Lelaki dalam Kacamata Jawa

May 14th, 2008 | Personal

Pan iku wus karseng Widhi
dene kang mangka marganya
ananya wiji janmane
apan aneng janma priya
karan uga tyang lanang
lanang lana tegesipun
langgeng ingkang hisi gesang

Tulisan di atas adalah penggalan salah satu bait tembang Asmarandana. Tulisan tersebut ditulis dalam bahasa Jawa Kawi—-yang konon katanya digunakan oleh leluhur bangsa Jawa sebelum abad ke 17. Saat ini relatif tidak banyak orang yang memahami bahasa tersebut. Selain orang-orang yang memang memiliki spesialisasi di bidang itu, bahasa Jawa Kawi mungkin terhenti sampai dua-tiga generasi sebelum generasi kita sekarang.

Yang jelas, setelah membaca tulisan tersebut saya baru tahu bahwa ternyata lanang (laki-laki) memiliki arti khusus, yaitu langgeng ingkang hisi gesang atau suatu sifat yang berhak menerima aliran daya kehidupan. Bila ditelusur dari bait-bait sebelum dan sesudahnya, tulisan tersebut hendak mengatakan bahwa sudah menjadi kehendak Tuhan bila kaum laki-laki diciptakan “lebih”, yaitu menjadi perantara terjadinya sifat bakal manusia.

Walau dianggap lebih, bait-bait Asmarandana juga mengingatkan agar kaum laki-laki tidak berbesar hati dan merasa kuasa, karena pada hakekatnya mereka hanya menjadi perantara saja. Di sisi lain, perempuan juga memegang peranan penting karena menerima “biji” yang dibawa laki-laki dan memeliharanya sedemikian hingga sampai biji tersebut tumbuh menjadi manusia yang utuh. Secara menakjubkan bait-bait tersebut menceritakan mulai dari bagaimana air sari pati makanan bisa berubah menjadi makhluk yang sempurna.

Dalam lembaran yang lain, saya juga menemukan potongan bait yang menarik dari tembang Sinom.

mangkya nggonya jejodohan
si wedus tan beda pitik
nyatanira mung sajuga
kang kara jodonireki
dene katon tan siji
iku mungguring tinggal manus
sarta katonnya kutah
salir wadon dyan sinabi
apan iku mung weruhing janma

Dalam bait tersebut digambarkan bahwa kambing dan ayam adalah sama saja—-suka bercinta dengan banyak betina. Mereka tidak pernah membeda-bedakan. Asalkan betina—-entah itu saudara, ibu, nenek, tetangga, atau lainnya—-langsung disikat. Di bait-bait sesudahnya digambarkan pula sapi yang cenderung hanya bercinta pada satu pasangan saja. Selain terbukti lebih sehat, sapi juga dianggap lebih bisa memberi manfaat—-mulai dari daging, susu, kulit, hingga tenaganya.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah bercinta dengan begitu banyak lawan jenis (baca: serakah) seperti kambing atau ayam mungkin bisa mendatangkan kebahagian, tetapi tidak akan menyamai kebahagiaan yang diperoleh dari kesetiaan terhadap satu pasangan saja seperti halnya sapi. Tembang tersebut mengibaratkannya dengan seorang pemabuk yang belum mendapatkan minuman. Ketentraman hatinya hanya akan diperoleh bila ia berdekatan dengan minuman keras. Padahal, nafsu hewani semacam itu tidak dapat diduga akibatnya. Selain membuat badani rusak, perasaaan tidak tetap, hati pun bisa menjadi kabur.

Karena keterbatasan kemampuan saya dalam berbahasa Kawi, saya baru bisa mengeksplorasi belasan halaman saja. Namun dari sebagian kecil tersebut, saya menemukan bahwa budaya Jawa sesungguhnya tak cuma menarik untuk dipelajari—-melainkan juga memberi manfaat dan kebijaksanaan yang tak ternilai harganya. Apalagi, hingga ratusan tahun sejak tembang-tembang tersebut dibuat, kita masih saja berkutat di masalah-masalah yang sama: laki-laki yang mau menangnya sendiri, kekerasan dalam rumah tangga, cekcok dan perceraian, pergaulan dan seks bebas, poligami yang hanya mengejar nafsu hewani, dan sebagainya.

Menariknya, buku yang saya baca tersebut tertemukan sudah dalam keadaan sangat memrihatinkan. Kumal, penuh lipatan, sebagian sudah robek, dengan sampul yang lenyap entah kemana. Ajaibnya lagi, buku setebal sekitar 300 halaman itu tidak ditulis oleh bangsa kita sendiri, melainkan oleh Mariendals Boktrykkeri A.s. Gjøvik, Norway. Opo tumon? :)

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. boim lebon

    wah menarik nih postingannya, saya aja yg orang jawa gak ngerti artinya….seperti harus kembali nh untuk mengenali budaya tanah kelahiran saya. tks

    salam kenal

  2. mbah kakung

    nduk..budaya jawa dari dulu itu budaya adigang adiluhung, jadi sudah sepatutnya kita harus mampu mengejawantahkan dalam perilaku sehari-hari dimana saat ini adalah zaman apa yg disampaikan pujangga dan raja jayabaya “saiki zaman edan, yen orang edan ora kebagian”. bisa dilihat banyak orang berebut dengan nafsu serakahnya entah berebut jabatan, harta bahkan wanita.

  3. bukan pria jawa

    asyik nomor 3

  4. ambar

    agak aneh tembang sinom ini muncul ketika budaya poligami (selir) masih dominan di kalangan aristokrat jawa. Atau ini sisipan pesan dari Mariendals? imho ambar

  5. trian

    laki-laki jawa itu melankolis, percaya mas?

    setuju, dalam banyak hal filsafat jawa bijak dan bermanfaat sekalipun di zaman sekarang. sayangnya, tidak semua anak muda (jawa) paham. dan saya sendiri, baru sadar setelah tidak berada di ‘tanah jawa’.

  6. Joko

    nice article mas! mungkin kata “wadon” atau “estri” ada maknanya juga kali ya?

  7. luna

    Bagus juga tuch mas isinya, perlu dibaca buat kaum adam nih. Biar para adam tau siapa mereka da harus bagaimana terhadap sang hawa.

Looking forward to hear your thoughts.