Membeli Kebahagiaan
November 2nd, 2007 | Personal“Money can’t buy you happiness, but it does bring you a more pleasant form of misery.” ~ Spike Milligan
“Money can’t buy you happiness, but it can buy you a yacht big enough to pull up right alongside it.” ~ David Lee Roth
Penelitian yang dilakukan Center for Human Resource Research di Ohio State University baru-baru ini menemukan bahwa orang-orang supercerdas pun tak selalu lebih baik (atau lebih buruk) daripada orang kebanyakan dalam hal pengelolaan keuangan. Orang-orang dengan kecerdasan relatif rendah pun bisa jadi lebih baik dalam hal stay away from financial distress daripada orang-orang supercerdas. Masih ada harapan buat saya. :)
Makin tinggi kecerdasan seseorang memang kecenderungannya meningkatkan pendapatan. Tapi makin tinggi pendapatan seseorang tidak akan mempengaruhi tingkat kekayaan seseorang. (Yang justru berpengaruh adalah seberapa banyak seseorang bisa saving (atau investing) pada tingkat pendapatan berapa pun.) Dari penelitian saya sepintas memang menegaskan bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi financial quotient seseorang.
- Ambisi. Barangkali inilah powerful drive terbesar untuk mendorong kesuksesan keuangan seseorang.
- Energi, willpower, disiplin. Ada perbedaan besar antara “knowing” dan “implementing”, apalagi dengan disiplin yang terarah.
- Emotional stability. Jujur saja, tak banyak orang yang “intelligent” tetapi punya emotional stability yang bagus.
- Ego & overconfidence. Percayalah, nggak sulit untuk menemukan orang yang, “Gue cerdas, gue pasti bener; yang lain pasti salah.”
Hal-hal semacam itu sifatnya kualitatif dan subyektif—-tak mungkin terukur dari tes IQ. Hal-hal seperti procrastination atau impulsive behavior tak bisa dilihat dari uji kecerdasan yang cenderung kuantitatif. Maybe financial intelligence needs to go into the pot, something some people are naturally good at, others need to work harder at, and a few never will be completely competent in.
Saya jadi ingat Pursuit of Happyness.
Film tersebut mengisahkan tentang “pursuit” dan bukan “happiness.” Di situ diceritakan masa-masa sulit Chris Gardner dan anaknya yang harus hidup melarat di San Francisco Bay Area yang notabene merupakan komunitas orang-orang sangat kaya. Kadang sampai harus tinggal di penampungan gereja Glide Memorial atau tidur di toilet BART stop. Chris enam bulan melalui masa probation tanpa gaji di Dean Witter Reynolds (mungkin kurang dikenal, tapi perusahaan inilah yang meluncurkan Discover Card; kemudian merger dengan Morgan Stanley di tahun 1997).
Ketika Thomas Jefferson menyatakan kemerdekaan 13 negara bagian pada 4 Juli 1776, ia tidak menjanjikan kebahagian bagi orang Amerika, melainkan ia menjamin adanya kepastian dan perlindungan untuk mengejar kebahagiaan tersebut. Ini tercantum pada Declaration of Independence paragraf kedua:
We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness. That to secure these rights, Governments are instituted among Men, Deriving their just powers from the consent of the governed.
Jaminan tersebut mengambil ide John Locke yang mengekspresikan konsep tersebut sebagai “life, liberty, and estate (or property)”. Adam Smith juga mengemukakan frase yang agak serupa, yakni “life, liberty, and the pursuit of property”. Ide tersebut didasarkan pada penghargaan bahwa setiap manusia adalah created equally free and independent. Setiap orang, berhak untuk mengejar any lawful business or vocation, selama tidak melanggar persamaan hak sesama sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masing-masing.
Undang-undang Dasar kita juga menyatakan hal yang serupa di pasal 28H (1) dan agak sedikit berbeda di pasal 28A:
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan… Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Jujur saja, saya kurang paham dengan bahasa legal. Namun, sepintas terlihat ada perbedaan mencolok di sini. Di Amerika, jaminan dan perlindungan ada pada kebebasan dalam proses mengejar kebahagiaan. Sementara di kita, jaminan ada di hasil, yaitu kebahagiaan itu sendiri (hidup sejahtera, bertempat tinggal, mendapat lingkungan baik, dan pelayanan kesehatan).
Tentu saja ini kurang baik. Pertama, ketika pemerintah berani memberi jaminan kebahagiaan rakyat, secara tidak langsung rakyat cenderung “malas” untuk mengejar kebahagiaannya sendiri. Kedua, ketika pemerintah gagal memberikan janjinya, rakyat bisa berbuat apa saja demi memperjuangkan “hak”-nya.
Sebagai contoh, rakyat pinggiran lebih suka tinggal di kolong tol. Mereka bukannya tidak mampu, melainkan menikmati privilese sebagai “orang kaya” sekaligus pembenaran terhadap jaminan kebahagiaan rakyat yang dijanjikan pemerintah. Pendapatan mereka bisa jadi jauh melebihi karyawan di segitiga emas Jakarta.
Sergey Brin, the uber-rich Google guys, pernah diwawancara majalah Time, “How does it feel to suddenly be so wealthy?” Jawab dia, “It takes a lot of getting used to. You always hear the phrase: money doesn’t buy you happiness. But I always in the back of my mind figured a lot of money will buy you at least a little bit of happiness.” Brin juga menegaskan, “If we were motivated by money, we would have sold the company a long time ago and ended up on the beach.”
Apapun itu, yang jelas, it is smart to be dumb but wealthy but it is dumb to be smart but not wealthy. :)



November 5th, 2007 at 2:19 pm
November 15th, 2007 at 9:51 am
April 21st, 2008 at 11:05 pm
Comments
November 3rd, 2007 at 2:48 am
Saya punya kawan yang pintar dan masuk golongan berada, tapi dia ngaku tidak bahagia walaupun semua yg kenal bilang sebaliknya. Buat saya, semua orang punya masalahnya masing2, entah kaya atau tidak. Tapi memang orang tak pernah tahu karena dia tak pasang woro2 di dadanya: saya tidak bahagia :D
November 3rd, 2007 at 12:40 pm
saya yakin universalitas dalam sikap hidup manusia masih sama “tidak pernah merasa cukup” tidak akan pernah ada kebahagiaan sedikit ataupun banyak uang yang kita miliki, jika kita tidak punya cinta. :smile: - peace om nofiee………..
November 3rd, 2007 at 7:11 pm
emang nasib tidak ditentukan oleh cerdas & tidaknya seseorang kayaknya. dan kebahagiaan susah diukur dengan harta sebagai alatnya :p
November 4th, 2007 at 4:14 pm
hm, pinternya tergantung yang mana dulu nih, kalo pinter dalam pelajaran kayaknya gak bakal ak pilih nih. Yah, kalo pinter berbisnis dan cari uang (yang halal), nah itu ak mau :))
November 5th, 2007 at 8:47 am
On a cautionary note, attributing *smartness* to just being wealthy is a tricky business. I am sure there are smart people in this world for whom accumulating wealth is not a priority. This may sound absurd to a whole lot of people who are interested in personal finance - but after a few years in grad school, it sounds perfectly normal. ;)
On a more fundamental level, the reason behind the results of the study coming out the way they did, could be our interpretation of the human intelligence as scaled by the conventional IQ tests. As far as my perception goes, such tests are pretty narrow in scope, and probably favor book-smarts over street-smarts, even though people in both categories may be almost equally “intelligent” [sort of .. the difference between Sherlock Holmes and Mycroft Holmes - for those you are familiar with these characters].
November 5th, 2007 at 8:49 am
quotenya kurang satu tuh di atas :)
“Whoever said money can’t buy happiness simply didn’t know where to go shopping.” ~ Bo Derek
November 5th, 2007 at 10:04 am
Jadi teringat quote nya Chris Gardner,
November 5th, 2007 at 10:58 am
Your IQ has really no relationship to your wealth. And being very smart does not protect you from getting into financial difficulty… Intelligence is not a factor for explaining wealth. Those with low intelligence should not believe they are handicapped, and those with high intelligence should not believe they have an advantage.
November 6th, 2007 at 1:41 pm
I agree that money can’t buy a happiness, but I also agree that it’s very hard to be happy without enough money…
November 7th, 2007 at 10:41 am
If you can live by your own passion without ever thinking about money (since you have never had out of money situation), that’s what I call ‘happiness’ :)
November 7th, 2007 at 11:00 am
Sebuah posting yang amat insightful. Elaborasi tentang komparasi antara UUD kita (yang lebih fokus pada HASIL) dengan USA (yang lebih menekankan PROSES mencapai kesejahteraan) sangat inspiratif. Jangan-jangan ini yang membuat sebagian rakyat negeri ini bermental malas — dan hanya bisa menyalahkan negara if something bad happen. Padahal, hanya engkau — you and only YOU, nothing else — who can shape your own future.
Mengharapkan pihak lain — entah negara, anggota parlemen, aktivis yang sok idealis, pengamat ekonomi/politik yang hanya bicara doang, bos perusahaan, atau siapapun — untuk merubah nasib kita menjadi makmur adalah ILUSI. Ibarat Waiting for Godot. Menunggu fatamorgana.
Karena itu, kalau mau rich dan happy, you have to create your own path. With your own energy, spirit, brain, and mind. Jangan PERNAH membiarkan nasib kita ditentukan oleh orang lain. Cause, you — and only YOU — who can define your own destiny !!
November 9th, 2007 at 11:08 am
agree with brian and shape.
November 9th, 2007 at 12:32 pm
nice post, pak :)
Saya mau komentar yg mengenai impulsive behavior saja. Saya setuju sekali dengan apa yang bapak sampaikan di atas…memang tingkat kecerdasan sama sekali tidak mempengaruhi impulsive behavior karena impulsive behavior sendiri lebih dikarenakan sesuatu yg tidak rasional. Makanya, mungkin impulsive behavior itu lebih dilatarbelakangi oleh emotional quotient kaliya…
regards,
neg
November 9th, 2007 at 4:21 pm
nice post!
November 12th, 2007 at 3:56 pm
Kebahagiaan mirip dengan kesuksesan. Sulit diukur. Happiness itself is a journey, not a destination.
November 13th, 2007 at 1:49 pm
Bill Gates mengakui bahwa salah satu kelebihannya adalah mampu bertahan untuk mencermati setiap kata dalam Kontrak Perjanjian dengan mitra bisnisnya. Bahkan, untuk sebuah kontrak perjanjian yang tebalnya hampir sama dengan buku kuning yellow pages. Bahasa legal “bukan” sesuatu yang “tak harus” dipahami.
Pemerintah qq. Negara memang tidak konsisten dalam mensejahterakan bangsa. Di satu sisi “hak hidup layak” namun tak dimbangi dengan “hak mendapatkan pendidikan” namun justru “kewajiban untuk belajar” dengan diturunkan menjadi “wajib belajar”.
terima kasih,
salam dangdut,
Mas Kopdang
November 14th, 2007 at 3:25 pm
Salam kenal semua, aku ikut diskusi di sini, tapi duduk di belakang aja ya ;-) sambil menikmati tehnya…
November 17th, 2007 at 9:24 pm
Saya teringat pada tulisan Richard Koch: “Money not spent can be saved & invested… But happiness not spent today does not lead to happiness tomorrow.” (The 80/20 Principle, p.156).
November 20th, 2007 at 10:59 am
sy suka tulisan anda pak. kebetulan cari info tentang lembaga konsultan keuangan sy membaca tulisan anda. hmm… ternyata cukup bermanfaat:)
November 23rd, 2007 at 8:07 am
Default factory setting kesuksesan manusia sebenarnya sudah selalu ‘ready‘, siap, hybernate di latar belakang (background) kehidupan kita.
Dan untuk melakukannya sebenarnya sangatlah sederhana.
Saking sederhananya bahkan sebenarnya hampir tidak ada yang perlu dilakukan.
Dan, betapapun canggih penjelasan manusia tentang mencapai ‘kemuliaan’ (baca: kesuksesan, kesehatan, kemakmuran, kebahagiaan, dan lain-lain) hal itu hanya akan ‘menjauhkan’ pembacanya dari yang ingin dicapai.Karena semua tulisan, buku, dan kata-kata hanyalah ‘papan petunjuk’ menuju ‘tempat kemuliaan’ itu. Padahal kita semua sudah dan sedang berdiri tepat di atas ‘tempat kemuliaan’ itu.
Yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah ‘kesadaran‘-nya. Yang dalam Bahasa Inggrisnya disebut consciousness atau awareness. Dan dalam Bahasa Arabnya adalah ke-’taqwa‘-an.
(Dari buku “Quantum Ikhlas”, karya Erbe Sentanu, hal xxi - xxii)
Situs yang menarik untuk dikunjungi:
quantumikhlas.com
e-katahati.org
digitalprayer.com
erbesentanu.com
November 26th, 2007 at 11:32 pm
Jadi, sebaiknya gimana? Walaupun kaya tapi cerdas dan bahagia?
Itu cita-cita saya. Kalau pun tidak tercapai, minimal yang terakhir.
Saya juga nonton film yang dibintangi Will Smith dan anak-kecil-yang-saya-tidak-tahu-namanya. Sempat berkaca-kaca juga waktu melihat adegan mereka tidur di toilet stasiun. Satu ungkapan yang menarik dari film itu adalah ‘happyness’ (pakai y, bukan i) selalu dalam posisi dikejar (in pursuit). Kebahagiaan tidak pernah menetap.
Sisi lain dari film yang ingin ditonjolkan sebenarnya adalah sosok bapak ideal yang menyayangi anak lelakinya, meskipun serba tidak punya. Mereka terlihat kompak dan bahagia, walaupun tak punya uang.
Intinya saya kira, meskipun tidak punya uang bikin sengsara, namun jangan sampai kesengsaraan itu membuat kita tidak bahagia. (Bingung, kan?)
December 7th, 2007 at 4:09 pm
Mungkin zakat bisa jadi salah satu action to pursuit happyness. Bagi pemberi zakat, kebahagiaan dapat diperoleh ketika ia berbagi. Bagi penerima zakat, disamping dapat kesempatan untuk merasakan kebahagiaan seperti si pemberi, kemungkinan untuk mencari “kebahagiaan” dengan cara-cara yang tidak benar bisa dikurangi. Lagipula, zakat tidak akan membuat seseorang menjadi miskin kan.
December 18th, 2007 at 12:45 pm
it is smart to be dumb but wealthy but it is dumb to be smart but not wealthy. :)
hahahaa…………….
ketohok nih!
December 23rd, 2007 at 11:44 am
bahagia bisa dibeli dengan iman dan amal sholeh :D karena itu mata uangnya.. :)
December 23rd, 2007 at 4:19 pm
orang yang cerdas adlah orang yang memiliki management yang perprosedural ..sedangkan kebahagiaan hanya dimiliki oleh orang orang yang pandai bersyukur…