Mahasiswa: Pahlawan Tanpa Jasa
June 24th, 2008 | NewsGampang betul mendapatkan gelar pahlawan jaman sekarang. Hanya dengan berdemo, mengutuk pemerintah dengan kata-kata kotor, berbuat anarkis sambil bakar-bakaran, menantang polisi sambil lempar batu, memblokir jalan umum dan bikin macet, kasih bogem mentah ke setiap orang yang lewat—-tentu dengan dalih mengatasnamakan rakyat—-dan jadilah sudah.
No offense bagi keluarga-kerabat Maftuh Fauzi, tapi kata teman saya, “Orang gila mati gara-gara demo di jalan kok dibilang pahlawan rakyat.” Teman saya yang lain malah bilang, “Pahlawan itu orang yang berjasa buat negara, lah ini, Maftuh, apa yang diperbuatnya buat Indonesia?” Barangkali kalau para founding fathers negeri ini masih hidup, mereka akan menangis melihat gelar pahlawan diobral begitu murahnya.
Para mahasiswa itu mungkin lupa bahwa kita baru bisa mengatakan diri kita berguna jika hidup kita sungguh bisa membawa manfaat bagi orang banyak. Para mahasiswa ini mungkin merasa sudah terlampau hebat, menganggap diri mereka dewa reformasi, padahal mereka bukan superhero dan superbody yang bisa seenaknya berbuat ini-itu mengatasnamakan rakyat, demokrasi, dan seribu satu jargon lainnya.
Barangkali memang kapasitas otak para mahasiswa itu telah menyusut ukurannya. Mereka enak-enak membakar mobil aparat, padahal mobil itu dibeli dengan uang rakyat. Pagar gedung DPR yang sebenarnya dibangun atas keringat rakyat dirusak begitu saja. Pembatas jalan tol yang dibuat untuk kepentingan rakyat juga ikut dirobohkan. Katanya mereka mendemo soal BBM, tapi malah memblokir dan membuat macet jalan, yang pada akhirnya malah membuat ongkos bensin terbuang sia-sia.
Mereka seenaknya meneriakkan nasionalisasi Freeport. Perusakan alamnya memang sungguh luar biasa, tapi apa mereka pernah mendenger setoran 1% profit untuk suku-suku di sana? Tahukah mereka untuk apa dana yang nilainya cukup besar itu digunakan? Pernahkah mereka mendengar masyarakat Desa Banti, Tembagapura yang direlokasi dan dibuatkan rumah sesuai permintaan namun bagaimana nasib rumah-rumah tersebut sekarang? Kalau mereka tahu keadaan sebenarnya, saya bertaruh mereka tak akan teriak demikian.
Mereka juga ngotot meminta nasionalisasi perusahaan-perusahaan yang sekarang dimiliki asing. Tapi mereka lupa siapa yang sesungguhnya mengobral perusahaan-perusahaan tersebut sehingga sampai ke pangkuan asing tanpa memberi keuntungan buat bangsa sendiri. Mereka lupa bahwa main rampas dengan cara yang kasar tak cuma menurunkan kredibilitas Indonesia di mata dunia, tetapi juga membuat inflasi melompat tinggi yang pada akhirnya justru makin menyengsarakan rakyat.
Mereka berdemo dengan modal nekad serta berbekal narkoba dan miras. Polisi yang sedang menjalankan tugasnya malah mereka sebut “anjing” dan mereka lempari molotov. Tapi ketika jatuh korban, mereka membawa-bawa nama Komnas HAM atau Kontras. Siapa yang sebenarnya pengecut? Mestinya mereka sadar bahwa kepala benjol, terkena pentungan, tersiram water cannon, tertabrak, tertembak, cedera, berdarah, atau bahkan mati itu adalah resiko dari demo yang anarkis. Siapa yang sebenarnya kekanak-kanakan?
Pendek kata, mereka lupa bahwa negara ada karena rakyat. Dan apa yang mereka perbuat sesungguhnya justru sesuatu yang mendzalimi dan menyakiti hati rakyat banyak. Kalau memang ingin membela kepentingan rakyat:
- mengapa tidak rajin belajar, segera selesaikan kuliah, dan membuat lapangan pekerjaan untuk menampung pengangguran di negeri ini yang jumlahnya bejibun?
- mengapa tidak memikirkan solusi energi alternatif yang mudah dan murah bagi rakyat, mengingat masih ada 13% rumah tangga Indonesia yang belum terjangkau listrik?
- mengapa tidak menggugat oknum LSM yang melacurkan diri ke bangsa lain dan menjelek-jelekkan bangsa sendiri demi kepentingan perut mereka?
- mengapa tidak mendemo para pengemplang BLBI dan menuntut mereka mengembalikan utangnya yang mencapai triliunan rupiah?
- mengapa tidak mendemo production house yang memproduksi sinetron yang berpotensi mendegradasi moral bangsa ini?
- dan masih banyak mengapa-mengapa lain yang seharusnya dijawab sebelum mereka turun ke jalan.
Anyway, Anda mungkin heran mengapa kampus UNAS yang notabene tidak menunjukkan batang hidungnya era Mei 1998 tiba-tiba lantas mengemuka? Padahal di kampus “kecil” itu tidak banyak mahasiswa yang aktif dalam kemahasiswaan dan mengusung ideologi garis keras. Atau mungkin Anda juga bertanya-tanya mengapa kampus-kampus mainstream seperti UI, IPB, ITB, UGM, Undip, Unpad, Unair malah relatif tidak bergerak melawan pemerintah?
Ada sejumlah opsi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, mungkin mereka tidak ada dalam peta percaturan pergerakan mahasiswa sehingga lepas dari radar pengawasan aparat dan intelijen dan bisa bebas berkoar begitu saja. Kedua, jumlah aktivis yang kecil justru merupakan peluang untuk disusupi dan dimanfaatkan guna provokasi pihak-pihak tertentu di kampus-kampus tersebut.
Tapi barangkali jawaban yang lebih pas adalah karena mereka (maaf) tidak secerdas senior-senior mereka dari kampus-kampus mainstream. Para mahasiswa dari kampus mainstream mungkin cukup intelek untuk memahami bahwa kenaikan BBM memang berdasar alasan-alasan yang rasional dan relatif tidak banyak alternatif lain selain mengurangi subsidi. Wajar jika demo yang dilakukan mahasiswa dari kampus-kampus utama tersebut hanya ala kadarnya.
Dugaan ini makin kuat mengingat demo dari UNAS dan kampus “kecil” lainnya juga makin irasional. Awalnya mereka menuntut pertanggungjawaban polisi atas meninggalnya rekan mereka. Namun, ujung-ujungnya mereka menuntut Kapolsek, Kapolda, Kapolri, hingga SBY-JK mundur karena dianggap tidak kompeten. Sungguh merupakan tuntutan demo yang terlalu garing untuk dibilang sebagai sesuatu yang lucu. Apalagi secara kasat mata terlihat adanya aksi provokasi, penyebaran fitnah, dan pembentukan opini yang hanya mencari-cari kesalahan aparat kepolisian semata.
Saya percaya aparat kepolisian dan intelijen cukup cerdas untuk bisa mengatasi persoalan-persoalan semacam ini. Mahasiswa juga perlu dikembalikan ke tempat duduknya semula sebagai agen perubahan yang mengusung nilai-nilai intelektual yang berbudi pekerti luhur. Mari sama-sama berdoa agar bangsa ini tak sampai terjebak pada chaos yang pernah terjadi sudah-sudah. Amien.
Dan ngomong-ngomong soal BBM, tahukah Anda bahwa di Simelue harga bensin mencapai Rp 20.000 per liter? Anehnya, masyarakat di sana tak banyak protes dan perekonomian masih terus berputar.
June 25th, 2008 at 12:22 pm
June 28th, 2008 at 9:48 pm
August 1st, 2008 at 10:12 am
Comments
June 25th, 2008 at 12:28 am
pertama, (mungkin) karena UNAS punya banyak mahasiswa yg beraliran “kiri”, aliran itu sekarang ini lagi bangkit di seluruh dunia, liat jargon2 yang mereka bawa
kedua, mahasiswa yg ikut demo juga nggak menjamin bakal bener kalo udah menjabat. yg jaman demo reformasi dulu udah banyak yg jabat tuh dan mereka sama aja dengan yg didemo dulu…ngeyangin perut sendiri.
June 25th, 2008 at 12:35 am
Mungkin karena yang sekarang kuliah di kampus2 mainstream (tanya: kenapa pula disebut mainstream? :) ) kebanyakan anaknya orang kaya. BBM naik mah tinggal todong lagi ortunya :)
June 25th, 2008 at 1:16 am
Saya setuju dengan pendapat Bung Nofie Iman secara saya juga mahasiswa.
Tetapi bagian Maftuh, saya rasa sedikit offensive. We know that many things in this world aren’t meant to be said even though we know how ridiculous it is.
thanks
June 25th, 2008 at 1:18 am
Saya sangat setuju dengan posting Bung Novi terutama bagian:
“mengapa tidak rajin belajar, segera selesaikan kuliah, dan membuat lapangan pekerjaan untuk menampung pengangguran di negeri ini yang jumlahnya bejibun?”
“mengapa tidak mendemo production house yang memproduksi sinetron yang berpotensi mendegradasi moral bangsa ini?”
“dan masih banyak mengapa-mengapa lain yang seharusnya dijawab sebelum mereka turun ke jalan.”
Sewaktu saya masih kuliah tahun 2003an, aksi-aksi demo mahasiswa kebanyakan diisi olah mahasiswa yang “tidak kompeten” relatif dibandingkan teman-teman lain yang tidak ikut demo, kebanyakan di antara mereka mempunyai masalah dalam kuliah, masalah keluarga, hampir DO dan stress berat.
Hanya segelintir orang yang punya niat tulus untuk kepentingan rakyat. (mungkin teman-teman bisa membandingkan dengan kondisi kampus masing-masing – CMIIW)
Nampaknya inilah yang terjadi di Kampus UNAS dan demo mahasiswa akhir akhir ini. Apakah hal ini diperburuk dengan aktor di belakang layar yang ingin menjatuhkan pemerintah?
Andai saja mereka mau belajar (mahasiswa red.) sehingga aksi-aksinya lebih cerdas, konstruktif, dengan atitude yang baik dan tidak merugikan rakyat.
Di samping itu semoga ke depannya Pemerintah bisa mengalokasikan sebagian besar dana APBN untuk bidang pendidikan sehingga anak-cucu kita bisa lebih pintar, kompetitif, bermoral baik, dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.
Tayangan TV perusak moral bangsa (red. sinetron) seharusnya diganti dengan tayangan pendidikan, training-training motivasi, pengetahuan ekonomi, pengembangan teknologi, pendidikan moral, psikologi, dan hal-hal positif lainnya.
Ayo kita mulai dari diri kita sendiri, dari yang kecil (tunjukkan bukti dan solusi bukan hanya meminta)
Untuk para mahasiswa, marilah kita perbaiki citra buruk mahasiswa indonesia dengan memberikan hal-hal yang lebih kongkrit.
June 25th, 2008 at 4:15 am
Mahasiswa sekarang main fisik gak main otak lagi..
Tapi aku tidak setuju kalo kecerdasan dijadikan alasan. Banyak orang cerdas yang jadi koruptor. Lagian, koruptor paling banyak mungkin dari universitas mainstream itu karena yang banyak megang jabatan tinggi di pemerintah juga dari universitas mainstream.
June 25th, 2008 at 4:36 am
Menjelang kenaikan harga BBM kemarin, sudah ada pertemuan presiden BEM kampus-kampus besar di Indonesia dengan pemerintah, waktu itu Cak Nun menjadi mediatornya.
Pemerintah mengemukakan alasan kenapa BBM harus naik, lalu Cak Nun melemparkan kepada para presiden BEM tersebut apakah ada langkah yang bisa diambil untuk mencegah kenaikan harga.
Tak satupun bisa menjawab dan atau memberi solusi, maka BBM pun naik harganya.
June 25th, 2008 at 8:15 am
saya setuju dengan Septian.
June 25th, 2008 at 8:17 am
aksi anarkis menunjukan tingkat intelektual yang rendah, mental POKOKNYA HARUS BEGINI! POKOKNYA BBM HARGANYA JANGAN NAIK! tanpa bisa ngasih solusi logis, dan ga mau tahu keadaan, mungkin mereka ga diajari berpikr logis kali ya? bisanya cuma ngrusak fasum yang dibiayai uang rakyat atas nama rakyat, yang begini kok mau disamakan angkatan 98,
June 25th, 2008 at 9:05 am
saya setuju dengan Riga.
nice writing tho…
June 25th, 2008 at 9:22 am
ah, kurang lebih sama dengan apa yang mau saya tulis ^-^
kl soal maftuh, seharusnya rekan2nya yang bikin rusuh pas demo yang tanggung jawab :p enak aja udah cari gara-gara pas ada korban ga merasa salah, memuakkan …
oh ya, kl kata aktivis forkot Adian N di TV One tadi pagi, anarkisme itu cuman ekses yang wajar, duh logika apa yang dipake sih >_<
June 25th, 2008 at 9:33 am
ttp kayaknya klo kasus maftuh itu jg kesalahan polisi.terlalu keras menindak pendemo hingga menyebabkan seseorang kehilangan nyawa :(
June 25th, 2008 at 9:54 am
masih bertanya adakah perjuangan yang murni ?
* terus bertanya
June 25th, 2008 at 10:33 am
Bener apa yang dikatakan Bung Nofie dalam artikel kali ini.Apalagi waktu tadi pagi lihat acara di TV One wawancara dengan mantan mahasiswa yang katanya dia masih aktif di FORKOT.Dengan gaya arogan menjawab disertai suara serak2 karena banyak teriak kemaren di depan gedung DPR/MPR katanya.Bikin jengah kalo udah tamat kuliah masih ngurusin kayak gituan dan bikin demo anarkis.Emang gak habis pikir,mo jadi apa kalo demo aja anarkis apalagi kalo udah tamat dan dapat kedudukan.
Sungguh2 edan mahasiswa sekarang………..
June 25th, 2008 at 12:15 pm
Setuju dengan Bang Nofie Iman, sedih sekali lihat demo mahasiswa seperti kemarin.
June 25th, 2008 at 12:23 pm
Yah, kenapa mereka bisa benar-benar yakin kalo “aksi” mereka itu didukung oleh rakyat? Yang saya denger2 komentar kebanyakan warga masyarakat, mereka kebanyakan malah gak setuju dengan acara demo-demoan kaya gt, asal gak setuju, anarkis lagi. Jika mereka mengatasnamakan rakyat, patut dicatat bahwa banyak juga masyarakat yang tidak setuju dengan aksi para mahasiswa tersebut (termasuk saya yg juga mahasiswa). Memang BBM naik bikin hidup lebih sulit, tetapi rakyat Indonesia akan berusaha menghadapinya. Bukankah kita menjadi lebih maju karena ada kesulitan?
Tapi Bung Nofie, masalah Maftuh dan “mahasiswa kampus mainstream” itu terlalu ofensif. Kita sedih ada yang meninggal, dia rakyat Indonesia. Dan tidak sepantasnya menjelek-jelekkan orang yang baru saja meninggal.
Soal “mahasiswa kampus mainstream” itu menurut saya terlalu menggeneralisir. Seperti kata Septian, “We know that many things in this world aren’t meant to be said even though we know how ridiculous it is.“
June 25th, 2008 at 1:24 pm
Saya setuju dengan Fisto
(Prihatin nich…. lihat temen-teman kaya gitu)
June 25th, 2008 at 2:20 pm
bagaimanapun mahasiswa juga manusia, bisa di tunggangi oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mencoba merubah stabilitas politik. mahasiswa sebagai generasi yang selalu berusaha memposisikan diri di depan dalam hal menyuarakan perubahan, menjadi elemen yang paling potensial untuk di ‘intervensi’. sayangnya dalam akhir-akhir ini ekspose pemberitaan aksi mahasiswa lebih dominan pada sisi anarkis dan brutalismenya. aksi mahasiswa kembali turun ke jalan dipicu oelh kenaikan BBM yang kabarnya tak bisa di hindari karena efek global.
Sejenak kita melihat secara global isu-isu yang berkembang sesaat setelah diumumkannya kenaikan BBM, dari pantauan pribadi saya, sangat memprihatinkan, dimana hampir di setiap media cetak dan elektronik tampak jelas ekspose kesengsaraan yang ditimbulkan akibat kenaikan BBM ini. antrian minyak tanah di mana-mana, penimbunan Solar, antrian bahan bakar kendaraan roda empat dan dua di spbu-spbu, kelangkaan gas elpiji dsb. bahkan sampai ada kecelakaan truk pertamina yang mengangkut minyak tanah di sebuah kabupaten di jawa timur, sampai-sampai minyak tumpahannya di ‘jarah’ warga sekitar karena memang saat itu sangat langkanya minyak tanah. itu sekelumit pemberitaan ketika BBM dikabarkan naik.
Pemerintah sekarang memang sangat ciamik dalam mengelola isu dan mengendalikan isu. Momentum kenaikan BBM yang seharusnya semakin menjadi topik perjuangan mahasiswa untuk bisa di carikan solusi dan titik temunya mampu di sapu hanya dengan isu-isu dummy dan kacangan macam tragedi ‘monas’- bentroknya FPI dan AKKBB, yang melahirkan tokoh misterius ‘munarman’–mungkin tokoh buatan/intel yang sengaja di ciptakan(dalam beberapa partai krusial euro2008 ‘dia’ belum mau menyerahkan diri..he3). bentroknya FPI yang memang sangat berang dengan ahmadiyah dengan dalih penistaan agama, kebetulan sekali Aliansi Kebangsaan untuk Kebebesan Beragama dan Berkeyakinan itu memang tengah berkumpul menyuarakan “Tolak SKB Ahmadiyah’.
Lantas entah by design atau memang sangat kebetulan atau mungkin kombinasi dari bydesign dan momentum kebetulan ini, blow up media begitu masif dan terfokus pada kasus tindakan anarkis FPI terhadap AKKBB dan sebagian simpatisan PDIP yang sedang merayakan lahirnya pancasila. karena memang tipikal pemberitaan di ‘negeri kita’ dan entah daya tangkap massa yang cenderung lebih senang berita-berita anrkis ketimbang berita yang berbobot, dan mungkin juga efek dari tayangan sampah made in produser ‘india’ di TV teresterial kita. ini titik awal dari lenyapnya perjuangan mahasiswa yang menuntut penolakan kenaikan BBM. seperti kemarau yang di sapu hujan, isu datang silih berganti.
kasihan para mahasiswa yang memang betul-betul ‘kita husnuzon saja’ berjuang untuk kepentingan rakyat, kasihan yang sampai mengorbankan nyawa, aksi jahit mulut, mogok makan semua aksi itu tak ada bekasnya. bahkan dengan elegannya pemerintah menghadirkan isu lainnya, BLT sejuta masalah, selain itu aksi beasiswa ’sogokan’ untuk mahasiswa mungkin agar tak turun ke jalan. sangat lucu sekali, licin dan cerdik.
berikutnya, isu itu hadir dari orang aneh yang namanya Ahmad Zaini….(kalo yang ini no comment)
Lalu bagaimana kita menilai aksi anarkis mahasiswa kemarin?
kita nantikan saja isu berikutnya yang kebih menarik.:P
June 25th, 2008 at 9:08 pm
@Albert
komentarnya cueerdass deh…
June 26th, 2008 at 12:04 am
June 26th, 2008 at 7:40 am
Yang jelas mereka bukan mahasiswa, mereka oknum lihat aja dari aksinya ,otak mereka tuh di dengkul, makanya gak bisa berpikir panjang, jadi mohon dimaklumi :),
so tangkap aja mereka pak polri….
June 26th, 2008 at 8:15 am
Demo yang baik tu….demo yang bagaimana sih….??
sepertinya klo saya liat di berita tv, mahasiswa dari Perguruan Tinggi “Mainstream” cara demo nya juga sama saja dengan mahasiswa dari kampus “kecil” ..( iya ga sih…??)
klo bener begitu, image bahwa mereka diangganp lebih intelektual harus dipertanyakan??
Untuk para aktivis2 kampus (Mainstream ato bukan), berilah contoh demo yang baik…demo yang membangun….demo yang menunjukkan bahwa mahasiswa adalah makhluk yang memiliki intelektualitas tinggi….
Demolah pendemo yang “kampungan” itu, dengan cara demo yang ideal….hehehehe…
June 26th, 2008 at 2:19 pm
Saya pernah lihat demonstrasi yang jauh lebih sopa, cuma ada beberapa orang, kameramen, dan sutradara, dan wartawan. Ini aku lihat di Jogja, perempatan Tugu. Lucu juga ya, tapi jelas gak ganggu pengguna jalan. Yang penting bisa bikin berita di Koran yang bonafid, mungkin juga disiarkan di televisi. Hasil pengambilan foto dan videonya pasti berkualitas karena ada pengarah gaya dan sutradara. Wartawannya saya pikir wartawan panggilan (kayaknya sih seneng-seneng aja dia bakalan dapat berita). Mungkin ini yang namanya demo secara CERDAS. Soalnya mereka memahami bahwa orang-orang di jalan yg menjumpai pendemo gak bakalan ada yang simpatik, jadi targetnya utamanya adalah para pemirsa berita televisi, jadi sekalian saja disutradarai secara profesional. Ini baru namanya demo CERDAS.
June 26th, 2008 at 2:37 pm
Gile bener…Busyet dah…Mahasiswa2 ABAL-ABAL ya…Mungkin mereka stres karena ga dapet kerja, makanye mereka cari kerjaan, yaitu DEMO…Wah wah…Buang2 waktu & energi aje…Ngurusin diri sendiri aje ga BECUS, apalagi ngurusin NEGARA…
Kalo mereka sudah pade SUKSES, aye persilahkan buat unjuk taringnye ngurusin negara…Ngurusin negera itu udah LEVEL TINGGI (High Level) untuk orang-orang JENIUS…Emangnye gampang ngurusin NEGARA…”Ya iya lah”…Emangnye “ya iya dong…”
Elo-elo pade mahasiswa kan masih belajar TEORI aje, belum PRAKTIK kan…TEORI sih gampang, kalo PRAKTIK susah…Kalo dalam MATEMATIKA, 1 + 1 sudah pasti 2, tapi kalo dalam BISNIS, 1 + 1 belum tentu 2 coy sebab ade FAKTOR X…
Oleh karena FAKTOR X inilah nyang bikin pemerintah pusing harus ambil keputusan utk menaikkan BBM karena RAPBN (TEORI) tidak sama dengan APBN (PRAKTIK) pade kenyataannye. Tujuannye supaye persamaan 1 + 1 + FAKTOR X = 2 menjadi benar, coy…
Pasti tuh mahasiswa2 nyang TUKANG DEMO kagak JAGO MATEMATIKA ya…
Bikin malu EMAK ama BABE elo aje…
June 26th, 2008 at 3:12 pm
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca juga oleh para mahasiswa yang aktif berdemo…..
Saya kira sekarang citra mahasiswa demo memang tak lagi “bagus” dimata sebagian masyarakat. Aksi-aksinya kurang simpatik dan justru menimbulkan antipati dari beragam pihak.
Dan tema mengenai BBM sama sekali tidak pas. Sekarang tema demo yang lebih pas sebenarnya bisa :
1. Demo Anti Sinetron Tak RAsional. Aksi serbu RCTI, SCTV, dll, dll…..wah keren tuh.
2. Demo Turunkan Jaksa Agung dan Adili JAM…..Serbu Gedung Bundar Jaksa….Kalau perlu para Jaksanya yang Kotor disandera…..
Saya kira, pilihan tema dan strategi aksinya mesti lebih pas. Kalau tema pas, aksinya dilakukan dengan elegan dan simpatik, juga dengan tawaran solusi yang rasional.….citra mahasiswa akan kembali membaik.
June 26th, 2008 at 6:28 pm
wah pada maki maki mahasiswa semua ya..hehe.
mana yang lebih kejam, kekerasan demo mahasiswa atau kekerasan yang dilakukan negara terhadap rakyatnya…?
ketika sistim pendidikan yang “dibikin” membuat beberapa pelajar harus bunuh diri, ketika sistim negara membuat warga porong dan sekitarnya menjadi sengsara (mungkin sebentar lagi menimbulkan beberapa masalah sosial), ketika beberapa fakir miskin membunuh dirinya sendiri atau mati kelaparan…mana yang lebih kejam?
seandainya saya berada dalam posisi miskin harta, miskin informasi, miskin peluang/kesempatan, miskin jaringan, dan bahkan miskin harapan (mungkin ini yang terjadi pada mahasiswa kemaren) mungkin saya juga bisa menjadi beringas..tapi bukankah itu juga karena dimiskinkan?
kekerasan mahasiwa kemaren saya pikir cuma efek doang…ada sebab yang lebih besar…
June 27th, 2008 at 6:26 am
setuju. Meskipun saya rasa ada alasan yang lebih besar seperti yang diungkapkan oleh Mas Triadi. Daripada digunakan untuk berdemo, lebih baik fokus, energi dan waktu digunakan untuk membangun negeri ini.
Tulisannya menarik. :)
June 27th, 2008 at 9:12 am
Wow…tumben kang nofie berapi api banget…hehehe…sebagai mantan mahasiswa yang sama sekali ga pernah ikut demo kecuali demo masak, aku netral-netral aja sih…
cuma emang kalo uda anarkis, wah, engga banget deh…trauma sama kejadian 1998, dan kayanya emang ada oknum2 yang pengen kejadian 1998 itu berulang, supaya bisa jarah2….duh…amit2…
negara kita ini ya, udalah pejabatnya korup, rakyatnya emosian…hiks..
eniwei, tp betul kata mas septian, beberapa bagian dr postingan mas nofie kali ini jadi agak terkesan men-generalisir sebagian orang…kalo majas, majas pars pro toto (apa totem pro parte??)kekekeke…
June 27th, 2008 at 9:44 am
Kalo gw mo ikutan demo apa yang enak jaman skrg ini???
June 27th, 2008 at 4:34 pm
Yuuup !!
Setuju sama artikel and semua komentar di atas (^_^)
mayoritas demo sekarang emang cuma untuk ajang seneng-seneng and show off aja di antara para mahasiswa sekarang,
mentang-mentang udah punya gelar “sarjana” (walaupun bisanya nyusahin orang doang) mereka beranggapan semua yang mereka lakukan (demo) adalah pasti benar, dan pihak yang mereka pojokkan adalah pasti salah… terutama dalam kasus UNAS….malu-maluin banget !!
June 27th, 2008 at 4:36 pm
Uups ada yang salah ….
mentang-mentang udah punya gelar “Sarjana”
Seharusnya
mentang-mentang udah punya gelar “Mahasiswa”
June 27th, 2008 at 7:42 pm
Teman2 demo dari kampus saya dulu di UI tahun 1998..terbagi dua pola ekstrim: pertama, kebanyakan jadi..ehem..apa ya? gak jelas kerjaannya (pengacara)…kedua: jadi pejabat partai yang sekarang menikmati fasilitas negara…Sisanya: ditengah2: pegawai aka kalangan menengah..
IMHO, Yang belum muncul nih: social entrepeneur..baik dari kalangan ilmuwan, akademisi atau pebisnis…
Negara baru maju kalau golongan tua (baby boomers) sudah keluar dari sistem: dengan cara alami atau paksaan-secara-sistematis *masih mikir..caranya gimana…*
June 27th, 2008 at 10:49 pm
Anyway….mas, ikut MLM Anyway juga ya?..:)
June 28th, 2008 at 7:02 pm
unas, oh unas…
mengapa kau menjadi terkenal dengan cara seperti ini
June 28th, 2008 at 8:15 pm
Yang kuliah di kampus yang disebutkan di atas lagi musim ujian…tiap kali anakku sms minta didoakan.
Sebetulnya kalau mengatakan dirinya mahasiswa dan merasa pintar, berani dong berdebat secara santun…jangan-jangan karena kurangnya pengetahuan, mereka hanya berani teriak ya. Saya ikut terjebak di daerah Semanggi, untung saat itu nebeng mobil teman, tak terbayang jika naik busway…bisa-bisa jalan kaki.
Anak UI/ITB (yang saya tahu, karena kedua anakku kuliah disitu) tak semuanya kaya…banyak dari mereka yang kuliah dengan bekerja, mengajar di Bimbingan belajar, berdagang dsb nya. Bahkan anakkupun sejak tahun kedua sudah bisa membiayai sendiri uang hariannya…karena menjadi asisten, serta jadi pengelola web di kampusnya.
July 1st, 2008 at 9:46 am
Mahasiswa telat demo, itu sih mungkin yang pas buat mereka. Pas tahun 1998, mereka ga kebagian, jadi baru deh sekarang-sekarang ini (LOL). Banyak dari mereka yang sekedar ikutan demo, berbuat anarkis, sehingga merasa hebat dan berjasa. Padahal, saya yakin banyak dari mereka demo tanpa agenda dan tujuan yang jelas, dan dengan mudahnya ditunggangi. Ga mikir apa, bloon kok dipiara. Mereka juga tidak punya kreativitas menyampaikan suara, ya bisanya cuman bikin rusak dan bikin rusuh.
Kalau masalah kecerdasan, keluhuran budi, dan perjuangan, saya cenderung menilai bukan dari mana dia berasal, dari univ. mainstream atau bukan mainstream, tapi lebih ke pemikiran, sikap, perbuatan, dan sumbangsih positif dari yang bersangkutan. Jadi yang goblok dan bloon itu ya yang berbuat anarkis dan sekedar ikut demo aja.
Mau jadi apa negeri ini kalau semua mahasiswa bisanya cuman kayak gitu. Ga ada yang concern ke penelitian untuk membangun bangsa, ga ada yang concern ke perbuatan sosial yang lebih positif untuk membangun rakyat, ga ada ada yang concern memberikan solusi.. Bisanya protesssss aja tanpa ngasih solusi.. Payah!
July 1st, 2008 at 1:20 pm
Terkesan emosional tulisan Anda kali ini. Masalah kapasitas kemampuan dan masih menggolongkan “kampus mainstream dan bukan” adalah terlalu dini dan (maaf) kerdil.
Adalah kehidupan berdemokrasi bilamana mahasiswa mencari jalan pintas dengan terus mempertanyakan dan memprotes kebijakan pemerintah. Ingat kasus Paris 1968, Malari 1974, Tiananmen 1989..?
Secara langsung, hubungan antara cara berdemokrasi mahasiswa yang terkadang terpancing untuk anarkis dengan arah kebijakan pembangunan sebuah bangsa dan “membangun bangsa” memang kecil dan sulit dicari benang merahnya. Tapi sesungguhnya ada energi tak kasat mata dan pelajaran bergharga yang akan terasa dampaknya beberapa masa yang akan datang.
Percaya lah tak ada yang sia-sia dengan pengorbanan. Kecuali bila kita hanya bisa melihat dan mengomentari, tanpa bisa memberikan rasa simpati.
Salam
July 2nd, 2008 at 7:58 pm
Baru pertama ini ane lihat seorang nofie iman geram.
dan
Baru pertama juga ane gak bangga jadi mahasiswa,setidaknya sampai baca tulisan ini.
July 3rd, 2008 at 5:05 am
Mengenai nasionalisasi anda buka lagi catatan sejarah nasional Indonesia. Paska peralihan kekuasaan dari belanda kepada Sukarno dkk, telah terjadi nasionalisasi modal asing seperti: pabrik gula, perkebunan-PTPN, dan Bank Indonesia. Nasionalisasi sudah ada sejak lamadi Indonesia pak, suka atau tidak (baca pengantar Gus Soleh: Hugo Chaves-Resist Book).
Tentang gelar pahlawan. Orang seperti anda dan teman anda iu tentu memiliki sikap yang sama tentang Maftuh Fauzi dan seratus Mahasiswa Unas lainnya yaitu: Pemakai Narkoba dan tukang demo dengan cara-cara anarkis, persis seperti opini yang dibuat Polri bahwa–Maftuh cuma pemakai Narkoba, lebih kasar lagi ya biar saja mampus. Demikian sederet opini miring termasuk tujuan dari artikel ini. Sebenarnya anda tak perlu gusar untuk sebuah usaha menghargai Maftuh Fauzi yang diberi gelar pahlawan rakyat oleh TEMAN-TEMANNYA (ngga perlu sewot, bukan SBY-JK kok yg kasih, santai mas). Gelar pahlawan itu bukan muncul dari Pemerintah resmi, negara RI yang anda cintai, bukan, Jadi tak perlu berlebihan lah, kalau teman-teman Maftuh (TALI GENI) memberi gelar, mungkin juga karena masih dirundung dukadan rasa emosi karena ketidakadilan.
Dari artikel saudara, jelas, tidak ada empati ataupun sikap menghormati keluarga Maftuh Fauzi terutama Orang tua dan saudaranya, apa pantas memuat pendapat orang lain: “Orang gila mati gara-gara demo di jalan kok dibilang pahlawan rakyat.”..apa pantas anda memuatnya meskipun pendapat orang lain ditengah kondisi berduka? Coba lah anda posisikan diri anda sendiri, jika yang meninggal adalah saudara anda sendiri atau bahkan anak anda sendiri, lantas anda menemukan artikel persis seperti yang anda tulis panjang lebar ini. Sepertinya etika dan moral anda patut digugat.
Bericara kekerasan insiden Unas, penting untuk meihat secar holistik. Jangan cuma lihat peilaku segelintir mahasiswa Unas. Apakah anda sebagai masyarakat terdidik –sadar dan tahu kalau sejak 1965, fondasi dan bangunan masyarakat Indonesia dibangun dengan darah dan nyawa 3 juta rakyat. Kita dibesarkan dengan kekerasan dan teror oleh pemerintah ORBA sejak lahir pak, lihat lagi sejarah kedung ombo, tanjung priok, 27 Juli 1996, Penculikan, dll, dll. Perilku melempar molotov atau lempar batu cuma 10% dari 100% kekerasan yang selalu dilakukan oleh aparat dan pengauasa. Kekerasan itu juga berupa emsional dan mental.
Persoalannya sederhana, Maftuh Fauzi percaya bahwa kenaikan BBM akan menambah kesengsaraan rakyat. Terbukti Fakta membuktikan setelah kenaikan BBM 28.7% % jumlah warga miskin bertambah hingga 4.5 juta jiwa (Sumber: LIPI). Berdasarkan versi Kwiek Kian Gie ada cara dan alternatif untuk tidak memilih kebijakan menaikan BBM, Kwiek bisa membuktikan secara ekonomis dan matematis. Nah orang seperti Maftuh Fauzi mempunyai ketegasan sikap, dia memilih, berdiri di posisi menolak kebijakan BBM, meskipun harus dibayar dengan nyawanya. Maftuh meninggal sebagai Mahasiswa Unas, bukan orang gila, tolong anda ralat itu kepada teman anda.
Setelah membaca tuntas opini anda saya menilai anda tidak lebih intelek atau lebih bermoral, dengan mencaci maki para mahasiswa lainnya.
Bahkan opini ini anda telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan Maftuh Fauzi dan keluarganya.
Demi kebaikan kita bersama, sebaiknya, dimasa depan anda tidak membuat opini yang memperkeruh suasana ditengah duka pada keluarga yang ditinggalkan.
Kasih empati sedikit pak!. Jangan kekanak-kanakan lah…
Salam Pembebasan!
July 4th, 2008 at 12:27 am
loh, kenaikan bbm itu kan buat tujuan jangka panjang.
Kalau efek sementaranya adalah peningkatan jumlah orang miskin, kemudian efek jangka panjangnya antara lain mengedukasi masyarakat u/ hemat energi, penemuan energi alternatif, penghematan subsidi, pengurangan ketergantungan thd bbm fosil, mengurangi polusi, meningkatkan taraf hidup masyarakat, meningkatnya kesehatan masyarakat , dll, bagus tuh!
dasar bodoh si maftufauzi. lu tuh yg ga intelek. dasar bego
July 4th, 2008 at 12:28 am
mf udah bego, anarkis lage. temen2nya juga sama.
July 4th, 2008 at 6:48 am
Klarifikasi, saat ini, sampai hari ini mispersepsi masih terjadi pada kata Anarkis. Berikut saya kutip dari wikipedia:
Kata anarki adalah sebuah kata serapan dari anarchy (bahasa Inggris) dan anarchie (Belanda/Jerman/Perancis), yang juga mengambil dari kata Yunani anarchos/anarchia. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi n dengan archos/ archia (pemerintah/kekuasaan). Anarchos/anarchia = tanpa pemerintahan. Sedangkan Anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki.
Lebih lengkap kunjungi wikipedia disini
Dan,
Dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti: anar·kis n 1 penganjur (penganut) paham anarkisme; 2 orang yg melakukan tindakan anarki(?).
Lebih lengkap kunjungi situs KBBI disini
Nah semoga lebih tercerahkan, jadi memang ada mispersepsi dan salah terjemahan yang dibiarkan dan tidak dikoreksi oleh pihak berwenang hingga menjadi kebohongan umum.
Lebih tepat, faktanya, Maftuh Fauzi dan kawan-kawan pada insiden Unas, adalah melawan!. Menolak kebijakan kenaikan BBM.
Tolong jangan membuat opini yang menyesatkan. Anda tentu sadar, salah satu tugas intelektual adalah menegakkan kebenaran.
Salam Pembebasan!
July 4th, 2008 at 7:19 am
Saya hanya ingin mengoreksi beberapa kata dipostingan ini, yakni ‘para mahasiswa’. Koq kedengarannya semua mahasiswa jadi sasaran.. Bagaimana kalau diganti menjadi ’sebagian mahasiswa’ kan lebih realistis ketimbang yang tadi. Saya juga seorang mahasiswa, saya setuju dengan ‘mengapa mahasiswa tidak belajar dan membuka lapangan pekerjaan’. Alhamdulillah sebagian rekan saya termasuk saya sudah mewujudkan itu. Kasihan kan rekan2 yang sudah berjuang ini jadi rusak namanya karena ulah oknum mahasiswa lain yang tidak bertanggung jawab.
July 4th, 2008 at 11:01 am
Agak lucu juga ketika mendengar begitu gampangnya mahasiswa sekarang memberi gelar pahlawan, sedangkan presiden ke-2 kita saja untuk diberi gelar pahlawan masih ada beberapa perdebatan. Demo sekarang memang sudah tidak nyaman, dimana-mana anarkis… saya tidak setuju pendapat orang yang membedakan mahasiswa dengan orang tua yang kaya dibanding dengan mahasiswa dengan orang tua yang kurang mampu…toh dengan belajar rajin dan bisa memanfaatkan fasilitas yang secukupnya, kita bisa mendapatkan beasiswa…banyak juga mahasiswa yang kurang mampu tapi dapat beasiswa asalkan otaknya mampu bagaimana untuk mencapai hal tersebut? ya belajar jaangan hanya demo mulu demo mulu..cuapek liatnya di TV…ya nggak?? kalo sudah begitu, kita bisa menggantikan bapak2 dan ibu2 di pemerintahan yang semau gue ngurus negara…
July 4th, 2008 at 2:45 pm
Saya sebagai orang tua, setuju banget dengan tulisan bung Novie ini.
Sungguh miris melihat siaran berita di TV yang hampir tiap hari menampilkan aksi2 kekerasan yang dilakukan para pendemo ataupun polisi.
Seharusnya apapun masalahnya bisa disampaikan dan diselesaikan dengan kepala dingin tanpa harus memaksakan kehendak, merusak fasilitas umum, atau bahkan saling melempar atau memukuli.
Sebagai orang tua, saya berharap semoga kita semua bisa memberi contoh kepada penerus kita agar tidak membiasakan diri untuk memaksakan kehendak dengan cara kekerasan. Carilah solusi damai yang saling menghargai dan menghormati.
Salam damai.
July 4th, 2008 at 9:16 pm
MF, jika begitu saya ganti kata anarkis menjadi: brutal saja deh. anda tampaknya senang bermain kata-kata – untuk membenarkan tindakan mhs. UNAS tersebut. apapun sebutannya, tetap saja sebuah tindakan bodoh. Jika anda merasa yang MF dkk lakukan adalah menegakkan pembenaran, maka anda sesat. tampak jelas budaya kekerasan mengakar di negeri ini. beraninya rame2. keroyokan, lempar2an batu. pengecut
July 4th, 2008 at 11:31 pm
Jangan mengalihkan duduk persoalan bung. Mari kembali pada pokok persoalan. Saya bukan sedang membenarkan, tapi mengingatkan adanya fakta (!) dilapangan.
Maftuh Fauzi, telah menjadi korban kebrutalan anggota Dalmas Polres Jakarta Selatan.
Pihak kepolisian mengakui bahwa protap (prosedur tetap) memang tidak dipakai pada saat penyerbuan kampus Unas. Protap adalah prosedur tetap yang harus diikuti untuk mengendalikan massa yang diatur dalam UU. Pengakuan ini didapat dari hasil penelitian Kompolnas (Komisi Polisi Nasional) dan Tim pencari fakta dari Komnas HAM. Temuan lainnya–antara lain: telah terjadi pelanggaran HAM, penganiyayan, pelecehan seksual, penemuan proyektil dan Granat dalam kampus Unas.
Dalam penyerbuan kampus Unas itulah, Maftuh Fauzi, menjadi korban pelaku kekerasan (memijam bahasa saudara: budaya kekerasan) oleh pihak Dalmas dan polisi berpakaian preman.
Nah persoalannya jelas, Maftuh Fauzi, meninggal dunia akibat perlakuan kekerasan dan penganiyayaan yang diperparah lagi yakni tidak mendapatkan pengobatan segera serta hak-haknya sebagai tersangka tidak diberikan (sebagaimana dijamin oleh KUHP, UUD 45 dan Deklarasi Hak-hak asasi manusia), hingga menyebabkannya meninggal dunia.
Nah, kritik saya pada penulis artikel ini, simpel kok–sungguh amat sangat disayangkan, tidak tepat, membuat opini yang menyudutkan Maftuh Fauzi (seperti memuat secara online kata-kata:“Orang gila mati gara-gara demo di jalan kok dibilang pahlawan rakyat.” bukan pendapat priadinya pulak, bagaimana mungkin bisa dipertangung jawabkan, apa iya Maftuh gila (?)) ditengah-tengah kondisi sedang berduka.
Coba anda bayangkan (saya percaya anda seorang intelektual seperti yang anda percaya) kalau artikel ini dibaca oleh bapak atau Ibu Maftuh, tentunya sedih dan kecewa, karena apapun yang terjadi Maftuh itu adalah anak mereka, siapapun tidak berhak menghina anak mereka dalam bentuk apapun!, (coba dipikir lagi siapa yang gila).
Dan menurut saya opini si penulis memang kasar, hanya karena persoalan sepele– ketidak setujuannya tentang gelar pahlawan yang diberikan oleh teman-temanya Maftuh, opini menjalar kemana-mana, sampai menjeneralisasi semua mahasiswa, menghakimi para mahasiswa, hingga terkesan cuma penulis yang paling sempurna dimuka bumi!. Konyolnya lagi padahal pemberian gelar pahlawan ini tak ada dasar hukum maupun konstitusi apapun yang mendukung (sudah dianggap kebenaran), dan lagi-lagi sewot dan sinis semata.
Jelas, opini (artikel) ini hanya didasari oleh ego sang penulis saja, tanpa mau memperimbangkan rasa simpati, empati, dan etika kepada seorang warga negara lain yang meninggal dunia, disini lah letak persoalan yang saya bawa sedari awal.
Tolong hormati perasaan keluarga MatuhFauzi, jangan membuat opini, stigmatisasi negatif, mencemarkan nama baik, yang hanya memperkeruh suasana saja.
Salam Pembebasan!
July 5th, 2008 at 3:25 am
Untuk saudara MF, terlihat jelas bahwa anda hanya mengandalkan emosi dan pencitraan diri/doktrinasi “bahwa mahasiswa selalu benar” dalam membaca blog ini.
Saya pribadi melihat anda bukan sebagai seorang yang dapat menerima pendapat orang lain dilihat dari kalimat dan kata-kata anda yang menurut saya pribadi, egois.
Pertama, ini adalah blog, blog merupakan tulisan bebas yang dibuat oleh seseorang dalam internet. Sebuah blog hanyalah ajang menumpahkan uneg-uneg, ide, kreativitas untuk kepentingan pribadi (syukur-syukur kalo bermanfaat untuk orang lain). Bagaimanapun juga, isi blog tergantung dari si pembuat blog. Mau si pembuat blog mencaci maki dirinya sendiripun, atau Tuhan sekalipun, bukankah itu hanya menjadi masalahnya sendiri? Adakah yang dirugikan? saya rasa tidak ada, kecuali jika anda merasa tersindir atas apa yang ditulis. Jika memang anda tidak suka tulisan saudara Nofie (yang menurut saya bagus), ya ga usah dibaca. Gampang kan?
Kedua, kejelasan bahwa anda hanya membaca berdasarkan ego dan emosi terletak dari kekurang-telitian anda dalam membaca “tapi kata teman saya, “Orang gila mati gara-gara demo di jalan kok dibilang pahlawan rakyat.”. Anda justru menulis opini si penulis kasar, padahal opini tersebut adalah opini teman penulis.
Ketiga, saya adalah seorang mahasiswa, dan saya amat sangat malu melihat rekan-rekan saya mengatasnamakan demokrasi dan rakyat kemudian melempar batu, membakar mobil, menghancurkan semua yang ada di sekelilingnya, seperti orang bar-bar. Apa bedanya anda sebagai mahasiswa dengan preman pasar jika anda melakukan hal tersebut? Apalagi jika ada korban di pihak lain, dan antara korban serta yang membuat menjadi korban adalah sama-sama Islam (saya tidak berniat SARA), dimana ditulis jelas di Al-Quran bahwa meneteskan darah sesama muslim adalah HARAM (bukan berarti kemudian harus non-muslim, tidak sama sekali, kecuali anda berpikiran sempit dalam mengartikan kalimat saya).
Coba saya balik kondisinya, apa yang anda rasakan jika anda seorang mahasiswa yang berdemo secara brutal, namun anda memiliki Ayah/saudara kandung yang menjadi polisi dan sedang berjaga demo entah dimana, atau ternyata polisi yang terkena lemparan batu rekan anda adalah ayah/saudara kandung anda sendiri. Tidakkah terlihat anda, atau beberapa mahasiswa tidak memiliki empati?
Saya memang kuliah di kampus yang “mendekati” mainstream, namun saya tidak suka demo, saya juga bukan berasal dari keluarga-kaya-raya-yang-untuk-membeli-pasta-gigi-saja-harus-pakai-mobil-dan-ke-hipermarket. Saya justru lebih bangga berjuang sendiri mencari tambahan uang untuk saya gunakan sebagai biaya kuliah atau biaya hidup selama kuliah tanpa harus merepotkan orang lain dengan demo yang menyebabkan orang lain tidak bisa pulang, atau terpaksa batal bertemu dengan anak semata wayangnya sebelum tidur karena kemalaman dijalan akibat jalanan dihadang demo.
Untuk masalah BBM, saya memiliki sebuah motor tahun 93 yang dipinjamkan oleh Ayah saya, namun karena bbm naik, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepeda. Lumayan saya bisa menghemat 10-50% biaya yang biasa saya gunakan untuk membeli bensin, lebih hijau untuk lingkungan lagi. Daripada saya berdemo yang efeknya belum tentu ada bagi saya, apalagi bagi orang lain….
Untuk saudara MF, bacalah terlebih dahulu baik-baik, dan tidak perlu menggunakan bahasa tinggi seperti stigmatisasi, dll yang bagi saya terdengar mengangkuhkan diri anda.
Belajarlah dengan giat, luluslah dengan prestasi memuaskan, carilah beasiswa untuk belajar lebih banyak, buatlah lapangan pekerjaan, dan implementasikan ilmu anda di masyarakat. Insya Allah akan bermanfaat.
Kita sulit untuk mengubah orang lain, seperti orang lain sulit mengubah kita. Lakukan semua perbaikan dari diri anda sendiri, dari hal kecil, dan dari saat ini.
————-
Untuk Sdr/Mas/Pak Nofie, terima kasih atas tulisan-tulisan anda yang memberikan banyak sudut pandang bagi saya.
July 6th, 2008 at 9:30 am
setuju!! harusnya mereka belajar dengan tekun dan giat dikampus sehingga bisa memberi solusi atas permasalahan saat ini. bukannya malah menambah masalah.
July 8th, 2008 at 9:32 pm
Sebelumnya salam kenal buat Pak Nofie Iman dan pembaca lainnya.
***
Saya tidak suka dengan tuntutan “USIR INVESTOR ASING”. Ini yang jadi pencetus pasti mahasiswa FISIP, gak mungkin mahasiswa EKONOMI. Soalnya agak kurang cerdas soal apa pentingnya Investor, baik lokal apalagi asing, dan bagaimana sebetulnya mereka secara legal masuk menjadi investor.
July 10th, 2008 at 5:18 pm
Hehehe…..bnr2 tulisan yang membuat kontroversi…..salut lah u Nofie….entah siapa dirimu…..untung aku urung kenal karo kowe………
nb: untuk yang pro & kontra……..selamat berdiskusi…..jgn anarkis ya!!!!!
July 11th, 2008 at 11:50 pm
Saya rasa dengan alasan apapun, demo yang merusak tetap tidak bisa dibenarkan. Benar sekali, apa bedanya mahasiswa sama preman pasar kalo sudah ‘ngandalin’ otot begitu? Sangat disayangkan, mengerikan, dan merugikan orang lain. Bagaimana mereka lulus nanti apa sanggup membangun bangsa ini, kalau tidak bisa berpikir panjang dan emosional?
Dengan mengedepankan rasionalitas (salah satu tujuan seseorang sekolah lebih tinggi) dan bukan emosi mahasiswa tidak akan pernah terjerumus pada aksi yang merusak lagi (ditunggangi/diprovokasi).
Saya yakin mahasiswa yang punya kemampuan intelektual lebih (seharusnya) pasti mempunyai cara-cara yang lebih baik dan menarik simpati untuk menunjukkan betapa pedulinya mereka pada nasib bangsa ini.
Salam,
July 20th, 2008 at 11:33 am
yah q bukn banding2 almamater sih, tp bener kata Mas Nofie rata2 mereka yang dari kampus mainstream spt UGM, UI, dkk mahasiswanya cenderung rasional.
yg bikin q heran koq kmrn itu rektor UNAS ikutan belain kelakuan “asal” mahasiswanya yah, lagian mahasiswa demo ampe malam2 itu siapa yg nanton .. hantu kali yah .. ckck
July 22nd, 2008 at 12:47 am
@atrix..
UGm itu mahasiswanya pinter2 waktu dulu sebelum adanya UM.sekarang mah yang pinter kalah sama yg berduit…mahasiswanya banyak yg bego..kaya tp bego..kasihan calon mahasiswa yg pintar tp gak punya uang…
August 1st, 2008 at 10:15 am
saya setuju sekali dengan pendapat anda,, tentunya sebuah kezaliman tidak akan pernah bisa dihapus dengan kezaliman pula. yang ada malah kehancuran, bukan perbaikan
August 8th, 2008 at 3:41 pm
salam kenal para sahabat. salam cinta dan damai. lepas dari universitas, teori2 yg sy tidak mengerti. politik, pemerintah, negara dan lain2….kebetulan saya tidak pernah berhasil meneruskan studi saya di universitas. jd sy hanya belajar dari pengalaman, pengamatan, dan membuka rasa empathy terhadap lingkungan sekitar.jadi
terkadang sy slalu berfikir ( terhadap konteks tulisan mahasiswa :pahlawan tanpa tanda jasa ini, _red) .mungkin memang beginilah hidup diciptakan. slalu berlawanan, hitam putih dan hidup itu relatif. fenomena kebenaran absolute hanya satu, teori kebenaran hanya satu. yakni kita MATI SENDIRI2 serta kembali kepadaNYA dgn meninggalkan amal baik dan ilmu yg bermanfaat setidaknya ( untuk keluarga kita, sahabat, istri, orangtua dan semua orang yg kita cintai. ) dll dan seperti yg saya lihat saat kejadian tsunami di aceh saat lampau, semua mahasiswa melupakan demonya, pejabat melupakan sekejap trik2 politiknya ( walau sesaat )., rakyat lupakan aktivitas hariannya. saat itu kita sebagai manusia terhenti sejenak melupakan intrigue, teori konfrontasi, dll. disini saya sadar ternyata sebuah peringatan akan musibah , akan kebenaran Absolute menyadarkan segalanya….hidup ini ternyata bukan membela siapa yg benar atau menuntut siapa yg salah. tetapi membenarkan diri kita dan orang2 terdekat kita dgn cara apapun sepanjang itu ” benar ” menurut keyakinan kita masing2. saya mendukung mahasiswa mendemo apabila itu memang sudah ” benar ” menurut ” keyakinan dan analisa permasalahan yg ditanggapi “. saya mendukung pejabat korupsi sepanjang mereka yakin itu ” benar ” dan bertanggung jawab thdp kebenaran ” Absolute ” yg mereka miliki. saya mendukung ” perang ” apabila itu memberikan sebuah kebaikan bagi hidup kita masing2 dimasadepan. deconstruction then revolution. yang saya tahu bhw ” apa yang kita tanam, itulah yg kita petik ” dan saya mendukung semua perbedaan2 yg sudah ” begitu tergariskan sebelum kita lahir”. tetapi mungkin sy sadari akhirnya mungkin kita harus kembali kepadaNYA dlm waktu penuh misteri ini. mungkin saya sebagai ” mahasiswa jalanan yg bukan siapa2 ” harus menilik kembali bahwa apa yg saya perjuangkan harus dapat berguna bagi manusia ( khususnya orang2 terdekat saya ) dan terutama GOD almighty the absolute of everything. akhirkata sy mohon maaf yg sebesar2nya apabila ada kesalahan kata, dan mungkin menyinggung para sahabat. sy hanya manusia yg bodoh..dan mencoba untuk berbagi akan perasaan sy. semoga ilmu, kedamaian dan cinta selalu bersama kita semua.
regards,
nemesis
August 9th, 2008 at 12:07 pm
Namanya juga mahasiswa, meskipun maha, tapi masih siswa. Memang masih bodoh2. Makanya mereka perlu rajin kuliah, ikut kerja praktek, KKN, dll. biar pinter, pola pikirnya berkembang.
Sikap kritis, berpikir panjang & tidak mudah emosi ini sebenarnya bisa mulai dibiasakan sejak ospek.
Saya ngeri dengan pengendalian emosi bangsa kita ini. Kayaknya kok semakin bebas nggak aturan. Kecewa dikit, bakar mobil. Senggolan dikit, tawuran. Lupakah kita pada ‘musyawarah untuk mufakat’?
August 23rd, 2008 at 5:53 pm
setuju pak.
tapii…
dbeberapa kmps mainstream malah kemahasiswaannya dibabat abis dengan berbagai macam cara. salah satunya dengan membuat mahasiswa hanya terpaku untuk lulus kuliah cepat karena berbagai aturan yg mengancam kelangsungan status mahasiswa itu sendiri.
oia, saya salah satu mahasiswa kmps2 mainstream itu makanya saya tau.
klo saya beranggapan ‘benahi dulu bagian dlm kmps saya, baru unjuk gigi keluar’. buat apa berkoar2 dluar kalo di dalamny msi kacau.
September 21st, 2008 at 1:53 pm
Ingat saja pak, kita manusia jangan lah terlalu sembrono dalam berkata-kata dengan menginjak-nginjak nilai kemanusiaan dari manusia lainnya,,
mudah-mudahan anak anda nantinya saat menjadi MAHASISWA tidak menjadi pendemo dan tidak DITEMBAK MATI oleh aparat saat mendemo,,walaupun menulis diblog ini merupakan kebebasan dari pemilik blog tapi paling tidak pakai pikiran jangan pakai dengkul..
saya ingin bertanya pada anda.?
1. selama ini apa yang bapak telah lakukan terhadap orang indonesia..?
2. Sebenarnya yang pengecut itu siapa? mungkin anda berpikir dengan menulis berbagai opini tentang perekonomian di indonesia dan sebagainya anda sudah berbuat banyak?
3. Apakah dengan membuat blog seperti ini anda bisa memperkecil angka kemiskinan di indonesia?
September 21st, 2008 at 1:54 pm
Ingat saja pak, kita manusia jangan lah terlalu sembrono dalam berkata-kata dengan menginjak-nginjak nilai kemanusiaan dari manusia lainnya,,
mudah-mudahan anak anda nantinya saat menjadi MAHASISWA tidak menjadi pendemo dan tidak DITEMBAK MATI oleh aparat saat mendemo,,walaupun menulis diblog ini merupakan kebebasan dari pemilik blog tapi paling tidak pakai pikiran jangan pakai dengkul..
saya ingin bertanya pada anda.?
1. selama ini apa yang bapak telah lakukan terhadap orang indonesia..?
2. Sebenarnya yang pengecut itu siapa? mungkin anda berpikir dengan menulis berbagai opini tentang perekonomian di indonesia dan sebagainya anda sudah berbuat banyak?
3. Apakah dengan membuat blog seperti ini anda bisa memperkecil angka kemiskinan di indonesia?
November 16th, 2008 at 9:24 am
intelektual apa tuh,sejarah indonesia merdeka bukan karena keintelektualan tapi karena keberanian pemuda-pemudi BANGSA mengorbankan ke intelektualannya demi kesejahteraan dan kemerdekaan seperti yang dilakukan FORKOT,kuliah dulu baru buat lapangan kerja gitu ,lucu loh soalnya siapa lagi yang mau kerja orang udah keburu mati kelaparan yang mau kerja, jadi sekarang ada masalah sekarang kita selesaikan toh juga di dalam kampus di pelajarin bagaimana menyelesaikan permasalahan sosial ,kan nah knp bukan sekarang anda terapkan apa yang anda dpt itu mumpung lagi masalahnya ada di depan mata kalian,seperti tempe tak terbelih, koruptor meraja lelah,dan enaknya koruptor masa lalu menikmati fasilitas Negara,SELURUH daerah banjir karena kesalahan pengolahan hutan yang membuat pengusaha hitam bersukari,apakah anda penikmat dari semua kesengsaraan itu????????????????????????????????????????????????????????????
November 24th, 2008 at 1:13 pm
klo menurut KetawaDotCom, alasan mengapa mahasiswa berdemo itu ada beberapa macam:
1. Kangen dengan polisi
2. biar ngga cepet lulus karena klo lulus bingung cari kerjaan
3. kerja praktek (6 sks)
4. cari jodoh,kalo aja ada polwan yg cantik
March 20th, 2009 at 4:20 pm
Benar2 demokrasi di tempat orang2 bodoh.
March 11th, 2010 at 8:46 pm
salam kenal,pak…
saya hanya menyampaikan terima kasih karena berkat bapak, saya mendapat opini-opini menarik dari banyak orang sebagai sumber pembelajaran saya.
opini bapak pun sangat menarik. buktinya banyak sekali pro-kontra yang muncul di dalamnya.(lebih dari 5 lembar folio tulisan standar)
mohon izin untuk mengambil beberapa opini menarik di dalamnya ya,pak.
terima kasih
salam