Euro 2008, Turki, dan Cinta Laura
June 27th, 2008 | EntertainmentYang membuat Euro kali ini begitu menarik adalah tumbangnya negara-negara “mainstream” seperti Perancis, Portugal, Italia, atau Belanda. Walau “muka” Euro agak terselamatkan dengan bertemunya Jerman dan Spanyol di final, tak bisa dipungkiri bahwa kuda hitam seperti Rumania, Kroasia, Rusia, dan Turki sukses mengobrak-abrik pasar taruhan dan membuat persaingan jadi unpredictable. Pada akhirnya—-tak peduli tim mana yang bermain—-penonton disuguhi permainan yang sangat menghibur.
Rumania misalnya. Di penyisihan grup, Rumania bahkan hampir menutup peluang tim anak emas Italia untuk lolos seandainya penalti Adrian Mutu di menit-menit terakhir berbuah gol. Rusia juga sukses menyajikan tontonan yang bermutu. Selain punya serdadu berbakat seperti Andrei Arshavin dan Roman Pavlyuchenko, mereka juga diarsiteki pelatih yang terbukti membawa 3 negara berbeda di prestasi sepak bola dunia. Sayang mereka harus dihentikan gelandang-gelandang matador.
Kroasia juga tak diunggulkan tetapi malah jadi tim kedua yang lolos penyisihan grup. Kalau sebelumnya mereka menghentikan langkah Inggris, di penyisihan grup mereka juga sempat mematikan raksasa Jerman. Kroasia kali ini mengingatkan saya dengan Euro 1996 dan Piala Dunia 1998. Davor Suker, Zvonimir Boban, Slaven Bilic, dkk sukses membuat kejutan. Dengan amunisi potensial seperti Luka Modric, Mladen Petric, bukan tidak mungkin Kroasia akan membuat kejutan di Piala Dunia nanti.
Tapi tim yang paling gila barangkali adalah Turki. Konon mereka menikmati kemenangan kurang dari 20 menit sepanjang turnamen ini. Selalu tertinggal, nyaris tidak lolos, namun merubah keadaan di menit-menit akhir. Kredit harus diberikan buat Fatih Terim dan anak-anak berbakatnya yang bermain eksplosif. Biarpun kehilangan 9 pilarnya, mereka sukses merepotkan Jerman. Sebagian pengamat bilang Jerman hanya “beruntung” karena karena gol Miroslav Klose lahir dari blunder Rüştü Reçber dan ketika Philipp Lahm membalik keadaan Kazim Kazim sedang tergeletak di lapangan. Satu-satunya yang bisa menghentikan Turki mungkin hanyalah peluit penjang wasit.
Kegagalan Tim-Tim “Mainstream”
Ada banyak hal yang membuat tim-tim langganan juara justru terjungkal. Italia masih sulit menghapus ketergantungan terhadap armada tua seperti Totti, Nesta, Cannavaro, Zambrotta, atau Panucci. Pemain Italia yang berusia lebih dari 30 tahun hampir 40%. Bandingkan dengan Rusia atau Spanyol yang mempunyai pemain muda berusia 22-25 tahun dengan persentase masing-masing 61% dan 48%. Biarpun Italia punya Giorgio Chiellini, Daniele De Rossi, Alberto Aquilani, atau Antonio Cassano, tetap saja kaki-kaki tua pemain Italia lamban mengimbangi tenaga muda Spanyol.
Donadoni nampaknya juga terlalu bergantung pada Luca Toni sebagai goal getter karena ketiadaan Alberto Gilardino, Inzaghi, dan Iaquinta. Yang lebih menyebalkan, budaya (sengaja) menjatuhkan diri dan merengek protes kepada wasit masih saja jadi bagian sepak bola Italia. Ditambah dengan adu penalti di sisi Spanyol dan kegemilangan Iker Casillas yang sukses menebak seluruh tendangan dan memblok 2 di antaranya, membuat kegagalan Italia kali ini kian lengkap.
Perancis juga setali tiga uang dengan Italia. Mereka tidak belajar dari kekalahan Italia. Ketergantungan terhadap armada tua seperti Claude Makélélé masih begitu kuat. Lilian Thuram sudah berusia 36 tahun dan Grégory Coupet sudah 35 tahun nampak tergopoh-gopoh ketika kemasukan 4 gol ke gawang mereka. William Gallas, Willy Sagnol, atau Patrick Vieira juga sudah kian uzur. Sementara armada muda seperti Franck Ribéry, Karim Benzema, atau Samir Nasri belum terlalu matang.
Sementara itu, Belanda harus jatuh di tangan dingin Guus Hiddink yang sangat cerdas membaca titik lemah Belanda. Nyatanya, dalam turnamen ini Belanda belum terbukti bermental juara. Mereka juga belum teruji ketika berada dalam posisi tertinggal. Tiga kemenangan sebelumnya diperoleh dengan posisi unggul terlebih dahulu dari tim-tim yang tidak memainkan ball possession dengan ketat.
Belanda harus takluk oleh strategi total football dan pertahanan berlapis dengan lebih dari separo pemain di garis pertahanan. Akibatnya Belanda kesulitan masuk dan hanya berani melakukan tendangan jauh—-seperti bukan Belanda yang menghancurkan grup C. Akhirnya, penampilan cemerlang Arshavin dkk. menghancurkan kesombongan Marco van Basten yang terlalu pasif dengan taktiknya.
Kalau masih ingin memertahankan Piala Dunia nanti, Italia tentu harus bekerja keras. Begitu juga dengan Perancis bila tak ingin dilupakan oleh masyarakat sepakbola dunia. Kalau lengah, Kroasia, Turki, atau Rusia bisa saja mengambil alih. Situasi agak lebih baik dimiliki Belanda karena mereka mempunyai batalion muda yang dahsyat. Di tangan yang tepat bukan tak mungkin mereka juara di masa mendatang.
Redupnya Pemain-Pemain Bintang
Selain kegagalan tim-tim “mainstream“, pemain-pemain bintang yang diperkirakan bakal moncer nyatanya malah memble. Cristiano Ronaldo boleh dikata merupakan pemain ber-skill rendah bila dibandingkan dengan permainan Modrić, Nihat, Sneijder, atau Van Persie di awal-awal turnamen. Barangkali godaan dari Madrid menggoda konsentrasi dan performa CR7 selama turnamen ini.
Luca Toni yang terbukti menjadi monster menakutkan di Bundesliga nyatanya malah tak mencetak gol sama sekali. Beruntung Italia punya Chiellini yang bisa melapis pertahanan karena absennya Nesta dan Cannavaro. Kemampuan membaca bola dan menutup permainan lawan seolah-olah menunjukkan usianya sudah 27-28 tahun yang kaya pengalaman.
Miroslav Klose yang digadang-gadang sebagai goal getter malah kinerjanya tak sebaik Piala Dunia lalu. Justru Bastian Schweinsteiger yang mencuri perhatian dan menunjukkan kualitasnya sejak melawan Portugal. Lukas Podolski juga terbukti menjadi pemain yang (hampir) sempurna dengan umpan yang mematikan dan gol-gol yang spektakuler.
Arda Turan dan Semih Şentürk juga menjadi idola baru Turki. Gol-golnya membalikkan keadaan buat Turki sekaligus membuktikan bahwa pemain lapis dua tak lebih buruk dari pemain utamanya. Luka Modrić, yang sempat diragukan ketika akan dibeli Tottenham Hotspur, ternyata menunjukkan bahwa dirinya layak menjadi pemain terbaik Kroasia yang menjadi motor penggerak selama ini.
Spanyol juga nampaknya harus berterima kasih pada David Villa yang punya naluri mencetak gol yang luar biasa. Peran David Silva yang menjelajah setiap jengkal lapangan dan merusak pertahanan lawan juga tak bisa diabaikan. Dan jangan lupa Marcos Senna yang menyeimbangkan lini belakang dan garis depan permainan Spanyol.
Tapi pemain yang paling berkilau namun tak terjangkau radar perkiraan kita barangkali adalah Andrei Arshavin. Bersama Roman Pavlyuchenko, mereka sukses membawa Beruang Merah sampai sejauh ini. Tak salah bila media menyebut bahwa Arshavin-lah yang membuat Zenit St. Petersburg menjuarai UEFA.
Adidas vs. Nike
Selain pertandingan bola bundar, adu sponsor juga berlangsung ketat antara Adidas dan Nike. Dari 16 tim yang berlaga, lima di antaranya menggunakan produk Adidas (Jerman, Spanyol, Rumania, Perancis, dan Yunani). Produk Nike juga digunakan lima negara, yaitu Rusia, Turki, Kroasia, Belanda, dan Portugal. Lima tim lainnya (Italia, Ceko, Swiss, Austria, dan Polandia) menggunakan produk Puma dan satu tim sisanya (Swedia) menggunakan produk Umbro.
Di ajang perdelapan final, seluruh tim Nike lolos sementara tim Adidas hanya meloloskan Jerman dan Spanyol. Tim Puma diwakili oleh Italia dan tidak ada wakil dari tim Umbro. Sementara di babak semifinal, dua tim Adidas lolos bertemu dengan dua tim Nike (Rusia dan Turki). Tapi pada akhirnya Nike harus mengakui keunggulan Adidas karena final mempertemukan sesama tim Adidas (Jerman dan Spanyol).
Siapa Pemenangnya?
Saya sedikit mengunggulkan Spanyol. Mereka punya penjaga gawang dengan reflek dan penyelamatan yang sangat baik. Kuartet Ramos-Puyol-Marchena-Capdevila dan gelandang bertahan Marcos Senna kian kompak. Kalau Iniesta dan Silva bisa bermain jenius seperti sudah-sudah, ditambah naluri mencetak gol Villa-Torres, bukan tidak mungkin Spanyol bisa mengatasi Jerman. Jangan lupa, mereka punya pelapis yang kualitasnya hampir sama bagusnya.
Lagipula, kalau sampai Jerman menang, bisa senang tuh si Cinta Laura. :)
Comments
June 28th, 2008 at 1:45 am
Gubraakkk..kirain apa hubungannya judulnya ama si cinlau
Tp gw msh stress gara2 Belanda kalah, impossible bgt. hiddink jenius! tapi kalo ngeliat performa Belanda waktu ngancurin juara dunia 2006 sama juara dunia 1998, Belanda bakalan punya prospek yg paling tinggi di pd 2010. apalagi pemaen2 mudanya luar biasa. tapi yg malah bikin ga abis pikir lagi, kenapa malah Spanyol enteng bgt ngalahin Rusia? kirain dengan ada Arshavin ga bakal sama kayak penyisihan
tapi Salut paling tinggi tetap buat Turkiye
June 28th, 2008 at 2:10 am
Rangkuman Euro 2008 kok sudah ditulis padahal Euro 2008 belum selesai..
June 28th, 2008 at 6:33 am
jadi prediksi untuk final ini kira kira mana bos
June 28th, 2008 at 11:40 am
del piero ngga disebut babar blas :(
June 28th, 2008 at 5:18 pm
ha ha Cinta Laura..secara di jerman syejakkh kechillllll
Kalau saja millih Spanyol saja deh..
June 28th, 2008 at 10:49 pm
dan Indonesia sebagai penonton dan khalayak paling setia terhadap Euro 2008 :D
June 29th, 2008 at 12:13 am
Saya juga heran dengan orang Indonesia. Walaupun negaranya main, orang-orang di Eropa nampaknya berada pada level antusiasme yang biasa-biasa saja. Sementara di Indonesia—-yang tak punya hubungan apa-apa—-begitu getolnya dengan Euro. Sampai-sampai MNC mem-blowup gelaran ini dengan begitu hebatnya. Sebelum Euro dulu dimulai, saya malah heran mendengar berita sebuah kampung di Makasar (?) yang menghiasi lingkungannya dengan bendera dan atribut negara-negara peserta Euro. Barangkali karena sepakbola sendiri sudah tak bisa diandalkan lagi?
June 29th, 2008 at 9:04 pm
ah bung nofie, sampeyan kayak komentator ajah.me-review setelah udah ada hasil dr pertandingan2 tsb.gak seru ah.. :D
coba klo italia atau prancis juara eropa, apa bung nofie msh mau menjelaskan bhw faktor pengalaman-lah yg mbuat mereka juara dan mengalahkan semangat muda spanyol?
June 29th, 2008 at 9:34 pm
Ini namanya spectator fallacy. Kalau saya bisa mereview dengan 100% akurat sebelum pertandingan, mungkin sekarang sudah melatih Chelsea atau Inter Milan. :)
Tapi sungguh, melihat permainan Italia, Perancis, dan bahkan Jerman (sewaktu dikalahkan Kroasia), sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah negara-negara yang ditakuti di persepakbolaan dunia.
June 30th, 2008 at 8:21 am
Selamat atas kemenangan SPANYOL
Kira-kira Cincha Laura komentar ga …ya…?
June 30th, 2008 at 9:42 am
Selamat buat prediksinya mas nofie yang jitu. Mungkin ada bakat jadi pelatih/manajer sepakbola kelak :)
Spanyol memang layak menang. Main bagus, tak terkalahkan, paling banyak bikin gol, paling sedikit kebobolan, permainan kolektif yg cantik, wah, sempurna benar.
June 30th, 2008 at 10:21 am
Menurut aye, sepak bola itu seperti sebuah perang/pertempuran (Soccer is a War). Ada strategi menyerang dan ada strategi bertahan.
Kalo diliat2 persepakbolaan negeri kite “INDONESIA”, JELEK banget. Kalo lagi nonton pertandingan sepak bola negeri sendiri, tidak terlihat permainan dengan strategi menyerang dan strategi bertahan yg enak dipandang yg elegan. Beda halnya dengan permainan dari negera2 di Eropa. Meskipun negara juru kunci dari Eropa pun, saat bertanding tetap enak dipandang teknik2, posisi2 pemainnya & strategi2nya.
Sebodoh itukah negara kita & bangsa kita, masa’ persepakbolaan kita berada dibawah levelnya negara juru kunci dari Eropa padahal negara kite kan jumlah penduduknya banyak, yaitu +/- 225 juta orang dan dalam sepak bola itu hanya butuh 11 orang pemain saja untuk pemain nasional. Berapa PERSEN-kah dari 11/225 juta orang ?
Apa iya ga ada pemain2 ber-BAKAT dari negara kite ini ???
Apa iya orang-orang Indonesia lebih enak jadi penonton santai duduk di depan televisi daripada jadi pemain di lapangan ???
Terlalu…………
June 30th, 2008 at 6:49 pm
syukurlah akhirnya spanyol juara. Sbg liverpudlian gue turut bersuka cita :)
thx ya uda visit :)
July 1st, 2008 at 6:22 pm
Hai, saya Margaretta dari majalah Investor. Komentar ini sih nggak ada hubungannya sama bola tapi sama reksa dana.
Sekarang lagi bikin artikel mengenai kasus-kasus penipuan reksa dana. Pusing euy karena ternyata kasusnya pada rumit. Mana neliti kasus dari 1998-2008. Tahu deh sumbernya bagusnya dari mana.
Bisa bantu kasih tahu, kalau menurut Pak Nofie kasus-kasus apa saja yang bagus buat diangkat? Tolong yang lain kasih comment ya.
O ya saya juga lagi cari narasumber dari para Investor yang pernah jadi korban kasus penipuan reksa dana seperti kasus Bank Global, Wahana Bersama Globalindo ataupun DUIT. Buat yang bersedia ceritanya didengar. Bisa kirim e-mail ke margaretta@investor.co.id
Saya pikir betul juga belum ada lembaga perlindungan konsumen investasi. Saya pikir sih bagus juga kalau para mantan korban berkumpul dan bikin lembag independen untuk itu. Walaupun tidak semua, setahu saya kebanyakan korban penipuan reksa dana yang tertipu sekian milyar pastinya punya penghasilan tinggi juga. Bukannya mau menambah beban yang udah jadi korban. Tapi cuma beri saran. Lama nungguin Pemerintah jadi mending gerak sendiri aja. Bagus kalau ada semacam lembaga yang sustain memperjuangkan ini. Nggak nunggu cuma ada kasus aja.
July 2nd, 2008 at 8:12 pm
emang 225 juta cowok semua ya om?
July 3rd, 2008 at 10:46 am
Hahaha…Oiya, ditambah TIM SEPAK BOLA NASIONAL WANITA ada juga…
Persentase :
* Before : 11/225 juta ???
* After : (11/225 juta) * 2 Tim ???
Kalo butuh pemaen cadangan, tinggal hitung aje…
July 21st, 2008 at 4:25 pm
ini baru namanya awal yang spektakuler, luar biasa hebatnya………………….., sungguh fantastis.