Sepakbola, Emosi, dan Kerusuhan
January 19th, 2008 | News
Mungkin cuma di Indonesia penonton bisa terjun langsung menggapluk wasit dan hakim garis. Saking sudah sedemikian mendarah daging, sampai-sampai Yvgeny Khamaruc mencekik Cristian Gonzales dan Serghei Dubrovin memburu asisten wasit. Memang bukan hal baru karena (hampir) setiap pertandingan selalu berakhir rusuh. Soal official saling gebuk juga bukan hal baru. Sekitar dua tahun lalu, pertandingan antara Persigo dan Persiwa juga diwarnai official saling berantem. Mestinya hak siar sepakbola di Indonesia naik harganya karena tayangan 90 menit masih ditambah bonus rusuh 2-3 jam sesudahnya.
Bola memang sering membuat penggemarnya bertindak agresif dan irasional. Daniel Rees dan Kevin Schnepel yang meneliti pertandingan (american) football antar college di Amerika (NCAA) menemukan kerusuhan meningkat 9%, vandalisme naik 18%, dan penangkapan pengemudi yang mabuk sebesar 13% setiap terjadi pertandingan. Kalau tuan rumah mengalami kekalahan dalam pertandingan penting, vandalisme naik 61% dan kerusuhan naik jadi 112%. Jika pertandingan dilangsungkan pada hari Sabtu, angka-angka tersebut naik 0,5%.
Menurut Rees dan Schnepel, kerusuhan tersebut terjadi karena frustasi penggemar yang merasa tim kesayangannya “berhak” mendapat hasil yang lebih baik. Rasa frustasi itulah yang mendorong mereka berbuat rusuh. Dalam kasus tertentu, tim pemenang pun juga bisa membuat rusuh—-misalnya ketika tim peringkat bawah secara mengejutkan mengalahkan tim peringkat atas. Di Morgantown, West Virginia, atau di seputaran University of Connecticut hampir selalu terjadi pengrusakan walaupun tim tuan rumah menang.
Penelitian lain yang dilakukan White, Garland, Janet Katz, dan Kathryn Scarborough pada tahun 1988-1989 menemukan bahwa setiap kali Washington Redskins bermain dan menang, instalasi gawat darurat dua rumah sakit di Virginia Utara selalu kebanjiran pasien yang semuanya perempuan. Football memang begitu populer di Amerika—-seperti halnya sepakbola (soccer) di Indonesia. Tahun 1998 misalnya, hanya ditonton oleh 37,4 juta penggemar, tapi pada tahun 2006 sudah hampir 50 juta penggemar.
Faktor lain yang juga turut menyumbang kerusuhan adalah alkohol, karena jamak dilakukan menonton pertandingan olahraga sambil mabuk. Namun selain itu, Profesor Dahl dan Stefano DellaVigna dari University of California, Berkeley, menyatakan bahwa kerusuhan juga timbul karena pengaruh film penuh yang kekerasan. Di Amerika, sekitar seribu film ditayangkan tiap minggunya—-di mana yang digemari adalah yang penuh kekerasan, seperti Crank, Lucky Number Slevin, Kill Bill, dan sebagainya.
Di luar negeri, sepakbola (soccer), football, atau pertandingan lain yang berujung rusuh memang beberapa kali terjadi, namun biasanya dilakukan di luar lapangan. Dengan demikian, pertandingan tidak terhenti dan fasilitas dalam stadion relatif tidak menjadi korban. Namun yang menarik, masih menurut Rees dan Schnepel, penambahan jumlah polisi ternyata tidak menyelesaikan masalah—-terkadang malah bisa memicu kerusuhan yang lebih besar.
Dalam paper yang lain, Daniel Wann menjelaskan adanya “social learning theory” yaitu ketika seorang penggemar melihat pemain favoritnya melakukan penyerangan pada lawan mainnya, akan memberikan efek provokasi balik terhadap penggemar untuk ikut menyerang pendukung tim lawan. Mungkin sudah saatnya pemain sepakbola di Indonesia tak cuma dilatih soal fisik, tetapi juga soal menahan emosi, menghargai lawan main, dan terutama menghormati keputusan wasit.
Tentu saja hal ini mustahil dilakukan bila organisasi induknya masih dijalankan oleh orang-orang yang hanya mengurusi uang dan tak bisa mengagungkan sportivitas sepakbola.
PS: Gambar diambil dari sini.



January 19th, 2008 at 6:58 pm
Comments
January 20th, 2008 at 8:22 am
Gustave Le Bon menyebutnya sebagai crowd psychology. Itulah momen ketika bergabung dalam kerumunan massa (misal, dalam gerombolan bonek), identitas dan kepribadian individu lenyap; dan berubah menjadi “kepribadian kolektif” (collective unconscious, dalam bahasa Carl Jung).
Orang yang tadinya penakut atau pemalu, tiba-tiba berubah menjadi beringas ketika bergabung dalam gerombolan — dan persis inilah efek yang disebut disebut “crowd psychology”. Tawuran massal, demo yang brutal, dan amuk masa Aremania, adalah wujud yang paling jelas dari “hilangnya identitas diri” dan “munculnya kepribadian kolektif” yang acap mengarah pada keberingasan dan “kenekadan kolektif”.
January 20th, 2008 at 7:39 pm
hmm, artikel yang bagus pak ,,
thanks ya, jadi nambah info nih
January 21st, 2008 at 8:09 am
nah ini menarik nih :D
+ jangan lupa selingan iklannya :D
January 21st, 2008 at 9:53 am
wasit juga manusia.. diperlukan kearifan dari semua pihak untuk menyikapinya agar kejadian ini tak terulang lagi… wasit harus meningkatkan performa kepemimpinannya di lapangan hijau.. pemain harus menggalakkan semangat sportifitas… suporter harus menujukkan kedewasaaannya.. begitupula PSSI yang harus tegas… jadi semuanya saling berhubungan dan ada keterkaitan…. ada asap pasti ada api… masalahnya sekarang yang harus dicari adalah sumber apinya dari mana baru mulai menyiramnya.. maka pastilah asap dengan sendiri akan menghilang…. maju terus sepakbola indonesia…
January 21st, 2008 at 11:11 am
wah.. turut prihatin pada dunia persepakbolaan tanah air…
January 21st, 2008 at 11:27 am
Aneh banget kiper persija, mosok yang diserang Christian Gonzales-nya. Bukannya yang kudu diserang itu wasitnya?
January 22nd, 2008 at 3:05 am
selain hak siar yg naikkan, jangan lupa tiket masuk juga di naikkan. karena penonton selain lihat pertandingan bola juga lihat pertandingan tinju
January 22nd, 2008 at 7:59 am
gimana nih PSSI ?
January 22nd, 2008 at 8:20 am
Menurunnya kemampuan menerima kekalahan, rendahnya kemampuan komunikasi/negosiasi dengan bijak/sopan, dan juga disiplin wasit/hakim garis dalam hal ketidakberpihakan mungkin jadi penyebab sering rusuhnya pertandingan sepakbola di Indonesia.
Atau mungkin karena rakyat kita sudah terlalu menginginkan idola baru yang bisa dipuja terkait dengan menurunnya kepercayaan terhadap pemerintah (apalagi dengan bobroknya ketahanan pangan akhir-akhir ini).
Konser musik/band juga sering rusuh, yang bikin rusuh sebagian besar adalah mereka yang tidak beli tiket namun merangsek masuk. Pertanda apakah ini? *geleng-geleng*
January 24th, 2008 at 6:29 am
Keadlian jika hanya LIP SYNC tak akan pernah bisa menghasilkan sesuatu yang adil, begitu juga di sepakbola saya kadang heran… malah banyak sekali pemain asing yang lebih menyulut situasi..
Kalau di pikir pikir IMPOR pemain sama aja BUANG UANG ke LUAR NEGERI :(
Kita Impor Bahan Mahal(Pemain Asing) dan kita ekspor Bahan Murah (TKW PRT)
January 24th, 2008 at 7:31 am
Kalo pemain bisa impor…harusnya mungkin wasit juga bisa diimpor kan?ane cuma melihat biasanya yang bikin kerusuhan itu karena wasit yg gak adil plus didukung ama subjektifitas pendukung masing2 club,,jadi agak sedikit sungkan kali ya kalo wasitnya orang asing.why?
- mungkn karena agak belibet ngomong bahasa inggrisnya.Kan kalo protes harus pake bahasa inggris…jadi sebelum protes ke wasit harus dipikir dulu mau ngomong apa,,nah berarti jeda waktu buat mikir ini sudah cukup untuk mereduksi reaktifitas dari pemain atau official yg merasa dirugkan.
- kedua, dari mental wasit itu sendiri…kok bisa?di bandung jargon yg paling sering disebut waktu pertandingan salah satunya adalah “wasit goblok”.para suporter dengan dipimpin satu dirigen pertandingan dengan kompak meneriakkan yel-yel wasit goblok diikuti dengan tarian pantat dan lidah yg menjulur..nah kalo wasit indonesia sedikit banyak pasti terpengaruh ama yel-yel ‘wasit goblok’ di atas,,mungkin akan lain kalo wasitnya dari luar negeri..bisa aja dianggap pujian bagi dirinya dan membuatnya semakin semangat memimpin pertandingan.
- yang terakhir..wasit dari luar secara postur sudah cukup untuk mendukung keputusannya dalam setiap pertandingan..ane melihat wasit yg jadi korban itu wasit yg punya postur kecil,ceking,plus ditunjang dengan face yg cukup membuat kita iba untuk melihatnya..tentu ini sangat dimanfaatkan para pemain dan official untuk semakin membuat posisi wasit itu terjepit…n akhirnya,,bletakkk..sebuah bogem mentah telak mendarat di wajah sang wasit yg innocent ni.kacian.,,mungkin keadaannya lain kalo wasitnya dari eropa atau arab sana..ambil contoh pierluigi collina.dia belum ngomongpun sepertinya pemain juga sudah segan dengan tatapan matanya yg cukup dingin dan menakutkan..atau mark van der ende dari belanda yg pernah mengkartu merahkan david beckham waktu lawan argentina dulu(CMIIW),wasit setinggi itu pasti juga bakal disegani pemain indonesia yg notabene rata2 tingginya gak lebih dari 180 cm.dan jelas bakal susah kalo mau nampol wajah sang wasit.
hehehehe..mungkin itu sedikit impian saya tentang kondisi sepakbola indonesia dan perwasitannya..semoga sepakbola semakin maju dengan kualitas wasit yang juga semakin bagus.Amin
Thanx buat mas nofie.
-
January 24th, 2008 at 2:49 pm
Halooo…..Salam kenal….
numpang lewat dan coret2 di blognya yah…=)
Kalo sepak bola itu, massanya banyak, mereka tergabung dalam kerumunan yang punya kekompakan yang besar dan emosi yang mudah sekali diprovokasi. Jadi ketika ada 1 orang yang memprovokasi, semua langsung ikut2an emosi dan jadinya rusuh. Nah…ini yang perlu diperhatiin oleh suporter sepak bola, hati2 terhadap provokator. Kalo hampang diprovokasi, jadinya ntar nama sepak bola yang buruk di mata masyarakat sebagai cabang OR yang tidak sportif. Mungkin perlu ada pembinaan mental sebelum nonton pertandingan. Hehe…
January 25th, 2008 at 3:50 am
Yach…semuanya mungkin harus mulai dari pendidikan.Mental mau menerima kekalahan memang bukan perkara yang mudah didapat di Indonesia.
Bang Nurdin boro2 sibuk ngurusi sepakbola Indonesia, besok malem mau tidur di rumah apa penjara aja gak tahu pasti…..damn it.
January 25th, 2008 at 9:42 pm
hemmmmm no comment ahh, hla wong rusuh sudah jadi budaya di masyarakat kita….
jadi kalo nggak rusuh sehari aja hidup itu kurang lengkap…..sama kaya’ sayur tanpa garam kurang afdhol……
mental-mental gini yg biasanya mayoritas di masyarakat kita….
February 19th, 2008 at 11:21 am
ketua PSSInya aja bandit , gimana sepak bola mau maju
February 20th, 2008 at 4:40 am
usul suporter minum obat stres dulu
February 20th, 2008 at 10:38 am
seperti kata iklan, menjadi tua itu pasti….menjadi dewasa, itu…. pilihan :)
February 28th, 2008 at 8:38 pm
Namaku Ronaldohot, pemain sepakbola yg terkenal. Ada seorg yg ketemu aku, mau kontrak main dinegaranya, katanya banyak kali duit Bossnya. Kutanya PSSI itu dari negara mana ya ? aku belum pernah dengar negara ini ikut Piala Dunia. Kawanku bisikin, hati2 kalau kau mau main disana, kau harus belajar beladiri, kalau tidak, habis gigimu krn penontonnya brutal, pengurusnya, nggak tau, brutal nggak ? Waktu aku diantar mau ketemu Bossnya, rumahnya besar kali ya,keliling pakai terali sama kawat duri, banyak penjaganya pakai baju seragam. Mobil dihalamannya juga pake trali.
Boss FIFA,Sepp bilang, jangan kamu main disana, organisasi & pengurusnya masih bermasalah. Coba baca koran, tiap hari mencla-mencle. Mending dana yg dihabiskan utk sepakbola yg tanpa hasil itu, mereka gunakan utk Pembinaan Karate, Badminton dan olahraga lain yg berprestasi Internasional dan sudah dikenal dunia. Oh, kalau Badminton aku kenal nama Rudy Hartono s/d Taufik Hidayat. Ok, Sepp, aku pulang saja kenegaraku. Gimana mau maju sepakbolanya, Pengurus sama Penontonnya sama saja. Selamat Tinggal PSSI.
March 27th, 2008 at 10:02 am
ah, saya ikut prihatin kapan sempakbola indonesia bisa kayak di inggris…..
tapi, gpp…itung buat hiburan kalo ada yg saling gapluk…lha,kan bayar tiket mahal…maen bolannya aja jelek…so,lumayan lihat pukulan..
ada komen…
March 30th, 2008 at 10:26 am
“Penelitian lain yang dilakukan White, Garland, Janet Katz, dan Kathryn Scarborough pada tahun 1988-1989 menemukan bahwa setiap kali Washington Redskins bermain dan menang, instalasi gawat darurat dua rumah sakit di Virginia Utara selalu kebanjiran pasien yang semuanya perempuan”
Bro Nofie,tanya donk,gak mudeng nih,kok yang jadi pasien malahan perempuan,bukan laki-laki ??