Gridlock
August 6th, 2008 | Politics
Kalau diperhatikan, industri aerospace mungkin salah satu sektor industri yang berkembang cukup pesat. Walaupun usianya belum ada satu abad, perubahan dari sisi teknologi, aspek non-teknis, hingga uang yang berputar sungguh luar biasa. Padahal, sekitar seabad silam kita pernah berada pada situasi yang mungkin akan membuat kita tidak akan pernah bisa terbang seperti sekarang.
Sekitar tahun 1910-an konon tidak ada pabrikan yang tertarik memproduksi pesawat terbang. Memang benar bahwa Orville Wright dan Wilbur Wright telah membuktikan bahwa manusia bisa terbang sejak 1903 di Kitty Hawk, Carolina Utara. Akan tetapi, saat itu ada sekian banyak penemuan yang dipegang oleh begitu banyak pihak. Masing-masing merasa paling hebat dan tidak ada yang mau mengalah dengan penemuannya. Akibatnya, di masa itu tidak ada yang mau membuat pesawat karena takut diseret ke pengadilan.
“Untungnya” tak lama kemudian meletus Perang Dunia I (1914-1918) yang mendorong pengembangan industri dirgantara. Pesawat dianggap mampu membantu memenangkan peperangan karena bisa menjangkau zona yang sulit ditembus armada darat dan laut. Demi memecahkan gridlock, Kongres akhirnya turun tangan dengan membentuk asosiasi yang mengumpulkan seluruh paten dalam satu pool. Siapapun boleh membuat pesawat dengan membayar lisensi kepada asosiasi tersebut. Fee yang terkumpul nantinya dikembalikan lagi kepada para pemegang paten.
Fenomena ini dijelaskan oleh riset yang dilakukan oleh Sven Vanneste dan Ben Depoorter. Kesimpulan dari hasil penelitian itu kira-kira begini: When something you own is necessary to the success of a venture, even if its contribution is small, you’ll tend to ask for an amount close to the full value of the venture. And since everyone in your position also thinks he deserves a huge sum, the venture quickly becomes unviable.
Tapi Anda tak perlu jauh-jauh ke Amerika karena bangsa kita sesungguhnya sudah jago dalam hal begituan. Misalnya, baru-baru ini Pemkab Bintan ingin mengalihfungsikan hutan lindung di Teluk Bintan seluas 8.300 hektar untuk dibangun kantor dan pusat kota. Merasa rencana ini tak mungkin terwujud tanpa “kontribusi” darinya, Al-Amin Nasution meminta lebih dari Rp 3 miliar kepada Pemkab Bintan. Merasa setorannya kurang, Al-Amin masih minta bonus perempuan.
Contoh lainnya, Bank Indonesia punya kepentingan terhadap masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan pembahasan revisi UU Bank Indonesia. Karena rencana tersebut tidak mungkin berhasil tanpa “kontribusi” DPR, maka mengalirlah dana miliaran rupiah ke kantong Komisi IX DPR. Barangkali karena merasa tersudut, Hamka Yandhu akhirnya melakukan whistle blowing dengan menyebut belasan nama pejabat lain.
Akibatnya jelas: DPR menjadi salah satu instansi yang quickly becomes unviable. Sehari-hari, kantor DPR memang selalu sibuk dan padat kegiatan. Tapi apakah yang mereka lakukan benar-benar memberi manfaat riil kepada rakyat luas? Apakah begitu banyak uang rakyat yang digelontorkan untuk membiayai borosnya hidup mereka sudah sepadan dengan apa yang diterima rakyat saat ini? Ataukah sebenarnya malah sudah terjadi gridlock di tubuh instansi itu sejak lama?
Kalau sudah begini, idealnya pemerintah (presiden) harus berani bertangan besi dan berbuat sedikit “kejam” untuk menumpas oknum-oknum semacam itu. Hanya saja, rasanya sulit mengharapkan pemerintah mau mengambil pilihan tersebut. Pertama, mungkin presiden akan dicintai rakyatnya, tetapi dibenci kiri-kanannya. Kedua, risikonya terlalu besar—-apalagi bila orang-orang di kiri-kanannya berbalik menyerang dan menjatuhkan presiden.
Ideally, one should be able to break a gridlock by striking a deal that would leave all sides better off. Sometimes that happens—-but more often not. Selama belum ada yang berani memecahkan kebuntuan, golput pada Pemilu depan mungkin akan makin besar. Sebagian mungkin karena mereka tidak menemukan orang yang dirasa kompeten untuk mewakili suara mereka. Tapi porsi yang lebih besar mungkin berasal dari mereka yang merasa telah dikhianati dan dikecewakan.
Tak terasa Pemilu tinggal sekedipan mata. Oleh karenanya, hati-hatilah dalam memilih jagoan yang kelak akan menyuarakan aspirasi Anda.
Possibly Related:
- No related posts
Comments
August 6th, 2008 at 10:02 pm
Dari aerospace, wright brothers, sampe ke al amin dan dpr. Mencakup semua topik nih :)
August 6th, 2008 at 10:04 pm
kalo golput krn uda ga percaya lagi sama demokrasi bakal banyak ga yah. Kalo tambah banyak bisa2x kudeta buat menggolkan pemerintahan kerajaan hehe
August 6th, 2008 at 10:16 pm
Lingkaran setan yang susah diputus..
August 7th, 2008 at 8:14 am
Al Amin Nasution…Contoh orang yang gak mensyukuri nikmat
Nama nya gak pantas tuh nebeng disana, maunya namanya “Al- munafikun” aja
Masih berani bilang gak bersalah dia… katanya pemberitaan menzalimi dia….
Dikiranya wartawan mengarang bebas….
kristinaa… ama gue aja yukkk
August 7th, 2008 at 9:17 am
pegawai pemerintahan di indonesia gak ada yg beres!!! saking banyaknya jam nganggur jadilah berbuat yg aneh2 seperti: kimpoi lagi, main cewek, korupsi, petantang-petenteng, semuanya deh. katanya wakil rakyat?? kelakuan kayak binatang!! ih najong loe semua!! kalo gak bisa kerja mendingan mundur aja deh!! banyak rakyat yg masih miskin & kelaperan, tolog dibantu! jgn malah asik2 korupsi & main cewek aja dong! k*nt*l mulu yg dipikirin!!
August 7th, 2008 at 10:12 am
merindukan pemimpin yg kuat, tegas dan cerdas..
August 7th, 2008 at 11:07 am
moga-moga pemimpin di pemilu depan… jauh lebih berani daripada SBY.. Amiin!
August 8th, 2008 at 11:34 am
aku nolak jadi caleg dari sebuah partai…aku ikutan di seksi acara ajah dah… ngemsi kalo mereka ada acara, tapi untuk lebih dalem lagi, aku takut. waktu ditanya mama, kenapa aku nggak mau ikutan caleg padahal orang lain berlomba2 biar ‘ngerubah nasib’, aku bilang, “apa yang aku kerjakan nanti? ikutan acara pembekalan kader mereka aja aku jadi DONGO karena nggak jelas apa yang mereka omongin. masa piagam jakarta aja masih mereka bahas di situ? katanya mo bahas about rakyat?” dan aku ngerasa nggak ada yang bisa aku lakukan di situ… fiuh… hedop dunia radio! :D
August 8th, 2008 at 9:16 pm
Lagi-lagi artikel keren nih. Wah kapan ya bisa nulis selihai Mas Nofie.
August 9th, 2008 at 1:41 pm
apa perlu DPR dibubarin aja yah? :)
August 9th, 2008 at 4:09 pm
Waduh gile bener…Busyet dah…
Bocah2 DPR kayak preman aje di jalanan…Pejabat daerah & Pejabat BI aje dipalak ame tuh bocah2 DPR…Kurang duit ya, coy…Bisnis dong…Masa’ palak-in Pejabat2 kecil…Mentang-mentang elo DPR utusan dari Rakyat punye kekuasaan, tapi duit hasil palak-nye kudu “Bagi Hasil” juge ma Rakyat…Gimane sih, coy…
Menurut aye, mendingan gebukin aje tuh bocah2 DPR pake KPK…Kalo “Preman” kan takutnye ama “Polisi” trus simpen di Nusa Kambangan. Nah, kalo “DPR” takutnye ma “KPK” trus di-eksekusi aje. Tikus-tikus got kan matinye dikasi racun, nah kalo tikus-tikus DPR mendingan diem2 diracunin aja pas mo makan/minum. Kalo tikus-tikus DPR tau makanan/minumannya ada racun, paksain aja biar makan/minum…
August 11th, 2008 at 8:38 am
Itu sebenarnya harapan saya ejak dulu,sejak kebebasan reformasi sering disalahartikan dengan kebebasan melakukan apapun dengan payung hukum yang dicari-cari.saya pikir presiden sekarang dengan latar belakang militernya kurang mampu untuk menunjukkan hal tersebut pada masyarakat.terlalu lembut dan priyayi kalo orang bilang.padahal untuk mental-mental orang indnesia mayoritas,peraturan yang tegas itu perlu,lebih dari sekedar mengagungkan slogan demokrasi dan reformasi.
kita bisa liat contoh dimana suatu negara dengan pemimpin yang tegas dan proporsionally tight biasanya adalah negara yang tertib , bersih , dan ada efek jera bagi seseorang yang melakukan kesalahan terhadap negara.Ambil contoh aja singapura ,ketertiban dan kebersihan memang menjadi salah satu priorotas di negara itu.saya dengar bahkan ada ganjaran denda buat penduduk maupun visitor yang membunag sampah sembarangan di kota tersebutnah,dari sini kalo memang peraturan itu ditegakkan dengan konsisten Insya Allah akan mampu membentuk mental-mental para warga negaranya.Jadi ingat Stephen Covey dalam salah satu bukunya.jika kita sebar benih pikiran yang bagus dan positif,kita akan tuai tindakan yang bagus juga,dari tindakan yang bagus,kita akan tuai kebiasaan yang bagus juga,dengan kebiasaan yang kontinyu dan neverending,kita akan tuai karakter yang bagus dalam diri kita dan dari karakter tersebut,kita akan tuai Nasib.
Semoga Nasib bangsa kita tercinta dapat terangkat dengan membiasakan hal-hal diatas.Selamat ulang tahun Indonesiaku!Engkau masih cinta terdalamku.
August 11th, 2008 at 11:53 am
wah pak nofie ni makin keren aja tulisan dan karyanya..
salut aku.. dari inggris masih bisa terus update memberikan wacana terhadap perpolitikan di negeri ini..
August 11th, 2008 at 8:37 pm
selama belum ada pemimpin indonesia yang visioner dan berani menyambung amanat penderitaan rakyat, jangan harap bangsa ini bisa keluar dari lubang keterpurukan.
August 14th, 2008 at 7:59 am
mmhh. jadi inget cerita2 berlatar belakang kerajaan (nusantara maupun luar)
kalo ada patih atau apapun namanya yang ga berkenan, besoknya rajanya mati ajah ketusuk lah, ke racun lah .. *hiy bergidik
August 15th, 2008 at 6:25 pm
Sebetulnya kasihan juga ya pak , setiap orang yang menjadi presiden di negara kita ini? Selalu penuh dilema? Keras salah , ga keras salah :)
August 20th, 2008 at 12:22 am
dari tahun 99 selalu golput ^_^ besok golput lagi nggak ya
August 21st, 2008 at 5:31 pm
Kl gitu, mas nofie aja yang maju jadi caleg, mungkin bisa mengatasi gridlock tersebut !!
August 26th, 2008 at 1:36 pm
bener - bener cerdas
August 28th, 2008 at 11:11 am
gridlock,,
greed lock juga yah
September 2nd, 2008 at 4:59 am
Gridlock=no way out Mas Nofie? Two thumbs up for the article!!
September 3rd, 2008 at 9:19 am
bagai mana sadakah bisa diberi bila sese orang tidak memiliki ketulusan untuk memberikan itu kepada orang lain
September 4th, 2008 at 12:15 pm
Pemilu pertamaku kemaren golput, besok lagi ahh….