Tikus, Buffon, dan Recehan
July 8th, 2008 | PersonalTahun 1908, Robert Yerkes dan John Dodson melakukan simulasi dengan menggunakan tikus percobaan. Mereka mendesain dua jalur kecil yang berbeda. Yang satu dibatasi oleh kartu hitam dan dialiri kejutan listrik sementara rute yang lain menggunakan warna putih dan aman. Simulasi tersebut kemudian dikembangkan lagi dengan kejutan listrik yang lebih bervariasi.
Yerkes dan Dodson menemukan bahwa tikus-tikus fast learner adalah tikus yang diberikan kejutan listrik tidak terlalu tinggi. Kalau tikus-tikus tersebut diberikan “insentif” yang terlalu besar, hasilnya justru kontraproduktif.
Empat sekawan ekonom Dan Ariely, Uri Gneezy, George Loewenstein, dan Nina Mazar membuat percobaan serupa di India. Kali ini obyeknya manusia. Mereka sengaja memilih India karena tingkat kesejahteraannya rendah dan mudah untuk diiming-imingi dengan uang.
Mereka membuat sejumlah tantangan fisik dan mental seperti melempar bola mengenai target hingga mengingat urutan warna. Insentif yang diberikan memungkinkan para partisipan untuk mendapat uang yang lumayan—-setara dengan upah harian, mingguan, bahkan ada insentif yang setara dengan gaji setengah tahun.
Nyatanya, mereka yang diberikan insentif kecil dan sedang hanya bisa memenangkan 35% uang yang dijanjikan. Sementara yang diberikan insentif tinggi justru cuma bisa memenangkan kurang dari 20% saja. Serupa dengan tikus, manusia ternyata juga cenderung tergerak oleh insentif “recehan” ketimbang imbalan yang lebih besar.
Hal serupa juga terjadi di lapangan bola. Kita tahu bahwa dalam adu penalti, kapten tim yang memenangkan toss koin berhak memilih giliran. Jose Apesteguia dan Ignacio Palacios-Huerta mengambil sampel dari adu penalti yang terjadi antara tahun 1970 hingga 2003 secara acak. Mereka menemukan bahwa penendang pertama mempunyai peluang menang lebih dari 60%. Makanya, dalam lima tahun terakhir, kapten tim yang memenangkan koin biasanya selalu memilih untuk menendang duluan.
Namun kapten tim Italia nampaknya tidak belajar dari sejarah. Di semifinal Euro lalu, Gianluigi Buffon sebenarnya memenangkan toss koin tapi memilih untuk menjadi penendang kedua. Barangkali ia punya pandangan lain. Sebagai penjaga gawang, ia akan maju duluan sebelum Casillas dan akan menguntungkan dirinya secara psikologis—-tapi tidak bagi timnya. Akhirnya, sejarah tetap berulang dan penendang pertama-lah yang maju ke final.
Tapi jangan buru-buru meledek Buffon karena kita sebenarnya juga tak lebih pintar darinya. Kita juga sering terjebak pada iming-iming recehan daripada mengejar ikan yang lebih besar. Misalnya, adik keponakan saya suka sekali membeli makanan hanya karena iming-iming hadiah mainan yang nilainya tak seberapa. Teman saya, suka terjebak pada promosi “beli ini dapat itu” yang setelah dihitung sebenarnya malah “rugi”.
Soal pengelolaan uang juga sama. Kebanyakan orang cenderung menggunakan pendapatannya untuk konsumsi sesaat (seperti ganti ponsel atau tukar tambah kendaraan) ketimbang untuk berinvestasi jangka panjang. Padahal mereka tahu betul bahwa saving now is much more important than perfect investing.
Setali tiga uang untuk urusan kesehatan. Kita lebih suka melahap junk-food atau menghisap rokok demi kenikmatan sesaat dan mengabaikan kesehatan serta umur panjang. Padahal kita tahu betul bahwa junk-food hanya akan menjadi timbunan lemak dan nikotin yang telanjur masuk akan mengendap di paru-paru. (No offense bagi Anda yang menyukai junk-food dan rokok.)
Di ranah politik, kecenderungannya juga sama. Sudah cukup banyak politisi yang punya karir cemerlang malah terjerembab gara-gara insentif “recehan” seperti korupsi dan skandal seks. Padahal, kalau mereka fokus dan serius dengan karirnya, bukan tidak mungkin keuntungan yang diperoleh nantinya akan jauh lebih besar.
Celakanya lagi, urusan ibadah juga sering kita abaikan hanya demi insentif “recehan”. Kita sering sengaja menunda (mengabaikan) ibadah dan mengingat Tuhan hanya demi melakukan aktivitas lain yang sebenarnya tingkat urgensinya tak seberapa.
Untung Tuhan tak gampang tersinggung seperti kita.
Comments
July 8th, 2008 at 7:00 pm
pertamaaa..:)
satu hal, orang suka melupakan sejarah dan tidak belajar dari pengalaman orang lain
July 8th, 2008 at 7:06 pm
Artikel yang inspiratif.thanx buat informasinya yang sangat berharga.Emang terkadang hal yang tak terpikirkanpun masih bisa dianalisa secara statistik dan matematis.Jadi inget film 21,mahasiswa MIT yang luar biasa cerdas untuk mengingat urutan kartu blackjack di vegas.
namun,
Tuhan siapa? dan Kita siapa?
Sebuah penutup yang menurut saya agak “berani”
lepas dari itu,nice posting bro!
July 8th, 2008 at 8:36 pm
Untung Tuhan tak gampang tersinggung seperti kita
urusan apa Tuhan tersinggung….lha wong yg butuh itu kita, mau kita jungkir balik bermaksiat, Tuhan juga gak bakal tersinggung….
July 8th, 2008 at 9:17 pm
Sehabis membaca blog ini aku akan berhenti rokok.. for 10 minutes hehehe..
July 8th, 2008 at 11:46 pm
setuju mas. kita orang memang suka terpikat dengan hal-hal yang sepele dan “menipu”, dan malah mengabaikan goal besar kita sesungguhnya..
July 9th, 2008 at 8:54 am
Gut. Artikel yg hebat…
Menurut aye, kenapa banyak orang yg TERGIUR dgn sesuatu yg KECIL/SEPELE/RECEHAN/IKAN KECIL, sebab mereka adalah ORANG2 KECIL. BESAR KECIL-nya seseorang bukan dilihat dari STATUS/KELAS-nya atau RUMAH/MOBIL/HAPE-nya, tapi dilihat dari CARANYA BERPIKIR. Banyak lulusan2 berpendidikan TINGGI yg nyatanya cara berpikirnya lebih kecil daripada mereka yg berpendidikan RENDAH.
Banyak mereka yg berpendidikan rendah ternyata menjadi ORANG2 BESAR bahkan bisa jadi PENGUSAHA & naik HAJI pula ke tanah suci sebab mereka yg berpendidikan RENDAH belum tentu ORANG RENDAHAN. Mereka yg berpendidikan RENDAH pun RUMAH,MOBIL,HAPE-nya biasa2nya mungkin juga BUTUT, tapi mereka adalah ORANG2 BESAR yg bisa menjadi PENGUSAHA yg bisa kasih makan banyak ORANG2 KECIL.
ORANG RENDAHAN menurut ente, belum tentu ORANG RENDAHAN menurut aye. ORANG TERPANDANG menurut ente, belum tentu ORANG TERPANDANG menurut aye.
Orang2 INDONESIA sering menilai bahwa INDONESIA negara BESAR, tapi sebenarnya INDONESIA adalah negara KECIL sebab bangsa Indonesia mudah TERGIUR dengan sesuatu yg KECIL.
Inilah kenapa mereka mudah tergiur dgn sesuatu yg KECIL tersebut, sebab mereka belum bisa melihat sesuatu yg BESAR yg masih TERSEMBUNYI dibaliknya. Mereka yg KECIL hanya bisa melihat sesuatu yg KECIL, sedang mereka yg BESAR sudah pasti bisa melihat sesuatu KECIL & BESAR, tapi yg BESAR yg dipilihnya sebab itu yg terbaik menurut PEMIKIRANNYA.
July 9th, 2008 at 9:51 am
kenapa koq gue jadi ’susah’ mengerti ya?
yang dikasih/mendapat insentif recehan, akan lebih banyak peminatnya dengan insentif gedean?..
upaya yang diberikan lebih besar untuk meraih recehan dari pada gedean..? gitu ya?.
@_@..
heheh *maklum otak bebal nih gue
July 9th, 2008 at 12:09 pm
^^ Sederhana saja bos. Intinya, orang itu gampang banget tergerak hanya karena recehan, bukan karena hal2 yg lebih gede. Orang cenderung sering bikin blunder, mengabaikan hal2 yg penting hanya demi recehan itu tadi. contohnya juga banyak, mulai dari si tikus, orang2 di india (responden), si buffon, dan mungkin kita juga termasuk :)
July 9th, 2008 at 1:09 pm
kata bos gwa:… “manusia tuh jatuh karena kesandung kerikil,,,”
karena meremehkan hal2 kecil kita malah hancur..
July 9th, 2008 at 4:51 pm
Recehan asal lumayan lebih baik dari glondongan tapi hanya isapan..
July 9th, 2008 at 11:49 pm
Hmmm, behavioral science.. jadi inget kuliah singkatnya Pak Ertambang.
Bisa digeneralisasi sampai sebegitu kah Mas?
Salam kenal,, nampang di JEBI terbaru yah? Congratz!!
July 10th, 2008 at 11:59 am
manusia emang suka terburu-buru & berpikir instan, mendulukan hawa nafsunya :D
July 10th, 2008 at 9:13 pm
Kontek tempat eksperimen dilakukan jadi pertimbangan juga Mas…kalau eksperimen dilakukan di US atau Belanda, hasilnya sama nggak?
Bisa jadi hasilnya malah berlawanan…hmhmhm…
@Ferdi: Saya agak terganggu ya dengan komentar anda *No offense*. Akan lebih baik kalau Ferdi menulis secara panjang lebar di blog sendiri:-) Biar jelas dan lebih mudah dimengerti …
July 11th, 2008 at 9:57 pm
Tulisannya renyah betul, Mas!
Saya terinspirasi untuk mengait-kaitkan pikiran dengan tulisan ini.
Sepenuhnya saya setuju dengan Anda!
Salam kenal!
July 12th, 2008 at 8:48 am
Sebuah postingan yang sangat bagus.
Buku Dan Ariely, Predictably Irrational, memang memikat. Literatur tentang Financial Behavior tampaknya kian menjadi populer.
Mungkin next time bisa juga dielaborasi buku lain tentang financial behavior karya Nassim Nicholas Taleb yang juga dahsyat itu, The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable.
July 14th, 2008 at 2:31 am
soalnya untuk mendapatkan yang gede usahanya juga harus gede.. Karena ga mau usaha jadilah milih jalan pintas seperti korupsi..
artikel yang sangat bagus..
salam
July 14th, 2008 at 11:04 am
orang cenderung mengerjar recehan karena emang kebanyakan yang recehan tuh yang paling kelihatan. sedangkan yang gede2 masih butuh analisis and pemikiran yang mendalam buat ngedapetinnya.
yaaah… emang kebanyakan orang masih berpikir instan utk ngedapetin sesuatu
July 14th, 2008 at 11:50 am
Untung Tuhan tak gampang tersinggung seperti kita.
Saya ngga tau kalo masalah tersinggung. Tapi kalau masalah cemburu, mungkin mas Nofie Iman pernah dengar hadits ini:
Sa’ad bin ‘Ubadah pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:
“Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang (yang dimaksud bagian yang tajam, red)…”
Mendengar penuturan Sa‘ad yang sedemikian itu, tidaklah membuat Nabi mencelanya, bahkan beliau bersabda:
“Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, dalam kitab An Nikah, bab “Al-Ghairah” dan Muslim no. 1499)
Kesimpulannya:
Jangan merasa aman dulu…
July 14th, 2008 at 1:01 pm
seekor gajah dan tikus akan sangat kelihatan sekali perbedaannya bila berada dalam jarak yang sama dengan mata..namun apabila tikus itu berada dalam jarak 1 meter dan gajah 1 km dari mata….maka tikus akan terlihat lebih besar….
dalam hal ini jarak adalah waktu….
barangkali ini lah yang mendasari seseorang untuk memilih recehan saat ini daripada uang segepok….hehehehe…
August 4th, 2008 at 11:52 am
Recehan kalo dikumpulkan akan menjadi besar. Everything big starts small.
August 28th, 2008 at 10:35 am
KEREN!!!
August 31st, 2008 at 1:47 pm
Great copywriting.memunculkan tafsir dan respon yg bervariasi.ini kali ya sisi menarik dr ekonomi.there’s more to learn than just numbers..
September 23rd, 2008 at 11:25 am
nice artikel….