superkaya dunia dari Indonesia sekarang pun sudah bertebaran, tapi indonesia teetp aja memble…

    justru bagaimana kita yang saat ini (miskin ato kaya) punya sebuah ideologi..bisa memberi kemanfaatan sebesar2nya buat lingkungan sebesar apapun..

  17. yenny

    hi nofie, boleh gak gua translate artikel ini ke english dan taruh di blog gua. gua bakalan nulis penulis aslinya mas nofie kok.

    thanks ya.

  18. Nofie Iman

    yenny
    Silakan saja.

  19. andidaenk

    mungkin inilah yang dimanakan hidup miskin di negeri yang kaya…yang suatu saat membaya kita menjadi budak di negeri sendiri…artikel ini sangat singkat tapi berjuta makna yang tersirat didalamnya…ayooo putra bangsa kita bangkit menciptakan sesuatu yang bermamfaat buat negeri kita…mari kita kembalikan jati diri bangsa kita yang dulu dikenal sebagai “MACAN ASIA”…merdekaaaa..;))

  20. Amir Karimuddin

    Great post, deep analysis. How do you such relationship between those people? You are definitely true Indonesian business insider ;)

  21. Indra

    post yang bagus
    ini sangat menunjang semangat saya untuk juga bisa seperti mereka.
    trims

  22. Kris

    Mas Nofie,.. paparan yang sangat komplit sekali.. Saya sudah pernah baca paparan pembahasan ini seperti di TEMPO dan SWA, tapi tidak sekomplit ini.. salut !

    Saya kagum dengan “kegerakan” Sandi dan Patrick cs,..

    Mas Nofie & Teman2,.. ada yg bisa menjelaskan bagaimana kita bisa belajar ilmu sperti mereka? Tahu kantor mereka ada dimana? Saya cek di internet, minim sekali informasi tentang perusahaan mereka. Mengerti Bisnis model begitu, dengan mendirikan lembaga investasi alternatif dan meraup dana yg berkeliaran begitu besar, sangat baru sekali bagi saya.

    Mohon bimbingan dan petunjuknya,.. bisa via japri (sukatmono@yahoo.com)

    Sekali lagi buat Mas Nofie,.. salut !

    Makasih..

  23. hans

    Ms Iman,
    wah informasinya menarik banget nih,
    btw, rumor mengenai retaknya group albarka -Sandi,Rosan Roslani-bener gak sih Mas ?

    ada kabar lebih lanjut gak Mas , bakal menarik nih kayak yach.
    tks
    hans

  24. Fandy

    Wow..Sekali lagi saya tercegang baca tulisan mas Nofie, dan ini sudah terjadi puluhan, mungkin ratusan kali…Mas, mo calonin diri jadi Menko Ekuin ga? kayaknya kita butuh, sangat butuh bgt orang kayak mas. Ato minimal jd gubernur Jakarta deh…
    selalu yg saya pikirkan, gimana caranya tulisan2 kita yg membangun itu dibaca ama penentu2 kebijakan negeri ini. ato ada langkah2nya ga ya biar pikiran2 dari orang2 yg brillian seperti mas bener2 jd kenyataan..

  25. Gigih Shofa Uzaman "conan"

    dalam pandangan Islam kekayaan yang utama adalah kaya dalam hati, kalau memang kaya secara finansial, apa salahnya kalau kita selalu mencoba memperkaya hati kita dengan kekayaan finansial kita. dengan zakat dan shodaqoh.

  26. Helix

    Ck..ck..ck.. kok bisa data yang diungkap bisa detail (sampai tahu mantan istri M Lutfi segala..), analisanya juga oke punya..4 thumbs up for you, bro!

  27. Adi

    Temasek memang mencengkram indonesia. Dgn lobinya di kalangan anggota DPR dia bisa mengendus informasi politik, hukum dan ekonomi. Dgn saham nya di indosat dan telkomsel penyadapan informasi bisa dan mungkin terjadi. Tapi seharusnya pemerintah indo tidak mengijinkan pembelian aset2 strategis oleh “vehicle company” yg berstatus di virgin island, cayman island yg anehnya sering merupakan “perpanjangan tangan” dari temasek. Hanya ada satu cara melawan dominasi ekonomi asing di negara kita yaitu boikot. Sms, email, milis harus digunakan masyarakat yg sadar dan cinta negeri ini sbg media informasi. Temasek, singapore, yahudi dan israel merupakan mata rantai tak terpisahkan. Seperti rakyat jepang dan korea yg fanatik thd produk dalam negeri, rakyat indo hrs meniru mereka. Bisa apa temasek di jepang? Bisa apa temasek di korea? Bahkan di malaysia, temasek holding kewalahan bersaing dg khazanah nasional milik pemerintah malaysia. Di indo mereka dapat angin krn tidak ada pesaing berarti.

  28. SSDD

    Terlepas dari masalah benar tidaknya uraian, saya salut dengan penjelasan mas Nofie yang runtut dan terstruktur berdasarkan fakta maupun kira-kira. Mudah-mudahan tulisan2 seperti ini bisa memberi pandangan bagi banyak orang untuk lebih melihat situasi Indonesia yang sebenarnya.

    Saya ingin bertanya. Siapa di sini yang yakin Indonesia akan menjadi lebih baik 20 tahun ke depan? Ayo tunjuk tangan… Satu… dua… tiga… Ayo siapa lagi? Hmm, saya sendiri tidak tunjuk tangan. Mengapa? Sebelum melihat 5, 10, 20, atau 50 tahun lagi coba kita lihat dulu deh 5, 10, 20 tahun silam. Pertanyaan saya, apakah Indonesia sekarang lebih baik dari masa itu? Jangan bandingkan bahwa stasiun siaran TV sudah lebih banyak sekarang, mall sudah lebih banyak. Itu tidak memberi apa-apa bagi bangsa Indonesia. Yang saya maksud adalah perkembangan sejati bangsa menyangkut mentalitas, kemajuan berpikir, pendidikan, kemapanan ekonomi sejati (tidak terkapar oleh badai ekonomi).

    Kalau hal-hal mendasar itu belum kita dapatkan dibanding 20 tahun silam, apakah kita masih bermimpi situasi akan berubah drastis 20 tahun ke depan? Apalagi kita tahu bagaimana kualitas pemimpin-pemimpin di negeri ini, apa ada yang bisa melakukan perubahan (perbaikan) radikal. Saya minta seseorang di sini untuk unjuk tangan yang merasa ada suatu perubahan radikal di negeri ini pada saat ini. Jika memang ada, anda boleh berharap 20 tahun ke depan ada perubahan drastis.

    Mungkin ada yang mengatakan, “Emang segampang itu melakukan perubahan.” Itu adalah satu alasan terbaik untuk mengatakan memang kita adalah bangsa pemalas, oportunis, dan konsumtif.

  29. windede

    lho, kok nama saya nggak masuk daftar? hmmm…..

  30. yogi

    kalo gw mah yang penting kaya hati, duit ga di bawa mati.
    barakallah

  31. bimoseptyop

    hmm untuk menumbuhkan national pride melalui pemutaran pilm piln berjiwa nationalisme kaya nagabonar jadi dua gitu.

  32. bangsari

    pusing…. :(

  33. Max

    Mas Nofie,

    Luar biasa analisisnya. Saya ingat Lee Hsien Loong belum lama ini bilang “beware of unknown unknown”. Artinya, saya yakin, Singapore sendiri nggak terlalu yakin dengan masa depannya sendiri. Tambahan lainnya, saya ingat ketika J.Y. Pilay dalam sebuah forum ditanya banyak orang tentang apa sih the next step-nya Singapore? Dia juga nggak bisa jawab. Kayaknya kok terlalu simplistis deh kalo masa depan Indonesia di tangan Singapore. Soalnya, mereka juga nggak terlalu yakin juga kok.

    Singapore, memang maju secara ekonomi maupun lingkungan. Tapi, menurut saya dia banyak masalah dengan social capitalnya. Kalau tiba-tiba ada unknown-unknown yang bikin government failure, saya nggak yakin masyarakatnya se-survive bangsa kita kok.

    Contoh misalnya masalah keamanan.
    Angka crime rate di Singapore emang rendah, Tanjung Priok-nya Singapore relatif aman (HarbourFront). Bandingkan dengan Tanjung Priok atau Marunda. Dulu jaman saya jadi field engineer (8 tahun yg lalu) kalau pulang dari laut mau ke rumah, safety procedure untuk manggil taksi dari Kalijapat atau Marunda nggak boleh lewat dari jam dua siang, karena Blue Bird jam segitu nggak ada yang mau dateng (Nggak tahu sekarang).

    Tapi kenapa industri keamanan swasta di S’pore banyak banget?
    Yang profesional cuma CISCO (dulunya Stat-Board terus di privatisasi dibawah Temasek), selebihnya nggak. Sekarang mereka kewalahan, dan sedang bikin desain untuk standarisasi, etc…etc..

    Maraknya jasa pengamanan swasta terjadi karena ada adagium yang bilang “No crime, it doesn’t mean no crime”. Adagium itu dipahami mulai dari perwira senior kepolisian sampai pramuniaga di toko buku. Artinya, kerja polisi bagus, tapi rasa tidak aman dan curiga di masyarakat nggak bisa hilang, apalagi individualistik di kalangan mereka tinggi. Belum lagi masalah domestic talent vs. foreign talent di S’pore. Saya dengar mid-class juga banyak yang keluar, sedangkan orang luar banyak dateng.

    Jadi, kalo ada “unknown-unknown” dan government nggak jalan, seperti halnya kita diawal krisis … Saya pikir Lee Hsien Loong bener juga kok.

    Government kita ini sekarang bisa dibilang mati suri, maksudnya bikin kebijakan tapi bisa dibilang sulit diimplementasi, padahal teorinya: “implementation is a policy”. Kepercayaan masyarakat juga rendah ke pemerintah, belum ngomong indikator teknis ekonomi atau politik. Sulit menegerti kenapa Indonesia masih ada. Waktu konflik etnik yang parah tahun 1998 - 2000 terus ada separatisme segala, sebagian pengamat bilang, “Wah, kita bisa kayak Yugoslavia..” Tapi, alhamdulillah bangsa ini masih ada kok.

    Saya yakin kok, sejelek-jeleknya kita, social capital kita relatif baik. Saya percaya dengan apa yang diajarkan di PMP (Pendidikan Moral Pancasila) jaman SD dulu, bahwa gotong-royong adalah modal kita sejak dulu.

    Pemerintah kita juga perlahan-lahan membaik, coba lihat survei LSI paling baru tentang pelayanan umum setelah otonomi daerah, kebanyakan orang lumayan happy kok. Atau, coba lihat di Imigrasi Jakarta Selatan deh, bandingin dengan dulu, pelayanan juga makin baik kok. Calo passport makin dikit kok.

    Jadi, mari kita sama-sama saling menjaga optimisme, jangan sampai
    terperangkap dengan rasa minder.

    Well, saudaraku kita bisa bangkit kok…

    Thanks,
    Andre

  34. iHedge

    Seharusnya kita belajar dari Temasek, atau paling nggak Khazanah-nya Malaysia.

  35. oRiDo

    hmmm..
    analisis yg menarik…
    kapan yah endonesia bs berkembang??
    masa’ mo jd negara berkembang mulu?? :(
    kapan jd negara maju??

    salah satu jawabannya adalah bagaimana caranya biar org endonesia bisa memikirkan negara.. bukan hanya dan hanya memikirkan diri sendiri…
    klo masih memikirkan dirisendiri.. ya .. yg kaya makin kaya.. yg miskin semakin melarat..

    endonesia… endonesia ku..

  36. alumni stan

    Kalo hasil googling di internet sih partai yang paling sering menggunakan gedung bidakara dan marah2 krn kasus dana DKP ya PKS. Masyarakat udah pada tahu kok….

  37. Nofie Iman

    Nice try. But, are you sure?

  38. hanin

    kupasannya menarik, menyentak. kalau boleh saya tambahkan, kalau saya tidak salah, ayahnya m lufti itu bukan guna dharma, tapi firdaus wajdi, exponen 66 seangkatan akbar tanjung dan cosmas batubara. teruslah menulis dengan hati, tanpa curiga. semoga dapat mengobarkan semangat kita semua dan menyadarkan kita untuk memberdayakan, mencerdaskan dan memperkaya bangsa bukan malah mempermiskin bangsa. dan semoga dari situ bisa lahir pemimpin-pemimpin bermartabat, sederhana, cinta bangsa dan rakyat. tabik,

  39. Nofie Iman

    Terima kasih atas koreksinya.

  40. djayduth

    u just wow me…
    yet, maybe it’s good if u put ur source of information

  41. Ahmad

    Yup, U make me cry.

    Nggak Jauh, lama2 nasib kita sama negara2 timur tengah (yg sdh dikuasai inggris & USA , sejak dulu kala). Pertanyaan saya, mungkinkah kita akan menjadi spt timur tengah? negara hanya nama tapi esensi kemerdekaannya telah digadaikan.

    Yang bisa jadi akan lahir osama versi Indonesia, jika keadaannya terus berjalan spt yg mas Nofie gambarkan.

    WaALLAHU A’lam Bisshawab

  42. Dino

    Enak ya jadi kaya.
    Kapan ya bisa jadi kaya.
    Ngimpii melulu.. kapan kaya nih kalo ngimpi melulu
    Ayo kerja dino..

  43. svetlana

    Muhammad Lutfi bukan anaknya Gunadarma, Bapaknya Firdaus Wadjdi/eksponen 66. Betul bekas menantunya Hartarto ex- menteri 3x periode orba. Nah Gunadarma itu salah satu anaknya Hartarto.

  44. Michael

    Analisis Yg luar biasa ,Saya SALUT dengan Anda,.
    Anyway.. Pertanyaannya adalah ..

    Apakah Kita semua bisa berbuat sesuatu ? ? IT’S TO LATE for THAT!!

    Bagi Saya , sangat TIDAK MASUK AKAL melihat Petinggi/Politisi/Pejabat berebut Tahta untuk memperkaya diri sendiri , sementara Wabah Pengangguran terjadi dimana mana, Penyakit Kemiskinan menular begitu cepat?.

    Bukankah “MEREKALAH” yg seharusnya mencari solusi agar KITA “KELUAR” dari ” KEMISKINAN GLOBAL BANGSA ” ini?

    WHAT IS WRONG WITH MY COUNTRY ??

    SALAM

  45. edo

    very good hand. nice blog..

    if you dont mind, i want to link your blog to my personal web :)

  46. wP

    Mas Iman, bagus banget neh tulisannya,
    kalo menurut ku yah simple aja yah Nation pride mulainya mungkin dari self pride dulu kali yah ? Semua-nya balik lagi ke diri sendiri..

    Kalo kita bilang kita gak korupsi, tapi kalo ketilang kita bayar polis di tempat ya sama aja, pake alesan ‘ntar sidangnya ribet makan waktu lama bla.. bla ..

    Kalo kita pnya perusahaan pakai Windows ala Mangga Dua juga ya sama saja..
    maaf, walaupun di rumah ya sama saja (Aku lagi proses pindah ke Gratisan tapi susah heheh, makanya lagi betah ngutak-ngatik komputer)

    Masalah kita ya kok kayak lingkaran Setan kalo menurut ku sih, hal yg satu harus dipenuhi oleh hal lain yg bermasalah karena hal yg tadi ((???)), tapi balik lagi semua negara yg dalam proses development ya sama, masalahnya satu, Self Pride dari penghuninya itu ya kurang .. yah semoga yg wes jadi Bapak² di sini ngajar anaknya yg bener gak cuman masalah mengejar Harta aja yg penting Self Pridenya bener ..

    Aku ya cuman berharap dari hal-hal kecil seperti itu, lama-lama bisa bener toh.. yg penting yakin ma dijalanin..

    Just 1 wish semoga bisa nonton Indonesia masuk Piala Dunia gitu loh sebelum ded. Amien.

    Salam Kenal.

    Thx,
    wP

  47. lacosta

    bagus bener mas ……
    salut deh
    kalau dijabarin, bisa dijadiin buku tuh …..
    peace

  48. alumni stan juga

    salut, terstruktur, argumentatif, cukup komprehensif. silahkan di analisis juga yang di indosat.
    karatan yah bangsa ini dah karatan. tapi masih mungkin khan karat itu ilang dan kembali kinclong…
    saya salah satu yang keluar dari birokrasi (karena tidak kuat dan salut buat teman2 yang masih bertahan dan tetap istiqomah… masih banyak yang bener kok di dalam sana…) karena desakan ekonomilah saya keluar. tapi meski tidak arif terpaksa langkah ini saya tempuh..
    terlalu komprehensif korupsi di indonesia khususnya di birokrasi kita.
    perijinan, pelayanan dan tugas utama fungsi birokrasi terabaikan meski sekarang semua itu setelah menjadi sorotan perlahan namun kita rasakan sangat perlahan ada kok perbaikan.

    mas SSDD
    dalam tulisan komentarnya di July 23rd, 2007 at 6:34 pm

    saya termasuk salah satu yang mengacungkan tangan saya… SAYA YAKIN KITA BISA…
    meski mungkin bukan kita yang akan menikmati tapi seperti pak mario teguh bilang di ochannel malam tadi setiap orang harus bangga jika menjadi KINGMAKER ’cause dia lebih hebat dari seorang KING..

    dari mana kita mulai .. BETUL . lewat PENDIDIKAN
    bagaimana caranya lewat KELUARGA…
    bagaimana nge-set KELUARGA.. saat kita memilih PASANGAN kita…
    bagaimana memilih PASANGAN yang baik …
    hanya satu cara … LAKI-LAKI YANG BAIK UNTUK WANITA YANG BAIK..
    so… bener dimulai dari DIRI KITA…

    mas nofie..
    ulas lagi donk article komprehensif njenengan atas yang laen2nya….
    aku tunggu…

    hanya ada sedikit masukan

    saat njenengan nulis ini:
    Namun naluri su’udzon saya bilang bahwa mereka juga berinvestasi di politik. Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender biasa dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita juga tahu bahwa petinggi BPPN kebanyakan merupakan keluarga BI. Lucunya, ada salah satu parpol yang juga dekat dengan BPPN dan sering mengadakan hajatan di Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan mengancam siapapun yang mengungkit dana DKP dengan alasan character assasination. Kalau tidak salah, partai tersebut juga yang meloloskan Anwar Nasution sebagai ketua BPK. Anwar adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK adalah lembaga superior satu-satunya yang bisa “mengaudit” kinerja BPPN dan BI.”

    agak tergelitik juga saya…
    karena yang saya tahu hanya pencalonan pak Abdullah (Gub BI) denger2 memang didukung oleh PKS tapi kalo pak Anwar enggak pernah denger tuh bau2nya.. karena pak khairansyah (yang kasus KPU yang anggota BPK) sendiri malah ditentang oleh pak Anwar.. dan tidak sedikit loh yang kurang sejalan dengan pak Anwar sendiri dalam tubuh BPK (sedikit banyak “banyak sedikitnya dink” saya tahu dalemnya BPK).. mungkin hanya karena rumor yang berkembang bahwasannya beliau tidak cukup bersih swaktu di BI (ini juga perlu pembuktian loh)..

    bener njenengan nggak bilang nama partai … tapi rekan saya karena memang mengarah kesana… moga2 aja bukan yah…

    saya termasuk simpatisan PKS yang cukp mengenal orang2 didalamnya meski sy bukan anggotanya - yang menurut saya hingga detik ini partai ini masih cukup pantas didukung program2nya meski jam terbang mereka masih minim tinimbang senior2nya di partai lainnya…

    ada diit saran .. alangkah baiknya jika njenengan mengemukakan buktinya.. (sekedar agar njenengan lebih kuat nggih… )

    anda hanya tinggal menabahkan sedikit kupasan mendalam mengenai data keuangan perusahaan terkait dan pandangan sosial politik . aku jamin mas Nofie bakalan diundang jadi pembicara… (ingat eep saefulloh fatah…..)

    tapi all of about ur article thats GREAAAT!!!!..
    anda sudah memulainya dimulaidari DIRI SENDIRI…
    tinggal kita2 semua nih KAPAN? yo-ai… NOW…

    ok aku tunggu karya2 temen2 semua.. (smtr aku hrs byk denger dan baca dulu)

  49. Miriya

    Berat ini mah, pertama bukan orang pintar apalagi kaya, jauuhhh…

    Cuma mau salut sama mas Nofie dan orang” yang punya pemikiran semacamnya. Sama mau ikut ngasih komen ( kebetulan saya rakyat jelata) yang pengen negerinya maju, walaupun hanya Tuhan yang tahu kapan.

    Salah satu temen saya orang malaysia (businessman) bilang : ” Gak bisa buat bisnis sama orang indo, mereka ambil untung untuk jangka pendek bukan untuk jangka panjang,mikirin diri sendiri”.
    Ngerasa orang indo, jadi malu saya…

    -peace-

  50. ud

    Gue agak nggak yakin itu bener bener jumlah totalnya- bagaimana dengan yg tidak terhitung dan tidak terlihat atau menggunakan nama lain..?? Mungkin gak guys..plse advice.

    Bisa aja yg urutan ke 60 jadi ke satu atau sebaliknya dengan logika plus hutangnya mereka atau piutang nya mereka…he..he..he..

    semuanya serba kabur guys —-kita gak tau yg sebenarnya..

    Yang harus kita ikutin adalah bagaimana meraka berhasil…

    Gd Luck
    Ad

  51. bintar

    yuk mulai kasih bukti…
    dari yang kecil, dari kita sendiri, dari sekarang juga.;)

  52. Aries

    highly informative, saya sudah belajar finance, usia gak beda jauh sama Sandi & Roslan, tapi gimana caranya ya saya kenal sama orang2 yg punya duit milyaran dollar ? hmm…. mungkin mas nofie iman bisa mengulas cara gimana cara memulai private equity fund dalam skala micro ? lingkungan mana yg harus di ‘tempeli’ dalam hal ini ? :)

  53. reynaldi

    Kalo yang saya baca dari buku2 sih sepertinya orang2 kaya di US, Jepang dsb mau bersusah2 dulu. Lihat aja oom Bill Gates :-), denger2 sih udah main komputer (buat program dan belajar jaringan) berjam2 setiap harinya sejak masih remaja. Sementara kalo disini, paling nggak kalo gw ngeliat temen2 gw kebanyakan omongannya cuma cewe melulu. Trus kalo udah kerja langsung kawin, bukannya membangun lab, mempelajari gimana caranya membuat studio animasi, atau melakukan hal2 semacam itu. Moga2 kita semua bisa sukses seperti yang kita inginkan. Salam…

  54. Ruly

    Ada satu hal yang kontras dari pengalaman saya di Singapura:

    Di Jakarta untuk menyekolahkan anak saya di bangku SD swasta yang cukup bagus, saya harus membayar 12 jt IDR (1,314 USD) untuk uang pangkal dan 800rb IDR (87 USD) per bulan. Karena harus pindah uang pangkal tersebut tidak dapat dikembalikan walaupun baru 6 bulan mengenyam bangku kelas 1. Dengan berat hati saya merelakan uang tersebut terlebih saya berpikir bahwa di sini saya harus membayar lagi uang pangkal. Ternyata saya tidak perlu membayar uang pangkal sepeser pun untuk anak saya bersekolah di sini. Bahkan uang sekolah bulanan saya hanya perlu membayar 14 SGD (9 USD) atau hampir 1/10 kali lipat di banding Jakarta waktu itu. Itu adalah public school atau kalau di Jakarta di sebut Sekolah Negeri. Saya tahu kalau menurut hasil Pilkada Jakarta terakhir Bung Faudzi Bowo menjanjikan Sekolah Negeri di Jakarta akan digratiskan. Tapi sungguh, saya melihat public school di sini memiliki kualitas sama bahkan bisa dibilang lebih dari Sekolah Negeri di Jakarta. Dan karena di atur oleh pemerintah standar kurikulum/pendidikan persis sama untuk seluruh 50+ sekolah. Malah ada kebijakan kalau si anak harus (dan pasti ada bangku kosong) bersekolah dekat dengan tempat tinggalnya. Kalau di Jakarta di sebut satu Rayon. Sehingga tidak perlu khawatir jika harus pindah dari satu area ke area lain.

    Kesimpulan sekolah dasar di Jakarta 10x lebih mahal dari pada di Singapura.

    Saya mengambil contoh untuk perbandingan internet ADSL. Di Jakarta untuk mendapatkan akses 384kbps (saya tidak pernah mengukur apakah kenyataannya bisa mencapai akses secepat ini) harus membayar 1.2jt per bulan (131 USD). Di sini untuk mendapatkan akses 26 kali lebih cepat atau 10 mbps saya hanya membayar 72 SGD per bulan (50 USD).

    Kesimpulan internet akses di Jakarta 3 kali lebih mahal dengan kualitas 26 kali lebih lambat di banding di Singapura.

    Apalagi jika ingin dibandingkan bahwa WIFI seantero Singapura gratis !.

    Perbandingan 2 hal tersebut sebenarnya agak kurang pas karena Singapura adalah tergolong negara maju. Tapi tetaplah pendidikan dan informasi (baca: Internet) adalah investasi yang tak ternilai di kemudian hari untuk mengejar ketertinggalan.

    Juga tidak ada yang salah jika mulai dari CEO sampai seorang pembantu memiliki handphone sama seperti kondisi di sini, namun yang sangat kontras adalah handphone dimiliki sampai lebih dari 2-3 unit, diganti dalam kurun waktu 3-6 bulan. Mungkin karena terikat model kontrak berlangganan, tiap rakyat Singapura menganti handphonenya minimal 2 tahun sekali dan rata2 hanya memiliki 1 unit saja. Tak heran jika dibilang kita adalah pasar para bos2 di silicon valley. Handphone 10jt rupiah laris manis seperti kacang goreng.

    Tapi kalau dihitung dalam segi kreatifitas kita jauh lebih unggul daripada mereka. Di sini hampir tidak ada musisi yang di idolakan. Terbalik dibanding di Indonesia. Hampir tiap 6 bulan ada saja artis/band baru yang bisa mencapai angka penjualan 1jt kopi. Di sini tidak ada acara TV lokal yang bisa sekaliber Tukul dkk. Semuanya adalah foreign creativity. Hanya saja saya sangat khawatir, kreatifitas ini tidak masuk ke area bisnis dan profesionalitas. Rata-rata kreatifitas kita tidak bisa menjadi fondasi industri yang unggul. Malahan lebih ke cara meng-akali. Mengakali pajak, mengakali produk dan layanan sehingga konsumen yang dirugikan.

    Ada benarnya pendirian Sukarno waktu itu.
    ‘Saya akan biarkan kekayaan (dan pasar Indonesia) tidak tergarap, selagi itu saya akan kirim orang-orang terpandai kita belajar setinggi-tingginya. Biarkan nanti setelah bangsa ini sudah mampu baru kita garap’.
    Itu sudah kurang lebih 40+ tahun. Mustinya pada usia kita inilah hal itu musti terwujud.

  55. wong cilik

    hahhh kalo kata saya, mendingan Pak Harto ajah lah…ga usah yang macem-macem,,inget dulu semuanya murah!!! beras murah sembako murah rokok juga murah,,,nah sekarang MAHAL SEMUANYA…buat aku wong cilik beragama islam ga perlu tau korupsi kayak gimana, ntar juga ada balesannya bukan di akherat saja tapi di dunia juga.ga usah neko neko sok bener sekarang kamu kesusahan berfikirlah kesitu… orang bodoh saja yang mau bertindak salah dan sekarang kena akibatnya..rasain luuuu…. sing penting mangan gampang segalane gampang!!! HIDUP PAK HARTO HIDUP !!!

  56. iwan

    wah analisa yang luar biasa. bisa jadi buku atau setidaknya tesis nih.

    kok jadi ribet gini ya bangka kita. bener bung wong cilik bilang. mending pak Harto

  57. calcis

    setau saya, jaman pak harto tu semua murah krn ngutang. Jangan salah kalo semua sekarang mahal, karena utangnya ud harus dibayar.

    -peace-

  58. hamzah67

    Gents / Mom…, I looking funder who has money much to develop people needed with letter quarantined. Thanks

  59. arip

    Grup Axton itu yg punya axton salim bukan?
    Dia anaknya antoni salim kan,
    kalo gitu gak bisa dibilang merangkak dari nol donk yah.

  60. M NAYEF GIBRANI S

    BGMN TKI G TO G KOREA MENJADI KAYA ?SEPERTI ORANG2 KAYA YANG TERTERA NAMANYA DIATAS(HALAL TAPI).

  61. anti PKS dan PSK

    Fraksi PKS menolak mentah2 calon Gubernur BI krn bukan dari internal. Ngak percuma kan mereka investasi di parpol, sekarang sedang menuai hasilnya berupa pembelaan PKS.

    Internal BI takut jika calon eksternal jadi gubernur BI, banyak data korup mereka akan terungkap. Untung sejak krismon mrk sudah membentuk banyak partai, al PKS. Hidup PKS, partai bersih, senyum, dan iman.

    Kasihan ya orang2 yg ngak ngerti ikut2an jadi simpatisan n demo2 dengan asesoris muslim. Ksihan de loe muslim indonesia……

  62. Edward Moshaddeq

    Eh mass, tau nggak? Ibu kota Indonesia mulai Tahun 1998 bukan Jakarta lagi, Tapi… Singapura…………………….

  63. abie

    Terimakasih buat mas Ofie, moga membawa keberkahan atas tulisan2 anda..
    Kalau saja putus asa itu dibolehkan dalam agama islam, mungkin sayalah yang akan ikut menunjuk tangan ikutan putus asa…
    Akar kebobrokan goverment kita itu sudah pada tahap yang sangat memprihatinkan.

    Cobalah semua yang mengaku beragama, pelajarilah agama anda dengan mendalam…kadang kita asik menilai keburukan orang sampai lupa dengan keburukan kita sendiri. Molai dari diri sendiri dan molai dari yang paling kecil..itu kata Aa Gym. saya kira itu bener banget…
    Kalau semua orang sadar dengan kekurangan kita dalam mendalami agama, maka atleast kita akan tergerak melakukan semuanya dengan baik dan sedikit banyak akan memperpanjang umur hidupnya bangsa ini walaupun saya agak pesimis dengan langkah-langkah yang lebih maju

    Buat Mas Ofie saya tunggu,,,ulasan berikutnya
    MAJULAH INDONESIAKU

  64. Arya

    buat yang percaya tuhan,

    the point of life is simply ‘berkarya’ and not for this world (think of it this way, the world greatest trick is the world itself - no matter how hard you try, when you are alone, you’ll never win) hidup kamu paling lama cuma 60 tahun…pertanyaannya hal berguna apa yang bisa kamu buat atau kamu lakukan untuk membantu orang lain?

    60 tahun surely way too short just to think of yourself…share it with others and make ppl smile

    only two things counts :
    1. your generosity
    2. how big you love is for the world

  65. mr.m

    bagimana dengan orang kaya melalui MLM atau Viral marketing yang sedang marak di Indonesia ?? bukankah mereka memeiliki kebebasan waktu dan finansial ?? katanya sih….hehehe yang masih level bawah ya sama aja….

  66. pramafitri

    zaman soeharto semua emang murah tapi semuanya semu! rakyat dikasih makan tapi dibodohin,, pembangunan nation n character building tidak ada akibatnya skrg org ind tdk pny karakter, yang dipikirin makan mulu, mau makan tp ga mau usaha, maunya dapat langsung klo bisa gratis bahkan klo perlu nyolong,, parah..mana bs maju indonesia!!

  67. ricca

    aq pngen kyak om bill gates
    tapi gmn caranya… apa aq musti kuliah di luar negeri dulu….
    sedangkan b inggris q aja pas2an

  68. kopral

    /*lebih senang bertransaksi dengan orang kita sendiri*/
    Orang kita sendiri kadang suka “ngadalin” orang yang “bodoh”, dan suka saling jatuhin, bukan saling membantu.

Looking forward to hear your thoughts.