Bagaimana Memenangkan Indonesian Idol
February 14th, 2008 | Entertainment
Indonesian Idol masih mencatatkan dirinya sebagai market leader untuk urusan popularity contest. Kontestannya mencapai lebih dari 15 ribu orang. Setiap kali acara tersebut digelar, ratingnya menembus angka 9. RCTI pun mendapatkan pendapatan sampai Rp 2,4 miliar per episode—-belum pendapatan lain-lain. Sudah empat musim Indonesian Idol digelar sejak tahun 2004 dan saat ini mereka tengah melakukan audisi untuk season kelima.
Anda tertarik?
Saya baru saja menyimak presentasi paper yang dilakukan oleh Lionel Page dan Katie Page di University of Westminster beberapa waktu lalu. Mereka menyatakan bahwa Anda bisa memenangkan kontes-kontes popularitas semacam itu dengan cara sederhana: try to be one of the last to sing. Kok bisa?
Dalam papernya, Lionel Page dan Katie Page meneliti adanya bias dalam penilaian kinerja secara berurutan (sequential performance evaluation). Mereka mengambil data dari sejumlah kontestan Idol di delapan negara, meliputi Amerika, Australia, Belanda, Brazil, India, Inggris, Jerman, serta Kanada. Dalam penelitiannya, mereka meneliti lebih dari 1.500 kontestan dan 165 show.
Ada dua hal pokok yang mereka garis bawahi. Pertama, tentang memory dan direct comparison. Mereka menemukan bahwa kontestan yang tampil pertama akan mendapatkan penilaian yang penuh daripada kontestan sesudahnya. Akibatnya, kontestan-kontestan berikutnya mendapatkan “keuntungan” dari apa yang mereka sebut sebagai recency effect.
Poin kedua, ada kecenderungan penilaian terhadap seorang kontestan dipengaruhi oleh penilaian terhadap kontestan sebelumnya. Mereka menyebut fenomena ini sebagai assimilation effect. Kalau kontestan sebelum Anda bermain buruk, Anda akan dinilai lebih buruk daripada apabila kontestan yang tampil sebelum Anda bermain dengan sangat baik. Oleh karenanya, usahakan untuk tampil terakhir dan berdoalah agar kontestan sebelum Anda bermain dengan baik.
Di akhir pembahasannya, Lionel Page dan Katie Page menyatakan bahwa dua efek tersebut memegang peranan penting dalam evaluasi kinerja berurutan seperti yang terjadi dalam kontes popularitas. Namun, konsep tersebut juga bisa diterapkan misalnya ketika Anda menghadapi wawancara kerja atau melakukan pitching kepada klien. Bila memungkinkan, usahakan untuk mengulur waktu atau mencari slot terakhir.
Tertarik mencoba?



Comments
February 15th, 2008 at 3:26 pm
bagus..bagus..
menarik juga paper penelitian itu. baru saja saya (dan kami) mengalami hal yang ’serupa’, dan memang ada benarnya juga.
tapi saya yakin, hal-hal yang seperti ini tidak bisa dipastikan benar selamanya.
February 16th, 2008 at 11:38 am
kalau di area melamar kerja mungkin bisa kita lakukan, tapi soal Indonesian Idol, daftar muncul peserta pake undian,…jadi agak susah dan berbau nasib kali ya :D
February 16th, 2008 at 1:59 pm
toh akhirnya idol2an tanpa sms/vote sptnya krg menguntungkan rame.. :)
February 16th, 2008 at 2:00 pm
‘menguntungkan’nya pake td..abis di preview bisa :)
February 16th, 2008 at 2:00 pm
toh akhirnya idol2an tanpa sms/vote sptnya krg
menguntungkanrame.. :)February 16th, 2008 at 2:03 pm
mas nofie, tag ‘del’ di previewnya mau keliatan tercoret..di posting komennya gak jd muncul
tp tag ’strike’ di preview gak muncul, di komen malah jadi beneran..
btw komen yg berlebihan ini diapus aja ya..makasi :)
[moga bukan spam]
February 18th, 2008 at 9:17 am
wah kalo saya sih nggak bisa naynyi…hehehe… salam kenal..
February 19th, 2008 at 8:44 am
gue jg gak bisa nyanyi
February 19th, 2008 at 9:32 am
masih gak percaya kalo Mike kalah di asian idol.
kadang SMS sulit banget di duga pemenangnya.
February 19th, 2008 at 2:08 pm
Kalo di wawancara lamaran kerja, saya sudah beberapa kali kena ‘efek hangat’.. eh apa yah maksudnya itu kalo yg urutan sblm saya mungkin terasa nyebelin bagi pewawancara, saya ikutan ‘dapat getah’… pewawancaranya keliatan bete & kesal gitu. Akhirnya yang ditanyakan ke saya kadang mengada-ada, OOT banget gitu. Syukur2 kalo saya bisa sedikit ‘ndhagel’ sehingga mereka tersenyum, lha kalo jawaban saya ternyata tidak memuaskan, ya malah bikin tambah bete. :-D Sempet2nya mas Nofie bikin ulasan Idol ini…
February 19th, 2008 at 3:14 pm
pertanyaannya:
Di Indonesia memang masalah tampilan?
bukan donk ah..
iya kalo di luar, karena sms dan telpon ditanggung murah, bahkan ada yang gratis..
nah di sini, sebagus apapun kalau tidak didukung para dermawan pulsa, susah juga..
makanya sering menggunakan sentimen kedaerahan..
February 20th, 2008 at 4:32 am
usul sinden idol
February 20th, 2008 at 9:35 am
idol dari kata idola . sdgkan idola di kita orang yg kita cinta. seharusnya kontes swara indonesia
February 21st, 2008 at 1:12 am
kalo nggak bisa nyanyi masih punya kesempatan nggak om nofie :?:
February 21st, 2008 at 5:56 pm
Tentunya ini mengasumsikan kandidat sudah punya cukup kemampuan—-dan di antara kontestan lain, spreadnya tidak terlalu jauh.
February 23rd, 2008 at 2:10 am
wew si ale sudah tau belum yah, yg kemaren gagal ikutan audisi di sby :)
February 23rd, 2008 at 7:53 pm
Atau tampil sbg yg pertama krn terbukti oleh sy sbg yg diinterview pertama, eh alhamdulillah dpt (ga nyambung yak :p)
February 28th, 2008 at 7:13 pm
Untuk memenangkan Indonesian Idol yg paling utama adalah Peserta benar2 mempunyai kemampuan teknik vocal,musical, penguasaan lagu,serta performance yg prima utk tampil menjadi Idola. Dalam sistim penilaian yg obyektif, selama ini telah dilakukan oleh Tim Juri yang menguasai teknik vocal, musical dan performance spy benar2 dihargai, dengan memberikan perbandingan peranan 2/3 dari total Penilaian Juri, sedang 1/3 nilai diberikan kpd jumlah dukungan pengirim sms. Spy juri tidak sekedar tampil duduk didepan utk menjadi badut.
Diusulkan dlm Indonesian Idol mendatang, kiranya Fremantle dpt mempertimbangkan untuk menampilkan irama/lagu Kroncong sebagai salahsatu jenis lagu yg dilombakan, untuk menguji penguasaan peserta terhadap salahsatu jenis lagu khas Indonesia jang juga mempunya tingkat kesulitan didlm membawakannya, serta mengangkat kembali musik kroncong bagi kalangan remaja.
March 5th, 2008 at 10:49 pm
Nofie, maaf pakai nama samaran. Tapi yang saya lihat IDOL di amerika, indonesia dan di manapun itu itu selain tujuan pencarian dana (dari sms ) juga adalah suatu bias sosial yang sangat menyedihkan. Bayangkan orang lebih mengidolakan seorang hanya dari suaranya. Ini menurut saya sangat membuang keefektifan dan cara pandang kaum muda terhadap apa itu prestasi. Logikanya begini, Bila KAUM MUDA HANYA SIBUK MELIHAT IDOL2NYA SUNGGUH KAPAN LAGI IA MEMIKIRKAN NASIB BANGSANYA YANG SELALU DIGEROGOTI OLEH ORANG LAIN. INI ADALAH SATU POLA YANG BERJALAN SECARA SIMULTAN. DAN TIDAK DAPAT DIPISAHKAN. NEGARA KITA SEDANG DIGEROGOTI DAN SAYA, DAN KITA SEMUA MALAH TERLENA DENGAN HAL-HAL YANG MEMANG MEMBUAT KITA TERLENA. PADA PRINSIPNYA SAYA MENOLAK SEMUA ACARA YANG MEMBUAT KAUM MUDA BUTA TERHADAP KEADAAN SEKITARNYA. HATI-HATI MEREKA TENTU TELAH MERENCANAKAN HAL-HAL TERTENTU BUAT BANGSA KITA. DAN INDONESIAN IDOL ADALAH SALAH SATUNYA SAJA. HAI KAUM MUDA BANGKITLAH, BANGUN DARI MIMPIMU, JANGAN HANYA MELIHAT HIBURAN-HIBURAN DI TV YANG MENJAUHKAN MU DARI REALITA. BANGSA KITA SEDANG DIGEROGOTI. SADARLAH, SADARLAH….HIDUP PERDAMAIAN
March 6th, 2008 at 2:40 am
Well, saya setuju dengan Anda—-to certain extent. Bahwa tayangan televisi, ajang popularitas, dan semacamnya lebih memberikan efek destruktif, rasanya sudah cukup sering saya tulis di blog ini. Bahwa orang muda Indonesia perlu lebih care dengan negerinya, rasanya juga sudah berkali-kali ditulis di sini.
Kalau Anda perhatikan seksama, tulisan di atas bukan mempermasalahkan soal kontes idol melainkan lebih pada sequential performance evaluation dan bagaimana kita memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Lagipula, implementasinya juga luas—-tak cuma untuk urusan idol dan popularitas semata.
April 17th, 2008 at 11:04 am
hai mas nof, aku lumayan bisa nyanyi jg. krn pernah jd vokalis band. kemaren2 aku gak tertarik ikutan idol-idolan gitu. tapi sekarang eeeh malah jd pengen ikut. mgkn tahun dpn ya. penasaran aja ama juri ; anang, titi dj, indra lesmana etc etc. Lihat aja itu sebagai hobi, just for fun lah…Aku rasa anak-anak muda justru harus lebih care dengan kondisi sosial aja. kalo boleh inget pahlawan kemerdekaan kita dulu yang notabene paramuda!! yo aiii!! Tp kalo menang di idol mah hasilnya adalah kesempatan jg buat dapat duit dijalur suka-suka(nyanyi kan menyenangkan to…) nah bisa kita sisihkan sebagian hasilnya/dutinya buat saudara-saudara kita yang kurang beruntung secara ekonomi. Gue mantep tahun depan ikut. doain ya … juga kepada para temen milis gak usah sms jg gak papa. doa tulus anda sdh cukup dan doakan juga agar sy tidak jadi sombong… lets sing together !!!! salam
April 17th, 2008 at 8:07 pm
kalau niatnya baik moga2 hasilnya juga baik. kite dukung deh……tapi mentally harus siap lho….. believe or not juri bisa aja keliru dalam memberi penilaian. mrk kan juga manusia biasa. artinya kalau mereka suka dgn anda maka kelebihan atau kepiawaian anda bisa bergandengan mesra dengan nilai mereka ….tp kl mrk gak suka anda mk yang terjd adalah sebaliknya…..(moga2 sy keliru neh…menilai juri). kdng2 penilain juri dpt mempengaruhi voter lho….. masalahnya mrk brgkat dr background musisi shg srngkali penilaian mereka dianggap sdh harga mati pdhl blm tentu. dan sebaiknya acara itu juga memberi ksmpatan pada voter untuk menilai juri…… shgg mrk bisa mlkkn evaluasi terhadp diri mrk sendiri….gitulho…..
April 19th, 2008 at 7:17 am
Berkomentar tentang Idol yang dikatakan membuai pemuda & pemudi Indonesia.
Iya, kalau mau dipandang dari sudut negatifnya, bisa dibilang Idol, di negara manapun, adalah program televisi yang habis-habisan mengeruk keuntungan besar bagi penyelenggaranya. Karena tanpa sadar, kadang seorang penonton dapat menelpon/ SMS tanpa henti & tidak peduli dengan biaya demi idola dukungannya. Strategi bisnis yang jitu.
Tapi kalau mau dipandang dari sudut positifnya juga bisa loh. Pertama, karena siapa sih yang tidak mau bakatnya dilirik orang lain. Idola di sini pengertiannya memang mencari artis muda potensial yang dapat meramaikan khazanah musik Indonesia. Jadi bukan mencari Idola yang sempurna di berbagai bidang. Untuk menjadi artis (artist, not celebrity, berhubung sudah terjadi porgeseran makna), kadang suara bagus saja tidak jaminan. Pesona dan kepribadian juga berpengaruh. Dan yang terpenting idola harus unik sekaligus menjadi diri sendiri.
Yang kedua, siapa sih yang tidak butuh hiburan. Dibanding acara2 serupa, mungkin karena namanya ya, Idol yang paling kontestan menjaga kualitasnya. Iya, memang sempat meragukan tahun lalu, tapi tahun ini mereka mencoba bangkit. Mungkin ada campur tangan produser untuk meloloskan beberapa orang yang lebih besar pesona/ tampang dibanding bakat musiknya, tapi dibanding acara2 lain yang rata2 pesertanya pas2an, dan lebih mirip adu komentar dengan sisipan nyanyian dibandingkan kontes menyanyi? You know, lah!
Ketiga, acara ini juga tidak mustahil dapat mempersatukan seluruh Indonesia di atas segala perbedaan. Pada Jum’at malam, jutaan pemirsa (mulai dari yang benar2 menonton dari awal sampai akhir atau yang sekedar liat2) ‘tune-’in’ ke stasiun RCTI & mendukung idola daerahnya.
Di Indonesia masih kurang terasa efeknya. Tapi coba perhatikan Superstar (franchise Idol juga) atau Star Academy di Timur Tengah. Bagaimana ke-18 negara Arab mulai dari Morocco sampai Iraq dipersatukan setiap minggunya oleh sebuah acara TV, tanpa memikirkan perbedaan agama (Sunni-Syiah-Kristen-Druze) atau politik (sosialis, kerajaan, demokrat), demi mendukung idola masing-masing dan bersama-sama merasa sebagai bangsa Arab yang satu. Juga contoh lainnya Idol di Amerika Latin.
Kalau mengenai jualan cerita sedih, itu memang sudah jadi resep di Indonesia kalau mau dagangan laku. Kalau sudah budaya ya gimana? Beda dengan di Timur Tengah, walaupun ada peserta dari Iraq atau Palestine, tetap mereka mengandalkan kualitas & tidak mau terlalu mengobral cerita penderitaan mereka.
April 28th, 2008 at 2:33 pm
oo.. begitu yah…
oke..oke…
April 28th, 2008 at 2:46 pm
…. and the next Indonesian Idol is……. NOFIE IMAN…
*ngacir…*