Mudik Bareng TKI/TKW

October 4th, 2007 | Personal

TKI/TKW di Dubai

Sebentar lagi insya Allah lebaran tiba. Dan lebaran selalu identik dengan mudik. Pulang kampung. Tak melulu mereka yang mencari nafkah di kota pulang ke desa, yang mengais rejeki di Jakarta pulang ke “jawa” atau ke daerah lainnya. Tapi juga mereka para TKI dan TKW yang mengais rejeki di negara lain. Nampaknya tak ada yang absen dari tradisi ini.

Dan bicara soal TKI/TKW, saya pernah punya pengalaman unik dengan mereka. Dalam suatu penerbangan transit dari Dubai menuju Indonesia, saya bersama dengan mereka yang menguasai sekitar 70 persen lebih dari total penumpang. Mereka berasal dari Indramayu, Cianjur, Temanggung, Pati, Wonosari, dan daerah “lapis kedua” lainnya.

Dalam bandara, jujur saja, tingkah mereka boleh dibilang unik. Misalnya ketika melewati pemeriksaan dan boarding, mereka kebingungan saat ditanyai petugas. Ketika dibawa menggunakan bus menuju pesawat, ada yang malah bingung mencari temannya. Saat akan naik pesawat, ada yang nampaknya kelupaan barang bawaannya. Namun entah grogi atau takut untuk menanyai ground crew di situ, ia cuma maju mundur dan celingukan.

Di atas pesawat, mereka juga lucu-lucu. Paling umum adalah salah tempat duduk. Ada yang ngotot ingin sebelahan dengan rekannya. Ada yang heboh memainkan monitor di belakang headrest. Dan tak sampai 15 menit di udara, kemudian tercium bau balsem yang menyengat. Malah pernah ada yang buang hajat di lavatory namun tak di-flush—-mungkin lupa atau tak tahu caranya.

Sepanjang perjalanan pun mereka selalu menghibur dengan rumpian yang cukup keras dalam berbagai bahasa antara betawi, sunda, jawa, madura, dan indonesia. Malah saat flight attendant menawarkan meal atau beverages, ada yang spontan menyahut dengan bahasa sunda. Sementara sebagian yang lain menjawab ala kadarnya ditambah bahasa tarzan sembari menunjuk sana-sini.

Tapi yang membuat saya gemes adalah ketaktahuan mereka tentang aturan keselamatan dalam penerbangan. Misalnya mengeratkan seatbelt, menegakkan tempat duduk, melipat meja, atau mematikan piranti elektronik saat take off maupun landing. Sialnya, salah satu TKW di kanan saya malah menyalakan ponsel saat approaching beberapa detik menjelang landing. Gila.

Yang juga tak kalah gemes dari saya mungkin pramugari yang kerepotan mengingatkan mereka karena buru-buru berdiri dan mengambil overhead baggage padahal pesawat sedang taxiing dan belum docking. Ketika akan keluar pun mereka uyel-uyelan nggak jelas dan bersuara ramai sekali.

Saya memahami keluguan dan ketidaktahuan mereka tentang hal-hal semacam itu. Lebih prihatin lagi karena saya praktis tak bisa berbuat apa-apa buat membantu mereka.

Namun yang membuat saya benar-benar sedih adalah saat sampai di Soekarno-Hatta.

Mereka digiring ke loket imigrasi khusus. Tak lama ada petugas yang mendekati dengan ramah, nampaknya menawarkan “sesuatu” ke mereka. Setelah melalui pemeriksaan paspor, mereka dicegat dan digiring lagi ke loket penukaran uang yang saya lihat rate-nya terlalu tidak masuk akal. Hampir semuanya terjebak di situ.

Tak berhenti di situ, saat hendak mengambil bagasi di carousel, ada porter yang mendekati sembari menawarkan macam-macam. Ada ibu-ibu yang bilang bahwa ia dipaksa untuk diambilkan kopernya dan diantar menggunakan bis dengan ongkos Rp. 800 ribu. Tentu saja kalau koper itu sudah berada di tangan mereka, akan sangat susah untuk mengambil kembali tanpa memberi sejumlah uang.

Pun ketika hendak keluar pemeriksaan terakhir, ada juga oknum petugas yang mencegat dan menginterogasi macam-macam. Mungkin juga dipaksa untuk bayar ini-itu.

Kebetulan waktu itu saya sedang bersama teman yang baru pulang studi dan (sialnya) ketika akan keluar, ada petugas perempuan yang mencegat dan bertanya dengan tidak sopan, “Mau kemana? TKW keluar lewat sana!” Setelah kalah argumentasi, petugas itu langsung ngeloyor entah kemana.

Kata teman saya, ini masih mendingan karena kami tiba sekitar pukul 10 malam. Kalau di siang hari, praktek-praktek semacam itu bisa jauh lebih heboh lagi.

Memang kasihan mereka. Setiap datang masih dipungut Rp 25 ribu. Padahal sebelum berangkat sudah dipungut US$ 15 untuk subsidi. Belum termasuk sekitar Rp 5 juta untuk pengurusan paspor dan administrasi lainnya. Resminya, pengantaran ke daerah seperti Cianjur hanya Rp 185 ribu, namun tak jarang yang apes kehilangan sampai Rp 1 juta. Kalikan saja dengan traffic TKI/TKW yang 500 orang per hari atau 2 ribu orang per hari seperti saat ini.

Padahal sebelum berangkat mereka sudah jor-joran menjual harta benda atau mengijon kiri-kanan. Mereka juga meninggalkan suami/istri dan anak dalam waktu yang sangat lama. Sialnya, biarpun mereka menghasilkan devisa sampai Rp 15 triliun per tahun, keberadaan mereka masih dilihat sebelah mata.

Big question saya adalah apakah benar bahwa di dalam bandara memang ada konspirasi besar yang terorganisir dalam memeras para pahlawan devisa kita? Karena sepanjang pengamatan saya, mereka semua mengenakan seragam dan name tag resmi.

Kalau memang demikian adanya, berarti kita adalah salah satu bangsa yang paling tak beradab di dunia ini.

Di negeri sendiri, kita tak bisa memberi mereka keterampilan yang memadai maupun pekerjaan yang layak. Ketika mereka di seberang sana, kita juga tak melindungi mereka dari pemberi kerja yang semaunya sendiri. Pun ketika mereka kembali ke tanah air, kita sudah siap merampok harta mereka.

Kurang hina apa lagi bangsa ini?

Simpati saya buat rekan-rekan TKI dan TKW semua. Mudah-mudahan mudik kali ini Anda semua dijauhkan dari hal-hal yang demikian.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. Paman Tyo

    Huh, pahlawan devisa apaan? Mereka itu hanyalah sapi perah bagi petugas. Setiap kali diberesi penyakit itu kumat lagi, dan kumat lagi. Tega-teganya mereka itu ya? Siapa pun yang bawa duit dari LN harus bagi-bagi. Duh negeriku, TKW/TKI-ku…

  2. Riza

    Bagusnya memang pemerintah mewajibkan TKW/TKI untuk membawa uang secukupnya waktu pulang. Sisa uang yang banyak di wired aja pake western union atau moneygram..

    tapi jadi inget, pernah pulang juga bareng seorang TKW, ada yang bawa barang 3 kardus besaaaarrr dan beliau ga bawa uang banyak.. sudah jadi barang semua.. Taunya barang di kardus itu untuk dagangan di calon warung beliau.. memang beliau pergi kerja di luar negeri berniat untuk mengubah hidup…

  3. snydez

    bangsa ini emang paling demen mengabuse bangsa sendiri… :(

  4. bimo

    Paling muak pas baca tulisan ’selamat datang para pahlawan devisa’ di Soekarno-Hatta. Maksudnya apa coba???

    Kok kyknya ironis mulu’ ya..dulu profesi guru di-sebut2 ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Coba, liat aja kesejahteraan guru (apalagi dulu)..TKI/TKW di-sebut2 ‘pahlawan devisa’. Liat aja nasib para TKI/TKW kita.

    Susah ya jadi pahlawan di Indonesia?

  5. didi

    lebih seru kalo ngeliat ibu2 kaya pulang belanja dari luar negeri. kepala mendongak, hp ditelinga, dan semua belanjaan ditenteng jadi keliatan plastik bungkusnya dari luar negeri. dan anehnya kelakuannya sama ama tkw/tki. pesawat masih taxiing hp dah dinyalain, mau turun dan naik juga uyel2an. urat norak emang gak bisa ilang hanya dengan meningkatnya penghasilan

  6. Eka Putra

    Untuk ngubah kelakuan tidak beradab oknum kebanyakan itu, mulai dari pendidikan anak2 Indonesia sejak dini.
    Biar 2-3 generasi kedepan Indonesia lebih baik dari sekarang.
    Biarlah kita2 aja yang mengalami hal2 seperti ini.
    Tapi.. dunia pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan.
    Belum lagi serbuan acara televisi busuk.
    Sempurna deh nasib rakyat Indonesia.

  7. didats

    denger2 dari yang udah pengalaman pulang kampung, para petugas bandara memang petugas paling biadab.

    gw gag tau nih nanti pulang gimana. semoga aja barang-barang gag ada yang ke-sita.

  8. Imponk

    kenapa realitas semacam ini tidak pernah dimuat di media sebagai investigasi?

  9. rikija

    sedih bgt dengernya. by nature, mmg hmpr semua org lintas ras/bangsa/negara punya karakter spt ini. tp… ini bukan apology. lidah saya tll lelah untuk mengucapkan sumpahserapah parasit dr yg berseragam sampe yg tidak berseragam (mnrt saya semuanya SAMA). yg bkn terhenyak mungkin… parasit2 ini melakukanny cm (katanya) buat “merayakan” lebaran. alangkah dangkal sekali menilai lebaran dg rupiah.
    mengenai keudikan… yaa… saya jg udik. pengenny sih ngga, tapi… sdkt pemberitahuan (bukan himbauan) ke saya, it will do positive for me.
    salam!

  10. Taufik

    Menurut saya, untuk urusan ketertiban bukan para TKI aja yang begitu. Hampir rata-rata penerbangan yang saya jalani di Indonesia selalu saja terjadi perlombaan untuk keluar sesegera mungkin dari pesawat. Padahal mereka juga pasti bisa keluar kok. Kenapa harus tergesa-gesa begitu ya? Apakah ingin menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang super sibuk?
    Begitu roda pesawat menyentuh landasan hampir rata-rata penumpang langsung dengan spontan menghidupkan ponsel mereka. Apakah ini dianggap keren atau hebat saya juga tidak tahu.
    Mungkin sanksi dari Uni-Eropa ada benarnya juga. Mungkin dari sisi kualifikasi operator penerbangan sudah oke, tapi dari sisi ketertiban penumpang masih acakadut.

  11. ud

    Yang sulit itu Guys yg berbuat tidak baik itu adalah OKNUM petugas ( tidak semua) sementara sesama petugas (ada yang baik) mereka agak sungkan untuk melakukan tindakan, jadi seharusnya memang ada pihak ketiga diluar petugas bandara sebagai perpanjangan pemerintah untuk mengawasi hal tersebut
    Saya cukup mengenal bandara dengan baik - sulit selama jiwa pribadi petugasnya sendiri selalu mencari kesempatan dari sisi orang yg lemah yang tidak mengeti peraturan setempat, sehingga dapat di permainkan atau di jadikan suatu penghasilan

    Sayang di Indonesia selalu tidak sempurna : ada peraturan - petugasnya gak bener, ada yg bener peraturannya lemah atau tidak ada sama sekali, ada petugas dan peraturan orangnya tidak sadar hukum dan tidak punya iman —

    Dimanapun di INDOENSIA ORANG KITATIDAK PERNAH MAU BELAJAR PERATURAN ATAU PUN KEBIJAKAN YANG BERLAKU padahal awal dari melangkah ingin melakukan apapun adalah mengerti peraturan dan hukum…

    Yang mengerti hukum tidak sadar hukum..!!!!

    Semoga semuanya berubah.
    Ud

  12. kompor

    tentang perilaku penumpang pesawat (khususnya wni) —– perlu ada sosialisasi tentang bagaimana etika dan aturan didlm pesawat, kalo tidak salah salah satu kecelakaan pesawat (thn-nya sy lupa) juga disebabkan oleh penggunaan hp saat pswt hendak take off.

    Dan juga perlu ada penjelasan yg tegas kalo pswt bukan kereta api!!. Bagaimana caranya?, mungkin bisa lewat iklan layanan masyrakat dsb. Yg penting diingatkan jauh sebelum mereka naik pswt itu sendiri, sebab kalo sudah dibandara yg diperhatikan hanya urusan masing2 dan hanya dianggap menarik (umumnya yg dianggap menarik adalah diri mereka sendiri, maklum narsis..;))).

    tentang petugas bandara —— hampir semua masalah pelayanan di indo (dan juga diluar sana) adalah masalah frontliners dan bagaimana mengawasi frontliners, selama ‘konsep’ upah yg rendah yg dikedepankan, maka akan trus timbul masalah spt ini, karena itu konsepnya perlu diubah menjadi ‘konsep’ menjaga harga diri/citra bangsa. Nah permasalahannya bagaimana membuat para abdinegara yg menjadi ujung tombak tsb menjadi “bagian utuh dari bangsa Indonesia”". Sebab, kalo ditanya jelas mereka warga indonesia, tapi soal cari makan soal lain katanya. Jadi perlu dicarikan konsep pelatihan yg mampu menanamkan bahwa citra indonesia ada didiri abdinegara, spt kalo kita ke bank atau ke customer service operator seluler. Sebuah tantangan dlm bisnis pelatihan customer service, menurut saya.

    tentang TKI/TKW ——- pendidikan kuncinya, dan Para TKI hanya dilatih utk nyapu,ngepel, bikin teh/kopi dst, tapi mereka (mungkin) tdk dilatih utk naik pesawat, jadi harap maklum :)))
    .

  13. Hedi

    ha…preman berseragam, banyak banget di Indonesia :(
    Btw, selamat mudik mas, semoga selamat.

  14. nyunyu

    pernah ngobrol dgn seorang TKW HK di Sukarno-Hatta, katanya tiap kali pulang kampung dia pasti dimintain uang sekitar 2 juta oleh oknum untuk transportasi ke Wonogiri, daerah asalnya. belum lagi biaya ini itu yang harus diserahkan kepada oknum bandara.
    pernah juga ibu saya melihat TKW yg menangis histeris di bandara karena setelah separuh dari jumlah uang yg dibawanya dipalak oknum, sisanya hilang dicopet orang.
    sedihnya, nggak semuanya tau cara mengirimkan uang ke kampung.

    kapan sukarno-hatta bisa aman, nyaman dan menyenangkan ya??

  15. mimi

    Sepertinya sudah jadi watak orang Indonesia (kebanyakan) bahwa melanggar peraturan adalah wajar bahkan kadang bangga, dan berlaku tertib adalah memalukan.

    Dulu, pertama kali menginjak tanah Spore, yg pertama kali saya lakukan adalah bertengkar dgn sesama orang Indonesia,(ibu2 dan keluarganya yg menurut saya cukup berpendidikan), gara2 mereka nyerobot antrian taxi saya dgn sangat cueknya.

  16. nonik

    jadi kapan bandara soekarno hatta akan aman ???
    trus mereka gak diperboleh kan lewat terminal 2 apa alasan nya ?

  17. dimas m

    memang beberapa birokrat dan kaki tangannya tidak bisa diharapkan lagi vi!! teori x masih harus diterapkan disini, tpi siapa juga yang bisa memberikan sanksi, wong lembaga formal yang monitoringnya aja malah yang perlu mendapatkan sanksi!!

    satu lagi, masalah ini juga sudah sering diekspos di media yang menurut saya cukup banyak pembacanya, tapi kok gak ada tanggapan serius dari pihak yang punya amanah menyelesaikannya!! ck ck ya gini neh kalau pemerintahannya cuma bisa tebar pesona

    -dimas m

  18. abi

    satu kata “NGERI”.

  19. eki

    Semua karena hukum yg tidak pernah diberlakukan dgn benar.
    Putus asa rasanya kalo memikirkan kebobrokan negara ini.

  20. Panji

    Sedih aku baca tulisan ini. Benar kata Wr Supratman puluhan tahun lalu, “Itulah Indonesia…” (Lagu Indoensia Raya.

  21. bangkumahoni

    Naikkan gaji para ‘pejabat yang berwenang’ itu. Biar ga gampang korup dan tarik pungli sana sini. Tentunya dari awal kita pilih pemimpin setingkat menteri yg kredibel dl. Semua dari pemimpin jeh. Lihat aja bung Kapolri yang jago memberantas judi.
    Moga2 ada deh yang peduli..

  22. eki

    Gaji tinggi gak menyelesaikan masalah kalo mentalnya emang bobrok

  23. jo3

    kasian d jajah bangsa sendiri

    menyedihkan emang orang2 indonesia

  24. AL

    repotnya musim mudik, itu udah acara tahunan mas… masuk muri kali tuh..

  25. deni

    ………….luar biasa ……….komplit…..

  26. chiptheo

    ….. negaraku maju dan bersih….. dan pertanyaan yg timbul adalah KAPAN…!!

  27. Luluk

    Sedih ah klo mikirin TKI, katanya pahlawan devisa tapi kok diperlakukan kayak “pendosa yang bisa diporotin”. Tiap di bandara Soekarno Hatta, selalu aja ada omongan usil,”Nih Mbak pasti Sukabumi” dengan kerlingan genit si petugas bandara. Atau,”TKI keluar di sana” dengan muka galak. Amit2…dosa apa sih TKI itu kok sampe kasar banget perlakuan petugas bandara.

  28. M NAYEF GIBRANI S

    PEMERAS PAHLAWAN DEVISA DI JAMIN KEBEBASANNYA BEROPERASI DI BANDARA INTERNASIONAL…MAKA BERTERIMAKASIHLAH PARA PEMERAS PAHLAWAN DEVISA KEPADA PEMIMPIN APAPUN DIDAERAH TERSEBUT,TERUTAMA KEPADA KAPOLRES SETEMPAT TERSEBUT.OKAY(INDONESIA MENANGIS)

  29. ikeow

    nasib jadi jilbaber, kalau mau ke luar negeri lewat Cengkareng ( dan penampilan lusuh ga sempet dandan) pasti disangkain TKW dan dijudesin sama petugas bandara. RESE!

  30. Taufan

    yach, dah jadi rahasia umum, kalo TKW bakal jadi mangsa yg sangat empuk, bayangin aja om gw satpam garuda, kerja 2th beli motor, 4th beli rumah, 6th beli mobil yg lebih gila lagi, gajinya ga pernah di ambil, so duit dari mana itu, kata dia sih dia cuma liatin aja oknum2 yg memeras, tar oknum2 itu setoran ke para satpam

  31. Redaksi indoTKW

    Dear mbak Nofie, saya ambil ini untuk blog indoTKW ya, semoga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan kita di tanah air. Kami akan tetap merefer URL ini dalam publikasinya.
    Terimakasih sebelumnya.

    Salam kenal
    Redaksi IndoTKW
    http://indotkw.blogspot.com

  32. Nofie Iman

    Silakan saja bila ingin dikutip. Oiya, saya ini bukan “mbak”, tapi “pak”. :)

  33. joko kendil

    bangsa kita memang banyak dosanya…..makanya banyak bencana…lengkap sudah

Looking forward to hear your thoughts.