Seperti Al Pacino
April 4th, 2008 | InvestmentAl Pacino adalah salah satu aktor favorit saya. Aktingnya bisa membuat suatu film dengan cerita yang biasa-biasa saja menjadi jauh lebih menarik dan berkarakter—-mulai dari The Godfather, Any Given Sunday, Donnie Brasco, The Devil’s Advocate, Glengarry Glen Ross, City Hall, The Recruit, Scarface, Scarlito’s Way, dan seterusnya. Setiap karakter ia mainkan 150%, seolah-olah karakter tersebut memang diciptakan khusus untuk Al dan bakalan kurang afdol bila dimainkan oleh aktor lain.
Entah mengapa, namun saya selalu membayangkan Temasek seperti Al-nya dunia bisnis. Temasek seolah-olah ditakdirkan untuk menjadi konglomerasi yang sangat menguntungkan, dimana (hampir) seluruh keuntungannya disedot dari Indonesia. Bukan karena kepiawaian Temasek, melainkan karena kebodohan bangsa kita sendiri. Rasanya seperti kurang afdol kalau perusahaan-perusahaan bagus di Indonesia dibeli dengan sangat murah oleh selain Temasek.
Yang paling baru adalah BII. Sebelumnya, 56% saham BII dikuasai oleh Temasek melalui konsorsium Sorak (75% Temasek, 25% Kookmin Bank). Maybank kemudian membelinya dengan harga US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. Bandingkan ketika Temasek membeli BII dari BPPN pada tahun 2003 dengan harga hanya sekitar Rp 1,9 triliun. Artinya, dalam waktu 5 tahun, Singapura telah menikmati keuntungan Rp 11,6 triliun atau sekitar Rp 2,3 triliun per tahun. Mana ada investasi bisa berkembang sampai lima kali lipat dalam waktu begitu singkat?
Tentu saja hal ini sebenarnya merupakan kerugian yang teramat besar bagi ibu pertiwi. Kerugian pertama disebabkan karena pemerintah saat itu menjual BII dengan harga yang amat sangat murah. Waktu itu, Panin Bank bersedia menawar 1,3x nilai buku sementara Temasek hanya 1,2x saja—-namun justru Temasek yang dimenangkan.
Kerugian kedua, pemerintah sudah telanjur menyuntikkan dana sekitar Rp 27,4 triliun melalui skema BLBI untuk menghindari rush dan mencegah kerugian sosial yang mungkin timbul. Kerugian lainnya, BII tidak mendapatkan keuntungan apapun dari Temasek—-misal alih teknologi, transfer knowledge, efisiensi operasional, dsb. Sebaliknya, di bawah kendali Temasek, kinerja BII justru terus menurun.
Potensi kerugian yang lebih besar juga muncul karena skema serupa terjadi tak cuma di BII—-tetapi juga di banyak perusahaan lain seperti Bank BCA, Bank Danamon, Indosat, Telkom, Telkomsel, dan masih banyak lagi. Hitung saja potensi seluruh keuntungan yang diperoleh Temasek selama beroperasi di Indonesia, niscaya hasilnya akan sangat menakjubkan.
Barangkali memang demikianlah nasib perusahaan-perusahaan di Indonesia: sudah seharusnya ada dalam genggaman Temasek. Jangan pernah bayangkan mereka akan dipinang oleh orang lain—-atau bahkan dilamar pengusaha kita sendiri. Mungkin bisa diibaratkan seperti Denzel Washington atau Tom Hanks yang dipaksa bermain komedi. Atau seperti Jim Carey yang disuruh bermain drama. Selain memang tidak cocok, risikonya akan terlalu besar kalau mau nekat.
Ketika saya sodori draft posting ini ke teman saya, dia cuma berkomentar singkat: kira-kira, berapa ya yang diperoleh Megawati, Pramono Anung, Taufik Kiemas, Laksamana Sukardi, dkk. sewaktu mengobral aset-aset perusahaan itu? Entahlah. Tapi paling tidak, kejadian ini mendukung hipotesis saya terdahulu, bahwa masa depan bangsa ini ternyata masih berada dalam genggaman Singapura.
Say hello to my litle friend… :)



May 27th, 2008 at 10:22 am
Comments
April 4th, 2008 at 11:23 pm
Singpore negara kecil yang berhasil masuk dalam posisi lima besar negara dunia yang memiliki SWF (Sovereign Wealth Fund) terbesar. Sulit dipungkiri kalau pembelian aset tersebut tidak dimotori oleh segelintir orang yang hanya memiliki visi jangka pendek yang menguntungkan mereka saja ketimbang strategi jangka panjang bagi negara Indonesia pada umumnya.
April 5th, 2008 at 4:48 am
Setuju dengan Barry diatas……
Sayang sekali perusahaan yg bersifat dan berkarakter nasional kita dipolitisi sedemikian rupa. Semoga generasi mendatang, generasi saya bisa memperbaiki ini. Entah optimis entah naif.
Ngomong2 Al Pacino, Mas Nofie…gak afdol kalo ga nyebut jendral buta di Scent of Woman hehehe
April 5th, 2008 at 8:33 am
sungguh ironis ya, negara “sekecil” singapura bisa menyedot yang sangat besar dari Indonesia …
Atau mungkin temasek sudah “hapal” cara-cara merayu pejabat kita untuk menjual perusahaan bagus dengan harga murah ?
April 5th, 2008 at 12:45 pm
Great post, :D
mental terjajah kan belum hilang setelah puluhan tahun merdeka .
April 5th, 2008 at 10:57 pm
Apakah Aset negara ini sudah benar-benar HAMPIR HABIS dibeli oleh Temasek.
juga Masih adakah orang yang merasa dirinya pintar???
Tulisan ini nyata, thank you.
saya jadi teringat 5 hari yang lalu, seorang siswi SD (kelas 5) bertanya pada saya.
“Jika suatu negara akan hancur, apa yang akan kamu lakukan?
- ikutan menjadi penghancur, atau
- hancur bersama negara itu sendiri.”
tapi yang jelasnya saya gk bisa jawab
April 6th, 2008 at 12:08 am
inilah hasil dari Rezim korup dan mafia orde baru…
walo dedengkotnya sudah modar, tapi budaya korup(kkn)nya sampai sekarang atau entah sampai berapa tahun lagi masih eksis di negeri ini..
sebenarnya dulu kita punya pemimpin bagus (Soekarno)…
beliaulah yang berani terang2an melawan setiap upaya bentuk-bentuk penjajahan yang dilakukan asing ( ingat slogan pak Karno”go to hell with your aid”!waktu itu pak Karno menolak bantuan Amerika yg jelas-kelas ada pamrihnya)
Pak Karno juga mengingatkan tentang adanya nekolim(neo kolonialisme dan imperialisme)dan itu terbukti sekarang!
tp sayang,kita punya pemimpin yang hebat,justru di kudeta( siapa lagi kalo bukan oleh dedengkotnya orde baru) dan Fitnah ( ada buku baru juga yg ditulis org ceko yg menjelaskan kalo gestapu itu ulah pak Karno)…
saya membayangkan seandainya kita dipimpin pak Karno,Indonesia dah bisa jadi negara adidaya! tp..mungkin kita nggak kuat drajat kali ya…
April 6th, 2008 at 1:10 pm
Mungkin mas Nofie ada saran ke Pemerintah supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi?
April 7th, 2008 at 3:05 am
wahh permainan tingkat tinggi mas susah juga wong cilik kayak saya ngalahin proposal temasek hehehehe
April 7th, 2008 at 8:41 am
bangsa indonesia sebenarnya kurang apa ya..? orang2 pinter (baca:lulusan luar negeri) buaanyaknya bukan main..tapi apa masih kurang???? dan mungkin satu ilmu dg orang2 temasek…tapi kenapa masih juga bisa dibegoin dan ditipu abis sama orang2 temasek.
ato bangsa ini emang kurang rasa nasionalismenya??? ato emang tdk ada rasa nasionalisme salah satu etnis tertentu yg notabene tukang tipu (baca:menghalalkan segala macam cara, al: ilegal loging, colar white crime dll)….
April 7th, 2008 at 11:37 am
kadang2 kita tau klo itu merugikan, tp kita ambil jg, hasilnya, yah, kayak gini :(
“beruntungnya” temasek punya tetangga kayak Indonesia, bs dimanpaatin ama dibodoin…
April 7th, 2008 at 4:22 pm
let’s do something then
April 8th, 2008 at 3:24 pm
ooohh..
ibu M yang menunggang banteng mulut putih yang pandai tari poco-poco itu ya..
April 8th, 2008 at 3:27 pm
@ gerry
di scent of woman itu Al Pacino bukan jenderal mas, tapi kolonel (letnan kolonel tepatnya) retired (pensiunan)
April 9th, 2008 at 10:42 am
Sebetulnya Temasek (est.1974) itu bukan satu-satunya SWF yang berasal dari Singapore. Masih ada GIC (Government Investment Corporation, est.1981) yang current size-nya USD 330 Billion. Jauh lebih besar dibandingkan Temasek yang “hanya” USD 108 Billion.
Terkait masalah penjualan BII sampai jatuh ke tangan Temasek dengan harga yang “relatif” murah, tentunya banyak sekali pertimbangan. Apa saja? Nanti coba saya tulis dalam blog.
Terima kasih.
Tulisan yang keren, Bung Nofie..
April 9th, 2008 at 2:02 pm
Posting yang sangat menarik…
Apa memang rasa Nasionalisme bangsa kita semakin rendah.. ???
saya jd ingat lagu Indonesia Raya yang dulu tiap senin kita dengarkan…
..
” Hiduplah tanahku hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya.
.
Indonesia Raya merdeka, merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya! ”
…
Dulu begitu mendengar lagu Indonesia Raya, rasa nasionalisme ku jd timbul dan mengebu2.. tapi sekarang, lagu Indonesia Raya cuma aku dengar 1 tahun sekali kalo pas 17 agustus-an doank.. bahkan yang lebih parah aku sampe lupa liriknya….. (ini aja copy paste dari wikipedia) hehehe…. nasionalisme emang sudah dikalahkan ama Kebutuhan untuk mencari kehidupan yang layak..
spt kata rikija diatas ” let’s do something then “
April 9th, 2008 at 6:06 pm
Hhhmmnn…..mantap juga analisanya….bagus….entahlah…negara kita mau dibawa kemana oleh para pemimpin kita ini……mungkin nanti bakalan dijual juga nih negara kita yang penting die hidup…..sejahtera…pokoknya aman……..I was sick about its!
Salam
Fonda
April 10th, 2008 at 11:00 am
Mungkin karena lirik lagu kebangsaan kita banyak yang salah nih…
Contoh :
“…Indonesia sejak dulu kalah…Tetap dipuja-puja bangsa…”
atau
“…Indonesia sejak dulu kala…Tetap dipuja-puja bangsa…”
Artinya :
Sepertinya bangsa ini ditakdirkan tetap kalah / pecundang…
atau
Sepertinya bangsa ini terlalu banyak dipuja-puja oleh bangsa lain, jadinya bangsa lain suka memanfaatkan bangsa ini / disedot kekayaannya dan hasilnya bangsa ini dibuat hancur kacau balau…
April 11th, 2008 at 1:28 pm
sekarang bisa kt ngomong ini itu, kalo diposisikan di tpt menggiurkan spt bu M dkk?
yakin bisa menolak?
hehe..
kasian Indonesia
April 12th, 2008 at 11:59 am
waduh ga kenal aku mba… yang kenal cuma Dono Kasino ma Indri.. walah salah maksud saya Indro
April 12th, 2008 at 10:08 pm
Good post Mas Nofie.
Indonesia & Singapore adalah pasangan sangat serasi. Yang satu suka menjual, yang lain mampu membeli.
Setuju dengan rikija, let’s do something then. Saya kira Mas Nofie punya kewajiban moral melahirkan investor-investor yang lebih jago dari Temasek.
April 14th, 2008 at 12:06 pm
Lagian, temasek bisa untung “11 trilyun” dari penjualan saham bii nya,
masa ga bisa kluar “1,1 trilyun” buat bayar pejabat-pejabat di indo? kecil lah…
tapi di mata pejabat… gaji nya seumur hidup tambah anak ama cucu nya di jumlahin juga blon tentu dapet “0,11 trilyun”
entah siapa yang harus di kencingi ampe tenggelem, entah singapore nya…
ato para penghianat itu ya…
April 15th, 2008 at 2:25 pm
Emang susaH…
Kalo perusahaan negara di jual ya rugi, harganya murah…
Kalo ga dijual ya rugi, banyak korupsinya…
Terus gimana ya??
Mending semua orang kaya di Indonesia dikumpulin buat beli Tema-sex aja… eh Temasek ya??
April 16th, 2008 at 3:56 am
benar Mas Nofie…, kalo di itung2 udah berapa trilyun bunga rekap bond yang dibayar pemerintah, perusahaan udah diobral kewajiban bayar bunga bond nya jalan terus…, padahal modal yang dipakai temasek untuk bisa menggurita di negeri ini bisa jadi hasil dari dana korupsi di Indonesia yang diparkir di Singapura…
Mas Nofie bahas juga donk aliran dana korupsi pejabat dan cukong2 ke Singapura
Oh ya… peran Al di film Heat bareng Robert De Niro Ok banget lho…
April 17th, 2008 at 7:03 pm
kalau nafsu berada diatas akal sehat…ya… jadinya begitu…., menghalalkan segala cara, menutup hati nurani, menulikan telinga, membutakan mata…. bahkan jangan2 mereka bangga karena bisa menipu anak negerinya, bangga karena mereka anggap hal itu sebuah kecerdasan. Kasihan rakyat jelata, miskin, bodoh (karena tidak mendpat kesmpatn utk bljr pintar) dikibulin terus ama pemimpinnya. Benar2 bejad manusia yang mncari keuntungan diatas kesengsaraan orang lain…….lngat loh…. cepat atau lambat pembalasan akan datang. Pembalasan dimana tidak ada satu manusiapun yang dapat membantu…..semoga………
April 26th, 2008 at 6:31 am
Mendingan sih para para oknum pejabat yang korup tadi diajarin trading forex aja sampe bisa. Pasti mereka nggak akan korup lagi. Cuma… masalahnya kalo loss terus. Pasti korupsi lagi yang lebih gedhe buat modal trading lagi. :D
May 6th, 2008 at 9:48 am
“Ketika saya sodori draft posting ini ke teman saya, dia cuma berkomentar singkat: kira-kira, berapa ya yang diperoleh Megawati, Pramono Anung, Taufik Kiemas, Laksamana Sukardi, dkk. sewaktu mengobral aset-aset perusahaan itu? Entahlah.”
Makin mengingatkan ku dan juga kalian..jangan sampai pilih mereka di 2009 nanti..
May 7th, 2008 at 9:52 am
Ihh, emang benar2 bikin miris. Rasanya sudah bosan menanti kapan Indonesia ini akan jadi sebuah negara yang terpandang. Dengan modal yang melimpah seperti yang kita miliki, kok susah amat seh buat maju????
Pejabat-pejabat kita sebenarnya bukanlah dibodohi oleh Singapura. Mereka pasti tahu apa konsekwensinya menjual aset bangsa. Cuma rupanya kemilau dolar mungkin jauh lebih menarik daripada melihat rakyatnya sejahtera. Atau mungkin memang karena mereka tidak ingin rakyatnya cerdas dan sejahtera karena takut akan mengganggu ‘kemapanan’ mereka. (Saking gemasnya sampai2 jadi berburuk sangka. Ah, saya kan cuma berusaha skeptis aja terhadap keadaan…)
May 22nd, 2008 at 7:16 am
“Ketika saya sodori draft posting ini ke teman saya, dia cuma berkomentar singkat: kira-kira, berapa ya yang diperoleh Megawati, Pramono Anung, Taufik Kiemas, Laksamana Sukardi, dkk. sewaktu mengobral aset-aset perusahaan itu? Entahlah.”
iya.. kalo sampe jadi 2009, pasti ada hajatan “pasar murah bumn”,.. pada dijualin .. hehe.
June 4th, 2008 at 3:00 pm
Kira2 kelakuan busuk para elit negeri di jaman Megawati dkk yang mengobral perusahaan2 dalam perawatan BPPN masih bisa nurani rakyat Indonesia???? Tidakkah kita sadar bahwa mereka-mereka yang menjual negeri ini masih minta kepada kita untuk tetap memilih mereka duduk di kursi empuk kekuasaan???
Bangkitlah kita semua jangan tidur mendengkur dengan manusia-manusia bejat yang haus dengan uang dan juga nyawa rakyat negeri ini
June 17th, 2008 at 4:17 pm
Setuju dengan tulisannya mas nofie,
Cuman apa berhenti disitu aja, apa nggak ada cara untuk merebut kembali aset-aset tersebut, atau menyelamatkan aset-aset yang ada.
Mungkin tidak dibentuk sebuah manajer investasi yang mengumpulkan dana dari masyarakat katakanlah Rp.200.000 klo hampir separo rakyat yang ikut kan banyak tuh, jadi dibentuk seperti sebuah reksadana.
mungkin nggak yach??
berharap.com