Sepakbola, Duit, dan Masa Depan Kita

December 17th, 2007 | News

FIFA Club World Cup Japan 2007

AC Milan baru saja menundukkan Boca Juniors dalam Kejuaraan Piala Dunia Antarklub dengan skor 4-2—-sekaligus mematahkan dominasi Amerika Selatan selama beberapa tahun belakangan. Inzaghi membuat dua gol untuk Milan, ditambah satu gol masing-masing dari Nesta dan Kaka. Sementara gol Boca lahir dari blunder Ambrossini dan sepakan Palacio. Kaka bermain sangat brilian dan menjadi inspirator Milan. Kaka juga dinobatkan jadi pemain terbaik dan menerima hadiah mobil Toyota.

Kejuaraan Piala Dunia Antarklub (FIFA Club World Cup) awalnya bernama Intercontinental Cup, kemudian berganti menjadi Toyota Cup sejak tahun 1980. Dulunya kejuaraan ini hanya melombakan juara Amerika Selatan melawan juara Eropa. Kini kejuaraan ini menjadi perlombaan klub antar benua, walaupun kenyataannya masih didominasi klub-klub dua benua tersebut.

Menurut saya pribadi, kejuaraan ini lebih kental urusan bisnisnya ketimbang urusan olahraga. Terbukti, kejuaraan ini berhasil mendongkrak pamor Jepang dan khususnya Toyota selama beberapa dekade belakangan. Saya sendiri adalah penggemar sepakbola—-ya sebagai pemain, ya sebagai penonton, dan inginnya suatu saat bisa jadi manajer klub juga. :) Sudah lebih dari lima tahun terakhir ini saya selalu mengikuti kejuaraan ini, namun ada yang berbeda tahun ini.

Perhatikan baik-baik gambar di atas. Di belakang Kaka dan official FIFA, ada perempuan-perempuan berpakaian agak unik yang membantu membawakan medali. Benar. Mereka mengenakan seragam flight attendant dari maskapai Emirates. Ini menarik, karena pada kejuaraan sebelumnya hanya dilakukan oleh perempuan “biasa”.

Anda mungkin sudah tahu bahwa Emirates adalah mitra bisnis resmi pertama turnamen sepakbola tingkat dunia. Tahun 2004 lalu mereka juga membantu Arsenal membangun Emirates Stadium, menggantikan Highbury yang sudah uzur. Mereka juga mensponsori Paris Saint Germain, Hamburger SV, dan terakhir, AC Milan. Logo Fly Emirates ada di kamp pelatihan Milan dan termasuk di San Siro.

Selain Dubai yang sedang “kangslupan” dan membangun gila-gilaan, Emirates adalah maskapai penerbangan yang tak kalah edan. Saat harga minyak dan biaya personil sedang tinggi-tingginya, Emirates bisa meningkatkan trafik dan pendapatannya lebih dari 20% per tahun. Di dunia ini, maskapai yang pertumbuhannya paling cepat dan paling profitable cuma Emirates dan Singapore Airlines.

Emirates berdiri tahun 1985 dengan dua pesawat sewaan Airbus A300 dan Boeing 737-300 dari Pakistan International Airways dan terbang ke Karachi dan Mumbai. Saat itu, pemerintah hanya memberi uang saku $10 juta kepada Maurice Flanagan untuk menjalankan Emirates. Flanagan ini orang Inggris, lulusan Liverpool University, dan sebelumnya bekerja untuk British Overseas Airways Corp. juga Royal Air Force.

Walau ia dekat dengan bos Dubai, Sheikh Mohammed, dan pamannya, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum; jangan disalahartikan bahwa Emirates menikmati keuntungan dari pemerintah setempat. Sebaliknya, saat Flenagan diberi mandat memimpin Emirates, Al Maktoum, waktu itu bilang, “Don’t come back for any more and don’t expect protection against competition or subsidies of any kind.

Orang boleh “mengkambinghitamkan” letak strategis Dubai sebagai kunci sukses Emirates. Namun saya melihat lebih dari itu. Emirates melayani penumpangnya ala Sheikh. Misalnya, mereka menyediakan layar video berisi informasi dan hiburan yang sangat komplit. Layanan ini tak cuma untuk kelas eksekutif tetapi juga utk kelas ekonomi—-jauh hari sebelum maskapai lain melakukan hal serupa. Keunggulan lainnya, Emirates bisa menyiasati pajak yang rendah serta menjaga biaya personil dan fixed costs lainnya tetap minimum. Emirates juga fokus pada rute internasional sehingga tak bersaing head-to-head dengan low-cost-carrier yang suka banting harga.

Sekarang, Emirates sudah memberi dividen kepada pemerintah Dubai lebih dari $100 juta per tahun. Isi perut Emirates juga diklaim jauh lebih bagus dari pemain besar lain seperti Air France dan British Airways. Emirates sekarang juga sedang memesan 55 unit Airbus A380 yang tiap unitnya bernilai $250 juta. Kemajuan ini tentu ini bisa jadi pelajaran bagus buat maskapai milik pemerintah kita dalam mengelola bisnis penerbangan yang menguntungkan.

Kabarnya, Emirates juga akan berekspansi ke Indonesia. Mereka berencana membangun resort di Nusa Tenggara dan membangun bandara internasional di sana. Emirates sesumbar mereka bisa memasok satu juta turis per tahun dari Timur Tengah. Selain Emirates, Etisalat konon juga akan mengakuisisi 16% saham PT Excelcomindo Pratama Tbk yang dimiliki Grup Rajawali (Peter Sondakh). Tak dapat dipungkiri, Dubai memang sedang kelebihan dana kas yang siap diinvestasikan sebagai akibat naiknya harga minyak.

Pertanyaannya sekarang, bisakah pemerintah kita berusaha memanfaatkannya untuk kesejahteraan dan kemajuan rakyat? Atau hanya mengulang cerita seperti yang sudah-sudah: cuma bisa bengong tanpa tahu situasi dan mengoptimalkan peluang yang ada?

Dan kalau dulu saya bilang masa depan bangsa ini ada di tangan Singapura, maka saat ini mungkin perlu saya revisi bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan Singapura dan para emir dengan petrodollarnya.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Toyota » Sepakbola, Duit, dan Masa Depan Kita
  2. Sepakbola, Duit, dan Masa Depan Kita | BOLANOVA.COM
  3. Comments

  4. Dino

    Aku gak suka sama Kaka (maklum penggemar ManU hehe..).
    ManU hari ini menang nglawan Liverpool.. hore!!!

  5. snydez

    Pertanyaannya sekarang, bisakah pemerintah kita berusaha memanfaatkannya untuk kesejahteraan dan kemajuan rakyat? Atau hanya mengulang cerita seperti yang sudah-sudah: cuma bisa bengong tanpa tahu situasi dan mengoptimalkan peluang yang ada?

    terlalu berlebihan kaya’nya ..
    ‘yang ada’ sekarang aja dipakai untuk kesejahteraan para pejabat :P

  6. trian

    kalau untuk urusan bangsa terlalu komplek, ada usul buat sepakbola kita yang mas?
    *mau jadi manajer katanya :p

    Institusi timur tengah juga tengah gencarnya masuk di perbankan syariah kita. konon ada 10an institusi yang sedang antri di BI.

    Bagaimana peta pengusaha middle east ini mas, apakah ’sekapitalis’ dari ‘pengusaha biasa’?

  7. Nofie Iman

    Untuk sepakbola kita, jujur saya belum pernah memikirkan terlalu serius. Di Indonesia, wadah organisasi dan pemimpinnya rusuh, wasitnya belum benar-benar tegas dan independen, klub hanya memoroti dana APBD, pemainnya juga (maaf) mata duitan, sementara penonton maunya nonton gratis dan bikin keributan. Saya belum tahu dari mana harus menelusuri benang kusut ini.

    Insya Allah nanti akan saya tulis mengenai karakter pengusaha dari kawasan timur tengah dibandingkan pengusaha lainnya. Oiya, Sheikh Mohammed ini lulusan Amerika dan pola pikir serta gaya kepemimpinannya konon sangat Amerika.

  8. pandi merdeka

    waduhh bola saya sendiri kurang suka cuma kalo dah final jadi mau nonton.. wah maskapai penerbangan di indonesia khususnya garuda aja dah mulai turun pamornya kalah bersaing ama yang umum hehehe sebenernya masalahnya apa ya :?:

  9. Hedi

    Piala Dunia Antar Klub mulai tahun depan, tidak di Jepang lagi

  10. Tommy

    Benang kusut selalu ada di pimpinan, boss. Rakyat mah ikut aja. Kalau soal Nurdin saja tak bisa selesai, ke bawah melorot terus. Kalau pimpinan punya prioritas kerja, anggaran seadanya tapi dibuat bertahap naik, serta berpikir komersial sedikit (eh banyak!) semua bisa dihitung… makanya Liga Inggris bisa berjaya! Dari hanya ada di Inggrisnya (dana berantem melulu era 1970-an) hingga sekarang jadi aset intangible paling mahal di dunia, hebat manajemen klub hingga perhatian negaranya. Gw sharing dikit paper orang ya? Masih banyaaaak lagi, dan kalau bisa google dengan keyword “Sports Economics” tentunya banyak lagi paper seperti ini:http://www.holycross.edu/departments/economics/RePEc/spe/SzymanskiLeach_Tilting.pdf

  11. Blog Strategi + Manajemen

    Emirates barangkali memang telah menjadi semacam legenda baru dalam bisnis airline global. Dalam beberapa edisi majalah Fortune terakhir, terjadi PERANG IKLAN yang amat seru antara Emirates dengan Singapore Airline.

    Tampaknya Emirates kali ini kecolongan lantaran terlambat memesan A380 — kalah beberapa langkah dari SIA. Saya tak tahu siapa kelak yang akan menjadi penerbang perdana Boeing Dreamliner. Emirates atau SIA? Menarik untuk ditunggu.

  12. dzaia-bs

    Saya pernah merasakan perjalanan dengan Emirates beberapa tahun yg lalu,
    Emirates memang memberikan sesuatu yg lebih dari sekedar pelayanan Airline lainnya.
    Tidak heran kalo mereka bisa berkembang secepat ini…

Looking forward to hear your thoughts.