Bisnis dan Liga Inggris

October 15th, 2008 | Entertainment

Di Britania Raya, sepakbola sudah seperti agama saja. Orang lebih rajin ke stadion daripada ke tempat ibadah. Mulai dari penjaga toko, buruh bangunan, sampai pejabat sama-sama menggemari bola. Pagi tadi, misalnya, orang-orang menggosipkan Cristiano Ronaldo yang hendak membeli jet pribadi untuk liburan mewahnya dengan biaya sekitar £600 ribu. Ini bukan barang baru karena sebelumnya Robbie Fowler dan Michael Owen juga pernah membeli pesawat dan helikopter pribadi.

Selain karena pemain-pemain kelas atas punya uang berlebih, kabarnya mereka juga didorong oleh pasangan mereka yang mulai malas naik pesawat kelas bisnis “biasa.” Mereka merengek minta jet pribadi yang biayanya sekitar £20 ribu untuk sekali jalan. Orang-orang berdebat apakah para pemain memang layak mendapatkan kemewahan tersebut atau sebenarnya semua itu tak lebih dari pemborosan semata.

Hari Rabu lalu (8/10) diselenggarakan sebuah konferensi bertajuk “Football in the Social Sciences” di Nuffield College, Oxford University. Salah satu pembicaranya adalah Stefan Szymanski, profesor bidang ekonomi dari Cass Business School, City University of London.

Dalam presentasinya, Szymanski mengajukan ide yang cukup kontroversial. Berdasar riset yang ia lakukan, Liga Premiership menurutnya dianggap terlalu kompetitif sehingga hanya 4 dari 20 tim yang secara realistis bisa memenangkan titel juara. Sebelumnya, Szymanski juga pernah mempublikasikan teori serupa di liga olahraga terkemuka lainnya dan mendapatkan kesimpulan yang nyaris sama: excessive competition.

Szymanski berargumen bahwa untuk bisa bersaing masing-masing tim harus menggelontorkan investasi yang tak sedikit demi mendapatkan talenta-talenta berbakat dan bermental juara. Szymanski menunjukkan bahwa equilibrium Nash tidak efisien di sini mengingat tiap tim berbelanja terlalu banyak ketika bursa transfer dibuka.

Tak cuma tim-tim papan atas, tim di papan bawah juga seringkali berinvestasi sangat besar relatif terhadap tim-tim di atasnya. Akibatnya, tak cuma posisinya akan terdongkrak, tetapi juga membuat tim-tim lain kian sulit untuk berkompetisi. Szymanski menyebutnya sebagai business stealing effect dimana terdapat unsur eksternalitas yang dimiliki setiap tim untuk “mengganggu” rival mereka.

Selanjutnya, klub akan berusaha menarik pendapatan dari penjualan tiket semaksimum mungkin untuk mengkompensasikan marginal cost yang sudah dikeluarkan untuk membeli pemain. Mereka bahkan berani belanja pemain lebih banyak dari budget seharusnya dengan asumsi kalau klub lain juga berbelanja pemain bagus, toh penjualan tiket ketika bertanding dengan klub-klub tersebut nantinya juga ikut terdongkrak. They will profit at the “expense” of other teams.

Oleh karena itu, dari waktu ke waktu Liga Premier menjadi makin komersil sekaligus makin kompetitif. Juara liga seringkali susah ditebak dan baru bisa ditentukan pada pertandingan di minggu terakhir. Walaupun bukan klub favorit saya, Manchester United adalah salah satu contoh terbaik tentang bagaimana seharusnya klub mengkomersialkan dirinya sebagai sebuah entitas bisnis yang profitable.

Szymanski sendiri masih berhasrat untuk melakukan pengujian statistik antara kesuksesan sebuah tim dengan jumlah penonton yang memadati stadion. Sebelumnya ia pernah menguji hal serupa pada liga divisi dua di Inggris dan menjumpai bahwa tidak selalu jumlah suporter yang banyak akan berujung pada kinerja (kemenangan) tim. Katanya, “English football is too competitive.

Bagaimana menurut Anda?

Possibly Related:

Trackbacks/Pings

    Comments

  1. Berita Sport

    menurut saya semakin kompetitif sebuah liga, semakin seru untuk ditonton.

  2. snydez

    jadi sebenernya lingkaran setan dunk, gak ada abis-abisnya, karena tim papan tengah ga mau disalip tim papan bawah, mereka over budget beli banyak pemaen,
    ngeliat itu, tim papan atas lebih ga mau kalah lagi… :D

  3. roswanda

    ko saya ga ngerti yah? ketika hanya 4 tim yang bisa mendapatkan titel ko malah disebut excessive competition? bukannya malah bikin less competition karena hanya 4? ato cara pandang dan pengertian saya tentang kompetisi salah…mohon pencerahannya..hehe..

    terus juga, jadi jawaban perdebatannya apa? para pemain memang layak mendapatkan kemewahan tersebut atau sebenarnya semua itu tak lebih dari pemborosan semata?

  4. Sabam

    Menurut saya memang EPL sangat kompetitif. Betul cuma Manutd, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool yang mendominasi dan punya kans lumayan untuk jadi juara. Mungkin disebut kompetisinya excessive karena persaingan ketat antara 4 tim tersebut lebih kenceng daripada tim-tim lainnya.

    Soal gaji, kalo ngeliat berapa banyak gol yang dibikin Ronaldo musim lalu, rasanya sih wajar aja dia dapat kemewahan gitu. Belum tahu kalo pemain lain. Mungkin, mas, lain kali dibahas juga tentang gaji dan spending habit para pemain-pemain EPL. Seru juga tuh! :)

  5. ali

    awal musim ini untuk sementara hull city berhasil menggebrak kemapanan itu dengan bertengger di peringkat atas melebihi MU dan arsenal. meskipun mereka ngga belanja jor2an seperti klub lain.

  6. Dino

    Saya pernah tinggal beberapa bulan di rumah warga di Inggris. Saya benar2 bisa merasakan betapa besar arti sepakbola bagi warga Inggris. Seperti agama, tim favorit diturunkan dari orang tua ke anaknya. Benar2 luar biasa.

    Kapan ya bisa nonton Man United di Old Trafford..

  7. boyin

    Kalo orang sekelas Ronaldo naik pesawat bisnis biasa malah dari segi keamanan membahayakan. Seperti hukum ekonomi yang mempelajari tentang insentif yah kayaknya emang harus seperti itulah Ronaldo kalo bepergian.

  8. irwandiaz

    saya setuju dengan quote PEMBOROSAN…

  9. hanin

    yang bisa disebut liga sepakbola itu ya Inggris, karena paling enak ditonton, ada cerita transfer besar2an dibelakangnya, ada berbagai gaya manajemen klub, leadership masing-masing pelatih, sangat global dilihat dari susunan pemainnya, bisnis besar berpotensi benefit raksasa yang menarik miliader dunia untuk invest juga pasti masih inget kenapa Astro di demo karena monopoli siaran liga inggris’kan? coba kalau dia monopoli liga spanyol misalnya atau itali, pasti ngak ada yang demo, terus kalau mau periksa, karena liga inggris sudah pindah station,pasti pelanggan astro yang mau berlangganan gara2 liga inggris, sekarang juga sudah pada hengkang, pindah ke station yang menyiarkan liga inggris. Intinya ini kerja pemasaran yang di-package dengan bagus banget sehingga saya bisa bilang, “pokoke Liga Inggris iyalah….ngak iya dong… wong sepakbo-lah bukan sepakbo-dong”.

  10. toim

    aq sih lbh suka prinsip arsene wenger dgn pasukan muda-nya.beli murah, dipoles trus jd bintang lalu dijual deh :)
    tp akibatnya prestasi arsenal cuman “bunyi” di liga inggris doang :(

  11. Dunia Laut

    Dulu Arsenal juga memaksa untuk pindah ke Stadion yang lebih besar..dari highbury ke Emirates Stadium, dengan efisiensi pembelian pemain, penjual bekas bintang dan stadiu baru, bisa melonjakan pendapatan klub secara signifikant. Awal tahun lalu bahkan menjadi nomoer 2 setelah Real Madrid. Melewati MU.
    Cuma sekarang dilewati MU lagi..
    Tapi apakah itu yang diminta pendukungnya ? mereka nggak peduli klubnya rugi asal menang terus di kompetisi. Simbiosis yang mematikan ya..

  12. saleh

    trus gimana dgn indonesia?
    walaupun tampak menggiurkan tapi gimana dgn banyaknya utang
    klub-klub liga premier yg diberitakan banyak nunggaknya?

  13. pandi merdeka

    wahh kalo dah jadi agama susah juga.. apalagi ada istilah boxing day tapi kalo pendapatan gede pengeluaran juga pasti gede kan.. walaupun itu rengekan dari rengekan pasangan mereka.. btw thanks for answering my email

  14. Aqso

    Setuju disana sepakbola sudah jadi “pseudo religion”, sebagai katarsis kehiduan mereka, mungkin mereka lebih tercerahkan ke stadion tinimbang datang ke Gereja yg khotbahnya dari dulu itu-itu aja, engga nilai kompetitifnya gitu. Masalah gaya hidup wajarlah dgn penghasilan sebesar itu, di Indonesia aja yg pejabatnya kaya karena korupsi engga malu-malu koq, bergaya hidup boros padahal mereka engga berkeringat, seperti CR7, rooney, lampard dll yg harus menjelejahi lapangan sekian km dalam satu pertandingan saja. BRAVO BCL.

  15. Hedi

    Semua liga di Eropa sudah dibentuk menjadi bisnis dan bahkan industri-showbiz-hobi. Khusus buat Inggris, industri juga menjadi ajang hiburan dan rekreasi. Sedangkan di Italia, sepakbola selain industri juga jadi ajang yang sangat2 serius termasuk ada paham politik yang dianut oleh klub.

  16. reksa

    Enggak tau juga ya apa gaji selangit yang dinikmati pemain bola itu wajar atau tidak. Tapi kita juga harus adil dengan mempertimbangkan bagaimana mereka bisa meraih semua itu. Ltihan keras bahkan sampai 3 kali sehari, adanya boxing day, dan kehidupan mereka yang sebagian besar dihabiskan di lapangan.

    Yang paling penting gaji yang besar itu bukan berasal dari uang negara. Gak kayak di Indonesia yang mengandalkan APBD. Ketika ini distop, klub2 langsung sekarat tak punya dana yang cukup. Menyedihkan memang…

  17. wahyu

    mungkin harus juga dikaitkan dengan masuknya investor yg beli klub liga Inggris. mulai dari Abramovich yg tahun 2003 beli dan mengubah Chelsea jadi kekuatan baru di Inggris dan Eropa dan yg terakhir Manchester City yg dibeli Abu Dhabi United Group.

  18. haber

    Semua liga di Eropa sudah dibentuk menjadi bisnis dan bahkan industri-showbiz-hobi. Khusus buat Inggris, industri juga menjadi ajang hiburan dan rekreasi.

  19. younk

    Mereka bahkan berani belanja pemain lebih banyak dari budget seharusnya dengan asumsi kalau klub lain juga berbelanja pemain bagus, toh penjualan tiket ketika bertanding dengan klub-klub tersebut nantinya juga ikut terdongkrak. They will profit at the “expense” of other teams.”

    Humm,, asumsi yang sangat masuk akal. Jadi, tidak salah komersialisasi dalam sepakbola membuat seluruh aspek dalam sepakbola itu sendiri terdongkrak. Dalam kasus ini, Liga Inggris adalah contoh nyata.

    Saya setuju dengan pernyataan Liga Inggris Liga yang kompetitif. Coba bandingin dengan Seri A yang melulu dikuasai oleh INTER, MILAN dan JUVENTUS. Atau bahkan Liga Spanyol yang selalu di identikkan diperebutkan oleh BARCELONA dan REAL MADRID.

Looking forward to hear your thoughts.