Global Warming: Mengkadali Amerika
December 4th, 2007 | News“Climate is an ill-tempered beast, and we are poking it with sticks.”
~ Professor Wally Broecker, Columbia University
Tak bisa dipungkiri, inilah isu sains paling agung abad ini. Tak cuma berkutat soal ilmiah, ia juga bermain di segi ekonomi, sosiologi, geopolitik, sampai gaya hidup. Sayangnya, walau telah dideteksi sejak awal, isu ini baru mendapat coverage luas di tahun 1990-an. Di Inggris, The Times dan Guardian membahas soal ini baru sejak tahun 1989—-tetapi masih berkutat soal perdebatan ilmiah.
Global warming disebabkan karena peningkatan gas rumah kaca—-seperti karbon dioksida—-dalam skala masif di atmosfir sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi. Akibatnya, temperatur global naik 0,6ºC dan permukaan air laut naik 20 cm. Kalau dibiarkan saja, tahun 2100 nanti temperatur global naik antara 1,4ºC hingga 5,8ºC dan permukaan laut bisa bertambah sampai 80 cm.
Kenapa bisa begitu? Bumi, sepanjang yang saya tahu, merupakan kesetimbangan antara energi (panas) yang dipancarkan matahari dan energi yang dilepaskan kembali ke luar angkasa. Secara alamiah, sekitar sepertiga energi dilepaskan kembali, sementara sisanya diserap atmosfir, daratan, dan lautan. Inilah yang membuat bumi menjadi hangat. Tapi, ketika komposisi atmosfer berubah sebagai akibat penambahan karbon dioksida, maka temperatur bumi pun ikut berubah.
Pada tahun 1958 dilakukan pengujian kadar CO2 di pegunungan Manua Loa, Hawaii. Hasilnya kandungan CO2 di atmosfir meningkat jadi 316 ppmv—-dibandingkan 200 ppmv di jaman es dan 280 ppmv di jaman sebelum industrialisasi modern. Belakangan, kadar CO2 sudah meningkat jadi 370 ppmv dan diperkirakan ada penambahan sekitar 160 milyar ton CO2 di atmosfir dalam 100 tahun terakhir.
Oke, cukup. Ini bukan bidang keahlian saya, jadi pembahasan teknisnya dihentikan. Kita bahas saja soal ekonopolitik global warming.
Well, kalau boleh melempar kesalahan, tersangka global warming adalah industrialisasi yang dilakukan negara-negara maju, terutama Amerika Utara dan Eropa. Mereka menyumbang sekitar 22 milyar ton karbon per tahun—-terutama dari konsumsi BBM, industri, dan penebangan hutan. Di antara negara maju, penyumbang emisi terbesar adalah Amerika (36,1%) disusul Rusia (17,4%), Jepang, dan negara Eropa lainnya dalam persentase kurang dari 10%. Bandingkan dengan negara-negara berkembang seperti Asia, Amerika Selatan, dan Afrika yang “cuma” menyumbang sekitar 4 milyar karbon per tahun—-itu pun bukan dari industri, melainkan perubahan penggunaan lahan.
Dus, masalah ekonopolitik muncul karena negara-negara berkembang punya hak dan keinginan untuk meningkatkan standar hidup mereka. Mau tak mau mereka akan mengkonversi hutan, menggalakkan industrialisasi, yang pada akhirnya akan menyumbang emisi lebih banyak ke atmosfir bumi. Sementara di sisi lain, negara-negara maju ngotot menekan agar hal-hal semacam ini ditekan—-seolah-olah seperti melempar tanggung jawab.
Lucunya, walau 186 negara sudah sepakat untuk meratifikasi Protokol Kyoto, Amerika malah mangkir. Padahal Amerika punya reputasi penyumbang emisi terbanyak. Runyamnya lagi, Amerika justru yang paling santer berkoar soal global warming dan menyeru negara-negara berkembang supaya jangan mengeksploitasi hutan mereka. Maklum, hutan di Amerika sudah bablas dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sama saja mematikan perekonomian mereka. Kalau sudah begini, ibaratnya tetangga kita enak-enak memanggang ayam, kita yang kena asapnya. Orang Jawa bilang, “gelem nangkane ora gelem pulute.”
Akan tetapi, sebenarnya situasi ini melahirkan permintaan dan penawaran (baca: peluang bisnis). Andaikata saja kita mau “berbisnis”, pemerintah sebenarnya bisa mengajukan proposal clean development mechanism (CDM) sesuai ratifikasi Protokol Kyoto. Kita tahu bahwa negeri ini punya hutan yang cukup luas. Pemerintah juga telah bekerja keras menekan penebangan liar dan menggalakkan revitalisasi lahan perhutanan.
Menteri Kehutanan dulu pernah berencana menagih insentif dari negara-negara maju sebesar Rp 6 trilyun karena Indonesia tidak menebang 5,5 juta meter kubik hutan per tahun. Nilai itu terhitung konservatif karena cuma menghitung nilai guna (use value) kayu semata, belum termasuk nilai lain yang jauh lebih besar. Tapi sejauh mana kelanjutannya, saya belum tahu.
Kalau mau, pemerintah sebenarnya bisa menegosiasikan pelestarian hutan kita untuk “ditukar” dengan pelunasan hutang luar negeri, atau investasi pembangunan infrastruktur, atau pengiriman pelajar-mahasiswa Indonesia ke luar negeri, atau opsi lainnya yang bisa menguntungkan bangsa ini jangka panjang.
Brazil cukup berhasil menjual “carbon credit” kepada negara-negara industri sebagai kompensasi karena sudah menjaga kawasan hutan Amazon. Hitung-hitungan Protokol Kyoto, uang yang mengalir ke negara-negara seperti Brazil per tahun minimal $150 milyar. Ongkos ini terhitung “murah” karena kerugian atas efek global warming disinyalir mencapai $8 trilyun per tahun.
Mumpung sekarang Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi PBB mengenai perubahan iklim dengan tamu dari sekitar 180 negara, barangkali ini momen yang tepat. Jangan sampai anggaran perhelatan yang mencapai Rp 29 M itu menguap begitu saja tanpa membawa keuntungan buat bangsa ini.
Dilihat dari sudut manapun, negara berkembang seperti kita jelas kalah pintar dengan negara-negara maju seperti Amerika. But plis deh, jangan bego-bego amat gitu loh. :)



Comments
December 5th, 2007 at 3:22 am
pertamakzzz,, betul om jangan bego bego amat plz dechhh hihihihi… akhirnya bisa juga ngomong pertamakzz
December 5th, 2007 at 12:11 pm
menggelitik juga postingan yang lo buat. Gw kadang2 punya kecurigaan begini….
Kalo buat kantong pribadi orang Indonesia pinter2. Kalo buat memajukan negara pura-pura Oon alias bego. Hehehehhe
December 5th, 2007 at 1:18 pm
Indonesia punya kadal juga ya :D
December 5th, 2007 at 2:26 pm
Australia sudah mau meratifikasi, AS sih kayaknya gak bakal meratifikasi deh :-)
Saatnya menggali devisa untuk melestarikan hutan kita, ayo dukung !
December 5th, 2007 at 7:43 pm
Loging (entah ilegal atau tidak, karena yang legal bisa saja ternyata ilegal) turut menyumbang pemanasan global. Dan masih banyak yang tega menyiksa hutan *duh*
December 7th, 2007 at 10:25 am
Hahaha… sip. sip. Waktunya memukul balik Bush dan kroni2nya. :D
December 7th, 2007 at 10:27 am
di bali ini negosiasinya alot. akhirnya indonesia secara sepihak mendeklarasikan REDD (reducing emission from deforestation and degradation), bekerja sama dengan IFCA (indonesia forest climate alliance) yang akan mengurus masalah teknis, riset, dan administratsi. tapi, ujung2nya, ini murni bisnis semata dan dikhawatirkan hanya menjadi mainan baru korporasi besar.
fyuh, ini liputan paling padat yang pernah dijalani reporter mana pun (hanya liputan perang yang bisa menandingi kesibukannya, hehehe).
December 7th, 2007 at 10:29 am
tambahan, REDD, yang semula sifatnya mandatory (ketentuannya diatur oleh UNFCCC), diubah menjadi voluntary (semua ketentuan dilakukan secara bilateral, antara penjual dan pembeli).
December 7th, 2007 at 10:32 am
Tapi sejauh ini, US masih belum mau ikutan cawe2 kan? Dasar gebleg itu orang.
December 10th, 2007 at 8:51 am
Mengkadali amerika?? Siap juragan! :D
December 11th, 2007 at 10:37 pm
Global Warming is the biggest scam to be pulled on the American people in the last 100 years.
December 11th, 2007 at 10:43 pm
GLOBAL WARMING IS THE SAME BULLSHIT FROM THE SAME OLD BULLSHITTERS
Please, its all about tricking you into believing a global tax apparatus will save you from the evil CO2 you exhale…trading carbon tax credits won’t do dick for shit.
Hey global warming tards lets ban dihydrogen oxide, it is used in every chemical factory on earth and emits the most CO2 than any other source on earth……..(it’s H2O)
Global Warming is not your fault, not a problem, and not even an issue. In the 1980’s they taught us in high school there was an imminent ice age and doom was at hand….
GLOBAL WARMING IS THE SAME BULLSHIT from the same BULLSHITTERS
Thanks for the writing, anyway…
December 12th, 2007 at 12:27 am
Some researchers have expressed doubts as to whether it even exists or not. They have neatly sidestepped this by changing the name to ‘climate change’ which definitely is happening, no matter what the cause.
My main worry is that Indonesia will get too hot. I saw a programme on TV that predicted the average summer temp in Indonesia would rise pretty sharply to about 50 degrees. That’s just tooo hot :S
December 12th, 2007 at 12:47 am
The Earth, along with the entire solar system, is warming but human activity plays little, if any part. This is all being driven by an increase in electrical activity in our solar system. The sun along with the rest of the stars in our galaxy form a giant electrical circuit. We’re simply experiencing the effects of an increased inflow of energy into our solar system.The more energy that flows in, the more the activity on the sun increases.
December 12th, 2007 at 8:08 pm
Whether u believe global warming exists or not, you better wake up to the fact that Evil is using it to control YOU and ME. If the people don’t wake up to this and band together in unity, like the America we thought we were, then we are all destined to be their slaves and canon fodder.
December 22nd, 2007 at 8:17 pm
saya setuju dengan pengajuan proposal (cdm) sebagai bentuk kompensasi dari tidak menebang 5.5 juta meter kubik hutan pertahun. Menhut harusnya berani mengambil sikap,selama ini kita selalu di kadalin,diintervensi oleh mereka, saatnya kita mengambil sikap, kita nyatakan pada mereka bahwa suatu saat kita ngga bisa bekerjasama dengan mereka ..saatnya global warming jadi global warning. kalau harus mati bersama silahkan saja. kita akan tetap menebang hutan kita untuk menghidupi anak cucu kita .
December 28th, 2007 at 3:45 pm
tapikan Indonesia penyetor CO2 ketiga terbesar kelangit ??¿¿…
December 31st, 2007 at 12:42 am
Yang jadi masalah adalah eropa dan amerika lebih perhatian dengan segala aktivitas mereka yang memiliki dampak buruk pada lingkungan. Standard kendaraan di eropa dan Amerika sudah diatas Euro 4, lah indonesia masih Euro 2. Ada bus yang sudah standard euro 3 masuk malah ditolak karena harus menggunakan pertamina dex. Produk elektronik kita belum ada yang mendapat sertivikasi RoHS.
Upgrade mesih ke ramah lingkungan = biaya tambahan
Upgrade pengolahan limbah = biaya tambahan
Pengusaha indonesia selalu memiliki pemikiran “Biarkan alam hancur yang penting usaha saya tidak rugi ( Kecil untungnya )”
Pikir dua kali menghujat negara lain dan fikir untuk kemajuan bangsa sendiri.
GBU
January 7th, 2008 at 3:23 pm
Masalah global warming memang sedang maraknya dibahas, bahkan ada yang menyatakan bahwa “global warming is hoax”…
Bila kita pikirkan baik2 dalam satu kali letusan gunung api, jumlah karbon yang dikeluarkan sama dengan akumulasi seluruh karbon dari hasil pembakaran fosil selama bertahun-tahun. Itu menandakan memang dari dulu karbon sudah dilepas sedemikian banyaknya ke bumi ini. Selain itu masalah kenaikan permukaan air laut, ini harus dipikirkan sebabnya, bisa jadi karena faktor astronomi atau geologis, jangan asal bicara karena global warming. Tentunya juga dalam hal kenaikan temperatur rata2 bumi.
Masalah ekonomi-nya sih saya setuju sama pendapat di tulisan ini. Sepertinya tidak adil bila Amerika yang konsumsi energi per individunya mencapai 40x konsumsi energi rata2 per individu negara berkembang menyuruh agar negara2 berkembang menghemat energi dan menjaga lingkungannya.
January 15th, 2008 at 10:47 am
Emang global warming itu masih pro kontra banyak yg gk yakin juga klo itu murni karena CO2.
January 25th, 2008 at 9:50 pm
hla wong buaya kokmau dikadalin…:P
kapitalis mah nyari untung teruuuussss, kaloamerikasampe menandatangani protokol kyoto sama aja membunuh ekonomi negaranya sendiri……..berapa besar kerugian yg akan di tanggung pakdhe Sams itu….naahhh behubung indonesia punya utang ama si pakdhe ini, eknomi disini juga bakalan runyam…
February 13th, 2008 at 4:14 pm
emanz ameRika mempan d kadaLi ?????????
February 15th, 2008 at 10:29 pm
Yang sulit itu mengambil keuntungan dalam segala situasi.
Kalau yakin GW emang beneran bakal terjadi, ya kita siap-siap aja.
Kalau enggak yakin, ya kita tetep aja minta dana buat reboisasi
Mboh piye carane pokoke untung ndisik :P
nek rugi ya rugi dikit lah :D
February 17th, 2008 at 9:35 am
gLobaL waRmiNg di sEbAbKan KaReNa aDanYa KanDuNgaN CO2 yaNg sEmaKin mEniNgKaT…. SaMa KayaK HuTaNg InDonEsia yaNg sEmAkIN HaRi sEmaKin baNyaK aJa…..!!! HahAhaHa
February 17th, 2008 at 9:40 am
KeNapA bArU SeKaraNg waRga IndonEsia sAdAR aKaN gLoBaL waRming???… sEkArAng bArU NyeSeLkaN!!!!!!!!!!! uDaH uJaN becceK Ga aDA OjjeK….
April 16th, 2008 at 5:04 pm
wawa….selamat ya buat indonesia, katanya paru - paru dunia kok malah hutan yang jadi korbannya. ee… sekarang malah anggota yang duduk di senayan malah ikut mendukung adanya warming global,,,bukankah pertemuan di bali tuk bahas masalah ini.kok malah sekarang yang duduk disana mendukung adanya warming global. piye ,,,,iki cak…cak, welwh - welwh….
April 20th, 2008 at 9:06 pm
wele”,mank bnr sih kya gt…. tp y dari qt ny indonsia jg gt, gmn tuh global warming mw ilang….jd y yg mank mw gkad global warming ya dari qt ny aj yg regenerasi indonesia bktiin pda dunia klo indonesia bs maju!!!!ck,,ck,,ck,,