Belajar dari Krisis Keuangan
October 4th, 2008 | Economics
Ada untungnya juga menjadi negara yang agak tertinggal dalam urusan pengelolaan keuangan. Penetrasi kartu kredit di Indonesia belum setajam di Eropa atau Amerika. Kita juga belum mengenal hipotek (mortgage). Masyarakat kita sendiri banyak yang masih suka bertransaksi secara langsung (tunai) ketimbang menggunakan kredit (utang). Ketika terjadi cuaca buruk seperti sekarang, pengaruhnya tidak akan terlalu berat.
Mari kita lihat data di atas. Deutsche Bank misalnya punya leverage ratio (total kekayaan/aset dibagi modal/ekuitas) di atas 50. Total utang yang dimiliki Deutsche Bank mencapai €200 milliar—-jumlah ini setara dengan 80% GDP (produk domestik bruto) negara Jerman. Tentu saja bila terjadi kekisruhan, Bundesbank atau bahkan pemerintah Jerman akan kesulitan membantu melakukan langkah-langkah stabilisasi.
Bank terbesar di Inggris, Barclays, punya leverage ratio di atas 60 dengan total utang senilai £1,3 triliun. Jumlah tersebut sudah melampaui GDP Britania Raya. Contoh lainnya, Fortis, punya leverage ratio “hanya” 33—-namun jumlah tersebut beberapa kali lebih besar daripada GDP Belgia. Di masa Pakto 88, Indonesia punya begitu banyak bank dengan utang yang menggunung. “Untungnya” terjadi krisis moneter yang kemudian memaksa arsitektur perbankan di Indonesia berubah menjadi lebih prudent dan konservatif.
Memang benar bahwa jumlah tersebut di atas tidak benar-benar akurat. Di negara-negara Eropa, definisi statistik dan standar akuntansi yang diterapkan bisa berbeda dengan di Amerika atau juga di Indonesia. Leverage ratio juga bukan indikator yang sempurna untuk menggambarkan risiko. Namun setidaknya ilustrasi di atas bisa menggambarkan betapa bahayanya utang bila dikelola secara serakah dan sembrono.
Sebenarnya ada banyak pelajaran dari krisis keuangan tersebut yang bisa kita ambil dalam pengelolaan keuangan individu dan rumah tangga. Misalnya, pernahkah Anda mencoba menghitung keuangan pribadi Anda? Berapa banyak utang (atau cicilan utang) yang harus dibayar dibandingkan dengan pendapatan bersih yang Anda peroleh? Apakah Anda yakin bahwa utang bisa Anda kelola tanpa mengganggu kehidupan Anda?
Jujur saja, melihat situasi belakangan ini sering membuat saya kuatir. Promosi kredit dilepas secara jor-joran. Orang bisa mengambil motor baru tanpa uang muka. Mobil juga bisa dibawa pulang hanya dengan DP beberapa juta rupiah saja. Belum lagi bila menghitung proses credit scoring yang sering diabaikan hanya demi mengejar target. Lebih parah lagi, kredit tersebut digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumsi, bukan untuk aktivitas produktif.
Saya pernah takjub melihat kernet bus di Jakarta mengantongi ponsel canggih berkamera, sementara salah satu eksekutif perusahaan terkemuka di Indonesia masih menggunakan ponsel lama sebesar batu bata. Saya juga geleng-geleng kepala melihat ada karyawan memaksakan diri mengambil kredit mobil BMW sementara bosnya hanya bermobil Corolla lawas. Agaknya ada yang salah dengan masyarakat kita dalam membedakan antara mana yang diinginkan dan mana yang diperlukan.
Daripada memaksakan diri untuk terlihat luar biasa, mengapa tak mencoba tampil sederhana dan apa adanya? Menurut saya, jauh lebih baik terlihat biasa-biasa saja daripada terlihat kaya (padahal sebenarnya tak punya apa-apa).
Share on Facebook
Comments
October 4th, 2008 at 9:22 pm
yups setuju, meding syukuri apa yang kita punya, kenapa harus mewah2 kalo memang gak mampu
October 4th, 2008 at 11:25 pm
saya setuju dengan anda. buat apa bermewah2 klo dalemnya keropos….
mending tampil apa adanya tanpa kosmetika konsumtif berlebihan.
October 5th, 2008 at 7:44 am
Leverage ratio juga bukan indikator yang sempurna untuk menggambarkan risiko.
Tidak sempurna tapi masih sangat berbahaya kalo berlebihan seperti saat ini.
Konsumerisme menurutku ini ada hubungannya dengan kapitalisme. Kapitalisme bisa mengeluarkan yang terbaik dari manusia, tapi juga bisa mengeluarkan yang terburuk dari manusia.
Nofie punya pendapat dengan sistem keuangan berbasis hukum Islam (syariah) gak? Menurut Nofie sistem keuangan berbasis hukum Islam bisa gak menghambat krisis yang terjadi saat ini?
October 5th, 2008 at 8:45 am
Saya juga heran, kenapa banyak orang melihat kegunaan suatu barang bukan dari fungsi nya, tapi gengsi nya..
October 5th, 2008 at 3:06 pm
paradoks memang. begitu tapi nggak begitu. intinya cuma satu, pola konsumtif yang nggak perlu itu cuma ada karena si pelaku “gila pujian”.
October 5th, 2008 at 3:36 pm
Kuncinya adalah ada di mental. Masyarakat kita cenderung mudah “terlena” dengan teknologi dan “kenikmatan” dunia karena tingkat pendidikan yang “gap up” dari negara2 maju. Andai saja orang indo suka membaca buku2 pasti akan jadi lebih bijaksana dalam mengatur keuangan.
October 6th, 2008 at 2:17 am
iya om padahal om iwan juga dah ngingetin “keinginan adalah sumber penderitaan”
October 6th, 2008 at 11:45 am
simplicity is the best
October 6th, 2008 at 1:14 pm
menarik sekali tulisan-tulisan pak Nofie. btw, susah sekali untuk meredam sifat konsumerisme di tengah derasnya iklan-iklan gaya hidup yang konsumtif di kanan, kiri, depan, belakang, dan atas (di bawah juga ada ding) kita.
Menurut pak Nofie, apakah hal ini pengaruh dari ideologi suatu negara ?
October 6th, 2008 at 5:12 pm
We all know budgeting is good for us because it’s the only way for most of us, short of a windfall, to get out of debt and save enough money for retirement or finance some other big dreams, like traveling around the world or starting our own businesses.
But we don’t do it because we mistake being frugal with acting “cheap” or “poor.” We equate frugality with scarcity, deprivation, and sacrifice. Many think it ridiculous to stop overspending and start working toward financial freedom, so we fear social ostracism and ridicule by friends and strangers alike if we stop.
October 7th, 2008 at 10:31 am
Menurut saya, memang sudah saatnya HIJRAH dari Sistem Keuangan Konvensional menuju Sistem Keuangan Berbasis Syariah.
Keledai saja tidak pernah terperosok pada lubang yg sama, bagaimana dengan Manusia ? Apakah sistem-sistem yg sudah tidak layak pakai sesuai jaman, masih tetap dipakai juga ?
Bila Indonesia masih senang dengan Sistem Konvensional, Hot Money dari negara-negara Muslim Timur Tengah yang kebanyakan duit akan sulit untuk masuk ke negara Indonesia yg mayoritas Muslim juga sehingga tidak terjalin hubungan “Simbiosis Mutualisme” antar sesama negara Muslim.
October 7th, 2008 at 4:53 pm
Sebuah tulisan yang ringkas, dan meminjam tagline koran Tempo, “cergas”.
Saya juga pernah membahas mengenai “hidup yang bersajaha” dalam postingan bertajuk “Greed is Good”. .
October 7th, 2008 at 8:30 pm
Menurut saya, jauh lebih baik terlihat biasa-biasa saja daripada terlihat kaya (padahal sebenarnya tak punya apa-apa).
Luar biasa.. Setuju sekali.
October 8th, 2008 at 3:57 pm
mangkanya jgn suka ngutang klo nggak mampu ngembaliin.bunganya itu nggak kuat :D
October 9th, 2008 at 7:52 pm
untungnya sy nggak tergirur dgn berbagai macam kredit, masih punya tekad kalo beli motor mesti kontan . biar ndak ada beban di masa depan :D
oiya … Warren Buffet aja yg segitu kayaknya, konon kabarnya mobilnya juga “jelek”, lebih mengutamakan fungsionalitas ketimbang keglamoran
October 10th, 2008 at 7:58 am
masih belum tergoda sama kredit2an.
October 10th, 2008 at 12:13 pm
berprinsip…. cukup aja dah…
October 12th, 2008 at 9:44 pm
Memang kalau hidup mengandalkan utang buntut2nya tekor.
Selain kartu kredit, saya agak khawatir juga mengenai kredit kendaraan bermotor. Sepertinya kok sekarang mudah sekali untuk mengambil kredit motor. Dalam beberapa hari saja sudah langsung diapprove dan dikirim ke rumah.
Beberapa waktu yang lalu saya mengantarkan adik untuk membeli motor secara tunai dan hampir semua dealer yang kami datangi tidak ada yang bersedia menjual secara tunai. Pokoknya harus kredit. Aneh!!!
Semoga permasalahan kredit motor ini tidak akan meledak.
October 12th, 2008 at 9:59 pm
O iya. Mas Nofie, sekalian saya minta izin untuk mereview buku Mas Nofie yang “Memulai Investasi Reksadana” di blog saya yah :)
October 13th, 2008 at 3:04 pm
Memang bener apa yang di katakan Mas Dunkz bahwa sekarang kalo mo beli motor harus kredit.Karena kalo cash tidak dilayani.Karena dealer mengejar marjin yang lebih tinggi kalau menjual secara kredit.Padahal yang terbebani adalah konsumen dalam beberapa tahun harus mencicil yang sudah naik beberapa persen dari harga pokok dari motor.
Memang aneh………..
October 13th, 2008 at 4:42 pm
Bijaklah dengan utang termasuk kartu kredit. Saya memakai kartu kredit untuk hampir semua pembayaran, tapi saya selalu bayar full tagihan sebelum jatuh tempo (auto-debit pembayaran lewat tabungan khusus rekening untuk belanja). Saya juga tidak berani / mengerem belanja, bila rekening tabungan khusus belanja sudah mulai menipis. Prinsip saya berusaha untuk hidup dibawah kemampuan, sehingga sisa penghasilan bisa ditabung/investasi.
October 14th, 2008 at 5:43 pm
Penting hrs bs membedakan need, want and desire dalam konsumsi. Hierarkhinya yang paling atas adalah need terendah desire. Gengsi termasuk dalam desire. Kalau kita belanja dalam tingkat need sptnya kita tdk gampang celaka.
October 15th, 2008 at 4:02 pm
I gotta tricky things for you. Take out as much of your overdraft as you are confident you won’t need and then place it in a high interest account or even invest it in some safe venture which will ensure you at least get your money back and at the end of the year or even the years you have your student account take out the investment pay back the initial amount owed to the bank and “hey-presto” you’ve just earned some money for nothing!! It may not be a lot probably only £100 or so but come on at the end of the year a £100 would get you some nice clothes or a few CDs for something that would have just sat in your account doing nothing anyway? Only one tip don’t open the account with the Royal as well as they might catch you out!!
October 15th, 2008 at 7:26 pm
ini memang pemerintahan amerika yang secara moral paling korup …. saya kasihan aja ama family2 amerika yang patuh bayar tax …
perang terus, nyetak duit sembarangan, banker-banker dikasih bonus gede buat bermain dalam ‘kasino’ housing bubble.
executive bonus di aig ngak di cut loh .. padahal tax payer di sana mesti bailout mereka .. hebat kan. dan beberapa hari setelah bailout … sempat2nya mereka mengadakan acara party di spa yang tagihannya mahal :P
sementara banyak anggota kongress amerika (Housing Committee) yang mengsupervisi Freddie and Fannie yang mendapat kontribusi campaign dari Freddie/Fannie serta dikasih teaser rate dari Freddie/Fannie … gimana mau supervise kalau ‘disogok’ terus dengan jurus2 seperti itu …
daripada beli asuransi aig yang ngak jelas … mending beli gold aja deh … persetan amrik mau nyetak duit sampai semua pohon2 di sana ditebang semua
October 19th, 2008 at 5:10 pm
Itulah Indonesia….Harga diri dan Gengsi seseorang di nilai dari tebal Uangnya bukan dari tebal Imannya… Dan persaingan dinilai dengan uang ato aset.. lihat saja lingkungan Komplex perumahan, para tetangga bersaing dengan aset yg terlihat. punya uang 300jt dibelihat mobil supaya diihat tetangga bukannya dibelikan rumah n dikontrakkan ato dijadikan hal yg produktif.
Disinilah tanda bukti berhasil ato tidaknya ibadah puasa seseorang yg dapat menahan nafsu dan hidup seadanya sesuai kebutuhan…
October 20th, 2008 at 10:23 pm
wah setuju bgt dengan mas iman….bagusan belikan rumah lalu dikontrakan banyak deh pemasukan..
November 1st, 2008 at 7:39 am
Mindset orang Indonesia berbeda dengan orang barat, jika orang barat lebih mementingkan fungsi sedang orang Indonesia lebih mementingkan gaya dan gengsi. Harusnya orang Indonesia belajar dari cara hidup Warren Buffet orang terkaya no 1 didunia saat ini…
utk lebih mendalam silahkan baca di:
http://mastersaham.blogspot.com/2008/07/warren-buffet-teladan-dari-orang-nomor.html
November 1st, 2008 at 1:51 pm
emang betul, life is cheap but life style is expensive…
November 1st, 2008 at 6:19 pm
Udah gitu orang Indonesia pada doyan bakar uang. Suka heran lihat fakir miskin yang ngemis di jalan-jalan tapi masih sempet ngerokok. Terus pekerja-pekerja kelas bawah mana yang ngga merokok? Kalaupun ada yang ngga, itu minoritas sekali.
Kayanya daripada tuh uangnya dibakar mending dipake buat nabung atau setidaknya biaya sekolah anak, atau minimal banget buat kebutuhan hidup sehari-hari yang lainnya deh.
November 1st, 2008 at 10:50 pm
Motto orang Indonesia, “Biar MISKIN yang penting SOMBONG….!”
Maaf bukannya saya tidak nasionalis !
Maaf bukannya saya tidak mencintai ibu pertiwi !
Kita adalah anak bangsa yang telah dididik konsumtif dari lahir.
Kita adalah anak bangsa yang kerap melupakan kaum papa.
Sejatinya, kita telah lama hidup dengan penuh “kemiskinan” moral !
November 20th, 2008 at 8:34 am
Orang Indonesia memang konsumtif. Tapi orang Amerika ‘jauh’ lebih konsumtif. Dengan jargon cashless society apa-apa dibayar dengan kartu kredit. Yang penting ambil barangnya dulu, urusan bayar belakangan. Konsumerisme AS inilah salah satu penyebab krisis saat ini disamping keserakahan mereka sendiri.
Saya juga pemakai kartu kredit, tapi sebatas untuk beli buku di amazon.
December 1st, 2008 at 7:04 pm
benar juga mas.Mungkin ide Rich Dad and Poor Dad karya Robert yang makin memaksa orang untuk berutang kali…. ajah
December 11th, 2008 at 11:33 am
Betul banget…
Aku setuju dengan gaya hidup yang apa adanya..
yang penting…hidup tenang..gak ada utang…
SEMANGAT dan SUKSES selalu..
January 6th, 2009 at 8:56 am
Tahun 1987, di jekyll island, georgia, diadakan sebuah pertemuan rahasia para bankir dalam rangka merayakan terpilihnya Allan Greenspan yg ditunjuk george bush Sr untuk memimpin bank sentral AS The Fed. pertemuan itu diselenggarakan sebenarnya untuk melahirkan sebuah kartel institusi keuangan yang akan melindungi anggota-anggotanya dari persaingan bisnis, dengan strategi meyakinkan kongres atau parlemen agar pembayar pajak (rakyat) dapat menalangi bila ada suatu institusi yang mengalami krisis keuangan, konsep ini bernama bail out game. dan asia (terutama asia tenggara ) akan dipakai sebagai laboratorium pertamanya, tentu saja terkecuali singapura yang merupakan sahabat mereka (siapa sahabat Singapura? baca sejarah awal singapura terutama saat-saat pertama kali mereka mengembangkan organisasi militernya).
langkah berikutnya adalah propokasi bahwa asia sedang bangkit (seperti diketahui bahwa permainan psikologi pasar amat penting dalam dunia ekonomi global) . asia yang terpropokasi kemudian dibanjiri dengan utang dalam jumlah yang amat besar dengan persyaratan lunak di tahun 1990-an.
tahun 1997 adalah tahun jatuh tempo pembayaran utang, asia yang telah meminjam utang dalam jumlah besar memerlukan US dollar dalam jumlah besar, dan tepat disaat itulah mereka (termasuk george soros) memborong USD di pasar asia, akibatnya kurs USD membumbung tinggi. akibatnya semua sudah tahu banyak perusahaan kolaps dan PHK dimana-mana.
disaat itulah istitusi keuangan mereka (terutama IMF dan bank dunia) datang menjadi penolong dengan menawarkan skema bail out game. akibatnya (contoh kasus di Indonesia) bank-bank swasta bisa mendapat dana dari pemerintah (KLBI yang lalu dihaluskan jadi BLBI). ambil contoh bagaimana pemerintah bisa mengucurkan dana ke BCA (yang swasta itu) senilai 40 Triliun dan lalu dijual hanya dengan 20 triliun. dan akibat permainan bailout ini kemudian APBN harus membayar bunga tiap tahun sebesar 60 T sampai 2030. kita lihat dana-dana yang keluar dari APBN (dari rakyat) meliputi
1. BLBI sebesar 600 T lebih,
2. Lalu perusahaan2 itu dijual dengan harga jauh lebih murah,
3. cicilan bunga triliunan sampai 2030.
setelah sukses di asia mereka mulai masuk ke biangnya keuangan global yaitu AS, dimulai dengan propokasi masalah kredit perumahan yang kemudian sengaja di bikin buble (yang sudah diakui Allan Greenspan baru-baru ini sebagai salah satu kesalahannya , atau kesengajaannya? :) ) , dan akhirnya buble ini meledak dan menjadi krisis global, dan kita lihat bagaimana lagi-lagi akhirnya kongres dapat menyetujui dana bail-out yang sangat sangat besar. (ini artinya menggunakan uang rakyat pembayar pajak untuk kepentingan mereka….siapa mereka? tentu saja kartel itu).
kalau kita lihat salah satu sebab terjadinya buble kredit perumahan ini adalah karena dikembangkan pasar derivatifnya secara besar-besaran, yang tidak seperti di bursa saham , di pasar derivatif terjadi zero sum game, artinya uang dari pihak yang kalah akan mengalir ke pihak pemenang, siapakah pihak pemenang ? tentu saja kartel itu lagi. jadi kartel itu selain diuntungkan dengan uang rakyat melalui bail-out game, juga sudah diuntungkan sebelumnya melalui zero-sum game. sebuah keuntungan yang sangat-sangat besar….
kemudian kita bertanya untuk apakah uang sebesar itu….. tentu untuk suatu tujuan mencapai cita-cita mereka……
January 13th, 2009 at 9:13 am
bila otoritas bursa seperti BAPEPAM dan SRO (BEI, KSEI, KPEI) hanya membela diri dan mencari kambing hitam maka sy kawatir masa depan pasar modal kita akan suram. Di pasar yang terjadi adalah para pelalku pasar yang kecil dan pemain baru akan modar semua.
otoritas bursa harus berani berkata kita mengakui ada kesalahan, kita akan perbaiki dan kita harapkan kedepan ada sistem yang lebih baik sehingga tidak akan terulang kembali.
coba kita pikir baik2…
sebagai pelaku pasar kita tidak punya akses langsung mengecek saham kita di ksei. sy sudah pernah beberapa kali tanya ke ksei dan mereka bilang kita bisa cek lewat sekuritas dimana kita buka acc.
selain itu kita juga tidak bisa cek barang kita via sekuritas lain. bayangkan kalau kita di minta mencek saham kita dari pihak sekuritas yang ternyata memang melakukan ke curangan atau kesalahan. tentu saja hal sebenarnya akan di tutup2 ini.
ini kisah nyata, seorang teman pernah beli saham gorengan 3000 lot. setalah dia untung cukup lumayan dia siap2 menjualnya. tetapi saham itu segera di guyur dengan cepat, dan dia segera jual. tetapi yang terjadi hanya laku 2000 lot, dan 1000 lotnya tidak bisa dijual karena alasana MKBD sekuritas tidak cukup. yang saya aneh kalau mkbd sekuritas tidak cukup harusnya dari awal sekuritas itu tidak bisa trading. dia telp sy dan minta tolong terkait kasus ini. karena saham tersebut jatuh banyak dan dia menderita kerugian besar. sy coba bantu dia dengan telp ksei untuk cek setatus saham dia di rekening terpisah. tetapi ksei tidak mau membantu dan minta kami cek via sekuritasnya. tentu ini jadi masalah karena kami merasa saham mungkin sekali telah di jual atau dipinjamkan sekuritas tersebut kepihak lain sehingga tidak bisa di jual. beberapa saat kemudian saham 1000 lot itu telah bisa di jual tetapi di harga bawah (berbeda dgn 2000 lot sebelumnya). Teman sy mengalami kerugian yang lumayan banyak. tetapi pointnya ketika tidak ada transparansi dari sekuritas dan otoritas bursa investor kecil yang di rugikan. selama ini kita hanya bisa cek rek kita di ksei via sekurtias.
karena itu pernyataan ketua Bapepam di bawah
Ini pernyataan Ketua Bapepam Fuad Rahmany yang saya kutip dari detik.com :
“Tugas kita kan regulator, bukan satpam. Kita tidak bisa jagain ratusan ribu rekening nasabah. Jadi investor harus tahu posisi rekeningnya sendiri, jangan cuma percaya broker,” katanya.
saya rasa kurang bijak atau tepat. terus kita perlu sewa sapam dimana ya…. untuk awasin dana dan saham kita yang di sekuritas. apa pelaku pasar perlu buat bapepam baru untuk jadi sapam dan melakukan pengawasan.
Investor tidak bisa dengan leluasa melakukan pengawasan. kecuali kedepan kita bisa akses langsung ke ksei untuk cek barang kita.
tetapi mungkin yang perlu kita pikirkan kedepannya mungkin saja otoritas di ksei yang mengelapkan efek nasabah. ya tetap saja ada risiko karena itu kita sebagai pelaku pasar sangat berharap BAPEPAM dan SRO bersedia berdiri dan berkata ini kesalahan kami ini tanggung jawab kami.
terkait masalah dana nasabah yang salah digunakan… sebagai pelaku pasar kita harus pikirkan dan minta agar semua sekuritas membuat rekening bank atas nama nasabah. lalu kita setor ke rekening tersebut dimana sekurtias bisa melakukan debet dan kredit atas rekening tersebut karena transaksi kita. (cek dilakukan oleh bank dimana aktifitas rekekning perlu di lampirkan bukti transaksi). selain itu pelaku pasar bisa mengecek langsung jumlah saldonya dgn print atau telp ke bank. dengan cara ini rekening dana nasabah akan terpisah dgn rekening sekuritas. tentu saja ini akan menimbulkan kerepotan bagi sekurtias, tetapi mungkin hal ini memang perlu dilakukan agar kepercayaan pelaku pasar kembali terjaga. dan sy berharap pelaku pasar bisa pro aktif mendesak sekuritas melakukan hal ini.
mohon maaf bila ada kata2 yang salah atau menyinggu pihak manapun. ini pendapat pribadi saya, semoga bisa menjadi masukan
thx
January 16th, 2009 at 7:53 pm
Membandingkan kebiasaan belanja masyarakat Inggris sekarang: Miliuner di Harrods Food Hall, eksekutif di Waitrose, kelas menengah di Sainsbury dan Tesco, menengah bawah memilih ASDA atau Morrison, dan poor people di Aldi dan Lidl. Tapi itu sudah bergeser kemana-mana. Makin susah segmentasinya.
January 19th, 2009 at 3:54 pm
Sesekali coba peruntungan lewat internet..
Buka di :
DAPAT DUIT
January 28th, 2009 at 1:14 pm
Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum sama seperti dia.
Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias ndeso.
Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan umum, sementara pejabat Indonesia yang akan dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan yaitu Mercedes Benz.
Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara dari jarak yang sangat dekat, yang dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai yaitu merek Holden baru yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia seorang warga negara Malaysia keturunan China, sudah menyelesaikan Doctor, sekarang sedang mengikuti program Post-Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya di negaranya. Tidak ingin menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga sebenarnya memperoleh beasiswa dari perguruan tingginya.
Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat orang menggunakan HP Nokia Communicator, mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah saya baca koran, ternyata konsumen terbesar HP Nokia Communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan juga dengan seseorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso siapa ya?
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah mengetahui riwayat pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata rumah di Jepang memiliki tinggi plafon yang bisa digapai dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga untuk dudukpun banyak yang lesehan.
Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana negara dan benteng pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemewahan istana raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman berdagang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Jawabannya di Masjid.
Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah menikah dengan janda kaya, di Madinah menjadi kepala negara, mempunyai hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, mengganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya.
Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang sedang menumpuk, rakyat banyak yang mulai ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak yang antri beras, minyak tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak perayaan yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll, dsb, dst…..
Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS, angka kriminal rendah, korupsi berkurang, pendidikan terjangkau, sarana kesehatan memadai, punya posisi tawar terhadap kekuatan global, serta geopolitik dan geostrategi yang disegani. Maka orang Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal atau bahkan mengikut negara maju. Bayangkan ada daerah yang menganggarkan dana untuk sepak bola 17 milyar Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan rakyatnya hanya 100 juta Rupiah, wiiieh!!!
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah:
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli TV dan kulkas
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa mendengarkan MP3 player sambil goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang-orang dapat membeli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk McDonald
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa-dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang juga digandeng
- Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren.
Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.
January 31st, 2009 at 7:33 pm
hmmm…nice topic.,,,btw, koq mostly pada sceptic semua yach….
uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang…..gimana coba????
January 6th, 2010 at 7:26 pm
Selamat siang,
Kami ingin memberitahukan kepada seluruh masyarakat bahwa ada
pinjaman perusahaan yang menawarkan pinjaman untuk semua individu di bunga yang rendah
tingkat. Kami adalah pinjaman pinjaman terdaftar Organisasi, perusahaan kami menawarkan
sebagian besar pinjaman jangan ragu untuk mengajukan kesempatan yang besar ini melalui
mail … … … .. ultimatelendingloancompany@gmail.com
SO JIKA ANDA INGIN YANG DI BAWAH INI ADALAH PINJAMAN PINJAMAN UNTUK MENGISI FORMULIR PERMOHONAN
Peminjam INFORMASI
Nama Anda: … … … … … … … … … … ..
Kelamin: … … … … … … … … … … … … … … ….
Your country: … … … … … … … … … … ..
Negara: … … … … … … … … … … … ..
Kota: … … … … … … … … … ….
Alamat Anda … … … … … … … … … …
Pekerjaan Anda: … … … … … … … … ..
Status perkawinan Anda … … … … … … ….
Current Status di tempat
pekerjaan: … … …
Nomor telepon: … … … … … … … … … …
Pendapatan Bulanan: … … … … … … … … … ….
Jumlah Pinjaman: … … … … … … … … … … … ..
Loan Duration: … … … … … … … … … … ….
Saya menunggu tanggapan mendesak Anda.
Salam
Mr Kester
June 6th, 2010 at 6:48 am
Apakah Anda dalam kesulitan keuangan?
Apakah Anda membutuhkan pinjaman dengan tingkat bunga serendah 3%?
Hubungi Badan Rainbow Pinjaman
Email: rainbowloanagency1@gmail.com
August 12th, 2010 at 8:50 pm
Dear Sir / Madam, Anda adalah pengusaha atau wanita? Anda dalam setiap tekanan keuangan atau Anda membutuhkan dana untuk memulai bisnis mereka sendiri? Anda memiliki skor kredit yang rendah dan Anda mengalami kesulitan dalam memperoleh pinjaman dan localbanks lembaga keuangan lainnya? Ini adalah kesempatan Anda untuk memulai.. Sebuah pribadi) pinjaman usaha, ekspansi b) Bisnis Start-up dan Pendidikan. C) konsolidasi hutang). D Hard Pinjaman Uang. E) kredit konstruksi). F Student Loan pinjaman. Layanan Rateecalet menawarkan kesempatan untuk menunjukkan jumlah pinjaman yang diperlukan dan panjang yang Anda mampu untuk menyelesaikan pembayaran pinjaman dengan tingkat bunga 3%. Ini akan memberikan Anda kesempatan nyata untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan. Tertarik pelamar harus merespon melalui email: rateecatletloanfirm01@gmail.com