Why Do Beautiful People Have More Daughters?

December 12th, 2007 | Personal

Judul itu diambil dari buku Satoshi Kanazawa Ph.D. dan Alan S. Miller, Ph.D.: Why Do Beautiful People Have More Daughters: From Dating, Shopping, and Praying to Going to War and Becoming a Billionaire–Two Evolutionary Psychologists Explain Why We Do What We Do. Sebelumnya tulisan itu sempat dipublikasikan di jurnal Psyhology Today dan memicu kontroversi yang cukup ramai.

Sepintas memang terdengar kontroversial. Tetapi ada banyak hal yang menurut saya lemah atau bahkan keliru. Pertama, penulisnya beranggapan bahwa tujuan hidup hanya satu: reproduksi. Mereka lupa bahwa ada banyak hal yang penting dilakukan daripada sekadar seks. Kedua, pembahasannya sangat melebar dan dalam beberapa chapter malah cenderung tendensius. Teman saya mengomentari buku itu, “blatantly stupid and racist, but their Ph.D.’s make it sort of ‘valid’.

Namun, hal yang terpenting adalah pertanyaan mengenai why do beautiful people have more daughters tersebut tidak dijawab dengan tuntas. Mereka cuma menulis:

Physical attractiveness is good for both boys and girls, but it’s much more advantageous for girls.. Women like to have affairs with good-looking men, but they don’t necessarily want to marry them.. Beautiful daughters are more likely to pass on their genes successfully than beautiful sons, because they are more likely to find themselves in stable marriages to desirable spouses.

Lalu, kenapa perempuan cantik cenderung punya anak perempuan?

Mengapa Bisa Jadi Laki-laki atau Perempuan?

Orang sering bilang bahwa jenis kelamin anak yang akan dilahirkan ditentukan Tuhan. Walau begitu, Tuhan tidak asal gambling menentukan laki-laki atau perempuan, melainkan melihat dari orang tuanya. Dalam bahasa yang lain, Einstein pernah bilang, “God doesn’t play a dice.

Dari apa yang saya amati, perempuan yang cantik, high profile, atau alpha female; biasanya mempunyai sifat manja, agak malas, dan cuek—-terutama pada lawan jenis. Apabila sudah menikah, mereka biasanya mempunyai kecenderungan merendahkan dan menyepelekan suaminya. Apalagi bila suaminya orang biasa-biasa saja. Hal ini bisa dilihat pada profesi tertentu (walau tidak selalu) misalnya pada artis, fotomodel, pramugari, dan sebagainya.

Sifat-sifat semacam ini nantinya akan membuat dinding rahim perempuan menjadi ke arah basa. Apabila ia sedang dalam masa subur dan berhubungan dengan suaminya, sangat besar kemungkinan calon anaknya nanti perempuan.

Di sisi lain, perempuan yang punya sifat sebaliknya, seperti agresif, penuh semangat, cekatan, atau orang Jawa bilang prigel; dinding rahimnya akan lebih asam dan ada kecenderungan punya anak laki-laki. Dalam kehidupan berumah-tangga, mereka biasanya agak dominan dan agresif dalam menghadapi kehidupan. Biasanya perempuan semacam ini adalah perempuan yang biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik dan cenderung low profile.

Terkadang, ada juga yang anak pertamanya laki-laki, tetapi anak keduanya perempuan. Ini bukan disebabkan karena perubahan sifat ibunya secara drastis, melainkan ada kecenderungan dinding rahim menjadi lebih basa setelah (pernah) melahirkan.

Anak, Gen, dan Sifat Orang Tua

Anda juga tentu tahu bahwa anak yang dilahirkan membawa sifat-sifat dari kedua orang tuanya. Tapi mungkin banyak yang belum tahu, sifat mana yang diturunkan, dan dari ayahnya atau dari ibunya?

Sepanjang yang saya tahu, anak laki-laki biasanya dekat dengan ibunya dan sebaliknya, anak perempuan biasanya lebih cenderung dekat ke ayahnya. Anak laki-laki akan dominan mewarisi sifat dari ibunya, sementara anak perempuan biasanya menurunkan sifat-sifat dari ayahnya.

Hal lain yang juga saya amati adalah, makin baik sifat dan perilaku orang tuanya, sifat-sifat yang diturunkan adalah sifat yang baik—-dan terkadang intensitasnya dilebihkan atau dilipatgandakan. Sebaliknya, kalau kedua orang tuanya dalam berumah tangga selalu kisruh, biasanya sifat yang diturunkan lebih banyak sifat jeleknya—-dan juga intensitasnya dilebihkan. Tapi kalau kedua orang tuanya biasa-biasa saja, maka ada sifat baik yang diturunkan tetapi ada pula sifat buruk yang juga diikutkan.

Sebenarnya tak cuma terkait soal psikis, hal ini bisa juga sampai ke soal fisik. Anda tentu tahu ada yang ayah ibunya ganteng dan cantik, namun anaknya malah biasa-biasa saja. Sebaliknya, ada juga yang ayah ibunya agak kurang, tapi anaknya justru secara fisik jauh lebih baik. Ini saya simpan saja untuk pembahasan lain waktu.

Kesimpulan

Anda bisa mengkroscek hipotesis saya di atas dengan anak Anda sendiri, atau orang-orang di sekeliling Anda. Dari pengamatan saya, sebagian besar valid. Namun bila hipotesis tersebut salah, maafkan saya. Saya memang tak punya background kedokteran atau psikologi yang tahu detil soal demikian.

Namun, hipotesis tersebut barangkali bisa Anda gunakan untuk Anda sendiri. Misalkan Anda pasangan muda yang ingin merencanakan keluarga, memilih anak laki-laki atau perempuan, hal tersebut bisa Anda coba. Bisa juga Anda menggunakan hipotesis tersebut untuk merencanakan supaya sifat-sifat yang kelak dimiliki anak Anda merupakan sifat bagus dari Anda dan pasangan.

Ada pertanyaan? Komentar?

Oalah, mas. Konsultan kok malah ngurusi soal kandungan.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. daengbattala.com » Blog Archive » YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (1)
  2. Comments

  3. Roby

    Studi Kanazawa itu secara ilmiah tidak bisa dipertanggung jawabkan karena ada kesalahan metodologi statistik nya.

    Penjelasan akan kesalahan Kanazawa dapat dibaca di sini

  4. iman brotoseno

    Apalagi bila suaminya orang biasa-biasa saja. Hal ini bisa dilihat pada profesi tertentu (walau tidak selalu) misalnya pada artis, fotomodel, pramugari, dan sebagainya. wah ini tendensius pak he he…

  5. trian

    Oalah, mas. Konsultan kok malah ngurusi soal kandungan.

    konsultan juga manusia :)

  6. martin

    Cocok mas. Anak saya cewek, sifatnya banyak dominan dari saya.
    Istri saya memang cantik, dan suka agak2 kemayu gitu… :)

  7. Satpam

    he he… Pembahasan mas Nofie selalu menarik dan baru bagi saya… padahal tiap hari aq yo ngadep internet, tapi ini mungkin karena mewatisi sifat bapaku ” yang malas heheh” tapi ndak pa2

    Nanti kalau saya menikah mau tak praktekan, saya pengen punya anak pertama Laki2 kedua perempuan ketiga Laki.. jadi anak perempuan saya Aman heheh

    Ohya, Biasa Anak yang lahir di luar Nikah atau anak yang lahir tanpa Hubungan pernikahan anaknya ganteng dan cantik.. So yang cantik dan ganteng perlu di curigai ;))

  8. Hedi

    yang pasti saya belum punya anak, tapi saya ngamati orang cantik biasanya punya ibu yang ga cantik :D

  9. Weight Loss Program

    I never realized that beautiful people have more daughters. But I agree with the finding that beautiful women tend to marry men that are more stable and thus potentially less attractive.

  10. edratna

    Saya tak tahu hubungan antara sifat seorang perempuan dengan sifat asam/basa pada dinding rahim.

    Yang saya tahu, kalau kita ingin punya anak laki-laki, adalah berhubungan dalam kondisi dinding rahim bersifat basa…untuk itu disarankan wanita menyukai makanan seperti daging merah, buah2an manis dll. Sedang jika pengin anaknya perempuan, maka sebaiknya saat rahim dalam kondisi asam, jadi wanita sebelum hamil menkondisikan makan makanan yang membuat dinding rahim asam (saya lupa makanan yang membuat kecenderungan ini).

    Juga saat berhubungan, gamet dari laki-laki bersifat mudah mati, tetapi larinya kencang. Sedang gamet perempuan (X) berjalan lambat, tapi lebih lama hidupnya. Agar dapat anak perempuan, harus sering berhubungan, minimal dua hari sekali. Inipun, menurut dokter kandungan, jika laki-laki mempunyai kromosom X dan Y fifty-fifty.
    Jadi saya menerapkan aturan tsb, dan tentu saja berdoa pada Allah swt…hasilnya anak saya laki-laki (sulung) dan perempuan (bungsu). Benarkah karena hal tsb. Walahuallam.

    Terus ada cerita lagi…teman saya (wanita) diajak ketemu calon mertua. Ditanya kapan orangtua menikah, dan kapan dia lahir…dia nggak mengerti apa hubungannya. Ternyata calon mertuanya meyakini, bahwa anak yang dilahirkan dalam kondisi ibu hamil sebelum menikah, sebagian besar wanita……benarkah? Sayapun tak tahu.

    Yang saya tak sependapat, bahwa wanita cantik cenderung menyepelekan suami. Saya banyak dikelilingi orang cantik, pintar dan berhasil…memang dia lebih banyak mendapat kemudahan (bukankah laki-laki senang melihat wanita cantik)…jadi kalau ditaruh dibagian marketing pasti kemungkinan sukses lebih besar. Tapi, pada zaman ini, dimana wanita sadar akan perawatan diri, anak buah saya cantiik-cantik…dan pandai. Teman-teman yang cantik tadi, tetap menghormati suami, dan menyayangi anak-anaknya. Bahkan saya melihat kecenderungan, saat ini yang dilihat bukan kekayaan (dulu saya merasakan masalah ini), tetapi anaknya menjadi seperti apa…sekolahnya dimana, diterima di PTN atau tidak. Jadi (atau hanya lingkungan saya ya), kondisinya udah jauh berubah.

  11. BARRY

    Hmm.. interesting article indeed.

  12. Dino

    Menarik dan kontroversial artikelnya..
    Mungkin orangnya nyari nama hehe..

  13. Paman Tyo

    Bisa ya bisa tidak. Alasan klise: tergantung orangnya.

    Tapi secara umum, wanita cantik dan atau menarik memang cenderung lebih pede, kurang begitu gampang ge-er (karena sering dapat perhatian dari lawan jenis)…

    Bila punya personility yang bagus, wanita cantik memang cenderung mendapatkan peluang untuk lebih berkembang lantaran sejak dia bocah sudah banyak pintu yang dibukakan untuknya (maju ke depan kelas, mewakili sekolah, dalam pekerjaan mengalahkan pelamar setara yang kurang cantik dsb).

    Kata orang sinis, bagi wanita tak cantik lagi tak menarik, dunia ini tidak adil. :D

  14. brian

    Makasih banget mas sarannya. Besok saya coba. :)

  15. partisimon

    Sifat-sifat semacam ini nantinya akan membuat dinding rahim perempuan menjadi ke arah basa. Apabila ia sedang dalam masa subur dan berhubungan dengan suaminya, sangat besar kemungkinan calon anaknya nanti perempuan.

    Di sisi lain, perempuan yang punya sifat sebaliknya, seperti agresif, penuh semangat, cekatan, atau orang Jawa bilang prigel; dinding rahimnya akan lebih asam dan ada kecenderungan punya anak laki-laki. Dalam kehidupan berumah-tangga, mereka biasanya agak dominan dan agresif dalam menghadapi kehidupan. Biasanya perempuan semacam ini adalah perempuan yang biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik dan cenderung low profile.

    .

    Setahu saya kalau saluran reproduksi dan dinding rahimnya asam, justru akan yang “Y” yang kebanyakan mati (faktor Y tidak tahan asam, sedangkan X tahan asam), sedangkan yang “X” nya akan terus hidup dan bertemu dengan XX dan menghasilkan anaka perempuan.

    bukannya begitu….?

    mohon penjelasannya ….

    salam

    partisimon dot com

  16. Andrea

    Mas partisimon, Anda kebalik deh kayaknya..

  17. byotnenega

    mas, istri saya sudah hamil sebelom ada artikel ini, piye iki? hehehe
    saya sih nggak ingin macam2 yg penting anak kami bisa menyenangkan Sang Pencipta saja, kalo dikasih laki-laki bersyukur kalo perempuan juga bersyukur…

    btw, tulisannya selalu menarik!

  18. alin rachmawati

    saya pernah bertanya2 apa iya komen seorang Ph.D terhdp sesuatu, “Udah gak punya apa-apa, masih belagu!’. nyambung ke tulisan diatas, line : Teman saya mengomentari buku itu, “blatantly stupid and racist, but their Ph.D.’s make it sort of ‘valid’.” ngingetin pertanyaan diri saya atas kualitas Ph.D sekarang ini. klo dulu baca daftar pustaka-nya ada Ph.D nya langsung pede…sekarang siy, ya liat2 lagi kualitas komunikasinya…hehehe…

  19. andri PH

    Anak saya tiga lagi semua…tapi istri saya cantik…anomali kah?

  20. lemper

    wah berarti wanita dengan anak perempuan bisa diindikasikan kurang perhatian (cinta) sama suami juga dong

  21. lemper

    jangan-jangan

  22. fuchsia

    sedih juga baca ini. sangat racist, sexist n tidak mendasar. sama spt bilang suku tertentu itu pemalas ato bodoh. menurut saya, semua itu rahasia alam. generalisasi sempit yg memojokkan kaum wanita. cantik ato jelek, so what gitu loh…jangan sampe jadi nyesel karena diciptakan Allah kita cantik ato jelek. yg penting attitudenya. anak saya 3, perempuan semua. secara fisik saya merasa biasa saja, tapi saya berusaha semaksimal mungkin mendidik anak2 saya yang (menurut saya) cantik secara fisik, juga cantik batinnya. kenapa cowok ga ada andilnya di teori ngawur ini yah? gimana kalo kita ditakdirkan sebagai pasangan yg tidak bisa punya anak? asumsi apa lagi yg akan dilontarkan?

Looking forward to hear your thoughts.