Belajar dari Krisis Keuangan
October 4th, 2008 | Economics
Ada untungnya juga menjadi negara yang agak tertinggal dalam urusan pengelolaan keuangan. Penetrasi kartu kredit di Indonesia belum setajam di Eropa atau Amerika. Kita juga belum mengenal hipotek (mortgage). Masyarakat kita sendiri banyak yang masih suka bertransaksi secara langsung (tunai) ketimbang menggunakan kredit (utang). Ketika terjadi cuaca buruk seperti sekarang, pengaruhnya tidak akan terlalu berat.
Mari kita lihat data di atas. Deutsche Bank misalnya punya leverage ratio (total kekayaan/aset dibagi modal/ekuitas) di atas 50. Total utang yang dimiliki Deutsche Bank mencapai €200 milliar—-jumlah ini setara dengan 80% GDP (produk domestik bruto) negara Jerman. Tentu saja bila terjadi kekisruhan, Bundesbank atau bahkan pemerintah Jerman akan kesulitan membantu melakukan langkah-langkah stabilisasi.
Bank terbesar di Inggris, Barclays, punya leverage ratio di atas 60 dengan total utang senilai £1,3 triliun. Jumlah tersebut sudah melampaui GDP Britania Raya. Contoh lainnya, Fortis, punya leverage ratio “hanya” 33—-namun jumlah tersebut beberapa kali lebih besar daripada GDP Belgia. Di masa Pakto 88, Indonesia punya begitu banyak bank dengan utang yang menggunung. “Untungnya” terjadi krisis moneter yang kemudian memaksa arsitektur perbankan di Indonesia berubah menjadi lebih prudent dan konservatif.
Memang benar bahwa jumlah tersebut di atas tidak benar-benar akurat. Di negara-negara Eropa, definisi statistik dan standar akuntansi yang diterapkan bisa berbeda dengan di Amerika atau juga di Indonesia. Leverage ratio juga bukan indikator yang sempurna untuk menggambarkan risiko. Namun setidaknya ilustrasi di atas bisa menggambarkan betapa bahayanya utang bila dikelola secara serakah dan sembrono.
Sebenarnya ada banyak pelajaran dari krisis keuangan tersebut yang bisa kita ambil dalam pengelolaan keuangan individu dan rumah tangga. Misalnya, pernahkah Anda mencoba menghitung keuangan pribadi Anda? Berapa banyak utang (atau cicilan utang) yang harus dibayar dibandingkan dengan pendapatan bersih yang Anda peroleh? Apakah Anda yakin bahwa utang bisa Anda kelola tanpa mengganggu kehidupan Anda?
Jujur saja, melihat situasi belakangan ini sering membuat saya kuatir. Promosi kredit dilepas secara jor-joran. Orang bisa mengambil motor baru tanpa uang muka. Mobil juga bisa dibawa pulang hanya dengan DP beberapa juta rupiah saja. Belum lagi bila menghitung proses credit scoring yang sering diabaikan hanya demi mengejar target. Lebih parah lagi, kredit tersebut digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumsi, bukan untuk aktivitas produktif.
Saya pernah takjub melihat kernet bus di Jakarta mengantongi ponsel canggih berkamera, sementara salah satu eksekutif perusahaan terkemuka di Indonesia masih menggunakan ponsel lama sebesar batu bata. Saya juga geleng-geleng kepala melihat ada karyawan memaksakan diri mengambil kredit mobil BMW sementara bosnya hanya bermobil Corolla lawas. Agaknya ada yang salah dengan masyarakat kita dalam membedakan antara mana yang diinginkan dan mana yang diperlukan.
Daripada memaksakan diri untuk terlihat luar biasa, mengapa tak mencoba tampil sederhana dan apa adanya? Menurut saya, jauh lebih baik terlihat biasa-biasa saja daripada terlihat kaya (padahal sebenarnya tak punya apa-apa).
Comments
October 4th, 2008 at 9:22 pm
yups setuju, meding syukuri apa yang kita punya, kenapa harus mewah2 kalo memang gak mampu
October 4th, 2008 at 11:25 pm
saya setuju dengan anda. buat apa bermewah2 klo dalemnya keropos….
mending tampil apa adanya tanpa kosmetika konsumtif berlebihan.
October 5th, 2008 at 7:44 am
Leverage ratio juga bukan indikator yang sempurna untuk menggambarkan risiko.
Tidak sempurna tapi masih sangat berbahaya kalo berlebihan seperti saat ini.
Konsumerisme menurutku ini ada hubungannya dengan kapitalisme. Kapitalisme bisa mengeluarkan yang terbaik dari manusia, tapi juga bisa mengeluarkan yang terburuk dari manusia.
Nofie punya pendapat dengan sistem keuangan berbasis hukum Islam (syariah) gak? Menurut Nofie sistem keuangan berbasis hukum Islam bisa gak menghambat krisis yang terjadi saat ini?
October 5th, 2008 at 8:45 am
Saya juga heran, kenapa banyak orang melihat kegunaan suatu barang bukan dari fungsi nya, tapi gengsi nya..
October 5th, 2008 at 3:06 pm
paradoks memang. begitu tapi nggak begitu. intinya cuma satu, pola konsumtif yang nggak perlu itu cuma ada karena si pelaku “gila pujian”.
October 5th, 2008 at 3:36 pm
Kuncinya adalah ada di mental. Masyarakat kita cenderung mudah “terlena” dengan teknologi dan “kenikmatan” dunia karena tingkat pendidikan yang “gap up” dari negara2 maju. Andai saja orang indo suka membaca buku2 pasti akan jadi lebih bijaksana dalam mengatur keuangan.
October 6th, 2008 at 2:17 am
iya om padahal om iwan juga dah ngingetin “keinginan adalah sumber penderitaan”
October 6th, 2008 at 11:45 am
simplicity is the best
October 6th, 2008 at 1:14 pm
menarik sekali tulisan-tulisan pak Nofie. btw, susah sekali untuk meredam sifat konsumerisme di tengah derasnya iklan-iklan gaya hidup yang konsumtif di kanan, kiri, depan, belakang, dan atas (di bawah juga ada ding) kita.
Menurut pak Nofie, apakah hal ini pengaruh dari ideologi suatu negara ?
October 6th, 2008 at 5:12 pm
We all know budgeting is good for us because it’s the only way for most of us, short of a windfall, to get out of debt and save enough money for retirement or finance some other big dreams, like traveling around the world or starting our own businesses.
But we don’t do it because we mistake being frugal with acting “cheap” or “poor.” We equate frugality with scarcity, deprivation, and sacrifice. Many think it ridiculous to stop overspending and start working toward financial freedom, so we fear social ostracism and ridicule by friends and strangers alike if we stop.
October 7th, 2008 at 10:31 am
Menurut saya, memang sudah saatnya HIJRAH dari Sistem Keuangan Konvensional menuju Sistem Keuangan Berbasis Syariah.
Keledai saja tidak pernah terperosok pada lubang yg sama, bagaimana dengan Manusia ? Apakah sistem-sistem yg sudah tidak layak pakai sesuai jaman, masih tetap dipakai juga ?
Bila Indonesia masih senang dengan Sistem Konvensional, Hot Money dari negara-negara Muslim Timur Tengah yang kebanyakan duit akan sulit untuk masuk ke negara Indonesia yg mayoritas Muslim juga sehingga tidak terjalin hubungan “Simbiosis Mutualisme” antar sesama negara Muslim.
October 7th, 2008 at 4:53 pm
Sebuah tulisan yang ringkas, dan meminjam tagline koran Tempo, “cergas”.
Saya juga pernah membahas mengenai “hidup yang bersajaha” dalam postingan bertajuk “Greed is Good”. .
October 7th, 2008 at 8:30 pm
Menurut saya, jauh lebih baik terlihat biasa-biasa saja daripada terlihat kaya (padahal sebenarnya tak punya apa-apa).
Luar biasa.. Setuju sekali.
October 8th, 2008 at 3:57 pm
mangkanya jgn suka ngutang klo nggak mampu ngembaliin.bunganya itu nggak kuat :D
October 9th, 2008 at 7:52 pm
untungnya sy nggak tergirur dgn berbagai macam kredit, masih punya tekad kalo beli motor mesti kontan . biar ndak ada beban di masa depan :D
oiya … Warren Buffet aja yg segitu kayaknya, konon kabarnya mobilnya juga “jelek”, lebih mengutamakan fungsionalitas ketimbang keglamoran
October 10th, 2008 at 7:58 am
masih belum tergoda sama kredit2an.
October 10th, 2008 at 12:13 pm
berprinsip…. cukup aja dah…
October 12th, 2008 at 9:44 pm
Memang kalau hidup mengandalkan utang buntut2nya tekor.
Selain kartu kredit, saya agak khawatir juga mengenai kredit kendaraan bermotor. Sepertinya kok sekarang mudah sekali untuk mengambil kredit motor. Dalam beberapa hari saja sudah langsung diapprove dan dikirim ke rumah.
Beberapa waktu yang lalu saya mengantarkan adik untuk membeli motor secara tunai dan hampir semua dealer yang kami datangi tidak ada yang bersedia menjual secara tunai. Pokoknya harus kredit. Aneh!!!
Semoga permasalahan kredit motor ini tidak akan meledak.
October 12th, 2008 at 9:59 pm
O iya. Mas Nofie, sekalian saya minta izin untuk mereview buku Mas Nofie yang “Memulai Investasi Reksadana” di blog saya yah :)
October 13th, 2008 at 3:04 pm
Memang bener apa yang di katakan Mas Dunkz bahwa sekarang kalo mo beli motor harus kredit.Karena kalo cash tidak dilayani.Karena dealer mengejar marjin yang lebih tinggi kalau menjual secara kredit.Padahal yang terbebani adalah konsumen dalam beberapa tahun harus mencicil yang sudah naik beberapa persen dari harga pokok dari motor.
Memang aneh………..
October 13th, 2008 at 4:42 pm
Bijaklah dengan utang termasuk kartu kredit. Saya memakai kartu kredit untuk hampir semua pembayaran, tapi saya selalu bayar full tagihan sebelum jatuh tempo (auto-debit pembayaran lewat tabungan khusus rekening untuk belanja). Saya juga tidak berani / mengerem belanja, bila rekening tabungan khusus belanja sudah mulai menipis. Prinsip saya berusaha untuk hidup dibawah kemampuan, sehingga sisa penghasilan bisa ditabung/investasi.
October 14th, 2008 at 5:43 pm
Penting hrs bs membedakan need, want and desire dalam konsumsi. Hierarkhinya yang paling atas adalah need terendah desire. Gengsi termasuk dalam desire. Kalau kita belanja dalam tingkat need sptnya kita tdk gampang celaka.
October 15th, 2008 at 4:02 pm
I gotta tricky things for you. Take out as much of your overdraft as you are confident you won’t need and then place it in a high interest account or even invest it in some safe venture which will ensure you at least get your money back and at the end of the year or even the years you have your student account take out the investment pay back the initial amount owed to the bank and “hey-presto” you’ve just earned some money for nothing!! It may not be a lot probably only £100 or so but come on at the end of the year a £100 would get you some nice clothes or a few CDs for something that would have just sat in your account doing nothing anyway? Only one tip don’t open the account with the Royal as well as they might catch you out!!
October 15th, 2008 at 7:26 pm
ini memang pemerintahan amerika yang secara moral paling korup …. saya kasihan aja ama family2 amerika yang patuh bayar tax …
perang terus, nyetak duit sembarangan, banker-banker dikasih bonus gede buat bermain dalam ‘kasino’ housing bubble.
executive bonus di aig ngak di cut loh .. padahal tax payer di sana mesti bailout mereka .. hebat kan. dan beberapa hari setelah bailout … sempat2nya mereka mengadakan acara party di spa yang tagihannya mahal :P
sementara banyak anggota kongress amerika (Housing Committee) yang mengsupervisi Freddie and Fannie yang mendapat kontribusi campaign dari Freddie/Fannie serta dikasih teaser rate dari Freddie/Fannie … gimana mau supervise kalau ‘disogok’ terus dengan jurus2 seperti itu …
daripada beli asuransi aig yang ngak jelas … mending beli gold aja deh … persetan amrik mau nyetak duit sampai semua pohon2 di sana ditebang semua
October 19th, 2008 at 5:10 pm
Itulah Indonesia….Harga diri dan Gengsi seseorang di nilai dari tebal Uangnya bukan dari tebal Imannya… Dan persaingan dinilai dengan uang ato aset.. lihat saja lingkungan Komplex perumahan, para tetangga bersaing dengan aset yg terlihat. punya uang 300jt dibelihat mobil supaya diihat tetangga bukannya dibelikan rumah n dikontrakkan ato dijadikan hal yg produktif.
Disinilah tanda bukti berhasil ato tidaknya ibadah puasa seseorang yg dapat menahan nafsu dan hidup seadanya sesuai kebutuhan…
October 20th, 2008 at 10:23 pm
wah setuju bgt dengan mas iman….bagusan belikan rumah lalu dikontrakan banyak deh pemasukan..
November 1st, 2008 at 7:39 am
Mindset orang Indonesia berbeda dengan orang barat, jika orang barat lebih mementingkan fungsi sedang orang Indonesia lebih mementingkan gaya dan gengsi. Harusnya orang Indonesia belajar dari cara hidup Warren Buffet orang terkaya no 1 didunia saat ini…
utk lebih mendalam silahkan baca di:
http://mastersaham.blogspot.com/2008/07/warren-buffet-teladan-dari-orang-nomor.html
November 1st, 2008 at 1:51 pm
emang betul, life is cheap but life style is expensive…
November 1st, 2008 at 6:19 pm
Udah gitu orang Indonesia pada doyan bakar uang. Suka heran lihat fakir miskin yang ngemis di jalan-jalan tapi masih sempet ngerokok. Terus pekerja-pekerja kelas bawah mana yang ngga merokok? Kalaupun ada yang ngga, itu minoritas sekali.
Kayanya daripada tuh uangnya dibakar mending dipake buat nabung atau setidaknya biaya sekolah anak, atau minimal banget buat kebutuhan hidup sehari-hari yang lainnya deh.
November 1st, 2008 at 10:50 pm
Motto orang Indonesia, “Biar MISKIN yang penting SOMBONG….!”
Maaf bukannya saya tidak nasionalis !
Maaf bukannya saya tidak mencintai ibu pertiwi !
Kita adalah anak bangsa yang telah dididik konsumtif dari lahir.
Kita adalah anak bangsa yang kerap melupakan kaum papa.
Sejatinya, kita telah lama hidup dengan penuh “kemiskinan” moral !
November 20th, 2008 at 8:34 am
Orang Indonesia memang konsumtif. Tapi orang Amerika ‘jauh’ lebih konsumtif. Dengan jargon cashless society apa-apa dibayar dengan kartu kredit. Yang penting ambil barangnya dulu, urusan bayar belakangan. Konsumerisme AS inilah salah satu penyebab krisis saat ini disamping keserakahan mereka sendiri.
Saya juga pemakai kartu kredit, tapi sebatas untuk beli buku di amazon.