Abu Panas dari Amerika

April 2nd, 2008 | Economics

Amerika—-kalau boleh saya ibaratkan—-seperti Emak-nya Bajuri. Emak sebenarnya tak punya apa-apa, kecuali akal licik dan gertakan yang bisa bikin setiap orang kalang-kabut. Ketika Emak bikin ulah, satu kampung pasti kena abu panasnya. Itu juga yang kurang-lebih terjadi pada Amerika dan perekonomian dunia saat sekarang.

Resesi di Amerika nampaknya masih akan terus berlanjut. Setelah gonjang-ganjing subprime mortgage, JP Morgan dan The Fed kembali harus nombokin Bear Sterns. Belum lagi harga minyak dunia yang tak terkendali dan pelemahan nilai USD terhadap EUR makin memerparah perekonomian Amerika. Namun hal yang sebenarnya membuat resesi berkepanjangan adalah defisit anggaran yang membuat tekanan kebijakan fiskal dan stabilitas ekonomi mereka.

Sewaktu PD II, Inggris hanya punya sedikit emas dan uang untuk membiayai perang selama beberapa bulan ke depan. Mereka kemudian meminta Amerika untuk membantu pembiayaan perang. Hal ini dianggap sebagai titik akhir kedigdayaan Inggris yang sebelumnya selalu mendominasi percaturan di tingkat dunia.

Hal serupa kurang-lebih terjadi juga pada Amerika. Saat ini, Amerika membiayai “perang” mereka melalui penerbitan surat utang (treasury bonds) yang mayoritas dibeli oleh China dan Jepang. Belakangan, para emir ikut-ikutan memborong karena kelebihan kas akibat naiknya harga minyak. Sejarah terus berulang. Barangkali inilah titik kulminasi kejayaan Amerika? Wallau ‘alam.

Tahun ini, pemerintah federal menderita defisit US$ 410 miliar dengan saving rate yang hampir nol. Itu artinya, mereka tak cuma tergantung pada orang lain untuk membiayai perang, tetapi juga menggantungkan orang lain untuk memenuhi belanja dalam negerinya sendiri. Boleh jadi, sebagian gaji yang diterima Presiden Bush dan stafnya, dibayar dengan JPY dan RMB.

Selama ini, kekayaan Amerika lari ke Iraq dan Afghanistan—-kira-kira sekitar US$ 500 miliar. Itu belum termasuk biaya-biaya lain seperti penggantian peralatan yang rusak, menafkahi veteran perang, biaya bunga yang musti dibayar, dan opportunity cost atas GDP yang dialokasikan ke pos perang. Kalau ditotal, konon biayanya sebesar US$ 3 triliun, namun laporan GAO menyebutkan utang Amerika sebenarnya sekitar US$ 53 triliun per 30 September 2007.

Noam Chomsky bilang bahwa pemerintahan Amerika berpikir bahwa negaranya bisa menguasai dunia. Padahal, masa depan Amerika bergantung pada kemurahan hati negara-negara kreditur. Tahun 2007, impor Amerika sudah 14% dari GDP sementara produksinya hanya 12%. Namun, dengan kondisi perekonomian dalam negeri yang carut marut dan kebijakan yang semrawut, mana ada sih yang mau memberi Amerika utang?

Per Maret 2008, 1 CHF sudah di atas 1 USD, padahal di tahun 1970 1 USD sama dengan 4,2 CHF. Saat itu, 1 USD sama dengan 360 JPY, sekarang 1 USD kurang dari 100 JPY. Saat Bush terpilih, 1 EUR setara dengan 0.94 USD dan harga emas cuma US$ 266 per ons. Saat ini, 1 EUR sudah sekitar 1.5 USD dan harga emas sudah naik di atas US$ 1,000. Artinya, Amerika tak lagi mendapat kepercayaan di mata dunia.

Ronald Reagan, di masanya, sudah memerkirakan kemungkinan semacam ini akan terjadi. Saat itu, negara industri baru berkembang sementara ekspor Amerika malah kian menyusut karena tiap negara sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Di sisi lain, biaya tenaga kerja makin meningkat sehingga Amerika sendiri justru mengimpor talenta dari negara lain atau melakukan outsourcing dan relokasi agar tetap kompetitif. Pada akhirnya, golongan aristokrat di Amerika kian bertambah dan justru tidak memiliki kontribusi produksi secara langsung.

Lebih parah lagi, mayoritas warga menengah Amerika terbiasa menggunakan utang dan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan mendasar seperti sandang, pangan, dan papan. Padahal sejatinya, pinjaman seharusnya digunakan untuk kegiatan yang produktif atau investasi sehingga mendapatkan nilai tambah—-bukan untuk konsumsi. Orang Amerika sendiri rata-rata menabung di bawah 2%, dibandingkan Asia yang 20% per bulan. Jam kerja mereka juga jauh lebih rendah daripada saudaranya di Asia.

Entah apa yang ada di benak George W. Bush saat ini. Saya cuma berdoa semoga masalah-masalah yang mendera Amerika bisa memberikan sedikit angin segar bagi mereka yang ada di Palestina, Iraq, Afghanistan, Iran, dan negara-negara dunia ketiga lainnya.

Amiin.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. satria

    Perumpamaan yang sangat cerdas Amrik = emak si bajuri. 1000% sepedapat denagn anda

  2. Hedi

    sebenernya penurunan performa ekonomi AS udah banyak diprediksi orang dari sekitar 10 tahun belakangan. salah satu yang bikin ekonomi mereka meradang adalah besarnya anggaran untuk angkatan bersenjata…

    repotnya, AS masih jadi standarisasi indikator perekonomian dunia, mudah2an karena udah keseringan maka ada solusi buat berpaling…bisa ga ya? :D

  3. Fadli Reza

    hmm.. apa yang terjadi kalau amerika bangkrut ? apakah ekonomi dan analis kita akan ikut-ikutan panik ?

  4. snydez

    efek abu itu cuma ke negara negara yang bergantung ke amerika (kaya’ negara kita) doang ya?

  5. Wisa

    mohon ditambahkan paragraf mengenai dampak resesi amerika terhadap investasi dan prospek ke depannya. memang sudah ada beberapa tulisan mengenai itu di media massa, tapi saya pengen tahu pendapat anda. terima kasih.

  6. ~Mas Kopdang~

    Tapi kreditur pun tergantung pada Amerika Mas..
    kalau hutangnya kecil, kreditur bisa menekan..
    tapi karena saking besarnya, kreditur pun ikut pusing kalau debitur kena masalah..

    bukan begitu?
    seperti sampean kalau ngutangin saya cuma sejuta..gak bayar ya gak masalah..
    tapi kalau sampe lebih dari 100 juta, apa sampean gak pusing kalau saya tiba-tiba bangkrut dan uang sampean terancam tidak kembali..

    semenjak 80-an, global imbalances memang melanda mereka..
    namun itulah amerika..
    justru utang dijadikan kekuatan politiknya..

    siapa sih yang ndak tergiur membeli T-bond mereka…??
    tetap saja kan..

  7. toim

    moga2 aja efeknya gak terlalu mengena bgt ke perekonomian Indonesia yg udah rapuh ini :(

  8. toip

    paling apes itu negara2 berkembang dan paling pahit pasti juga menghantam negar2 miskin……apalagi indonesia..efeknya langsung terasa…macam kita nenggak vodka rusia…langsung on dalam jangka waktu gak lama..percaya deh…

  9. toing

    ah sok tau lu… teori ekonomi kok didasari ketidak sukaan, en kebencian kpd negara tertentu. asal tau aja, kalo sampai amrik ambruk, jepang bakal ambruk krn >50%ekspor terbesar ke amrik utara, indo pasti sdh mati duluan krn barang ekspor indo ke neg lain dipake sbg raw material/re-expor ke us… apalagi 25% exp indo langsung ke amrik, pa gak matek. dampak lain, brg re-export dr amrik/zona dollar bakal menyerbu indo dgn hrg murah, pa gak matik tuh…

  10. looking 4 the truth

    pak nofie, saya baca sekilas artikel dari pak yanuar rizky bahwasanya amerika masih mendapatkan keuntungan dari krisis ini, dan negara kita lah yang sebenarnya dirugikan, agak kontradiksi dengan artikel anda.
    jadi kira-kira mana yang benar yaa? (atau saya yang kurang teliti membacanya? :-/ )

  11. Bernanke

    sudah saatnya mata uang dunia diganti pake euro

  12. alkaff

    bukannya mata uang dunia diganti dengan dinar emas dan dirham perak,bos…
    kayaknya itu yg paling stabil tuh…

  13. pandi merdeka

    wah ikut doain juga deh om :D

    @ toing
    slow dong luuu :P

  14. Ferdi

    Menurut saya, Indonesia bisa mengurangi terkenanya imbas dari kacaunya perekonomian global, yaitu kurangi ketergantungan kita kepada Amerika.

    Ekspor kita kebanyakan raw-material –> perlu dikurangi, sebab keuntungan barang baku lebih kecil daripada barang jadi…

    Impor kita kebanyakan produk jadi dari luar negeri –> perlu dikurangi, caranya kita harus bisa produksi sendiri dan dijual utk bangsa lain…Bisa Tidak Bisa, Harus Bisa Bikin Sendiri…

    Ketahanan pangan –> wajib hukumnya, sebab Indonesia tanahnya sangat luas dan banyak yg kosong. Kenapa ga dimanfaakan??? Kalo bangsa sendiri ga bisa manfaatkan, pasti dimanfaatkan oleh bangsa lain. Contoh : tanah-tanah suku Betawi sudah dikuasai oleh suku-suku non-Betawi…

    Perdagangan –> penting sekali, sebab kalo ga jago berdagang pasti Miskin jadinya. Dalam berdagang, perlu tahu ttg apa itu Uang. Mereka yg Kaya adalah mereka yg mengerti ttg Uang…

  15. partisimon

    @ Mas kopdang. He..he… pendapat mas kayaknya masuk akal. Soalnya kadang dalam kehidupan sehari-hari aja yang ngutang lebih galak daripada yang memberi utang ….:)

  16. masQ

    US$ melemah terhadap EUR
    US$ melemah terhadap CHF
    US$ melemah terhadap JPY
    IDR melemah terhadap semuanya

    gimana neh bro??

  17. Ibud

    Mas Nofie tolong dibahas juga tentang meningkat tajamnya harga berbagai komoditas terutama yang berkaitan dengan pangan, karena saya amati pemerintah sudah sangat kewalahan menanggulangi, apakah juga terkait dengan permainan spekulan di bursa2 komoditas internasional?

  18. Dino

    Saya lihat malah krisis di Amerika ini sebagai hal yang baik buat Amerika bukan hal yang jelek. Amerika memang terlalu banyak hutang memang benar, tapi bukan karena harus, tapi karena ingin. Sekarang orang Amrik jadi sadar untuk lebih mengurangi impor dan mulai menabung. Selain itu produk Amrik jadi lebih murah, dan menurut data, ekspor akhir2 ini meningkat.
    Apakah Amrik bakal kelaparan kalo tidak dihutangi negara lain? tidak sama sekali. Yang berkurang dari Amerika kalo tidak ada negara yang mau menghutangi adalah konsumsi barang2 mewah. Dan itu bagus untuk suatu wake-up call buat orang Amrik.
    Perlu diingat juga bahwa Amrik hutang dengan mata uang dolar amrik. Berbeda dengan Indonesia yang hutangnya pake dolar tapi nyari nafkahnya pake rupiah.
    Banyak yang bilang bahwa di masa depan, Amerika tidak akan seenak di masa jayanya tapi bukan berarti Amerika akan jadi jatuh miskin, hanya Amerika tidak bisa berfoya-foya lagi seperti dulu. Dengan adanya globalisasi, kekayaan akan semakin merata bagi negara yang mau bekerja keras.
    Menurut saya, sangat sulit bagi negara yang fondasi ekonomi-nya sangat bagus seperti Amerika untuk tiba-tiba hancur.

  19. indra

    kehancuran Amrik adalah bukti kebesaran Allah SWT. Allahu Akbar…..

  20. antoina

    Jawaban Bp.Indra adalah simple tapi tegas.setuju banget.

  21. sandra

    Sekilas Tentang Kebijakan Publik AS

    1. AS berada pada peringkat ke-49 di dunia dalam bidang buta huruf, (The New York Times, 12 Desember 2004). Ini berarti, belum semua warga AS bisa membaca.
    2. AS menempati posisi ke-28 dari 40 negara di dunia dalam bidang buta matematika, (The New York Times, 12 Desember 2004). Ini berarti, banyak warga AS yang tidak suka pelajaran matematika.
    3. Sepertiga jumlah guru science dan 1,5 jumlah guru matematika di AS memiliki latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan pekerjaannya, (dikutip dari The West Wing).
    4. Sebanyak 20% penduduk AS mengira bahwa matahari mengelilingi bumi, (The Week, 7 Januari 2005).
    5. The International Adult Literacy Survey menemukan bahwa orang Amerika yang mengenyam pendidikan kurang dari 9 tahun, sebenarnya, mendapat nilai lebih buruk daripada orang yang berpendidikan sama di negara-negara lain, (Jeremy Rifkin, The European Dream: How Europe’s Vision of the Future Is Quietly Eclipsing the American Dream, hlm. 78).
    6. Para buruh Amerika sangat bodoh, dan banyak kekurangan kemampuan dasar, sehingga perbisnisan Amerika menghabiskan uang sebesar 30 milyar dollar per tahun untuk pelatihan perbaikan kemampuan buruh, (The New York Times, 12 Desember 2004).
    7. Uni Eropa mengalahkan AS dalam mencetak lulusan teknik mesin; pembiayaan riset dan perkembangan masyarakat; dan peningkatan modal baru, (Jeremy Rifkin, hlm. 70).
    8. Eropa “menyalip” AS di pertengahan 1990-an sebagai produsen literatur ilmu pengetahuan terbesar, (Jeremy Rifkin, hlm. 70).
    9. Kongres memangkas dana untuk the National Science Foundation. Yayasan ini mengumumkan bahwa proyek penelitian menjadi menurun, (The New York Times, 21 Desember 2004).
    10. Permohonan belajar di universitas-universitas AS bagi warga asing menurun 28% tahun 2004. Pendaftaran pelajar asing di semua tingkatan mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam masa 3 dekade, (The New York Times, 21 Desember 2004).
    11. Menurut WHO, AS mendapat ranking ke-37 dalam hal pelaksanaan kesehatan menyeluruh, dan ranking ke-54 dalam hal kelayakan perawatan kesehatan. Ironisnya, kucuran dana per kapita untuk perawatan kesehatan di AS ternyata lebih besar daripada di negara-negara lain di dunia, (Jeremy Rifkin, hlm. 79-80).
    12. AS adalah negara maju yang tidak menyediakan perawatan kesehatan bagi seluruh warganegaranya, (Jeremy Rifkin, hlm. 80).
    13. Kurangnya jumlah jaminan asuransi kesehatan mengakibatkan 18.000 warga AS meninggal setiap tahun (enam kali lipat lebih banyak daripada jumlah korban 11 September 2001), (The New York Times, 12 Januari 2005).
    14. Sebanyak 12 juta keluarga Amerika – lebih dari 10% dari seluruh rumah tangga di AS – “terus berjuang, dan tidak selalu berhasil untuk saling menafkahi anggota keluarga”. Keluarga yang “memiliki anggota keluarganya kelaparan pada waktu tertentu di tahun 2003” berjumlah 3,9 juta jiwa, (The New York Times, 22 November 2004).
    15. AS berada pada posisi ke-41 di dunia dalam hal kematian bayi. Sementara itu, Cuba (bukan negara maju) menduduki posisi di atas AS, (The New York Times, 12 Januari 2005). Ini berarti, Cuba lebih baik daripada AS dalam hal kesehatan dan keselamatan bayi saat melahirkan.
    16. Kaum perempuan AS yang meninggal saat melahirkan berjumlah 70% lebih banyak daripada di Eropa, (The New York Times, 12 Januari 2005).
    17. Penyebab utama kematian para wanita hamil di AS adalah pembunuhan, (CNN, 14 Desember 2004).
    Tahun lalu, 3.600.000 warga Amerika kehabisan asuransi pengangguran; 1,8 juta pekerja menjadi pengangguran dalam waktu lebih dari 6 bulan, (The New York Times, 9 Januari 2005).
    Tahun lalu, Brasil merebut gelar produsen daging sapi terbesar dunia dari tangan AS, (The New York Times, 12 Desember 2004).
    18. Sampai akhir Juni, AS lebih banyak mengimpor makanan daripada mengekspornya, (The New York Times, 12 Desember 2004).
    19. Sekarang, orang Amerika lebih banyak menghabiskan uang mereka di meja judi daripada untuk nonton film, membeli video, DVD musik, dan buku, (Jeremy Rifkin, hlm. 28).
    20. Satu dari empat orang Amerika (yakin) bahwa penggunaan kekerasan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, adalah wajar, (Jeremy Rifkin, hlm. 32), (dikutip dari Michael Ventura, No. 1?, http://www.austinchronicle.com/issues/dispatch/2005-01-21/cols_ventura.html).

Looking forward to hear your thoughts.