Apalah Arti Sebuah Nama
April 28th, 2008 | EducationDulu saya sempat penasaran soal pemberian nama di depan gelar seorang professor. Misalnya, Michael Porter punya gelar “Bishop William Lawrence University Professor” atau Philip Kotler yang digelari “S. C. Johnson & Son Professor of International Marketing“. Apa sih yang dimaksud dengan “Bishop William Lawrence” atau “S. C. Johnson & Son” itu?
Setelah saya tanya ke orang-orang yang memang bergelut di bidang itu, gelar semacam itu disebut dengan istilah named chair, endowed chair, atau professorship. Nama tersebut diberikan oleh individu, perusahaan, atau penggalangan dana yang memberi donasi kepada universitas. Dana (endowment) tersebut kemudian digunakan untuk kepentingan seperti membiayai operasional universitas, memerbaiki rasio dosen-mahasiswa, mendanai riset, sampai untuk kegiatan pemasaran dan membajak professor-professor baru.
Konon, pemberian gelar tersebut diawali dari Inggris sejak beberapa abad yang lalu. Ratu Margaret, Raja Henry VIII, hingga penguasa sesudahnya biasa memberikan hadiah kepada Universitas Oxford dan Cambridge. Sebagai kontraprestasinya, nama mereka diabadikan dalam bentuk professorship. Kabarnya, sekarang diperlukan dana sekitar US$1-3 juta untuk itu—-namun di state universities bisa lebih murah.
Tentu saja tidak semua staf pengajar bisa mendapatkan gelar tersebut karena hanya diberikan pada orang-orang tertentu yang dihormati dan dipandang memberikan banyak kontribusi kepada universitas atau departemennya. Di Harvard misalnya, hanya belasan professor yang mendapatkan dari ratusan professor yang ada di sana.
The [Insert Your Name] School of Business
Soal nama-menamai memang tak cuma berhenti sampai di sini. Yang paling besar mungkin University of Michigan. Tahun 2004 lalu, Stephen M. Ross, alumni undergraduate accounting tahun 1962 yang kini menjadi pengusaha real estate sukses, menyumbang $100 juta kepada almamaternya. Sebagai imbalannya, Michigan diubah namanya menjadi Stephen M. Ross School of Business, University of Michigan. Dana itu sendiri sekitar $75 juta digunakan untuk memperbaiki fasilitas sekolah sementara sisanya disimpan dalam bentuk endowment yang kini berjumlah lebih dari $300 juta.
Contoh lainnya, Wharton School of Business, University of Pennsylvania, yang mengadopsi nama pengusaha metal kenamaan Joseph Wharton yang memberikan donasi sebesar $100 ribu pada tahun 1881. Massachusetts Institute of Technology, Sloan School of Management, juga diadopsi dari nama pendiri General Motors, Alfred P. Sloan, yang kebetulan merupakan lulusan electrical engineering (graduate) dari MIT tahun 1892. Ia memberikan donasi sekitar $5,25 juta pada tahun 1950 kepada almamaternya.
Northwestern University, Kellogg School of Management juga mendapatkan donasi $10 juta pada tahun 1979 dari John L. Kellog, mantan presiden Kellog Co., produsen sereal dan makanan dalam kemasan. Tak mau ketinggalan, Cornell University, The Johnson School juga mengambil nama Samuel C. Johnson Jr., lulusan tahun 1950 yang menghibahkan $20 juta kepada almamaternya 24 tahun lalu. Johnson merupakan keluarga pemilik S.C. Johnson & Son, yang menghasilkan brand seperti Pledge, Glade, dan Raid.
University of California-Berkeley, Haas School of Business, juga mengambil nama Walter A. Haas Sr., alumni Berkeley yang memimpin Levi Strauss. Ia mendonasikan $23,75 juta kepada almamaternya di tahun 1989. Setahun sebelumnya, Leonard N. Stern, lulusan NYU juga mendonasikan $30 juta kepada almamaternya. New York University kemudian merubah namanya menjadi Stern School of Business. Carnegie Mellon University, Tepper School of Business, juga mendapatkan donasi $55 juta dari David Tepper, investor dan fund manager pendiri Appaloosa Management.
Sampai saat ini, mungkin hanya Harvard, Stanford, atau Columbia yang masih percaya diri dengan nama mereka sendiri. Walaupun para direktur eksekutif di sekolah-sekolah tersebut menyatakan tidak iri dengan fenomena ini, gosipnya Harvard tidak akan menolak bila Bill Gates menuliskan cek sebesar $5 miliar kepada almamaternya. Bila memang benar adanya, bisa jadi kelak akan muncul Gates School of Business, Harvard University.
Academic Entrepreneurship
Tentu menarik melihat bagaimana universitas mencari uang—-termasuk dengan “jualan” nama. Beberapa waktu lalu saya sempat menyiapkan paper bertemakan academic entrepreneurship. Ide ini dicetuskan oleh Burton Clark, professor dari UCLA Graduate School of Education & Information Studies tahun 1998 lalu. Menurut Clark, agar bisa terus eksis, universitas harus melakukan transformasi, mengembangkan kompetensi, membangun funding base, melakukan komersialisasi riset, dan berbagai tahapan lain—-tanpa kehilangan khittahnya sebagai institusi pendidikan.
Tadinya saya merasa topik ini bagus untuk diteliti di Indonesia. Alasannya, baik PTN dan PTS rasanya masih kesulitan menghidupi diri mereka sendiri. Tak jarang PTS yang terpaksa tutup, merger, atau dicaplok PTS lain. Menyedihkan memang—-apalagi bila melihat nasib mahasiswa dan karyawannya. Belum lagi soal keluhan naiknya SPP. Riset tersebut memang masih terbengkalai sampai saat ini. Namun, ada beberapa hal yang bisa dikutip dari penelitian itu. Pertama, academic entrepreneurship hanya bisa dilahirkan bila memenuhi syarat sebagai berikut:
- adanya kolaborasi dengan pihak-pihak eksternal, mulai dari pemerintah, industri, universitas lain, hingga jaringan alumni
- ide dan aktivitas yang bernilai secara komersial seharusnya selalu didorong dan diimplementasikan sehingga bisa menambah nilai bagi universitas
- dukungan internal bagi peneliti untuk menghasilkan produk penelitian yang bernilai jual tinggi
- adanya keberanian untuk mengambil risiko finansial dan risiko intelektual secara tepat dan terukur
- membuat beragam saluran yang menghasilkan pendapatan secara kontinu, baik terkait dengan aktivitas akademis maupun non akademis
Sayangnya, di Indonesia konsep ini memang agak sulit diterapkan. Ada beberapa hal yang menjadi tembok penghalang, antara lain:
- ruwetnya regulasi dan birokrasi, serta intervensi dari pemerintah
- kultur status quo yang tidak berani mengambil risiko
- kurangnya keterlibatan eksternal dari alumni, komunitas terkait, hingga industri
- kurangnya fleksibilitas dalam administrasi
- tidak ada komitmen jangka panjang untuk penelitian dan aktivitas bernilai tambah
Konsep academic entrepreneurship ini sudah terbukti sukses di Amerika. Stanford University dan University of California at Berkeley misalnya, dikenal sebagai kontributor penggerak Silicon Valley. MIT dan Harvard juga menjadi motor yang mengembangkan Boston dan sekitarnya. Konsep ini malah sedang ramai digalakkan di Eropa, seperti Jerman, Belanda, atau Perancis. Entah kapan sampai ke Asia, terutama Indonesia.
Soal “menjual” nama seperti fenomena di atas, disebut Clark, hanya salah satu dari sekian banyak metode untuk menghidupi universitas. Menurutnya masih ada banyak ide dan aktivitas yang bisa dikembangkan agar universitas bisa tetap eksis tanpa terjebak lingkaran kapitalisme. Masalahnya sekarang, di Indonesia, ada nggak yang berani memulai dan membuat perubahan?



April 28th, 2008 at 1:45 pm
Comments
April 28th, 2008 at 12:23 pm
I like your writing style. Looking forward to reading more from you.
- Sue.
April 28th, 2008 at 2:08 pm
sependek ingatan saya, beberapa ruang di gedung magister management di UGM sudah menggunakan nama sponsor, misalnya, Ruang Djarum, Ruang Indofood. ya, baru sebatas nama dan logo penyumbang yang ada di pintu masuk.
ah, betapa bagusnya, misalnya, Jurusan Management di UI diberi nama Soekanto Tanoto School of Management. Keren ya? Tapi kalo kemudian si pemberi sumbangan, misalnya, menjadi seorang koruptor gimana dong? Apa jadinya jika ternyata, misalnya, si penyumbang adalah seorang pengemplang pajak ulung sementara namanya sudah ditabalkan di sebuah lembaga pendidikan yang bergengsi?
bagaimanapun juga, ide penamaan seperti ini menarik juga untuk didiskusikan…
April 28th, 2008 at 2:29 pm
menyelipkan nama di institusi pendidikan sudah dilakukan oleh Sekolah Bisnis dan Managemen ITB, kalau tidak salah menjadi Sampoerna School of Business and Management (CMIIW).
overall, tampaknya masih ada sedikit hambatan ‘ego’ jika nama PT diselipkan dengan nama sponsor.
April 28th, 2008 at 3:01 pm
Shakespeare udah bener itu. Apalah artinya, hehe…
April 28th, 2008 at 3:02 pm
sebenarnya untuk hal pemberian nama pada sekolah/institusi pendidikan di indonesia bukanlah sesuatu yg baru hanya memang pemberian nama tsb saat ini baru mengacu pada pendiri/pemilik sekolah/institusi saja contoh: sekolah ciputra, sekolah mochtar riyadi (lupa namanya), dll.
tapi, ide yg bagus kalo ada pemberian nama sekolah bukan nama si pendiri/pemilik melainkan nama sipenyumbang.
April 29th, 2008 at 11:28 am
kebanyakan sih nama aula atau nama auditorium di kampus2 yg dikasi nama2 orang, bukan penyumbang dana :)
May 1st, 2008 at 4:00 am
lha, apa bukan malah di Indonesia universitas sedjak doeloe kala sudah menggunakan nama-nama penyumbang terbesar?
di Semarang sudah pakai nama Universitas Dipenogoro Semarang?
di Jogja sudah pakai nama Universitas Gadjah Mada Jogjakarta?
di Surabaya memakai nama Universitas Airlangga?
Bahkan di kita penggunaan nama orang-orang tersebut dilakukan tanpa pamrih. Si Dipo, si Gadjah dan Si Langga tidak memberikan sepeser-pun, namun pihak Universitas sudah merasa bahwa orang2 tersebut berjasa bagi -bukan saja universitas-namun juga kesempatan merdeka dalam berpendidikan…
So, ranah penamaan yang dikomersilkan sah-sah saja..tanpi berjasa di tanah Nusantara, berarti bukan saja secara materiil..namun secara inspiratif-spirituil…
Mungkin UI bisa mengikuti yang lain seperti di Amrik, toh namanya masih pakai nama “Indonesia”..dan biasanya nama itu memang gampang dijual. Coba saja Pak Laksamana yang diminta jadi agen penjualnya, saya yakin seminggu kelar dan laris..!
:D
May 1st, 2008 at 10:00 am
menurut saya sebenarnya itu hanya bentuk penghargaab kepada yang sudah memberi kontribusi kepada Universitas/lembaga
May 1st, 2008 at 6:36 pm
aku pikir….. kalau emang ntar diperbolehkan universitas menjual nama nya kepada siapaun, efek dominonya di indonesia akan ada perusahan broker jual nama universitas, kaya yang jualan tanah atau jual rumah tuh…..he he he
May 1st, 2008 at 9:35 pm
nggak usah khawatir bung Nofie..
ada kok orang Indonesia yang berani memulai..hehe
sebelum saya membaca tulisan ini..dalam benak saya sudah ada cita-cita atau Bintang terang (menurut motivator Jamil azzaini)..
begini cita-cita saya..
saya ingin menjadi pengusaha sukses, punya banyak perusahaan, kemudian sebagian keuntungannya untuk mendirikan sekolah atau universitas..jadi keuangannya hanya tergantung dari perusahaan, bukan dari spp, so..gratis biaya kuliahnya..
walo ini masih sebatas cita-cita, tp sapa tau akan menjadi kenyataan..saya berusaha keras untuk mewujudkannya..
soal nama..saya rasa kok tidak perlu ya mencantumkan nama Pribadi..itu bisa riya’ atau pamer atau bisa menimbulkan kesombongan lah..
perbuatan baik kan bukan untuk di puji manusia, tp untuk mencapai ridho Alloh SWT..
Do’akan ya Bung nofie cita-cita saya bisa terkabul.
May 1st, 2008 at 10:21 pm
kalau emang sama bung nufie ga didoakan, sama aku kang adin didoakan biar cepet jadi orang indonesia yang yang sukses ntar kalau udah sukses bikin sekolah ataupun universitas di daerah tertinggal, contohnya di banten selatan, karna cita-citanya buat universitas bener-benar gratis bisa terwujud. amien ,biar orang indonesia pada pinter…. ok ok
May 2nd, 2008 at 10:52 pm
Nice article Mas Nofie, jadinya membangun personal brand bisa pakai almamater yo ? Wooh, kebayang euy…..Kita lihat saja nanti. ( Aku yo pengin je)
May 3rd, 2008 at 1:01 pm
Seperti Pengakuan yah :)
May 5th, 2008 at 8:00 pm
wahh ini metafor apa … :lol:
May 7th, 2008 at 10:31 am
Kalo kasus di Amrik sono emang banyak alumni-alumni universitas tersebut yang menjadi pengusaha. Dengan memiliki perusahaan sendiri, mereka mempunya dana yang besar untuk disumbangkan ke almamaternya.
Di Indonesia kebanyakan alumni universitas ‘hanya’ menjadi karyawan. Apapun posisinya, CEO misalnya, ia tetaplah karyawan yang berbeda dengan pemilik perusahaan.
May 7th, 2008 at 1:40 pm
@rx..
Pendidikan di Indonesia memang kebanyakan hanya mendidik orang menjadi karyawan..makanya sepintar apapun dia, gak berani bikin perusahaan sendiri,merintis dari awal..universitas di Indonesia juga ngajari orang untuk berfikir linear dan tidak kreatif..padahal kehidupan ini kan tidak linear dan memerlukan kreativitas untuk mengatasi segala macam tantangan..makanya banyak sekali sarjana nganggur (saya pernah baca pengangguran sarjana di Indonesia mencapai 400.000 orang)..
maka,kita-kita ini harus bisa memberikan keteladanan bahwa bisa kok kita sukses tanpa harus nglamar-nglamar kerja abis wisuda sarjana..
May 7th, 2008 at 4:36 pm
Menurut saya masalah ini bukan kesalahan Pendidikan di negara kita, tapi itu kesalahan Kalian-kalian sendiri sebab :
* Pendidikan —-> kata benda…
* Kalian-kalian –> kata orang…
Masa’ “kata benda” yang disalahin, bego sekali yang suka menyalahi benda mati, kagak idup coy, semestinya salahkan “Kalian-kalian” karena elo-elo pade orang beneran ato orang-orangan bro…
Gitu aja pusing…
May 11th, 2008 at 12:33 am
@Ferdi
jangan mengartikan secara “letter lux” gitu donk..
pendidikan yang dimaksud itu ya sistem pendidikannya…
siapa yang menciptakan sistem pendidikan?jelas orang kan?bukan benda kan?
apakah anda akan menafsirkan bahwa orang itu juga benda sehingga tidak boleh disalahkan?
dalam bahasa Indonesia mana ada “kata orang”, orang itu juga benda sehingga bisa disebut kata benda..
saya rasa anda harus belajar bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan dengan lebih baik lagi (reading comprehension)..
June 28th, 2008 at 9:13 am
Coba jalan-jalan ke lippo karawaci dan menyaksikan kemegahan UPH dengan segala fasilitasnya. Oyah, James Riady juga ada dipajang namanya.. even bukan untuk sekolah bisnis seh.. tp untuk R&D nanoteknologi.
Langkah UPH tampaknya juga langsung ditiru oleh tetangganya (Summarecon Serpong) dengan gandeng UMN (universitas Kompas-Gramedia).
Tapi kalo ini 2-2nya jalan bagus.. kayanya Tangerang (serpong-karawaci) bakalan sadis banget fasilitas pendidikan universitasnya. Yg paling terlihat sekarang ini pesat seh UPH Karawaci.
Bisa ngiler dan takjub orang2 luar… bahkan ga mau lulus kali para mahasiswanya.. hahaha