Memahami Blog Moats
March 8th, 2008 | Technology
Saat sekarang, bikin blog bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena membuat blog begitu praktis dan instan. Tak punya keahlian teknis? Tak perlu kuatir, karena blog makin user-friendly. Tak punya domain dan hosting sendiri? Tak perlu repot—-Wordpress, Blogger, Multiply, Friendster, Blogsome, Blogdetik, DagDigDug, dan seribu satu penyedia layanan blog bisa menawarkannya dalam sekejap.
Maka tak perlu heran bila sampai saat ini, pertumbuhan blog luar biasa besarnya. Dari orang yang tak punya nama, sampai public figure yang dipuja sejuta pria. Dari bapak menteri sampai promotor musik. Even monkey can write a blog. Dan mungkin tinggal menyisakan Roy Suryo saja yang belum memutuskan untuk ngeblog—-at least sampai tulisan ini diturunkan.
Tapi bagian tersulitnya adalah menjaga supaya blog tetap mengepul sepanjang hari. Logikanya sederhana. Di satu sisi, jumlah blog meningkat berkali lipat. Tapi di sisi lain, pembacanya bertumbuh stabil dan cenderung itu-itu saja. Dalam bahasa ekonomi, supply dan demand menjadi tidak seimbang. Setiap blog harus berjuang lebih keras untuk merebutkan (calon) pembaca yang jumlahnya relatif stagnan. Persaingan sengit? Sudah pasti.
Dalam mengelola perusahaan, Warren Buffett memilih bisnis yang memiliki economic moats lebar. Economic moats bisa diartikan sebagai keunggulan kompetitif yang sulit untuk ditiru oleh pesaing. Akibatnya, perusahaan tersebut bisa mengambil marjin keuntungan yang lebih besar daripada kompetitornya. Dalam jangka panjang, perusahaan semacam inilah yang bisa tetap bertahan dan membukukan keuntungan—-walaupun persaingan makin ketat dan biaya-biaya naik tinggi.
Kenapa dinamai moat (parit)? Buffett menganggap bisnis seperti benteng atau kastil di jaman kuno. Di dalamnya, memang terdapat lusinan ketapel, puluhan pleton pemanah maupun ratusan ksatria berkuda. Namun, benteng yang punya parit lebar lebih sulit ditembus—-karena sebelum musuh berhasil mendekat, mereka harus melewati parit yang lebar dan dalam terlebih dahulu.
Saya coba meniru konsep tersebut untuk blog. Blog—-sedikit banyak—-bisa dianalogikan sebagai sebuah bisnis. Ia perlu moat untuk melindungi dirinya dari pesaing-pesaing lain. Dan seperti yang difatwakan Buffett, moat bisa berupa brand, cost, switching, maupun protection.

Brand
Kebanyakan orang, ketika menyebut minuman ringan (soft drink) akan selalu teringat Coca-Cola. Ketika disebutkan motor besar (moge), mereka akan selalu teringat Harley Davidson. Memang benar, minuman ringan tak melulu Coca-Cola dan motor besar juga tak cuma Harley Davidson. Tapi, itulah kekuatan merk.
Ketika orang menyebut blog Anda, Anda ingin diingat dan dipersepsikan sebagai apa? Bisakah menyebutkan satu-dua kata saja yang bisa mewakili keseluruhan blog Anda? Awal mula saya membuat blog ini, saya ingin dipersepsikan sebagai blog bisnis dan keuangan. Tapi seperti yang Anda tebak, saya masih gagal membangun brand ini. :)
Cost
Intinya adalah bagaimana membuat aktivitas blogging menjadi cost-effective dan cost-efficient. Cost di sini tak melulu harus berarti uang atau materi—-melainkan bisa juga waktu, tenaga, pengorbanan, dan lainnya. Tujuan utamanya adalah bagaimana supaya Anda bisa menulis, membaca, me-maintain, atau blogwalking dengan usaha (effort) yang sesedikit mungkin.
Tentu saja ada cukup banyak cara yang bisa dicoba. Misalnya, gunakan blog engine yang reliable sehingga tidak merepotkan Anda dengan bugs yang mengharuskan Anda selalu melakukan update. Atau hindari penyedia hosting yang bermasalah sehingga Anda harus membuat backup secara berkala. Atau, kalau sedang ingin membaca banyak blog dalam sekejap, mungkin lebih baik bila memberdayakan feed reader.
Cara lain, kalau Anda sedang banjir ide, Anda bisa menulis banyak draft yang bisa Anda posting manakala Anda sedang krisis ide. Kalau Anda suka menulis—-entah itu di koran, majalah, buku, presentasi, publikasi ilmiah, bahkan membuat tugas kuliah atau menulis diary—-mungkin bisa sedikit Anda gubah sehingga cukup layak untuk ditampilkan di blog. Dengan begini, Anda bisa menghemat banyak waktu dan tenaga untuk menjaga blog Anda tetap hidup.
Switching
Apakah Microsoft Windows adalah sistem operasi terbaik? Apakah Microsoft Office merupakan aplikasi perkantoran terhandal? Belum tentu. Namun, penetrasi dan penguasaan pasar yang begitu dominan membuat pengguna produk Microsoft sulit (enggan) untuk berpindah (switch) ke produk lain.
Begitu juga dengan blog. Anda bisa melakukan banyak cara untuk “mengunci” pengunjung blog Anda agar tidak berpaling ke blog lain. Misalnya, Anda bisa menyambut dengan hangat pengunjung blog Anda sehingga mereka merasa seperti di rumah blog sendiri. Selalu berikan jawaban dengan segera bila ada yang mengajukan pertanyaan. Berikan sesuatu yang bermanfaat (usable) dan bernilai (valuable) buat orang lain—-yang tidak bisa mereka temukan di blog lain.
Protection
Rasanya, sama seperti di dunia nyata, orang-orang di dunia maya punya kecenderungan untuk membuat keterkaitan dan perikatan sosial dengan sesamanya. Apabila Anda dan pengunjung blog Anda sama-sama berasal dari daerah A, atau, Anda dan pengunjung blog Anda sama-sama mahasiswa di universitas B, tentu akan lebih “klik” dibandingkan dengan bila Anda dan pengunjung Anda tak punya kesamaan yang saling terhubung.
Ada banyak variabel yang bisa Anda buat perikatan; mulai dari gender, agama, latar belakang pendidikan, unsur etnis/kedaerahan, pekerjaan, hobi, dan masih banyak lagi. Yang terpenting, cari dan temukan jejaring yang tepat bagi blog Anda. Mereka akan memberikan protection bagi blog Anda dalam jangka panjang.
Tentu saja, blog moats di atas tidak abadi selamanya (last forever). Secara berkala, Anda tentu perlu membuat perubahan, melakukan perbaikan, menambah ini atau mengurangi itu, dan sebagainya. Yang terpenting, blog moats Anda harus tetap lebar dan sulit untuk diseberangi oleh blog lain.
Dan sedikit disclaimer dari saya. Ulasan di atas masih berupa teori yang belum berhasil saya buktikan 100% keampuhannya. Anda boleh saja untuk percaya dan mempraktekkan tips di atas. Tapi, kalau Anda tidak yakin, sah-sah saja Anda membuat bantahan.
Toh, seperti kata Roy Suryo, blogger itu tukang tipu. :)
Comments
March 8th, 2008 at 8:30 am
Masak Roy Suryo dibandingkan ‘ monkey’ …? he he
March 8th, 2008 at 10:22 am
Haha… bener banget mas. Bikin blog jaman sekarang memang “susah”, saking sudah sedemikian banyaknya. Dan saya setuju, mungkin cuma tinggal RS saja yang belum ngeblog. hehehe… :D
March 8th, 2008 at 8:30 pm
untuk di Indonesia, blog juga bisa berarti komunitas banget, mirip kayak milis jadinya hehehe
March 8th, 2008 at 8:47 pm
Yah, kalau tidak manjur 100% , minimal 68% sampean tepat..!
:lol:
March 9th, 2008 at 2:04 pm
Problemnya, di tanah air mayoritas blog isinya masih gado-gado, tidak spesifik dan tak konsisten.
Saya percaya — mesti mungkin salah — perkembangan kualitas blog di tanah air akan kian baik jika lebih banyak blog yang spesifik (niche) dan dikelola dengan konsistensi tinggi — entah itu tentang blog otomotif, sepakbola, gadget, atau tentang kopi.
Kalau kita lihat Technorati100, maka hampir semuanya memiliki brand yang kuat untuk satu bidang tertentu (spesifik) — entah itu Gizmodo, Autoblog, Problogger, Zenhabit, SethGodin, dll, dll.
Di tanah air, mungkin kita bisa menyebut Cosaaranda.com atau virtual.co.id/blog sebagai contoh blog spesifik yang baik dan dikelola dengan konsistensi tinggi.
Tanpa ketekunan dan kompetensi untuk membangun blog yang kokoh dalam satu tema spesifik yang dikuasainya, sebuah blog hanya akan tergelincir dalam “mediocre talks on many-many things”. Dan dengan itu, sorry to say, komentar sinis macam Pak Roy Suryo memiliki keabsahan untuk terus muncul.
March 9th, 2008 at 5:07 pm
justru yang gado-gado itu brand indonesia … :P tinggal mematangkan brand itu menjadi selevel coca cola
March 10th, 2008 at 8:43 am
hehehe..
saya fikir juga jangan lupa tentang tujuan memiliki blog
kalau toh memang blog diposisikan sebagai sebuah “produk” yang kita punya kebutuhan untuk menjaga “costumer”nya, saya sepakat dengan mas nofie
tapi toh orang memiliki banyak alasan untuk ngeblog. mulai dari sekedar menulis, sekedar berbagi, dll.
salah?
saya fikir, selama tujuan atas sebuah tidakan jelas, dan tercapai, sah sah saja :)
March 18th, 2008 at 1:18 pm
Sebenernya kayak ABN itu sudah segmented.. hanya saja tidak ada yang mampu berdiri sendiri.. misalnya terkenal karena berita musiknya ato berita teknologinya..
March 26th, 2008 at 5:06 pm
Yup, ini benar adanya, cara nya agar content blog tetep ada (baik penambahan rutin, atau balasan komentar pengunjung) ini saja belum cukup untuk membangun awareness blog lho.
Catch phrase-key, seperti content submision, search crawl optimzation via google dan yahoo, link exchange dengan blogger lain salah satu usaha dari sekian banyak trik agar blog kita survive. Namun seperti tren mode, trik2 ini juga tidak selalu bertahan lama, dan kreatifitas kita lebih penting dalam sosialisasi blog.
- atrix -
June 22nd, 2008 at 11:45 am
itu tugas para blogger gimana supaya ngeblog itu lebih menyenangkan
January 29th, 2009 at 4:33 am
I thought you might know this: All books that you’re about to buy – from amazon, etc. are protected with a thing called ADOBE DRM security
i got the same problem (that’s why when i saw the threat today i felt you needed help) and when i sent to my friend as a private email, he said that was impossible to open the file.
Luckly, this friend got another friend who sent this message to him: To remove DRM from a PDF file, open it in GSView convert it to a PDF (yes, the same format). The new PDF looks exactly like the original but without DRM. This takes 2 or 4 minutes time.
From an anonymous source, dated July 2005: Removing security on Amazon purchased e-books (should work on others with same security).
To remove the security restrictions from Amazon e-books you need the following tools Acrobat professional 6 (7 does not work) Any hex editor (I use 010 Editor)
After you download you book place a copy in a folder so that you do not damage the orginal file.
Open the PDF in the hex editor and do a search for the term print
The result will be something like the following
0
Change any of the 0 to a 1 or 1 to a 0 (change a 0 to a 1 or a 1 to a 0) and you should have something like this
0
Save the file
Open the same file in Acrobat Pro (you may get a flash of a box saying it is rebuilding it but ignore this)
Go to security and select the display the security setting dialogue. (you should see that many of the setting probably say not allowed) and in the security method (which should say ADOBE DRM) change to NO SECURITY
This will Bring up a box which asks Are you sure you want to remove the security from this document?’ Press OK. Then OK again.
All the settings should now change to ALLOWED but you must do the following steps to get a document you can transfer or share (Do not hit print or anything else or the restrictions will return)
Go to Document, Pages, Extract (Making sure you are on the first page of the document) and a security box will come up with the following Pages extracted from a secure file will lose there security settings: Is it OK to continue?’ Press ok
You only then need to extract all the pages and the resulting file is free of security.
Then go to File, Save As and save the document which will be the name of the document you opened with Pages from at the front. Congratulations you now have a document free of security restrictions.