Fenomena Sandra Dewi
March 18th, 2008 | Entertainment
Seorang rekan mengumpat soal Sandra Dewi. Ia mengenali Dewi setelah paras ayunya menghiasi harian Pos Kota beberapa hari berturut-turut. Meja kerjanya penuh dengan tumpukan surat kabar, majalah, dan beberapa edisi tabloid gosip. Nampaknya ia mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama, atau gelombang pubertas kedua, atau apalah namanya.
Sejak itu, ia begitu bernafsu ingin bertemu muka dengan Dewi. Ia mencoba menghubungi karib kerabatnya, menelusuri production house, dan mencari informasi sebanyak-banyaknya soal Dewi. Tapi hasrat tingginya itu mendadak sirna setelah mendapati informasi—-entah becanda atau serius—-bahwa untuk mengajak kencan Dewi perlu duit Rp 200 juta.
Belum tahu bagaimana perkembangan terakhir dari rekan tersebut. Yang jelas terakhir saya tahu beliau masih kebingungan bagaimana mendapat uang sebanyak itu. Kalaupun ada, ia masih bingung bagaimana menjelaskan “raibnya” uang sebanyak itu kepada istrinya tanpa ada bukti-bukti pembelian/pengeluaran yang jelas. Cinta—-to certain extent—-memang bisa bikin siapapun jadi gila.
Pada selang waktu yang tak terlalu lama, beberapa presenter acara gosip kenamaan diundang dalam sebuah talkshow di salah satu stasiun televisi swasta. Kesimpulan yang bisa diambil dari perbincangan tersebut adalah bahwa tayangan gosip yang kian populer belakangan ini sebenarnya telah menjadi sebuah bisnis baru dengan perputaran uang dan berita yang begitu luar biasa besarnya.
Narasumber dalam acara tersebut mengatakan bahwa gosip yang ditayangkan lebih banyak muatan bisnisnya daripada informasinya, lebih banyak rekayasanya daripada independensinya. Bagaimana mungkin seorang artis yang berusaha menemui anaknya bisa terekam utuh oleh kamera—-sementara artis tersebut mengklaim dirinya tak mengundang wartawan? Apa muatan informasi dari seorang artis yang memasak nasi goreng dan hasilnya ternyata tidak enak karena lupa memasukkan garam?
Selama ini saya berprasangka bahwa sinetron adalah salah satu upaya pembodohan massal yang berbahaya bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Sinetron bisa membuat generasi kita menjadi generasi paling lemah, labil, dan rentan terhadap dinamika jaman yang senantiasa berubah dan penuh dengan tantangan. Tapi tak cuma itu, karena sinetron menyimpan bahaya laten seperti gunung es yang tampak kecil di atas tapi begitu menakutkan di bawah air.
Perhatikan ilustrasi berikut.

Andaikata Anda punya fisik lumayan dan wajah indo, maka sangat mudah bagi Anda untuk mencari uang dalam waktu singkat. Cari saja kesempatan untuk ikutan casting, lalu berusahalah sekerasnya sampai bisa memasuki dunia sinetron. Kalau tak punya modal akting, mungkin bisa diakali dengan segepok uang atau memanfaatkan relasi yang punya kekuasaan. Anggaplah itu sebagai initial investment yang akan Anda petik beberapa bulan ke depan.
Asumsikan Anda sekarang sudah dapat peran dan nama Anda mulai dikenal publik. Langkah selanjutnya, teruslah buat sensasi agar orang mengenal Anda. Bentuklah tim khusus yang menangani kampanye gosip Anda. Jangan sampai orang melupakan nama Anda meski hanya satu-dua detik sekalipun. Tentu saja dibutuhkan dana untuk melakukan kampanye ini. Tapi tenang saja, karena makin santer kabar burung tentang Anda, nilai jual Anda juga akan meningkat tajam. Jangan lupa untuk tetap menganggarkan dana guna me-maintain pesona fisik Anda.
Kalau sudah, inilah saatnya untuk memanen investasi Anda. Makin sering Anda muncul di media, makin sering pula ikan besar seperti rekan saya di atas menunggu raihan kail Anda. Anda tinggal buat target pricing dan set schedule saja. Asumsi tarif kencan sehari (sekitar 6 jam) Anda banderol Rp 200 juta dan Anda mengalokasikan hari Sabtu dan Minggu untuk kencan tersebut, maka investasi yang sudah Anda gelontorkan sebelumnya bisa BEP pada bulan kedua-ketiga.
Saya minta maaf karena telah berprasangka buruk lewat tulisan saya tersebut. Saya tak punya kapasitas untuk berbicara banyak soal dunia entertainment. Selain itu, tentu tak semua selebritas bermental seperti apa yang saya tulis di atas. Saya cukup yakin bahwa masih banyak artis yang memang benar-benar mumpuni dan berada di jalan yang benar—-bukan sekadar mengejar materi dan keuntungan sesaat.
Saya juga berdoa agar prejudice saya tersebut hanya imajinasi yang salah besar. Kalaupun benar, saya berharap mereka mengikuti jejak Scarlet Johansson. Johansson memasang tarif US$ 40 ribu bagi siapapun yang ingin kencan bareng dirinya—-sebatas dinner dan nonton bareng, bukan berujung di ranjang. Uang yang diperoleh pun kemudian akan disalurkan untuk amal.
Anyway, ada yang berminat bikin petisi untuk menolak sinetron dan tayangan gosip?



March 18th, 2008 at 10:20 am
Comments
March 18th, 2008 at 3:04 am
pertamaxx!!!!
hu uh tuh mas temen saya juga ada yang jatuh cinta … tapi sinetron nggak selamanya ngebodohin kok asal digarap bener and nggak sekedar ngejar key selling point
March 18th, 2008 at 3:18 am
sinetron adalah salah satu upaya pembodohan massal.
jadi mari boikot sinetron bersama-sama
March 18th, 2008 at 7:14 am
Mas Nofie Iman, saya geli…..kalau orang biasa bergerak di finance, membahas sesuatu, ujung-ujungnya pakai hitungan investasi, dari mulai berapa perkiraan initial paymentnya…kapan BEP nya….hehehe
Sangat menarik, kalau setiap orang bisa berpikir seperti ini, maka segala sesuatu tentu dipikirkan masak-masak lebih dulu, bagaimana strateginya, agar nama tetap dikenal, uang mengalir lancar….sedangkan nama baik atau bersih sekarang kayaknya sudah prioritas ke seratus. Padahal dulu, inilah yang dipesankan orangtua kita, betapapun kita miskin, jangan sampai nama kita buruk di mata orang lain….
Sebetulnya itu tak hanya untuk artis lho mas…saya mengenal dan melihat sepak terjang beberapa orang, yang sebetulnya orang-orang sangat berpendidikan…tapi bukankah itu termasuk yang namany “marketing yourself” seperti karangannya HK (pernah saya posting di blog saya), tapi dari sisi teorinya.
March 18th, 2008 at 9:38 am
kencan cuman makan ama jalan2 aja 200 juta? ogah ah meski itu sandra dewi :D
March 18th, 2008 at 12:55 pm
200 juta itu ada lowongan terbukanya kah? :D
Yang jelas memang jadi artis (termasuk di Indo) adalah cara cepat cari uang.. ketimbang jadi pekerja yang butuh puluhan tahun.. *upss*
March 18th, 2008 at 12:58 pm
setuju, “sinetron adalah salah satu upaya pembodohan massal”
sadar tidak sadar masyarakat kita sudah dibodohi oleh media televisi.
tapi mo gimana lagi mas, liat saja, sejak sore -bahkan dari pagi- sampe malam hampir smua stasiun tv menayangkan sinetron, so, gada pilihan lain yang ditonton.
yang saya heran,
apa ngga ada lembaga yang nyaring acara2 televisi supaya tayangannya lebih berbobot dan mendidik?
too bad…
March 18th, 2008 at 4:14 pm
Saya juga
March 18th, 2008 at 4:37 pm
hehehe.. mas nofie iman ternyata ngga cuma ngurusin bidang ilmu yah. ternyata pembahasannya banyak topik. ati-ati lo mas, ntar riset bengkulu nya terganggu hehehe.
March 18th, 2008 at 11:24 pm
1. saya suka sandra dewi. dia cantik
2. saya gak percaya dia bisa “dibayar”
3. ngulangi pasal 1 :D
March 19th, 2008 at 3:50 pm
saya juga suka sandra, kekeke…
March 20th, 2008 at 7:38 am
Menarik juga kalo baca post-an kayak gini, tp otak uda keburu penuh dengan bayang2 Sandra Dewi untuk baca alinea2 berikutnya :D
March 21st, 2008 at 3:37 am
Mari berpikir realistis.
Suatu tayangan disiarkan terus menerus dengan tema yg itu-itu juga.
Di semua stasiun TV. Tiap hari. Siang-malam.
Pasti karena banyak yang suka dan mengikuti.
Meski hampir semua orang yg anda tanya, merasa jengkel dg sinetron/infotainment, lebih banyak lagi orang yg ternyata suka dan mengikuti sinetron/infotainment.
Who’s to blame?
Produsen? Konsumen?
Inilah sebenarnya potret mayoritas masyarakat Indonesia…hahahaha
March 21st, 2008 at 11:36 am
sumber asli dari tabloidnova.com
Sandra Dewi, Jadi Ketua Geng Motor
Dalam tempo singkat nama Sandra Dewi muncul bak meteor. Media sepertinya tak habis membahas kiprahnya. Berikut kisah hidupnya hingga bisa sukses seperti sekarang.
Nama asliku cukup panjang, Monica Nichole Sandra Dewi Gunawan. Sejak lahir (Pangkal Pinang, 8 Agustus 1993), kata orangtuaku, aku adalah anak pembawa hoki. Ups… bukan bermaksud sombong ya, karena banyak orang yang juga ngomong begitu. Katanya sih, wajahku tuh, tipe yang tersenyum terus. Aku sendiri makin yakin wajahku membawa hoki. Wajahku mungkin semanis cokelat, karena sewaktu mengadung aku, Mami ngidam cokelat. Hahaha.
Sebagai anak pertama, orangtuaku, Papi Andreas Gunawan Basri asal Palembang dan Mami Catharina Erliani asli Bangka sangat sayang dan selalu membangga-banggakan aku. Aku punya dua adik, Kartika Dewi dan Raymond Gunawan. Dengan Kartika umurku cuma berbeda setahun. Hidup kami sederhana, kompak dan akrab satu dengan yang lainnya.
Di hari libur, kami paling banter pergi ke pantai atau ke hutan. Maklum, di Pangkal Pinang tak ada mal. Kami naik vespa bersama Papi dan Mami. Ketika Papi sudah bisa membeli mobil, barulah kami jalan-jalan dengan leluasa enggak berdesakan seperti naik vespa.
Sewaktu kecil, aku enggak ada cantik-cantiknya, malah aku tak punya rambut. Katanya juga sih, aku bayi yang pintar. Enggak rewel. Aku bisa cepat berjalan dan membaca. Sehingga enggak merepotkan. Kalau diajari sesuatu cepat paham.
Karena enggak bikin susah, nenekku dari Jakarta sayang dan senang jika dekat denganku. Sebagai cucu pertama, di usia 3 tahun aku dibawa nenek ke Jakarta. Setelah cukup umur aku masuk sekolah Taman Kanak-kanak di daerah Grogol, Jakarta Barat.
Lantaran selalu dekat dengan nenek, aku memanggilnya Mama. Sampai sekarang panggilan itu aku pakai. Hampir setiap hari, aku diantar jemput dari sekolah oleh nenek. Biasanya sepulang sekolah aku diajak nenek mampir ke pasar Grogol makan soto Betawi. Sampai sekarang aku masih dimanjakan nenek. Saudara-saudaraku bilang aku cucu kesayangan nenek.
Hingga suatu hari, Papi meminta ke nenek agar aku diantar pulang ke Pangkal Pinang. Rupanya Papi khawatir aku tak dekat lagi dengan orangtua dan adik-adiknya. Apalagi aku sudah memanggil nenek dengan sebutan mama. Lucunya, aku sendiri sempat ketakutan akan ditingalkan nenek.
Ceritanya, setelah berpisah dengan aku, nenek sempat sakit dan aku sendiri lebih kurus. Nenek yang kangen sempat meminta ke Papi untuk mengantarkan aku ke Jakarta, tapi tak dituruti. Kata Papi, nanti aku jauh sama keluarga lagi. Akhirnya nenek yang datang lagi ke Pangkal Pinang. Wah, aku senang banget.
Lama terpisah, aku harus mulai beradaptasi dengan keluargaku. Sejak kembali ke rumah aku kerap dipanggil Anak Jakarta. Penampilanku juga gaya dan keren banget, selalu pakai topi yang ada renda-rendanya seperti tokoh di film top waktu itu, Little Missy.
Berkhayal Jadi Artis
Waktu SD, aku termasuk berprestasi. Selain sering dapat rangking bagus, dari kelas 1 sampai kelas 6 aku selalu menjadi ketua kelas. Hanya di kelasku yang ketuanya wanita. Mungkin karena jiwa pemimpin itu, aku selalu membela teman-temanku yang lemah. Di kelas 3 aku sering membawa penggaris besar pada jam istirahat. Fungsinya untuk memukul anak-anak kelas lain yang menggangg teman-teman wanita di kelasku. Galak ya?
Oh, ya salah seorang wali kelasku di SD beberapa waktu lalu sempat ingin memastikan, bahwa Sandra Dewi yang disaksikan di sinetron Cinta Indah adalah bekas muridnya. Wali kelasku hampir tidak percaya, sebab aku dibilang dekil dan hitam. Tomboy lagi.
Sewaktu di sekolah aku adalah anak yang aktif. Segala macam lomba aku ikuti. Dari lomba menyanyi hingga cepat-tepat. Pokoknya aku enggak pernah absen, karena ingin menjadi juara dan menonjol. Aku selalu bermimpi suatu saat nanti aku akan menjadi orang terkenal seperti artis. Kadang, kalau sedang di hutan, aku selalu mendongakkan kepala ke atas, melihat dedaunan sambil berkhayal alangkah indahnya menjadi artis.
Aku sering bermimpi menjadi seorang puteri, seperti di film Aladdin dan Beauty and The Beast. Aku memang suka cerita kartun walt disney. Kalau lagi di Jakarta, aku selalu minta menonton film kartun animasi. Sampai sekarang, lagu A Whole New World, theme song Aladdin selalu menjadi inspirasi dan motivasiku. Kadang di sela-sela syuting, kalau lagi sendiri, aku senang dengerin lagu itu. Tak jarang aku menitikkan air mata. Lamunanku langsung terbang ke masa kecilku yang indah dan sering main di hutan dan pantai.
Hutan dan pantai memang jadi tempat main yang menyenangkan buat aku. Setelah makan dan mengerjakan PR di rumah, biasanya aku bersama teman-teman naik sepeda ke hutan dan naik turun-gunung. Di kelas 5 SD, aku sudah sering hiking.
Selain bermain aku senang makan. Makanan kegemaranku sayur lempa darat, yaitu sayur-sayuran pakai bumbu terasi. Lalu lempa kuning, masakan ikan pakai nenas. Wah, makanku banyak banget jika ada lauk itu. Di sekolah aku juga sering jajan seperti somay, pempek dan bakso. Hebatnya aku bisa habis tiga porsi sekali jajan.
Hobi Belajar di Pohon
Nah, setelah aku mendapat haid, di kelas 6 SD, sifat tomboy-ku mulai berkurang. Aku mulai agak feminin, pakai rok, pakai jepit rambut dan mulai ada jerawat. Aku juga mulai menjaga jarak dengan lawan jenis, sebab sudah mulai malu.
Di SMP aku mulai menajangkan rambut. Aku agak surprise karena kata guruku, aku cantik kalau rambut panjang. Tapi rupanya sifat tomboy-ku tak hilang. Jika dahulu suka bersepeda, kala itu aku gemar bersepeda motor. Pokoknya main terus. Bahkan aku sempat bikin geng motor. Anggotanya 20 perempuan dan 10 pria. Tahu enggak, ketuanya aku. Geng motorku suka jalan-jalan ke pantai atau ke gunung.
Karena sering main, Papi sampai khawatir. Sehingga Papi lebih suka jika teman-temanku bermain di rumah saja. Kebetulan rumahku luas banget, banyak pepohonan. Aku kalau belajar atau mengerjakan PR sering duduk di pohon, seperti burung. Menurutku, mengerjakan PR di atas pohon ada keasyikan tersendiri.
Lantaran hampir setiap hari nangkring di pohon itu, seiring bertambahnya usia, dahannya sampai bengkok lo, menahan beban tubuhku. Saat aku SMA, pohon itu pun tumbang. Kata Mami, itu gara-gara enggak kuat menahan bobot tubuhku. Sudih juga, sih enggak ada tempat nangkring favorit.
Eh, walaupun senang main, prestasiku di sekolah selalu bagus loh. Aku punya ke biasaan bangun jam 2 - 3 pagi untuk belajar hingga jam 6 pagi, lalu mandi, sarapan dan sekolah. Aku merasa enak balajar saat dini hari. Papi sempat khawatir dengan pola belajarku itu, tapi lambat-laun dia maklum. Katanya, aku ambisius.
Sandra Dewi, Mobil Penuh Dagangan
Naluri Sandra Dewi untuk berbisnis tak bisa dibendung. Apapun bisa ia sulap menjadi uang. Sementara, Sang Papi malah tak menyetujui.
Sedari kecil aku hobi makan. Uang jajanku untuk jatah seminggu kadang habis dalam waktu tiga hari. Gara-gara ingin mendapatkan uang jajan lebih, aku selalu berpikir untuk mendapatkan uang sendiri. Seperti ketika duduk di kelas 3 SD, aku membuat amplop dari kertas kado untuk dijual ke teman-teman. Mereka pikir, lucu juga, ya, ada amplop berbunga-bunga.
Lalu, kalau berlibur ke rumah nenek di Jakarta, aku selalu membeli barang untuk dijual di Pangkal Pinang. Makanya sebelum berangkat ke Jakarta, aku ngumpulin uang banyak-banyak. Gara-gara otak bisnisku itu, tabunganku pun banyak. Aku bisa membeli sendiri mainan atau baju terbaru.
Saat duduk di SMP aku buka taman bacaan di rumahku. Kebetulan aku suka membaca buku, dan koleksi bukuku cukup banyak dan lengkap. Daripada buku-buku itu hanya teronggok sia-sia lebih baik disewakan. Satu buku disewakan Rp 50 sampai Rp 100. Modal awalnya meja kursi dan papan tulis. Taman bacaan itu aku konsep seperti taman. Di bawah pohon rindang dan di antara tanaman bunga. Benar-benar taman baca yang menyenangkan. Dengan konsep itu taman bacaanku cukup dikenal orang.
Oh ya, disamping itu aku juga rajin membuat bunga-bunga dari plastik, dan dijual ke teman-teman Mami, teman, dan kerabat dekat.
Sementara menginjak kelas 1 SMU aku lebih suka berbisnis baju dari pada bermain. Aku sering membawa dagangan baju dari teman Mami, untuk dipasarkan ke teman sekolah atau tetangga. Prinsipku, aku ambil untung sedikit agar daganganku cepat habis. Ternyata memang laris. Aku juga melayani jual beli handphone dan pulsa. Dari keuntungannya aku malah bisa beli handphone terbaru.
Undang 2000 Orang
Ketika ulang tahun ke-17 aku mendapat kejutan dan dimanjakan oleh orang-orang dekatku. Nenek merayakannya dengan mewah dan meriah. Bayangkan, di Pangkal Pinang, ulang tahunku dirayakan di gedung dengan mengundang sampai 2000 orang! Kata nenek, sebagai cucu pertama, aku berhak mendapatkan itu.
Tak hanya itu, Papi dan Mami memberi surprise dengan kado sebuah mobil Suzuki Sidekick warna hitam. Semuanya hitam. Mobil itu limited edition di Indonesia. Kata Papi dipesan secara khusus. Semuanya sudah dimodifikasi. Pokoknya mobilku satu-satunya di Pangkal Pinang. Kalau lewat semua orang tahu kalau itu mobilku.
Rupanya Papi diam-diam sudah menyiapkan mobil itu untukku. Ceritanya, sebelumnya aku pernah ngomong ke Papi, enggak serius sih, keren juga kalau punya mobil yang semuanya serba hitam, sampai peleknya juga hitam. Ternyata Papi mewujudkan keinginanku. Aku benar-benar surprise dan bahagia sekali.
Melihat aku berbisnis, sebetulnya Papi menentang. Ya, Papi malu, semua kebutuhanku sudah terpenuhi, kok aku masih bawa-bawa dagangan di mobilku yang hitam itu. Sebab, mobilku penuh barang daganganku. Habis bagaimana, aku suka kok dengan aktivitasku itu. Aku pun berprestasi di sekolah.
Gara-gara kesibukanku berbisnis dan belajar itu, aku enggak sempat berpikir untuk pacaran. Kalau ditannya siapa cinta pertamaku, mungkin dia adalah tetanggaku. Cowok ini jauh lebih tua dariku. Ketika itu, dia sudah meneruskan kuliah di luar negeri, sedangkan aku masih SMP. Sepertinya keren banget kalau ada pria kuliah di luar negeri. Kesannya cakep dan pintar. Aku suka mencuri-curi pandang. Ketika dia pulang ke Pangkal Pinang untuk liburan, aku dan teman-teman sering mondar-mandir di depan rumahnya. Hahaha… Sampai sekarang dia enggak tahu kalau aku naksir dia. Dasar cinta monyet, ya.
Menaklukan Jakarta
Akhirnya tiba waktuku untuk merantau ke Jakarta. Sebetulnya sedih juga, ketika aku dan teman-teman harus berpisah setelah lulus SMU. Kami memang punya cita-cita masing-masing. Ada yang memtuskan untuk kuliah kedokteran ke Pulau Jawa atau kuliah ke luar negeri. Pokoknya saat-saat itu paling menyedihkan.
Aku sendiri ingin kuliah di jurusan Public Relations atau PR di Jakarta. Jauh-jauh hari aku sudah mengutarakan hal itu ke Papi dan Mami, sebab di Pangkal Pinang tak ada jurusan itu. Mereka sempat bertanya mengapa aku memilih jurusan itu. Aku pun menjelaskan, bahwa jurusan itu sangat sesuai dengan minat dan duniaku. Mereka pun mendukung.
Papi mengantarku saat mengikuti tes kuliah di Jakarta pada Agustus 2001. Mulanya aku cukup kaget, sebagai anak daerah melihat orang Jakarta canik-cantik, modis dan bersih. Untung nilai tesku cukup bagus dan aku langsung diterima, jadi enggak perlu balik lagi ke Pangkal Pinang. Selama di Jakarta aku tinggal di rumah paman di daerah Jelambar, Jakarta.
Awal ke kampus aku sempat diantar paman, namun hari berikutnya aku enggak mau ngerepotin. Aku merasa harus belajar naik kendaraan umum sendiri agar mandiri. Agar tak terlambat pagi-pagi jam 6 aku sudah berangkat, tapi aku baru sampai jam 9 alias terlambat, gara-gara salah naik bus. Karena sering salah naik bus aku memilih naik taxi dengan risiko biaya transportasi yang tinggi.
Papi sendiri sempat datang lagi ke Jakarta untuk mengajarkan aku naik kendaraan umum yang benar. Kata Papi, begini risiko tinggal di Jakarta, jika enggak kuat, dipersilahkan kembali ke Pangkal Pinang. Jelas aku tetap mau di Jakarta. Aku membulatkan tekad untuk lebih kuat dan harus bisa.
Tak hanya soal transportasi, di kampus aku juga harus melakukan banyak penyesuaian. Kalau di daerah, teman-teman di kelas kebanyakan diam dan enggak aktif jika tidak mengerti. Jika ditanya ngumpet. Namun di Jakarta aku kaget, melihat betapa teman-temanku aktif bertanya jika enggak ngerti. Lalu berdiskusi. Wow, seru nih. Aku pun memberanikan diri untuk aktif di kelas.
Salah satu jalan supaya aku betah dan kuat di Jakarta adalah berteman dengan banyak orang. Benar juga, lama-lama aku punya teman satu perjalanan. Temanku yang punya mobil selalu ngajakin bareng karena melewati kawasan three in one (semobil harus 3 orang). Kami bertiga selalu bersama pulang dan pergi. Setiap pulang kuliah kami selalu tidak langsung pulang. Kami jalan-jalan ke mal atau cari makan di pinggiran jalan tapi yang enak. Tahu kan aku suka makan.
Lambat laun aku punya sahabat dalam suka dan duka. Pernah kami bandel sengaja tak mengerjakan tugas dari dosen. Kelompok kami malah pergi jalan-jalan ke Plaza Senayan. Sang dosen rupanya melihat kami waktu kami kabur. Akhirnya kami meminta maaf dan esok harinya kami mengerjakan tugas itu dengan sepenuh hati. Mungkin kami bisa lah dapat nilai A, tapi karena bandel, ya dikurangi jadi B.
Teman-teman sangat perhatian terhadap aku. Kadang mereka membawakan aku makanan, membelikan baju, atau apa saja yang menurut mereka bagus untuk aku. Pernah juga aku menginap di rumah teman selama seminggu lantaran rumah pamanku kebanjiran. Aku yang hanya anak perantau sampai tak enak hati membuat mereka susah. Kebaikan mereka memang tulus, dari aku bukan siapa-siapa sampai sekarang. Mereka benar-benar sudah teruji.
Di antara teman wanita, aku sempat dekat dengan seorang pria di kampus. Teman pergi ramai-ramai. Ya, saling ngasih perhatian saja. Enggak pacaran yang serius. Tapi Mami tahu aku lagi dekat dengan pria itu, tapi aku belum kenalkan ke Papi, karena kami enggak serius.
Jujur, aku malah belum pernah merasakan punya pacar beneran. Bagiku, pacar yang sesungguhnya adalah yang membuat aku sudah sreg banget. Nah, kalau itu aku berani memperkenalkan ke Papi. Soalnya Papi melindungi banget anak perempuannya. Jadi aku belum menemukan orang yang tepat.
March 21st, 2008 at 6:06 pm
Yup, sinetron and berita gossip merupakan pembodohan massal, pembodohan generasi. sudah selayaknya dihapuskan dari muka bumi hehe. Ga usah dihapuskan, tp dibuat ga free aja. Jadi kalo mo ntn sinetron, hrs bayar, hrs ntn di subscibed TV channels. Kalo TV yang free, isinya harusnya yg informatif dan bermutu. Tp kyknya susah, kalo ga ada UU yg melindungi bangsa ini dr efek negatif sinetron and berita gossip…..malangnya nasibmu Indonesia…huhuhu
March 21st, 2008 at 6:31 pm
setuju 100% sinetron merupakan pembodohan massal jadi harus di enyahkan dari bumi indonesia ini he..he..jangan di enyahkan sih tp buatlah sinetron yg mendidik generasi bangsa kita ini agar dapat bersaing di jaman globalisasi,harusnya negara kita membuat UU tentang penayangan sinetron jd kira-kira sinetron yang gak mendidik,ya……. jangan di tayangkan.jadi………
“SELAMATKAN GENERASI BANGSA DARI PEMBODOHAN”
March 23rd, 2008 at 2:50 pm
memang beda…sandra dewi dan dewi sandra?
banyak yang kurang kerjaan telaten mengikuti gosip orang² gila ternama…tapi karenanya banyak juga orang jadi kaya :p
March 23rd, 2008 at 8:49 pm
Mau ngadain pemboikotan sinetron??
Ikuuuutt!!
Aku sudah muak banget dgn sinetron skrg. Sama sekali nggak ada yg mendidik. Yg ada malah ngajarin yang nggak bener.
March 24th, 2008 at 8:18 pm
aku setuju dengan pendapat bahwa sinetron adalah pembodahan massal bangsa
sama sekali tidak ada pendidikannya,
kebanyakan ngajarin bagaimana yang belom sepantasnya kepada anak2 kecil walau[un di tambah embel-embel “bimbingan orang tua” sama sekali enggak ada gunanya,
seharusnya pemerintah menetapkan standar penayangan kepada televisi swasta yang banyak menghadirkan sinetron2 yang g mandidik tersebut,
lebih baik TVRI, walaupun jadul tapi isi nya mendidik,,,,
HIDUP TVRI!!!!!!!!!!!
March 26th, 2008 at 4:57 pm
Tau nih dunia TV Indonesia content.nya gak ada yang bener, isinya serba glamour mulu. buat content yang ke-daerahan kek, negara seluas ini koq isi acaranya gaya hidup orang Jakarta terus ..
- atrix -
March 27th, 2008 at 9:15 pm
Betul!!!! sinetron di indonesia kebanyakan sangat tidak mendidik dan membodohi rakyat aja. sedangkan rakyatnya juga suka dibodohi.. karena itu pemerintah harus turun tangan untuk mengatur dan melindungi rakyat agar tidak dibodohi!
March 27th, 2008 at 9:16 pm
tapi untuk Sandra Dewi sebaiknya jangan ikut disalahkan ..karena…….
DIA CAKEP ABIS BOOOOOOOO………………
March 29th, 2008 at 9:14 pm
Se-777777! Coba lihat foto2nya di Indonesian Movie Awards ‘08 ini, Sandra cuakeppp abisss………!
Sandra Dewi_IMA_2008.jpg
April 8th, 2008 at 7:04 am
ayo bersatu pada boikot sinetron dan segala macam IDOL…..bikin rusak generasi muda saja… instant minded..
April 12th, 2008 at 9:17 am
Rekan Admin yang ditodong 200jt buat ketemu Sandra Dewi berarti salah jalur tuh..
Kemarin 11 April 2008 gua bersama 2 orang dari Sandra Dewi Fans Club dinner bareng Sandra… 200 juta boro2… grateeesss… makanya lewat jalur yang bener dunkk..
Daftar account di Facebook, Baca message board tentang registrasi.
http://www.facebook.com/pages/Sandra-Dewi/10334772337
http://www.facebook.com/pages/Sandra-Dewi/10334772337
April 14th, 2008 at 4:52 pm
SINETRON …
PEMBODOHAN MASSAL YANG MENYESATKAN DAN MEMBODOHI MASYARAKAT MENTAH-MENTAH
April 15th, 2008 at 2:51 pm
Gw, setuju buat boikot sinotron…
Tp, terus gw jadi mikir.. Kalo sinetron dihapus, penggantinya apaan ya? Acara politik? Sinchan? atau Berita yang isinya cuma perampokan dan pembunuhan?
Bingung deh…
Perasaan acara TV ga ada yang mendidik deh…
(Kecuali Bola) hehehe….
April 17th, 2008 at 7:33 pm
emang benar kl lihat film sinetron sekarang…. pengen marah habis….. aplg kl nonton cinta fitri, cinta bunga, terus….. film apa tuh yang pemainnya dude dan anak jamal mirdad…. pokoknya hampir semua sinetron….. cerita gokil semua…… perempuannya dikesankan bodoh, tolol, geblek, lemah, doyan ditindas, dianiaya….pkoknya pasrah dan ‘oon. sadar gak sih sipenulis kl dia udh menciptakan mindset yg sangt tdk mencerdaskan. Apa sih misi yang dibawanya? lagian artis2 muda sekrang koq gak bisa milih2 skenario ya……begitu berkuasanya duit sehgg mereka rela melakukan peran apa saja. Wualaaa……
May 2nd, 2008 at 3:18 pm
Itulah cerminan 80 org indonesia. Semua kepingin jadi selebritis, dengan melalui audisi-audisi nyanyi. Apa gak ada audisi-audisi untuk membuat sebuah karya sain, program, robot dsb yang berbau teknik atau teknologi. Masa semua tv isinya audisi nyanyi semua sampe mual mata ini melihatny.
May 19th, 2008 at 5:00 pm
iya, sekarang ini pengen jadi artis bisa mendadak tidak perlu banyak fase perjuangan. Yang penting modal berani, pe-de, dan ikut audisi, menarik (gak harus cantik, lucu, entertain) udah cukup. Apalagi yang punya banyak uang….tinggal ngasih uang segepok, tenar deh.
May 26th, 2008 at 9:50 am
Menurut Saya, Menjadi Artis Film/Sinetron, Ada Kalanya Karena Faktor Ketidak Sengajaan. Artinya Tidak di Rencanakan Sebelumnya. Bisa Saja Kalo Kita Sedang Beraktifitas yang Mungkin Tidak Ada Hubungannya Dengan Dunia Entertain. Misalnya Kita Lagi Jalan-jalan Ke Mall, Tiba-tiba Kita Di Tawari Oleh Produser untuk Main Film/Sinetron dan kita terima tawaran itu, Maka Jadilah Kita di Kenal Publik Lewat Film/sinetron yang kita Bintangi Tersebut.
May 27th, 2008 at 12:13 am
Sebentar toh.. ini yang salah tayangan sinetronnya apa penontonnya..?
Kalau aku fikir yang salah adalah kita sebagai penonton.. tanya kenapa..
Cobalah kita lihat secara kesuluruhan dari tayangan sinetron kita, nggak ada kok pesan yang di sampaikan lewat tayangan yang mengajarkan kita untuk berbuat salah, ndak bener ato di bodohi.
Yang harus di pahami dan di sadari bahwa sinetron adalah sekedar untuk konsumsi Entertain / hiburan kita saja, bukan pembelajaran.. tidak lebih. Kalau mau tontonan bermutu ganti aja channel anda ke saluran yang lain yang memang menekankan pengetahuan seperti Discovery channel atau semacamnya.
Ibarat kita masuk ke sebuah restaurant, maka kita akan mendapati berbagai macam menu. pertanyaanya kenapa pemilik restauran tsb kok tidak membuat satu macam menu saja, pecel lele saja misalnya… Sebab pemilik restauran tsb paham bahwa orang yang masuk ke restaurannya mempunyai keinginan yang berbeda. Ada yang suka makan pecel lele seperti saya, ada yang suka semur jengkol seperti teman saya atau bahkan ada yang suka makan spaghetti bolognesse seperti anda misalnya.
Dalam dunia pertelevisian pun begitu, ada 20 ch (atau mungkin lebih) tersedia dalam genggaman kita melalui remote control. Dimana masing2 stasiun televisi menyajikan acara yang berbeda-beda, pilihan ada di tangan kita.. kita tinggal klik dan muncul deh tayangan yang kita mau. Ya kalau kita ndak suka ya sudah.. ganti aja ke channel yang lain, atau kalau semua channel kebetulan acaranya nggak bagus menurut kita ya sudah.. switch off aja dan pindah ke meja kerja tancepin speedy booting PC terus buka blognya mas Nofie.. beres dah.. !!
Kembali ke sinetron yang di anggap sebagai pembodohan massal, saya kurang setuju sebab tidak semua pesan moral yang sampaikan lewat tayangan itu kurang mendidik. Coba lihat sinetronnya Deddy Miswar ; “Kiamat Sudah Dekat”, “Para Pencari Tuhan” atau serial “Keluarga Cemara”.. semua ceritanya bagus dan mendidik, selalu ada pesan moral positif yang di sampaikan.
Intinya, cobalah kita melihat sesuatu jangan dari sisi negatif-nya saja tapi coba lihat dari sisi baiknya juga, think out of the box gitu deh..
Biarkan mereka berkarya, hargai mereka sebab mereka telah berbuat sesuatu buat negeri ini. Jika mas Nofie membangun negeri ini lewat tulisan-tulisan yang berbasis science itu karena mas Nofie memang ahli di bidang itu. Lha coba kalau saya di suruh bikin tulisan seperti yang mas Nofie lakukan, nggak bakalan ada yang mau membaca tulisan saya, bisa-bisa yang ada malah seperti yang di contohkan mas Nofie (dalam tulisannya yg lain) yaitu Denzel Washington atau Tom Hanks di suruh berperan kayak Jim Carry.. ndak match khan..
Pesan sponsor:
1. Selalu positive thinking
2. Think out of the box
3. Hargai karya orang lain (karena belum tentu kita bisa berkarya kaya’ mereka)
4. Selalu obyektif dalam menilai, jangan subyektif
Maka.. Waspadalah..waspadalah,, (cuplikan pesan bang Napi pada akhir sesi tayangan kriminal di SCTV)
Tetap Semangat.
June 26th, 2008 at 11:48 am
emang top tuh sandra dewi