How to Boost Your Business

Pemotongan Gaji Pejabat Tidak Masuk Akal

June 15th, 2008 | Politics

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan wacana pemotongan gaji pejabat sebesar 10 persen tidak masuk akal. Alasannya, gaji para pejabat di Indonesia masih tergolong kecil… Eselon 1 itu gajinya Rp 5 juta, mungkin wartawan lebih tinggi. Tentu kurang untuk kebutuhan hidup di Jakarta. Apalagi sekarang tidak bisa macam-macam karena ada KPK,” tandasnya. [Source]

Saya heran dengan pernyataan di atas—-terutama yang dicetak tebal. Apakah bila pemotongan gaji tidak masuk akal sesungguhnya merupakan pernyataan implisit bahwa “gaji perlu dinaikkan karena lebih masuk akal”? Apakah kalau tidak ada KPK maka para pejabat tersebut bisa “macam-macam”? Sungguh sebuah pernyataan yang tidak pantas dikeluarkan oleh seorang wakil presiden.

Anda mungkin tahu bahwa gaji pokok mungkin jumlahnya tak terlalu besar, namun bila ditambah dengan tunjangan jabatan, tunjangan rumah, tunjangan anak/istri, kendaraan dinas, biaya perjalanan, biaya telekomunikasi, dan sebagainya, maka nominalnya akan cukup menakjubkan. Belum lagi bila mereka merangkap jabatan lainnya. Justru gaji kecil merupakan trik agar pajak penghasilan yang harus dibayar menjadi lebih kecil. Biarpun mereka tidak digaji sekalipun, saya bertaruh mereka masih bisa hidup mewah.

Inilah yang membuat saya heran. Apakah pejabat sekarang benar-benar sudah mati rasa dan kehilangan sense of belonging terhadap negeri ini? Kalau dipikir nalar, daripada mencabut subsidi mengapa tidak lebih dulu mencabut tunjangan, bonus, kupon, dan pengeluaran tak jelas tersebut? Adakah yang berani mengaudit berapa sesungguhnya pengeluaran pemerintah per bulan untuk pemborosan tersebut?

Lebih parah lagi, kontribusi mereka kepada rakyat masih perlu dipertanyakan—-namun kekayaan rakyat yang mereka “ambil” begitu luar biasa besarnya.

Dan bicara soal kontribusi, tahukah Anda bahwa sesungguhnya kita punya 8 (delapan) presiden di negeri ini. Selain 6 (enam) orang presiden yang sama-sama kita ketahui, sesungguhnya ada 2 (orang) presiden yang tak pernah kita singgung namanya. Walaupun secara konstitusi mereka tidak tercatat sebagai presiden, namun peran mereka kala itu bisa jadi melebihi presiden beneran—-apalagi saat itu negara sedang dalam keadaan kritis.

Mereka adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.

Kalau Anda belum tahu, Sjafruddin Prawiranegara adalah “presiden” yang memproklamirkan berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Halaban, pedalaman Sumatera Barat. PDRI adalah penyelamat republik karena mengisi kekosongan setelah Soekarno, Moh. Hatta, dan sejumlah pemimpin lainnya diasingkan ke Pulau Bangka setelah agresi militer kedua Belanda.

Bung Karno memang mengirimkan telegram yang memberitakan bahwa pada hari itu (19 Desember 1948) Belanda merebut ibukota (Yogyakarta) dan meminta Sjafruddin sebagai menteri kemakmuran saat itu untuk membentuk pemerintahan darurat. Telegram itu memang tak sampai ke Bukittinggi, namun dalam waktu bersamaan Sjafruddin telah mengambil inisiatif senada dan mengadakan rapat pembentukan PDRI. Sjafruddin kemudian mengembalikan kembali mandat tersebut kepada Soekarno delapan bulan kemudian.

Sementara itu, Assaat adalah Presiden Republik Indonesia tahun 1949-1950. Ketika itu Konferensi Meja Bundar (KMB) hanya mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) yang tinggal secuil. Karena Bung Karno telah ditetapkan sebagai presiden RIS dan Bung Hatta sebagai Perdana Menterinya, maka terjadi kekosongan pimpinan republik ini. Posisi tersebut kemudian diisi oleh Assaat.

Selama menjadi “presiden”, Assaat menandatangani pendirian Universitas Gadjah Mada sebagai universitas negeri pertama yang didirikan Republik Indonesia. Sembilan bulan kemudian (17 Agustus 1950) RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan tampuk pimpinan dikembalikan pada Bung Karno. Ini memang hanya trik diplomasi bangsa kita untuk menghindari banjir darah sekaligus memenangkan seluruh wilayah nusantara untuk kembali ke pangkuan kita.

Memang benar bahwa mereka “hanya” presiden sementara. Akan tetapi, boleh jadi tanpa ada dua tokoh tersebut, tak akan ada Indonesia seperti sekarang ini. Entah disengaja atau karena lupa, keduanya juga tidak disebut sebagai mantan presiden—-melainkan “cuma” pahlawan nasional saja. Tapi rasanya itu juga tak terlalu penting. Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat adalah orang-orang yang tulus berjuang tanpa pamrih demi bangsa dan negaranya. Mereka (dan keluarganya) juga tak menuntut penghargaan lebih dari negara.

Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan pejabat jaman sekarang. Sudah tidak berbuat apa-apa, malah menuntut macam-macam. Sudah kerjanya tak ada, masih berlagak sok pahlawan pula.

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

  1. Korupsi dan Kleptokrasi « The Home of Sutanto Santoso
  2. Pernyataan Tidak Pantas Seorang Wakil Presiden | Kampung Madura
  3. Comments

  4. trian

    yang banyak disinggung oleh buku sejarah adalah pembentukan PDRI, Sjafruddin Prawiranegara sebagai ‘presiden’ nya.

    namun, untuk Assat jarang sekali disebut. saya sedniri mengira bahwa RIS itu adalah RI. karena RIS waktu itu ibukota nya di Jogja (CMIIW), lalu RI dimana?

  5. toim

    pak jusuf kalla sih udah gak heran lg.sering bgt berkomentar yg aneh2 dan kontroversial, krn emang dianya udah kaya kali… :)

  6. aRdho

    iya tuh, kalo yg Syafruddin, memang selalu disebut waktu jaman belajar sejarah waktu SMA/SMP. Tapi yg Assaat, memang sedikit. :-S

  7. fadli

    dari artikel ini, terlihat jelas bedanya pejabat pada masa kemerdekaan ama pejabat masa kini…

  8. Ron

    Aku malu dg negara kita penuh dg orang yg tidak tahu malu…
    Pak JK, sadarlah…

  9. edoth

    tidak cuma pejabat pemerintahan, seharusnya anggota DPR-MPR-pun harus punya ’sense of crisis’ juga.
    Seandainya…… :) aaah…

  10. rx

    sepertinya masih lama bangsa ini bisa bangkit :( Atau mungkin saya saja yang terlalu pesimis???

  11. Brahmasta

    Ya, menyedihkan sekali kalau kita mengetahui bahwa orang-orang yang terpilih untuk mengurus negara ini, malah mencuri dari negara ini. Merugikan teman-temannya sendiri yang harusnya mendapatkan pelayanan darinya.

  12. Bambosi

    maklum yusuf kalla, gak berbobot :)

  13. Yuda

    iya betul banget pak.. males saya dah cape2 kerja dipotong pajak yg besar hanya untuk menggaji para birokrat yg kerjanya ga becus.. .capee deh

  14. fisto

    malu aku malu,
    punya wapres gitu

  15. Ferdi

    Menurut penilaian saya, Pejabat2/pemerintah kita ga becus sebab mereka terlalu keenakan tanpa mau berusaha, seperti tunjangan jabatan, tunjangan rumah, tunjangan anak/istri, kendaraan dinas, biaya perjalanan, biaya telekomunikasi, dan sebagainya dikasi gede bener.

    Kalo perut udah kenyang, orang-orang pasti langsung tidur ga mau kerja lagi. Nah, ini dia salahnya. Kalo mereka dikasi sedikit, pasti mereka giat bekerja untuk memperbaiki nasib, tapi kalo udah keenakan, jadi males kerja lagi. Pikiran mereka, seperti ini “Kerja ga kerja kan rekening nambah ini…”.

    Coba bayangkan & pikirkan baik2 kalo gaji & semua tunjangan pejabat2/pemerintah diperkecil, pasti ga ada uang yg dibuang percuma aja buat pejabat2 yg ga becus alias efisiensi gaji & tunjangan, kecuali buat pejabat2 yg kerjanya rajin.

    Pejabat2/pemerintah kan digaji oleh Rakyat, berarti Rakyat itu Bos-nya Pejabat2/Pemerintah, sedangkan Pejabat/Pemerintah berarti Anak-Buatnya Rakyat.

    Rakyat harus tegas untuk “PECAT” Pejabat2/pemerintah yg ga becus. Percuma aja Pejabat2/pemerintah digaji oleh Rakyat, mendingan Pejabat2/pemerintah ga usah digaji & dikasi tunjangan aja. Kalo Rakayat tegas seperti ini, orang-orang bakalan ga seenaknya aja/takut untuk mencalonkan diri jadi Pejabat2 sebab Pejabat2 harus berhadapan dengan atasannya, yaitu Rakyat yg menggaji Pejabat2 tersebut.

    Daripada buang-buang duit buat Pejabat2/pemerintah ga becus, mendingan duit-duit tersebut di-infak-kan, di-sodaqoh-kan, disalurkan ke anak2 yatim, orang2 jompo, anak2 jalanan, orang2 miskin, dll. Seharusnya Pejabat2/pemerintah harus mikir bahwa dosa besar masuk Neraka kalo makan harta anak2 yatim, orang2 jompo, orang2 miskin, anak2 jalanan, dll. Coba lihat mereka2 terlantar begitu kayak ga dihargai & ga ada nilainya, seharusnya hidup mereka sudah cerah & masa depan mereka cemerlang, tetapi Pejabat2/pemerintah telah menghambat hidup mereka. Ngeriii…Tobaaattt…

    Semoga THE GREAT LEADER tersebut akan muncul & unjuk taringnya untuk INDONESIA, Negara Tercinta Kita…Amiiiiiinnnnnn…

  16. Dino

    Jusuf Kalla sering ngomong ngawur ya..

  17. iman brotoseno

    sebenarnya mereka juga nggak pernah peduli dengan gajinya kok…mau gaji kecil dipotong nggak masalah..
    * besar sampingan dan duit proyek

  18. epe

    JK cuma sibuk ngurusin kumisnya aja kali.

    Soal pencabutan subsisi yg akhirnya bikin rakyat sengsara, saya juga heran knp gak ngurangin tunjangan anggota DPR/MPR yg dari ujung rambut smpe ujung kaki itu ya?

  19. jojo

    Jika kita pertimbangkan asumsi-asumsi lain yang tidak diungkap pak wapres, ada banyak pernyataan-pernyataan yang bisa diturunkan dari pernyataan wapress kita, bingung nih pernyataan-pernyataan turunan yg kayak apa yg valid : http://redconspiracy.com/2008/06/18/logika-pemerintah-pemotongan-gaji-pejabat-tidak-masuk-akal/
    Tolong bantu gw ya…

  20. monsterikan

    dia bilang mungkin gaji wartawan lebih besar. wartawan mana. wartawan itu termasuk bidang pekerjaan dengan pendapatan per bulan yang kecil (dilihat dari kriteria seorang wartawan yang rata2 mesti s1). gambarannya wartawan pemula rata2 mendapat gaji 1 - 1,3 juta. setelah tetap paling banter 1,5 - 2 juta. itu udah all in, kaga pake tunjangan de el el.

    wapres dodol.

  21. bowie

    mungkin kalo gaji dipotong setoran ke partai bakal berkurang :)
    lha bapak2x pejabat dan bapak2x wakil rakyat kita yang terhormat kan rata2x sudah tua, kalau dipotong habislah dana uang pensiun :P
    perlu presiden dengan watak seperti mahatir atau ahmadinejad…potong 50% gaji para pejabat negara, berangus pungli yang kabarnya nilainya mencapai triliunan rupiah ( lumayan buat KUR )…
    kadang saya malu menjadi anak bangsa yang dipimpin oleh para pejabat yang bermental ayam…..

  22. Kopdang

    Pernyataan wapres itu benar adanya..
    memang yang patut dikasihani itu kita..
    punya wapres dan birokrat yang begini-ini…begitu-itu..
    :mrgreen:

  23. asih

    Saatnya untuk memilih pemimpin yang lebih mementingkan rakyat, tahun depan adalah saatnya….. Kalo kita jeli sebenarnya gak semua pejabat negara seperti itu loh…… dan wakil kita di DPR juga masih ada yang bersih dan punya komitmen tinggi.

    Lucunya rakyat juga sering tertipu dengan kesenangan sesaat, menjelang pemilu dikasih uang seratus ribu aja dah hijau matanya…. Padahal gak jelas deh ama visi dan misinya dan komitmennya untuk negara…….

    Mudah-mudahan pemilu tahun depan rakyat lebih jeli dan cerdas dalam memilih pemimpin yang membela kepentingannya. Amin.

  24. suro agung

    melihat setengah artikel teratas serasa “jengkel”,”marah” tapi ga bisa berbuat apa2.

    melihat setengah artikel kebawah serasa “miris”,”merinding”,”terharu”.

    memang telah terjadi pergeseran nilai2 dan karakter global dan individual bangsa.

  25. nilna

    Yah … kasihan pejabat yang ngga korupsi yah :)

  26. MatBego

    Namanya juga anak turunan Betara Kalla, pasti jahat dwonk!!!

Looking forward to hear your thoughts.


If you like my writing and don't have a business you're totally satisfied with, check out my full course on how to boost your business here.