Seni Mendengarkan dan Didengarkan

August 7th, 2007 | Leadership

Di sebuah sekolah publik di Pennsylvania terdapat papan tulis yang konon dibuat pada tahun 1840. Yang menarik tentu bukan papan tulisnya, melainkan plakat yang tertempel di atasnya. Plakat yang terbuat dari logam tersebut bertuliskan “If wisdom’s ways you would wisely seek, these five things observe with care: of whom you speak, to whom you speak, how, when, and where.

Sewaktu masih kuliah dulu, saya pernah berkonsultasi tentang hal sepele dengan seorang dosen yang juga businessman sukses. Di luar dugaan, beliau mendengarkan “keluhan tidak penting” saya dengan penuh atensi sembari menjaga kontak mata dan body language yang positif — seolah-olah saya orang yang mahapenting di matanya.

Berbeda dengan tipikal dosen lain yang cenderung (maaf) meremehkan mahasiswanya, anomali ini tentu merupakan ketidakbiasaan. Ketika saya tanyakan, beliau menjawab, “Listening is one of the most effective ways of learning what others value. When I listen to you, I learn what you value.” Katanya, ini adalah skill dan attitude yang mutlak dimiliki siapapun agar bisa memahami dan menghargai orang lain pada tingkat yang lebih tinggi.

Mendengarkan (listening) merupakan salah satu skill yang harus dimiliki siapapun — tak cuma pemimpin bisnis atau pejabat pemerintah, tetapi juga kita sendiri. Mendengarkan bukan merupakan solo performance, melainkan circular connection yang saling terkait. I listen, you respond; you listen, I respond.

Seperti kita tahu, komunikasi merupakan proses penyampaian ide antara dua pihak yang berbeda. Agar berjalan dengan efektif, kita tak cuma harus menjaga apa yang kita ucapkan — melainkan juga mendengarkan dengan engagement yang penuh. Dosen saya itu juga berpesan, “When it’s obvious we’re not being heard, it’s time to listen, time to deliver the message differently.”

Dalam dunia bisnis, kemampuan mendengarkan menjadi sangat krusial. Seorang pemimpin (leader) bertanggung jawab terhadap kinerja dan hasil dalam suatu organisasi. Sukses tidaknya leader dipengaruhi oleh sebarapa efektif ia memobilisasi orang-orang di sekitarnya dengan misi, visi, nilai yang diemban organisasi; serta bagaimana orang-orang tersebut mendengar customer dengan baik. Dengan itu kita juga akan mendapatkan feedback positif yang berguna bagi pertumbuhan dan produktivitas.

Mendengarkan orang lain memang penting. Tetapi bagaimana kita mendengarkan hati kita — our inner self — juga tak kalah penting. Semakin tinggi intelektualitas seseorang semakin mudah mengabaikan bisikan hati kita. Makin sering kita mengabaikan, makin mudah kita menjadi seorang yang ignorant.

Kenapa bangsa ini terpuruk dan carut marut tak karuan? Kenapa bangsa ini mulai kehilangan nilai-nilai ketimurannya? Barangkali karena kita terlalu banyak berbicara — bukannya mendengarkan orang-orang di sekeliling kita dan memperhatikan apa-apa yang ada di sekitar kita.

Mungkin inilah saatnya untuk mulai belajar menghargai orang lain. Belajar mendengarkan orang lain.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. Mr. Strategy

    Anda dengan jitu telah mengangkat sebuah topik yang acap dilupakan orang. Cuman sialnya, manusia memang cenderung lebih ingin didengarkan. Dalam sebuah survei terhadap ribuan percakapan telpon, terdapat satu kata yang paling banyak disebut. Kata itu adalah……”saya”.

    Hasil ini mengindikasikan bahwa mayoritas orang ternyata lebih suka menonjolkan “kediriannya” : bahwa “saya” lebih ingin bicara dan didengarkan.

    Saya punya tips praktis: cobalah hari ini juga, Anda seharian mencoba berbicara SESEDIKIT MUNGKIN, dan LEBIH BANYAK MENDENGAR…entah ketemu dengan teman, saudara, pasangan hidup atau siapapun. Dengarkan dengan PENUH EMPATI apa saja celoteh mereka…..dan TAHAN ego dan keinginan Anda untuk BERCELOTEH.

    Praktekkan tips ini dengan sepenuh hati….dan percayalah, Anda akan surprise, betapa hidup akan jauh lebih bermakna jika Anda lebih sedikit BERBICARA…….

    (PS: Sorry….kok gue jadi ngomong kelamaan…..:):)

  2. liana

    yup…bener banget, mendengarkan orang lain bukanlah hal yang mudah, asal tau aja bahwa hampir semua orang memang berorientasi pada diri sendiri, bagaimana citra dirinya di hadapan orang lain, dsb.

    Di negara luar sana, mendengarkan adalah salah satu skill yang harus dikuasai mahasiswa komunikasi. Ilmu tentang “Mendengarkan” tuh merupakan wacana yang selalu dibahas di dalam satu chapter khusus dari buku-buku “kojo” KAP (komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal) keluaran orang luar seperti DeVito, McCroskey, dll. Kalo buat pengarang dalam negeri, gw lom baca ada ‘bab mendengarkan’ di buku2 KAP mereka (kecuali yang memang membahas komunikasi secara keseluruhan). Jadi bener bgt tuh kalo orang2 Indonesia memang belum aware sama wacana yang satu ini.

    Dari survei kecil-kecilan gw terhadap temen2 (se-angkatan, se-jurusan, se-kosan, se-kelas, se-angkot, halah?!) dikit banget yang bener2 bisa nyimak apa yang lagi dibicarakan. Mereka biasanya mudah teralihkan dengan pikiran mereka (yang akhirnya diomongin juga) tentang “kalo pengalaman gw…, kalo menurut gw…., gw juga punya cerita kaya gitu…, kalo gw sih…” yippi, semuanya tentang gw, saya, aku, urang (maklum lagi tinggal di daerah sunda).

    Hmm.. dari sekarang kita memang harus belajar mendengarkan ya…

  3. ahmad simanjuntak

    Sayangnya, orang yang lebih banyak bicara daripada mendengarkan, justru seringkali lebih menonjol di komunitasnya.

  4. Syafrudin

    Ini kan habit ke 5 dari 7 Habits, pedoman pengembangan pribadi yang paling saya andalkan buat diri saya maupun orang di sekitar saya:
    (http://en.wikipedia.org/wiki/The_Seven_Habits_of_Highly_Effective_People)
    * Be Pro-active.
    * Begin with the End In Mind.
    * Put First Things First.
    * Think Win/Win
    * Seek First to Understand, Then to be Understood.
    * Synergize
    * Sharpen the saw
    Ada juga pedomannya di Wikibooks
    (http://en.wikibooks.org/wiki/Seven_Habits_Study_Guide)

  5. rd Limosin

    wah, mulai belajar mendengarkan orang lain…

  6. hanin

    interesting topic, sering dianggap sepele, padahal penting. Wong Allah SWT saja memberi kita dua telinga dan satu mulut.. artinya kan kita harus mendengar lebih banyak daripada berbicara. Percayalah, effective listening (EL) itu powerful. dari yg pernah saya pelajari stepsnya itu mengulang apa yang kita dengar (”yang saya tangkap adalah…..”), memperjelas isi (”mohon anda jelaskan lagi apa yang anda maksud dengan….”), mengakui (”bila apa yang saya artikan benar, maka maksud anda adalah…..”) dan terakhir tawarkan pendapat (”dapatkah saya kemukakan pendapat saya atas pendapat anda bahwa…..”). selain itu eye contact jangan lupa… insya Allah, kalau kita ikuti steps ini ngak ada lagi miscommunication…
    tanya nih, kapan dong ulas soal bisnis ethics. saya tunggu….tks.

  7. jo3

    heheheh keknya gw tipe orang yg susah dngerin orang,
    soalnya gw males klo ada cewe yg curhat k gw.
    menurut gw orang yg curhat itu orang cengeng, tapi gw sadar gw salah
    makasih kk nofieiman

  8. trian

    bahkan konon udah banyak ada training listening skill ya mas??

    padahal mendengrkan kan sepertinya ‘persoalan sepele’, kita dari lahir pasti bisa. cuma setelah berjalan waktu, koq makin hilang.

  9. herdie

    Terkadang menjadi pendengar harus rela menyediakan waktunya untuk sesuatu yg belum tentu cocok dengan hatinya….
    salam kenal aja ya….
    herdie,

  10. Dino

    I need to learn to listen better.
    Cara memulainya gimana?
    Ada saran?

  11. iman brotoseno

    masalah budaya juga khan..terlalu banyak mendengarkan sehingga tidak diberikan kesempatan juga..kayak iklan A mild,..Belun tua belum boleh bicara

  12. laksono

    kalo untuk bos ya mestinya yang belajar mendengarkan, kalo yang kroco-kroco mas ya wes kenyang mendengarkan. bahkan seperti rakyat mungkin sudah eneg mendengarkan janji-janji. malah kesempatan untuk di dengar jarang ada mas.
    intinya kesempatan seng ora ono

  13. Syafrudin

    “Terkadang menjadi pendengar harus rela menyediakan waktunya untuk sesuatu yg belum tentu cocok dengan hatinya….”

    Justru memang di situ intinya.
    Bandingkan antara telinga dan mata.

    Untuk “mata”, biasanya kita bisa meluangkan waktu untuk “melihat” sesuatu, kita mengeksplorasi dan menganalisanya dengan berbagai kerumitan, yang tentu belum tentu sesuai dengan hati kita. Kita bisa karena kita sadar dan kita siap untuk melihat “apa adanya”.

    Seharusnya berlaku hal yang sama untuk “telinga”, kita bisa belajar meluangkan waktu untuk “mendengar”, lalu mengeksplorasi dan menganalisa dengan kesadaran dan kesiapan untuk mendengar “apa adanya”.

  14. anhminh

    Hi every body!
    I want to know about:Richmark international Ltd.Address:Akara building,24 de castro street,Wickhams cay 1,Road Town,Tortola,British Virgin islands.
    Could you help me?
    Could you tell me that?
    Thank you so much.
    BestRegard.

  15. janna

    I am always a good listener. But…bila akhirnya kok timbul soalan. Gi mana sih mahu tutup mulut orang yang amat banyak omongnya? Bingit bangat like nyamuk!

  16. ron

    great input for me :)

  17. hendro

    Salah satu kiat dalam karya klasik Dale Carnegie dalam “How to Win Friends and Influence People” adalah mendengarkan. Lalu Covey memperkuatnya dengan prinsip “seek first to understand before asking to be understood”.

    Mudah dalam teori. Sulit dalam prakteknya. Kita biasanya terlalu bersemangat dengan ide kita sehingga gagal menangkap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Sama dengan pengalaman Nofie Iman, orang yang sampai sekarang masih saya kenang adalah mantan bos saya dulu. Kebetulan bule. Kalau diingat-ingat, mengapa dia sedemikian menarik, itu karena dia pendengar yang baik. Hampir tidak pernah dia memotong pembicaraan. Kalau tidak setuju, biasanya tidak langsung menyanggah, namun melontarkan pertanyaan ingin tahu. (Beda dengan pertanyaan pengacara yang berkesan mematahkan argumen).

    Nice insights.

  18. r32

    it’s simple, kita di beri 2 telinga 1 mulut, yg bisa di maknai kita harus lebih banyak mendengar drpd berbicara (cmiiw)

Looking forward to hear your thoughts.