Mengapa BBM Harus Naik?
May 18th, 2008 | EconomicsMungkin banyak dari Anda bertanya dalam hati, mengapa harga BBM harus dinaikkan atau dicabut subsidinya? Bukankah Indonesia adalah salah satu penghasil minyak yang cukup besar dan berlimpah? Bukankah seharusnya kita ikut menikmati akibat dari kenaikan harga minyak mentah di dunia?
Well, minyak mentah yang dihasilkan Indonesia saat ini konon sekitar 1 juta barrel/hari. Minyak berkualitas baik kebanyakan dihasilkan dari kilang di Minas (Caltex) yang memiliki sedikit kandungan belerang maupun lilin. Harganya memang mahal dan disukai oleh negara-negara maju seperti Amerika atau Jepang yang sangat peduli dengan polusi dan oktan.
Repotnya, hanya sekitar separo dari minyak yang dihasilkan sumur-sumur di Indonesia yang bisa diolah oleh kilang minyak kita. Karakteristik refinery kita sebenarnya tidak didesain untuk minyak Indonesia yang berkualitas tinggi tersebut. Sebaliknya, refinery kita lebih pas untuk jenis light crude seperti minyak-minyak dari Arab. Biarpun produksi dalam negeri laris di pasaran dunia, kita tidak bisa mengolahnya sedemikian hingga bisa memberikan nilai tambah.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Indonesia menggunakan minyak berkualitas lebih rendah. Minyak tersebut dibeli dari Timur Tengah (Kuwait) atau disedot dari sumur-sumur lain dalam jumlah yang lebih kecil. Selebihnya, Indonesia membeli minyak dari kilang milik Shell di Singapura. Jumlah impor tersebut konon bisa sampai Rp 20-30 triliun per tahun untuk memenuhi konsumsi BBM kita sekitar 400-500 juta barrel/tahun dengan pertumbuhan 5% tiap tahunnya.
Jadilah Indonesia sampai hari ini mengimpor sampai 450 ribu barrel BBM dan 400 ribu barrel minyak mentah per hari. Harga menggunakan patokan regional (MOPS) atau bursa IPE London dan NYMEX. BBM-nya langsung dikirim untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sementara minyak mentahnya digunakan untuk memasok refinery kita yang rendah produksinya tersebut. Akibatnya, bila harga minyak dunia makin tinggi, maka harga yang harus kita bayar untuk impor juga makin besar. Inilah mengapa Indonesia menderita bila harga minyak dunia naik.
Masalah-Masalah Kita
Karena keterbatasan Pertamina, pemerintah terpaksa mengalihkan produksi kepada KKKS. Perlu diketahui bahwa kontrak bagi hasil antara BP Migas dan kontraktor tersebut melalui mekanisme PSC sebesar 85:15. Di dalam industri migas, angka 85:15 adalah angka yang lumrah untuk bagi hasil. Namun pernahkah Anda berpikir mengapa kontraktor asing yang mendapat hanya 15% bisa untuk besar sementara pemerintah yang menerima 85% malah selalu tombok?
Sebagaimana kita ketahui, biaya eksplorasi dan gaji pegawai di industri migas luar biasa besarnya. Ketika harga minyak naik luar biasa, Exxon dan ConocoPhillips malah terpilih sebagai perusahaan dengan keuntungan terbesar versi majalah Fortune beberapa waktu lalu. Maaf kalau harus negative thinking, tapi selain mismanajemen yang begitu runyam, kemungkinan besar adalah karena korupsi.
Dari desas-desus yang sering beredar, rata-rata tiap unit Pertamina yang tersebar di berbagai daerah mengalami kebocoran setidaknya Rp 2 miliar. Pengadaan sebuah mur dan baut seharga Rp 100 bisa dinaikkan hingga Rp 10.000. Dan itu terjadi hampir di seantero Indonesia. Tahun lalu, Pertamina mengalami kebocoran anggaran Rp 15 triliun hingga menteri keuangan ogah menandatangani SKB.
Kilang Balongan di Indramayu juga terkenal sebagai refinery termahal di dunia. Ongkos pembuatannya dua kali lebih besar dari refinery dengan kapasitas yang sama. Kilang ini juga terkenal paling sering turun mesin (out of service) hingga 3-4 kali per tahun. Pertamina memang punya kilang Cilacap dan Balikpapan yang dibuat oleh perusahaan asing dan beroperasi sebagaimana mestinya. Namun, karena konsumsi selalu naik, tentu saja tak pernah cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri. Terlebih, hasil sulingan sendiri ternyata masih lebih mahal harganya daripada membeli dari Singapura.
Indonesia Pasca Naiknya BBM
Apabila BBM benar dinaikkan, posisi keuangan negara tentu menjadi lebih sehat. Kenaikan harga BBM akan diikuti penurunan konsumsi dan impor BBM. Devisa pemerintah yang terbuang untuk membeli dollar guna menyediakan BBM juga menurun. Penyelundupan bisa dikurangi—-atau bahkan dihilangkan. Rakyat juga akan tersadarkan bahwa minyak adalah barang yang mahal, terbatas, dan tak terbarukan.
Naiknya BBM akan mendorong naiknya inflasi dan menyebabkan kontraksi ekonomi. Sisi positifnya, kegiatan konsumsi akan menurun. Impor—-terutama barang-barang konsumsi—-juga menurun. Neraca perdangangan kita bisa lebih menarik. Penerimaan dalam mata uang asing lebih besar dariapada pengeluaran. Volume ekspor bisa meningkat dan terus digenjot untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Suku bunga yang tinggi juga bisa menarik investasi walau mungkin berpotensi sedikit mengguncang bursa saham.
Namun yang paling diuntungkan dari naiknya BBM adalah pemerintah. Inflasi yang tinggi berarti pemerintah menerima pendapatan di muka dengan mencetak uang atas sesuatu yang harganya naik karena inflasi. Harga-harga menjadi lebih tinggi. Penerimaan pajak juga naik karena masyarakat yang mendapat kenaikan upah dipaksa bayar lebih tinggi. Pendapatan dari deposito juga naik karena suku bunga ikut naik.
Masalahnya, “pendapatan” pemerintah dari inflasi akan digunakan untuk apa? Apakah pemerintah cukup mampu untuk membelanjakannya demi kemaslahatan rakyat banyak?
Saya ragu.
Masalah begini bukan soal gampang—-perlu pemerintahan yang visioner dan cerdas karena ekonomi adalah soal melihat apa yang tidak langsung terlihat.
Sistem negara kita telanjur lemah struktur. Birokrasi benar-benar macet. Efektifitas dan efisiensi aparat kita masih dipertanyakan. Pengetahuan dan pemahaman antara pemegang kendali sering tidak sinkron. Situasi ini makin parah karena di negeri ini nampaknya otak (apalagi hati) tak terlalu diperlukan untuk menjadi pemimpin yang harus mengambil kebijakan-kebijakan strategis.
Pemimpin yang satu ngomong seenak perutnya memberi kritik pedas tanpa solusi yang membangun. Pemimpin yang lain sibuk tebar pesona ancang-ancang untuk Pemilu depan. Sementara yang lain malah menggelontorkan milliaran rupiah untuk pamer di surat kabar dan televisi bermodal potongan puisi Chairil Anwar. Jadilah sudah. Orang-orang yang di bawah mau makan saja tambah susah.
Tapi tentunya kita harus tetap optimis. Perjuangan belum selesai dan anak cucu kita berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dari pendahulunya. Mudah-mudahan momentum 100 tahun kebangkitan bangsa ini tak cuma jadi slogan yang usang—-tapi mendorong pada perubahan yang lebih baik.
May 22nd, 2008 at 11:24 pm
May 25th, 2008 at 8:20 pm
May 29th, 2008 at 5:59 pm
June 2nd, 2008 at 8:32 pm
June 3rd, 2008 at 11:15 pm
Comments
May 18th, 2008 at 5:34 am
Yang sampai sekarang bikin saya bingung, Singapura tanpa punya ladang minyak tapi bisa punya kilang yang jumlah dan kualitasnya 5 besar di dunia. CMIIW.
May 18th, 2008 at 4:52 pm
masalah minyak ini memang sudah terlalu rumit untuk dipecahkan …
membenahi manajemen sektor minyak kita pun ngga bisa seperti membalikkan telapak tangan. banyak tikus yg bermain :(
May 19th, 2008 at 7:58 am
kalo melihat kondisi pemerintah saat ini yang ngotot menaikan BBM, logika pemerintah adalah logika yg jungkir balik dengan logika yg disodorkan seorang kwik kian gie (koraninternet.com). entahlah, logika mana yg benar dan siapa yang mempunyai ketulusan berfikir…
May 19th, 2008 at 9:40 am
Rakyat sudah dari dulu terbuai dan dininabobokan dengan namanya subsidi. Walhasil yang mereka tahu sampai saat ini adalah harga murah tanpa tahu keadaan apa yang menjadikannya masih murah di saat negara hampir terpuruk bangkrut. Negara kita tidak pernah meminjam dan berhutang yang ada cuma “bantuan dari negara tetangga”. Silahkan tafsirkan sendiri bahaya dari doktrin begitu selama lebih dari 30 tahun. Akhirnya cuma hutang dan keterpurukan yang diwariskan ke pemimpin berikut dan generasi berikut.
Jika kita lihat di negara lain, mereka cenderung berhemat karena SDA yang bener-bener terbatas mewajibkan mereka untuk itu. Perhatikan harga BBM di negara tetangga, atau negara maju.
Kecenderungan dan kebiasaan buruk (eg. tidak peduli) masyarakat Indonesia juga salah satu pemicunya. Jika anda perhatikan tempat umum ber AC, apakah pintunya ditutup? Thermostat di atur sampai yang terdingin tapi pintu dibiarkan tetap terbuka? Penyesuaian beberapa derajat saja sudah menghemat pemakaian BBM. Memanaskan kendaraan sekitar 10 menit?
Subsidi BBM mungkin lebih tepat dialihkan ke pendidikan atau kesehatan yang jauh lebih menguntungkan di jangka panjang.
Gemah ripah loh jinawi? Swasembada pangan? Kok makin jauh saja….
May 19th, 2008 at 3:18 pm
bagus kalo subsidi dicabut. kenapa? tiap kali menentukan besaran subsidi, pemerintah musti rapat (lobi) DPR dulu. pasti ada duit yg keluar, pasti ada waktu yg terbuang, belum lagi buat “ini-itu” nya biar semua lancar. kalo ga ada subsidi, pastinya banyak yg bisa dihemat.
May 19th, 2008 at 11:45 pm
Saya sangat pesimis bahwa negara Indonesia akan maju lebih baik, apabila mintalitas pemimpin maupun rakyatnya tidak berubah, dimana mintal itu sudah berakar dan berbuah di dalam diri kita masing2, yaitu mentalitas ketidak percayaan terhadap kemampuan kita sendiri sehingga kita selau tergantung kepada orang lain (negara luar) baik dibidang ekonomi maupun politik. kalau sudah terjadi hal seperti itu maka kemerdekaan yang kita raih di masa kolonial hanyalah pintu menuju penjajahan baru yang lebih ganas dan mematikan eksistensi kita sebagai bangsa Indonesia.
Tidak lain solusinya hanyalah kita harus BERDIKARI seperti yang di katakan presiden pertama Ir Sukarno. Pemerintah Dan Rakyatnya harus berani Lapar atau Kenyang bersama.
May 21st, 2008 at 7:45 am
lifting oil kita sudah di bawah 1 juta, hanya sekitar 920 ribu bopd.
satu lagi tentang cost recovery, masih banyak celah yang dimanfaatkan oleh KKS.
satu yang harus di lakukan sebelum BBM naik seharusnya adalah audit biaya produksi BBM tersebut. karena pertimbangan BBM naik tersebut selama ini hanya dari harga minyak dunia (eksternal) saja.
misalnya, BBM internasional harganya Rp 10,000 dan kita menjualnya Rp 4,000 lalu karena biaya produksi total (termasuk impor minyak mentah) Rp 6,000 maka kenaikan BBM pun tidak harus sampai Rp 10,000, alias cukup Rp 6,000 saja.
May 21st, 2008 at 9:31 am
ini ada artikel2 menarik yang mungkin membuat kita untuk sedikit berfikir “berseberangan” dengan rencana kenaikan BBM oleh pemerintah, lengkap dengan analisanya :
http://infoindonesia.wordpress.com/
May 21st, 2008 at 3:27 pm
Menurut pemikiran aye, inilah dampak dari kesalahan pemimpin jaman dulu. Rakyat terlalu dimanjain dengan subsidi, padahal uang negara aje ga ade trus rakyat malah minta duit alias alias malak disubsidi. Kemudian pemimpin pusing kudu cari duit dari mane. Alhasil ngutang deh.
Karena si pengasih utang seneng ma pemimpin Indo yg gampang dikibulin ga tau permaenan duit, makanya si pengasih utang trus2an ngasih utang ke pemimpin Indo dengan syarat bunganye tinggi trus dikasi waktu jangka panjang. Padahal makin lama ngutang, makin gede bunga yg harus dibayar deh. Kasian bener tuh pemimpin Indo mau aja dikibulin donatur.
Harusnye tuh pemimpin Indo minjem duit trus dibikinin bisnisan banyak2, tapi malah duitnye diabisin buat subsidi. Bisnis kan bisa balik modal, kalo subsidi mane bise coy. Kenyang diperut aje deh trus jadi kotoran.
Moga aje pemimpin Indo masa depan harus dipilih yg berotak Yahudi ato China (alias jago itung2an pake sempoa/alat tradisional itung2an laennye, bukan pake kalkulator ato microsoft excel). Masaleh titel pendidikan kurang begitu penting, buktinye kalo punye duit bise beli ngeborong titel. Yg penting otaknye bukan titelnye. Awas ketipu lagi. Emang bener kate2 bule/orang bermate sipit, orang Indo gampang tuh gampang banget ditipu.
Bentar lagi mo PEMILU, kudu elo2 pade ati2 nyoblos jgn nyesel lagi nantinye.
INDONESIA BISA!
May 22nd, 2008 at 1:05 am
Pengurangan subsidi BBM bukan hal yang baru, coz setiap tahun terjadi kok. Tapi setiap kali dikurangi subsidinya pasti rame terus demo, terus yang demo mukul aparat boleh tapi kalo dibales aparat marah, lapor komnas HAM he he… itukah negeriku(?)
Dari pada begitu, mbok rame-rame cari solusi, siapa tahu ada cara bisa nikmati listrik gratis atawa murah nggak kepengaruh kenaikan BBM. Banyak to caranya ? kalau listrik murah motor ganti sepeda listrik terus dan terus sampai akhirnya biaya impor minyak jadi lebih kecil dari pendapatan ekspornya.
Yah, dari pada demo suruh siap-siap bikin alternatif, coz tahun depan subsidi bakal dikurangi lagi he he he…
May 22nd, 2008 at 9:47 am
Saatnya mengembangkan energi alternatif yg renewable untuk pengganti bbm. Negara kita ini punya tanah yg luas sekali yg bisa ditanami tumbuhan yg menghasilkan BBM renewable spt tanaman jarak, aren, dll. Klo mengikuti BBM terus,tdk mungkin harganya bisa turun karena harga minyak dunia selalu naik. Selain membuat energi alternatif juga akan menyerap tenaga kerja yg banyak.
Saya salut dengan orang Indonesia yg menemukan BBM berbahan bakar air yg dapat menghemat konsumsi BBM hingga 50%. Sebaiknya hal itu diteliti lebih jauh kaitannya dengan kompatibel mesin dan disosialisasikan. Bayangkan jika semua org d Indonesia memakai itu, menghemat konsumsi BBM 50% !
May 22nd, 2008 at 4:31 pm
Saya termasuk orang yang setuju harga BBM naik…
Tapi saya jadi bertanya-tanya, kalo setiap beberapa tahun sekali subsidi BBM dikurangi, berapa persen sih kenaikan harga BBM seharusnya biar pemerintah nggak perlu subsidi lagi?
terus apa memungkinkan yah, indo spt negara2 maju yg harga bensin perliternya tiap hari bisa berubah mengikuti naik turunnya harga minyak dunia..
sorry, kalo comment saya kedengarannya ngaco..aku nggak punya basic economi soalnya..
May 22nd, 2008 at 6:43 pm
Memang pilihan sulit….apapun keputusan yang dilakukan pemerintah.
Namun kita harus membantu dengan berpikir positif, tetap optimis, melakukan efisiensi di segala bidang, dan secara paralel melakukan kerja keras untuk perbaikan.
May 23rd, 2008 at 12:51 am
Crude oil futures pass $129 a barrel for the first time, likely headed past $130. The June contract for light, sweet crude traded as high as $129.58 on the New York Mercantile Exchange before settling back to $129.12, up $2.07. The imminent expiration of the June contract created additional volatility in the market, and raised the very real possibility that crude could hit $130 before the end of the day, when the contract was ending. Warren Buffett said commodity prices were likely to continue to rise, but pointed out that Berkshire had no positions in raw commodities and probably never would. Stok cadangan elpiji Pertamina juga hanya cukup untuk kebutuhan nasional berkisar 5-6 hari ke depan,
sementara kilang Balongan ditutupi dengan membeli dari ConocoPhillips.
May 23rd, 2008 at 2:14 pm
pastinya saya tgu aja, kalau gak malam ini ya mungkin besok. sudah saatnya kita sadar bahwa persediaan munyak bumi itu memang tak terbarukan.. jadi kita bisa lebih cerdas lagi memakainya… ;)
May 23rd, 2008 at 2:27 pm
Menurut saya, isu kenaikan BBM ini malah dijadikan komoditas politik, rival-rival politik SBY, Dalih mereka membela rakyat miskin saya sangat meragukanya! Mereka seperti menemukan senjata ampuh menjelang 2009, kesannya jadi asal kritik, asal hantam, tanpa memberikan solusi yang logis
May 23rd, 2008 at 4:22 pm
terlepas dari salah benar kebijakan pemerintah menaikan BBM saya hanya mau katakan bahwa ini merupakan suatu kegagalan para penguasa negara kita dalam megurus bangsa ini ( Eksekutif dan Legislatif sama aja ). mereka perlu dikarantina untuk mendapatkan pelatihan spritual sehingga hati dan pikiran mereka dapat berfungsi sesuai dengan yang Tuhan inginkan, kecuali Tuhan mereka ( Si Uang ). masyarakat juga harus mengambil hikmah dari hal ini bahwa penggunaan BBM yang berlebihan hanya akan menyengsarakan kita sendiri, sehingga hematlah sehemat-hemat mungkin
May 23rd, 2008 at 4:40 pm
SBY-MJK = Sulit Bensin Yah..Mungkin Jalan Kaki
SBY-MJK = Selalu Bikin Yang Menguasai Jadi Kenyang
SBY-MJK = Seru Banget Ya Mereka Jor-joran Korupsinya
SBY-MJK = Salah Benar Yang Menang Jusuf Kalla lagi
May 23rd, 2008 at 10:48 pm
naikkan harga bbm, turunkan harga bbm emangnya gue pikirin, gak ada deh… kebijakan pemerintah sby jk yang mampu tingkatkan kesejahteraan rakyat, aku pernah anyel (over disappointed) banget, masalah jalan tol yang direncanakan 1600 km, dan mengenai tanah warisanku eh, rencananya tinggal rencana sampai masa keperintahan mau abis… kasihan, masak sih buat proyek gitu aja kalah dengan kebijakan seorang rt dan rw eh…. gak ada yang becus bener.
May 24th, 2008 at 10:10 am
Sayang rata-rata pendidikan masyarakat bangsa Indonesia masih sangat rendah.
Sehingga isu bbm ini banyak disalahgunakan oleh pihak2 yang tidak bertanggung jawab, demo2 mahasiswa ditunggangi (aksi anarkis tanpa seangat mencari solusi), informasi mr. kwik dibuat dengan asumsi yang salah, informasi yang diberikan hanya separuh (tidak global) sehingga menyesatkan masyarakat & membuat situasi makin parah. Sebagai informasi total produksi minyak indonesia sudah kurang dari 1 juta, sekitar 900ribu barrel/hari & terus berkurang (karena minyak bumi merupakan teknologi yang tak terbarukan, semakin sulit mencari cadangan minyak bumi di indonesia ini), di sisi lain konsumsi sudah lebih dari 1.2 juta, 1.3juta, 1.4juta barel/hari dan terus meningkat. Rasio pemakaian bbm dengan produksi akan semakin meningkat.. semakin meningkat rasio ini semakin besar dana yang dibutuhkan, sampai kapan subsidi bisa bertahan?
Ini masalah bersama yang haru kita tangani, bukan untuk ajang adu domba.
Ayo kita berfikir dengan melihat “helicopter view” bukan sepotong-sepotong.
Mari kita berhemat & mendukung program pemerintah (kalau ada program yang tidak sesuai ayo kita perbaiki bersama), berantas korupsi, tingkatkan produktifitas, dan tuntut ilmu setinggi-tinginya untuk diamalkan di jalan yang benar. =)
Terimakasih kepada Bung Nofi atas tulisannya yang menurut saya “fair” dan memberikan gambaran yang lebih jelas terutama untuk kaum awam..
Semoga banyak orang yang mebaca blog ini dan mengerti permasalahan sebenarnya.
May 24th, 2008 at 6:29 pm
Dengan adanya subsidi BBM dan tidak dihentikan subsidi BBM…negara tidak akan bangkrut….kalian semua kan org pintar dan berpenghasilan tinggi…silahkan ambil kalkulator dan hitung semua total pendapatan dr PAM,PLN,PBB,PPN, Pajak kendaraan, Pajak reklame dan sebagainya dari seluruh wilayah di Indonesia….itu sudah cukup untuk menutup defisit….negara indonesia adalah negara yang luas dengan jumlah penduduk yang besar dan kendaraan bermotor yg padat…..sehingga merupakan pangsa pasar yang empuk untuk negara2 maju….kaca film Vkool, Lumar,3m,Hyper optik itu semua produk dr USA…tp di USA /amerika….dilarang menggunakan kaca film….krn sasaran mereka adalah negara indonesia….coba kalian ke negara malaysia dan singapura…tidak diperbolehkan memasang kaca film pada mobil…..kenapa sasaran nya negara indonesia…krn jumlah kendaraan bermotor dan penduduk yang semakin meningkat tiap tahunnya….. dgn adanya peningkatan ini pasti pendapatan juga bertambah….intinya adalah berapa titik target keuntungan untuk APBN….TIDAK ADA YANG TAU…dr dulu negara selalu rugi…..apakah perlu merekrut pegawai Smart dr Luar negeri utk mengatasi defisit…
May 24th, 2008 at 6:48 pm
subsidi BBM dihentikan sama saja dengan menghentikan oksigen untuk bernapass…krn BBM naik, sembako dan barang/produk akan naik semua….PHK tidak bisa dihindarkan lagi untuk menyelamatkan usaha/perdagangan baik skala kecil ,menengah dan besar….PHK terjadi maka Kejahatan akan meningkat….keamanan tidak terjamin maka Investor akan menarik dana dr Indonesia…sehingga dana2 baik pengusaha lokal dan pengusaha asing akan melarikan dana ke luar negeri akibatnya nilai tukar rupiah anjlokkkkk….apakah BLT sebesar 100rb dapat memenuhi kebutuhan dengan harga yang melonjak tinggi???? BBM di luar negeri naik tidak ada masalah..krn penggunaan kendaraan bermotor jarang..lebih banyak menggunakan kendaraan massal seperti MRT dan bis serta tingkat kemakmuran dan infrastruktur yg sangat mendukung seperti superblok….seperti di Singapura dan Shanghai…saya bukan ahli ekonom…tp saya berdasarkan pengalaman studi banding ke luar negeri…. apabila terdapat banyak kekurangan..mohon kritik dan sarannya..Terima kasih….
May 25th, 2008 at 12:15 pm
@ Tomy
Mau tidak mau memang sebaiknya subsidi BBM dihapus perlahan, Rakyat kita sudah sekian lama dimanja dengan BBM murah.
Di Indonesia pengendara motor melimpah ruah karena murahnya harga BBM, menurut saya salah satu sebab kendaraan bermotor jarang di luar negeri seperti yang anda sebutkan adalah karena mahalnya harga BBM, mereka jadi berpikir 2 kali sebelum membeli kendaraan bermotor, Jadi hanya orang yang “benar-benar kaya” yang punya kendaraan bermotor karena mahalnya harga BBM.
Berdasarkan pengamatan saya di jepang sepeda kayuh lebih banyak digunakan daripada sepeda motor yang harus pakai BBM. Bahkan di sana bangunan2 elit seperti gedung perkantoran dan hotel menyediakan tempat parkir untuk sepedah kayuh, dan hampir selalu penuh. Bandingkan dengan di Indonesia.Orang pergi ke sawah pun naik motor, jalan-jalan putar-putar kota naik motor. Semestinya subsidi ratusan triliun itu dialihkan kepada pembangunan Infrastruktur kita yang sangat jauh ketinggalan, mohon maaf jika ada kesalahan, hanya bermaksud bertukar pikiran saja
May 25th, 2008 at 8:39 pm
ya emang kita yang boros mempergunakan minyak,koreksi diri lah,tapi ya mo gmn lagi pemerintah jg susah memecahkan masalah ini.ga tau deh mo ngomong apa lagian bukan cm negara kita aja yg rakyatnya pusing mikirin BBM tp di seluruh dunia pusing.
mudah2an rakyat bs lebih hemat lah termasuk jg pejabat yang blagu naik mbl yang buoroooosss mentang2 bensin di bayarin.
May 26th, 2008 at 8:52 am
Menurut Saya, Yang Paling Merasakan Dampak Kenaikan Harga BBM Adalah Masyarakat Ekonomi Menengah ke Bawah serta Pengusaha Berskala Kecil dan Menengah. Kenaikan BBM juga mungkin akan berimbas pada terjadinya PHK pada perusahaan-perusahaan yang tidak mampu lagi Menggaji Sebahagian Karyawan, Karena Biaya yang seharusnya untuk Menggaji Karyawan Terpaksa di Alokasikan untuk Biaya Kenaikan BBM.
May 26th, 2008 at 3:39 pm
makasih Mas buat tulisannya, nambah wawasan saya :smile:
menurut saya, orang2 di pemerintah itu emang gak semuanya bagus, tapi juga pasti gak semuanya jelek. gak usah yg jauh kali kita mikir mo ngebagusin pemerintah/orang lain, mari mulai benahi yg kecil2 dari diri kita sendiri. Buat awak yg bisa gak disubsidi kenapa awak harus disubsidi? *ifuknowwhatimean :p*
May 27th, 2008 at 6:57 am
Ya…. pemerintah Indonesia selalu begitu…. menghimbau untuk berfikir yang positif2 tentang kenaikan BBM ini tapi tindakannya tetap saja kurang positif (apakah itu bagian dari sifat bangsa ini?)…. Kebocoran tetap terjadi….. korupsi merembes di sana sini…. hal ini diperparah dengan kurangnya penguasaan teknologi sehingga penyulingan bahkan pengeboran minyak tergantung dari perusahaan2 dan teknologi2 di luar negeri, dsb……… Mudah2an kedepannya bangsa ini tidak hanya berfikiran positif tetapi lebih pada bertindak yang positif………
May 27th, 2008 at 12:37 pm
Emang rakyat nggak pernah korupsi? Berapa diantara anda2x yang berkendara dijakarta pernah nyerobot ke jalur busway atau melanggar lalin? Alasannya “kan polisi nggak ada”. Itu sama dengan koruptor “kan nggak ada yang ngeliat” maka diambillah itu duit. Alasan lain “kan cuma nyerobot jalur busway”. Sama, koruptor juga bilang ” kan cuma ngambil sekian milyar, kas pemerintah masih ada beberapa trilyun kok”.
Pemerintah asalnya dari rakyat juga jadi sifat pemerintah adalah turunan sifat rakyat. Like father, like son ( Gimana anaknya, ya liat aja bapaknya gimana ). Bagaimana sifatmu?
May 27th, 2008 at 5:01 pm
Gaya hidup masyarakat Indonesialah, terutama di kota-kota besar utama (Bandung, Jakarta, Surabaya) yang menyebabkan negara ini menjadi negara yang sangat boros mengkonsumsi BBM.
Saat ini saya baru saja menetap di kabupaten Cirebon, tepatnya di Plered. Salah satu keunikan yang saya lihat di daerah tersebut adalah banyaknya masyarakat menjadikan sepeda sebagai alat transportasi.
Suatu pemandangan yang sangat jarang saya jumpai di kota-kota besar utama seperti Bandung tempat saya berasal. Padahal Bandung adalah daerah yang relatif lebih sejuk daripada Cirebon sehingga menggunakan sepeda akan terasa lebih nyaman.
Media masa saat ini, terutama televisi sering menampilkan gaya hidup hedonisme dengan memamerkan kemewahan seperti yang ditampilkan di sinetron-sinetron, atau gosip gaya hidup selebritis. Jika di sinetron sering ditampilkan gaya hidup para abg atau remaja SMA sudah sanggup menggunakan mobil mewah, namun di Cirebon banyak ABG laki-laki atau perempuan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.
Jika saya perhatikan, jenis sepeda yang digunakannya pun kebanyakan bukan sepeda mewah , seperti yang pernah digunakan oleh presiden SBY saat sedang acara unjuk kebolehan bersepeda beserta para pengawal, atau sepeda yang digunakan oleh Gita Gutawa di salah satu iklan suatu produk yang dibintanginya.
May 27th, 2008 at 6:02 pm
Menurut pemikiran aye, mendingan subsidi pelan-pelan dicabut trus duitnye dibikinin sawah, kebun, empang, tambak, dll banyak2. Elo-elo pade lebih milih jalan-jalan ato makan sih?????
Kalo aye sih lebih milih makan daripade jalan-jalan. Makan kan bisa bantu elo jalan-jalan. Lah kalo jalan-jalan emangnye bisa bantu elo makan. Kalo makan, elo butuh energi dari “Pangan”, sedangkan kalo jalan-jalan, elo butuh energi dari “BBM”. Makan kagak bisa di-setop coy, lah kalo jalan-jalan kan masih bise kapan-kapan waktunye. 24 jam, 3x sehari elo-elo pade butuh makan kan. Lah kalo jalan-jalan, elo bise tunda waktunye. Inget coy, harge BBM ma Pangan same2 naek, tapi kite2 butuh makan buat kerje nyari duit. Kalo perut laper, bise sakit maag dan sakit kepale coy.
Jadi, menurut aye lebih penting tunde jalan-jalannye alias subsidi BBM kudu diilangin pelan2 trus subsidi Pangan nah nyang kudu digenjot.
Gitu aja kok repot…
Pusing-pusing amat elo-elo bertengkar mulu…
Udah gede bikin malu babe ma emak elo aje…
May 28th, 2008 at 11:34 am
Tanggapan buat mas Ferdi….
Ya jelas donk jalan-jalan bisa bantu kita untuk bisa makan. Bukannkah dengan seringnya seseorang jalan-jalan sedikitnya kita sudah melakukan suatu silaturahmi. Dan perlu diingat bahwa silaturahmi adalah salah satu cara untuk mempermudah kita mendapatkan rejeki. Dan yang pasti dari rejeki itu ada yang digunakan buat makan.
Yang perlu diperhatikan disini adalah bukannya dengan meminta orang-orang untuk mengurangi jalan-jalan atau melarangnya sama sekali. Tapi yang perlu dipikirin adalah bagaimana proses jalan-jalan itu kagak bikin boros energi.
Pikirin deh cara memilih kendaraan yang hemat energi, cara berkendaraan yang benar, mencari energi alternatif atau lain sebagainya.
Pokonye jangan karena harga BBM naik terus jadi bikin kita kagak punya waktu silaurahmi, dan kagak gaul, atau ku’ulen kata orang sunda bilang.
May 29th, 2008 at 4:03 pm
@ Ferdi, setuju mas, cuman masalahnya hasil produksi itu kan harus didistribusikan tokh? nah distribusinya itu kan pake kendaraan yang notabene pake BBM (kecuali para petani mo jalan kaki dari Cianjur sampe Jakarta sambil ngangkut karung beras buat dijual) jadi harga pangan ujung2nya Muahal tenan gitu loh.
Inilah yang bikin saya sebel bener sama pemerintah yang ngomongnya seakan-akan kalo BBM itu cuma dipake sama orang ber-Ferrarri hilir mudik tak keruan (halah tuan, kalo orang berduit mah pelesirnya ke luar negeri kaleeee)
May 29th, 2008 at 4:41 pm
trims atas penjelasannya ….
IMO , BBM sudah naik, dan kita juga sadar kalo harga dunia sudah naik, jadi daripada ributin mengenai naik atau ngga bbm lebih baik kita salurkan ke diskusi yang lebih memberikan solusi nyata, bukan solusi angan - angan.
Benar, yang menjadi pemerintah itu yah masyarakat sendiri, bukankah kita sudah sering mengentengkan korupsi. Saya aja mau bikin SIM C, konsultasi sana - sini , sebagian besar menyarankan “beli aja, cuman 250rb koq”
May 30th, 2008 at 11:46 am
saya baca di Kompas kemarin, tulisan MT Zen sangat menarik. Norwegia bisa memanfaatkan teknologi enhanced recovery ( dari Amerika selama 10 tahun , seterusnya sudah tidak ada lagi tenaga Ameika disana ) ladang ladang minyaknya , sehingga bisa menggenjot 3 kali lipat tanpa menyentuh ladang baru. Bahwa Norwegia pernah menawarkan teknologi in kepada Indonesia sepuluh tahun lalu,..but you know lah…
June 1st, 2008 at 12:16 am
Harga BBM naik terus. Harga kolor turun naik. Harga toge turun naik. Harga Terong naik turun. Harga diri turun terus. Apa lagi?
June 2nd, 2008 at 9:26 am
BBM naik sangat terasa banget di kalangan masyk srg, apa lg dengan kelangkaan BBM sekarang. Tapi saya optimis pemerintah kita bisa menyelesaikanya.
June 2nd, 2008 at 11:39 am
Kalo udah begini, BBM naek terus terus naek bahkan sampai habis dibumi pertiwi ini.. siapa yang bertanggung jawab buat anak cucu kita.. Tolong dong pemerintah, bisa ga sih membatasi impor kendaraan bermotor kalo tau keadaan begini..Bayangkan saja sekarang, tiap kepala keluarga rata-rata hampir memiliki kendaran motor 2 sampe 3 buah, bahkan anak-anaknya yang duduk di SMP atau SD sudah dibekali motor…di pulau jawa, sumatra dan kalimantan (yogya, bengkulu, pontianak dll) kendaraan bermotor itu wajib untuk dimiliki hampir setiap kepala orang karena fasilitas kendaraan umum tidak memadai, kekurangan dan jadwal beroperasi hanya samapi pukul 8 malam..Berarti berapa banyak kendaraan brmotor di Indonesia ini???
Semoga dengan membatasi maksimal 1 motor dan 1 mobil yang dapat dimiliki dalam 1 rumah dapat meminimalkan pembelian dan eksploitasi BBM kita..selain itu, kita dapat mengurangi pencemaran udara…katanya bumi semakin memanas istilah kerennya ‘global warming’ lalu langkah apa saja yang sudah dilakukan untuk itu???
June 2nd, 2008 at 12:57 pm
1. saya terkesan oleh paparan ini, makanya saya beritahukan ke seorang anak sekolah dan seorang guru. makasih nofie!
2. setuju sama iman dan terutama mt zen
3. tetap terpingkal-pingkal baca komentar hedi (#1). ngeledek bener ini anak :)
June 11th, 2008 at 6:00 pm
#1
Kita kan punya kilang korupsi terbesar :D
June 12th, 2008 at 1:30 am
(#,#) Bicara masalah bahan bakar —–,,,;;;;””’,,–> sebagai sesuatu yang tertinggal kita sebaiknya belajar untk tidak menggunakan bahan bakar tersebut… lalu dari mana dan bagaimana menggantikan posisiongnya itu si bahan bakar tersebut… wah.. kalo yang ini saya tidak tahu siapa atau apa yang pantas menggantikannya..
humm.. disinilah dan dari sinilah kita harus sudah memulai mencari penggantinya,, contohnya ya kita gunain itu tenaga matahari melalui solarsel yang di ciptakan untuk salah satualternatif untk men suplay tempat penyimpanan listrik.. lalu setelah mesin berjalan menggunakan tenaga batrai yang di rubah arusnya menjadi arus listrik yang besar maka mari kita listrik tersebut dapat memutarkan sebuah dinamo sebagai alternatif yang ke dua untuk mensuplay tempat penyimpanan listrik. lalu selanjutnya mari kita kembangkat suatu kemajuan baru yang di bangkitkan oleh bangsa kita yang tadinya terbiasa menerima jadinya’ nah,, sekaranglah waktunya kita yang menyediakannya… dan kita pula la… tentunya yang menggunkannya pula.. hehehe..heheh…mudah mudah tulisan ini jadi pelajaran dan dapat dikembangkan kembali.. smoga bermanfaat dan ada hikmahnya…
pangeran_catur@yahoo.com
June 25th, 2008 at 5:39 pm
Akh, orang Indonesia gak pintar2 kok bingung!!Siapa yg ingin melihat Indonesia pintar?? Uuukh, semua pada taku ama Indonesia, karena Umat Islamnya banyak, makanya mereka “musuh2 Islam” berusaha nhembosin Indonesia. Kalian ini goblok, kayak gak tau aja. Kalau mereka mau kita pintar ya disekolahkanlah kita pada jurusan yg cocok dengan kondisi negara kita. Akh, mana mungkin. Kita hanya bisa pintar jika kita udah sadar bahwa selama ini kita dibodohin dan dibiarkan bodoh terus, biar jadi org bodoh dan nggak nguasai dunia!! Kalau Indonesia pintar, ya, pastilah Indonesia yg berkuasa, dong!! Makanya org yg adi kuasa sekarang, ya ggak mau dong Indonesia maju!!!Ha ha ha, kalian belum tau ternyata, ya!!!???
July 5th, 2008 at 2:32 pm
Ngomong 2 ,dengan GAS bagaimana? kan kita banyak Gas,untuk menginiciatifkan pemakaian gas,pajak mobil dapat diskon 30% setujukan? Gas alam kita melimpah tetapi msalahnya belum ketemu cara bagaimana korupsinya,jadi sampai sekarang belum di galakan.